"Sayang, hari ini kamu yang ambil hasil tes kesehatan itu. Mas ada meeting penting di kantor!" Rayan berkata pada istri nya.
"Baik mas!" Jawab Melati.
"Semoga saja semua nya baik - baik saja, kalian bisa segera punya keturunan!" Bu Arum ikut menimpali.
"Ammiiinnn! Semoga saja bu!" Jawab Melati.
Mereka melanjutkan sarapan nya hingga selesai, Rayyan langsung berangkat ke kantor. Sedangkan Malati bersiap untuk pergi ke rumah sakit, bu Arum dan Suami nya bersantai di rumah.
"Bu, Melati pergi dulu ya!" Melati mencium tangan ibu mertua nya.
"Iya nak, hati - hati di jalan!" Ujar bu Arum.
"Baik bu!" Jawab Melati.
"Kamu bisa pergi dengan di antarkan supir saja nak!" Ujar bu Arum lagi.
"Tidak perlu bu, aku bisa pergi sendiri!" Jawab Melati sambil tersenyum.
Melati putri, adalah putri kedua dari pasangan konglomerat di kota ini. Sudah 5 tahun dia menikah dengan Rayyan, tapi mereka belum juga di karunia seorang keturunan.
Satu minggu yang lalu, kedua nya memutus kan untuk memeriksa kan diri ke rumah sakit. Dan hasil nya baru bisa di ambil hari ini, tapi karena Rayyan punya urusan penting di kantor nya.
"Pak, semoga semua nya baik - baik saja dan Rayan bisa segera punya keturunan. Lihat lah Arini saja anak nya udah 2!" Bu Arum berkata pada pak Ilham.
"Iya bu, masa anak laki - laki kita tidak punya penerus!" Pak Ilham setuju dengan apa yang di katakan oleh istri nya.
Melati sudah meluncur ke rumah sakit, dia pergi sendiri. Satu jam kemudian dia tiba di sana, dia langsung menuju ke ruangan dokter Silvi.
"Dokter Silvi nya ada sus?" Tanya Melati oada suster yang sedang bertugas di depan ruangan dokter Silvi.
"Ada bu, tapi tunggu sebentar. Dokter Silvi nya sedang ada pasien!" Jawab suster itu ramah.
"Baiklah saya akan menunggu!" Jawab Melati.
Melati pun menunggu sambil duduk di kursi ruang tunggu yang ada di depan ruangan dokter Silvi, dia memang sudah membuat janji sebelum nya.
"Bu Melati, silahkan masuk. Ibu sudah di tunggu oleh dokter Silvi!" Suster itu mempersilahkan Melati masuk.
"Terima kasih sus!" Jawab Melati.
Melati melangkah masuk ke dalam ruangan khusus dokter Silvi, di balik meja nya dokter Silvi menyambut nya dengan ramah.
"Melati, silahkan duduk Mel!" Dokter Silvi berkata dengan ramah.
"Terima kasih Sil!" Jawab Melati yang segera duduk di seberang meja dokter Silvi.
Melati dan Silvi sudah berteman lama, semenjak mereka masih sekolah di Sekolah Menengah Atas. Tapi mereka berpisah saat memasuki perguruan tinggi, Melati mengambil jurusan manajemen kantor sedangkan Silvi mengambil jurusan kedokteran. Mereka tetap kuliah di kampus yang sama, cuma beda jurusan saja.
Setelah lulus, kedua nya melanjutkan pendidikan di kampus yang sama. Melati mengambil S2 dengan jurusan yang sama, sedangkan Silvi mengambil jurusan spesialis kandungan.
"Rayan nya mana, Mel?" Tanya Silsi heran.
"Mas Rayan nya sedang ada meeting penting, jadi dia tidak bisa datang. Dia meminta ku saja yang mengambil hasil tes nya!" Jawab Melati.
"Sayang banget Mel, seharusnya Rayan ada di sini. Degan begitu dia akan tahu hasil tes nya!" Tampak dokter Silvi sedikit kecewa.
"Gak papa kok Sil, nanti juga aku akan kasih tahu dia!" Jawab Melati sambil tersenyum.
"Dari hasil pemeriksaan kalian minggu lalu, sebenar nya kau baik - baik saja. Hanya saja Rayan,,,,!" Dokter Silvi menghentikan ucapan nya.
"Ada apa dengan mas Rayan, Sil?" Tanya Melati penasaran.
"Rayan tidak bisa memiliki keturunan, dia memiliki penyakit infertilitas. Dia tidak mampu memproduksi sperma yang berkualitas, sehingga tidak bisa membuat mu hamil!" Jelas dokter Silvi.
Dokter Silvi memberikan kertas hasil pemeriksaan itu, dan Melati pun menerima lalu membaca nya dengan teliti.
"Apa penyebab hal itu Sil?" Tanya Melati lagi.
"Busa jadi karen faktor genetik, dan bisa jadi ada penyebab lain nya!" Jelas dokter Silvi lagi.
Melati terdiam mendengar penjelasan dokter Silvi, dia kasihan melihat mertua nya yang sangat menginginkan cucu dari Rayan. Apalagi mengingat Rayan adalah laki - laki yang sangat baik, dia pasti terluka dengan fakta ini.
"Mel, apakah kau sangat mencintai Rayan?" Tanya dokter Silvi yang membuyarkan lamunan Melati.
"Iya Sil, aku mencintai mas Rayan. Sekalipun dia tidak bisa memiliki keturunan, aku akan menerima apapun kekurangan nya!" Jawab Melati sambil tersenyum.
"Jika kau yang ada di posisi nya, apakah Rayan juga akan melakuka hal yang sama seperti yang kau lakukan?" Tanya Silvi lagi.
"Tentu saja Sil, mas Rayan itu sangat baik. Begitu pun dengan keluarga nya, mereka sangat baik pada ku!" Jawab Melati dengan bangga nya.
Silvi hanya menggelengkan kepala melihat dan mendengar pengakuan sahabat nya, dia tidak yakin Rayan dan keluarga nya akan bersikap sangat baik pada Melati saat mereka mengetahui jika Melati tidak bisa memberi mereka keturunan.
"Mel, boleh aku kasih saran sama kamu?" Tanya dokter Silvi dengan lembut.
"Apa itu Sil?" Tanya Melati.
"Coba kau katakan pada Rayan dan keluarga nya, bahwa kau lah yang mandul dan tidak bisa memiliki keturunan! Maka kau akan melihat wajah asli mereka!" Saran dokter Silvi.
"Mas Rayan itu sangat baik Sil, dia bahkan selalu menyiapkan makanan sehat untuk ku saat aku sedang demam. Begitu pun dengan kedua mertua ku, walaupun mereka selalu mendesak kami untuk segera punya keturunan. Tapi mereka sangat baik!" Jawab Melati.
"Mel, 5 tahun hidup bersama dengan mereka, itu tidak akan membuat mu bisa mengetahui wajah asli mereka. Kau bisa buktikan sendiri ucapan ku!" Kembali Silvi berkata.
Melati terdiam, dia memikirkan ucapan sahabat nya. Di dalam hati nya dia masih saja mengatakan bahwa Rayan dan keluarga nya tulus pada diri nya, mereka mau menerima apapun keadaan nya.
"Sil, terima kasih banyak kau sudah membantu melakukan pemeriksaan ini. Akan ku pikirkan saran dari mu!" Melati segera berdiri dan menyalami sahabat nya itu.
"Mel, pikirkan dengan baik. Akan lebih baik jika kau tau semua nya lebih cepat!" Dokter Silvi kembali berkata.
"Baik lah Sil, aku pergi dulu!" Melati pun pergi dari ruangan itu.
Silvi hanya menggelengkan kepala nya melihat sikap sahabat nya itu, dia kasihan melihat Melati. Karena Rayan dan keluarga nya bukan lah orang yang tulus, mereka hanya memanfaatkan harta Melati saja.
"Semoga mata mu segera terbuka, Mel. Kau harus tahu siapa sebenarnya Rayan dan keluarga nya!" Guman Silvi sambil menghela nafas berat.
Silvi sengaja memberi saran pada Melati, karena ada suatu hal tentang Rayan dan keluarga nya yang tidak diketahui oleh Melati.
Melati pergi dari rumah sakit dengan perasaan gamang, dia masih memikirkan saran dari Silvi tadi. Dia sendiri tidak masalah jika diri nya dan Rayan tidak memiliki keturunan, mereka bisa mengadopsi anak sebagai pelengkap kebahagiaan mereka.
"Apa sebaik nya aku turutin saran dari Silvia, ya!" Guman Melati sambil termenung.
"Kasihan mas Rayan, keluarg nya mengingin kan keturunan dari nya. Tapi dia tidak bisa memberi mereka keturunan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Melati bertanya pada diri nya sendiri.
Melati melajukan mobil nya menuju ke rumah orang tua nya, sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan mereka. Mungkin bicara dengan bunda nya, bisa membuat Melati menemukan solusi dari permasalahan mereka.
Satpam membuka gerbang yang menjulang tinggi, saat mobil Melati tiba di sana. Orang tua Melati hanya tinggal berdua di rumah itu, dengan di temani oleh Art mereka. Sedangkan Brian tinggal bersama anak dan istri nya, tapi tetap di kota ini.
"Bunda nya ada bi?" Tanya Melati pada mbok Sari, asisten di rumah ini.
"Ada di taman belakang, non!" Jawab mbok Sari.
"Ya udah, aku temui bunda dulu!" Melati bergegas menemui ibu nya di taman belakang.
Bunda Ambar saat ini sedang berada di gazebo yang ada di taman belakang, dia sedang memberikan makan pada ikan- ikan peliharaan nya di kolam.
"Bunda,,,!" Sapa Melati.
"Melati, kapan kau datang nak? Kenapa tidak memberi tahu Bunda?" Bunda Ambar langsung meletakkan pakan ikan di atas meja.
"Melati baru saja tiba, Bu!" Jawab Melati sambil mencium tangan bunda nya dengan sopan.
"Rayan nya mana nak?" Tanya bunda Ambar lagi.
"Mas Rayan nya sedang berada di kantor, Bun. Dia sedang ada rapat penting, jadi aku datang sendiri!" Jawab Melati.
"Apa kabar dengan suami mu, nak?" Kembali Bunda Ambar bertanya.
"Alhamdulillah, Mereka baik - baik saja!" Jawab Melati.
Melati dan Bunda Ara berbicara banyak hal, ibu dan anak itu saling melepaskan rindu. Tapi hari ini Bunda Ambar melihat ada sesuatu yang berbeda dari putri nya, dia melihat seperti nya Melati sedang memikirkan sesuatu.
"Melati, apakah kau baik - baik saja, nak?" Tanya Bunda Ambar.
"Iya bun, aku baik - baik saja!" Jawab Melati sambil tersenyum.
"Melati, aku adalah ibu mu. Aku yang melahirkan diri mu ke dunia ini, aku tahu saat ini kau sedang tidak baik - baik saja. Sekalipun mulut mu berbohong, tapi mata mu tidak bisa membohongi Bunda mu ini nak!" Bunda Ambar berkata pada putri nya.
Melati menghela nafas kasar, mungkin dia memang harus menceritakan semua nya pada Bunda nya.
"Aku dan mas Rayan melakukan pemeriksaan kesehatan, Bun. Dan ini hasil nya,,,!" Melati menghentikan ucapan nya.
"Ada apa nak? Bagai mana hasil nya?" Tanya bunda Ambar dengan penasaran.
Melati lalu menceritakan hasil nya pada bunda Ambar, dia mengeluarkan surat hasil pemeriksaan tersebut dari dalam tas nya. Bunda Ambar melihat dan membaca nya dengan teliti.
"Jadi, penyebab kau tidak kunjung hamil adalah Rayan. Rayan yang tidak sehat, bukan diri mu!" Bunda Ambar berkata lagi.
"Iya Bun, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Kami bisa mengadopsi anak sebagai pelengkap di antara kami, tapi,,,!" Melati tidak meneruskan ucapan nya.
"Ada apa nak?" Kembali Bunda Ambar bertanya.
"Silvi memberi saran pada ku agar aku mengatakan pada mas Rayan dan keluarga nya bahwa aku yang bermasalah dan tidak bisa hamil. Silvi bilang, semua itu akan membuka sifat asli keluarga mas Rayan!" Jelas Malati.
"Menurut mu bagai mana? Apakah selama ini Rayan dan keluarga nya baik pada mu?" Tanya Bunda Ambar lagi.
"Selama ini mereka semua bersikap baik pada ku, bun. Hanya saja orang tua nya mas Rayan selalu mendesak kami untuk segera memiliki keturunan!" Melati berkata pada bunda nya.
Bunda Ambar terdiam, dia tampak memikirkan ucapan putri nya. Ada benar nya juga yang di katakan oleh Silvi, jika Melati menerima semua kekurangan Rayan. Lalu apa Rayan mau menerima kekurangan Melati?.
"Melati, menurut bunda tidak ada salah nya kau menuruti saran dari Silvi. Jika memang benar Rayan mencintai mu, maka dia dan keluarga nya akan menerima kekurangan mu. Sama seperti kau menerima kekurangan nya!" Bunda Ambar berkata pada Melati.
"Baik lah bun, aku akan coba untuk menuruti saran Silvi. Lagi pula, aku melihat seperti nya Silvi sedang menyembunyikan sesuatu dari ku, tapi aku tidak tahu itu apa!" Ucap Melati lagi.
"Mungkin, ada sesuatu yang dia ketahui tentang keluarga Rayan. Tapi kau tidak mengetahui nya, sebagai sahabat nya dia merasa tidak enak jika mengatakan hal tersebut pada mu!" Ujar Bunda Ambar lagi.
"Mungkin saja bun!" Jawab Melati sambil mengangguk kan kepala nya.
Melati akan menuruti saran dari Silvi, diri nya menerima semua kekurangan Rayan. Sekalipun Rayan tidak bisa memiliki keturunan, tapi dia juga ingin menguji Rayan, apakah dia mau menerima kekurangan Melati seandainya memang Melati yang mandul.
"Bun, ini sudah siang. Aku pamit pulang dulu!" Melati berpamitan pada Bunda nya.
"Kenap cepat sekali nak? Ini kan masih siang!" Bunda Ambar bertanya pada Melati.
"Bun, tadi aku cuma pamit nya ke rumah sakit buat ambil hasil tes, takut nya mereka mikir macem - macem lagi!" Jawab Melati.
"Ya udah, kamu hati - hati di jalan nak. Jangan lupa sering- sering kabari Bunda!" Ujar Bunda Ambar.
"Baik Bun, oh ya Bun aku mau titip hasil tes ini di sini. Biar mas Rayan percaya bahwa aku yang mandul, nanti jika memang di butuhkan aku akan ambil lagi!" Melati menyodorkan kertas hasil tes kesehatan itu pada Bunda Ambar.
"Baik lah nak, Bunda akan simpan!" Bunda Ambar menerima nya.
Melati segera pergi dari rumah orang tua nya, dia sudah setuju untuk melaksanakan saran dari Silvi. Entah seperti apa reaksi Rayan dan keluarga nya nanti, yang pasti Melati akan tahu nanti.
"Benar apa yang di katakan bunda, jika mas Rayan tulus pada ku. Maka dia akan menerima semua kekurangan ku, anak bukan lah masalah besar. Kamu bisa mengadopsi nya dari panti asuhan, tapi jika dia tidak tidak tulus pada ku. Maka aku akan segera mengetahui semua nya!" Guman Melati sambil fokus pada jalanan yang ada di hadapan nya.
Selama 5 tahun ini, Melati banyak membantu keluarga suami nya. Dia mengorbankan karir nya sendiri, demi bisa fokus mengurus rumah tangga nya dan juga melayani Rayan dan orang tua nya. Saran dari Silvi bisa membuktikan apakah mereka semua menghargai pengorbanan Melati atau tidak, Melati akan tahu jawaban nya dalam waktu dekat ini.
Setelah selesai makan malam, Melati bergegas membereskan meja makan. Walaupun di rumah ini ada pembantu, Melati tetap melakukan semua pekerjaan di rumah ini. Rayan dan keluarga nya sudah berkumpul di ruang keluarga, Melati datang menemui mereka semua.
"Silahkan di minum, ini teh nya!" Melati menyajikan teh hangat di atas meja.
Keluarga ini punya kebiasaan minum teh hangat sambil makan cemilan, setelah selesai makan malam. Mereka bisa nya berbincang - bincang sebelum tidur.
"Mel, bagai mana dengan hasil tes kesehatan itu?" Rayan membuka obrolan dengan mengajukan pertanyaan pada Melati.
"Oh itu, hasil nya,,,!" Melati berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapan nya.
"Bagai mana hasil nya Mel? Cepat katakan!" Desak Bu Arum.
"Hasil nya kau baik - baik saja mas, aku yang bermasalah!" Jawab Melati.
"Apa??? Jadi kau mandul?" Teriak bu Arum dengan suara yang memekak kan telinga nya.
Semua orang di sana langsung terkejut mendengar ucapan Melati, Melati melihat wajah mereka satu persatu.
"Jadi kau memang tidak bisa mengandung? Wajar saja 5 tahun menikah, kau tidak kunjung hamil!" Bu Arum berkata dengan ketus.
Kata - kata yang keluar dari mulut bu Arum, telah melukai hati Melati. Dia tidak menyangka ibu mertua yang sangat dia hormati selama ini, bisa berubah hanya dalam hitungan detik.
Rayan juga diam, dia tidak mengatakan apapun pada Melati. Tapi Melati tahu, dari raut wajah nya seperti nya dia sangat marah pada Melati.
"Ibu mau ke kamar, ibu lelah dan mau istirahat!" Tiba - tiba bu Arum bangun dari tempat duduk nya.
Pak Ilham pun melakukan hal yang sama, dia bangun dari tempat duduk nya dan menyusul istri nya masuk ke dalam kamar mereka.
Rayan pun melakukan hal yang sama, dia segera bangun dan beranjak dari sana tanpa bicara sepatah kata pun pada Melati.
"Kau mau kemana, Mas?" Tanya Melati.
"Aku mau melihat keadan ibu!" Jawab Rayan dengan ketus.
Rayan langsung berlalu dari hadapan Melati, tanpa bicara sepatah kata pun. Hati Melati terluka dengan sikap Rayan dan keluarga nya, padahal baru beberapa detik saja Melati mengatakan hal tersebut.
'Mungkin, Silvi memang benar. Aku bisa mengetahui wajah asli mereka semua, saat aku memiliki kekurangan!' Batin Melati di dalam hati nya.
Melati mengusap wajah nya dengan kasar, dia merasa aura hangat di rumah ini mendadak mulai menghilang. Sikap Rayan dan keluarga nya mulai berubah, dan kini Melati hanya duduk sendiri di sini.
Sementar itu Rayan sudah menyusul orang tua nya, mereka bicara bertiga di dalam kamar itu.
"Rayan, sekarang kamu tahu kan bahwa Melati itu tidak berguna sama sekali. Jadi untuk apa kau terus mempertahankan wanita mandul itu?" Bu Arum berkata pada putra nya.
"Ibu mu benar Yan, kau bisa cari wanita lain yang jelas- jelas bisa memberi mu keturunan!" Pak Ilham juga ikut berkata.
"Jadi kalian setuju jika aku menikah lagi?" Tanya Rayan pada kedua orang tua nya.
"Iya, kami setuju! Buat apa terus mempertahankan wanita mandul itu!" Bu Arum kembali berkata.
"Rayan, kamu itu laki - laki. Hidup mu tidak akan berguna jika kau tidak punya keturunan!" Kembali pak Ilham berkata.
"Tapi pak, bagai mana dengan Melati. Kita butuh harta nya, setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk kebutuhan rumah ini jika Melati ada di sini!" Rayan kembali berkata.
"Rayan, kamu jangan bodoh. Saat ini perusahaan keluarga kita maju pesat dan kita tidak butuh uang dari wanita mandul itu. Jika dia tetap tidak mau berpisah dengan mu, maka kita jadikan saja dia babu di rumah ini. Kita jadikan dia pelayan untuk membesarkan anak mu nanti!" Bu Arum berkata pada Rayan.
"Iya Rayan, ibu mu benar sekali. Jika dia tidak mau berpisah, maka kita jadikan dia pelayan kita di rumah ini. Tapi jika dia setuju untuk berpisah, maka dia harus mengganti rugi semua biaya yang kau keluarkan untuk diri nya selama 5 tahun terakhir ini. Bagai mana? Kau setuju kan dengan usul Ayah mu ini?" Tanya pak Ilham.
"Aku setuju, baik lah dalam waktu dekat ini aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian!" Rayan berkata sambil tersenyum.
"Siapa dia? Kasih tahu ibu!" Bu Arum sangat senang mendengar nya.
"Mau mengenal nya sudah 9 bulan belakangan ini, dan aku sudah menjalin hubungan dengan nya sejak 6 bulan yang lalu!" Rayan berkata dengan jujur kepada orang tua nya.
"Rayan, kenapa kau baru mengatakan nya sekarang pada ibu?" Tanya bu Arum dengan kesal.
"Aku takut ibu tidak akan meresti hubungan kami, jadi aku sengaja merahasiakan nya!" Ucap Rayan lagi.
"Rayan, ibu setuju asalkan wanita itu bisa memberi mu keturunan. Benar kata bapak mu, 5 tahun ini kau sudah menghabiskan banyak uang demi wanita mandul itu. Dan sekarang sudah saat nya dia mengganti rugi semua nya!" bu Arum kembali berkata.
Malam ini, keluarga itu mulai merencanakan hal yang tidak baik untuk Melati. Kebaikan yang mereka tunjuk kan selama ini ternyata palsu.
Melati yang saat ini sedang duduk sendirian di ruang keluarga, dia berdiri dan segera menuju ke kamar nya. Teh hangat yang dia siapkan tadi, kini sudah dingin. Tidak ada yang menyentuh nya sama sekali, dingin nya air teh itu sedingin sikap mereka pada Melati malam ini.
Saat berjalan menuju ke kamar nya, Melati melewati kamar mertua nya yang berada di dekat tangga. Melati berhenti di depan pintu kamar itu, dia menatap lama pada pintu yang tertutup rapat.
'Apa yang sedang mereka bicarakan di dalam? sepenting itu kah? Sehingga aku tidak boleh mendengar nya?" Melati bertanya di dalam hati.
Melati pergi ke lantai atas, di mana kamar nya dan Rayan berada. Melati menunggu Rayan, tapi hingga malam semakin larut Rayan tidak kunjung datang ke kamar ini.
"Mas Rayan, kau bersikap seperti ini pada ku saat aku bilang bahwa aku yang bermasalah. Andaikan saja kau tahu, bahwa bukan aku yang mandul, tapi diri mu!" Melati berbisik pada diri nya sendiri.
Melati teringat ucapan Silvi tadi sang, untuk melihat wajah asli mereka semua. Dan untuk membuktikan ketulusan Rayan dan keluarga nya, maka Melati harus mengatakan hal seperti ini pada Rayan dan keluarga nya.
'Silvi, mungkin saran mu memang benar. Jika mereka tulus, maka mereka pasti menerima ku. Tapi jika mereka tidak tulus, maka aku akan bisa melihat wajah asli mereka tidak lama lagi!' Batin Melati di dalam hati.
Melati membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur, tapi mata nya tak mau terpejam. Saat ini dia masih menunggu kedatangan Rayan, seperti nya Rayan masih bicara dengan orang tua nya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!