Indonesia
NovelToon NovelToon

Setelah Kata Usai

Bab 1 selsai atau bab baru?

"Kita sudahi hubungan ini ya, Lex," ujar Putri malam itu. Kalimatnya pendek, namun sanggup meruntuhkan dunia Alex dalam sekejap.

"Kenapa? Masalahnya apa, Put?" tanya Alex, suaranya bergetar menahan panik. Ia buru-buru memeriksa ruang obrolan mereka, berharap ini hanyalah candaan.

Namun, balasan terakhir dari Putri justru menjadi awal dari siksaan panjangnya, "Kamu cari tahu kesalahanmu sendiri ya."

Setelah itu, ruang obrolan mereka sepi. Putri menghilang, meninggalkan Alex yang terpaku menatap layar HP-nya yang perlahan meredup. Sejak malam laknat itu, hidup Alex berubah menjadi labirin yang tersiksa. Jawaban terakhir Putri terus menggema di kepalanya bagai kaset rusak yang diputar berulang-ulang.

Malam pun berubah menjadi pagi, meninggalkan kenangan pahit yang selalu membayangi, dan Alex mencoba mengalihkan pikiran dengan melakukan rutinitas olahraga paginya, berlari kecil menyusuri jalanan kompleks. Namun, suasana pagi ini terasa sangat berbeda. Dingin dan hampa. Biasanya, setiap kali ia baru mengikat tali sepatu, ponsel di kantongnya sudah bergetar riuh, menampilkan notifikasi ucapan selamat pagi bernada ceria dari Putri. Pagi ini, benda pipih itu mati kutu. Tidak ada getar, tidak ada suara notifikasi dari orang yang paling ia sayang.

Alex memperlambat langkah lari kecilnya, lalu berhenti di tepi jalan sambil terengah-engah.

Perkataan Putri semalam itu... beneran? tanyanya dalam hati, menatap kosong ke arah jalanan di depannya.Kepalanya mendadak pening. Alex benar-benar bingung kenapa Putri tega memutus hubungan sepihak dengan alasan seperti itu. Sepanjang ingatan Alex, ia selalu berusaha menjadi pacar yang baik. Ia merasa tidak berbuat salah apa-apa. Sembari memegangi lututnya yang lemas, Alex berpikir keras, menyisir kembali setiap obrolan dan pertemuan mereka belakangan ini. Kira-kira, kesalahan fatal apa yang sudah ia perbuat sampai membuat Putri tega meninggalkannya begitu saja malam itu?

Setelah selesai berolahraga, Alex segera membersihkan diri. Di bawah guyuran air pancuran, ia masih terus merapal doa yang sama di dalam hati; berharap bahwa untaian kalimat ketus dari Putri semalam hanyalah sebuah candaan atau emosi sesaat.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa siang nanti, semuanya akan kembali normal.

Sehabis mandi, Alex bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Ia memasukkan beberapa buku dan laptop ke dalam tas ranselnya dengan gerakan yang terasa lambat dan berat. Sebelum melangkah keluar kamar, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Seperti biasa, ia ingin mengabari Putri bahwa ia akan berangkat kuliah pagi ini.

Namun, senyum tipis yang sempat terbit di wajah Alex langsung luntur seketika.

Saat ia menekan tombol kirim, pesan sapaannya hanya menyisakan tanda centang satu berwarna abu-abu. Foto profil Putri yang biasanya menampilkan senyum manis perempuan itu mendadak hilang, berubah menjadi ikon kosong. Kontak Alex telah diblokir total.

Darah Alex mendadak berdesir hebat. Rasa sesak, bingung, dan amarah yang bercampur aduk membuat pandangannya memanas. Tanpa sadar, tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan kiri. Di sana masih melingkar sebuah gelang couple hitam yang dulu mereka beli bersama dengan penuh tawa.

Dengan napas yang memburu frustrasi, Alex menarik gelang itu sekuat tenaga menggunakan seluruh sisa emosinya hingga talinya terputus paksa. Ia melemparkan benda itu kuat-kuat keluar jendela kamar. Saking kasarnya tarikan tersebut, kulit pergelangan tangannya ikut tergores dalam hingga meneteskan darah segar. Namun, rasa perih di kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya hati Alex saat ini.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, pikiran Alex benar-benar tidak berada di jalanan. Kepalanya dipenuhi bayang-bayang wajah Putri dan pertanyaan tanpa jawaban yang terus berputar bagai kaset rusak. Fokusnya buyar total. Akibatnya, saat melewati sebuah pertigaan, Alex hampir saja menabrak seorang emak-emak yang sedang menyeberang jalan. Ia terpaksa menginjak rem motornya secara mendadak hingga ban belakangnya berdecit keras ke aspal.

“Nak! Kalau naik motor yang fokus dong! Bahaya!” teriak emak-emak itu dengan wajah masis sambil marah-marah di tepi jalan.

Alex hanya bisa mengangguk samar tanpa tenaga, lalu kembali menarik gas motornya dalam-dalam.

“Ah, sialan! Gara-gara wanita brengsek itu, gue sampai dimarahin emak-emak di jalan!” umpat Alex dalam hati, meluapkan rasa frustrasinya yang kian menumpuk dan tak tahu harus dibuang ke mana.

Sesampainya di kampus, atmosfer ramai di area parkiran sama sekali tidak memperbaiki suasana hatinya. Dari kejauhan, langkah Alex yang baru saja melepas helm langsung disambut oleh suara lantang yang sangat ia kenal.

“Woi, Alex!” teriak Umam dari kejauhan, melambaikan tangan ke arah tempat parkir motor.

Alex berjalan menghampiri kedua sahabat dekatnya tersebut dengan langkah gontai. Ia memasang raut muka yang sangat berbeda dari biasanya—redup, lesu, dan kehilangan binar ceria yang selama ini menjadi ciri khasnya.

“Kenapa lo, Lex? Murung banget mukanya,” tegur Marco, menyadari perubahan drastis pada raut wajah sahabatnya itu.

“Iya, tumben banget. Biasanya paling heboh kalau datang. Apa pagi ini belum disemangatin sama ayang?” goda Umam sambil menyenggol pelan bahu Alex, bermaksud mencairkan suasana.

Alex mengembuskan napas berat, menatap Marco dan Umam bergantian sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah yang bergetar, “Gue... putus semalam sama Putri.”

Seketika itu juga, tawa Umam terhenti. Marco pun langsung terbelalak kaget. Kedua sahabatnya itu tertegun di tempat, benar-benar terkejut mendengar kalimat pendek tersebut. Bagaimana mungkin hubungan Alex dan Putri yang selama ini terlihat adem ayem dan baik-baik saja, bisa berakhir tragis hanya dalam waktu satu malam?

Setelah pengakuan mengejutkan di parkiran itu, tidak ada lagi kata-kata yang keluar. Keheningan yang canggung menyelimuti mereka bertiga sepanjang koridor menuju ruang kelas. Langkah kaki Alex, Marco, dan Umam terasa begitu berat. Suasana kali ini sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat. Biasanya koridor itu akan dipenuhi gelak tawa dan candaan heboh mereka, namun sekarang, mereka berjalan sambil diam-diaman. Marco dan Umam melirik Alex berkali-kali, tampak kebingungan mencari cara untuk memulai percakapan atau sekadar menghibur sahabatnya itu. Namun, melihat rahang Alex yang mengeras, mereka memilih bungkam.

Sesampainya di kelas, atmosfer suram itu tidak juga hilang. Alex duduk di bangkunya dengan kondisi psikis yang sama sekali tidak stabil. Saraf-sarafnya tegang. Pikiran tentang Putri yang memblokir kontaknya terus berputar seperti kaset rusak, membuat Alex yang biasanya ceria dan ramah berubah menjadi sosok yang sensitif dan gampang tersulut emosi.

“Lex, senyum kali. Tumben banget lo jadi sok cool gini,” tegur Andre, salah satu teman sekelasnya yang tiba-tiba melintas dan berniat menyapa seperti biasa.

Alex tidak merespon apa-apa. Jangankan menoleh, melirik pun tidak. Tatapannya kosong menatap meja, tertahan oleh rasa patah hati yang teramat dalam.

"Put,ini boong an kan?"

Bab 2 emosi yang tak dapat di kendalikan

Melihat reaksi dingin itu, Andre merasa diabaikan. “Eh, sombong banget kagak mau jawab,” ucap Andre sekali lagi, sedikit menyenggol bahu Alex.

Sentuhan itu memicu sesuatu di dalam diri Alex. Karena merasa sangat risih dan kepalanya sudah mau pecah oleh masalah Putri, Alex kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Detik berikutnya, tangan kanan Alex melayang cepat ke arah wajah Andre.

BUGH!

“Diam lo, anjing!” bentak Alex berapi-api.

Pukulan itu telak mengenai rahang Andre hingga cowok itu terhuyung ke belakang. Seketika itu juga, ruang kelas yang tadinya bising mendadak hening. Semua mata tertuju ke arah mereka dengan tatapan tidak percaya. Seorang Alex yang dikenal paling tidak bisa marah, baru saja melayangkan jotosan di dalam kelas. Umam dan Marco yang melihat itu langsung berdiri dari bangku mereka, bersiap melerai.

Beruntung, ketegangan itu terputus saat dosen pelatnas masuk ke dalam kelas beberapa saat kemudian. Semua mahasiswa bergegas kembali ke tempat duduk masing-masing, termasuk Andre yang mundur sambil mengusap rahangnya dengan tatapan kesal sekaligus bingung.

Pelajaran pun dimulai. Namun, fokus Alex sudah hilang sepenuhnya. Di tengah keheningan kelas saat dosen menjelaskan materi di depan, rasa bersalah yang amat besar perlahan merayap di dada Alex. Amarahnya surut, digantikan oleh rasa sesal yang menyesakkan. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar.

“Ah, sial! Kenapa tadi gue malah emosi sampai mukul Andre, ya?” tanyanya dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri. Rasanya hari ini semua hal berjalan salah bagi hidupnya.

Alex mengembuskan napas pendek yang terasa berat, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan frustrasi.

“Gara-gara wanita itu, gue sampai tega mukul orang yang gak tahu apa-apa”, batin Alex lagi, merasa sangat bersalah sekaligus benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi. Rasanya hari ini semua hal benar-benar berjalan salah bagi hidupnya.

Begitu dosen menutup kelas dan melangkah keluar, helaan napas lega terdengar dari beberapa mahasiswa. Namun tidak dengan Alex. Rasa bersalah yang sedari tadi mengganjal di dadanya membuat cowok itu langsung berdiri. Ia melangkah menghampiri meja Andre yang sedang merapikan buku-bukunya.

“Ndre, gue minta maaf soal kejadian tadi. Gue bener-bener refleks,” ujar Alex tulus, menatap temannya itu dengan perasaan bersalah.

Andre sempat tertegun sejenak, lalu sebuah senyuman tipis terbit di wajahnya. Ia menepuk bahu Alex pelan. “Gak apa-apa, Lex. Santai aja. Salah gue juga tadi langsung nyenggol lo, padahal gak ngerti kondisi lo lagi kayak gimana.”

Lantas, rasa penasaran tidak bisa disembunyikan dari wajah Andre. Ia memajukan badannya sedikit lalu bertanya rendah, “Tapi beneran, deh... sebenarnya ada apa sih, Lex? Tumben banget lo sampai emosi begitu.”

Alex terdiam sesaat, menelan ludah sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan, “Gue... putus sama Putri.”

Hah? Kok bisa?!” balas Andre spontan, matanya membelalak kaget.

Mendapat pertanyaan itu lagi, Alex tidak lagi menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat kedua pundaknya ke atas, memasang isyarat tubuh bahwa dirinya sendiri pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam semalam. Tanpa menunggu respons Andre lebih lanjut, Alex membalikkan badan dan berjalan keluar, meninggalkan Andre yang masih termangu sendirian di dalam kelas.

Saat berjalan di koridor menuju area parkiran dengan langkah gontai, telinga Alex menangkap suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di belakangnya, disusul suara panggilan yang sudah sangat ia hafal. Itu Marco dan Umam.

“Lex!” seru kedua sahabatnya itu berbarengan sambil berlari kecil menyusul langkahnya.

Alex menghentikan langkahnya tanpa berbalik. “Hmm?” sahutnya bergumam malas.

Umam yang berhasil menyetarakan langkah langsung merangkul pundak Alex. “Nongki dulu lah kita, di kafe pinggir kampus yang biasa. Ngopi-ngopi dulu,” ajak Umam bersemangat.

“Malas. Gak mood,” jawab Alex singkat, berniat melanjutkan langkah ke parkiran motornya.

Melihat respons dingin itu, Umam tidak menyerah. Ia tahu sahabatnya ini sedang butuh tempat untuk meluapkan isi kepala. “Ayolah, Lex. Kita nongkrong sambil lo cerita ke kita apa yang sebenarnya terjadi semalam. Ya nggak, Mar?” ujar Umam sambil menyenggol lengan Marco, meminta dukungan.

Marco yang berjalan di sisi lain langsung mengangguk cepat. “Iya, bener. Kita berdua penasaran banget nih dari tadi di kelas.”

Alex tetap bergeming, menatap aspal jalanan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Isyarat penolakan masih terlihat jelas dari bahasa tubuhnya.

Melihat Alex yang masih keras kepala, Umam langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya. “Udah, santai aja! Kali ini Marco yang bayarin, lo tinggal duduk manis!”

Seketika itu juga, langkah Marco terhenti. Cowok itu melotot, sontak terkejut setengah mati mendengar ucapan Umam yang asal ceplos. Marco buru-buru mengingat isi dompetnya yang sebenarnya sudah kempis dan tinggal sedikit.

Namun, saat matanya beralih menatap wajah Alex yang terlihat begitu frustrasi dan berantakan, ego Marco melunak. Sebagai sahabat, dia tahu Alex sedang butuh didengar.

Sambil menelan ludah pahit dan memasang muka datar menahan kesal pada Umam, Marco akhirnya menghela napas pasrah. “Iya... ayo. Gue yang traktir,” sahut Marco pelan.

Sesampainya di kafe, Umam langsung berjalan menuju meja kasir untuk memesan kopi, sementara Alex dan Marco melangkah ke area pojok mencari tempat duduk yang lebih sepi. Suasana canggung masih terasa pekat.

Sambil menarik kursi kayu di hadapan Alex, Marco mencoba mencairkan suasana yang kaku. “Lex, gila ya AC kelas siang ini tadi dingin banget. Mana si Andre mukanya langsung pucat pas lo sabet,” ucap Marco, mencoba memancing reaksi dengan nada bercanda ringan.

Alex hanya mendengus pelan, menyandarkan punggungnya pasrah. “Gue gak tahu, Mar. Pikiran gue lagi semrawut banget.”

“Iya, gue paham. Tenang dulu aja,” sahut Marco menepuk meja pelan, tepat saat Umam datang membawa nampan berisi tiga cangkir kopi hangat.

Begitu pantatnya mendarat di kursi, Umam yang sudah tidak tahan langsung mencondongkan badannya ke depan.

“Lex, sebenarnya apa sih yang terjadi semalam?”

Alex menatap asap yang mengepul dari cangkir kopinya, lalu mengembuskan napas berat. “Gue putus. Dan parahnya, gue gak tahu apa masalahnya.”

Marco mengerutkan dahi, ikut heran. “Kok bisa lo gak tahu?”

“Nggak tahu, Mar! Tiba-tiba dia nge-chat gue minta putus. Pas gue tanya salah gue apa, dia cuma jawab: 'cari kesalahanmu sendiri'. Dia malah jawab gitu, kan bego ya?” gerutu Alex dengan nada frustrasi yang kembali naik.

Mendengar kutipan chat dari Putri, Umam malah spontan tertawa pelan demi mengurangi ketegangan. “Sabar, Lex. Emang perempuan kadang suka pakai kode-kodean begitu. Lu kayak baru pertama kali pacaran aja.”

Percakapan itu perlahan-lahan mencair. Marco dan Umam sengaja mengalihkan topik ke obrolan-obrolan random seputar tugas kuliah yang menumpuk dan dosen pelatnas yang menyebalkan, berusaha keras membuat Alex melupakan sejenak beban di pundaknya.

Setelah dirasa cukup, mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pulang karena langit mulai mendung pekat. Namun di tengah jalan, hujan deras langsung mengguyur bumi dengan kejam.

Pandangan menjadi kabur, tetapi Alex yang masih terbawa emosi dan hatinya sedang kacau parah, justru menarik gas motornya dengan begitu kencang. Gemuruh air hujan di jalanan seolah berkejaran dengan gemuruh di dadanya.

CIIIIIIIIIITTTTT!

Ban motor Alex berdecit keras di atas aspal yang basah. Motornya berhenti mendadak, hampir saja menghantam bemper sebuah mobil sedan di depannya.

Seorang bapak-bapak paruh baya langsung menurunkan kaca mobilnya, berteriak murka menembus suara hujan. “Eh! Lo lihat nggak itu lampu merah?! Mau mati lo?!”

Alex yang tersadar dari lamunannya langsung mengangguk-angguk panik dengan tubuh gemetar.

“Iya, Pak! Maaf, Pak! Maaf!”

Tanpa memedulikan makian lebih lanjut, Alex segera memutar gasnya lagi, melanjutkan perjalanan membelah hujan dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Hari ini benar-benar hari terkutuk baginya.

Di sisi lain, di dalam kehangatan kamarnya, Marco baru saja selesai mandi. Namun, rasa penasarannya dari kejadian di kampus tadi belum juga hilang. Kalimat Alex di parkiran terus terngiang-ngiang di kepalanya.

Karena tidak tahan lagi, Marco meraih ponselnya di atas kasur, lalu membuka ruang obrolan dengan Putri lewat WhatsApp.

Karena tidak tahan lagi, Marco meraih ponselnya di atas kasur, lalu membuka ruang obrolan dengan Putri lewat WhatsApp.

Marco: Eh, lo beneran putus sama Alex, Put?

Tidak butuh waktu lama, ponsel Marco

bergetar. Sebuah balasan masuk.

Putri: Iya, gue putus. Si Alex gitu orangnya.

Marco mengernyitkan alis, jarinya dengan cepat mengetik balasan.

Marco: Gitu gimana maksudnya?

Beberapa detik status 'typing...' muncul di layar ponsel Marco, sebelum akhirnya Putri mengirimkan pesan yang tidak terduga.

Putri: Sambil teleponan kali ya, Mar? Gue malas ngetik panjang lebar.

Marco tertegun sejenak menatap layar ponselnya. Setelah menimbang-nimbang perasaan Alex, egonya kalah oleh rasa penasaran.

Marco: Oh, oke.

Hanya dalam hitungan detik, layar ponsel Marco berubah menampilkan panggilan masuk dari Putri. Marco menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau ke atas, tanpa pernah menyadari bahwa panggilan telepon malam itu adalah awal dari runtuhnya persahabatan yang telah ia bangun bertahun-tahun bersama Alex.

BAB 3 Bayangan yang selalu menghantui

Malam ini terasa begitu sunyi. Tidak ada satu pun notifikasi yang masuk di layar ponsel—tidak ada pesan masuk, juga tidak ada yang mengajak ngobrol lewat panggilan telepon. Suasana kamar yang senyap ini terasa sungguh berbeda dari hari hari sebelumya.

Dengan kondisi mental yang masih belum stabil, Alex menangis sejadi-jadinya di atas kasur. Dadanya terasa sesak seolah dihantam benda tebal. Dia benar-benar tidak menyangka hubungan yang sudah berjalan hampir lima tahun hubungan yang selama ini dijaganya dengan sangat baik dan penuh ketulusan harus selesai begitu saja dalam hitungan menit, tanpa tahu apa alasan pastinya.

Di tengah kesendirian malam yang semakin larut, Alex membuka galeri ponselnya. Matanya yang sembap menatap satu per satu foto kebersamaan mereka dulu. Air matanya kembali luruh, menetes tepat di atas layar kaca yang menampilkan senyum manis perempuan yang baru saja meninggalkan nya.

"Kenapa kamu tega banget sih put, gw kesepian, loo ke mana?" gumam Alex lirih. Suaranya bergetar hebat, menahan perih yang teramat dalam.

"Loo pergi ninggalin guwe tanpa ada alasan yang jelas. Loo bahkan enggak ninggalin satu clue pun... kenapa hubungan kita harus berakhir kayak gini? emang ngga ada cara yang lebih baik?” lanjutnya berbisik pada sunyi, berharap angin malam menyampaikan rasa sakitnya.

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, suara kokok ayam mulai memecah sepinya pagi. Alex terkejut, dia baru menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak bisa memejamkan mata semalaman.

"Hmm ... ah, mana hari ini ada kuliah lagi. Ngantuk banget, gimana ya?" tanya Alex pada dirinya sendiri, meratapi wajah kusamnya di depan cermin kamar.

Karena kehabisan energi akibat terjaga semalaman, Alex memutuskan untuk melewatkan rutinitas olahraga paginya. Selepas mandi dan bersiap-siap dengan pakaian kampus, Alex didera rasa ragu. Kepalanya terasa pening, dia takut mengendarai motor dalam kondisi sekacau ini. Akhirnya, dia memilih untuk menelepon Umam, sahabat dekatnya.

"Mam, jemput gue dong," ucap Alex begitu telepon tersambung.

"TUMBEN LO MINTA JEMPUT!" sahut Umam dari seberang sana, suaranya terdengar cempreng menembus speaker HP.

"Ah, berisik. Tinggal jemput doang jangan banyak tanya," potong Alex lemas, lalu mematikan sambungan telepon sepihak.

Tak butuh waktu lama hingga mobil Umam sampai di depan rumah Alex. Begitu Alex keluar, Umam langsung terbelalak. Biasanya dia selalu melihat Alex tampak segar dan rapi di pagi hari. Namun kini, sahabatnya itu berjalan gontai, kelihatan sangat lesu dengan mata yang bengkak dan sembab.

Umam menatapnya dengan nada heran sekaligus meledek, "Gini ya bentukan orang patah hati? Kelihatan habis nangis semalaman, wkwkwk."

"Berisik lo!" ketus Alex sambil membuka pintu dan langsung mengempaskan tubuhnya ke dalam mobil.

Saat mobil mulai melaju membelah jalanan pagi, Umam kembali membuka obrolan karena rasa penasarannya sudah di ujung tanduk.

"Lex, lo beneran kaga tau alasan si Putri ninggalin lo?" tanya Umam serius.

"Kan gue udah bilang, gue kaga tahu, conge!" sahut Alex, nadanya mulai meninggi karena emosinya masih sangat sensitif.

"Terus lo kaga mau cari tahu gitu?" tanya Umam lagi, masih penasaran.

"Bingung gue. Gimana mau cari tahu caranya? WhatsApp gue diblokir, telepon gue dialihkan," ucap Alex, ekspresinya berubah menjadi kebingungan yang teramat dalam.

Umam berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala di balik kemudi. "Wah, bego juga lo ya, Lex. Ya cari tahu ke temen dekatnya kek, atau samperin langsung ke rumahnya. Atau ... lo beli nomor baru kan bisa buat hubungin dia?"

Mendengar saran terakhir Umam, Alex terdiam. Kalimat "beli nomor baru" itu tiba-tiba berdengung kuat di kepalanya, menembus rasa frustrasinya. Sebuah harapan kecil yang nekat mendadak muncul di benak Alex.

Namun karena tubuhnya sudah terlalu lelah menahan kesedihan dan kantuk, Alex hanya mendesah pelan, "Ah, entah. Gimana nanti aja."

Alex menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang dingin. Matanya menatap kosong ke luar jendela, memandangi jalanan yang mulai ramai. Di tengah rasa sesak yang belum hilang dan ide nekat yang mulai berputar di otaknya, rasa kantuk yang luar biasa akhirnya merenggut kesadaran Alex. Dia pun tertidur lelap, membawa luka hatinya ke dalam mimpi.

"Lex, bangun. Sudah sampai kampus," kata Umam sambil menggoyang bahu sahabatnya itu.

Setelah turun dari mobil, dari kejauhan rupanya Marko sudah memperhatikan kedatangan Alex dan Umam.

"Woy!" teriak Marko.

Umam dan Alex sangat familiar dengan suara itu. Mereka berdua menoleh, dan Marko pun langsung berjalan menghampiri mereka.

"Mam, si Alex pasti kaga tidur semalaman ya?" tanya Marko kepada Umam setelah posisinya dekat.

Umam langsung menjawab santai, "Namanya juga patah hati, Ko."

"Wkwkwk, emang ya kalau udah patah hati pasti gitu," sahut Marko sambil tertawa mengejek Alex.

Alex hanya bisa mengerjap-ngerjap, mengusap wajahnya yang masih terasa kaku akibat bangun tidur, lalu mulai berjalan meninggalkan area parkiran. Langkah kakinya terasa begitu berat saat menyusuri koridor kampus yang mulai ramai oleh hilir mudik mahasiswa.

Pikirannya masih berkabut, namun matanya otomatis terjaga ketika menangkap sosok familier di ujung koridor dekat mading utama.

Itu Putri.

Jantung Alex mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Di sebelah Putri, ada beberapa teman kelasnya yang sedang asyik mengobrol. Secara tidak sengaja, mata mereka berdua sempat saling bertatapan selama sedetik.

Namun, alih-alih tersenyum atau menghampiri seperti biasanya, ekspresi wajah Putri langsung berubah dingin. Perempuan itu tampak salah tingkah, lalu dengan sengaja memalingkan muka dan menarik lengan temannya untuk berjalan berbalik arah, menjauh dari posisi Alex.

Putri jelas-jelas sedang menghindarinya.

Alex sempat refleks memajukan selangkah kakinya, berniat mengejar Putri untuk menagih penjelasan yang menggantung semalaman. Namun, langkah itu mendadak terkunci. Alex mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor yang padat. Bisikan-bisikan mahasiswa di sekitar dan tawa renyah di lorong itu seolah menampar logikanya.

‘Gue mau ngapain?’ batin Alex, mencengkeram tali tas ranselnya erat-erat.

Ada rasa perih yang bercampur dengan ego yang bergejolak di dadanya. Dia terpukul, tapi dia juga seorang laki-laki yang punya harga diri. Mengejar seorang perempuan yang jelas-jelas sudah membuangnya, lalu memohon-mohon di tempat seramai kampus ini, hanya akan membuat dirinya terlihat menyedihkan di mata semua orang. Alex tidak semurah itu.

"Enggak usah dikejar, Lex. Malah bikin ribut ntar," bisik Umam yang menyadari perubahan sikap sahabatnya, sambil menepuk pundak Alex pelan.

Alex menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan kasar. Dia membiarkan punggung Putri hilang di balik belokan koridor. Ego dan harga dirinya mungkin terselamatkan pagi ini, tetapi rasa penasaran yang membakar dadanya justru terasa semakin menjadi-jadi.

Jika dia tidak bisa menghadapi Putri secara langsung di dunia nyata, maka dia harus mencari cara lain di dunia maya. Kalimat Umam di mobil tadi tentang 'beli nomor baru' mendadak kembali terngiang, dan kali ini, Alex benar-benar bulat untuk melakukannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!