Indonesia
NovelToon NovelToon

Queen Mafia Di Tubuh Pewaris Lemah

Lukisan

Happy Reading 👇

---

"Jangan mendekat.... jangan mendekat.... Hiks... Hiks... jangan menyakitiku... Hiks... Hiks... Hiks..."

Seorang wanita dengan pakaian rumah sakit jiwa meringkuk di sudut tembok. Tubuhnya gemetar ketakutan. Di tangannya tergenggam sebuah kuas lukis, dengan cat berwarna merah yang menetes ke lantai.

"Tenanglah, Nona... aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin memberikan sedikit vitamin untukmu," ucap salah satu dokter pria dengan senyum tipis. Di tangannya ada sebuah jarum suntik berisi cairan berwarna perak.

Dan cairan itu... hampir setiap hari disuntikkan ke tubuh gadis yang ada di hadapannya.

Gadis itu tak lain adalah Chloe. Ia menggeleng cepat.

"Tidak... Aku tidak mau... Itu bukan vitamin. Itu racun... Hiks... hiks... hiks..."

Dokter itu tersenyum. Lalu ia memberi kode lewat tatapan mata kepada rekannya yang berdiri di sampingnya.

Rekannya mengangguk, lalu melangkah mendekati Chloe yang meringkuk di sudut ruangan. Rambut panjangnya berantakan. Wajahnya tirus. Matanya merah karena terlalu banyak menangis.

"Jangan mendekat... hiks... hiks... Aku tidak gila... Jangan meracuniku dengan obat itu. Aku normal... Hiks... Hiks..."

Chloe berusaha menghindar, tapi tenaganya tak sebanding dengan pria berseragam dokter itu.

Dengan cepat, pria itu memborgol kedua tangannya.

"Hiks... Hiks... jangan lakukan itu padaku..." mohon Chloe, berharap kedua dokter itu akan melepaskannya.

Padahal ia tidak gila.

Obat yang setiap hari disuntikkan dokter itu ke tubuhnyalah yang membuatnya terlihat seperti orang gila. Efeknya bertahan selama dua belas jam.

Saat kedua tangannya sudah terborgol, Chloe tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa menangis dan pasrah.

Dokter yang memegang jarum suntik berisi cairan perak itu mendekat. Chloe menggeleng, air mata terus mengalir membasahi pipi tirusnya.

"Jangan... kumohon jangan lakukan ini... Hiks... Hiks..."

Itu kalimat yang sama yang selalu ia ucapkan setiap kali dokter suruhan ibu tirinya menyuntikkan cairan aneh itu ke tubuhnya.

Dokter itu seperti biasa. Ia berjongkok di samping Chloe. Tanpa berkata apa-apa, ia menusukkan jarum suntik itu ke lengan Chloe dengan kasar.

"AAAARRRGG... Sakit!"

Chloe menjerit sambil memejamkan mata.

Setelah seluruh cairan masuk, dokter itu tersenyum sambil mencabut jarumnya.

"Buka borgolnya. Biarkan dia mengamuk di dalam ruangan ini sampai efek obatnya hilang," perintahnya.

"Baik," jawab rekannya sambil membuka borgol di tangan Chloe.

Chloe bersandar di tembok yang dingin. Napasnya naik turun. Air matanya tak henti mengalir di pipi tirusnya.

"Ibu... Chloe rindu... Jemput Chloe, Bu... Chloe sudah lelah dengan semuanya," gumamnya pelan.

Kedua dokter itu segera keluar dan mengunci pintu rapat-rapat. Meninggalkan Chloe yang napasnya tersengal dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Ibu... aku menyerah... Aku tidak kuat lagi," gumam Chloe. Setelah itu, kesadarannya hilang.

Ruangan dengan pencahayaan remang itu menjadi sunyi. Hanya terdengar suara nyamuk yang berdengung di sekitar tubuh gadis rapuh itu.

Chloe membuka matanya. Tapi kali ini tatapannya berbeda.

Matanya memerah seperti mata monster. Urat-urat di tangannya menonjol, menjalar seperti akar pohon.

"AAAARRRGGGG..."

Ia berteriak. Efek obat yang disuntikkan ke tubuhnya mulai bekerja.

Kuas lukis di tangannya patah menjadi dua. Krek.

Chloe perlahan berdiri. Tatapannya menyapu seluruh ruangan kosong itu.

Di tengah ruangan ada sebuah lukisan pemandangan yang indah. Karya yang ia buat satu jam yang lalu.

"AAAARRRGG..."

Ia kembali berteriak. Seperti binatang terluka yang terjebak di dalam kandangnya sendiri.

Cat merah di paletnya tumpah ke lantai, menggenang mirip darah.

Chloe menatap lukisan itu. Langit biru. Sungai jernih. Dan sebuah rumah kecil di tepi sawah.

Lukisan yang ia buat dengan tangannya sendiri satu jam lalu. Dengan sisa harapan terakhirnya pada sosok wanita yang sudah lima tahun ia rindukan. Wanita yang telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

"Ibu..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Walaupun berada dalam pengaruh obat, Chloe tak akan pernah melupakan nama itu.

"Bohong..." desisnya. Suaranya serak, tapi jelas. "Semua ini bohong."

Dengan satu hentakan, ia menyambar kanvas itu.

Sreett!

Kuas yang patah ia goreskan ke tengah lukisan. Langit birunya tercakar. Sungai jernihnya berlumur cat hitam.

Anehnya, setiap goresan yang ia buat, urat-urat yang menonjol di tangannya justru perlahan menghilang.

Tapi rasa sakitnya tidak. Rasa panas itu menjalar. Seolah ada sesuatu yang ditarik keluar dari dadanya, lalu dipaksa masuk ke ujung jarinya.

Lampu ruangan berkedip. Poster di dinding terlepas dan jatuh.

Dari luar pintu terdengar langkah tergesa-gesa.

"Buka! Buka ruangannya!" teriak seorang dokter perempuan kepada dua suster di belakangnya.

"Jangan, Dok. Dokter Gio akan marah kalau ada yang berani buka ruangan ini tanpa izin," tegur salah satu suster sambil menggeleng.

"Tapi pasien di dalam sepertinya butuh pertolongan. Sebagai dokter, aku tidak bisa diam saja," jawab dokter itu dengan nada peduli.

"Aku tahu apa yang dokter pikirkan. Tapi menolong pasien di dalam sama saja membahayakan nyawa dokter sendiri," ujar suster yang lain.

"Benar, Dok. Lebih baik kita pergi dari sini sebelum Dokter Gio melihat kita," ajak suster satunya sambil menarik tangan dokter perempuan itu menjauh dari pintu.

"Tapi..."

"Ayo, Dok..."

Dengan berat hati, dokter itu akhirnya pergi. Sesekali ia menoleh ke arah ruangan Chloe dengan rasa bersalah.

Di dalam, Chloe menoleh ke arah pintu. Matanya yang merah tidak berkedip. Ia mengangkat tangan. Kuas patah di genggamannya bergetar.

Dan di atas kanvas yang rusak itu, muncul goresan baru. Bukan ia yang menggambar. Tangannya bergerak sendiri.

Garis demi garis membentuk sosok. Rambut panjang. Gaun putih. Wajah yang setiap malam ia panggil untuk menjemputnya.

"Ibu..." bisik Chloe. Air mata darah menetes dari sudut matanya.

Rasa sakit dan panas di tubuhnya mulai menghilang. Urat-urat di tangannya tak terlihat lagi.

Tubuhnya terasa lemah. Ia perlahan jatuh ke lantai yang dingin, dengan senyum tipis di sudut bibirnya.

"Ibu... akhirnya kau datang menjemputku," gumamnya. Lalu matanya tertutup. Napasnya berhenti.

Tubuh yang tadinya panas itu kini dingin. Terbaring di lantai, tak berdaya... dan tak bernyawa.

Tapi setelah dua jam kemudian, tubuh yang tak berdaya dan tak bernyawa itu kembali membuka matanya dengan perlahan.

Tangannya terangkat, memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.

"Ssstt... Aku di mana?" gumamnya dengan suara serak.

Dengan susah payah ia menopang tubuhnya, lalu duduk di atas lantai dingin itu. Seluruh ruangan gelap dan remang.

Dadanya terasa kosong. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada rasa panas yang tadi membakar urat-uratnya.

Yang ada hanya rasa bingung dan perih, "Ini tempat apa?" gumamnya lagi sambil menatap keseluruhan ruangan itu dengan wajah bingung.

Lalu tatapannya jatuh ke kanvas di depannya. Lukisan itu sudah berubah total. Langit biru, sungai jernih, dan rumah kecil sudah hilang. Yang ada sekarang hanya sosok wanita bergaun putih dengan rambut panjang tergerai.

Chloe mengerutkan keningnya, bingung. "Ini lukisan siapa?" gumamnya lagi.

Tiba-tiba, mata wanita yang ada di lukisan itu terbuka. Menatap lurus ke arah Chloe.

Deg!

---

Hallo guyss bertemu lagi dengan Author dengan cerita yang baru 🤗🤗 maaf ya beberapa hari ini Author menghilang, Karana Author sedang menyusun ide untuk membuat novel baru.

Jangan lupa dukungannya supaya Author semangat up nya sampai novel itu tamat. 🤗🥰🙏.

Kehidupan Kedua

Deg!

Cahaya putih keluar dari lukisan sosok wanita berambut panjang dan berpakaian putih itu.

Chloe yang masih duduk di atas lantai tidak bergerak sedikit pun. Di matanya tidak ada ketakutan yang terlihat.

Ia hanya duduk diam menatap cahaya putih yang perlahan berubah menjadi sosok wanita paruh baya. Wanita itu berdiri di hadapannya dengan senyum lembut.

Rambut panjangnya tergerai. Gaun putihnya berkibar pelan, padahal tidak ada angin. Wajahnya... wajah yang sama persis dengan wanita di lukisan.

"Siapa kau?" tanya Chloe sambil beranjak berdiri. Tubuhnya masih terasa sedikit sakit.

Sosok itu hanya tersenyum, menatap wajah tirus Chloe yang kini sudah berdiri di hadapannya. Lalu ia mengangkat tangannya. Dingin, tapi menenangkan. Ujung jarinya menyentuh pipi Chloe.

"Aku ibumu, Nak," jawabnya pelan, suaranya serak.

Chloe mengerutkan kening. "Ibu...?! Aku tidak mempunyai ibu," ucapnya sambil menggeleng. Ia menepis jari dingin yang menyentuh pipinya.

"Kau benar...." Air mata wanita itu jatuh. "Ibu yang salah. Ibu yang meninggalkanmu bersama ayahmu... Ibu... Ibu tidak bisa hidup dengan seorang monster pembunuh berdarah dingin seperti ayahmu...." ucap wanita itu dengan suara bergetar.

Chloe diam. Ia terus menatap sosok wanita paruh baya yang berwajah pucat itu dengan tatapan penuh tanya.

"Kau pantas membenci Ibu, Daisy...."

Deg.

Nama itu menghantam kepala Chloe seperti palu.

"Tapi di kesempatan ini, Ibu mohon untuk terakhir kalinya kepadamu," lanjut wanita itu. Air matanya mengalir di pipinya. "Balaskan dendammu. Balaskan dendam adikmu yang saat ini tubuhnya kau tempati."

Chloe mundur selangkah. Kepalanya berdenyut-denyut sakit.

"Apa maksudmu... tubuh yang kutempati?" Suaranya bergetar.

Wanita itu tersenyum perih. "Chloe sudah mati dua jam yang lalu, Nak. Dia lelah menghadapi siksaan yang diberikan oleh orang serakah itu. Adikmu menyerah. Yang bangun sekarang... adalah kau. Jiwa Daisy. Putri sulungku, yang aku tinggalkan bertahun-tahun lalu."

Chloe terdiam mendengar apa yang dikatakan wanita di hadapannya.

"Maafkan Ibu," bisik sang wanita. Tubuhnya mulai memudar, tertelan cahaya putih. "Balaskan dendammu. Balaskan dendam Ibu dan adikmu. Ambil apa yang menjadi hakmu."

"Ibu...!? Adik!?" Chloe menggelengkan kepalanya, bersamaan dengan sosok wanita yang mengaku sebagai ibunya menghilang di hadapannya.

Sunyi.

Hanya tersisa kanvas dan lukisan seorang wanita yang menutup matanya. Wanita yang sama yang berbicara kepadanya. Napas Chloe memburu.

Tiba-tiba ingatan asing membanjiri kepalanya. Tangisan yang merintih, ketakutan, dan penyiksaan.

Darah, pembunuhan yang disengaja, harta warisan yang direnggut... bercampur menjadi satu.

Flash

Seorang wanita tertawa keras sambil menodongkan pistol ke kepala seorang wanita lain.

"Mati kau.... Hahaaa.... Dan seluruh hartamu akan menjadi milikku!"

Dor!

"Ibu..."

Flash

"Lepaskan aku! Aku tidak gila.... Aku waras! Jangan menyakitiku... Ayah...." Seorang wanita muda berteriak memohon. Tapi tak ada seorang pun yang mendengarkannya. Seolah-olah teriakannya itu hanya angin lalu. Ia diseret paksa masuk ke dalam rumah sakit jiwa oleh seorang dokter pria.

Flash

"Jangan mendekat... Jangan menyuntikku... itu racun!" Rintihan Chloe di dalam ruangan yang gelap. Ia disuntik cairan berwarna perak oleh seorang dokter pria dengan cara yang kasar.

"AAAKH...!!!"

Chloe berteriak sambil memegangi kepalanya. Dadanya terasa sesak. Ingatan itu terasa sakit. Terlalu nyata.

"Jadi... jadi aku.... kembali hidup," gumamnya pelan. Suaranya serak. "Dan... dan pemilik tubuh ini adalah adikku.... Chloe."

Air matanya jatuh. Tapi bukan air mata lemah. Ini air mata amarah.

"Chloe... Ibu," ia menatap lukisan itu. "Maaf aku datang terlambat."

Tangannya terkepal kuat. Kukunya menancap ke telapak tangan sampai berdarah. Tapi ia tidak merasakan sakit.

Yang ia rasakan hanya dingin. Dingin yang menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun.

"Ck."

Sebuah suara terdengar dari kepalanya. Suaranya sendiri, tapi bukan.

Lebih berat. Lebih kejam.

"Selamat datang, Kak."

Chloe tertegun. "Chloe?"

"Aku sudah menunggu lima tahun di sini, Kak. Di dalam tubuh ini. Menahan sakit. Menahan suntikan itu."

Suara itu tertawa pelan. "Terima kasih sudah datang. Sekarang.... Giliranku istirahat, dan giliranmu yang bekerja, Kak... Aku tahu kakak bukan wanita lemah seperti aku. Jadi semesta mempercayakan semuanya kepada kakak."

Cahaya di sekeliling Chloe meredup. Di belakang matanya ia bisa melihat bayangan seorang gadis memakai gaun putih. Tersenyum padanya sebelum akhirnya pudar.

"Chloe," air mata Daisy jatuh. "Aku janji."

Ia mengangkat wajahnya. Mata yang tadinya coklat pucat kini berubah. Merah. Tajam. Dan penuh emosi.

"Aku Queen Daisy. Kembali hidup di tubuh adikku yang hidupnya sangat malang. Dan aku berjanji akan membalas semuanya. Membuat orang yang menyiksa mereka menangis darah, memohon nyawa di bawah telapak kakiku."

KRAAAK!

Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Dokter Gio masuk dengan wajah terlihat panik. Di belakangnya ada dua orang suster.

"Apa yang kamu lakukan, wanita gila?!" bentak Dokter Gio.

Tapi ia langsung terdiam.

Di tengah ruangan yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan dari jendela, berdiri seorang wanita.

Rambut panjangnya tergerai basah oleh keringat dan cat. Gaun rumah sakitnya robek. Dan di tangannya terdapat kuas lukis yang berlumur cat berwarna merah, menetes ke lantai persis seperti darah.

Ia menoleh ke arah Dokter Gio dengan senyum tipis. Dokter Gio dan dua orang suster di belakangnya membeku saat melihat mata wanita itu yang memerah seperti darah.

Hening selama tiga detik.

"Oh," kata Chloe pelan. Suaranya serak tapi tenang. "Kalian datang."

Ia mengangkat kuas itu. Menatapnya seperti menatap pisau. "Aku suka melukis... Apa kau menyukai lukisanku yang itu, Dokter?" ucap Chloe sambil menunjuk lukisan seorang wanita di kanvas.

Dokter Gio dan suster menatap lukisan seorang wanita di dalam kanvas. Wanita itu memakai gaun putih. Wajahnya tersenyum lembut. Tapi lehernya... berlumuran cat merah yang menetes sampai ke bawah kanvas.

"Sejak kapan kau melukisnya?" tanya Dokter Gio. "Dua jam lalu aku baru saja menyuntikkan obat ke dalam tubuhmu. Efeknya akan bertahan selama dua belas jam."

Tapi sekarang ia melihat wanita itu baik-baik saja. Tidak berteriak seperti orang gila. Tidak ketakutan saat melihat manusia. Wanita itu justru terlihat baik-baik saja.

Chloe memiringkan kepala. Cat merah dari kuasnya menetes pluk ... pluk ... ke lantai.

"Kenapa? Kaget ya," ucap Chloe dengan berbisik.

Ia melangkah mendekati kanvas itu. Jarinya mengusap wajah wanita di lukisan.

"Ibu," gumamnya. "Dia yang mengajari aku melukis. Sebelum dia meninggal karena dibunuh."

Hening.

Hanya ada suara tetesan cat di ruangan itu.

Dokter Gio menelan ludah. "Ambilkan suntikan, cepat!" ucapnya kepada suster yang berdiri di belakangnya.

"Baik, Dokter," ucap salah satu suster itu lalu berlari keluar dari ruangan.

Chloe tersenyum tipis. Tapi terlihat sangat menyeramkan. Matanya merah, tajam, dan kosong.

Ia tidak menoleh. Tetap mengusap kanvas itu dengan lembut.

"Terlambat, Dokter," bisiknya. "Obat kalian tidak mempan lagi sama aku."

 

Jangan lupa dukungannya guyss 🙏 😊 🤗 🥰.

Aku Tidak Gila

Tak .... Tak .... Tak ....

Chloe berbalik. Berjalan pelan ke arah Dokter Gio. Setiap langkahnya menggema di dalam ruangan yang sepi itu.

Dokter Gio mundur sampai punggungnya mentok di dinding. "J-jangan mendekat! Kau ini wanita gila!"

"Gila?" Chloe memiringkan kepala. Cat merah di kuasnya menetes ke lantai. Membentuk pola seperti bunga. "Aku?"

Ia tertawa kecil. "Yang gila itu kalian. Yang menyuntikkan obat gila ke tubuh lemah ini. Yang mengurungnya dalam ruangan gelap seperti ini. Yang mengatakan aku berhalusinasi saat aku bilang ibuku meninggal karena dibunuh."

Chloe berhenti tepat satu langkah di depan Dokter Gio. Terlalu dekat.

"Dengar baik-baik ya, Dokter," ucap Chloe pelan. "Aku tidak gila. Yang gila itu kamu."

Suster yang satunya masih berdiri mematung di ambang pintu. Wajahnya pucat.

"Keluar," kata Chloe tanpa menoleh. Suaranya tetap lembut. "Sebelum aku lupa kalau aku juga pembunuh."

Suster itu langsung lari tunggang-langgang. Sekarang tinggal mereka berdua.

Dokter Gio mencoba meraih laci meja. "Aku peringatkan kau—"

BUK!

Tangan Chloe lebih cepat. Ia menahan pergelangan tangan Dokter Gio dan membantingnya ke meja. Kuas di tangan satunya menempel di leher pria itu.

Dingin dan tajam.

"Aku tidak suka diancam," bisik Chloe. Napasnya mengenai telinga Dokter Gio. "Aku hanya ingin memberimu dua pilihan."

Ia menekan kuasnya sedikit. Setetes darah muncul di leher Dokter Gio.

"K-katakan," ucap Dokter Gio dengan suara bergetar.

Chloe tersenyum tipis. "Bantu aku keluar dari tempat terkutuk ini. Kalau tidak, aku akan memotong lehermu sekarang juga."

Dokter Gio memejamkan matanya. "K-kau gila... Kau tidak bisa keluar dari tempat ini."

SRET!

Garis merah muncul di lengan baju Dokter Gio. Tidak dalam. Hanya goresan. Tapi cukup untuk membuatnya menjerit.

"Aku tidak gila," kata Chloe. Ia menjilat darah di ujung kuasnya. "Kalau kau tidak membantu, siap-siap kepalamu ini terlepas dari lehermu."

Ia mendekatkan wajahnya. Mata merahnya menatap lurus ke mata Dokter Gio.

"Sepuluh detik," bisiknya. "Sebelum aku membuat lukisan baru. Dan kau yang akan jadi kuasnya."

Dari luar terdengar langkah kaki satpam. Alarm. Kekacauan. Tapi Chloe hanya tersenyum.

"Jadi? Bantu aku... atau kau mau jadi karya seni pertamaku?"

Dokter Gio gemetar hebat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

"A-a-aku... aku bisa," akhirnya ia tergagap. "Aku punya kunci cadangan pintu belakang. Tapi... tapi ada satpam yang jaga."

Chloe menyipitkan matanya. "Bagus. Kalau begitu kau yang akan mengalihkan mereka."

Ia menarik kerah baju Dokter Gio. Menyeretnya ke depan pintu.

"Kau akan bilang ada pasien yang mengamuk di ruang rawat inap. Paham?"

DUG! DUG!

Suara gedoran dari luar semakin kencang. "BUKA PINTUNYA! INI SATPAM!"

Chloe melirik ke jendela. Bulan purnama menggantung tinggi. Jalan untuk kabur.

Ia berbisik di telinga Dokter Gio. "Dengar baik-baik ya, Dokter. Ini kesempatan terakhirmu untuk hidup. Jangan coba-coba berkhianat. Karena aku bisa mencium bau takutmu dari sini."

KRAK!

Pintu mulai retak karena didobrak dari luar.

Chloe mengambil botol infus dari meja, lalu memecahkannya ke lantai.

Prak!

Hal itu membuat Dokter Gio semakin tegang dan gemetaran. Saat ini ia melihat Chloe yang sangat berbeda. Tidak seperti Chloe yang ia kurung di ruangan ini selama lima tahun, atas perintah ibu tiri wanita itu.

Lalu Chloe menunduk dan mengambil pecahan botol infus. Ia menyelipkannya ke dalam genggaman Dokter Gio.

"Buka pintunya," perintahnya dingin. "Tersenyum. Dan bilang kau yang terluka, bukan aku."

Dokter Gio dengan tangan gemetar memutar gagang pintu.

Pintu terbuka.

Tiga orang satpam langsung masuk dengan pentungan terangkat. Tapi mereka berhenti saat melihat Dokter Gio dengan leher berlumuran darah dan pecahan kaca di tangannya sendiri.

"Dokter?" salah satu satpam berteriak.

"Dia... Dia gila!" teriak Dokter Gio sesuai skenario. Suaranya pecah. "Tolong! Dia menyerangku!"

Saat perhatian satpam teralihkan ke Dokter Gio...

Chloe sudah tidak ada di sana.

Yang tersisa hanya jejak cat merah di lantai. Menuju ke arah jendela yang sudah terbuka lebar.

Angin malam masuk. Membawa bisikan terakhirnya.

"Permainan baru saja dimulai, Ibu Tiri. Sampai jumpa di kediaman keluarga Weiss."

---

Atap rumah sakit basah oleh hujan gerimis.

Duk. Duk.

Chloe mendarat di atas kanopi lantai dua. Gaun rumah sakitnya robek, tapi ia tidak peduli. Darah di tangannya sudah mengering, bercampur cat merah.

Ia berdiri di tepi. Menatap pagar tinggi rumah sakit jiwa itu dari atas.

"Lima tahun," gumamnya. "Lima tahun kalian mengurung pemilik tubuh ini di kandang terkutuk seperti ini."

Matanya yang merah menatap tajam ke arah gerbang depan. Di sana lampu sorot mulai menyala. Alarm masih meraung.

"Tapi kandang tidak akan pernah bisa menahan seekor singa sepertiku."

Tanpa ragu, Chloe melompat.

BUK!

Tubuhnya berguling di tanah, lalu ia langsung berlari. Membelah kegelapan. Menghilang di antara semak-semak.

Tiga puluh menit kemudian.

Sebuah taksi tua berhenti di pinggir jalan gelap.

"Turun di sini, Nona," kata sopir taksi curiga melihat penumpang dengan gaun rumah sakit jiwa berlumur cat.

Chloe mengangguk. Ia merogoh saku gaunnya. Kosong.

Ia tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Pak."

Sebelum sopir taksi bereaksi, Chloe sudah membuka pintu dan berlari ke dalam gang sempit.

Hujan semakin deras.

Ia berhenti di depan sebuah rumah kecil yang terlihat kosong. Tubuhnya sudah basah kuyup terkena air hujan.

Chloe menghela napas kasar. Ia menatap sekeliling. Hanya ada rumah kecil dengan cat mengelupas, jendela pecah, dan pintu yang berderit ditiup angin.

KREK

Ia mendorong pintu kayu itu. Tidak terkunci. Di dalamnya gelap, berbau apek dan jamur. Tapi hangat. Tidak sedingin rumah sakit jiwa.

Di sudut ruangan ada kasur busa tipis yang sudah robek, ditutupi kardus. Di atasnya ada satu bantal dan guling.

"Tempat ini cukup untuk melindungiku malam ini. Sebelum besok aku memulai semuanya," gumam Chloe sambil tersenyum tipis.

Petir menyambar. Menerangi satu sudut ruangan.

Ia melangkah ke arah lemari tua. Lemarinya berderit saat dibuka. Di dalamnya ada beberapa pakaian usang dan lusuh, tapi masih pantas dipakai.

Chloe meraih sepasang pakaian dari dalam lemari lalu segera mengganti gaun rumah sakit jiwanya yang sudah basah kuyup.

Celana jeans sobek dan kaus hitam kebesaran. Baunya apek. Tapi setidaknya ia tidak terlihat seperti pasien buronan lagi.

Setelah selesai, ia duduk di atas kasur busa itu. "Sepertinya aku butuh bantuan untuk masuk ke kediaman keluarga Weiss," gumam Chloe sambil berpikir.

"Minta bantuan Elsa...?" Ia mengusap wajahnya yang masih basah. "Apakah dia akan percaya kalau aku kembali hidup... tapi di tubuh yang berbeda?" Chloe kembali bergumam.

Hening.

Hanya ada suara hujan yang menimpa atap seng.

Elsa. Teman Daisy di kehidupan sebelumnya. Wanita itu anak dari asisten kepercayaan ayahnya.

Elsa dan Daisy adalah dua sosok yang sangat ditakuti di dunia bawah tanah. Dijuluki Si Kembar Iblis.

Daisy, si ahli strategi. Dingin, kalkulatif, tidak pernah gagal dalam satu misi pun.

Elsa, si algojo. Tangan kanannya. Setia sampai mati. Kejam, tapi hanya untuk musuh.

Mereka bertempur bersama. Membunuh bersama. Minum bersama di atas tumpukan mayat musuh.

Hingga suatu malam mereka terpaksa berpisah. Karena sebuah misi untuk menyerang markas musuh terbesar ayahnya.

Misi itu jebakan.

Dan Daisy yang menjadi korban. Karena dikhianati oleh salah satu anak buah ayahnya. Keberadaannya diketahui musuh. Ia tertangkap dan dibunuh. Mayatnya dimutilasi dan dibagi ke beberapa bagian. Kepalanya dikirim ke markas ayahnya.

---

Jangan lupa dukungannya ya guys 🙏 😊 🥰 🥰.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!