Indonesia
NovelToon NovelToon

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Hari Pertama yang Zonk

"Sean! Tungguin gue, ih!"

Callista setengah berlari membelah koridor SMA Wijaya yang ramai oleh lautan anak baru. Seragam putih-abu-abunya masih terasa kaku, khas murid hari pertama. Rambutnya sengaja dicepol ke atas agar tidak gerah, tapi sialnya, cepolan itu bergoyang heboh mengikuti langkah kakinya yang panik.

Sean, cowok jangkung yang berjalan beberapa meter di depannya, menoleh. Alih-alih berhenti, dia malah menatap Callista dengan tatapan malas.

"Makanya, Cal, kalau tahu hari pertama masuk sekolah itu bakal macet, jangan pakai ritual meditasi dulu di depan altar. Telat, kan, kita!"

"Ya, kan, biar tenang menghadapi masa depan, Sean!" balas Callista ketus sambil akhirnya berhasil menyusul sahabatnya itu. Nafasnya terengah-engah.

Sean dan Callista sudah bersahabat sejak mereka masih kecil. Rumah mereka bersebelahan, dan karena sama-sama beragama Buddha, setiap minggu mereka selalu pergi ke Vihara yang sama. Sean adalah zona nyaman Callista, tipe sahabat yang siap sedia mengejek Callista setiap saat, tapi juga orang pertama yang bakal maju kalau Callista kenapa-napa.

"Eh, tapi lo tahu gak kita masuk kelas mana?" tanya Callista sambil membenarkan letak tali tasnya.

"Gue udah cek di mading depan tadi. Kita sekelas lagi. Kelas Sepuluh-Tiga," jawab Sean santai.

Callista langsung tersenyum lebar, matanya berbinar. "Yes! Bagus deh. Seenggaknya gue gak perlu canggung di kelas baru."

Mereka berdua berjalan menuju kelas Sepuluh-Tiga yang terletak di ujung koridor lantai dua. Namun, ekspektasi Callista tentang hari pertama SMA yang indah dan penuh senyuman langsung hancur berantakan dalam hitungan detik.

Tepat di depan pintu kelas, karena terlalu asyik mengobrol dengan Sean, Callista tidak melihat ada botol air mineral yang tergeletak di lantai. Kakinya menginjak botol itu.

Sreeet!

"Eh... eh... AAAAA!"

Callista kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan dengan kecepatan penuh. Tangan Callista bergerak refleks ke udara, mencoba meraih apa saja yang bisa menyelamatkannya dari lantai koridor yang keras.

BRUAAAK!

Callista tidak jatuh ke lantai. Tapi dia menabrak sesuatu—atau lebih tepatnya, seseorang yang baru saja mau keluar dari pintu kelas.

Sialnya lagi, di tangan kanan Callista kebetulan sedang memegang es kopi susu instan yang baru dia beli di kantin bawah. Saat tabrakan itu terjadi, tutup cup es kopinya lepas, dan cairan cokelat manis itu sukses menyiprat dengan estetik ke seluruh permukaan kemeja putih bersih milik cowok yang ditabraknya.

Koridor yang tadinya bising mendadak senyap.

Callista mengerjap-ngerjapkan matanya, perlahan mendongak. Di hadapannya berdiri seorang cowok tinggi berambut hitam acak-acakan yang sangat rapi. Wajah cowok itu... tampan, tapi ekspresinya saat ini dingin seperti es kutub utara. Dia menunduk, menatap kemeja putihnya yang kini punya motif abstrak berwarna cokelat.

"Bagus," suara cowok itu terdengar sangat tenang, tapi justru karena terlalu tenang, suaranya malah terdengar mengerikan. "Hari pertama sekolah, dan gue langsung dapet seragam motif baru."

Callista menelan ludah. Hawa dingin menjalar di tengkuknya. "Ma-maaf... gue gak sengaja. Tadi ada botol..."

Cowok itu menaikkan satu alisnya, menatap papan nama di seragam Callista. "Callista. Lo punya mata buat nyari jalan, atau cuma buat pajangan?"

Pedes banget mulutnya! batin Callista langsung meradang. Rasa bersalahnya mendadak menguap setengah karena mendengar sindiran tajam cowok itu.

"Eh, gue kan udah minta maaf! Lagian siapa suruh lo berdiri di depan pintu pas gue lagi kepeleset?" balas Callista, tidak mau kalah.

Sean yang berdiri di belakang Callista langsung menepuk jidatnya sendiri.

Bisa-bisanya ini anak malah ngajak berantem di hari pertama, pikir Sean cemas.

Cowok di depan Callista itu mendengus remeh. Dia merapikan kerah kemejanya yang basah, lalu menatap Callista dengan tatapan merendahkan yang bikin tensi darah Callista naik.

"Nama gue Kenzo. Dan buat informasi lo, jalanan umum itu di bawah, bukan di badan orang. Lain kali, kalau jalan pakai kaki, jangan pakai drama."

Tanpa menunggu balasan Callista, Kenzo berjalan melewati mereka begitu saja menuju toilet, meninggalkan aroma parfum maskulin yang bercampur bau kopi susu.

Callista mengepalkan tangannya di udara, wajahnya memerah karena kesal.

"Ih!!! Dasar cowok songong! Sok ganteng banget sih!"

Sean mendekati Callista, lalu berbisik dengan nada prihatin.

"Cal... lo tahu gak siapa cowok yang barusan lo tumpahin kopi?"

"Gak tahu dan gak peduli!"

"Itu Kenzo. Anak pemilik yayasan sekolah ini, dan denger-denger dia juara umum pas tes masuk kemarin. Plus, dia kristen taat yang kabarnya bakal jadi calon ketua OSIS." Sean menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Masa SMA lo... kayaknya bakal suram, Cal."

Callista membeku di tempat. Dia menatap arah perginya Kenzo dengan perasaan campur aduk antara kesal, malu, dan firasat buruk.

Sial yang Berjilid-jilid

Jika ada kompetisi manusia paling sial di SMA Wijaya hari ini, Callista yakin dirinya akan keluar sebagai juara umum tanpa perlu bersusah payah.

Setelah insiden tumpahnya es kopi susu di kemeja Kenzo, suasana hati Callista terjun bebas ke inti bumi. Dia berjalan masuk ke kelas Sepuluh-Tiga dengan bibir mengerucut panjang, sementara Sean berjalan di sampingnya sambil menahan tawa yang sedari tadi sudah di ujung tenggorokan.

"Jangan ketawa ya, Sean! Awas lo!" ancam Callista sambil menunjuk muka sahabatnya itu dengan sisa cup es kopi yang sudah kosong.

"Kagak, Cal, kagak," sahut Sean, meskipun matanya menyipit menahan tawa.

"Gue cuma ngebayangin gimana rasanya hari pertama sekolah langsung dapet musuh anak pemilik yayasan. Mana ganteng, pinter lagi. Kurang dramatis apa coba hidup lo?"

"Ganteng dari mana? Sok cool iya! Mulutnya itu lho, titisan cabai rawit, pedes banget!" Callista menghentakkan kakinya kesal, lalu memilih bangku di barisan ketiga dekat jendela. Dia langsung melempar tas ranselnya ke atas meja.

Sean mengambil posisi duduk di sebelah Callista. Sebagai sahabat sejak kecil yang selalu satu Vihara, Sean sudah hafal luar kepala semua tabiat Callista. Kalau cewek ini sudah marah-marah heboh seperti ini, artinya dia sebenarnya juga merasa malu.

"Udah, gak usah dipikirin. Lagian belum tentu dia sekelas sama kita, kan? Anak kelas sepuluh ada delapan kelas, peluang dia masuk sini kecil," hibur Sean sambil mengeluarkan ponselnya untuk mengajak Callista berfoto bersama—ritual wajib hari pertama sekolah yang tertunda.

"Ayo foto dulu, mukanya jangan ditekuk gitu. Jelek amat."

Callista mendengus, tapi tetap refleks berpose saat kamera depan ponsel Sean menyala. Baru saja Sean menekan tombol jepret, pintu kelas Sepuluh-Tiga terbuka lebar.

Seluruh atensi anak-anak di dalam kelas langsung tersedot ke arah pintu. Callista pun ikut menoleh, dan sedetik kemudian, senyum yang sempat terukir di wajahnya langsung membeku.

Di ambang pintu, berdirilah sang "korban kopi". Kemeja putih Kenzo sudah tidak ada noda cokelat lagi—sepertinya dia menggantinya dengan kemeja cadangan dari koperasi sekolah—tapi auranya tetap sama: dingin dan tidak bersahabat. Langkah kakinya terdengar tegas saat memasuki kelas.

Mata Kenzo menyapu seluruh penjuru kelas yang sudah hampir penuh. Dan entah karena takdir sedang ingin bercanda, mata tajam itu langsung mengunci pandangan ke arah bangku barisan ketiga dekat jendela. Tepat di mana Callista sedang melotot ke arahnya.

Kenzo mendengus pelan, lalu berjalan lurus ke arah mereka.

Callista menahan napas. Jangan bilang dia mau duduk di depan gue? Atau belakang gue? batinnya panik.

Namun, kenyataan justru jauh lebih mengerikan. Di kelas Sepuluh-Tiga, meja-meja diatur secara berpasangan, tetapi ada satu baris di paling belakang dekat jendela yang mejanya disusun untuk tiga orang karena jumlah murid yang ganjil. Dan tepat di belakang meja Callista dan Sean, hanya ada satu kursi kosong yang tersisa.

Kenzo berhenti tepat di samping meja Callista. Dia menurunkan tasnya dengan gerakan pelan, lalu menatap Callista datar.

"Ketemu lagi, si Ceroboh," ucap Kenzo pendek dengan suara beratnya yang menyebalkan.

"Lo... lo ngapain di sini?!" tanya Callista dengan nada defensif, setengah berbisik agar tidak memicu perhatian satu kelas.

"Sekolah. Menurut lo gue mau jualan siomay di sini?" balas Kenzo sarkastik. Dia lalu menggeser kursi di baris belakang Callista dan duduk di sana dengan tenang, melipat kedua tangannya di dada.

Sean yang duduk di sebelah Callista hanya bisa menyikut lengan sahabatnya itu sambil berbisik,

"Cal, doa lo kurang kenceng tadi pagi di altar. Fix, ini namanya jodoh... eh, maksud gue musuh bebuyutan."

"Diem lo, Sean!" ketus Callista, wajahnya memerah menahan dongkol.

Hari pertama SMA yang dia impikan penuh dengan cowok-cowok ramah dan petualangan seru, seketika berubah menjadi medan perang dingin. Callista bersumpah dalam hati, dia tidak akan pernah mau berurusan lagi dengan cowok bernama Kenzo itu. Mulai detik ini, Kenzo adalah daftar hitam nomor satu dalam hidupnya.

Namun, Callista belum tahu, bahwa takdir di SMA Wijaya punya seribu satu cara untuk terus mempertemukan mereka berdua, memicu percikan-percikan aneh yang kelak akan melibatkan perasaan Sean juga di dalamnya.

Korban Struktur Kelas

​"Anak-anak, harap tenang!"

​Suara lantang Bu Rita, wali kelas Sepuluh-Tiga sekaligus guru Biologi yang terkenal tegas, seketika membuat riuh rendah di dalam kelas mereda. Semua murid baru yang tadinya asyik mengobrol langsung memposisikan diri duduk dengan tegak.

​Callista menghela napas lega. Setidaknya dengan dimulainya jam pelajaran, dia punya alasan untuk tidak menoleh ke belakang dan menghindari tatapan dingin nan menyebalkan dari Kenzo.

​"Hari pertama ini kita akan gunakan untuk saling mengenal dan menentukan pengurus kelas," lanjut Bu Rita sambil meletakkan tasnya di meja guru. Pandangannya menyapu seluruh ruangan.

"Ibu tidak suka bertele-tele. Berdasarkan nilai tes masuk tertinggi di kelas ini, Ibu langsung menunjuk Kenzo sebagai ketua kelas. Kenzo, silakan berdiri."

​Di baris belakang, Kenzo berdiri dengan tenang. "Saya, Bu."

​Bisikan-bisikan kagum langsung terdengar dari deretan siswi di barisan depan. “Wah, udah ganteng, pinter pula,” bisik salah satu siswi yang samar-samar terdengar oleh Callista.

​Callista memutar bola matanya malas. Ganteng sih ganteng, tapi hatinya dari batu es, batinnya dongkol.

​"Baik, Kenzo. Tugas pertama kamu adalah memilih wakil ketua kelas atau sekretaris yang bisa membantu kamu mengurus administrasi kelas," kata Bu Rita sambil mencari spidol di dalam laci.

​Kenzo tidak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak, dan Callista bisa merasakan aura tidak enak. Benar saja, dari sudut matanya, Callista melihat Kenzo perlahan menundukkan pandangan, menatap tepat ke arah punggungnya. Sebuah senyuman tipis—yang lebih mirip seringai usil—muncul di bibir cowok itu.

​"Untuk sekretaris, saya merekomendasikan siswi yang duduk di barisan ketiga dekat jendela, Bu. Yang rambutnya dicepol," ucap Kenzo dengan suara lantang dan jelas.

​Deg.

​Callista langsung membeku. Sean yang duduk di sebelahnya refleks menoleh dengan mata membelalak, lalu mati-matian menahan tawa sampai pundaknya bergetar.

​"Siapa namamu, Nak?" tanya Bu Rita sambil menatap Callista.

​Mau tidak mau, Callista berdiri dengan senyum yang dipaksakan mirip orang meringis. "Ca-Callista, Bu."

​"Bagus. Kenzo, kenapa kamu memilih Callista?"

​Kenzo memperbaiki posisi berdirinya, lalu menatap Callista dengan tatapan tanpa dosa. "Saya rasa Callista punya energi yang... sangat aktif, Bu. Mengingat insiden di koridor tadi pagi, dia tampaknya sangat cekatan dan 'berani' mengambil tindakan. Saya yakin dia bisa gerak cepat kalau mengurus absensi kelas."

​Cekatan mbahmu! Itu namanya lo mau bales dendam karena kemeja lo ketumpahan kopi! teriak Callista dalam hati. Wajahnya sudah merah padam menahan dongkol.

​"Baik, keputusan adil. Kenzo ketua kelas, dan Callista sekretarisnya. Silakan kalian berdua nanti berkoordinasi untuk mencatat jadwal pelajaran," final Bu Rita tanpa memberikan kesempatan bagi Callista untuk protes.

​Callista duduk kembali dengan lemas. Dia langsung menenggelamkan wajahnya di atas meja yang dilapisi kedua tangannya.

​"Selamat ya, Bu Sekretaris," bisik Sean dengan nada mengejek yang sangat menyebalkan.

"Baru hari pertama udah dapet jabatan terhormat langsung dari pilihan hati Pak Ketua."

​"Diem lo, Sean! Gue lagi mau nangis ini!" gerutu Callista dari balik lengannya. "Gue gak mau sekelompok, seorganisasi, atau se-apa pun sama cowok kutub itu!"

​"Yee, mana bisa menolak takdir sekolah," sahut Sean santai sambil menepuk-nepuk bahu Callista, mencoba menenangkannya. "Lagian tenang aja, kan ada gue. Kalau si Kenzo macem-macem atau bikin lo nangis, ntar gue temenin lo ngadu ke Buddha di Vihara biar karma dia cepet dateng."

​Mendengar ucapan Sean, Callista perlahan mengangkat kepalanya dan menatap sahabat masa kecilnya itu. Senyum tulus Sean selalu berhasil membuat hatinya sedikit lebih tenang. Sean memang selalu tahu cara mengembalikan suasana hatinya.

​Namun, saat Callista baru saja mau membalas ucapan Sean, sebuah pulpen mendarat dengan ketukan pelan di atas mejanya dari arah belakang.

​Callista menoleh dengan malas. Kenzo sudah menyodorkan selembar kertas kosong ke arahnya.

​"Tugas pertama lo, Sekretaris," ucap Kenzo datar, tanpa ekspresi kocak sedikit pun. "Catat nama-nama anak kelas ini dari baris depan sampai belakang. Jangan sampai ada yang salah tulis. Dan satu lagi..." Kenzo mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik pelan, "...jangan sampai kertasnya ketumpahan es kopi lagi."

​Callista menyambar kertas itu dengan sentakan kasar. "Gak usah diingetin terus bisa gak, sih?!"

​Kenzo hanya menaikkan alisnya, lalu kembali bersandar di kursinya dengan santai.

​Perang dingin di kelas Sepuluh-Tiga resmi dimulai. Dan Callista tahu, ke depan hidupnya di SMA Wijaya tidak akan pernah berjalan dengan tenang selama ada Kenzo di belakangnya, dan Sean di sampingnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!