"Maaf mengganggu waktu anda Nona Emma... Saya hanya ingin menyampaikan informasi bahwa rapat dengan tim Tokyo telah dijadwalkan ulang hari Senin."
Emma Taylor menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.
Angin laut meniup rambut pirangnya yang dipotong sebahu hingga berantakan, tetapi ia bahkan tidak berniat merapikannya.
"Aku bahkan sedang cuti."
"Tetapi direktur meminta anda untuk.. "
"Aku bilang aku sedang cuti. Apakah aku harus mengerjakan semua yang ada di perusahaan itu?"
Suara Emma terdengar datar, tetapi semua orang yang mengenalnya tahu, itulah tanda paling berbahaya.
Di ujung telepon, sekretarisnya terdiam beberapa detik.
"Nona Emma mohon maaf tapi..."
"Bilang pada mereka, perusahaan tidak akan bangkrut hanya karena aku tidak ada disana selama seminggu. Biarkan aku menikmati masa tenang ini."
Klik.
Emma memutus sambungan tanpa menunggu jawaban.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu menggenggam pagar kaca di dek kapal pesiar mewah yang sedang membelah lautan biru.
Liburan ini sudah direncanakan dari jauh hari dan tentu saja atas seijin dari pemilik perusahaan langsung.
Seharusnya ini menjadi liburan.
Bukan rapat.
Bukan laporan.
Bukan puluhan surel yang tak ada habisnya.
Bukan pula para rekan kerja yang selalu menganggap dirinya mesin penyelesain masalah.
Ia menutup mata.
Menghitung dalam hati seperti yang selalu diajarkan psikolognya.
Satu... Dua... Tiga...
Empat.. Lima.. Enam..
Tujuh.. Delapan.. Sembilan..
Belum sampai sepuluh, ponselnya kembali berdering.
Rahang Emma mengeras.
Nama yang muncul membuat dahinya berdenyut.
tertulis nama Papa dilayar ponselnya.
Ia mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?"
"Emma... Papa hanya ingin memastikan kau sudah sampai dengan selamat sayang."
"Aku sudah di kapal."
"Bagaimana perjalananmu? Apakah semua lancar?"
"Ya tentu saja lancar."
Hening.
Ayahnya seperti sedang memilih kata-kata.
"Emma... jangan lupa jadwal terapimu minggu depan, kau harus tetap sesuai jadwal yang sudah di ditentukan. Kau tahu jika.."
Emma memejamkan mata.
"Tentu saja. Semua orang akan selalu ingat soal itu."
"Bukan begitu maksud Papa."
"Lalu apa?"
"Karena Papa khawatir."
"Papa selalu khawatir."
Nada bicaranya mulai meninggi.
Di seberang sana, pria paruh baya itu menghela napas pelan.
"Papa hanya ingin kau menikmati liburan mu sayang."
Emma menutup mata lagi.
Rasa bersalah sesaat menyelinap.
Ia tahu ayahnya tidak salah.
Namun entah mengapa, setiap percakapan sederhana selalu berhasil mengusik emosinya.
"Hmm baiklah Aku akan baik-baik saja disini."
Ia menutup telepon lebih dulu.
Beberapa detik kemudian, ia memukul pelan pagar kaca dengan kepalan tangan.
"Sial...kemarahan ini selalu saja menguasai ku dan membenci semua orang."
Ia mengusap wajahnya kasar.
Inilah alasan ia dipaksa menjalani terapi selama hampir dua tahun terakhir.
Marah.
Kesal.
Mudah meledak.
Hal-hal kecil yang bagi orang lain sepele, baginya terasa seperti percikan api yang mampu membakar seluruh hutan.
Ia membenci dirinya sendiri karena itu.
Namun ia juga tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
Ratusan meter dari tempat Emma berdiri...
Seorang wanita lain sedang duduk sendirian di kafe terbuka kapal.
Rambut cokelat panjangnya yang bergelombang lembut tertiup angin.
Gaun krem sederhana yang dikenakannya bergerak perlahan mengikuti embusan laut.
Namanya Ella...
Tatapannya kosong mengarah ke cakrawala.
Secangkir teh di hadapannya sudah dingin sejak lima belas menit lalu.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Ralph suaminya.
Ia membukanya.
"Semoga perjalananmu menyenangkan."
Hanya itu.
Tidak ada kalimat lain.
Tidak ada emoji.
Tidak ada kata rindu.
Ella tersenyum tipis.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena ia memang sudah terbiasa.
Ia membalas singkat.
"Terima kasih."
Beberapa detik kemudian...
"Jaga kesehatan."
Ella menghela napas pelan.
Percakapan mereka selalu seperti itu.
Pendek.
Dingin.
Seolah dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Ia mematikan layar ponsel.
Tak jauh dari sana, sepasang suami istri lanjut usia sedang tertawa sambil berfoto.
Anak-anak mereka berlarian di sekitar kolam renang.
Ella memalingkan wajah.
Dulu...
Saat menerima perjodohan dengan Ralph Alexander, ia tidak pernah berharap kisah cinta seperti dongeng.
bertemu pria asing lalu jatuh cinta kemudian hidup berbahagia selamanya.
atau hanya berharap mereka bisa menjadi teman.
teman bercerita, berbagi dalam suka dan duka meski mungkin sulit menumbuhkan rasa suka satu dengan yang lainnya.
Namun bahkan harapan sederhana itu terasa terlalu sulit diwujudkan.
Ralph adalah pria baik.
Bertanggung jawab.
Dan tentunya sangat terhormat berasal dari keluarga bangsawan.
Namun hatinya seolah terkunci rapat.
Tak pernah benar-benar terbuka untuknya.
Karena pria itu masih menyimpan cinta untuk kekasihnya yang sudah tiada.
Ella menatap cincin di jari manisnya.
Kadang ia bertanya-tanya...
Apakah pernikahan memang harus terasa sesepi ini?
apakah ia tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya saling menyukai?
Sore itu...
Kapal pesiar mulai dipenuhi para tamu yang keluar menikmati pemandangan indah.
Emma berjalan cepat menuju kafe luar ruangan.
Ia membutuhkan kopi.
Bukan karena mengantuk.
Melainkan agar kepalanya berhenti memikirkan pekerjaan dan mengendalikan rasa marah dalam dirinya.
Saat melewati koridor utama...
Seseorang menabraknya.
Bruk.
"Oh, maaf. Saya kurang hati-hati berjalan."
Suara perempuan muda.
Emma spontan mendongak.
Lalu...
Waktu seakan berhenti.
Wanita di depannya juga membeku.
Mereka saling menatap.
Tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Mata.
Hidung.
Bibir.
Bentuk wajah.
Semuanya...
Sama.
Seorang anak kecil yang melewati mereka bahkan berhenti.
"Mommy...cepat lihatlah mereka berdua."
Ia menunjuk kedua wanita itu.
"Kenapa wajah mereka terlihat serupa?"
"Maaf.. Putraku memang suka mengganggu siapa saja."
Ibunya segera menarik sang putra pergi sambil tersenyum canggung.
Emma masih terpaku.
Hal seperti ini mustahil.
Sangat mustahil.
Wanita itu juga tampak sama terkejutnya.
"Maaf..."
Suara wanita itu lirih.
"Apa... kita pernah bertemu sebelumnya?"
Emma menggeleng perlahan.
"Kalau pernah, aku pasti ingat."
Hening.
Beberapa detik.
Mereka terus saling memandang.
Seolah sedang bercermin.
Bedanya hanya satu.
Wanita di depannya berambut cokelat panjang bergelombang.
Sedangkan rambut Emma pirang dan dipotong sebahu.
Emma akhirnya tertawa kecil.
"Ternyata aku punya wajah yang cukup umum. Dan aku percaya akan sebuah teori bahwa didunia ini kita memiliki tujuh kembaran."
Wanita itu ikut tersenyum.
"Tidak..."
Ia menggeleng pelan.
"Ini terlalu mirip untuk disebut kebetulan."
Emma tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia kehilangan kata-kata.
Entah mengapa, melihat wajah wanita itu menimbulkan perasaan aneh di dadanya.
Akrab.
Hangat.
Sekaligus asing.
Seolah ada kenangan yang nyaris muncul, tetapi menghilang sebelum sempat ia tangkap.
Wanita itu lebih dulu mengulurkan tangan.
"Perkenalkan namaku Ella."
Emma menerima uluran tangan itu.
"Emma Taylor."
Mereka berjabat tangan.
Lama.
Tatapan keduanya belum juga lepas.
Tak satu pun menyadari...
Bahwa pertemuan yang tampak seperti kebetulan itu akan mengubah kehidupan mereka selamanya.
Emma dan Ella masih berdiri mematung di koridor kapal pesiar.
Tak satu pun dari mereka bergerak.
seolah waktu berhenti berjalan.
Beberapa penumpang melintas sambil sesekali melirik ke arah dua wanita yang memiliki wajah yang memang sangat identik itu.
letak perbedaan hanya ada pada potongan rambut saja dan cara berpenampilan.
Emma akhirnya berdeham pelan.
"Baiklah kurasa... kita sebaiknya duduk terlebih dahulu untuk menenangkan rasa keterkejutan yang sangat langka ini."
Ella mengangguk.
"Aku juga berpikir begitu."
Mereka berjalan menuju sebuah kafe di dek yang letaknya berada dibelakang kapal.
Tempat itu lebih sepi dibanding restoran utama. Hanya terdengar suara ombak yang menghantam badan kapal dan alunan musik lembut dari kejauhan.
Seorang pelayan menghampiri sambil tersenyum kecil kepada keduanya.
"Buatkan aku kopi hitam."
Emma memesan tanpa membuka buku menu.
Ella tersenyum kecil.
"Teh chamomile hangat, untuk sementara kami memesan itu dulu.Terima kasih."
Perbedaan kecil itu saja sudah menunjukkan betapa berbeda kehidupan mereka.
Begitu pelayan pergi, suasana kembali sunyi.
Emma menatap wanita di depannya tanpa berkedip.
"Jujur saja... ini sangat aneh. Dan rasanya mustahil ada orang asing yang sangat mirip demgan ku."
Ella terkekeh pelan.
"Ya tentu saja sangat aneh."
"Kau benar-benar mirip denganku."
"Begitu juga denganmu."
Emma menyandarkan tubuhnya.
"Namamu Ella?"
"Ya."
"Siapa nama belakangmu?"
Ella terdiam sesaat.
"Alexander."
Emma mengernyit.
"Itu nama suamiku."
Emma mengangguk pelan.
"Oh jadi kau sudah menikah rupanya."
Ella hanya mengangguk.
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku masih lajang karena aku menyukai kesendirian."
Ella tersenyum tipis.
"Entah kenapa aku tidak terkejut."
Emma mengangkat sebelah alis.
"Itu terdengar seperti sindiran bagiku."
"Bukan."
Ella tertawa pelan.
"Hanya firasat."
Untuk pertama kalinya sejak naik ke kapal itu, Emma mulai tersenyum dan juga merasa aman dengan lawan bicara.
Mereka mulai berbincang ringan sambil minum teh.
Tentang usia.
Tentang pekerjaan.
Tentang negara tempat tinggal.
Emma tinggal di New York bersama ayahnya.
Ella tinggal di Inggris bersama suaminya.
Semakin banyak mereka berbicara, semakin banyak pula kesamaan yang mereka temukan.
Usia mereka sama.
Tanggal lahir mereka sama.
Bahkan jam kelahiran mereka pun sama.
Emma mulai merasa bulu kuduknya berdiri.
"Ini tidak mungkin."
Ella menggigit bibir bawahnya.
"Maaf sebelumnya apakah aku boleh bertanya sesuatu yang mungkin sedikit membuatmu tidak nyaman?"
"Tentu saja. Tanyakanlah."
"A..aku sangat penasaran apakah orang tuamu juga bercerai?"
Emma langsung membeku.
"Ya. Saat kecil ayah dan ibuku bercerai."
Ella menunduk.
"Sama ibuku dan ayahku juga."
Emma menatapnya tajam.
"Ayahku bilang... ibuku menikah lagi setelah perceraian dan aku masih kecil dan akhirnya ia pindah ke negara lain tapi aku sungguh tidak perduli dengan hal itu."
Ella perlahan mengangkat wajahnya.
"Ibuku juga mengatakan ayahku menikah lagi."
Sunyi.
Tak ada lagi suara selain debur ombak.
Emma merogoh dompetnya.
"Ayah selalu menyimpan foto ini."
Ia mengeluarkan sebuah foto lama yang mulai memudar.
Foto seorang pria muda yang menggendong bayi perempuan.
Di sisi paling ujung tampak potongan gaun seorang wanita dan sebagian tubuh bayi lain yang sengaja terpotong.
"Ayah bilang bayi itu sepupuku yang belum pernah aku jumpai."
Ella langsung memucat.
Tangannya gemetar saat membuka dompet miliknya.
"Aku juga memiliki foto yang hampir sama denganmu..."
Ia mengeluarkan foto yang serupa.
Kali ini terlihat seorang wanita muda menggendong bayi.
Di sisi lain terdapat bahu seorang pria yang terpotong bersama sebagian tubuh bayi lain.
Emma perlahan mengambil kedua foto itu.
Lalu menyatukannya.
Potongan-potongan yang hilang saling melengkapi.
Kini terlihat jelas.
Seorang ayah.
Seorang ibu.
Dan...
Dua bayi perempuan dengan pakaian yang sama persis dan juga wajah yang tidak bisa dibedakan.
Air mata Ella jatuh lebih dulu.
"Jadi..."
"Sekarang aku mengerti..."
Suara Emma terdengar lirih.
"Kita mungkin bukanlah orang asing yang kebetulan mirip."
Ella menutup mulutnya sendiri.
"Kita..."
Emma menatap mata wanita di depannya.
"Kita adalah kembar."
Tangis Ella pecah.
Dua puluh tahun.
Dua puluh tahun mereka hidup tanpa mengetahui bahwa belahan hidup mereka masih ada.
Emma tidak pandai menghibur orang.
Namun kali ini ia bangkit, berpindah kursi, lalu memeluk Ella.
Pelukan pertama mereka.
Pelukan yang terlambat selama puluhan tahun.
Sore berganti malam.
Panas berganti dingin.
Mereka terus berbicara tanpa berhenti.
Tentang masa kecil.
Tentang kehidupan masing-masing.
Meski hanya sebatas gambaran besar.
Emma juga menceritakan pekerjaannya di perusahaan internasional, sifatnya yang sulit mengendalikan emosi, dan hubungannya yang canggung yang berlangsung sejak ia kecil dengan ayah serta ibu tirinya.
Ella bercerita tentang pernikahannya yang dingin karna perjodohan, rumah besar yang terasa sepi, serta kehidupannya sebagai istri seorang bangsawan Inggris.
Semakin lama berbicara, semakin besar rasa penasaran mereka terhadap kehidupan yang tidak pernah mereka jalani.
"Aku sering bertanya-tanya..." gumam Ella.
"Bagaimana rasanya hidup bersama Ayah. Apakah ayah masih mengingatku atau sudah mengganggap ku tidak ada?"
Emma menatap laut.
"Aku juga sering berpikir seperti itu."
"Aku sangat ingin mengenal Ibu karna waktu itu kita masih sangat kecil saat terpisah dan memori tentang sosok ibu tidak teringat bahkan terhapus."
Keduanya kembali diam.
Lalu Emma berkata pelan,
"Kalau saja..."
Ella menoleh.
"Kalau saja apa?"
Emma tersenyum tipis.
"Kalau saja kita bisa saling bertukar sebentar. Aku ingin mengenal Ibu dan bertanya banyak hal padanya. Mungkin itu bisa menyembuhkan rasa marah yang ada di hatiku."
Ella terkekeh.
"Itu mustahil Emma."
"Kenapa?"
Ella memandang wajah Emma.
Semakin lama, semakin sulit menemukan perbedaan di antara mereka.
Hanya rambut.
Cara berpakaian.
Dan cara berbicara.
"Tidak ada yang tahu kita kembar, bukan?"
Emma menggeleng.
"Papa bahkan tidak pernah menceritakannya."
"Ibu juga."
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Kali ini bukan karena canggung.
Melainkan karena sebuah gagasan yang perlahan tumbuh di benak keduanya.
Emma bersandar ke depan.
"Bagaimana kalau..."
Ella menatapnya penuh tanya.
"...kita benar-benar bertukar kehidupan? Agar bisa bertemu ayah dan kau bertemu ibu?"
Jantung Ella berdegup lebih cepat.
"Itu gila."
"Mungkin."
"Kalau ketahuan?"
"Kita hanya kembali setidaknya hanya sebentar untuk mengenal mereka."
Ella menggigit bibirnya.
"Itu bukan hanya bertukar rumah Emma artinya kita bertukar takdir dan seluruh hidup dan itu sangat rumit."
"Aku tahu."
"Itu berarti menjadi dirimu."
Emma mengangguk.
"Dan aku menjadi dirimu."
Mereka saling menatap lama.
Lalu, perlahan...
Ella mengulurkan tangannya.
"Kalau begitu..."
Emma menyambut uluran tangan itu.
"...mari kita lakukan."
Dua tangan yang baru dipertemukan takdir akhirnya saling menggenggam, tanpa menyadari bahwa keputusan nekat itu akan menyeret mereka ke dalam rahasia, cinta, dan pengkhianatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Satu minggu kemudian...
Dua pesawat mendarat di dua negara yang berbeda.
Satu di Bandara Heathrow, London.
Satu lagi di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York.
Pada hari yang sama...
Dua wanita dengan wajah yang sama memulai kehidupan yang bukan milik mereka.
Emma menatap keluar jendela mobil Rolls-Royce hitam yang melaju mulus meninggalkan pusat kota London.
Hujan gerimis membasahi kaca jendela.
Pemandangan gedung-gedung modern perlahan berganti menjadi jalanan yang lebih tenang, dipenuhi pepohonan dan kawasan elite yang dijaga ketat.
Emma mengembuskan napas panjang.
Tangannya menggenggam ponsel.
Layar masih menampilkan pesan terakhir dari Ella.
"Ingat, jangan memanggil Ralph dengan nama lengkapnya. Di rumah cukup panggil Ralph. Jangan terlalu banyak bicara saat makan malam. Kepala pelayan bernama Mr. Howard. Pengurus taman Mr. Lewis. Jangan lupa Ibu biasanya menelepon setiap Sabtu sore."
Emma membaca pesan itu untuk kesekian kalinya.
Ia hafal.
Namun tetap saja...
Itu hanya tulisan.
Bukan pengalaman.
"Apakah Nyonya merasa kurang sehat?"
Suara sopir membuat Emma menoleh.
Pria tua itu menatapnya melalui kaca spion.
Emma baru teringat.
Sekarang ia bukan Emma.
Ia adalah...
Ella Alexander.
"Tidak. Aku baik-baik saja."
Jawabannya singkat.
Sopir mengangguk hormat.
"Perjalanan sekitar lima belas menit lagi."
Emma kembali menatap jendela.
Lima belas menit.
Artinya...
Lima belas menit lagi ia akan tinggal serumah dengan pria yang bahkan tidak dikenalnya.
Ia teringat percakapan terakhir bersama Ella sebelum berpisah.
"Ralph tidak jahat."
Emma mendengus pelan.
"Tidak jahat, tapi tidur di kamar terpisah dengan istrimu? Definisi baikmu rendah sekali, Ella."
------
Di belahan dunia lain...
Ella berdiri mematung di depan pintu sebuah penthouse mewah di Manhattan.
Gedung itu menjulang tinggi, dipenuhi kaca yang memantulkan langit New York.
Seorang petugas keamanan tersenyum ramah.
"Selamat datang kembali, Miss Taylor."
Ella membalas dengan senyum gugup.
"Terima kasih."
Pintu apartemen terbuka menggunakan kartu akses yang diberikan Emma.
Begitu melangkah masuk...
Ella langsung terdiam.
Apartemen itu begitu luas.
Didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih.
Modern.
Minimalis.
Tidak ada hiasan berlebihan.
Semuanya tampak rapi...
Terlalu rapi.
Seolah pemiliknya hanya datang untuk tidur.
Tak ada foto keluarga.
Tak ada tanaman.
Tak ada barang-barang lucu yang menunjukkan kehangatan.
Hanya rak buku yang penuh dengan buku bisnis, strategi, ekonomi, dan psikologi.
Ella berjalan perlahan.
Di atas meja ruang tamu terdapat sebuah papan jadwal elektronik.
08.00 Meeting Direksi.
10.30 Presentasi Proyek Asia.
13.00 Makan siang bersama investor.
15.00 Evaluasi Divisi.
18.00 Terapi.
Ella mengernyit.
Terapi?
Ia membuka map kecil yang ditinggalkan Emma.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen.
Lalu...
Sebuah kartu janji temu.
Dr. Michael Foster
Anger Management Therapy
Ella menatap kartu itu cukup lama.
Dadanya terasa sesak.
Emma hanya berkata bahwa dirinya sulit mengendalikan emosi.
Namun ternyata...
Sudah sejauh ini.
Perlahan Ella terduduk di sofa.
Ia membayangkan saudari kembarnya menjalani semua itu sendirian.
Tak ada ibu.
Tak ada saudara.
Tak ada pasangan.
Hanya apartemen besar yang terasa sunyi.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Emma.
"Kau sudah sampai?"
Ella segera membalas.
"Sudah. Apartemenmu sangat indah."
Balasan datang kurang dari satu menit.
"Jangan tertipu penampilannya. Isinya cuma tempat tidur dan pekerjaan. Kau sudah lihat jadwalku?"
Ella tersenyum tipis.
"Sudah. Aku juga melihat jadwal terapimu."
Beberapa menit...
Tak ada balasan.
Baru kemudian layar kembali menyala.
"Kita bicarakan nanti. Fokus dulu menjalani peran kita."
Ella membaca pesan itu berulang kali.
Emma tidak ingin membahas terapinya.
Ia menghormati keputusan itu.
------
Mobil yang ditumpangi Emma akhirnya memperlambat laju.
Gerbang besi hitam perlahan terbuka.
Emma mengangkat wajah.
Matanya langsung membesar.
"Astaga..."
Di hadapannya berdiri sebuah mansion bergaya klasik Inggris yang megah, dikelilingi taman luas dengan air mancur di tengahnya.
Bangunan itu lebih menyerupai istana kecil daripada rumah tinggal.
Emma spontan bergumam pelan,
"Ella... kau benar-benar tinggal di tempat seperti ini?"
Ralph Alexander berdiri di ambang pintu utama mansion keluarga Alexander.
Setelan jas tiga potong berwarna abu-abu gelap membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, nyaris tanpa ekspresi.
Mobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan anak tangga.
Seorang sopir segera turun dan membukakan pintu belakang.
Wanita yang keluar lebih dulu membuat seluruh pelayan menahan napas.
Bukan karena mereka tidak mengenalnya.
Melainkan...
Karena penampilannya.
Rambut panjang bergelombang berwarna cokelat yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khas Nyonya Alexander telah menghilang.
Kini rambut itu dipotong sebahu.
Lurus.
Berwarna pirang keemasan yang berkilau diterpa sinar matahari sore.
Tak hanya itu.
Mantel panjang berwarna putih gading yang dikenakannya dipadukan dengan sepatu hak tinggi hitam dan tas bermerek yang terlihat mencolok.
Jauh lebih modern.
Jauh lebih berani.
Jauh lebih... mencuri perhatian.
Beberapa pelayan saling berpandangan.
Bahkan kepala pelayan, Mr. Howard, tampak sedikit kehilangan kata-kata.
Emma menutup pintu mobil sendiri.
Ia melepas kacamata hitamnya dengan satu tangan.
Tatapannya langsung bertemu dengan Ralph.
Untuk sesaat...
Tak satu pun dari mereka berbicara.
Ralph memperhatikan wajah istrinya.
Lalu pandangannya perlahan beralih ke rambut pirang itu.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama...
Ada perubahan kecil pada ekspresinya.
Alisnya sedikit terangkat.
"Kau memotong rambutmu."
Emma mengangguk santai.
"Ya."
"Dan mewarnainya."
"Ya."
Jawaban singkat itu membuat suasana kembali sunyi.
Ralph kembali menatap rambut pirang istrinya beberapa detik.
"Perubahan yang cukup drastis."
Emma mengangkat bahu seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibahas.
"Aku bosan."
"Bosan?"
"Memiliki penampilan yang sama selama bertahun-tahun juga melelahkan."
Jawaban itu terdengar begitu ringan.
Namun bagi seluruh penghuni rumah...
Itu terdengar asing.
Sangat asing.
Selama ini Ella selalu meminta pendapat Ralph bahkan untuk memilih gaun menghadiri jamuan makan.
Hari ini...
Ia mengubah seluruh penampilannya tanpa mengatakan apa pun.
Ralph tetap memasang wajah datar.
Meski begitu, dalam hatinya muncul pertanyaan kecil.
"Apa yang terjadi selama liburan itu?"
"Silakan masuk."
Emma mendahuluinya melangkah ke dalam mansion.
Begitu melewati pintu utama, matanya langsung menyapu seluruh ruangan.
Langit-langit tinggi.
Lampu kristal raksasa.
Tangga melengkung dengan ukiran klasik.
Dinding dipenuhi lukisan dan ornamen antik.
"Sial... rumah ini bahkan lebih besar daripada hotel tempatku menginap semalam."
Ia hampir bersiul kagum.
Untung saja berhasil menahannya.
Mr. Howard mendekat sambil sedikit menundukkan kepala.
"Selamat datang kembali, Nyonya."
Emma mengangguk.
"Terima kasih."
Pelayan itu kembali terdiam.
Biasanya...
Ella akan tersenyum hangat.
Menanyakan kabarnya.
Bahkan mengucapkan terima kasih lebih dari sekali.
Hari ini hanya dua kata.
Singkat.
Tegas.
Emma sama sekali tidak menyadari bahwa semua orang sedang memperhatikannya.
Ia justru sibuk mengingat pesan Ella.
"Jangan panik. Jangan terlihat kebingungan."
Seorang pelayan wanita datang menghampiri.
"Nyonya, koper Anda akan kami letakkan di kamar."
Emma menyerahkan koper itu begitu saja.
"Silakan."
"Baik, Nyonya."
Pelayan itu pergi dengan langkah cepat.
Namun sebelum benar-benar menghilang, ia sempat melirik rekan-rekannya dengan wajah bingung.
Nyonya mereka...
Berubah.
Dan perubahan itu terasa terlalu besar hanya dalam waktu satu minggu.
Sementara itu Ralph masih berdiri beberapa langkah di belakang Emma.
Tatapannya mengikuti setiap gerakan wanita itu.
Cara berjalan.
Cara berdiri.
Bahkan cara mengamati ruangan.
Semuanya...
Berbeda.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Sebagai seorang bangsawan, Ralph terbiasa mengamati lebih dulu sebelum mengambil kesimpulan.
Emma akhirnya menoleh.
"Apa?"
Ralph menggeleng pelan.
"Tidak ada."
"Kalau begitu jangan menatapku seperti sedang menginterogasi."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Spontan.
Beberapa pelayan langsung menegang.
Mr. Howard bahkan menahan napas.
Ella..
Tidak pernah berbicara seperti itu kepada suaminya.
Ralph sendiri tampak sedikit terdiam.
Tatapannya tetap tenang.
Namun kini rasa penasarannya semakin besar.
"Aku hanya memastikan perjalananmu tidak terlalu melelahkan."
Emma baru menyadari ucapannya terdengar terlalu tajam.
Ia segera mengingat pesan Ella.
"Ralph bukan musuhmu."
Emma berdeham pelan.
"Maaf."
Satu kata itu terdengar canggung.
Ralph mengangguk singkat.
"Tidak masalah."
Lalu ia berbalik.
"Makan malam dimulai pukul tujuh."
Tanpa menunggu jawaban, pria itu berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah tenang.
Emma memperhatikan punggungnya hingga menghilang di balik lorong.
Lalu tanpa sadar bergumam pelan,
"Pria itu memang sedingin kulkas."
Untungnya...
Tak seorang pun mendengar kalimat terakhirnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!