Indonesia
NovelToon NovelToon

Kontrak Hamil Anak Bos

BAB 1: Kontrak Senilai Satu Miliar

Hari itu, Sarah Lestari sedang fokus menunduk di depan laptopnya. Jari-jarinya mulus menari di atas keyboard, menyelesaikan tumpukan berkas laporan keuangan yang ditugaskan langsung oleh sang CEO muda, Samudra Grayson. Suasana di lantai eksekutif sangat hening, hanya terdengar suara klik mouse dan deru AC kantor.

Baru saja Sarah meletakkan pena di atas dokumen terakhir, pintu ruang kerja utama terbuka. Seorang pria berkemeja hitam rapi dengan raut wajah tegas melangkah keluar. Di belakangnya, Felix—sekretaris pribadi Samudra yang juga merupakan teman seperjuangan Sarah sejak pertama kali magang di perusahaan ini—melambaikan tangan padanya.

"Sarah, Bos minta kamu masuk sekarang," panggil Felix dengan nada yang terdengar sedikit aneh, seperti ada yang disembunyikan.

Sarah mengerutkan kening, tapi tetap bangkit dan merapikan blazernya. "Ada apa, Felix? Ada masalah sama laporan kuartal kemarin?"

Felix hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Begitu Sarah melangkah masuk ke ruangan megah dengan jendela kaca setinggi langit-langit itu, Samudra Grayson sudah duduk santai di kursi eksekutifnya. Pria tampan keturunan Indonesia-Eropa itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Silakan duduk, Sarah," perintah Samudra, suaranya bariton dingin namun sopan.

Sarah duduk di kursi tamu, sedikit gugup. Namun, rasa gugup itu berubah menjadi shock total saat Samudra menggeser sebuah map tebal ke arahnya.

"Apa ini, Pak?" tanya Sarah ragu.

Felix, yang berdiri di samping Samudra, mengambil alih pembicaraan. "Sarah, ini adalah sebuah kontrak. Bos membutuhkan bantuanmu. Bukan untuk pekerjaan kantor biasa, tapi untuk sesuatu yang jauh lebih pribadi. Kami memintamu untuk... mengandung anak Bos."

Dunia Sarah seolah berhenti berputar. Matanya membulat sempurna, mulutnya ternganga. Dia terdiam membeku, berusaha mencerna kalimat gila yang baru saja diucapkan Felix.

"K-Kontrak... anak?" Sarah terbata-bata, detak jantungnya berpacu kencang. "Pak Samudra, maksud Bapak apa ini?"

Samudra tetap tenang. "Ini murni kesepakatan bisnis, Sarah. Aku butuh ahli waris. Aku percaya padamu secara pribadi dan profesional. Kamu akan menjalani proses medis yang aman, dan setelah anak lahir, kewajibanmu selesai. Semua biaya hidup dan perawatan ditanggung penuh."

Tanpa menunggu persetujuan, Felix menyodorkan map itu terbuka di hadapan Sarah. Matanya langsung tertumbuk pada angka nominal yang tercetak jelas di bagian atas kontrak: Satu Miliar Rupiah.

Namun, di luar dugaan Samudra dan Felix, Sarah justru menyunggingkan senyum. Bukan senyum setuju, tapi senyum sinis. Dengan gaya centilnya yang khas, ia mendorong map itu sedikit ke depan.

"Maaf, Pak Bos. Tadi saya lihat angkanya satu miliar ya?" Sarah menaikkan satu alisnya. "Untuk jasa mengandung dan melahirkan anak Bapak? Hmm, rasanya... segitu kecil ya, Pak. Apa cuma segini harga diri saya?"

Samudra menatapnya tajam, rahangnya mengeras. "Kamu menolak?"

Sarah berdiri, merapikan bajunya. "Bukan menolak, Pak. Cuma saya rasa gaji saya selaku PA juga sudah cukup. Mohon maaf, saya tidak tertarik dengan kontrak semurah ini."

Sarah berbalik dan bergegas menuju pintu, namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, suara dingin Samudra menghentikannya.

"Tunggu, Sarah."

Sarah berhenti. Ia bisa mendengar langkah kaki Samudra mendekat. Samudra berdiri di belakangnya, lalu tanpa banyak bicara, ia menyodorkan map kontrak yang sudah diperbarui dengan pulpen di tangannya.

"Kamu mau tambah berapa?" tanya Samudra, kali ini suaranya lebih lirih, tapi jelas ada nada frustasi.

Sarah berbalik dan menatap pria itu. "Kalau saya boleh jujur, saya mau beberapa tambahan syarat, Pak."

"Katakan."

Sarah mengangkat dagunya, "Pertama, pascamelahirkan, saya tetap bekerja di perusahaan ini dengan posisi dan gaji yang sama. Jangan ada pemecatan. Kedua, saya yang memilih rumah sakit dan tim dokternya. Dan ketiga..." Sarah mengetuk-ngetuk map di tangan Samudra, "...nominalnya saya naikkan dua kali lipat dari angka awal. Tapi jangan khawatir, saya akan jalani semua ini dengan profesional."

Samudra memicingkan mata, menatap Sarah yang penuh percaya diri. Beberapa detik hening, lalu pria itu menandatangani kontrak di atas meja terdekat.

"Deal. Semua syaratmu aku setujui."

Felix di belakang mereka hanya bisa menggeleng-geleng kepala, tak percaya asistennya sendiri bisa menegosiasikan kontrak aneh itu dengan berani dan tetap menyelamatkan pekerjaannya.

Sarah mengambil kontrak yang sudah ditandatangani. Napasnya sedikit bergetar, meski ia berusaha terlihat tegar. Hari itu, hidupnya benar-benar berubah. Satu miliar, satu rahim, dan satu nyawa kecil yang akan mengubah segalanya.

BAB 2: Tabung Kecil, Harapan Baru

Seminggu berlalu sejak pertemuan di ruang eksekutif itu. Sarah masih belum bisa sepenuhnya mencerna apa yang baru saja terjadi. Kontrak itu kini tersimpan rapat di dalam laci meja kerjanya, dibawah tumpukan map laporan keuangan. Meski terlihat tegar di depan Samudra, setiap malam Sarah berguling-guling di kasurnya, memikirkan langkah besar yang akan diambilnya.

Hari itu, hari Jumat, langit Jakarta terlihat cerah. Sarah bangun lebih pagi dari biasanya. Ia mengenakan dress putih polos dan cardigan tipis berwarna krem. Riasan wajahnya tipis saja. Matanya sedikit sembab karena kurang tidur, tapi ia berusaha terlihat segar. Hari ini adalah jadwal konsultasi pertamanya di Klinik Fertilitas ProVita, klinik spesialis bayi tabung ternama di Jakarta.

Felix sudah menunggu di lobby apartemen Sarah. Sesuai dengan kontrak, semua urusan transportasi, administrasi, dan pendampingan akan diurus langsung oleh Felix. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, mobil hitam mewah itu terasa sunyi. Hanya ada suara radio yang menyanyikan lagu slow. Sarah memilih menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang perlahan berganti menjadi pemandangan rumah sakit yang asri.

“Kamu yakin, Sarah?” tanya Felix memecah keheningan, menatapnya sekilas melalui kaca spion tengah.

Sarah tersenyum tipis. “Felix, kontraknya sudah ditandatangani. Surat perjanjiannya sudah dalam genggaman. Kalau aku mundur sekarang, Bos Samudra pasti bisa menuntutku.”

“Bukan itu maksudku,” Felix menghela napas. “Aku tahu kamu pribadi yang kuat. Tapi ini menyangkut organmu, rahimmu, dan nanti nyawa seseorang. Maksudku, apa kamu benar-benar siap secara mental? Ini bukan cuma soal uang.”

Sarah menunduk. Jujur, kata-kata Felix seperti pisau yang mengiris hatinya. Benar. Uang satu miliar yang ia tawar memang terlihat menggiurkan, tapi ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus mengandung anak orang lain, menjalani suntikan hormon, dan puluhan kali pengambilan sel telur... itu adalah persoalan yang berbeda.

“Aku hanya bisa bilang... aku akan menjalaninya dengan profesional,” jawab Sarah akhirnya, meski hatinya sedikit bergetar.

Setiba di rumah sakit, seorang perawat berseragam putih bersih sudah menunggu mereka di pintu masuk. Sarah langsung dibawa ke ruang konseling. Seorang dokter wanita berusia sekitar 40 tahun dengan rambut diikat rapi, dr. Andini, menyambutnya dengan ramah.

“Selamat pagi, Sarah. Silakan duduk. Sebelum kita masuk ke prosedur teknis, ada baiknya kita berdiskusi terlebih dulu tentang kondisi kesehatan dan kesiapan mental Anda,” ujar dr. Andini sambil menatap berkas yang telah dikirim oleh pihak Samudra.

Sarah duduk di kursi pasien, tangannya sedikit meremas ujung bajunya.

“Jadi, dr. Andini, apa yang harus saya lakukan pertama kali?”

Dokter itu tersenyum. “Kami akan melakukan serangkaian pemeriksaan dulu. Mulai dari USG transvaginal untuk mengecek kondisi rahim dan ovarium Anda, lalu tes darah untuk melihat kadar hormon. Ini penting untuk menentukan apakah tubuh Anda cocok untuk proses In Vitro Fertilization (IVF) atau yang biasa kita sebut bayi tabung.”

Sarah mengangguk pelan. Ia sudah membaca banyak artikel tentang IVF, tapi membaca dan mengalaminya adalah dua hal yang sangat berbeda.

“Selanjutnya, jika semuanya dinyatakan sehat, kami akan memberikan suntikan hormon perangsang folikel selama beberapa hari. Tujuannya adalah agar sel telur Anda bisa matang lebih banyak. Jangan khawatir, proses ini diawasi ketat. Kami akan melakukan pantauan USG hampir setiap hari untuk memastikan perkembangannya. Setelah itu barulah dilakukan pengambilan sel telur,” papar dr. Andini.

“Pengambilannya... sakit ya, Dok?” Sarah memberanikan diri bertanya.

“Sebenarnya, pengambilan sel telur dilakukan dengan anestesi ringan. Anda tidak akan merasakan apa-apa saat prosedur berlangsung. Rasa sakitnya lebih ke setelahnya, seperti kram perut yang sama seperti saat PMS. Tapi itu masih bisa diatasi dengan obat pereda nyeri.”

Felix yang duduk di sudut ruangan menyela dengan hati-hati. “Kalau untuk calon ayahnya, kapan harus mengambil spermanya?”

“Sampel dari calon ayah bisa diambil pada hari yang sama saat pengambilan sel telur. Nanti sel telur yang sudah matang akan dicampur dengan sperma di laboratorium. Jika proses pembuahan berhasil, dalam 3 hingga 5 hari, akan terbentuk embrio. Embrio inilah yang nanti akan ditanamkan ke dalam rahim Sarah,” jelas dr. Andini.

Sarah merasakan dadanya berdegup kencang. “Lalu, bagaimana kalau proses penanaman embrio berhasil?”

“Kami akan menunggu sekitar dua minggu. Jika dalam dua minggu itu hasil tes kehamilan Anda positif, maka kehamilan dinyatakan berhasil. Setelah itu, Anda hanya perlu menjalani kontrol rutin kehamilan, seperti ibu hamil pada umumnya. Pola makan harus dijaga, istirahat cukup, dan menghindari stres. Itu kunci suksesnya.”

Sarah menghela napas panjang. Rasa takut mulai menggerogoti hatinya, tapi ia ingat kontrak di laci mejanya. Samudra sudah membayar mahal. Tidak ada jalan mundur.

“Baik, Dokter. Saya siap menjalani semuanya,” ucap Sarah dengan suara mantap.

Prosedur pemeriksaan dimulai. Sarah dibawa ke ruang USG. Ia berbaring di atas ranjang medis, menatap langit-langit ruangan berwarna putih. Gel dingin dioleskan ke perutnya. Tak lama kemudian, layar di sebelahnya menampilkan gambar organ dalam rahimnya. dr. Andini menunjuk beberapa titik.

“Ovarium Anda terlihat sehat, Sarah. Ada cukup banyak folikel kecil yang bisa dirangsang. Ini kabar baik. Besok pagi, kita mulai suntikan hormon pertamanya.”

Sarah hanya bisa mengangguk. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Suntikan. Kata itu selalu membuatnya merinding. Tapi demi uang... demi perjanjian... ia harus kuat.

Dua jam kemudian, seluruh rangkaian pemeriksaan awal selesai. Sarah berganti pakaian dan keluar dari ruang perawatan dengan langkah pelan. Feliks sudah menunggu dengan secangkir kopi hangat.

“Gimana, berat?” tanya Felix.

“Tadi waktu USG sih biasa aja. Tapi besok suntikan pertama, Felix. Aku agak deg-degan,” aku Sarah jujur.

Felix menepuk bahunya ringan. “Kamu wanita kuat, Sarah. Aku yakin kamu bisa. Lagipula, kalau berhasil, selain dapat uang, kamu juga secara tidak langsung menyelamatkan garis keturunan bos.”

Sarah tertawa kecil. “Kamu ini ya, Felix. Kerjanya kok kayak makelar hidup.”

Mereka pun kembali ke kantor. Sarah memutuskan untuk langsung kembali bekerja setelah pemeriksaan selesai. Saat tiba di lobi gedung perkantoran, ia berjalan menuju ruang kerjanya. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Samudra Grayson sedang berdiri di dekat pintu masuk, memegang setumpuk dokumen. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.

Sarah menelan ludah. Ia berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Samudra.

“Pak Bos, saya baru saja selesai dari rumah sakit. Dr. Andini bilang semua kondisi kesehatan saya bagus. Mulai besok pagi, saya akan mulai menjalani prosedur suntikan hormon untuk stimulasi sel telur,” lapor Sarah dengan suara profesional, meski napasnya masih agak tersengal.

Samudra menatapnya beberapa saat. Matanya menyusuri wajah Sarah yang sedikit pucat. “Kamu terlihat capek. Suntikannya besok, kan? Pulang saja hari ini, istirahat. Besok jangan telat ke rumah sakit. Felix sudah mengatur jadwal drivernya untuk menjemputmu pukul enam pagi.”

Sarah tertegun. Selama ini, Samudra terkenal sebagai bos yang dingin dan perfeksionis. Tapi nada suaranya sekarang terdengar... lebih manusiawi.

“Tapi Pak, kerjaan saya belum selesai—”

“Itu perintah,” potong Samudra tegas, tapi matanya sedikit melembut. “Kamu butuh kondisi tubuh prima untuk prosedur ini. Jangan sampai kamu kecapekan. Dokter Andini sudah mengingatkanku soal itu. Kesehatanmu adalah prioritas utama sampai kontrak ini selesai.”

Sarah manggut-manggut. Ia tidak bisa membantah perintah langsung dari bosnya. “Baik, Pak. Terima kasih.”

Sarah berbalik dan berjalan menuju lift untuk pulang. Namun saat pintu lift tertutup, ia menatap pantulannya sendiri di kaca pintu. Tadi, ia melihat ada sedikit kerutan di dahi Samudra saat ia melaporkan hasil pemeriksaannya.

Mungkin dia benar-benar khawatir? Atau mungkin dia hanya takut investasi semiliar rupiahnya gagal?

Sarah menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak boleh memikirkan perasaan Samudra. Ini hanyalah sebuah kontrak. Ketika nanti bayinya lahir, semua akan selesai. Uang di tangan, karier tetap aman, dan hidupnya kembali normal.

Tapi Sarah tidak tahu, bahwa suntikan hormon pertama yang akan ia terima besok pagi, tidak hanya akan memengaruhi sel telur di rahimnya. Tanpa ia sadari, jarum suntik itu perlahan-lahan akan mengubah takdirnya, menancapkan benih cinta yang kelak akan tumbuh di antara dua manusia yang awalnya hanya terikat oleh selembar kertas perjanjian.

Malam itu, Sarah berbaring di tempat tidurnya. Ia menggenggam erat gulingnya, membayangkan bagaimana rasanya jika nanti ada detak jantung kecil di perutnya. Sesuatu yang membuatnya takut, tapi juga membuatnya penasaran.

BAB 3: Suntikan, Keheningan, dan Aroma Laut Mediterania

Jam dinding di kamar tidur Sarah baru saja menunjukkan pukul 05.30 pagi ketika suara dering ponselnya bergetar di atas meja nakas. Sarah mengucek matanya yang masih berat. Semalam ia sulit tidur, membayangkan jarum suntik yang akan menusuk perutnya pagi ini. Dengan malas, ia meraih ponsel dan membaca pesan singkat dari Felix.

"Sudah di lobby. Jangan lama-lama."

Sarah menghela napas panjang. Ia bangkit, mandi, dan mengenakan kemeja putih longgar serta celana kain berwarna beige. Ia sengaja memilih pakaian yang longgar agar memudahkan akses petugas medis nanti. Setelah merapikan rambutnya menjadi kuncir kuda, ia mengambil tas kecil dan bergegas turun.

Di lobby apartemen mewahnya di pusat kota Milan, Felix sudah menunggu sambil memegang dua cangkir kopi espresso. Ia menyodorkan satu cangkir pada Sarah.

"Minum, biar mata melek. Perjalanan ke klinik lumayan macet, jalur Pantai Liguria pagi ini padat," ujar Felix.

Sarah menerima kopi itu dan menyeruputnya pelan. Rasa pahit espresso sedikit membangunkannya. Sepanjang perjalanan, Sarah hanya diam menatap pemandangan gedung-gedung bersejarah khas Italia yang perlahan berganti menjadi jalanan berbatu. Sesekali, Felix melempar lelucon tentang markas perusahaan Samudra di Roma, tapi Sarah hanya merespons dengan senyuman tipis. Pikirannya terlalu penuh dengan apa yang akan terjadi dalam beberapa jam ke depan.

Mobil hitam mewah itu meluncur memasuki gerbang Clinica ProVita, sebuah klinik fertilitas ternama di tepi pantai Liguria, pukul 07.15. Saat Felix memarkir mobil di area drop-off, Sarah membuka pintu dan melangkah keluar. Namun, langkahnya langsung terhenti.

Di pintu masuk utama klinik, berdiri seorang pria berkemeja hitam lengan panjang dengan jas rapi berwarna abu-abu gelap. Ia sedang berbicara dengan seorang perawat berbahasa Italia, tetapi begitu melihat Sarah turun dari mobil, pria itu langsung memutus pembicaraannya dan berjalan mendekat.

Sarah membelalakkan matanya. "Pak... Bos? Kok Bapak ada di sini? Bukannya Bapak ada rapat di kantor pusat Roma hari ini?"

Samudra Grayson menatapnya dengan wajah datar, tapi tatapan matanya sedikit menyapu wajah Sarah yang masih terlihat mengantuk. "Ini hari pertama prosedur. Aku harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Kontrak yang aku tanda tangani bukan cuma kertas, Sarah. Aku bertanggung jawab penuh atas proses ini. Rapat di Roma bisa ditunda."

Felix yang baru saja mengunci mobil berjalan menghampiri, sedikit tersenyum miring. "Bos memang orangnya teliti, Sarah. Jangan kaget."

Sarah hanya bisa menggeleng pelan. Ia tidak menyangka Samudra akan meluangkan waktu di pagi hari untuk terbang dari Roma ke sini. Biasanya, bosnya itu sangat sibuk dengan merger perusahaan di Eropa. Tapi hari ini, sepertinya CEO muda itu mengorbankan jadwalnya demi datang ke klinik ini.

Mereka bertiga masuk ke dalam klinik. dr. Andini, seorang dokter spesialis fertilitas asal Italia yang fasih berbahasa Inggris, sudah menunggu di ruang perawatan khusus. Ruangan itu terasa dingin, dipenuhi dengan monitor dan peralatan medis steril. Dokter itu menyambut mereka dengan ramah.

"Selamat pagi, Signor Grayson, Sarah. Hari ini kita akan memulai stimulasi hormon. Silakan Sarah berbaring di ranjang, kita akan lakukan suntikan pertama di perut bagian bawah."

Sarah menelan ludah. Ia berbaring di ranjang medis, membuka sedikit kemejanya hingga bagian perut bawah terlihat. Tangannya sedikit gemetar saat ia menggenggam ujung bajunya.

"Rileks, Sarah. Ini hanya jarum kecil. Rasanya seperti digigit semut," dr. Andini menenangkan dengan aksen Italia yang khas.

Samudra berdiri di sudut ruangan, menyilangkan tangannya di dada. Matanya tertuju pada jarum suntik yang sudah berisi cairan bening. Saat jarum itu menembus kulit Sarah, tubuh wanita itu sedikit menegang dan ia menarik napas tajam.

"Sedikit sakit, ya?" tanya dr. Andini.

"Nggak apa-apa, Dok. Tahan," jawab Sarah, suaranya sedikit bergetar.

Samudra mengerutkan kening. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya saat melihat wajah Sarah yang sedikit memucat. Tapi ia tidak berkata apa-apa. Prosedur suntikan berlangsung sekitar 15 menit, dilanjutkan dengan USG singkat untuk memantau kondisi ovariumnya.

Setelah semua selesai, Sarah duduk perlahan. Wajahnya memang terlihat pucat. Tubuhnya terasa lemas, mungkin efek dari rasa cemas dan kurang tidur semalaman.

dr. Andini memberikan selembar resep. "Ini obat untuk mengurangi efek samping, seperti mual dan kram di bagian perut. Minum sesuai aturan. Jangan lupa, besok jam yang sama, kita suntik lagi. Dan dua hari lagi, kita mulai monitoring folikel."

Samudra mengambil resep itu dari tangan dokter. "Aku yang akan ambil obatnya di apotek. Felix, jaga Sarah di sini."

Samudra melangkah keluar ruangan menuju apotek klinik, meninggalkan Sarah dan Felix. Felix duduk di kursi di samping ranjang, menatap Sarah yang masih memegangi perutnya.

"Gimana perasaannya, Sar?" tanya Felix lembut.

"Lemas, Fel. Rasanya perut kayak ditarik-tarik," jawab Sarah pelan. "Tapi aku harus kuat. Ini masih minggu pertama."

Tak berselang lama, Samudra kembali dengan sebuah kertas bagasi berisi obat-obatan. Ia memberikan tas itu pada Sarah. Namun, saat matanya menangkap wajah Sarah yang semakin pucat, ia berhenti.

"Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Samudra, kali ini suaranya lebih lembut dari biasanya.

Sarah mengangkat wajahnya dan memaksakan senyum. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma lemas aja, efek suntikan tadi."

Samudra tidak langsung percaya. Ia memperhatikan Sarah yang meraih pinggiran ranjang untuk berdiri, tapi tubuhnya sedikit goyah. Tanpa banyak bicara, Samudra melangkah maju dan meraih lengan Sarah, menopangnya agar tidak jatuh.

"Besok kamu jangan sarapan kosong lagi. Kamu butuh asupan gula," ucapnya tegas.

Sarah sedikit kaget dengan sentuhan itu. Tangan Samudra terasa hangat di lengannya. Ia menunduk, menarik tangannya perlahan. "Terima kasih, Pak. Tapi saya bisa sendiri."

Felix yang melihat kejadian itu hanya tersenyum tipis. "Bos, sekarang sudah jam setengah dua belas. Bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum pulang? Sarah juga butuh makan biar tenaganya pulih."

Samudra mengalihkan pandangan, ragu sejenak. "Baik. Ada restoran yang cukup dekat dari sini. Aku tahu tempatnya di pesisir pantai."

Mereka bertiga pun keluar dari klinik. Felix mengemudi mengikuti arahan Samudra. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 15 menit menyusuri jalanan tepi laut. Mobil akhirnya berhenti di sebuah area parkir kecil. Dari sana, terlihat deretan restoran kayu dengan atap genteng merah khas Italia yang menjorok ke arah Laut Mediterania. Ombak biru jernih terlihat berkejaran di bawah sinar matahari yang hangat.

Samudra turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Sarah. "Restoran ini cukup tenang. Makanan lautnya segar, mereka juga punya focaccia khas Liguria."

Sarah dan Felix mengikuti Samudra masuk. Mereka memilih meja di bagian teras yang menghadap langsung ke lautan. Angin pantai berhembus pelan, membawa aroma asin dan suara deburan ombak. Di langit, burung camar sesekali melintas di atas birunya laut.

Suasana itu seharusnya membuat hati rileks. Tapi anehnya, Sarah justru menjadi sangat pendiam.

Hidangan dipesan. Samudra memilih branzino (ikan kakap bakar) dan salad, Felix memesan pasta vongole, sedangkan Sarah hanya memesan seporsi minestrone (sup sayur khas Italia) dan air lemon. Ketika makanan tiba, mereka bertiga mulai makan. Namun, garpu dan pisau yang bergerak di atas piring lebih sering terdengar daripada suara mereka.

Samudra sesekali menatap Sarah dari balik gelas anggur putihnya. Wanita itu menunduk, mengaduk supnya dengan sendok pelan, matanya kosong menatap kuah tomat di mangkuk. Biasanya, Sarah adalah wanita paling cerewet di kantor. Ia bisa bercerita tentang drama kucingnya di apartemen Milan, tentang resep tiramisu baru, atau tentang betapa kesalnya ia pada macetnya jalanan Roma saat jam pulang kantor. Hari ini, ia hanya diam.

Felix yang duduk di seberang mereka juga merasakan keanehan itu. Ia memecah keheningan. "Sar, tumben kamu diam aja. Biasanya kamu ngomong terus dari duduk sampai makanan dateng. Ada apa? Sakit perut makin parah?"

Sarah menggeleng pelan. "Nggak, Fel. Aku cuma... mikirin sesuatu."

"Ngapain?" tanya Felix penasaran.

Sarah mengangkat wajahnya. Ia menatap Samudra sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke laut biru. "Aku mikir... kalau nanti prosedur ini berhasil, sembilan bulan ke depan, hidupku bakal beda banget. Aku bakal ada yang nempel di perut. Terus nanti aku melahirkan di sini, di Italia, lalu bayi itu..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ada rasa yang mengganjal di dadanya. Ia mungkin akan mengandung anak Samudra, tapi ia tidak akan pernah menjadi ibunya secara hakiki. Sebatas pemilik rahim. Sebatas kontrak.

Samudra seolah membaca pikirannya. Ia meletakkan garpunya perlahan, menatap Sarah dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu tidak perlu memikirkan itu sekarang. Fokus saja pada prosedur dan kesehatanmu. Semua hal tentang hak asuh, masa depan anak itu, sudah diatur jelas di dalam kontrak."

Sarah mendengarkan perkataan Samudra, tetapi kata-kata itu terasa dingin. Ia tidak tahu kenapa, tiba-tiba ia merasa sedih.

"Iya, Pak. Maaf, saya jadi melankolis," jawab Sarah, memaksakan senyum. "Mungkin efek lemas tadi."

Samudra tidak menanggapi. Namun, ia mengambil sepotong focaccia (roti khas Italia) dan meletakkannya di piring kecil, lalu mendorong piring itu ke arah Sarah. "Makan rotinya. Ada karbohidrat. Kamu butuh energi."

Sarah menatap roti di atas piringnya, lalu menatap Samudra. Ada hal yang berbeda dalam dirinya hari ini. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Ia akhirnya mengambil roti itu dan menggigitnya perlahan.

Felix memperhatikan interaksi keduanya. Ia tersenyum miring dalam hati. "Aneh. Biasanya bos itu dingin banget, tapi hari ini kok jadi pengasuh?"

Di meja itu, dengan latar belakang ombak Mediterania yang berkejaran dan sinar matahari siang yang hangat, Sarah diam-diam merasakan ada sedikit kehangatan yang tak ia duga. Ia tidak tahu apakah itu karena roti focaccia-nya, atau karena pria di seberangnya yang tiba-tiba peduli.

Tapi Sarah bersumpah pada dirinya sendiri: ia tidak akan membiarkan perasaan itu tumbuh. Ini hanya kontrak. Uang dan kewajiban. Cukup.

Namun, di saat ia meneguk air lemonnya, mata Samudra kembali menatapnya. Dan untuk sepersekian detik, ia melihat ada kerutan di dahi bosnya. Kerutan yang biasanya muncul saat Samudra sedang berpikir keras tentang angka-angka di laporan keuangan.

Dan kali ini, Samudra Grayson sedang memikirkan sesuatu yang jauh dari laporan keuangan. Ia sedang memikirkan deretan bulu mata Sarah yang bergetar saat ia menahan sakit tadi pagi, dan tiba-tiba ia bertanya pada dirinya sendiri... kenapa aku peduli?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!