Gaun pengantin putih yang melekat di tubuh Aisha terasa mencekik lehernya. Air matanya sudah mengering sejak semalam, menyisakan perih dan ruang hampa di dadanya. Di depan cermin besar kamar hotel, dia menatap bayangannya sendiri dengan tatapan kosong.
Pintu kamar terbuka kasar. Bukan sang pengantin pria yang masuk, melainkan Sinta, wanita yang selama dua puluh tahun ini dipanggilnya 'Mama'.
"Hapus air matamu, Aisha! Jangan pasang wajah sial seperti itu di depan keluarga Alister nanti!" sentak Sinta tanpa belas kasihan.
Aisha menoleh lambat, menatap wanita yang dulu selalu memeluknya hangat saat dia bermimpi buruk. Kini, tatapan hangat itu telah lenyap, digantikan oleh sorot mata penuh kebencian dan kepuasan.
"Kenapa, Ma? Kenapa harus Aisha?" suara Aisha bergetar, nyaris berbisik.
"Aisha salah apa?"
"Kamu tidak salah," potong sebuah suara dari ambang pintu.
Itu Clara, anak kandung Sarah yang baru kembali enam bulan lalu. Clara melipat tangan di dada, menatap Aisha dengan senyum sinis.
"Tapi kamu harus tahu diri. Kamu itu cuma anak pungut yang dipelihara untuk menggantikan posisiku saat hilang. Sekarang aku sudah kembali, dan sialnya, aku punya sedikit masalah keuangan dengan Tuan Besar Alister."
"Sedikit masalah? Kamu berhutang lima puluh miliar di kasino mereka, Clara! Dan kalian menumbalkanku untuk melunasinya?!" Suara Aisha meninggi, luapan rasa sakit yang dipendamnya sejak semalam akhirnya pecah.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Aisha dari tangan Sinta.
"Jaga mulutmu! Clara itu anak kandungku! Kami tidak mungkin membiarkan dia membusuk di penjara atau tangannya dipotong oleh mafia-mafia itu!" bentak Sarah napas terengah-engah.
"Lagipula, kamu beruntung. Kamu menikah dengan Devan Alister. Dia kaya, tampan, CEO Alister Group. Anggap saja ini balasan atas semua uang yang kami keluarkan untuk menghidupimu selama ini!"
Kata-kata itu bagai belati yang menghujam tepat di jantung Aisha. Jadi, kasih sayang selama dua puluh tahun ini hanyalah hutang yang harus dibayar dengan nyawanya?
Sebelum Aisha sempat membalas, dua pria berjas hitam berbadan tegap masuk ke dalam kamar. Aura intimidasi langsung memenuhi ruangan.
"Nona Aisha, Tuan Muda Devan sudah menunggu di altar. Waktu Anda habis," ucap salah satu pria dengan suara berat tanpa ekspresi.
Sinta langsung mendorong bahu Aisha maju.
"Pergi sana. Ingat, setelah keluar dari pintu ini, kamu bukan lagi bagian dari keluarga kami. Jangan pernah lancang meminta bantuan pada kami lagi!"
Aisha melangkah maju dengan kaki lemas. Setiap langkahnya terasa berat. Di koridor menuju aula pernikahan privat tersebut, tidak ada dekorasi bunga yang indah, tidak ada tamu undangan yang tersenyum. Hanya ada barisan pria berjas hitam yang menjaga ketat. Ini bukan pernikahan, ini adalah transaksi bisnis. Transaksi jual beli manusia.
Pintu aula terbuka lebar. Di ujung altar, berdiri seorang pria dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna.
Devan Alister.
Pria berusia 27 tahun itu memiliki paras yang luar biasa tampan, dengan rahang tegas dan rambut yang ditata rapi. Namun, tatapan matanya seputih es dan sedalam jurang maut. Tidak ada binar kebahagiaan di wajahnya. Hanya ada aura dingin dan tak tersentuh yang membuat siapa saja enggan menatap matanya terlalu lama.
Aisha berjalan sendirian tanpa didampingi wali. Ketika dia sampai di samping Devan, pria itu bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Prosesi pernikahan berjalan sangat cepat dan dingin. Setelah mengucapkan janji suci yang terasa seperti kutukan bagi Aisha, Devan memasangkan cincin ke jarinya dengan gerakan kasar.
Saat tangan mereka bersentuhan, Aisha sedikit tersentak karena dinginnya tangan pria itu. Devan akhirnya menoleh, menatap Aisha dari balik bulu matanya yang lebat.
"Jangan pernah berpikir pernikahan ini akan mengubah nasibmu, Gadis Penjamin," bisik Devan, suaranya begitu rendah dan tajam, tepat di dekat telinga Aisha hingga membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
"Bagiku, kamu hanyalah barang sitaan. Mengerti?"
Aisha menelan ludah, menahan dadanya yang bergemuruh. Dia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia telah masuk ke dalam sangkar emas milik seorang iblis berwajah malaikat.
Aisha melaksanakan pernikahannya tidak dengan tangisan haru atau pelukan hangat layaknya pengantin baru. Sebaliknya, dia dilemparkan ke dalam sebuah kamar luas berdesain minimalis modern dengan dominasi warna abu-abu dan hitam yang kaku.
Kamar itu terletak di lantai dua paviliun belakang mansion mewah yang menyerupai benteng. Sunyi, dingin, dan mengintimidasi. Aisha duduk di tepi ranjang berukuran king size. Gaun pengantin yang indah namun menyiksa itu masih melekat di tubuhnya, kini terasa seperti pakaian tahanan.
Pipinya yang tadi ditampar oleh Sinta, wanita yang selama dua puluh tahun ia panggil 'Mama', masih menyisakan rasa panas dan perih, baik di kulit maupun di lubuk hatinya.
"Tok! Tok!" Ketukan di pintu mengejutkan Aisha.
Sebelum dia sempat menjawab, pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya berseragam pelayan rapi. Ekspresinya datar, tanpa keramahan yang biasa ditemukan pada pelayan rumah tangga biasa.
"Nona Aisha, saya Bi Sumi. Tuan Muda Devan meminta Anda untuk segera berganti pakaian dan menunggunya di ruang kerja di ujung lorong ini. Beliau tidak suka menunggu," ucap wanita itu tegas, lalu meletakkan sebuah gaun tidur berbahan sutra hitam di atas meja rias sebelum berlalu pergi.
Aisha menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dengan tangan bergetar, dia melepaskan gaun pengantinnya dan menggantinya dengan gaun tidur hitam yang longgar namun sopan. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab. Dua puluh tahun hidup sebagai putri kesayangan keluarga terpandang, dalam sekejap mata runtuh menjadi barang jaminan akibat keserakahan dan pilih kasih.
Pikiran Aisha melayang ke kejadian beberapa jam lalu sebelum dia diseret ke altar. Wajah kecewa dan dingin dari Hendra, papa angkatnya, terus membayangi.
"Papa mohon, Aisha. Kali ini saja, bantulah keluarga kita," ucap Hendra malam itu saat Aisha bersujud di kakinya, memohon agar tidak dinikahkan dengan keluarga mafia Alister.
"Tapi kenapa harus Aisha, Pa? Clara yang berbuat, kenapa Aisha yang harus menanggungnya?" tangis Aisha pecah malam itu.
Hendra memalingkan wajah, tidak berani menatap mata anak angkat yang dulu ia timang.
"Clara adalah darah daging kami yang asli, Aisha. Dia baru saja kembali setelah belasan tahun hilang. Kami tidak bisa membiarkan masa depannya hancur atau nyawanya terancam oleh keluarga Alister. Selama dua puluh tahun ini, kami sudah memberikan kehidupan yang layak untukmu. Anggap saja ini saatnya kamu membalas budi."
Kata-kata 'membalas budi' itu terus terngiang, berputar-putar di kepala Aisha bagai kutukan. Senyum sinis Clara dan tamparan keras dari Sinta mempertegas kenyataan bahwa di mata mereka, dia tidak lebih dari sebuah ban serep. Ketika ban utama yang hilang telah kembali, ban serep itu harus dibuang ke tempat terasing demi melindungi sang ban utama.
Aisha menghapus setitik air mata yang kembali lolos. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan pria yang kini menjadi suaminya secara hukum. Devan Alister bukan pria biasa. Di siang hari, dia adalah CEO muda jenius yang memimpin Alister Group, sebuah konglomerat yang menguasai sektor properti dan finansial negeri ini.
Namun di malam hari, atau di balik pintu-pintu tertutup, dia adalah tangan besi yang mengendalikan jaringan bisnis bawah tanah yang ditakuti.
Dengan langkah perlahan, Aisha keluar dari kamar dan menyusuri lorong yang remang-remang. Karpet tebal yang membentang di sepanjang lantai meredam suara langkah kakinya. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar berdiri kokoh.
Aisha mengetuknya dengan ragu.
"Masuk."
Suara bariton yang berat dan dingin terdengar dari dalam. Aisha memutar knop pintu dan melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, dikelilingi oleh rak-rak buku menjulang tinggi hingga ke langit-langit.
Di balik sebuah meja kerja marmer hitam yang besar, duduk Devan Alister. Pria itu sudah menanggalkan jas tuksedonya, kini hanya mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan lengan kokoh dengan jam tangan mewah berdesain tegas.
Dia sedang memeriksa beberapa berkas di bawah temaram lampu meja. Aisha berdiri diam di dekat pintu, tidak berani melangkah lebih dekat. Aura intimidasi yang dipancarkan Devan begitu kuat hingga membuat atmosfer di sekitar ruangan terasa tipis dan menyesakkan.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Devan meletakkan penanya. Dia bersandar pada kursi kebesarannya dan menatap Aisha. Tatapan matanya tajam bagai elang, menguliti setiap gerak-gerik gadis di depannya.
"Kemari," perintah Devan singkat.
Aisha melangkah maju dengan ragu-ragu, menghentikan langkahnya sekitar dua meter di depan meja kerja Devan. Devan memperhatikan penampilan Aisha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaun tidur hitam yang melekat pada tubuh mungil Aisha membuat kulit gadis itu terlihat sangat kontras dan putih bersih.
Devan juga menyadari mata sembab dan bekas kemerahan samar di pipi kiri Aisha, bekas tamparan Sinta yang belum sepenuhnya hilang.
Kilatan aneh sempat melintas di mata gelap Devan, namun dengan cepat digantikan oleh tatapan sedingin es.
"Siapa namamu?" tanya Devan, meskipun dia tentu sudah tahu jawabannya dari laporan para anak buahnya.
"A-Aisha, Tuan," jawab Aisha dengan suara bergetar kecil.
Devan mendengus pelan, sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya yang tipis.
"Jangan panggil aku Tuan di rumah ini. Mulai hari ini, secara hukum, aku adalah suamimu. Panggil aku Devan." Aisha hanya mengangguk pelan, tidak berani membantah.
"Aku memanggilmu ke sini untuk memperjelas posisi kita," kata Devan sambil memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja marmer.
"Jangan pernah membayangkan pernikahan ini seperti dongeng-dongeng romantis. Kamu berada di sini karena orang tua angkatmu, Hendra dan Sinta, tidak becus mendidik putri kandung mereka yang bodoh itu. Clara berhutang lima puluh miliar di kasino milik keluargaku, dan mereka menyerahkanmu sebagai jaminan hidup agar hutang itu dianggap lunas." Setiap kata yang diucapkan Devan bagai garam yang ditaburkan di atas luka menganga di hati Aisha.
Gadis itu mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya, menahan rasa sesak yang luar biasa.
"Aku tahu," cicit Aisha lirih.
"Bagus kalau kamu tahu diri," lanjut Devan, suaranya terdengar datar namun sarat ancaman.
"Pernikahan ini hanyalah transaksi bisnis di atas kertas. Aku tidak butuh seorang istri, dan aku tidak berencana untuk menjadi suami yang baik. Tugasmu di rumah ini sangat sederhana, patuhi semua perintahku, jangan pernah mencampuri urusanku, jangan pernah masuk ke ruang pribadiku tanpa izin, dan yang terpenting, jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu atau mencintaimu." Aisha mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Devan.
Di balik rasa takutnya, ada secercah harga diri yang tersisa.
"Saya tidak pernah mengharapkan apa pun dari pernikahan ini, Tuan, maksud saya, Devan. Saya tahu posisi saya. Saya hanya barang jaminan."
Devan sedikit terkejut melihat keberanian Aisha yang berani menatap matanya secara langsung. Biasanya, orang-orang bahkan rekan bisnis atau anak buahnya yang berbadan kekar akan menunduk ketakutan jika dia menatap mereka seperti itu.
Namun, gadis ringkih di depannya ini memiliki binar ketegaran yang tersembunyi di balik matanya yang basah.
"Menarik," gumam Devan pelan, hampir tak terdengar.
Dia kemudian membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah map dokumen hitam, lalu melemparkannya ke depan Aisha.
"Tanda tangani itu." Aisha melangkah mendekat dan membuka map tersebut.
Itu adalah perjanjian pra-nikah. Isinya sangat menyudutkan dirinya, menyatakan bahwa dia tidak berhak atas sepeser pun harta kekayaan Devan jika terjadi perceraian di masa depan, dan pernikahan ini akan berlangsung selama waktu yang ditentukan oleh Devan sendiri.
Tanpa banyak bicara atau ragu, Aisha mengambil pulpen yang disediakan di atas meja dan menorehkan tanda tangannya di atas meterai. Dia tidak peduli dengan harta. Harta tidak bisa membeli kembali kasih sayang dua puluh tahun yang ternyata palsu.
Melihat Aisha menandatanganinya tanpa protes atau drama air mata untuk meminta keringanan, Devan kembali menatap gadis itu dengan pandangan menyelidik.
"Kamu tidak ingin membacanya dulu? Atau menuntut sesuatu?"
"Untuk apa?" Aisha menatap Devan dengan senyum getir yang terlihat sangat rapuh namun indah.
"Semua hak saya sebagai manusia sudah hilang sejak orang tua saya menjual saya pada Anda. Harta Anda tidak ada artinya bagi saya." Ruang kerja itu mendadak hening.
Devan terdiam, kata-kata Aisha entah mengapa memberikan hantaman kecil di dadanya. Pria itu berdeham pelan untuk menutupi kegundahannya, lalu mengambil kembali map dokumen tersebut.
"Keluar dari sini. Kamarmu adalah kamar yang kamu tempati tadi. Kita tidak akan tidur di ranjang yang sama. Jika tidak ada keharusan untuk tampil di depan publik atau acara keluarga Alister, anggap saja kita tidak saling kenal di dalam mansion ini," ucap Devan dingin, kembali ke mode tak tersentuhnya.
"Baik. Permisi," ucap Aisha pelan.
Dia membalikkan badan dan berjalan menuju pintu. Namun, baru saja tangan Aisha menyentuh gagang pintu, dia merasakan pandangannya tiba-tiba mengabur. Kepalanya berputar hebat.
Tekanan mental yang luar biasa sejak semalam, ditambah fakta bahwa dia belum makan apa pun sejak pagi karena dikurung oleh Sinta, akhirnya membuat tubuh ringkihnya menyerah. Kaki Aisha melemas. Tubuhnya limbung dan ambruk ke lantai dingin lorong tepat di ambang pintu kerja Devan.
"Aisha!" Suara dingin Devan berubah drastis menjadi kepanikan yang jarang sekali ditunjukkannya.
Devan langsung bangkit dari kursinya dengan kecepatan kilat, melompati meja kerjanya tanpa peduli beberapa berkas berhamburan. Sebelum tubuh Aisha sepenuhnya menghantam lantai, lengan kokoh Devan sudah lebih dulu menangkapnya. Devan mendekap tubuh mungil yang terasa sangat ringan dan dingin itu. Wajah Aisha sangat pucat, napasnya pendek-pendek.
"Sial," umpat Devan pelan saat tangannya menyentuh kening Aisha yang terasa agak demam.
Mata Devan kemudian tertuju pada pipi kiri Aisha yang membengkak samar. Jari-jari kasarnya yang biasa memegang senjata kini dengan sangat lembut menyentuh bekas luka tamparan tersebut. Ada rasa amarah yang tiba-tiba bergejolak di dalam dada sang mafia, bukan kepada Aisha, melainkan kepada keluarga Hendra dan Sinta yang tega memperlakukan gadis ini seperti binatang ternak yang siap disembelih.
Meskipun mulutnya berkata kejam dan menganggap Aisha hanya barang sitaan, namun melihat kondisi gadis itu yang begitu rapuh di pelukannya, naluri pelindung di dalam diri Devan bangkit. Devan mengangkat tubuh Aisha dengan mudah ke dalam gendongannya (bridal style).
Alih-alih membawanya kembali ke kamar paviliun belakang yang dingin, Devan melangkah lebar membawa Aisha menuju kamar utamanya sendiri, ruangan paling privat yang terlarang bagi siapa pun di mansion itu. Dia meletakkan Aisha di atas ranjang sutra miliknya dengan sangat hati-hati, seolah-olah gadis itu adalah barang porselen yang mudah pecah. Devan menatap wajah tidur Aisha yang masih tampak gelisah, lalu menghela napas panjang.
"Kamu adalah jaminanku, Aisha. Sebelum hutang itu lunas dengan caraku, tidak ada seorang pun yang boleh menyakitimu, termasuk keluargamu sendiri," bisik Devan dengan suara rendah, penuh dengan nada posesif yang berbahaya namun menyiratkan kepedulian yang mendalam.
Devan kemudian berbalik dan menekan tombol interkom di dinding.
"Bi Sumi, panggil dokter pribadi keluarga ke kamar utama sekarang juga. Dan siapkan sup hangat." Sang CEO Mafia itu kembali duduk di tepi ranjang, menatap lekat-lekat wajah istri kontraknya.
Permainan baru saja dimulai, dan Devan sadar, gadis di depannya ini mungkin akan mengubah banyak hal dalam hidupnya yang penuh dengan kegelapan.
Aroma disinfektan yang samar bercampur dengan wangi parfum maskulin menjadi hal pertama yang menyapa indra penciuman Aisha saat dia perlahan membuka mata. Kepalanya masih terasa sangat berat, seolah baru saja dihantam batu besar. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan temaram lampu tidur di ruangan asing tersebut.
Ini bukan kamar paviliun belakang yang dingin dan kaku.
Aisha menoleh ke samping dan menyadari dirinya berbaring di atas ranjang king size yang luar biasa empuk dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap. Ruangan ini jauh lebih luas, dengan interior yang sangat mewah namun minimalis.
"Sudah bangun?"
Suara berat dan dingin itu seketika membuat kesadaran Aisha pulih sepenuhnya. Dia menoleh dengan cepat ke arah sofa tunggal di sudut kamar. Di sana, suaminya, Devan Alister sedang duduk santai sambil melipat satu kakinya. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan lengan yang digulung, namun kini tatapannya tertuju lurus pada Aisha.
Aisha panik. Dia langsung berusaha bangkit dan duduk, namun rasa pening di kepalanya membuat tubuhnya kembali limbung.
"Jangan banyak bergerak. Dokter baru saja menyuntikkan vitamin dan obat penurun demam," ucap Devan datar.
Dia berdiri dari sofa, melangkah mendekat ke arah ranjang dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya.
"Kenapa, saya bisa ada di sini?" tanya Aisha dengan suara serak yang nyaris habis.
Dia mencengkeram selimut sutra itu erat-erat, merasa sangat tidak pantas berada di tempat pribadi pria yang menyebutnya sebagai 'barang sitaan' ini.
Devan berhenti di tepi ranjang, menatap Aisha dari ketinggian posisinya.
"Kamu pingsan di depan pintu kerjaku. Merepotkan. Aku tidak mau dituduh menyiksa tawanan di hari pertama pernikahan kita." Katanya dingin.
Aisha menunduk, menyembunyikan wajah pucatnya.
"Maaf. Saya tidak bermaksud menyusahkan Anda. Saya akan kembali ke paviliun belakang sekarang."
Saat Aisha hendak menggeser kakinya ke pinggir kasur, Devan tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangan kekar pria itu bertumpu di sisi kanan dan kiri tubuh Aisha, mengunci pergerakan gadis itu seketika. Aroma tubuh Devan yang mengintimidasi langsung menguar, membuat jantung Aisha berdegup dua kali lebih cepat.
"Apakah aku mengizinkanmu pergi?" bisik Devan, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Aisha yang bergetar ketakutan.
"Dengarkan aku baik-baik, Aisha. Di rumah ini, kamu hanya bergerak jika aku menyuruhmu bergerak. Untuk malam ini, tetap di sini."
Aisha menelan ludah dengan susah payah. Jarak wajah mereka begitu dekat, hingga dia bisa melihat pantulan dirinya di mata gelap Devan yang sedalam lautan.
"Tapi, Anda bilang tadi, kita tidak akan tidur di ranjang yang sama."
Devan menarik kembali tubuhnya, berdiri tegak dengan ekspresi yang kembali datar, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku akan tidur di ruang kerja. Kamar ini ber-AC sentral, suhunya lebih stabil untuk orang demam sepertimu. Jangan berpikir yang tidak-tidak."
Sebelum Aisha sempat merespons, pintu kamar diketuk pelan. Bi Sumi masuk membawa nampan berisi mangkuk sup ayam yang mengepul hangat dan segelas air putih.
"Tuan Muda, supnya sudah siap," ucap Bi Sumi sopan.
"Letakkan di meja nakas, setelah itu kamu boleh keluar," perintah Devan.
Setelah pelayan paruh baya itu pergi, Devan melirik mangkuk sup tersebut, lalu beralih pada Aisha.
"Habiskan semuanya. Dokter bilang kamu maag akut karena tidak makan seharian. Aku tidak menyewa jasamu hanya untuk melihatmu mati kelaparan di rumahku."
Kata-katanya terdengar sangat galak dan sarkastik, namun fakta bahwa pria ini memanggil dokter dan menyuruh pelayan membuatkannya sup hangat memicu rasa aneh di dada Aisha.
"Apakah seorang mafia kejam biasa memperhatikan hal sekecil ini pada barang jaminannya?" Bisik Aisha dalam hatinya.
Aisha mengambil mangkuk sup itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Dia mulai menyuapkan sup hangat itu ke dalam mulutnya secara perlahan. Rasa hangatnya langsung menjalar, menenangkan perutnya yang perih. Selama dia makan, Devan tidak beranjak. Pria itu berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kota malam hari, membelakangi Aisha.
"Kenapa Anda mau menerima saya?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Aisha, memecah keheningan kamar. Dia meletakkan mangkuk yang sudah kosong setengah ke atas meja.
Devan tidak langsung berbalik. Dia terdiam beberapa saat, menatap gemerlap lampu kota di luar sana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan misterius yang melintas di matanya, sebuah rahasia besar yang sengaja dia simpan rapat-rapat di lubuk hatinya yang paling dalam. Plot besar yang sedang dia mainkan, dan Aisha adalah kuncinya. Namun, belum saatnya gadis itu tahu.
Pria itu berbalik perlahan, memasang kembali topeng dinginnya yang tak tersentuh.
"Sudah kubilang, ini transaksi bisnis," jawab Devan dingin.
"Keluarga Hendra dan Sinta menawarkanmu, dan bagiku, lima puluh miliar adalah angka yang kecil untuk membeli kepatuhan dari seseorang yang bisa kugunakan kapan saja. Jangan banyak bertanya, Aisha! Jalani saja peranmu."
Aisha tersenyum getir, mengangguk paham. Dia bodoh karena sempat mengira ada alasan lain. Di dunia orang-orang kaya dan berkuasa seperti Devan, dia memang hanya sebuah kuda catur.
"Saya mengerti," ucap Aisha lirih.
"Terima kasih untuk supnya, Devan."
Mendengar namanya disebut oleh Aisha dengan nada yang begitu pasrah dan rapuh, rahang Devan sedikit mengeras. Dia melangkah menuju pintu kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Namun, tepat sebelum dia mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang temaram, Devan berhenti.
"Kunci pintunya dari dalam setelah aku keluar. Jangan biarkan siapapun masuk, termasuk anak buahku," ucap Devan tanpa menoleh, lalu melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat.
Aisha terpaku di atas ranjang. Perintah Devan barusan terdengar seperti peringatan, namun di sisi lain, itu terdengar seperti sebuah perlindungan. Pria itu ingin memastikannya aman di dalam kamar utamanya yang tidak boleh disentuh oleh siapapun.
Malam itu, di dalam kamar milik sang ibl*s yang paling ditakuti, Aisha justru merasakan rasa aman yang sudah lama tidak dia dapatkan di rumah keluarga angkatnya sendiri. Sambil memeluk selimut yang beraroma tubuh Devan, Aisha perlahan memejamkan mata, membiarkan obat membawanya ke dalam mimpi yang tak lagi terasa begitu menakutkan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!