"Mbak, gula satu kilo sama beras yang lima kilo, ya," ucap seorang pelanggan sambil tersenyum.
"Sebentar ya, Bu," jawab Naresta ramah.
Naresta bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju rak yang berisi gula. Setelah mengambil satu bungkus gula, ia kembali ke meja kasir.
"Mas, tolong ambilkan beras yang lima kilo," ucapnya lembut sambil menoleh ke arah suaminya.
"Baik," jawab Elvan pelan.
Elvan segera berjalan menuju gudang kecil di belakang toko. Beberapa saat kemudian, ia kembali sambil memanggul satu karung beras kemasan lima kilogram. Dengan hati-hati, ia meletakkannya di atas meja kasir.
Melihat Elvan, beberapa pelanggan mulai saling
berbisik.
"Itu suaminya, ya?"
"Iya. Kasihan sekali, katanya penyandang autisme."
"Pantas saja jarang bicara."
"Tapi istrinya cantik, kok mau ya menikah sama laki-laki seperti itu."
Ucapan itu terdengar jelas oleh Naresta. Tangannya yang sedang menghitung belanjaan sejenak terhenti, tetapi ia memilih tetap tersenyum seolah tidak mendengar apa pun.
Sementara itu, Elvan hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak menanggapi satu kata pun, lalu kembali merapikan kardus-kardus di dekat rak sesuai kebiasaannya.
Bagi Elvan, bekerja membantu istrinya jauh lebih penting daripada memikirkan perkataan orang lain. Namun, bagi Naresta, setiap hinaan yang ditujukan kepada suaminya selalu terasa seperti menggores hatinya.
"Eh, Mbak Naresta, mi gorengnya lima bungkus, ya," panggil seorang pelanggan wanita.
"Iya, sebentar ya, Bu," jawab Naresta sambil tersenyum.
Saat Naresta hendak mengambilnya, pelanggan lain yang sedang memilih barang ikut membuka percakapan.
"Mbak Naresta, saya boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, Bu."
"Kenapa Mbak mau menikah sama pria penyandang autisme? Padahal masih banyak pria yang normal."
"Iya, benar itu," sahut pelanggan lain. "Mbak Naresta cantik, masih muda pula. Pasti banyak laki-laki yang mau."
Beberapa pelanggan lainnya ikut mengangguk, seolah penasaran dengan jawaban Naresta.
Naresta hanya tersenyum tipis. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya tetap sibuk menghitung belanjaan pelanggan yang tadi.
"Ini kembaliannya, Bu. Terima kasih sudah belanja."
"Iya, Mbak."
Tak lama kemudian, Elvan datang membawa lima bungkus mi goreng yang diminta.
"Mi... mi gorengnya," ucap Elvan pelan sambil menyerahkannya kepada Naresta.
Naresta menerimanya dengan senyum hangat.
"Terima kasih, Mas."
"I-iya... sama-sama," balas Elvan lirih.
Elvan kembali berjalan ke dalam toko untuk merapikan rak. Namun, tatapan beberapa pelanggan masih terus mengikutinya.
"Lihat, kan? Cara bicaranya saja beda."
"Kasihan Mbak Naresta."
"Iya. Kalau saya sih, nggak sanggup punya suami seperti itu."
Mendengar bisikan-bisikan itu, Naresta tetap memilih diam. Baginya, tidak ada gunanya meladeni orang-orang yang hanya melihat kekurangan suaminya tanpa pernah mengenal ketulusan hatinya.
"Ini mi gorengnya, Bu," ucap Naresta sambil menyerahkan lima bungkus mi goreng kepada pelanggan.
"Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama, Bu."
Belum sempat Naresta kembali duduk, seorang pelanggan lain kembali membuka pembicaraan.
"Mbak, dari tadi ditanya kok tidak dijawab?"
"Iya, benar itu," sahut pelanggan lainnya. "Bikin orang penasaran saja."
Naresta mengembuskan napas pelan. Ekspresinya tetap tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa kesal.
"Lalu saya harus menjawab apa, Bu?" tanyanya lembut.
"Ya, kenapa Mbak mau menikah sama pria penyandang autisme? Padahal banyak pria yang normal."
"Iya. Mbak cantik, masih muda, pasti banyak yang mau. Kenapa justru memilih dia?" timpal pelanggan lain sambil melirik ke arah Elvan.
Saat itu, Elvan masih sibuk menyusun barang di rak. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya kembali menjadi bahan pembicaraan para pelanggan.
Naresta menatap suaminya sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada para pelanggan.
Senyumnya masih terukir di wajahnya, tetapi kali ini sorot matanya menunjukkan ketegasan.
Naresta tersenyum tipis sebelum akhirnya menjawab.
"Mbak, pria normal memang banyak. Tapi apakah mereka bisa memberikan semuanya dengan tulus tanpa menuntut?"
Para pelanggan saling berpandangan. Tak seorang pun langsung menjawab pertanyaan itu.
Naresta melanjutkan dengan suara lembut.
"Mas Elvan memang penyandang autisme. Tapi dia selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk saya. Dia tidak pernah meninggikan suara, tidak pernah menyakiti saya, dan selalu membantu saya di toko ini tanpa mengeluh."
Tatapan beberapa pelanggan mulai mengarah kepada Elvan yang masih sibuk merapikan barang-barang di rak.
"Bagi saya, kekurangan bukan alasan untuk tidak mencintai seseorang. Justru ketulusan, kesetiaan, dan akhlaknya yang membuat saya bersyukur memiliki suami seperti dia."
Suasana toko mendadak hening. Beberapa pelanggan terdiam, sementara yang lain hanya saling melirik tanpa mampu membantah ucapan Naresta.
Naresta tersenyum lembut.
"Jadi, itu sudah lebih dari cukup untuk saya, Mbak. Saya tidak ingin pria yang dianggap normal jika pada akhirnya selalu menuntut saya untuk ini dan itu."
Ucapan itu membuat suasana toko seketika hening.
Beberapa pelanggan saling berpandangan. Tak ada lagi yang berani menanggapi perkataan Naresta.
Salah seorang di antara mereka tampak salah tingkah. Ia pun berdeham pelan sebelum berusaha mengalihkan pembicaraan.
"E-eh... jadi berapa mi saya tadi, Mbak?"
Naresta hanya tersenyum, seolah tidak pernah terjadi apa pun.
"Lima bungkus, Bu. Totalnya lima belas ribu rupiah."
"O-oh... ini uangnya."
"Iya, terima kasih, Bu."
Setelah menerima uang tersebut, Naresta memberikan kembaliannya, lalu melayani pelanggan lain seperti biasa. Sementara Elvan tetap sibuk membantu di dalam toko, tanpa menyadari bahwa istrinya baru saja membelanya di hadapan banyak orang.
"Terima kasih, Mbak."
"Iya, sama-sama, Bu."
Pelanggan itu pun segera pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi kepada Naresta.
Naresta kemudian mengalihkan pandangannya kepada pelanggan lain yang masih berdiri di depan
meja kasir.
"Mbak, sudah? Apa ada lagi yang ingin dibeli?"
"W-wah... sudah, itu saja, Mbak. Berapa total semuanya?"
Naresta mulai menghitung barang-barang yang ada di atas meja kasir.
"Totalnya seratus dua puluh delapan ribu rupiah, Bu."
"Baik, ini uangnya."
Naresta menerima uang tersebut, lalu menghitungnya sebelum menyerahkan kembaliannya.
"Ini kembaliannya, Bu. Terima kasih sudah belanja."
"Iya, terima kasih, Mbak."
Pelanggan itu pun mengambil belanjaannya dan pergi. Suasana toko kembali tenang, sementara Elvan masih sibuk membantu merapikan barang-barang di rak dengan penuh ketelitian.
"Mbak, seperti biasa ya. Buat isi warung saya. Ini catatannya," ucap seorang pelanggan sambil menyerahkan secarik kertas berisi daftar barang.
Naresta menerima catatan itu, lalu membacanya satu per satu.
"Baik, Bu. Sebentar ya."
Ia menoleh ke arah suaminya yang sedang merapikan rak.
"Mas, tolong ambilkan mi goreng sama mi kuah masing-masing dua dus, ya."
"I-iya," jawab Elvan pelan.
Tanpa banyak bicara, Elvan langsung berjalan menuju gudang untuk mengambil barang-barang yang diminta, sementara Naresta mulai menyiapkan pesanan lainnya sesuai daftar yang diberikan pelanggan.
"Mbak Naresta, seperti biasa ya. Gula sepuluh kilo, tepung terigu sepuluh kilo, terus agar-agar cokelatnya dua pak."
"Sebentar ya, Bu RT," jawab Naresta dengan senyum lembut.
Setelah mencatat pesanan, Naresta menoleh ke arah salah satu karyawannya.
"Mbak Aya, tolong ambilkan gula sepuluh kilo sama tepung terigu sepuluh kilo, ya."
"Iya, Bu," jawab Aya sambil segera menuju rak penyimpanan.
Sementara itu, Naresta sendiri berjalan ke rak yang berisi agar-agar. Ia mengambil dua pak agar-agar cokelat, lalu meletakkannya di atas meja kasir sambil menunggu Aya membawa pesanan lainnya.
"Mau buat acara lagi ya, Bu RT?" tanya Naresta sambil tersenyum.
"Iya, Mbak. Seperti biasa kalau hari Jumat."
Naresta mengangguk pelan.
"Semoga acaranya lancar ya, Bu."
"Aamiin."
Tiba-tiba, seorang wanita masuk ke dalam toko dengan tergesa-gesa.
"Naresta, aku mau ngutang lagi, dong."
Naresta menoleh dan tersenyum tipis.
"Eh, Mbak Dewi. Yang kemarin saja belum dibayar, masa mau ngutang lagi?"
"Ah, itu nanti saja, Naresta. Sekalian aku bayar pas sudah gajian."
Naresta menggeleng pelan.
"Nggak bisa, Mbak. Gimana saya mutar modalnya kalau Mbak ngutang lagi? Lebih baik yang kemarin dibayar dulu, baru ambil lagi."
Mbak Dewi tampak mengembuskan napas kesal.
Belum sempat ia menjawab, Elvan datang menghampiri Naresta.
"S-sayang..."
"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Naresta lembut.
"U-udah... selesai?"
Naresta tersenyum memahami maksud suaminya.
"Kenapa? Mas sudah lapar, ya?"
Elvan menganggukkan kepalanya pelan.
"Sebentar lagi ya. Habis ini kita makan siang."
"I-iya."
Elvan pun kembali berdiri di samping meja kasir sambil menunggu istrinya selesai melayani pelanggan.
"Naresta, jadi gimana? Aku boleh ngutang, kan?" desak Mbak Dewi.
Naresta menggeleng pelan.
"Maaf ya, Mbak. Yang kemarin dibayar dulu, baru ambil hutang lagi."
Wajah Mbak Dewi langsung berubah masam.
"Pantas saja kamu dikasih suami cacat. Ternyata orangnya perhitungan begini. Kan nanti juga aku bayar!"
Ucapan itu membuat beberapa pelanggan yang sedang berbelanja langsung menoleh.
Salah seorang di antaranya, Bu RT, mengernyitkan dahi.
"Mbak Dewi, yang dikatakan Naresta itu benar. Kalau masih punya hutang, ya diselesaikan dulu. Baru ambil lagi."
Bu RT menatap Mbak Dewi dengan tegas.
"Dan satu lagi, jangan menghina orang seperti itu. Mas Elvan tidak pernah mengganggu siapa pun. Jadi, tolong jaga ucapan Mbak."
"Kenapa malah Bu RT yang membela? Kan memang kenyataannya begitu. Orang yang terlalu perhitungan pasti ada saja balasannya," ucap Mbak Dewi sambil melipat kedua tangannya di dada.
Belum sempat Bu RT menjawab, Naresta lebih dulu membuka suara. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.
"Mbak, bukannya saya perhitungan. Tapi total utang Mbak sekarang sudah satu juta lima ratus ribu. Bagaimana saya bisa memberikan utang lagi kalau yang sebelumnya saja belum dibayar?"
Mendengar nominal itu, beberapa pelanggan langsung saling berpandangan.
"Astaghfirullah..." gumam Bu RT pelan.
Ia kemudian menatap Mbak Dewi.
"Mbak Dewi, orang buka toko itu untuk cari nafkah, bukan untuk bagi-bagi barang gratis. Kalau utangnya terus bertambah tanpa dibayar, bagaimana Naresta bisa memutar modalnya lagi?"
"Iya, Bu RT benar," sahut pelanggan lain. "Kalau semua pelanggan seperti Mbak, lama-lama tokonya bisa tutup."
Mbak Dewi langsung terdiam. Wajahnya memerah karena mulai menjadi pusat perhatian para pelanggan yang ada di dalam toko.
"Naresta, kamu malah mengumbarnya. Kamu sengaja bikin aku malu, ya?" hardik Mbak Dewi dengan wajah memerah.
Naresta menggeleng pelan.
"Bukan maksud saya membuat Mbak malu. Tapi tolong sadar juga, Mbak. Saya sudah beberapa kali memberi kelonggaran. Kalau utangnya terus bertambah, saya juga kesulitan memutar modal toko."
Mbak Dewi terdiam. Ia ingin membalas, tetapi ucapan Naresta memang tidak salah.
Tak lama kemudian, Aya datang sambil membawa dua karung gula dan dua karung tepung terigu sesuai pesanan.
"Bu, ini gula sepuluh kilo sama tepung terigunya sepuluh kilo," ucap Aya.
"Iya, Mbak Aya. Terima kasih," balas Naresta sambil
tersenyum.
Aya mengangguk, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Naresta mulai menghitung seluruh pesanan Bu RT sebelum memasukkannya ke dalam nota pembayaran.
"Mbak Naresta, saya telur sepuluh butir sama mi instan lima bungkus, ya," ucap seorang pelanggan yang baru masuk ke dalam toko.
"Iya, Bu. Sebentar ya," jawab Naresta ramah.
Naresta kemudian menoleh ke arah Elvan.
"Mas, tolong ambilkan pesanan Ibu ini dulu, ya. Biar kita cepat selesainya."
"I-iya," jawab Elvan pelan sambil mengangguk.
Ia segera berjalan menuju rak mi instan, lalu mengambil lima bungkus sesuai pesanan. Setelah itu, ia menuju tempat penyimpanan telur dan dengan hati-hati memasukkan sepuluh butir telur ke dalam wadah agar tidak pecah.
Sementara Elvan menyiapkan pesanan pelanggan lain, Naresta kembali menghitung seluruh belanjaan Bu RT.
"Jadi berapa total semuanya?" tanya Bu RT.
Naresta menghitung sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
"Total semuanya tiga ratus delapan puluh lima ribu rupiah, Bu."
"Baik, ini uangnya."
Naresta menerima uang tersebut, lalu menghitungnya sebelum menyerahkan kembaliannya.
"Ini kembaliannya, Bu. Terima kasih sudah belanja."
"Iya, sama-sama, Mbak. Semoga tokonya makin ramai."
"Aamiin. Terima kasih, Bu," jawab Naresta dengan senyum hangat.
Setelah Bu RT pergi, pandangan Naresta beralih kepada Dewi yang masih berdiri di depan meja kasir.
"Lunasi dulu ya, Mbak. Baru nanti saya kasih utang lagi," ucap Naresta dengan tenang.
Dewi mendecak kesal.
"Cih! Dasar pelit. Pantas saja suaminya cacat."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Dewi langsung pergi begitu saja.
Naresta hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Mbak Dewi benar-benar jahat deh mulutnya. Dia yang punya utang, kok malah marah-marah sama orang yang diutangi," gerutu Aya yang ikut mendengarnya.
"Udah, biarin aja, Mbak," jawab Naresta sambil tersenyum.
"Mbak Naresta juga, kenapa dulu mau ngutangin orang seperti itu?"
"Iya, kalau saya jadi Mbak Naresta, dari awal juga nggak bakal mau."
Naresta hanya tersenyum. Ia sudah terbiasa menghadapi sikap Dewi yang seperti itu.
Tak lama kemudian, Elvan datang menghampiri sambil membawa pesanan pelanggan.
"S-sayang... i-ini mi... s-sama telurnya," ucapnya pelan.
Naresta menerima barang itu sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih ya, Mas."
"I-iya."
Naresta kemudian menoleh kepada pelanggan yang sedang menunggu.
"Jadi berapa totalnya, Mbak?" tanya pelanggan itu.
Sebelum Naresta sempat menjawab, Elvan menatap pelanggan tersebut sambil berusaha membantu.
"I-ibu... p-pesan apa?"
Pelanggan lain itu tersenyum ramah kepada Elvan.
"Itu, Mas Elvan. Saya mau rokok dua bungkus sama kopi hitam satu renteng buat suami saya."
Elvan mengangguk pelan.
"I-iya..." ucapnya, lalu berbalik menuju rak rokok dan kopi untuk mengambil pesanan pelanggan tersebut.
"Mas, uangnya sudah terkumpul. Besok aku panggil tukangnya, ya, buat renovasi bagian depan toko. Biar sedikit lebih luas," ucap Naresta sambil memperlihatkan buku tabungan kepada Elvan.
Elvan yang sedang melipat kardus bekas mengangkat kepalanya dan menatap sang istri.
"I-itu... t-terserah k-kamu, Sayang. K-karena i-itu uangmu," jawabnya pelan.
Naresta tersenyum lembut, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tapi izin dari seorang suami itu penting, Mas."
Elvan terdiam beberapa saat. Ia memang tidak pernah melarang apa pun yang dilakukan Naresta, apalagi semua itu demi mengembangkan usaha mereka.
"T-tapi... a-aku p-percaya s-sama k-kamu."
Mendengar jawaban itu, senyum Naresta semakin lebar.
"Terima kasih, Mas. Semoga setelah direnovasi, pelanggan jadi lebih nyaman belanja di sini."
Elvan menganggukkan kepalanya pelan.
"I-iya... semoga r-ramai."
**
Keesokan harinya, beberapa tukang mulai berdatangan ke toko Naresta. Mereka menurunkan semen, pasir, serta beberapa tumpuk bata yang akan digunakan untuk merenovasi bagian depan toko agar lebih luas.
Naresta tampak menjelaskan bagian mana yang akan direnovasi, sementara Elvan membantu memindahkan beberapa barang agar tidak menghalangi pekerjaan para tukang.
Tak lama kemudian...
"Cih! Manggil tukang saja bisa. Berarti uangnya ada, dong. Ngasih utang saja nolak, padahal nanti juga dibayar lunas," sindir seseorang dengan suara cukup keras.
Naresta langsung menoleh ke arah datangnya suara.
Siapa lagi kalau bukan Dewi.
Wanita itu berdiri di depan toko sambil melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya dipenuhi rasa iri melihat toko Naresta yang akan direnovasi.
Sementara beberapa tetangga yang melintas mulai menghentikan langkah mereka, penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Saya menggunakan uang tabungan yang saya kumpulkan selama beberapa tahun ini, Mbak. Bukan memakai uang modal untuk belanja barang," jawab Naresta dengan tenang.
"Alah! Alasan saja. Kalau memang perhitungan, ya bilang saja perhitungan. Harusnya kamu itu saling membantu. Toh, cuma kamu di sini yang paling kaya," sindir Dewi dengan nada sinis.
Naresta tidak terpancing. Ia justru tersenyum lembut.
"Aamiin," sahutnya singkat.
Jawaban itu membuat Dewi mengernyit.
"Kok malah diamini?"
"Iya, Mbak. Saya mengamini doa yang baik. Semoga memang rezeki kami terus dilancarkan."
Beberapa tukang yang mendengar percakapan itu saling melirik, sementara beberapa tetangga hanya menggelengkan kepala melihat Dewi yang kembali mencari masalah.
Dewi mendecak kesal. Bukannya berhasil
memancing emosi Naresta, ia justru dibuat semakin jengkel karena wanita itu selalu menjawab dengan tenang dan penuh senyuman.
Melihat Elvan yang hendak keluar dari toko, Naresta segera menghampiri suaminya.
"Ayo, Mas. Masuk saja, nggak perlu keluar," ucapnya lembut sambil menggenggam tangan Elvan.
Elvan menatap istrinya dengan bingung.
"K-kenapa?"
Naresta tersenyum tipis.
"Udah, kita masuk saja ya, Mas."
"I-iya..."
Elvan menurut. Ia kembali masuk ke dalam toko bersama Naresta.
Melihat itu, Dewi kembali melontarkan sindiran.
"Cih! Mau disembunyikan bagaimana pun, semua orang sudah tahu kalau suamimu itu cacat, Naresta."
Naresta menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan dan menatap Dewi dengan tenang.
"Seharusnya kamu sadar. Hidup sudah enak, malah perhitungan. Makanya suamimu itu cacat begitu!" ejek Dewi.
Senyum di wajah Naresta perlahan memudar.
"Mbak Dewi," ucapnya pelan, "tolong jangan bawa-bawa kondisi suami saya hanya karena Mbak kesal tidak diberi utang."
"Memangnya kenapa? Saya cuma bilang kenyataan."
"Autisme bukanlah cacat yang pantas dijadikan bahan hinaan."
Dewi mendengus sinis.
"Ah, sama saja."
Naresta menggeleng pelan.
"Tidak, Mbak. Yang salah bukan kondisi suami saya, melainkan orang yang dengan mudah merendahkan orang lain."
Ucapan itu membuat beberapa tetangga yang menyaksikan kejadian tersebut terdiam. Bahkan para tukang yang sedang bekerja ikut menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh ke arah mereka.
Naresta menatap Dewi dengan tenang. Meski hatinya terluka, suaranya tetap lembut.
"Saya sadar kok kalau suami saya memang tidak sempurna. Tapi, sehina itukah suami saya di mata Mbak Dewi?"
Dewi hanya mendengus pelan.
"Apa Mbak Dewi sudah merasa menjadi orang yang sempurna? Karena setiap kali berbicara, yang Mbak lakukan selalu menghina suami saya."
Naresta melirik Elvan yang berdiri di belakangnya dengan kepala tertunduk.
"Suami saya juga punya perasaan, Mbak. Dia bisa mendengar semua ucapan Mbak. Hanya saja, dia memilih diam dan bersabar."
Naresta kembali menatap Dewi.
"Tapi bukan berarti karena dia diam, Mbak bebas terus menyakitinya. Diamnya suami saya bukan tanda dia lemah atau tidak berani melawan. Dia hanya memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan."
Suasana mendadak hening.
Beberapa tetangga yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran itu mulai merasa tidak enak. Bahkan beberapa tukang yang sedang bekerja ikut menundukkan kepala, menyadari bahwa ucapan Naresta memang tidak ada yang salah.
Naresta menarik napas pelan sebelum kembali berbicara. Tatapannya tetap tenang, tetapi kali ini penuh ketegasan.
"Tidak apa-apa kalau Mbak menghina saya atau mencaci maki saya. Saya masih bisa menerimanya."
Ia menggenggam tangan Elvan yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
"Tapi ada satu hal yang harus Mbak tahu."
Nada suaranya terdengar lebih tegas.
"Jangan pernah menghina dan mencaci maki suami saya lagi."
Naresta menatap Dewi tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya.
"Karena saya tidak terima, Mbak."
Suasana mendadak sunyi.
Semua orang yang berada di depan toko terdiam.
Tak ada satu pun yang menyangka Naresta, yang selama ini dikenal lembut dan jarang membalas perkataan orang, akhirnya menunjukkan ketegasannya demi membela sang suami.
Sementara itu, Elvan menatap Naresta dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang berdiri paling depan untuk melindunginya dari semua hinaan yang selama ini ia terima.
Naresta menatap Dewi dengan sorot mata yang tegas.
"Kalau Mbak marah karena saya tidak memberikan utang lagi, itu masalah Mbak."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Seharusnya yang sadar diri itu Mbak, bukan saya."
Beberapa tetangga yang menyaksikan kejadian itu hanya saling berpandangan.
"Utang Mbak sudah sangat banyak. Jadi, bagaimana saya bisa memberikan utang lagi kalau yang sebelumnya saja belum dilunasi?"
Naresta tetap berbicara dengan sopan, tanpa meninggikan suaranya.
"Saya membuka toko untuk mencari nafkah, bukan untuk terus menambah daftar utang pelanggan. Kalau modal saya habis karena terlalu banyak piutang, bagaimana saya bisa menjalankan usaha ini?"
Ucapan Naresta membuat beberapa warga mengangguk pelan. Mereka sadar bahwa apa yang dikatakannya memang masuk akal.
Namun, Dewi justru semakin kesal karena tidak menemukan kesalahan dalam perkataan Naresta.
Naresta mengembuskan napas pelan, berusaha tetap menahan emosinya.
"Lebih baik Mbak pergi saja."
Dewi menatapnya dengan tatapan tajam.
"Daripada saya kelepasan mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya."
Naresta tetap berbicara dengan nada tenang, tetapi ketegasan terpancar dari sorot matanya.
"Toh, yang sedang mempermalukan diri sendiri bukan saya, melainkan Mbak."
Ucapan itu membuat suasana di depan toko mendadak hening.
Beberapa tetangga saling berpandangan. Tidak sedikit dari mereka yang mengangguk pelan karena merasa Naresta sudah bersikap sabar sejak awal, sementara Dewi terus mencari-cari alasan untuk membuat keributan.
Dewi mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah menahan malu karena kali ini tak seorang pun membelanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!