Indonesia
NovelToon NovelToon

Senandung Cinta Melodi

Prolog

Langit senja kala itu terasa begitu menyakitkan bagi Abas. Dia menatap matahari yang seolah akan tenggelam ke dasar laut dengan tatapan dingin dan sedih di waktu yang sama.

"Maaf... Bukan kamu yang salah... Tapi aku."

Kata-kata itu terus terngiang di telinga Abas. Wajah Sabrina yang berderai airmata kembali terlintas di pikirannya, membuat rahangnya sedikit mengeras. Abas memejamkan matanya, mencoba menghapus bayangan wajah Sabrina dari benaknya.

"Bukan salahku," gumamnya.

Angin pantai membelai lembut raut kaku Abas seolah memahami luka yang disembunyikannya. Abas menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, membiarkan angin membawa keluh kesahnya yang tak terlihat.

"Ting... Ting... Jreng..."

Suara petikan gitar memecah keheningan. Abas mengerutkan kedua alisnya dengan mata masih terpejam.

"Ting... Ting... Jreng..."

Abas membuka matanya mendengar alunan gitar yang mengusik ketenangannya sore itu.

"Jreng... Jreng... Jreng..."

Dia menoleh, mencari sumber suara yang sudah mengganggu kedamaiannya. Tatapannya terpaku pada seorang gadis dengan gitar di pangkuannya. Rahang Abas kembali mengeras. Dia berjalan mendekat dengan cepat ke arah gadis itu. Harinya sudah cukup buruk seharian ini. Dia tidak ingin satu-satunya waktu yang tenang baginya sore itu juga terusik oleh suara gitar yang berisik.

"Senja... katakan padanya..."

"Luka ini kan ku bawa... Tanpa suara... Tanpa kata..."

Suara nyanyian gadis itu membuat langkah Abas berangsur melambat.

"Angin... sampaikan padanya..."

"Hati ini kan ku jaga... Dalam nada... Dalam diam..."

"Jreng... Jreng... Jreng... Jreeeng..."

Langkah Abas terhenti hanya beberapa langkah dari gadis itu. Abas menatap gadis itu. Lagu yang dinyanyikannya seolah membaca apa yang ada dalam hatinya, membuat dadanya terasa sesak.

Abas masih terpaku, menatap gadis bermata lentik yang selesai menyanyikan lagunya.

"Hmmm... Bagian chorus udah," gadis itu menggumam sambil mengambil buku yang ada di sampingnya lalu menulis sesuatu.

"Tinggal bagian verse dua," lanjutnya sambil menatap bukunya.

Abas memperhatikan gadis itu untuk sesaat. Gadis itu meletakkan kembali buku catatannya di sampingnya. Dia menatap ke arah matahari yang semakin tenggelam. Rambut panjangnya yang diikat sembarang perlahan tertiup angin.

"Jreng... Jreng... Jreng jreng... Jreng..."

"Senyummu tak lagi sama... sejak dirinya hadir dalam duniamu..."

Abas mengerutkan kedua alisnya. Napasnya tercekat mendengar lirik lagu yang dinyanyikan gadis itu.

"Tawamu tak lagi ada... sejak dirinya membawamu pergi jauh bersamanya... Oh..."

Bayangan wajah Sabrina kembali terlintas di benak Abas —senyumnya, tawanya, bahkan... tangis terakhirnya. Dada Abas naik turun, mencoba menahan sesuatu dalam hatinya yang terasa akan meledak. Tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya. Abas merasakan sakit di tenggorokannya. Tanpa Abas sadari, airmata yang tak pernah mengalir dari kedua matanya, menetes begitu saja.

'Kenapa... lagunya terdengar indah dan... menyakitkan di saat bersamaan?'

"Oi! Melodi!!!" teriak seorang pria dari kejauhan, menyadarkan Abas. Dia segera menaikkan kacamatanya dan mengusap airmatanya sambil melihat ke arah gadis bergitar yang menoleh ke arah pria yang memanggilnya.

"Apa, Bang?" tanya Melodi sambil berdiri menghadap pria itu.

"Pulang. Dicariin Ibuk," kata pria itu.

"Yaelah, pake dicariin. Kek anak kecil aja," kata Melodi lalu melangkah pergi bersama pria yang memanggilnya.

Abas menaikkan kedua alisnya, menyadari gadis itu meninggalkan buku catatannya. Dia berjalan, mengambil buku catatan yang masih tergeletak di atas pasir pantai. Mata Abas menangkap tulisan di dalam buku yang sepertinya lirik lagu yang dinyanyikan gadis bernama Melodi.

"Tunggu!" teriak Abas dengan suara serak. Melodi dan pria di sampingnya menoleh ke belakang.

"Kenal?" tanya pria di samping Melodi. Melodi menaikkan kedua bahunya sambil menatap pria berkacamata yang berjalan ke arahnya.

Abas berjalan menuju Melodi yang berhenti berjalan dan menghadap ke arahnya.

"Ketinggalan," kata Abas sambil menyodorkan buku Melodi. Melodi menaikkan kedua alisnya.

"Eh, makasih," kata Melodi sambil menerima bukunya.

"Kebiasaan," kata pria di samping Melodi sambil mengacak pelan rambut Melodi. Abas memperhatikan keduanya.

"Makasih, Mas, udah balikin buku adek saya," ucap pria itu.

"Adek saya ini memang pelupa orangnya," lanjutnya. Abas mengangguk tipis.

"Ih! Apaan sih Bang Alto!" kata Melodi sambil menepuk bahu pria yang ternyata kakaknya.

"Makasih ya," kata Melodi sekali lagi. Abas hanya mengangguk tipis.

"Yuk, pulang. Katanya Ibuk nyariin," kata Melodi lalu mengangguk ramah ke arah Abas. Alto melakukan hal yang sama. Keduanya berjalan meninggalkan Abas yang masih menatap punggung mereka.

Setelah Melodi dan Alto berjalan beberapa langkah darinya, Abas menarik napasnya dalam-dalam lalu kembali menatap ke arah horison dimana matahari sudah benar-benar tenggelam. Tiba-tiba, lagu Melodi yang baru saja didengarnya terngiang di kepalanya.

"Senja... katakan padanya..."

Di tengah deru ombak pantai senja itu, Melodi yang samar-samar mendengar lagunya menghentikan langkahnya. Dia menoleh, mencari sumber suara. Matanya menangkap Abas yang sedang menatap horison sambil menyenandungkan lagu yang baru saja ditulisnya.

'Dia... sepertinya sedang terluka,'

***

Melodi merebahkan tubuh di atas tempat tidurnya. Dia menatap langit-langit kamarnya. Melodi mengerutkan kedua alisnya saat teringat wajah pria di tepi pantai saat menyanyikan lagunya.

"Cowok tadi itu... kenapa ya?" gumam Melodi.

Bola mata Melodi bergerak perlahan. Dia lalu bangun dan meraih buku catatan lagu-lagunya. Dia menatap buku itu sambil masih memikirkan pria yang mengembalikan bukunya itu.

"Jadi... dia tadi... dengerin aku nyanyi?" tanya Melodi pada dirinya sendiri.

Melodi membuka buku catatannya. Dia berhenti di halaman yang memuat lirik lagu yang dinyanyikannya di tepi pantai petang tadi. Melodi membaca tiap kata yang dia tulis sambil menyenandungkan nada lagunya. Dia seketika berhenti, saat senandungnya sampai pada bagian chorus lagu. Wajah pria di tepi pantai kembali terlintas dalam benaknya.

Melodi mengambil gitarnya. Dia menatap sesaat ke arah buku catatannya sebelum akhirnya memetik gitarnya.

"Ting... Ting... Jreng..."

"Ting... Ting... Jreng..."

"Jreng... Jreng... Jreng jreng... Jreng..."

"Saat pertama kita jumpa... Tawamu bersinar paling cerah... Menerangi duniaku yang kelam... Membawa diriku pada cahaya... Oh... Tak pernah ku sangka... Senyummu membawa dusta petaka... Membuatku jatuh terlalu dalam... Membawa diriku kembali tenggelam... Oh..."

"Ting... Ting... Jreng..."

"Senja... Katakan padanya... Luka ini kan ku bawa... Tanpa suara... Tanpa kata... Angin... sampaikan padanya... Hati ini kan ku jaga... Dalam nada... Dalam diam..."

Melodi masih memetik gitarnya. Petikannya mengalir begitu saja tapi terdengar sendu. Untuk pertama kalinya, saat menyanyikan lagu ciptaannya, satu wajah terlintas di benaknya. Satu wajah yang bahkan tak dikenalnya.

'Apa dia baik-baik saja?'

***

Abas kembali masuk ke mobilnya. Senja telah pergi. Seperti Sabrina. Tinggal gelap yang merayap perlahan mengisi hatinya.

Abas menyalakan mesin mobilnya. Dia membenarkan posisi kacamatanya sebelum menginjak pedal gas perlahan.

'Bukan salahku...'

'Lalu... apa itu salahmu?'

***

Author's Note:

Lagu ciptaan Melodi bisa didengar lewat:

https://suno.com/s/bacGcE0RHTOboMvN

Salah Paham

"Kemana lagi anak itu?" tanya Tuan Baskara pada istrinya. Nyonya Baskara hanya menghela napas panjang.

"Seenaknya saja pergi setelah mengatakan pernikahannya batal," gerutu Tuan Baskara sambil mondar-mandir di kamarnya.

"Ya sudahlah, Pa. Belum jodohnya Abas," kata Nyonya Baskara berusaha menenangkan suaminya. Tuan Baskara mendengus.

"Masalahnya, tinggal seminggu lagi acaranya, Ma. Undangan bahkan sudah disebar," kata Tuan Baskara. Nyonya Baskara hanya bisa menatap suaminya dengan tatapan iba.

"Mau gimana lagi, Pa. Nggak mungkin Abas batalin pernikahan cuma karena ribut kecil sama Sabrina," kata Nyonya Baskara yang sangat memahami bagaimana jalan pikiran putranya.

"Kalau memang masalah besar, kenapa nggak dibicarain sama kita, Ma? Cuma bilang pernikahan batal lalu pergi entah kemana," kata Tuan Baskara kesal. Nyonya Baskara menghela napas lagi.

"Biarin Abas nenangin pikiran dulu, Pa. Mungkin, dia sendiri sedang shock karena ini," kata Nyonya Baskara.

"Mama yakin, Abas pasti bakal jelasin ke kita kalau dia udah lebih tenang," lanjutnya.

Tuan Baskara menatap istrinya dengan penuh kekesalan sebelum akhirnya keluar dari kamar. Nyonya Baskara menarik napas dalam-dalam. Dia menatap layar ponselnya, membaca pesan singkat dari Abas sesaat setelah meninggalkan rumah yang belum sempat dibalas.

Beri Abas waktu, Ma. Jangan hubungi Abas dulu.

***

Pagi harinya...

"Udah aku duga Kakak disini," kata Bara Baskara, adik Abas, saat memasuki ruang tamu villa keluarga mereka yang berada di tepi pantai.

"Papa nyuruh kamu nyari aku?" tanya Abas dingin. Bara seketika mengangkat kedua tangannya dengan kedua mata membulat.

"Di mata Kakak aku cuma spy agent-nya Papa," kata Bara sambil duduk di sofa ruang tamu. Abas hanya tersenyum kecut.

"Bener kan?" tanya Abas dengan nada yang lebih hangat. Bara mengangkat kedua bahunya.

"Kalau aku bilang nggak, Kakak juga nggak bakal percaya," jawab Bara pasrah.

Abas tak menghiraukan adiknya. Dia sibuk mengirim pesan kepada para kolega dan temannya bahwa pernikahannya dibatalkan. Bara melirik ke arah kakaknya yang sibuk.

"Aku denger, Kakak batalin pernikahan?" tanya Bara.

"Hm,"

"Kenapa? Bukannya Kakak dan Sabrina saling cinta?" tanya Bara.

Jari jemari Abas yang semula sibuk menekan layar ponselnya, seketika berhenti. Abas diam sesaat lalu tersenyum pahit.

"Saling cinta?" tanyanya sambil menoleh ke arah Bara. Bara mengangkat kedua alisnya, menyadari bahwa dia salah memilih kata-kata.

"Eh? Salah ya? Bukannya Kakak dan Sabrina udah lama pacaran?" tanya Bara.

Rahang Abas mengeras. Dia menarik napas dalam-dalam. Wajah Sabrina yang semalam coba dia hapus kembali terlintas di benaknya. Abas beranjak dari duduknya lalu menyambar kunci mobil di atas meja.

"Eh? Lhoh? Mau kemana, Kak?" tanya Bara, bingung.

Abas tetap berlalu keluar dari villa tanpa kata. Dia menggenggam erat ponselnya menatap lurus ke depan.

'Saling cinta? Lama pacaran? Apa arti semuanya?'

***

Pagi itu, seperti biasa, Melodi sudah menenteng gitar dan tas selempangnya. Dia sudah bersiap menuju tepi pantai untuk live streaming memainkan gitarnya ketika suara melengking ibunya memanggil dari dalam rumah.

"Melodiiiii!!!"

Melodi memutar bola matanya lalu berbalik masuk ke rumah.

"Apa lagi, Buk?" tanya Melodi pada Bu Harmoni dengan nada sedikit kesal.

"Jangan lupa, pulang sebelum magrib!" kata Bu Harmoni sambil menyodorkan tumbler Melodi. Melodi seketika tersenyum menatap tumbler yang disodorkan ibunya.

"Ketinggalan di meja makan," lanjutnya.

"Makasih, Buk. Melodi pulang siang ntar. Abis magrib mau main di kafe Bang Alto," kata Melodi.

"Dibayar berapa sama Abangmu?" tanya Bu Harmoni. Melodi tersenyum.

"Ra-ha-si-a," kata Melodi lalu berlalu.

Bu Harmoni mendengus melihat kelakuan putrinya.

"Anak jaman sekarang kalau ditanya orangtua suka ngawur jawabnya," gerutu Bu Harmoni sambil kembali masuk ke dapur.

Sementara itu, Melodi berjalan menuju tepi pantai sambil menyenandungkan lagu ciptaannya. Langkahnya terasa ringan. Senyumnya terkembang. Sesekali, Melodi menoleh ke arah pantai yang masih sepi.

Saat Melodi sedang menatap pantai, dahinya mengernyit. Dia menyipitkan pandangannya ke arah seorang pria yang terus berjalan mendekat ke laut.

"Gawat!" pekik Melodi.

Melodi menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik.

"Duuuh... Mana nggak ada orang lagi," gumamnya sambil menatap pria yang terlihat tak ingin berhenti.

Tanpa pikir panjang, Melodi segera berlari ke arah pria itu.

"Woiiii!!! Maaasss!!!" teriak Melodi sambil berlari.

Pria itu terlihat berhenti. Melodi dengan cepat melepas tas selempang dan gitarnya lalu berlari ke arah pria yang diam mematung menatapnya. Melodi segera menarik tangan pria itu menjauh dari air.

Sementara itu, Abas terkejut saat seseorang tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya menjauh dari ombak. Dia menatap gadis yang menarik tangannya.

Melodi masih memegang tangan pria itu sambil membungkuk dan mengatur napasnya yang naik turun karena terlalu panik.

"Kamu pikir, saya sedang apa?" tanya pria itu.

Melodi menegakkan tubuhnya. Kedua alisnya terangkat saat menyadari bahwa pria yang dia tarik dari pantai ternyata pria yang kemarin mengembalikan buku catatannya.

Abas melirik ke arah tangan Melodi yang masih memegang tangannya. Melodi mengikuti arah pandangan Abas. Dia segera menarik tangannya saat menyadarinya.

"Maaf," kata Melodi. Abas menatap Melodi dengan tatapan dingin.

"Saya kira... kamu mau..." Melodi tidak melanjutkan kalimatnya.

Abas mendengus lalu kembali menghadap ke pantai. Melodi menatap pria misterius di depannya. Tatapannya masih sama seperti kemarin. Abas, yang merasa sedang diperhatikan, menoleh ke arah Melodi membuat Melodi terkejut.

"Eh, maaf," ucap Melodi. Abas menatapnya dingin.

"Kalau gitu, saya permisi," kata Melodi lalu berjalan kembali mengambil gitar dan tasnya.

Abas menatap gitar Melodi. Entah mengapa lagu Melodi kemarin masih terngiang di telinga Abas. Dia menatap punggung Melodi yang dihiasi gitar. Tanpa sadar, Abas menyanyikan lagu Melodi dengan lirih.

"Hati ini kan ku jaga... Dalam nada... Dalam diam..."

Langkah Melodi terhenti. Dia seperti mendengar suara samar-samar dari arah belakangnya. Saat Melodi menoleh, Abas tengah memandang ke arah laut dengan tatapan yang sama sedihnya dengan kemarin.

'Sebenarnya... apa yang membuatnya terlihat begitu sedih?'

***

Bara menatap seorang gadis menarik Abas menjauh dari pantai. Dia memperhatikan apa yang mereka lakukan. Bara tersenyum geli membayangkan apa yang dikatakan kakaknya pada gadis itu.

"Mana mungkin kakak bunuh diri? Dunia bakal kiamat kalau dia bunuh diri cuma gara-gara batal nikah," gumam Bara sambil masih memperhatikan Abas dan gadis itu.

Bara mengerutkan kedua alisnya saat melihat kakaknya menatap punggung gadis itu cukup lama saat gadis itu berjalan menjauh. Bara menoleh ke arah gadis itu. Kedua alisnya naik saat melihat gadis itu menoleh ke arah kakaknya yang sudah menatap ke arah laut. Sudut bibir Bara terangkat.

'Sepertinya... aku mencium aroma romansa drama Korea disini,'

***

Senja Dalam Diam

Bara mengikuti gadis yang menarik kakaknya menjauh dari laut. Dia cukup penasaran mengapa kakaknya sempat menatap punggung gadis itu cukup lama saat berlalu.

'Selama ini, cuma Sabrina yang bisa mengalihkan dunia Kakak,' pikir Bara sambil menatap gadis yang sedang sibuk memasang tripod dan mencari angle yang pas. Bara mengernyit.

"Apa yang mau dia lakukan?" gumam Bara saat gadis itu mulai berdiri di depan kamera sambil memetik gitarnya.

"Bikin video?" tanya Bara sambil masih menatap ke arah gadis yang sepertinya sedang menyetem gitarnya.

"Ting... Ting... Ting... Jreng... Jreng..."

"Saat pertama kita jumpa... Tawamu bersinar paling cerah... Menerangi duniaku yang kelam... Membawa diriku pada cahaya... Oh..."

Bara menaikkan satu alisnya melihat gadis itu mulai bernyanyi.

"Kirain gitarnya cuma buat gaya," komentar Bara sambil masih menatap gadis itu.

"Tak pernah ku sangka... Senyummu membawa dusta petaka... Membuatku jatuh terlalu dalam... Membawa diriku kembali tenggelam... Oh..."

Langkah Bara terhenti saat mendengar gadis itu mulai bernyanyi. Petikan gitar dan lirik lagunya terasa mengungkapkan rasa di balik hati yang patah. Bara lalu merogoh ponselnya, tak ingin melewatkan momen yang menurutnya mempesona. Dia berjalan mendekat dan merekam penampilan gadis itu.

Melodi sempat melirik ke arah Bara sebelum menyanyikan bagian chorus lagunya.

"Senja... Katakan padanya... Luka ini kan ku bawa... Tanpa suara... Tanpa kata... Angin... sampaikan padanya... Hati ini kan ku jaga... Dalam nada... Dalam diam..."

Bara terpaku mendengar bagian chorus lagu itu. Matanya terkunci pada gadis itu. Kini Bara menyadari, gadis itu tidak hanya sedang bernyanyi, tapi bercerita melalui nada di setiap petikan gitarnya.

"Hai guys! Mungkin lagunya kurang pas ya dinyanyiin pagi hari. Tapi nggak apa-apa. Aku mau kalian dengerin lagu yang baru aku tulis kemarin dan tulis pendapat kalian di kolom komentar yaa," kata Melodi sambil masih menggenjreng gitarnya.

Bara mengerjapkan kedua matanya, seolah tersadar dari hipnotis lagu yang baru saja di dengarnya. Bara masih merekam gadis itu sambil melihatnya yang masih asyik berbicara di depan ponselnya.

"Judul lagunya apa, Kak?" kata Melodi membacakan komentar yang masuk dalam live streamnya.

"Judulnya Senja Dalam Diam ya," jawab Melodi.

"Bagus, Kak, lagunya. Bisa di download nggak?" tanya seseorang di kolom komentar.

"Waduh... belum bisa di download ya," jawab Melodi.

"Eh, tapi nanti malem aku ada perform di Alto Cafe. Buat yang deket area Pantai Gading, bisa merapat ya!" kata Melodi.

"Untuk video Senja Dalam Diam, akan segera hadir di channel aku. Selamat menantikan!" tutup Melodi.

Melodi kembali menyanyikan bagian chorus lagu Senja Dalam Diam. Bara masih menatapnya. Dia mulai menebak apa yang membuat kakaknya sempat memperhatikan gadis itu sepersekian detik.

'Mungkinkah... Kakak denger lagu ini? Tapi, bukannya dia nggak suka musik?'

***

Sore itu Abas keluar dari kamar di villanya. Dia melihat Bara yang tertidur di sofa ruang tamu. Abas menghela napas panjang sambil berjalan menuju adiknya yang masih terlelap saat matahari sudah akan tenggelam.

"Sebenarnya apa yang dia lakukan disini?" gumam Abas sambil menatap wajah tidur adiknya.

"Apa dia tak punya kerjaan?" gumamnya lagi sambil menjentikkan jari ke dahi Bara.

"Aarrrghh!! Ck! Apaan sih?!" omel Bara sambil terbangun dan mengusap dahinya.

"Udah mau malem. Buruan pulang," usir Abas sambil berjalan menuju ruang makan.

"Eh?" Bara menatap matahari yang hampir tenggelam ditelan lautan.

"Kereeen!!" kata Bara dengan suara lirih sambil berdiri mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke barat. Untuk sesaat Bara tenggelam dalam indahnya senja kala itu. Tanpa sadar, Bara menyenandungkan lagu yang baru saja dia dengar di tepi pantai pagi tadi.

Abas yang kembali dari ruang makan sambil membawa segelas air putih berhenti saat mendengar nada yang dia kenal. Dia menoleh, menatap Bara yang berdiri di depan jendela, mengagumi senja sambil bersenandung lirih. Abas mengernyit.

"Ah!"

Bara terlihat bar menyadari sesuatu. Dia kemudian meraih ponselnya di atas meja lalu mengusap layarnya untuk sesaat. Abas kembali melangkah memasuki kamarnya. Saat dia akan menutup pintu kamarnya, dia mendengar Bara memutar sebuah lagu.

"Senja... Katakan padanya... Luka ini kan ku bawa... Tanpa suara... Tanpa kata..."

Napas Abas tercekat. Dia mencengkeram erat gagang pintu kamarnya. Bayangan wajah Sabrina kembali muncul setelah seharian ini berhasil dia hempaskan jauh ke laut.

"Angin... sampaikan padanya... Hati ini kan ku jaga... Dalam nada... Dalam diam..."

Lagu berhenti digantikan suara ceria seorang gadis. Abas berjalan mendekat ke arah Bara. Dia dapat melihat Bara tengah menonton sebuah video yang menayangkan gadis bergitar yang Abas lihat kemarin senja.

"Eh, tapi nanti malem aku ada perform di Alto Cafe. Buat yang deket area Pantai Gading, bisa merapat ya!" kata gadis dalam video.

"Hmmm... Alto Cafe. Okelah, malam ini gas kesana!" gumam Bara sambil berdiri.

"Hwa!" teriak Bara saat membalikkan badan hendak menuju kamar mandi, mendapati Abas berdiri di belakang sofa yang didudukinya.

"Bisa nggak Kakak sedikit aja menampakkan aura kehadiran? Udah kek hantu aja," gerutu Bara sambil berlalu.

"Video itu..." kata Abas, menghentikan langkah Bara. Bara menatap ponsel di tangannya.

"Oh... Tadi pagi pas lagi jalan-jalan di pantai lihat cewek cakep lagi live. Suaranya keren parah! Jadi aku videoin. Kakak mau lihat?" kata Bara. Abas melirik ke arah ponsel Bara.

"Nggak," jawab Abas sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.

Bara menaikkan kedua alisnya sambil mencebikan bibirnya

"Udah tahu penasaran. Masih sok cool aja. Dasar, Pangeran Es!" gerutu Bara sambil menuju kamar mandi.

Sementara itu, di dalam kamarnya, Abas duduk terdiam di tepi tempat tidurnya sambil menatap langit dengan semburat jingga yang cantik.

"Senja... Katakan padanya... Luka ini kan ku bawa... Tanpa suara... Tanpa kata..." Abas menyenandungkan lagu yang baru saja dia dengar.

Dadanya kembali terasa sesak seiring wajah Sabrina dalam berbagai ekspresi melintas dalam benaknya.

"Mengapa mendengar lagunya... mengingatkanku pada Sabrina?" gumam Abas.

Abas masih menatap langit senja yang berangsur gelap sambil berkali-kali menyenandungkan lagu gadis bergitar itu dengan lirih. Saat langit benar-benar gelap, Abas menghela napasnya.

"Bagaimana gadis itu bisa membuat lagu sememilukan itu?" gumam Abas.

Abas teringat bagaimana wajah lega gadis itu saat dia berhasil menarik Abas menjauh dari air. Abas memang tidak berniat mengakhiri hidupnya. Namun, sepersekian detik sebelum gadis itu menariknya, sempat terbesit di pikiran Abas untuk ikut hanyut bersama kenangannya dengan Sabrina.

"Bodoh," rutuknya sambil tersenyum kecut.

"Bagaimana bisa aku mempunyai pikiran sepicik itu? Dia bahkan tidak menghargai perasaanku," gumam Abas.

'Kalau saja gadis itu tidak menarikku, aku mungkin sudah mati konyol,'

***

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!