Bab 1: Surat yang Terbakar
Kertas itu gemetar di antara jemarinya.
Valentina melintasi lorong Kediaman Mahendra dengan surat penerimaan dari Universitas Nasional dipeluk rapat ke dada, seolah kapan saja seseorang bisa merampasnya. Delapan tahun. Delapan tahun tidur di bawah atap orang lain, makan di meja tempat tak seorang pun benar-benar menginginkannya, menelan setiap penghinaan dengan kepala tertunduk. Semua demi tiba di saat ini: selembar kertas berlogo universitas, dengan namanya tercetak di bawahnya. Valentina Mahendra. Diterima di Fakultas Kesejahteraan Sosial.
Ia mendorong pintu ruang kerja Sebastian tanpa mengetuk.
Pria itu berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Cahaya senja memotong siluetnya di kaca: setelan gelap, bahu tegak, postur seseorang yang seumur hidupnya tak pernah perlu meminta izin kepada siapa pun. Di usia dua puluh lima, Sebastian Mahendra sudah mengendalikan Grup Mahendra, kekayaan keluarga, dan setiap orang yang keluar-masuk rumah itu.
Termasuk dirinya.
"Aku perlu bicara denganmu," kata Valentina dari ambang pintu.
Sebastian tidak menoleh.
"Tutup pintunya."
Valentina patuh. Bunyi klik kait pintu terdengar terlalu keras dalam sunyi ruang kerja itu. Dinding berlapis kayu gelap, rak-rak berisi buku yang tak pernah dibaca, perapian yang menyala padahal kota itu malam itu tidak cukup dingin untuk membenarkannya. Segala sesuatu di ruangan itu ada untuk mengingatkan siapa pun yang masuk tentang siapa yang berkuasa.
Valentina berjalan ke meja dan meletakkan surat itu di atas permukaan mahoni.
"Aku diterima di Universitas Nasional," katanya, lalu membenci getar dalam suaranya sendiri. "Kesejahteraan Sosial. Semester dimulai tiga minggu lagi."
Sebastian berbalik perlahan. Matanya turun ke surat itu, menyapunya tanpa ekspresi, lalu kembali naik ke wajah Valentina. Ia tidak mengatakan apa pun selama beberapa detik. Valentina merasa jantungnya berdetak sampai ke tenggorokan.
"Lalu?" tanya Sebastian.
"Aku butuh izinmu untuk mendaftar."
Kata itu membakar lidahnya. Izin. Ia sudah delapan belas tahun dan masih membutuhkan persetujuan kakak angkatnya untuk kuliah. Seolah ia anak kecil. Seolah ia pegawai.
Seolah ia benda.
Sebastian mengitari meja dengan langkah lambat. Ia mengambil surat itu dengan dua jari, menahannya setinggi mata, lalu membacanya dalam diam. Valentina mengepalkan tangan di dalam saku hoodie-nya.
"Kesejahteraan Sosial," ulang Sebastian, seolah kata-kata itu meninggalkan rasa tidak enak di mulutnya. "Untuk apa?"
"Untuk belajar. Untuk punya karier. Untuk..."
"Untuk tidak ada gunanya."
Sebastian berjalan ke arah perapian. Valentina mengikutinya dengan tatapan, belum sempat memahami, sampai pria itu mengulurkan tangan dan menjatuhkan surat itu ke atas lidah api.
Api menangkap salah satu sudutnya. Kertas itu melengkung, menghitam, dan lambang Universitas Nasional lenyap di bawah nyala oranye. Huruf-huruf namanya berubah bentuk. Valentina Mahendra. Tinta menguap menjadi seutas asap hitam yang naik lurus ke langit-langit lalu pecah di dekat lis gipsum.
Valentina tidak berkedip. Tidak berteriak. Ia hanya menatap sudut terakhir kertas itu habis dimakan api, melihat tepinya yang membara menggulung dan jatuh menjadi serpihan kelabu di dalam perapian. Tiga minggu ia menyiapkan pidato untuk momen ini. Tiga minggu berlatih di depan cermin kamar mandi: wajah seperti apa yang harus dipasang, nada seperti apa yang harus dipakai, bagaimana meminta izin tanpa terdengar memohon. Dan Sebastian bahkan tidak membutuhkan tiga puluh detik untuk menghancurkan semuanya.
Panas api membakar wajahnya. Di dalam dirinya, segala sesuatu membeku.
"Apa yang kamu lakukan?" bisiknya.
Sebastian menepis abu tak terlihat dari lengan jasnya.
"Tempatmu bukan di universitas. Tempatmu di sini." Ia kembali ke meja, membuka laci, mengambil sebuah map, lalu menjatuhkannya di depan Valentina. "Keluarga Raharja sudah menerima syaratnya. Pernikahan akan dilangsungkan empat bulan lagi."
"Pernikahan?"
"Aliansi antara Grup Mahendra dan keluarga Raharja. Kamu syaratnya."
Suara Sebastian datar, administratif, seperti sedang membacakan kontrak merger perusahaan. Valentina menunduk ke arah map. Ia melihat sebuah nama: Mateo Raharja. Sebuah foto: pemuda berseragam militer dengan senyum terbuka dan mata terang. Di bawahnya, lembar data yang mirip daftar riwayat hidup: Mayor Angkatan Darat, dua puluh satu tahun, anak angkat Senator Alexander Raharja Solihin.
Anak angkat.
Sama seperti dirinya.
"Tidak," kata Valentina.
Sebastian menutup laptop dengan hentakan kering.
"Ini bukan pertanyaan."
"Aku tidak akan menikah dengan orang asing hanya supaya kamu bisa menutup bisnis!"
"Ini bukan bisnis. Ini kelangsungan hidup keluarga ini." Sebastian menaruh kedua tangan di meja dan mencondongkan tubuh. Bayangannya menutupi map, foto prajurit yang tersenyum itu, juga tangan Valentina yang gemetar. "Keluarga Raharja menguasai tiga komite di Senat. Tanpa aliansi itu, Grup Mahendra kehilangan tender Veracruz. Tanpa Veracruz, imperium ini runtuh dalam delapan belas bulan. Kamu mengerti artinya?"
"Artinya kamu menjualku."
Rahang Sebastian mengeras.
"Artinya aku melindungi semua yang memberimu makan, pakaian yang kamu pakai, dan atap di atas kepalamu. Seharusnya kamu berterima kasih."
Sebastian menatapnya seperti orang menatap perabot yang bergeser dari tempatnya.
"Kamu bukan Sofia," katanya, suaranya turun setengah nada. "Kamu tidak pernah menjadi Sofia. Kamu pengganti. Dan pengganti tidak memilih."
Udara lenyap dari ruangan.
Valentina mengenal kata itu. Ia telah mendengarnya ribuan kali dalam delapan tahun: di lorong, dari mulut para pegawai, dalam tatapan tamu yang melihatnya datang ke jamuan keluarga. Si pengganti. Anak perempuan yang mereka ambil dari panti asuhan untuk menempati tempat Sofia Mahendra, putri kandung yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di usia sepuluh tahun. Valentina memakai nama keluarga Sofia, kamar Sofia, pakaian Sofia, dan tempat Sofia di meja makan. Tetapi ia tidak akan pernah menjadi Sofia.
Semua orang tahu. Tak ada yang mengatakannya keras-keras.
Sampai sekarang.
Sebuah kenangan menembusnya tiba-tiba, begitu jernih hingga ia nyaris bisa mencium disinfektan murah dan kacang yang hangus.
Ia berusia sepuluh tahun. Halaman Panti Asuhan Harapan, di pinggiran kota. Tiga anak perempuan yang lebih besar merebut buku gambarnya dan merobeknya lembar demi lembar. Valentina duduk di tanah, lututnya lecet, matanya kering karena di panti itu menangis tidak ada gunanya.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Pemuda tujuh belas tahun turun dari kursi belakang. Tinggi, ramping, mengenakan setelan yang tampak lebih mahal daripada seluruh bangunan panti. Anak-anak itu berhenti merobek buku. Kepala panti berlari menyambutnya.
Pemuda itu berjalan langsung ke arah Valentina, mengulurkan tangan, dan berkata:
"Mulai hari ini, kamu bagian dari Keluarga Mahendra."
Valentina mendongak. Mata pemuda itu gelap, dingin, sepenuhnya yakin pada dirinya sendiri. Mata yang sama yang kini menatapnya dari seberang meja sementara abu surat penerimaannya padam di perapian.
Sebastian tidak berubah. Ia yang berubah.
Kenangan itu larut. Perapian, bau kertas terbakar, map berisi foto prajurit, semuanya kembali menghantam sekaligus. Valentina mengusap matanya dengan punggung tangan, meski ia tidak sedang menangis. Ia tidak akan menangis. Tidak di depan Sebastian.
"Delapan tahun," katanya, dan suaranya tak lagi bergetar. "Delapan tahun aku tidak mengeluh. Tidak meminta apa pun. Aku bangun pukul lima untuk belajar sebelum rumah ini terjaga. Aku meminjam buku karena kamu tidak memberiku uang untuk membelinya. Aku ikut ujian masuk hari Sabtu pukul enam pagi, naik bus umum karena aku tidak punya mobil, sopir, atau pengawal. Dan aku lulus. Sendiri. Tanpa bantuanmu, tanpa uangmu, dan tanpa nama keluargamu."
Ia berhenti sejenak. Sebastian mengamatinya tanpa bergerak, dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.
"Yang kuminta hanya satu tanda tangan," lanjut Valentina. "Satu tanda tangan, Sebastian. Dan kamu membakarnya."
Sebastian tidak menjawab. Ia duduk di balik meja, membuka laptop, lalu mulai mengetik seolah percakapan itu sudah selesai. Seolah Valentina tidak lagi berada di sana. Seolah Valentina tidak pernah ada.
Valentina tidak bergerak.
Matanya menyapu ruang kerja itu. Rak-rak, ijazah berbingkai, jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat seperempat. Dan di atas meja, setengah meter dari tangan kanan Sebastian, Beretta perak yang selalu diletakkannya di sana seperti pemberat kertas.
Valentina tahu Sebastian menyimpannya tanpa peluru. Itu simbol, bukan senjata. Pengingat visual tentang siapa yang memegang kuasa di rumah itu. Dalam delapan tahun, tak ada yang pernah menyentuh pistol itu selain Sebastian. Para pegawai memutari meja agar tidak lewat terlalu dekat. Kepala pelayan membersihkannya dengan sarung tangan, tanpa berani mengangkat mata.
Valentina tidak pernah menyentuhnya.
Api berderak di perapian. Sisa terakhir surat itu hancur menjadi abu kelabu. Bau kertas terbakar bercampur dengan kayu cedar dan kulit tua kursi-kursi. Di suatu tempat di kediaman itu, sebuah jam berdentang pukul setengah delapan.
Valentina melangkah ke arah meja.
Sebastian terus mengetik. Ketukan jarinya pada tombol-tombol terdengar ritmis, presisi, tak peduli.
Satu langkah lagi.
Sol sepatunya tidak berbunyi di atas karpet Persia. Sandaran kursi Sebastian tinggal sejauh lengan. Beretta itu, setengah meter.
Jari-jari Sebastian berhenti di atas keyboard. Ia tidak mengangkat wajah, tetapi bahunya menegang satu milimeter, seperti makhluk yang merasakan perubahan di udara.
Valentina mengulurkan tangan.
Ujung jarinya menyentuh laras. Logamnya dingin, jauh lebih dingin daripada yang ia bayangkan. Ia menutup jemari pada gagang pistol dan mengangkatnya dari meja. Beratnya lebih dari perkiraannya.
Sebastian mengangkat wajah.
Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Valentina melihat sesuatu yang berbeda di matanya.
Bab 2: Peluru yang Hilang
Valentina mengarahkan Beretta itu ke tengah dada Sebastian.
Ruang kerja membeku dalam sunyi. Bahkan api di perapian seperti tak berani berderak. Sebastian tidak bergerak dari kursinya, tidak mengangkat tangan, tidak membuka mulut. Ia hanya menatap Valentina. Matanya menyusuri wajah gadis itu, turun ke pistol, lalu kembali naik dengan ketenangan yang sama seperti saat ia memeriksa laporan keuangan.
"Pistol itu kosong," katanya.
Valentina mengeratkan jemari pada gagang pistol. Denyut nadinya menghantam pergelangan tangan, pelipis, pangkal tenggorokan. Telapak tangannya basah oleh keringat yang menempel pada logam.
"Aku tahu."
"Kalau begitu turunkan."
"Tidak."
Sebastian memiringkan kepala setengah sentimeter. Gerakan kecil, nyaris tak terlihat, tetapi Valentina telah menghabiskan delapan tahun belajar membaca setiap perubahan mikro di wajah itu. Itu bukan takut. Itu rasa ingin tahu.
"Kalau kamu punya kuasa," kata Sebastian, suaranya begitu tenang hingga ia bisa saja sedang memberi kuliah di ruang rapat, "senjata boleh saja kosong."
Kata-kata itu jatuh ke tubuh Valentina seperti air es. Sebastian tidak menganggapnya serius. Bahkan dengan pistol mengarah ke jantungnya, Sebastian tetap tidak menganggapnya serius. Bagi Sebastian, adegan ini bukan ancaman: ini tantrum. Anak panti bermain-main dengan benda orang dewasa.
Valentina menurunkan pistol.
Sebastian membentuk sesuatu yang belum sampai menjadi senyum. Bayangan kemenangan yang telah ia pastikan melintas di matanya.
Lalu Valentina maju selangkah, memasukkan tangan ke dalam jas Sebastian. Pria itu mendadak kaku, rahangnya terkunci. Dari saku dalam, Valentina menarik keluar sebuah magazen berisi tiga peluru.
Ia tahu benda itu ada di sana. Ia pernah melihatnya setiap kali kepala pelayan menggantung jas Sebastian di gantungan ruang kerja. Sebastian selalu membawa peluru terpisah dari pistolnya. Kebiasaan seorang pengendali: hak untuk menentukan kapan pistol itu hanya simbol dan kapan ia menjadi senjata.
Valentina memasukkan magazen ke dalam Beretta. Klik logamnya menggema dalam sunyi seperti tulang yang patah. Ia menarik slide. Satu peluru masuk ke kamar.
Ia mengangkat pistol itu lagi.
Sebastian tidak bergerak, tetapi sesuatu berubah pada posturnya. Bahunya menegang di balik jas. Tangannya, yang tadi tergeletak santai di lengan kursi, mengepal satu milimeter. Matanya menancap ke mata Valentina, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menatap Valentina seperti benda.
"Valentina," katanya, dan itu pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama ia menyebut nama lengkap Valentina tanpa nada perintah.
"Diam."
Suara Valentina keluar serak, rendah, tanpa getar. Laras pistol mengarah ke bahu kanan Sebastian. Bukan jantung. Bukan kepala. Bahu. Karena Valentina tidak ingin membunuhnya. Ia ingin Sebastian tahu bahwa ia bisa melakukannya.
"Delapan tahun," katanya. "Delapan tahun kamu mengendalikanku. Kamu menentukan kapan aku bangun, kapan aku makan, kapan aku bicara, dengan siapa aku bicara. Kamu mengambil ponselku saat usiaku empat belas. Kamu melarangku keluar sendiri saat aku lima belas. Kamu mengurungku tiga hari di kamar saat aku berani bicara dengan tukang kebun. Dan sekarang kamu membakar satu-satunya hal yang kuraih sendiri, lalu menjualku kepada orang asing seperti perabot yang tidak lagi kamu butuhkan."
Sebastian tidak menjawab. Setetes keringat turun di pelipis kanannya. Valentina belum pernah melihat Sebastian berkeringat. Dalam delapan tahun, tidak saat rapat dewan paling tegang, tidak saat Pak Ricardo dirawat di rumah sakit, tidak saat pers menerbitkan rumor pencucian uang. Sebastian Mahendra tidak berkeringat. Sebastian Mahendra tidak kehilangan kendali.
Sampai sekarang.
"Kamu akan menembakku?" tanya Sebastian. Ada sesuatu yang baru dalam suaranya. Bukan takut. Lebih buruk daripada takut: ketertarikan.
"Aku akan melakukan sesuatu yang lebih baik." Valentina menurunkan senjata beberapa sentimeter, cukup agar Sebastian melihat bahwa ini bukan dorongan sesaat, bahwa ia sedang berpikir. "Aku akan menawarkan kesepakatan."
Sebastian mengangkat satu alis. Gerakan kecil. Tetapi itulah gestur yang dipakainya dalam negosiasi, saat pihak lain mengatakan sesuatu yang tidak ia duga.
"Beri aku satu bulan," kata Valentina.
"Apa?"
"Satu bulan. Tiga puluh hari. Kalau dalam satu bulan aku tidak menemukan cara membatalkan pernikahan itu tanpa merusak aliansi terkutukmu, aku akan menikah. Tanpa mengeluh. Tanpa melawan. Aku melakukan apa pun yang kamu mau."
Sebastian mempelajarinya dalam diam. Api perapian menyinari separuh wajahnya dan membiarkan separuh yang lain tenggelam dalam bayang.
"Dan kalau aku tidak menerima?"
Valentina memutar pergelangan tangan dan menempelkan laras pistol di bawah dagunya sendiri. Logam dingin itu menekan kulit lembut tenggorokannya. Perutnya mencengkeram oleh takut, tetapi ia tidak menurunkan tangan.
"Kalau begitu aku yang memilih bagaimana ini berakhir."
Ekspresi Sebastian retak. Hanya sekejap, sebuah celah yang melintas di wajahnya seperti kilat, lalu menghilang. Tetapi Valentina melihatnya. Ia melihat Sebastian mengatupkan gigi, menelan ludah, membuka jemari di lengan kursi seakan ingin berdiri tetapi tidak mengizinkan dirinya.
Sunyi berlangsung sepuluh detik. Dua puluh. Nyala perapian bergetar.
"Satu bulan," kata Sebastian. Ketenangan sempurna dalam suaranya tadi lenyap. Kini terdengar kasar, seolah kata-kata itu mahal baginya. "Tidak sehari pun lebih."
Valentina menjauhkan laras dari tenggorokannya. Bekas merah yang ditinggalkan logam itu menyengat seperti luka bakar.
"Satu bulan," ulangnya.
Ia mengarahkan Beretta ke lengan kanan Sebastian dan menembak.
Dentuman itu mengguncang ruang kerja. Kaca jendela besar bergetar. Sebuah lukisan lepas dari dinding. Selongsong memantul di lantai kayu dengan denting nyaring yang terasa berlangsung selamanya.
Peluru menyerempet bisep kanan Sebastian. Bukan tembakan tepat, bukan pula meleset: tembakan bedah, terukur untuk menandai tanpa menghancurkan. Kain jasnya terbuka dalam garis bersih. Di bawahnya, kemeja putih mulai diwarnai merah. Darah merambat perlahan, membasahi kain, melebar seperti tinta di atas kertas.
Sebastian tidak berteriak. Tidak menekan luka. Tidak bangkit dari kursinya. Ia menunduk ke lengan kanannya dan mengamati darah menyebar di lengan kemeja dengan ekspresi ganjil, hampir klinis, seolah luka itu milik orang lain. Kain putih berubah menjadi merah gelap, basah, berkilap di bawah cahaya perapian.
Saat ia mengangkat wajah ke arah Valentina, matanya telah berubah. Tak ada lagi ketidakpedulian, rasa ingin tahu, ataupun keunggulan beku yang selama ini ia kenakan seperti setelan yang dijahit pas. Ada sesuatu yang Valentina tidak punya nama untuk menjelaskannya. Sesuatu yang mirip detik pertama ketika seseorang mengenali orang yang selama ini ia kira sudah ia kenal.
Sebastian tidak mengatakan apa pun. Darah menetes dari jemarinya ke lengan kursi, jatuh ke kulit dengan irama lambat dan tetap.
Valentina meletakkan Beretta di atas meja. Benturan logam pada mahoni terdengar final. Tangannya gemetar. Lututnya gemetar. Bau mesiu memenuhi hidung dan tenggorokannya, logam, getir, mustahil diabaikan.
"Supaya kamu tidak lupa," kata Valentina, dan suaranya sendiri terdengar asing baginya, seolah datang dari tempat yang sangat jauh, "pistol ini tidak lagi kosong."
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Setiap langkah adalah tindakan kehendak. Kakinya berat seperti terbuat dari timah. Ia merasakan tatapan Sebastian di punggungnya, tajam, panas, tetapi ia tidak mendengar suaranya. Sebastian tidak memanggil. Tidak menghentikan.
Valentina membuka pintu. Lorong kediaman itu gelap dan sejuk. Baunya seperti gardenia dari taman dalam dan lilin lantai.
Ia melangkah tiga kali keluar dari ruang kerja.
Menutup pintu di belakangnya.
Lalu kakinya berhenti menopangnya. Ia bersandar pada dinding lorong, merosot ke lantai, dan memeluk lutut. Tangannya gemetar begitu hebat sampai ia harus menyelipkannya di bawah paha untuk menahannya. Jantungnya berpacu liar, tak beraturan, seolah ingin keluar dari mulutnya.
Ia tidak menangis. Ia tidak bisa. Tubuhnya terlalu sibuk gemetar untuk menghasilkan air mata.
Ia baru saja menembak Sebastian Mahendra. Pria yang mengendalikan Grup Mahendra, yang menyimpan tiga senator dalam daftar kontak ponselnya, yang bisa membuat orang menghilang dengan satu panggilan.
Ia menempelkan pistol di dagunya sendiri dan berkata ia lebih memilih mati daripada menikah dengan orang asing.
Dan yang paling buruk, yang membuatnya gemetar lebih hebat daripada ingatan tentang tembakan, lebih hebat daripada bau mesiu yang masih membakar hidungnya, adalah bahwa ia tidak berbohong. Jika Sebastian berkata tidak, jika pria itu mengulurkan tangan untuk merebut pistol, Valentina tidak yakin apa yang akan terjadi. Dan itu membuatnya lebih takut daripada apa pun.
Ia mengatupkan gigi, menarik napas dalam sekali, dua kali, tiga kali, lalu memaksa diri berdiri. Lututnya gagal pada percobaan pertama. Pada yang kedua, ia berhasil tegak dengan bantuan dinding. Ia mengusap telapak tangan yang basah pada jinsnya dan mulai berjalan menyusuri lorong.
Tiga puluh hari. Jamnya sudah mulai berjalan.
Ia tidak punya uang. Tidak punya sekutu. Tidak punya rencana. Yang ia punya hanya satu peluru lebih sedikit di dalam magazen dan kepastian bahwa Sebastian Mahendra, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, telah menatapnya seperti manusia.
Bekas merah di tenggorokannya berdenyut mengikuti irama jantung. Besok akan menjadi memar. Lusa, noda kekuningan yang perlahan memudar. Tetapi bekas di lengan Sebastian tidak akan menghilang.
Itu yang ia butuhkan. Sebuah tanda yang tidak bisa Sebastian abaikan setiap kali melihat cermin. Pengingat, terukir di kulitnya, bahwa Valentina Mahendra telah berhenti menjadi perabot.
Ia tidak menoleh lagi.
Bab 3: Kunci Hotel
Lorong Kediaman Mahendra memanjang seperti kerongkongan gelap. Valentina berjalan menempel pada dinding, satu tangan menyentuh ubin dingin agar tidak kehilangan keseimbangan. Kakinya masih gemetar. Bau mesiu meresap ke rambutnya, pakaiannya, sampai ke bawah kuku.
Ia harus sampai ke kamar. Menutup pintu. Duduk di tempat tidur dan berpikir. Tiga puluh hari, dan belum satu pun gagasan tentang bagaimana memakainya.
"Penampilanmu kacau sekali."
Suara itu datang dari kegelapan di sebelah kirinya.
Valentina berhenti mendadak. Tangannya mengepal karena naluri. Otot lehernya menegang sebelum otaknya sempat memproses apa yang ia lihat.
Seorang pria bersandar pada bingkai pintu samping, lengan terlipat, setengah senyum di bibir. Ia mengenakan kemeja linen putih dengan beberapa kancing atas terbuka, celana gelap, sepatu tanpa kaus kaki. Rambutnya berantakan, seperti baru bangun tidur siang atau memang tidak peduli untuk menyisirnya. Dan wajahnya identik dengan Sebastian Mahendra.
Identik. Sama persis.
Tetapi senyumnya berbeda. Di tempat Sebastian mengerut, pria ini melengkung. Di tempat Sebastian mengeraskan rahang, pria ini membiarkannya santai. Mata gelap yang sama, tetapi tanpa es. Setidaknya begitulah tampaknya.
"Satria," kata Valentina.
Adik kembar Sebastian melepaskan diri dari bingkai pintu dengan gerakan lentur, tanpa tergesa.
"Aku dengar tembakan," katanya, nadanya ringan, nyaris geli, seolah tembakan di rumah itu hanya kejadian kecil. "Kena?"
Valentina tidak menjawab. Satria memiringkan kepala dan mempelajarinya dengan perhatian yang sama sekali tidak mirip Sebastian. Sebastian menatap untuk menilai. Satria menatap untuk memahami. Atau agar Valentina percaya ia sedang mencoba memahami.
"Ayo," kata Satria, memberi isyarat dengan dagu ke ujung lorong. "Luka itu harus dirawat."
"Luka apa?"
Satria maju selangkah dan menyentuh leher Valentina dengan ujung jari. Valentina mundur, tetapi pria itu sudah menarik tangannya. Di ujung telunjuknya ada noda merah muda. Bekas laras pistol.
"Itu," katanya. "Ada es di kamarmu?"
"Aku tidak butuh es."
"Kamu butuh es, butuh air, dan butuh seseorang yang tidak menatapmu seperti masalah yang harus diselesaikan." Satria memasukkan tangan ke saku dan menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa Valentina klasifikasikan. "Aku tidak seperti dia, Valentina."
Kalimat itu tergantung di antara mereka. Valentina ingin mempercayainya. Nalurinya menyuruh sebaliknya.
Mereka berjalan bersama sampai pintu kamar Valentina. Satria bersandar pada dinding lorong saat ia membuka pintu. Ia tidak masuk. Tidak meminta izin untuk masuk. Ia tetap di sana, tangan di saku, setengah senyum terpasang, menunggu.
"Aku tahu soal pernikahan itu," kata Satria.
Valentina berhenti dengan tangan di gagang pintu.
"Bagaimana?"
"Aku tahu semua yang terjadi di rumah ini. Perbedaan antara Sebastian dan aku adalah dia memutuskan untukmu, sementara aku memberimu pilihan."
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya. Kartu plastik putih berlogo hotel: St. Regis, ibu kota. Kunci magnetik.
"Alexander Raharja menginap di suite presidensial," kata Satria. "Sang senator. Orang yang bisa mengubah situasimu jika kamu punya akses kepadanya."
Valentina menatap kartu itu tanpa mengambilnya.
"Kamu menyuruhku menemuinya di hotel?"
"Aku mengatakan bahwa jika ada orang yang bisa membantumu membatalkan pernikahan itu tanpa membuat Grup Mahendra kehilangan aliansi, orang itu Alexander Raharja." Satria memutar kartu di antara jemari. "Dia punya bobot politik untuk menegosiasikan alternatif. Sebastian tidak mendengarkan dia, tetapi Sebastian juga tidak bisa mengabaikannya."
"Lalu kuncinya?"
"Agar kamu tidak perlu lewat resepsionis." Satria menahan tatapannya. "Aku tidak memaksamu melakukan apa pun, Valentina. Aku hanya membukakan pintu. Secara harfiah."
Ia menyodorkan kartu itu. Valentina mengambilnya. Plastik itu hangat oleh panas saku Satria.
"Kenapa kamu membantuku?" tanyanya.
Satria mengangkat bahu dengan kewajaran yang terasa terlalu terlatih.
"Karena kakakku pantas diberi bukti bahwa dia tidak bisa mengendalikan dunia. Dan karena kamu pantas mendapat sesuatu yang lebih baik daripada dijadikan alat tukar."
Kedengarannya bagus. Terlalu bagus. Kata-kata Satria seperti sepiring makanan hangat setelah tiga hari tidak makan: tak tertahankan dan mencurigakan sekaligus.
"Pikirkan saja," kata Satria. Ia mundur selangkah, memberi Valentina ruang. "Tidak perlu buru-buru. Yah, sebenarnya perlu. Kamu punya tiga puluh hari. Tapi malam ini, istirahatlah."
Ia berbalik dan mulai menjauh menyusuri lorong. Langkahnya tanpa suara di atas lantai terakota. Sepatu tanpa kaus kaki, tanpa tergesa, seperti orang yang berjalan-jalan di rumahnya sendiri tengah malam karena tidak punya hal lain untuk dilakukan.
Valentina masuk ke kamar dan menutup pintu. Ia duduk di tepi ranjang dengan kartu hotel di antara jemarinya. Ia memutar kartu itu, mengamatinya. Suite presidensial. Alexander Raharja. Senator yang bisa menjadi penyelamatnya atau masalah berikutnya.
Ia meletakkan kartu itu di meja samping tempat tidur dan membungkuk untuk melepas sepatu. Saat itulah sebuah gerakan di balik jendela menarik perhatiannya.
Taman dalam kediaman diterangi lentera besi tempa. Di antara pohon jeruk, sesosok pria tinggi berjalan menuju pintu utama. Usianya sekitar tiga puluh, mengenakan kacamata berbingkai tipis dan setelan gelap yang jatuh di tubuhnya seolah dijahit langsung di sana. Di tangan kirinya ada tas kerja kulit. Posturnya tegak namun santai, postur seseorang yang tidak perlu memaksakan diri karena ruang terbuka sendiri di hadapannya.
Pria itu berhenti sesaat, seperti merasakan ada yang memperhatikannya. Ia menoleh ke jendela kamar Valentina. Cahaya lentera menerangi wajahnya: kulit sawo matang terang, rahang tegas, mata gelap di balik lensa. Tatapannya bertemu tatapan Valentina selama dua detik, tiga, lalu ia kembali berjalan tanpa mempercepat langkah ataupun mengubah arah.
Ia menghilang di sudut taman.
Valentina tetap menatap ruang kosong tempat pria itu tadi berdiri. Ia tidak tahu siapa orang itu. Tetapi sesuatu dalam cara pria itu menatapnya, tanpa terkejut, tanpa penasaran, seolah sudah tahu Valentina akan berada di sana, membuat bulu halus di lengannya meremang.
Ia mengambil kartu hotel dari meja samping dan menggenggamnya erat.
Pintu kamarnya terbuka tanpa peringatan.
Sebastian berdiri di ambang pintu. Lengan kanannya dibalut kasa darurat yang sudah mulai ternoda merah. Dasi dilonggarkan. Jas terlipat di lengan kiri. Matanya menyapu kamar dengan cepat: ranjang, sepatu di lantai, jendela yang terbuka, lalu berhenti pada tangan Valentina.
Pada kartu putih St. Regis.
Ekspresi Sebastian berubah. Rahangnya terkunci. Urat di lehernya menonjol di bawah kulit.
"Dari mana kamu mendapatkan itu?" Suaranya rendah, terkendali, berbahaya.
Valentina menutup tangan di atas kartu itu.
Dan untuk kedua kalinya pada malam yang sama, suhu kamar turun sepuluh derajat.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!