Sore itu, hujan deras mengguyur Kota Mandara. Seorang pemuda berjaket hitam polos dan dan celana jins gelap tampak turun dari sebuah taksi.
Pemuda itu lalu melangkah dengan tenang, seolah riuh hujan dan gemercik air yang menghantam aspal sama sekali tidak mengusik ketenangannya.
Dia adalah Darius Evandra Adhitama, seorang Dewa Perang dan Pembunuh Bayaran Nomor Satu di dunia yan baru saja kembali dari luar negeri.
Langkah pemuda itu kemudian terhenti di depan sebuah kedai sederhana bernama "Kedai Selera". Sebuah kedai dengan gaya minimalis-retro itu tampak mencolok di antara deretan gedung tinggi di sekitarnya.
Kring...
Lonceng kecil di atas pintu berdenting saat Darius mendorongnya. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi roti panggang langsung menyambutnya.
Beberapa pelanggan tengah menikmati makanan mereka sambil berbincang ringan. Tak seorang pun memperhatikan pria berjaket hitam yang baru masuk itu.
"Selamat datang, Kak. Silakan duduk," sapa seorang pelayan wanita dengan ramah.
Darius hanya menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya memilih meja di sudut ruangan yang menghadap langsung ke jalan.
Tak lama kemudian, pelayan wanita tadi menghampiri mejanya sambil membawa buku menu.
"Mau pesan apa, Kak?" tanya pelayan wanita itu sambil menyerahkan buku menu ke hadapan Darius.
Darius membuka buku menu tersebut tanpa benar-benar membacanya. Matanya bergerak menyapu daftar minuman, mencari sesuatu yang bisa membantunya tetap terjaga.
"Segelas kopi hitam. Tanpa gula." jawab Darius pendek. Suaranya agak serak, khas seseorang yang sudah menghabiskan waktu berjam-jam dalam perjalanan.
"Baik, satu kopi tanpa gula. Ada tambahan makanan atau camilan untuk menemani kopinya, Kak?"
Darius menutup buku menu di tangannya dengan perlahan, lalu menggeleng pelan. "Itu saja dulu,"
Pelayan itu mengangguk sopan, mencatat pesanan di tablet kecilnya, lalu melangkah pergi menuju area bar, meninggalkan Darius sendirian dengan pikirannya.
Sambil menunggu pesanan, Darius menatap jalanan basah Kota Mandara yang buram karena hujan dari balik jendela kaca yang berembun.
"Ini kopinya, Kak. Silakan dinikmati," ucap pelayan tadi, meletakkan cangkir porselen putih di atas meja, memutus lamunan Darius
"Terima kasih," jawab Darius pendek. Suaranya berat, berat oleh pengalaman yang belum pernah didengar oleh orang awam.
Darius menyesap kopi tanpa gula itu secara perlahan. Pahitnya cairan hitam itu membakar lidahnya, namun sensasi itu justru membuatnya merasa rileks.
Hanya berselang lima menit sejak Darius meminum kopinya, pintu kedai kembali terbuka. Lonceng di atas pintu berdentang nyaring, memecah suasana tenang di dalam kedai.
Beberapa pria bertubuh besar melangkah masuk. Jaket kulit yang mereka kenakan telah basah kuyup. Tubuh mereka dipenuhi tato dan sorot mata yang membuat sebagian pelanggan langsung ketakutan.
Suasana hangat di dalam kedai mendadak berubah tegang. Pria yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu berjalan menuju meja kasir.
"Mana si pemilik kedai?" tanya pria itu dengan suara berat.
Pria bertato yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu menggebrak meja kasir dengan keras.
Pelayan wanita yang tadi melayani Darius langsung pucat pasi. Ia mundur beberapa langkah dengan tubuh gemetar, tidak berani menatap mata pria di hadapannya.
"P-Pemilik kedai berada di belakang, Tuan..." jawab pelayan wanita itu dengan terbata-bata.
"Panggil dia sekarang!" bentak pria bertato itu dengan suara menggelegar. "Bilang padanya, bayar uang keamanan hari ini, atau kedai ini kami ratakan!"
Merasakan situasi semakin mencekam, beberapa pelanggan buru-buru meletakkan uang di meja lalu bergegas keluar demi keselamatan mereka
Di sudut kedai, Darius tetap duduk dengan tenang. Ia masih menyesap sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin. Matanya memperhatikan gerak-gerik kelompok preman tersebut.
"Hei! Kau dengar tidak?!" Pria bertato itu mulai tidak sabar dan menendang salah satu kursi hingga terjungkir.
Tepat saat itu, pintu area dapur terbuka. Seorang pria paruh baya dengan apron yang agak kotor melangkah keluar dengan wajah cemas.
"Tolong jangan buat keributan, Tuan-tuan. Saya... saya sudah mengumpulkan uangnya, tapi jumlahnya belum penuh. Bisakah beri saya waktu tiga hari lagi?"
Pemimpin preman itu mendengus, lalu mencengkeram kerah baju sang pemilik kedai. "Tiga hari? Kau pikir kami ini yayasan amal? Cari uangnya sekarang, atau tangan tuamu ini akan patah!"
Suasana di dalam kedai semakin mencekam. Pelayan wanita mulai menangis dalam diam, sementara pemilik kedai hanya bisa pasrah memejamkan mata.
Darius berdiri dari kursinya. Ia merapikan jaket hitamnya, lalu melangkah mendekati meja kasir. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tanpa suara.
"Tindakan kalian telah merusak suasana minum kopiku," ucap Darius dengan datar, namun sarat akan wibawa.
Pemimpin preman itu melepaskan cengkeramannya, lalu menatap Darius dengan pandangan menghina. "Siapa kau? Pahlawan? Jangan ikut campur kalau masih sayang nyawa, Anak Muda!"
Dua anak buahnya langsung maju, mereka mencoba mencengkeram pundak Darius untuk mengintimidasi.
Namun, sebelum tangan kotor mereka sempat menyentuh jaketnya, gerakan Darius jauh lebih cepat dari yang bisa ditangkap oleh mata manusia.
"AAAKHHH!"
Hanya dalam satu detik, Darius memutar pergelangan tangan preman pertama hingga terdengar bunyi patah tulang yang ngilu
Ia lalu menggunakan siku lengannya untuk menghantam dada preman kedua hingga pria itu terlempar ke belakang dan menghantam meja kayu sampai hancur.
Pemimpin preman itu terbelalak. Wajahnya mendadak berubah menjadi pucat. Ia bahkan tidak melihat bagaimana pemuda di depannya bergerak. "K-Kau... siapa kau sebenarnya?!"
Darius tidak menjawab. Ia hanya mengambil selembar tisu dari atas meja kasir, mengusap tangannya, lalu menatap dingin ke arah pemimpin preman tersebut.
"Bawa teman-temanmu dan keluar dari sini," kata Darius dengan dingin. "Atau aku akan memastikan kalian keluar dari sini tanpa kaki."
Mendengar ancaman itu, bulu kuduk sang pemimpin preman meremang. Ia bisa merasakan bahwa pemuda di depannya ini bukanlah petarung jalanan biasa.
Tanpa membuang waktu, pemimpin preman itu memberi isyarat panik kepada anak buahnya yang lain. "C-Cepat! Angkat mereka! Kita pergi dari sini!"
Mereka memapah dua temannya yang mengerang kesakitan, lalu bergegas keluar dari kedai, menghilang di balik tirai hujan deras Kota Mandara.
Suasana kedai seketika hening. Hanya terdengar suara detik jam dinding dan helaan napas berat dari orang-orang yang tersisa.
"K-Kak... Anda tidak apa-apa?" tanya pelayan wanita tadi dengan suara masih gemetar.
Pemilik kedai, dengan tubuh yang masih sedikit menggigil, langsung membungkuk di depan Darius. "Terima kasih, Anak Muda! Terima kasih banyak!"
Darius hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Wajahnya kembali datar. "Tidak perlu berterima kasih. Saya hanya tidak suka sikap preman-preman tadi."
Darius kemudian melangkah kembali ke mejanya, mengambil dompet, dan meletakkan beberapa lembar uang yang jauh melebihi harga segelas kopi hitamnya.
"Ganti rugi untuk meja yang hancur," ucap Darius pendek sebelum melangkah menuju pintu keluar.
"T-Tunggu, Anak muda! Uang ini terlalu banyak!" seru sang pemilik kedai, namun Darius sudah mendorong pintu kedai.
Darius kembali menembus derasnya hujan di Kota Mandara, berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang perlahan tanpa memperdulikan pakaiannya yang mulai basah kuyup.
Baru beberapa meter ia melangkah, sebuah mobil sedan hitam bermerek Mercedes-Benz perlahan melambat dan berhenti di sampingnya.
Kaca mobil bagian depan perlahan turun, menampilkan sosok wanita cantik berambut hitam sebahu dengan setelan jas formal yang sangat rapi.
"Darius Evandra? Apa itu kau?" tanya wanita itu dengan suara merdu yang terdengar jernih di balik derasnya hujan.
Darius menghentikan langkahnya. Di bawah guyuran hujan yang deras, ia menatap tajam ke arah wanita di dalam mobil tersebut.
"Davina?" ucap Darius dengan pelan, namun cukup jelas terdengar di antara gemuruh hujan.
Wanita itu adalah Davina Permatasari, teman sekolah Darius dulu. Ia langsung membuka pintu mobil, keluar sambil memegang payung, lalu bergegas menghampirinya.
"Astaga, Darius! Ini benar-benar kau!" seru Davina, sambil menyorongkan payungnya. "Ke mana saja kau selama ini?"
Darius menatap payung di atas kepalanya, lalu beralih ke wajah Davina yang kini tampak lebih dewasa. "Aku hanya pergi mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri."
Davina mengembuskan napas panjang, ada rasa lega sekaligus penasaran di matanya. "Ayo masuk ke mobil dulu, hujan semakin deras. Kau bisa sakit kalau terus berdiri di sini."
Darius terdiam sejenak, menimbang tawaran Davina. Setetes air hujan jatuh dari ujung rambutnya, mengalir melewati rahangnya yang tegas.
"Baiklah. Terima kasih," ujar Darius sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Darius melangkah masuk ke dalam mobil Mercedes-Benz yang mewah itu, duduk di kursi penumpang depan. Davina menyusul, lalu masuk ke kursi kemudi.
Davina menyalakan menjalankan mobilnya perlahan membelah jalanan di bawah guyuran hujan. Sesekali, matanya melirik ke arah Darius melalui spion tengah.
Pemuda di sampingnya ini terasa sangat berbeda. Darius Evandra yang ia kenal dulu di masa sekolah adalah remaja yang ceria dan selalu tersenyum.
Namun pria yang duduk di sampingnya sekarang pendiam, tenang, bahkan cenderung dingin. Postur tubuhnya tegap sempurna, dan kedua matanya begitu tajam.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Davina memecah keheningan yang sempat membeku di dalam mobil.
Darius menatap tetesan air hujan yang berkejaran di kaca samping. "Aku baik. Seperti yang kau lihat."
"Kau tahu, setelah ibumu... tiada, kau tiba-tiba menghilang," Davina menghela napas, jemarinya mengetuk kemudi. "Aku kira kau sudah pergi jauh dan tidak akan pernah kembali ke Kota Mandara."
"Memang benar aku pergi jauh," sahut Darius pelan, tatapannya terpaku pada lampu-lampu jalanan Kota Mandara. "Tapi takdir selalu punya cara untuk menarik seseorang kembali ke tempat asalnya."
Davina tersenyum tipis, meski ada sedikit ganjalan di hatinya mendengar nada bicara Darius yang begitu datar.
"Lalu, apa rencanamu setelah kembali?" tanya Davina, memutar kemudi dengan lihai di persimpangan jalan. "Kota Mandara sudah banyak berubah sejak kau pergi."
"Aku hanya ingin hidup tenang," jawab Darius dengan singkat. "Mungkin mencari pekerjaan sederhana. Menikmati hidup tanpa perlu memikirkan hari esok."
Davina tertawa kecil, menganggap ucapan itu sebagai lelucon khas pria. "Dengan pembawaanmu yang sekarang, rasanya sulit membayangkanmu menjadi pegawai kantoran biasa, Darius."
Darius tidak menyahut sama sekali. Ia hanya menyandarkan punggungnya ke kursi mobil yang empuk.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah sederhana di pinggir jalan. Itu adalah rumah masa kecil Darius dan ibunya.
"Kita sudah sampai," ucap Davina sambil menatap bangunan tersebut. "Rumah ini ternyata masih sama seperti dulu."
Darius menatap lekat-lekat pintu kayu rumah itu. Ingatan masa lalunya seketika berputar. Di teras itulah ibunya dulu sering berdiri, melambaikan tangan dengan senyum hangat setiap kali Darius pulang sekolah.
"Terima kasih sudah mengantarku, Davina," kata Darius, tangannya mulai bergerak membuka sabuk pengaman.
"Darius, tunggu," Davina menahan lengan pria itu sejenak. "Ini nomor teleponku yang baru." Davina menyerahkan sebuah kartu nama elegan berwarna perak dari dalam laci dasbor.
"Kalau kau butuh sesuatu, atau... jika kau butuh teman untuk sekadar mengobrol, hubungilah aku?"
Darius menatap kartu nama itu, lalu menerimanya dengan anggukan pelan. "Baiklah. Terima kasih sekali lagi."
Darius membuka pintu mobil, dan langsung melangkah turun. Ia berjalan tegap menuju teras rumah, tidak menoleh lagi ke belakang.
Dari dalam mobilnya, Davina terus memperhatikan punggung Darius hingga pemuda itu membuka pintu rumah dan masuk ke dalam.
Setelah lampu teras menyala, barulah Davina perlahan menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan kawasan tersebut dengan sejuta tanya di kepalanya.
Darius menekan sakelar lampu di ruang tamu. Cahaya kekuningan dari lampu pijar seketika menerangi ruangan yang diselimuti debu tipis.
Di sudut ruangan, sebuah foto berbingkai kayu masih tergantung dengan rapi. Di dalam foto itu, Darius remaja tersenyum lebar di samping ibunya yang tampak begitu anggun.
Darius berjalan mendekat, mengusap debu yang menutupi permukaan bingkai foto itu menggunakan ibu jarinya. Matanya yang biasa dingin, kini menyiratkan kesedihan mendalam.
"Ibu... aku pulang," bisik Darius dengan lirih. Suaranya yang biasa terdengar berat, kini terdengar begitu rapuh.
Ia lalu melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri dari sisa perjalanan panjang, dan mengganti pakaiannya dengan kaus abu-abu polos.
Setelah itu, Darius memasuki kamar mendiang ibunya. Aroma khas sang ibu seolah masih tertinggal secara samar, berselimut debu dan kenangan masa lalu.
Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Pandangan Darius tertuju pada sebuah meja rias kayu tua di sudut kamar.
Di atasnya, terdapat sebuah kotak perhiasan kecil berbahan beludru merah yang warnanya telah memudar akibat termakan usia.
Dengan langkah perlahan, Darius mendekati meja tersebut dan membuka kotak beludru itu.
Di dalamnya, hanya ada sebuah gelang benang rajutan sederhana berwarna biru yang pernah ia buat sendiri saat masih kecil, serta selembar lipatan kertas yang mulai menguning.
Darius mengambil kertas tersebut dan membukanya dengan sangat hati-hati. Ternyata itu adalah tulisan tangan ibunya.
"Untuk putraku tercinta, Darius.
Darius, jika kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak lagi berada di sisimu untuk mengusap kepalamu saat kamu lelah. Maafkan Ibu yang harus pergi lebih cepat dan meninggalkanmu sendirian menghadapi kerasnya dunia.
Ibu tahu, perpisahan Ibu dan ayahmu telah meninggalkan luka yang sangat mendalam di hatimu. Ibu tahu betapa kamu membenci keputusan itu, dan mungkin... kamu juga membenci ayahmu karena membiarkan kita hidup dalam kesulitan seperti ini. Tapi percayalah pada Ibu, nak. Di balik semua ketegasan dan keputusannya, ayahmu memiliki beban berat yang harus ia pikul demi melindungi kita.
Ibu punya satu permintaan terakhir kepadamu. Jika suatu hari nanti takdir mempertemukanmu kembali dengan ayahmu. Ibu memohon dengan sangat agar kamu tidak mengeraskan hatimu. Hormati dan patuhilah semua keputusan ayahmu.
Lakukanlah ini demi ketenangan jiwa Ibu, Darius. Ibu hanya ingin melihat putra Ibu kembali ke tempat yang seharusnya ia pijak, menjalani hidup yang layak, dan berdamai dengan masa lalu.
Ibu selalu menyayangimu, dari dulu hingga selamanya.
Ibumu, Gayatri.”
Darius terdiam setelah membaca baris demi baris surat itu. Dadanya bergemuruh hebat. Matanya menatap tulisan tangan sang ibu, mencoba meresapi setiap kata yang tertulis di sana.
"Mematuhi semua ucapannya...?" bisik Darius lirih. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terasa getir.
Darius lalu melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam celana panjang hitamnya bersama dengan gelang benang rajutan sang ibu.
Setelah membersihkan tempat tidur lamanya, Darius merebahkan diri dan tak lama kemudian ia tidur terlelap dengan tenang.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah seolah menghapus sisa hujan semalam.
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar, membentuk garis-garis cahaya yang menari di atas lantai.
Darius perlahan membuka matanya. Ia lalu bangkit dari kasurnya yang sederhana, meregangkan tubuhnya yang tegap.
Ia lalu pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Begitu air mendidih dan dituang ke cangkir, aroma kopi langsung memenuhi dapur kecil itu.
Darius membawa kopi itu ke halaman depan rumah, menikmati udara pagi Kota Mandara yang masih terasa bersih pasca hujan semalam.
Di tengah ketenangan pagi itu, Darius menyesap kopinya perlahan. Kehangatan cangkir di tangannya kontras dengan dinginnya ingatan tentang surat sang ibu.
"Mematuhi ucapan Ayah..." gumam Darius, menyebut sosok yang sudah lama ia hapus dari hidupnya.
Darius menatap sisa kopi di cangkirnya, lalu mengembuskan napasnya. Pagi ini, ada satu tempat yang harus ia kunjungi. Tempat peristirahatan terakhir wanita yang paling dicintainya.
Dengan mengenakan kemeja hitam kasual, Darius berjalan kaki menuju Pemakaman Umum Asri Jaya, tempat ibunya dikebumikan.
Sesampainya di gerbang pemakaman, aroma tanah basah sisa hujan semalam dan wangi bunga kamboja langsung menyambutnya.
Darius berjalan menyusuri jalan setapak di antara deretan nisan. Ia lalu berhenti di depan sebuah makam dengan nisan marmer putih.
Pada nisan itu terukir nama yang sangat ia rindukan: Gayatri Damayanti.
Darius perlahan berlutut di samping makam tersebut. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan lembut menyapu dedaunan kering dan rumput liar yang berada di atas pusara ibunya.
"Ibu... anakmu ini datang," bisik Darius. Suaranya rendah, bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.
Ia mengambil gelang rajutan biru tua dari sakunya, gelang yang ia temukan di kotak beludru semalam, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas nisan sang ibu.
"Aku sudah membaca surat Ibu," lanjut Darius sambil menatap nisan itu lekat-lekat. "Jika takdir mempertemukanku kembali dengan pria itu, aku berjanji akan menuruti permintaan terakhir Ibu."
Darius terdiam sejenak. Angin bertiup sedikit kencang, menggoyahkan dedaunan pohon kamboja di atasnya, seolah-olah sang ibu sedang membelai rambutnya.
Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam dalam keheningan, Darius akhirnya bangkit berdiri. Ia merapikan pakaiannya, menatap makam ibunya untuk terakhir kali.
Darius lalu membalikkan badannya dan beranjak pergi, meninggalkan area pemakaman dengan langkah yang lebih mantap.
Saat ia sedang berjalan melewati sebuah area pertokoan, pandangan Darius terhenti pada sebuah bengkel motor yang cukup besar di pinggir jalan.
Di depan bengkel itu, seorang pemuda seumurannya dengan kaus oblong hitam yang penuh noda oli tampak sedang sibuk membongkar mesin sebuah motor sport.
Darius menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, mengenali postur tubuh dan garis wajah pemuda yang sedang mengelap keringat dengan punggung tangannya itu.
"Revan?" ucap Darius memastikan bahwa matanya memang tidak sedang salah lihat.
Pemuda berpakaian penuh oli itu menoleh. Begitu matanya menangkap sosok Darius, tubuhnya langsung membeku. Ia lalu mengucek matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"D-Darius?! Astaga! Teman masa kecilku?!" seru Revan dengan suara yang menggelegar.
Revan langsung berlari menghampiri Darius. Ia hendak memeluk sahabat masa kecilnya itu, namun tiba-tiba berhenti ketika melihat tangannya yang penuh dengan oli.
"Ah, sial, tanganku kotor!" ucap Revan sambil tertawa lebar.
Ia lalu dengan cepat mengelap tangannya ke kain lap di saku celananya, kemudian menjabat tangan Darius. "Darimana saja kau selama ini?!"
"Sebelas tahun menghilang gak ada kabar setelah pemakaman tante Gayatri!" lanjut Revan sambil menepuk bahu Darius dengan keras.
Darius tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat jarang ia perlihatkan kepada orang lain. "Aku pergi ke luar negeri. Mencari suasana baru, sekaligus kerja di sana."
"Luar negeri? Pergi gak pamit, balik-balik bentukanmu udah kayak bos mafia gini!" ucap Revan sambil kembali menepuk pundak Darius dengan pelan.
Revan merasa takjub dengan perubahan fisik sahabatnya yang kini memancarkan aura luar biasa kuat. "Eh, ayo duduk di dalem. Kebetulan bengkel lagi agak santai."
Revan membawa Darius masuk ke dalam ruang kerja kecilnya di sudut bengkel yang dilengkapi dengan sofa kulit yang agak usang.
Ia lalu mengambilkan sebotol air mineral dingin dan langsung memberikannya kepada Darius, ia sendiri duduk di kursi kerja lipat.
"Jadi, sudah berapa lama kau pulang ke Mandara?" tanya Revan membuka obrolan, sambil menyulut sebatang rokok.
"Baru kemarin sore," jawab Darius dengan datar sambil membuka tutup botol lalu meminumnya sedikit.
Darius meletakkan botol air mineral itu di atas meja kayu. Matanya menyapu ruangan kerja Revan yang berantakan namun terasa hangat.
"Kemarin sore? Dan sepertinya kau habis dari makam Tante Gayatri, kan?" tebak Revan sambil mengembuskan asap rokoknya ke udara.
Darius hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Aku sangat tahu seberapa besar kau menyayanginya, Darius" Revan bersandar pada kursi lipatnya, mengenang masa lalu.
"Waktu kau menghilang, aku kelimpungan mencarimu. Aku sempat mengira kau melakukan hal bodoh karena kepergian Tante Gayatri. Ditambah lagi..."
Revan menggantung kalimatnya sejenak. Ia melirik Darius dengan ragu, seolah takut menyinggung luka lama. "...ditambah lagi masalah Violetta."
Mendengar nama itu, sorot mata Darius tidak berubah. Namun, jemarinya yang memegang botol air mineral tampak mengetuk botol itu sekali.
"Itu sudah berlalu. Tidak perlu dibahas lagi, Revan," ucap Darius dengan nada yang datar, seolah nama itu tak lagi memiliki arti baginya.
Revan menghela napas panjang, lalu mematikan rokoknya di asbak. "Oke, oke. Aku tidak akan membahas si Violetta itu lagi. Tapi serius, sebelas tahun di luar negeri, apa saja yang kau lakukan?"
"Penampilanmu benar-benar berubah. Kau terlihat seperti pria yang bisa membunuh orang hanya dengan tatapan mata." ucap Revan sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana.
Darius menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Tentu saja ia berubah. Enam tahun di militer hingga menyandang gelar Dewa Perang.
Disusul lima tahun menjadi pembunuh bayaran nomor satu dan menguasai berbagai korporasi global, jelas telah menempa fisiknya menjadi senjata paling mematikan.
"Aku hanya bekerja di sebuah perusahaan keamanan swasta," jawab Darius dengan memberikan cerita paling aman untuk konsumsi publik. "Sisanya, aku hanya mengelola beberapa bisnis investasi kecil."
"Pantas saja dadamu jadi bidang begini!" ujar Revan sambil tertawa terbahak-bahak. "Tapi baguslah kalau kau sukses di sana. Lalu sekarang, apa rencanamu di Kota Mandara?"
"Aku ingin hidup tenang di sini. Mungkin membeli beberapa properti kecil atau membuka usaha sederhana," ujar Darius dengan datar.
Revan hampir saja tersedak air liurnya sendiri. "Hidup tenang? Umurmu baru dua puluh sembilan tahun, Darius! Orang seumur kita sedang gila-gilanya mengejar karier?"
Revan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan. "Tapi terserahlah. Kalau kau butuh bantuan untuk mencari lahan atau sekadar bosan sendirian di rumah tua itu, bengkelku selalu terbuka."
Darius merasakan sedikit kehangatan yang tulus dari ucapan Revan. Di dunia luar, semua orang mendekatinya karena rasa takut dan hormat yang dipaksakan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!