Griya tawang, Element world hotel.
Tit… tit… tit…
Notifikasi pada layar iPhone 17 yang tergeletak di meja Nakas membuat pemiliknya terbangun, padahal dia baru tidur tiga jam lalu. Bibir tipis merahnya mengerang pelan, lalu dia terpaksa membuka mata yang masih terasa berat dan berair.
"Aish… siapa sih yang berani menggangguku di hari libur? Sialan."
Ethan—panggilan akrab Ethan Spencer Eko Argantara, terpaksa meraih ponselnya, mengucek mata yang masih merah, lalu mendesah malas saat membaca pesan dari ibunya.
"Ethan. kau tidak lupa kan tanggal 28 November adalah ulang tahun Ayahmu? Bangun cepat pemalas, atau Mommy akan segera menikahkan kamu dengan Jessika!"
"Aish sialan! Mommy selalu saja merusak hari liburku, tau begitu aku tak pulang ke Jakarta." Dia duduk di tepi ranjang, memijat pelipis yang terasa pening, sambil terus menggerutu mengeluh nasibnya. Padahal hidupnya sangat beruntung tinggal di kamar seluas ini, di Penthouse lantai 58 gedung Element World Hotel.
Ethan bangkit merenggangkan tubuh yang kaku. Dia nyaris memekik saat sadar tak mengenakan apa-apa selain celana dalam berwarna cokelat, yang kini terasa sempit karena reaksi alami tubuhnya.
"Sialan… aku lupa semalam Sera datang ke sini."
Dia mengerang kesal. Dini hari tadi sepulang ke penthouse, disambut pelayan muda yang baru bekerja dua bulan itu, Ethan langsung menyeret gadis itu untuk melayaninya—karena saat bersenang-senang dengan perempuan di klub malam dia belum merasa puas sepenuhnya. Dan kini seperti biasa, keinginan pria itu kembali bangun saat pagi hari, namun sayang dia sendirian tanpa ada yang bisa melayaninya.
Ethan kesal saat menyadari hasratnya yang begitu tinggi. Belum lagi hidupnya kini terasa terkekang karena perintah ibunya pada Hoshi dan Denny pengawal pribadinya, dilarang keras membawa wanita manapun ke dalam penthouse sampai waktu yang tak ditentukan. Ethan hanya bisa mengumpat dalam hati, inilah yang dia sebut nasib sialnya.
Ethan berjalan menuju ruang ganti sambil memakai kaos putih, menempelkan jari pada pemindai sidik jari, dan pintu kaca pun terbuka lebar. Ruangan luas itu penuh dengan koleksi pakaian dan barang-barang pribadinya.
Dia melempar kaos piyama yang tadi dipakai ke keranjang kotor, lalu mengambil jubah mandi. Sepertinya pagi ini dia perlu berendam lama untuk menenangkan pikiran dan hasratnya.
Baru saja selesai bercukur dan memakai jubah mandi putih sambil mengeringkan rambut hitamnya, ponselnya bergetar lagi. Kali ini nama Marcus yang muncul di layar.
"Halo, ada apa meneleponku?"
"Bang, aku sudah menunggu di meja makan sejak tadi! Sarapanku saja sudah habis, aish lama sekali."
"Untuk apa menungguku? Kamu sepertinya tidak ada kerjaan." Ethan menjawab cuek sambil memilih kemeja santai berwarna abu-abu, kaos leher tinggi putih, dan jas hitam bergaris serasi. DIa memang cukup pandai merawat penampilan meski terkadang gayanya agak unik.
"Tentu saja untuk pergi ke toko perhiasan dan Dept store Element milikmu! Apa kamu lupa kita harus mencari hadiah untuk ulang tahun om Victor malam ini?!"
"Haish… baiklah sebentar lagi aku ke sana!"
Klik.
"Dasar cerewet sekali, setan jerawatan itu sungguh menyebalkan!" Sambil terus menggerutu, dia berpakaian lengkap lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Benar saja, dia bangun terlalu siang.
Ethan berjalan menuju ruang makan. Dia mendengus kesal melihat sepupunya yang sedang menggoda salah satu pelayan—Marcus Hotman Morgan tertawa lepas sambil mencolek pinggang ramping Sera.
"Ehem… siapa sebenarnya tuan rumah di penthouse ini?" Keduanya menoleh kaget. Marcus langsung tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal, menatap tajam Ethan yang sudah duduk di kursi makan sambil menunjuk meja yang masih kosong.
"Cepat siapkan sarapanku sekarang! Jangan bermain-main lagi dengan orang ini."
"Ba… baik Tuan Muda." Dia duduk berhadapan dengan Marcus yang tersenyum miring.
"Semalam kamu habiskan waktu di klub lagi?"
Ethan hanya mengangguk sekilas dan menikmati roti lapis yang disajikan pelayan muda itu.
"Bersama Serly? Jam berapa kau pulang semalam?" Pelayan muda itu ikut mendengarkan sambil menggigit bibir, menahan rasa cemburu saat melihat tuan mudanya yang terkenal playboy dan cassanova itu hanya tersenyum santai.
"Jam tiga pagi. Dan sialnya, sejak aku dilarang membawa wanita ke sini, kebebasanku berkurang drastis."
Marcus tertawa terbahak-bahak hingga hampir tersedak kopinya. Dia menggeleng-geleng tak percaya mendengar jawaban sepupunya yang begitu blak-blakan.
"Astaga, apa kamu tidak sadar? Penolakanmu pada perjodohan dengan Jessika saja sudah membuat om Victor pusing. Sudahlah, kurangi main-main mu itu, bang."
"Jangan sok tahu! Lagipula wanita yang aku kencani tak pernah protes atau menolak."
"Baiklah, asal jangan sampai membuat perut wanita yang kau tiduri membuncit saja, haha… om bisa kena serangan jantung jika tahu."
"Aish sialan kau!"
"Jangan sampai juga kehabisan kondom mu bang, haha!" Marcus berdiri, merapikan jas dan dasi hitamnya bersiap berangkat ke pusat Dept store dan mal keluarga mereka.
"Sudah kesiangan, kita harus keliling mengecek beberapa toko juga, ini tugas rutin kita."
"Baiklah. Kamu turun dulu ke lobi, nanti aku menyusul."
"Siap." Marcus mengangguk tanpa curiga lalu melangkah keluar ruangan. Kini hanya tersisa Ethan dan pelayan berseragam putih itu.
"Kenapa kau tidak mengambil pakaian kotor ke ruang cuci tadi?"
"Maaf Tuan Muda… saya tadi sedang sibuk."
Wajah gadis itu tampak gugup. Dia menggigit bibirnya sedari tadi, tak berani menatap lama Ethan yang tampak begitu mempesona dengan wangi parfum maskulinnya.
"Ada tujuh pelayan di rumah ini, dan kamu tidak lupa kan kalau kamu adalah pelayan pribadiku?"
Pribadi di sini artinya dia harus siap kapanpun Ethan membutuhkannya. Dan seperti sifatnya yang tak suka dibantah, dia akan marah jika wanita yang menjadi sasaran keinginannya menghindar. Ethan menarik pinggang ramping gadis itu hingga dia jatuh terduduk di pangkuannya. Sera tampak panik takut ada orang yang lewat.
"Kenapa? diamlah, Ini rumahku, takkan ada yang berani masuk tanpa ku panggil."
"Tuan Muda… sebenarnya kemarin Nyonya Besar memarahiku karena tahu akulah yang merapikan kamar Tuan Muda, bukan Bibik Wina."
"Mommy datang ke sini kemarin? Kenapa tak ada yang memberitahuku?"
"Maafkan saya, nggak ada yang berani bilang saya juga takut. Nyonya Besar bilang mulai sekarang hanya Bibi Wina yang boleh melayani Tuan Muda, pelayan lain dilarang masuk kamar."
"Haish sialan! Apa-apaan mommy ini?!"
Ethan tampak terkejut. Gadis itu mengangguk pelan sambil memainkan kancing kemejanya dengan manja, mengusap rahang tegas Ethan yang tampak menggoda.
"Apa sih sebenarnya yang Mommy inginkan? Semuanya harus diatur, aku seperti anak kecil saja!" Ethan menggeleng kesal. Dia sudah bosan dengan paksaan ibunya yang setiap hari mendesaknya menikah, dan kini kesenangan pribadinya pun ikut diganggu.
"Jadi saya tak berani masuk kamar Tuan Muda tadi… maafkan saya." Ethan mengangguk paham. Dia menyeringai sambil membuka dua kancing teratas seragam putih gadis itu, lalu memasukkan tangannya ke dalam menyentuh lembut buah dada yang masih tertutup, membuat gadis itu menggeliat gelisah.
"Tuan Muda Ethan… ah!"
"Main sebentar saja. Tenang, takkan lama."
Ethan tersenyum nakal, menggesekkan tubuhnya di paha gadis itu sambil mencium lehernya yang mulus. Gadis itu meremas jasnya, mendesah saat bibir Ethan mulai menjelajahi kulitnya dengan ganas setelah menyingkap pakaiannya.
"Tuan Muda… aku tak tahan lagi." Ethan terus menciumnya dengan terampil dan panas, memainkan tubuhnya dengan lihai, mengangkat rok seragam itu dan memasukkan tangannya ke area yang paling yang sudah basah kuyup karena sentuhannya.
"Puaskan aku sebentar, cepat!"
"Tapi aku takut… ah!"
"Stt diamlah… ayo, cepat!" Pelayan muda itu menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang saat melihatnya membuka ikat pinggang dan ritsleting celana majikannya meminta dilayani.
Ethan mengancingkan kembali celananya dengan senyum kepuasan yang dingin. Sambil menyemprotkan parfum maskulinnya, ia menatap pantulan dirinya di cermin raksasa. "Menikah sepihak? Pilihan orang tua? Cih, tidak akan pernah terjadi dalam hidupku."
Pria itu melangkah lebar menuju lift privat, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa jam lagi di department store, egonya yang setinggi langit akan dihantam hancur oleh seorang gadis bernama Nayla Syakila Atmaja.
Element world Dept Store, Jakarta pusat.
"Jangan lupa setelah ini beli gaun pesta juga, dan jangan mempermalukan Abang ya."
"Iya, bang. Sudah ya, aku tutup teleponnya."
Klik. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu menggembungkan pipi kesal. Baru saja dia berada di bagian etalase sepatu pusat perbelanjaan ini, dan terpaksa harus membeli sepatu hak tinggi. Setelah itu dia masih harus mencari gaun. Yang paling membuat Nayla kesal, dia harus mengenakan semua itu untuk makan malam nanti bersama calon mertuanya.
Dasar Denis Atmaja, menyebalkan sekali!
"Abangku benar-benar tidak punya rasa kasihan padaku. Suka sekali menyiksa adiknya yang cantik ini?" Nathan yang sedang mencoba sepatu kets berwarna putih terkekeh geli. Dia melirik sahabatnya yang duduk di bangku kecil sambil menatap malas sepatu hak tinggi berwarna hitam yang baru saja dipilihnya.
"Kamu akan terlihat cantik kalau memakai sepatu hak tinggi. Masa kamu mau pakai sepatu kets saat makan malam dengan calon mertuamu? Aduh, aku tak bisa membayangkannya kalau kamu pakai gaun cantik seksi tapi sepatunya pakai sepatu kets."
"Heh mulutmu jerapah pendek! Ingin ku jepit pakai ikat rambutku ya?"
"Enggak, maaf... Ups!" Nathan langsung bungkam setelah terpingkal-pingkal sambil menutup mulutnya menahan tawa.
Penampilan sahabatnya itu lebih mirip penjual koran yang berkeliling naik sepeda, daripada wanita anggun dan rapi. Rambut Nayla dikuncir dan disembunyikan di balik topi, mengenakan kaos hitam yang kebesaran, celana jeans panjang, ditambah jaket hoodie merah muda yang selalu dia pakai tanpa pernah merasa bosan, sampai warnanya pudar.
"Aku benci melihat sepatu ini. Kenapa kamu malah beli sepatu kets? Sengaja membuatku iri ya?"
"Mbak, tolong carikan pasangan sepatu ini. Kalau sudah tolong dibungkus, kami ambil dua-duanya."
"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar."
"Aku malas beli sepatu itu, alergi memakainya. Bang Denis benar-benar menyebalkan." Nayla merengut kesal. Dia malah diabaikan, dan hanya mendapati sahabatnya tersenyum sambil memperhatikan penampilannya.
"Kamu itu harus dandan juga. Setelah ini kita ke salon supaya kamu terlihat rapi dan cantik. Aduh, kamu ini mirip anak bebek yang baru saja kecebur selokan."
"Heh Nathan, kenapa kamu ikut menyebalkan seperti Kakakku?"
"Hahaha, dengar ya Nona Nayla... kamu itu berantakan sekali. Lihat saja wajahmu, tak ada bedak atau riasan sedikitpun. Kalau kamu begini terus, mana ada pria yang mau mendekat? Nanti calon suamimu malah kabur dan jijik melihatmu."
"Cih, terserah saja! Aku juga sebenarnya tak ingin menikah. Abangku saja yang memaksa dan sibuk menjodoh-jodohkan aku."
Nathan menggeleng-gelengkan kepala. Tak lama kemudian seorang pramuniaga datang membawa sepasang sepatu hak tinggi untuk Nayla. Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung melempar sepatu itu dengan kesal.
Pluuk....
"Aku benci sepatu ini!" Benda high heels hitam itu melayang entah ke mana, dan Nayla sama sekali tak peduli. Yang penting sepatu yang menyebalkan itu sudah menjauh darinya.
Pletuk pletak!!
"Adow kepalaku! Apa nih?!"
"Astaga, Pak Ethan! Apa Bapak tidak apa-apa? Siapa orang gila yang melemparkan sepatu ke sini? Aduh!" Hariyanto panik melihat Ethan kaget dan mengusap kepalanya.
Ethan Spencer Eko Argantara atau yang dipanggil Ethan mengusap kepalanya yang terasa sangat sakit dan berdenyut nyeri. Ujung sepatu hak tinggi yang runcing menghantam keras bagian belakang kepalanya, dia meringis sambil melihat horor ke segala arah.
"Apa?! Jadi yang kena kepalaku tadi sepatu?!"
Ethan terkejut luar biasa sambil terus mengusap kepalanya yang nyeri. Seketika wajahnya memerah padam menahan amarah saat melihat sepatu hitam hak tinggi itu diambil oleh sekretaris Hariyanto.
"Aish, siapa yang seenaknya melempar sepatu di sini dan tepat mengenai kepala bang Ethan? Benar-benar kurang ajar! Harus dilaporkan ke polisi!" seru Marcus sambil celingukan mencari pelakunya.
"Liat aja aku becek mukanya nanti!" Ethan pun ikut kesal memikirkan siapa orang yang begitu tak tahu sopan santun.
"Bang.. pelakunya ada di sana!" Nathan yang baru saja berteriak kaget dan belum sempat memarahi temannya yang melempar barang yang belum dibayar, langsung menutup mulutnya dengan panik.
Dia baru sadar pasangan sepatu itu masih ada di tangannya, dan dia pasti akan disangka pelakunya. Seorang pria berpakaian rapi menunjuk ke arahnya.
"Aduh... habislah aku. Nayla, sepatumu itu menghantam kepala pria yang di sana!" bisik Nathan dengan tubuh gemetar saat rombongan pria itu mendekat.
Nayla menggigit bibir ketakutan, lalu segera berdiri dan bersembunyi di belakang pramuniaga yang juga masih terpaku kaget.
"Hei, bocah, Kamu kira di sini ini lapangan bola? Melempar sepatu sampai kena kepala orang!" bentak Marcus duluan kepada pria yang lebih pendek darinya.
Nathan masih menggeleng ketakutan sambil gemetar. "Bu~... bukan saya, Pak. Sungguh bukan saya yang melakukannya."
"Kalau bukan kau, lalu siapa? Kau tahu kan ini pusat perbelanjaan berkelas, bukan lapangan sepak bola?" makin tajam Marcus memarahinya.
"Tapi sungguh bukan saya yang melempar tadi... hiks sumpah."
"Apa?! Mau alasan apa kamu, dasar bocah tidak tahu aturan!" Ethan yang masih mengusap kepalanya yang berdenyut ikut maju dan menggeleng kesal.
"Kalau bukan kamu, lalu kenapa kamu yang pegang pasangan sepatunya? Lalu nggak ngaku? Dasar tidak tahu sopan santun!"
"Maaf... saya yang sebenarnya melempar sepatu tadi. Tuan-tuan, saya minta maaf sebesar-besarnya. Saya benar-benar tidak sengaja." Nayla tak tega melihat sahabatnya di marahi karena ulahnya.
"Apa?!" Marcus menoleh kaget, begitu juga Ethan yang meremas tangannya—rasanya ingin sekali membalas, namun tangan kirinya sibuk mengusap bagian belakang kepala yang mulai terasa bengkak.
"Nayla? Kok bisa kamu!?!" seru Marcus dengan nada frustrasi. Tak disangka dia bertemu gadis ini di sini, apalagi dalam situasi seperti ini.
"Hei bocil kematian! Kamu sadar tidak apa yang kamu lakukan tadi? Benar-benar tidak tahu sopan santun! Kamu nggak tau apa kalau perbuatanmu itu membahayakan orang lain?"
"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja... hiks, maafkan saya sekali lagi." Nayla membungkuk berkali-kali ke arah Ethan.
Matanya sudah berkaca-kaca, belum pernah dia merasa setakut ini menghadapi orang asing. Wajah pria itu yang merah padam terlihat jauh lebih mengerikan daripada saat bang Denis sedang marah besar.
"Cih, enak saja bilang maaf begitu saja. Sekarang kamu harus bertanggung jawab! Tidak semudah itu sekadar minta maaf, dasar bocah gila!"
"Bang Ethan, dia tidak sengaja... sudahlah, jangan dimarahi terus."
"Diam, Marcus! Ini urusanku dengan bocah ini! Kepalaku sakit, dia harus tanggung jawab!" Ethan masih murka berapi-api.
Marcus yang tadi mencoba menengahi langsung mundur ketakutan, lalu melirik pak Hariyanto yang ada di sampingnya.
"Pak Ethan, apakah Bapak terluka? Sebaiknya kita obati dulu, atau langsung ke dokter saja."
"Benar bang, kita ke dokter saja. Kepala Kamu harus segera diperiksa." Pak Hariyanto ikut mencoba melerai pertengkaran itu. Dia menoleh ke sekeliling, tempat itu kini makin ramai karena suara murka atasannya menarik perhatian pengunjung lain.
"Bang, ayolah... jangan diperpanjang masalahnya. Banyak orang yang melihat kita."
"Aku sedang memarahi pelaku ini biar kapok, Dengar ya bocil kematian, kamu harus tanggung jawab! Kau tahu kan kepalaku ini aset yang sangat berharga, dan sekarang jadi benjol karena kelakuanmu yang ceroboh!"
"Saya minta maaf sekali lagi, pak... saya benar-benar menyesal." Nayla mulai menangis karena takut sekaligus malu dimarahi habis-habisan di depan umum. Nathan yang merasa iba segera maju mendekati temannya.
"Saya juga minta maaf untuk teman saya. Kami akan mengganti rugi apapun yang terjadi. Tolong jangan dimarahi lagi." Nathan ikut membungkuk, namun malah disambut tatapan tajam dan sinis dari Ethan.
"Ganti rugi katamu? Sekarang juga aku akan melaporkan dia ini ke polisi supaya dia tahu rasa! Dasar bocah piyik tidak tahu aturan!"
"Apa?!" Wajah Nayla yang tadinya pucat ketakutan kini berubah merah padam karena kesal. "Aduh bang Ethan, tidak usah sampai melapor polisi. Dia sudah meminta maaf berkali-kali." Marcus berbisik panik, namun justru disikut keras oleh Ethan yang belum puas meluapkan emosinya.
"Hei dengar pak tua yang sombong! Saya sudah minta maaf berkali-kali! Kepala Bapak saja masih utuh, cih berlebihan sekali sampai bilang mau melapor polisi! Apa Bapak kira saya takut sama polisi?!"
"Apa?! Kamu~... berani sekali bicara begitu!"
"Apa?! Apa Bapak mau memaki saya 'bocah gila' lagi? Dasar Bapak ini saja yang sombong dan aneh sudah tua masih suka ngamuk, sakit darah tinggi kapok dah!"
"Kurang ajar kamu doain saya sakit! Apa mulutmu tidak pernah diajarkan sopan santun, bocah?!"
"Bapak yang rese! Cuma kena sepatu saja hebohnya kayak kepalanya baru saja dilempar bom!" Nayla pun tak mau kalah, dia bertolak pinggang, melotot tajam, dan membalik posisi topi di kepalanya—kini penampilannya persis seperti preman pasar, bukan wanita anggun, kesabarannya sudah habis sejak tadi di marahin terus di depan umum. Wajahnya memerah menahan malu.
"Awas saja jangan sampe kita ketemu lagi bocil kematian!"
"Saya juga tak sudi bertemu lagi dengan bapak tua ubanan, sombong dan menyebalkan!"
"Heh kau bilang apa?! Aku bukan bapak tua ubanan, kurang ajar kamu!" Ethan sungguh kesal, baru kali ini dia di panggil pak tua apalagi di hina ubanan, seganteng ini penampilan nya padahal. Ethan berbalik lagi dengan amarah yang memuncak. Di luar sana begitu banyak wanita yang mengaguminya, memanggilnya dengan sebutan terhormat, tapi gadis aneh ini seenaknya memanggilnya 'bapak tua' sejak tadi.
"Bang, ayolah sudah... jangan bertengkar lagi. Aduh banyak orang yang melihat kita." Marcus menarik lengan sepupunya untuk pergi, namun ditepis oleh Ethan yang masih kesal, sementara kepalanya makin berdenyut hebat.
Nathan menutup mulutnya menahan tawa melihat keberanian Nayla membalas makian pria itu, sementara Marcus hanya bisa melongo melihat mereka yang masih saling tatap tajam.
"Permisi, pesanan sepatu Bapak sudah dibungkus. Kita ke kasir sekarang." Lerai Hariyanto. "Nayla...kamu minta maaf saja pada bang Ethan. Kumohon, jangan berdebat lagi."
Manajer Hariyanto dan Marcus berusaha membujuk keduanya yang masih bertolak pinggang dan saling menatap penuh amarah.
"Jadi nama Bapak tua ini Ethan ya? Hei pak tua Ethan yang terhormat dan sok-sokan... kepala Bapak kan masih utuh? Bapak kan masih hidup? Jadi jangan sembarangan memaki orang seenak jidat!!!"
Ethan memasukkan kedua tangannya ke samping celana, menatap merendahkan gadis di hadapannya. Berdebat dengan orang yang tak masuk akal begini tak akan ada habisnya.
"Cih, bocah gila yang tak tahu aturan. Percuma saja berdebat denganmu, nanti aku yang ikut gila. Semoga saja aku tak pernah bertemu bocah sepertimu seumur hidupku. Ayo Marcus, kita pergi!" Ethan berbalik badan dan menyeret lengan Marcus, disusu Hariyanto yang membawa bungkusan sepatu dengan wajah merah.
"Sekalipun semua wanita di dunia ini habis dan hanya tersisa dia, aku takkan pernah Sudi menikahi bocah gila jika seperti dia! Semoga saja dia tak laku sampai tua!" Dengan tatapan merendahkan, Ethan meneriaki gadis yang dia cap gila itu. Benar-benar pemandangan yang menjijikkan—di zaman modern begini masih ada wanita yang berpakaian berantakan, topi terbalik, kaos kebesaran, celana jeans lusuh, persis seperti pengamen jalanan. "Apa?! Dasar brengsek! Eh dia si tua mendoakan aku tak laku!" Geram Nayla makin kesal.
"Aduh Nayla, sudah cukup. Mereka sudah pergi. Apa kamu sadar tadi yang ada bersama mereka itu bang Marcus? Bagaimana kalau nanti dia mengadu pada bang Denis soal ini?"
"Hei pak tua sombong gila, dia pikir aku sudi apa nikahi dia, mana sudah tua karatan!" Teriak Nayla tak mau kalah dengan membahana. Nathan bergidik ngeri, tapi tak bisa menahan senyum mengingat ocehan sahabatnya.
"Huh, peduli apa aku! Kalau dia berani muncul lagi, akan kubelah kepalanya pakai sepatu ini!"
"Hahaha, kamu yakin? Dulu saja Axel cuma kamu siram air kepalanya haha, tapi pria ini malah kamu lemparin sepatu! Hahaha aduh perutku sakit."
"Diam kamu jerapah pendek mulut lemes! Berisik sekali!" Nayla berjalan mendahului dengan wajah kesal, sementara Nathan masih tertawa kecil. Dia tak heran dengan keberanian sahabatnya itu. Lima tahun lalu, saat Nayla baru putus kuliah dan diselingkuhi oleh kekasihnya Axel Alexander, gadis itu dengan berani menyiram wajah pria itu di depan umum.
Mendengar kejadian itu, Denis Atmaja yang saat itu sedang merencanakan perjodohan adiknya dengan keluarga Alexander, langsung membatalkan semuanya.
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!