Pukul tiga sore, suasana di SMA Gemilang mulai sepi. Seorang gadis masih duduk sendirian di halte depan sekolah. Kedua kakinya berayun pelan, sementara pandangannya sesekali mengarah ke jalan raya, berharap seseorang segera datang menjemputnya.
"Kak Owen mana sih", gumamnya kesal.
Ia menoleh ke arah gerbang sekolah yang kini sudah hampir kosong.
"Udah sepi lagi...."
Lily mengembuskan napas panjang.
Ting.. Ting..
Suara notifikasi pesan masuk membuatnya segera merogoh saku rok dan mengambil ponselnya.
📱Kak Owen 🌱🌺📱
- Duh kakak lupa ngabarin, kalo kakak pulang malem
- Maaf ya nggak bisa jemput kamu jadinya
"Bagus... setelah nunggu tiga puluh menit, baru ngabarin," gerutu Lily. "Tau gitu tadi aku langsung pesan taksi online aja."
Ia pun membalas pesan itu.
^^^Iya kak nggak papa -^^^
^^^Biar Lily pesen taksi online aja -^^^
- Kamu lagi sama Wafa nggak dek?
^^^Wafa udah pulang duluan kak -^^^
^^^Katanya bareng Malik -^^^
- Kalo gitu kamu minta jemput Rafa aja dek
- Dari pada dia nongkrong nggak jelas
^^^Nggak deh kak takut -^^^
- Biar kakak yang chat dia
^^^Nggak usah kak -^^^
- Tunggu
Lily menatap layar ponselnya dengan gelisah.
"Ih, Kak Owen nyebelin banget, sih," keluhnya sambil mengacak rambut sendiri.
Di sisi lain, Owen sudah lebih dulu menghubungi adik pertamanya.
📱Adek 1📱
- Raf jemput Lily gih
^^^Gue sibuk -^^^
^^^Biasanya juga sama Lo -^^^
- Gue lagi ada acara Raf, sibuk yang Lo maksud cuma nongkrong kan
- Tolong kerja samanya lah
- Lagian kalo papi juga nggak sibuk, gue nggak akan minta tolong ke Lo
^^^ Hem -^^^
Beberapa detik kemudian, ponsel Lily kembali berbunyi.
📱Kak Owen 🌱🌺📱
- Kamu masih di sekolah kan dek?
^^^Iya kak -^^^
- Rafa otw ke tempatmu
^^^ Aku takut kak -^^^
- Udah tenang aja
- Kalo dia marahin kamu, nanti langsung laporin ke kakak
- Biar kakak marahin balik
^^^ Iya kak -^^^
"Enggak bisa tenang, Kak," gumam Lily pelan. "Bang Rafa kalau marah udah kayak mau makan orang."
Sepuluh menit kemudian, sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depan halte. Pengendaranya mengenakan jaket hitam dengan helm full face senada.
"Nih, pakai", Rafa menyodorkan sebuah helm hitam kepada Lily.
Dengan sedikit kikuk, Lily menerimanya lalu mengenakannya.
'Ni bocah kenapa diem aja? Biasanya juga paling cerewet. Apa gara-gara kejadian kemarin?' batin Rafa.
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada satu pun percakapan di antara mereka. Hanya suara deru mesin motor yang memecah keheningan. Lily sesekali mengembuskan napas, memainkan bibirnya ke kiri dan ke kanan karena bosan.
Begitu rumah mereka mulai terlihat dari kejauhan, wajah Lily langsung berbinar.
'Akhirnya...'
Motor berhenti di halaman rumah. Lily segera turun dan melepas helmnya.
"Makasih, Kak, udah mau nganterin Lily pulang", Ia mengulurkan helm itu kembali kepada Rafa.
"Hem. Gue balik nongkrong lagi. Jangan lupa pintunya dikunci."
"Iya, Kak. Hati-hati."
Tanpa membalas lagi, Rafa langsung memutar gas motornya dan melaju meninggalkan rumah.
Lily membuka pintu rumah dan langsung melepas sepatunya.
"Wafa!" teriaknya sambil menoleh ke berbagai sudut rumah.
Namun tak ada jawaban.
"Wafaa!"
Masih sunyi.
Lily menghela napas lalu berjalan menuju kamar adiknya. Pintu kamar sedikit terbuka. Ia mengintip ke dalam, tetapi kamar itu kosong.
"Ke mana lagi, tu bocah?" gumamnya pelan.
Karena tak menemukan siapa pun, Lily memilih masuk ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh di atas kasur sambil mengambil ponsel dari saku roknya.
Tanpa berpikir lama, ia membuka grup keluarga.
📱 Keluarga Sayang Mami📱
^^^Wafa, lo ke mana sih? : Lily^^^
Ade tiri : Kenapa? Lo kangen sama gue ya? 😏
^^^Najiss : Lily^^^
^^^Gue di rumah sendiri, tau : Lily^^^
^^^Buruan pulang! : Lily^^^
Ade tiri : Ogah
^^^@Papi 💸 : Lily^^^
ADEKK 🦕 : Buruan pulang, Bang. Kasihan Kak Lily di rumah sendirian
^^^Adek 😘😘 : Lily^^^
Ade tiri : Dih, najis. Pake emot begitu segala
Ade tiri : OTW nih
ADEKK 🦕 : Iri bilang, bos tet tet tet 🤙🏻🤙🏻
Ade tiri : Bang Owen emang belum pulang, Ly?
^^^Belum, katanya pulang malam : Lily^^^
^^^Dek, masih lama pulangnya? : Lily^^^
ADEKK 🦕 : Masih Kak, Adek lagi nemenin Papi beli rumah
Ade tiri: Rumah?
Papi 💸 : Rumah-rumahan LEGO 😌
Ade tiri: Itu mah Ell yang mau, kan?
ADEKK 🦕: Emang 😁
^^^Wafa, buruan : Lily^^^
Ade tiri : Iya, Lampir
Ade tiri : Sabar napa
Papi 💸 : Wafa!
Ade tiri : Iya iya Pih iyaaa
Papi 💸 : Buruan pulang
Papi 💸 : Takut ada yang culik anak gadis Papi
ADEKK 🦕 : Iya, Bang @Wafa
Bang Rafa : Lagian, siapa juga penculik yang mau culik dia?
Ade tiri : Nah, iyakan Bang
Ade tiri : Penculik juga pilih-pilih kali
Ade tiri : Lagian Lily makannya banyak kann
Papi 💸 : Kalian berdua, ya....
Papi 💸 : Rafa, kamu juga pulang
Papi 💸 : Jangan asyik nongkrong sampai lupa waktu
ADEKK 🦕 : Wkwkwk... kena marah 🤣
Ade tiri : Mampu lu, Bang 🤙🏻🤭
Bang Rafa : Iya, ini pulang, Pih
Papi 💸 : Jagain adikmu nanti
Bang Rafa : Hemm
Lily berjalan menuju meja belajarnya. Ia menarik kursi, lalu duduk sambil mengambil sebuah kamera yang tersimpan rapi di atas meja.
Jarinya mengusap perlahan permukaan kamera itu.
"Coba aja Mami masih ada...."
Tatapannya menerawang. Ingatan tentang mendiang ibunya kembali memenuhi benaknya.
Di saat yang sama, Wafa baru saja tiba di rumah. Mengetahui Lily berada di kamar, senyum jahil langsung terukir di wajahnya.
Pelan-pelan ia mengendap menuju pintu kamar Lily.
Satu...
Dua...
Tiga...
"DOR!"
"Astaga!"
Lily refleks memeluk kameranya erat karena terkejut.
"Wafa! Bener-bener ya lo!"
"Hahahaha!"
Wafa tertawa terbahak-bahak sampai berguling di lantai.
Namun tawanya perlahan mereda saat melihat Lily hanya diam.
"Lo kenapa, Ly?"
Tak ada jawaban.
"Weh... jangan diem aja, Tuak."
Lily tetap tak menanggapi. Ia hanya menatap kamera di tangannya sambil tersenyum tipis.
Wajah Wafa yang semula jahil berubah menjadi lebih lembut.
"Lo kangen Mami, ya?"
"Enggak," jawab Lily cepat.
"Terus kenapa ngelamun sambil mainin kamera peninggalan Mami?"
Lily justru tersenyum usil.
"Kepo banget, sih?"
Wafa membelalakkan mata.
"Eh, jangan melotot. Nanti matanya copot loh"
"Gue senggol juga, nih!"
Lily terkekeh pelan.
"Ini lagi lihat foto-foto lama. Nih, waktu lo sama Ell masih kecil."
Ia menunjukkan layar kamera kepada Wafa.
Wafa ikut melihat beberapa foto lama mereka bersama sang ibu.
Untuk sesaat, keduanya terdiam.
Lily kemudian menoleh sambil menutup hidungnya.
"Udah sana mandi. Bau lo kayak kaus kaki yang nggak dicuci tujuh tahun."
"Hidung lo aja yang bermasalah. Cowo sewangi gue dibilang bau."
Mata Wafa tiba-tiba berbinar. Sebuah ide jahil muncul di kepalanya.
Senyumnya melebar.
Tanpa aba-aba, ia mengangkat lengannya lalu mendekatkan ketiaknya ke arah wajah Lily.
"Hueekk!", Lily spontan memalingkan wajah sambil mual.
"Wafa! Bener-bener ya lo!"
Wafa langsung berlari keluar kamar.
"Jangan lari, woy!" teriak Lily sambil mengejarnya.
"Kejar aja kalau lo bisa!"
Mereka berdua berlari menyusuri lorong rumah sambil saling tertawa.
Namun...
Brukk!
"Aduh!"
Tubuh Wafa terpental ke belakang setelah menabrak seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kalau jalan tuh pakai mata, Dek!" kesal Rafa, sengaja menekankan kata dek.
Wafa yang masih terduduk di lantai langsung meringis sambil mengusap kepalanya.
"Ck, elah, Bang. Kalau jalan pakai mata, yang ada mata gue perih."
"Wafa!", Lily langsung menjewer telinga adiknya hingga Wafa meringis kesakitan.
"Aduh... aduh... sakit, Ly!"
Lily segera melepaskan jewerannya.
"Duh, maaf, Bang. Wafa nggak sengaja," ucapnya berusaha membela sang adik.
"Enggak kok, Bang. Sebenernya gue emang sengaja pengen nabrak elo."
Wafa masih sempat bercanda.
'Emang bocah edan', batin Lily kesal.
"Wafa, lo nggak kapok? Kemarin gara-gara lo kita jadi dimarahin Bang Rafa", Lily berbisik pelan di telinga Wafa, meski sepertinya Rafa masih bisa mendengarnya.
Setelah mendengar bisikan itu, Wafa langsung memasang senyum selebar mungkin.
"Duh... maaf ya, Bang"
"Sekali lagi, maaf ya, Bang. Kalau gitu kita permisi dulu", Lily buru-buru menarik lengan Wafa hendak pergi.
"Bentar"
Suara Rafa membuat keduanya langsung membeku.
"Abang pengen ngomong sama kalian"
'Mati lah kita...', batin Lily.
Jantungnya berdegup semakin cepat. Ia tak ingin kejadian kemarin terulang lagi.
"Ayo, ke ruang tamu"
Rafa berjalan lebih dulu. Lily dan Wafa saling pandang sebelum akhirnya mengikuti langkah kakak mereka.
Sesampainya di ruang tamu, Wafa tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Lo mau ngomong apa sih, Bang?"
Rafa mengembuskan napas pelan.
"Gue... pengen minta maaf sama kalian"
Lily dan Wafa sama-sama terkejut.
"Maaf ya. Kemarin gue lagi capek banget, jadi nggak bisa ngontrol emosi"
Suasana mendadak hening.
"Iya, Bang. Santai aja. Biasanya juga lo emang begitu", Wafa menjawab santai sambil nyengir.
Lily langsung melotot ke arah adiknya.
"Wafa!"
"Apa? Kan emang bener", balasnya seolah tak memiliki dosa.
Lily hanya bisa menggeleng pelan, lalu kembali menatap Rafa. "Kita juga minta maaf, Bang. Kemarin udah ngerusakin helm Abang."
Rafa mengangguk kecil.
"Udah. Yang penting jangan diulang lagi"
Belum sempat suasana menjadi canggung, suara seseorang terdengar dari arah pintu.
"Nah, gitu kan enak"
Jaya masuk ke dalam rumah sambil tersenyum. Di belakangnya, Ell ikut melangkah masuk sambil membawa kantong belanja berisi kotak LEGO.
"Udah jangan berantem-berantem lagi. Papi maunya kalian akur terus"
"Kak Lily!", Ell berlari menghampiri kakak perempuannya lalu langsung memeluknya erat.
Lily tersenyum dan membalas pelukan adik bungsunya itu.
"Siapa, Pih?", tanya Rafa ketika melihat seorang anak laki-laki seusia Ell ikut masuk bersama mereka.
"Temennya Ell," jawab Jaya. "Mami sama papinya lagi ada kerjaan di luar kota, jadi mereka minta tolong ke Papi buat jagain dia beberapa hari."
"Namanya Kino," ujar Ell sambil berdiri di samping temannya.
"Hai, Kino," sapa Lily ramah.
"Hai, Kak," balas Kino sedikit malu.
"Lo sekelas sama Ell?" tanya Wafa.
"Iya, Kak"
"Dia bakal di sini sampai kapan, Pih?" tanya Wafa lagi.
"Sekitar tiga hari. Minggu sore orang tuanya baru pulang."
"Lama banget. Dikata rumah kita tempat penitipan anak kalik?" gerutu Wafa.
"Ck, bener-bener nih bocah. Kalau ngomong nggak bisa direm", Rafa langsung menutup mulut Wafa dengan tangannya sebelum menyeret adiknya itu menuju tangga.
"Mmm... lepasin, Bang!" protes Wafa dengan suara yang terdengar samar.
Ell hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Jangan didengerin ya, Kino. Bang Wafa emang begitu orangnya"
Kino mengangguk pelan.
"Udah, udah. Nih, tadi Papi beliin makan. Sana makan dulu", Jaya meletakkan beberapa kantong makanan di atas meja makan.
"Iya, Pih," jawab Lily.
"Ayo, Kino. Kita makan," ajak Ell.
🌷🌷🌷
Selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang tamu.
Ell, Kino, dan Wafa tampak asyik menyusun LEGO yang baru dibeli Jaya. Sementara itu, Lily duduk di sofa sambil membuka ponselnya.
Ia mengirim pesan kepada Owen.
📱 Kak Owen 🌱🌺📱
^^^Kak... -^^^
^^^ Kok cuma centang satu, sih? -^^^
^^^Kakak di mana? -^^^
^^^Apa acaranya belum selesai? -^^^
Namun, tak ada balasan. Lily mulai menggigit bibirnya karena khawatir.
"Kenapa, Dek?" tanya Rafa yang sejak tadi memperhatikannya. "Abang lihat dari tadi kamu gelisah."
"Ini, Bang. Aku chat Kak Owen, tapi cuma centang satu. Biasanya kalau lagi ada acara juga masih bisa dihubungi."
"HP-nya lowbat kali," jawab Rafa, berusaha menenangkan.
Tak lama kemudian...
"Owen pulang!"
"Nah, tuh orangnya," ucap Rafa.
Lily langsung berdiri dan menghampiri kakak sulungnya.
"Kak, HP kakak habis baterai ya?"
Owen mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Dek. Emangnya kamu chat kakak?"
"Iya. Lily khawatir"
"Iya, Bang," sahut Rafa sambil menyeringai. "Dari tadi dia panik nyariin lo"
Owen tertawa kecil. "Maaf ya, adikku sayang", Ia mengusap lembut rambut Lily.
Lily tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Owen. "Kak Owen udah makan?"
"Udah. Kakak sempat makan di jalan tadi". Owen melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Udah malam. Besok kalian sekolah. Sana istirahat"
"Iya, Kak"
🌷🌷🌷
Di kamar Lily.
Ting!
Ponselnya kembali berbunyi.
Lily mengerutkan kening saat melihat pengirimnya adalah nomor yang tidak dikenal.
"Nomor siapa, ya?"
Ia membuka pesan itu.
📱Nomor Tidak Dikenal📱
- Halo, Kak
- Ini Kino, temennya Ell yang tadi
Lily segera membalas.
^^^Oh iya, Dek -^^^
- Save ya, Kak
^^^ Iya, Dek -^^^
Setelah membalas pesan Kino, Lily langsung membuka chat dengan Ell.
📱 ADEKK 🦕📱
^^^Dek -^^^
- Iya, Kak?
^^^Kamu yang kasih nomor Kakak ke Kino ya? -^^^
- Iya, Kak
- Tadi dia bilang mau minta nomor Kak Lily
- Ya udah Ell kasih aja
Lily menghela napas pelan.
^^^Kenapa nggak izin dulu sama Kakak? -^^^
Beberapa detik kemudian...
- Maaf, Kak
Melihat balasan itu, rasa kesal Lily langsung menghilang.
^^^Iya, Kakak maafin -^^^
Tapi besok-besok kalau ada orang yang minta nomor Kakak, Ell harus izin dulu ya
^^^Kalau Kakak udah ngizinin, baru boleh dikasih^^^
- Maafin Ell ya, Kak
- Kakak nggak marah, kan?
Lily tersenyum tipis.
^^^Enggak, adek manis -^^^
^^^Udah malam, tidur gih -^^^
- Iya, Kak.
- Selamat tidur, Kak Lily. 🤗
^^^🩷🩷 -^^^
📱 Kino temennya adek📱
- Kakak lagi ngapain?
^^^Lagi ngerjain tugas -^^^
- Kak...
- Besok kita jalan-jalan yuk, Mumpung libur
- Tadi aku ngajak Ell, terus Ell mau
- Tapi kata Ell nggak boleh jalan-jalan sendiri. Katanya harus ada kakak yang nemenin.
^^^Pagi atau sore? -^^^
- Sore aja nggak apa-apa, Kak
Lily terdiam sesaat. Ia teringat besok sore sudah berjanji menemani Owen ke perpustakaan.
^^^Maaf ya, Kakak nggak bisa -^^^
^^^Besok sore Kakak pergi sama Kak Owen -^^^
- Yahhh....
- Kalau gitu besok pagi aja, Kak
- Tapi kalau aku sama Ell belum bangun, besok pagi dibangunin ya
^^^Iya -^^^
- Selamat malam, Kak Lily
^^^Malam Kino -^^^
Lily menaruh ponselnya di atas nakas. Belum sempat memejamkan mata, sebuah notifikasi grup keluarga kembali berbunyi.
📱 Keluarga sayang mami 📱
ADEKK 🦕: Besok kita jalan-jalan yuk, Kak Lily
^^^Iya, Dek : Lily^^^
Bang Rafa : Ikut dong
ADEKK 🦕: Asyik! Bang Rafa ikut!
ADEKK 🦕: Ayo semuanya ikut
Ade tiri : Ogah ah, males gue
Ade tiri : Besok temen-temen gue mau main ke sini
kak owen 🌱🌺 : Temenmu ke sini pagi?
Ade tiri : Agak siangan sih
^^^Lily :^^^
^^^Kalau gitu lo harus ikut jalan-jalan juga, Wapa^^^
Ade tiri : Nama gue W-a-f-a
Ade tiri : Bukan Wapa
Bang Rafa : Sama aja kali
Ade tiri : Beda, Rapa
Ade tiri : Rapa kalau ditambah huruf T jadi apa?
Ade tiri : Jadi Rapat
Ade tiri : Awokawok
Bang Rafa : Kurang ajar lu
kak Owen 🌱🌺: Weee 🤣
kak Owen 🌱🌺: Dijaga ketikannya
Papi 💸: Wafa, gue potong uang saku lu
Bang Rafa : Syukurin
Ade tiri : Yah, Pih....
Ade tiri : Bercanda doang
Grup kembali ramai oleh balasan emoji tertawa. Tak lama kemudian, Jaya kembali mengirim pesan.
Papi 💸 : Udah, udah
Papi 💸 : Rame banget sih
Papi 💸 : Besok pagi Papi harus pergi ke luar kota, pulangnya sore
^^^Ih, Pih : Lily^^^
^^^Papikan dititipin Kino : Lily^^^
^^^Kenapa malah Papi yang pergi? : Lily^^^
Ade tiri : Iya tuh.
Ade tiri : gimana sih tua
Papi 💸: Maaf ya, anak-anak
Papi 💸: Papi juga baru dapat jadwal mendadak
kak Owen 🌱🌺: Iya, Pih.
kak Owen 🌱🌺: Nggak apa-apa, tenang aja ada Kakak kok
Papi 💸: Papi titip adik-adik ya, Kak
Papi 💸: Cuma Kakak yang bisa Papi percaya
Melihat pesan itu, Lily langsung mengerucutkan bibir.
^^^Oh... : Lily^^^
^^^Cuma Kak Owen ya, Pih? : Lily^^^
^^^Jadi Lily nggak bisa dipercaya, nih? : Lily^^^
Papi 💸: Ihh... Dia ngambek
Papi 💸: Lily sayang, Papi titip Adek Ell ke kamu ya
Ade tiri : Gitu doang baper elah,,
Lily hanya membalas pesan Wafa dengan emoji menjulurkan lidah.
Papi 💸: Udah malam, pada tidur gih.
^^^Iya, Pih : Lily^^^
^^^Kayaknya Ell udah tidur : Lily^^^
^^^Selamat istirahat semuanya : Lily^^^
Kak Owen 🌱 🌺: Mimpi indah semuanya.
Lily meletakkan ponselnya di samping bantal. "Besok pasti seru," gumamnya pelan sebelum akhirnya memejamkan mata.
Keesokan Harinya pukul enam pagi, suasana di rumah tengah masih diselimuti udara dingin. Cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah jendela, menerangi ruang keluarga yang perlahan mulai dipenuhi aktivitas.
Jaya telah bersiap dengan pakaian kerjanya. Setelah memastikan semua keperluannya lengkap, ia menghampiri Owen dan Lily yang sedang duduk di ruang makan.
"Papi berangkat ya, jagain adik-adiknya" pesan Jaya kepada Owen sambil menepuk pelan bahunya. "Kalau pergi, jangan lupa pintu rumah dikunci."
"Iya, Pih," jawab Owen mengangguk.
Jaya kemudian beralih menatap Lily. Senyum hangat terukir di wajahnya sebelum ia mengecup lembut puncak kepala gadis itu.
"Kalau begitu, Papi berangkat."
"Hati-hati, Pih!" seru Lily sambil melambaikan tangan.
Jaya membalas lambaian itu dengan senyum tipis sebelum melangkah keluar rumah. Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar menjauh, menandakan ia benar-benar telah berangkat.
Owen mengembuskan napas pelan, lalu menoleh kepada Lily. "Dek, tolong bangunin anak-anak, ya. Kakak mau bikin sarapan dulu."
"Siap, Kak," jawab Lily semangat.
Tanpa membuang waktu, Lily segera menaiki tangga menuju lantai dua. Lorong rumah masih sunyi. Ia berjalan ke kamar pertama yang berada di dekat tangga.
Kamar Wafa.
Lily sudah tahu, membangunkan Wafa adalah misi paling sulit setiap pagi.
Ia membuka pintu perlahan, lalu menghampiri ranjang tempat Wafa masih meringkuk di balik selimut.
"Wafa... bangun!" ucap Lily sambil menggoyang pelan bahu Wafa.
"Hmm... lima menit lagi..." gumam Wafa dengan mata yang masih terpejam rapat.
Lily menghela napas panjang. "Buruan bangun. Habis itu sarapan. Kita mau jalan-jalan, loh."
Namun, Wafa sama sekali tidak bergeming. Bahkan napasnya kembali terdengar teratur, seolah sudah tertidur lagi.
Lily memutar bola matanya kesal.
"Oke... jangan salahin gue", Tanpa ragu, ia menjepit kedua lubang hidung Wafa.
Beberapa detik kemudian...
"Hah—!"
Wafa langsung tersentak bangun sambil menarik napas panjang.
"Mau bunuh gue, lu?!" bentaknya dengan wajah kesal.
Lily malah terkekeh pelan. "Lagian, lo susah banget dibangunin. Buruan turun, sarapan udah mau siap."
Selesai berkata begitu, Lily langsung keluar dari kamar sebelum Wafa sempat membalas omelannya.
Ia berjalan menuju kamar berikutnya yang berada tepat di sebelah kamar Wafa.
Tok... tok... tok...
"Dek, bangun. Udah jam enam."
Tak lama kemudian, pintu terbuka dari dalam. Ternyata yang membukanya adalah Kino, yang sudah rapi meski rambutnya masih sedikit berantakan.
"Kita udah bangun, Kak. Ell lagi di kamar mandi, cuci muka," jelas Kino.
"Oke. Kalau Ell udah selesai, langsung turun buat sarapan, ya."
"Iya, Kak."
Lily mengangguk, lalu kembali melangkah menyusuri lorong menuju kamar terakhir di ujung lantai dua. Kamar dengan pintu berwarna hitam yang selalu tertutup rapat.
Baru beberapa langkah berjalan, suara Kino kembali memanggilnya.
"Bentar, Kak."
Lily menghentikan langkahnya dan menoleh. "Kenapa, Dek?", tanya Lily.
Kino tampak menggaruk tengkuknya, sedikit ragu untuk bertanya.
"Kakak... punya pacar?"
Pertanyaan itu membuat Lily mengedip beberapa kali. Ia menatap Kino dengan wajah heran, lalu tersenyum tipis.
"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"
Suasana pagi yang tadinya tenang mendadak terasa sedikit canggung. Kino hanya tersenyum kecil, seolah memang sudah lama ingin menanyakan hal itu.
Belum sempat Lily menjawab pertanyaan Kino, tiba-tiba sebuah suara menyela dari belakang.
"Pakai nanya? Ya jelas enggak lah, No. Mana ada cowok yang bakal suka sama Lily."
Wafa muncul dengan rambut masih acak-acakan. Ia menyeringai lebar sebelum tertawa keras, seolah baru saja melontarkan lelucon paling lucu pagi itu.
"Hahaha!"
Kino langsung mengernyit tidak setuju. "Pasti ada lah, Bang. Kak Lily itu baik, perhatian... terus cantik juga."
Ucapan itu membuat pipi Kino perlahan memerah hingga semerah tomat. Ia bahkan menghindari tatapan Lily karena malu dengan perkataannya sendiri.
Sementara itu, Lily hanya terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka Kino akan mengatakan hal seperti itu. Suasana yang tadinya sudah canggung bertambah semakin canggung lagi.
Di sisi lain, Wafa masih tertawa tanpa henti.
"Hahaha... No, No... selera lo unik juga."
"Udahlah, kalian turun sana," ucap Lily sambil mendorong pelan tubuh Wafa menuju tangga.
Belum sempat Wafa membalas, terdengar suara kecil dari dalam kamar.
"Kak Lily... Ell laper...", Ell keluar dari kamar sambil mengusap matanya yang masih mengantuk. Kedua tangannya memegangi perut yang terasa kosong.
Lily tersenyum lembut.
"Ade bayi lapar, ya? Sana turun. Kak Owen udah masak sarapan."
"Oke, Kak," jawab Ell ceria.
Tak lama kemudian, Wafa, Kino, dan Ell berjalan menuruni tangga menuju ruang makan.
Lorong lantai dua kembali sunyi. Kini hanya Lily seorang diri yang masih berdiri di sana. Pandangannya beralih ke pintu kamar paling ujung.
Kamar Rafa.
Langkahnya terasa berat. Entah mengapa, setiap kali berada di depan kamar itu, dadanya selalu dipenuhi rasa gugup. Lily menarik napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu perlahan.
Tok... tok... tok...
"Bang Rafa..."
Panggilannya terdengar pelan dari balik pintu. Namun, tidak ada jawaban. Lily kembali mengetuk.
"Bang..."
Tetap hening.
Ia menundukkan kepala sambil mengembuskan napas pelan.
"Kok gue jadi takut gini, ya? Huh... tenang, Lily. Kemarin kan kita udah saling minta maaf..."
Pikiran Lily perlahan kembali pada kejadian waktu itu.
Flashback
Malam hari, pukul 20.00 WIB
"Wafa! Balikin, nggak!", Lily berteriak sambil mengejar Wafa yang berlari mengelilingi ruang tamu.
Di tangan Wafa terdapat sebuah kamera tua peninggalan mami yang sengaja ia ambil untuk menggoda Lily.
"Wafa! Kamu ini suka banget cari gara-gara sama kakak cewekmu, ya?", tegur Jaya dari sofa.
Wafa hanya menoleh sambil tertawa jahil. "Ayo kejar gue, Ly! Lo lambat banget!"
"Liat aja nanti!", Lily terus mengejar tanpa memedulikan keadaan sekitar.
Tiba-tiba...
Wafa berhenti mendadak. Dan karena terlalu fokus mengejarnya, Lily tidak sempat mengerem langkah.
Brukk!
Tubuh Lily menabrak punggung Wafa. Membuat keduanya langsung terjatuh ke lantai.
Bruuuk!
Gruduk!
Suara benda keras ikut terjatuh.
"Aduh... bokong gue...", Wafa meringis sambil berusaha bangkit.
Lily juga mengusap kepalanya yang sedikit terbentur.
Namun, sebelum keduanya sempat berdiri, sebuah suara dingin terdengar. "Kalian bisa nggak sih, jangan bercanda mulu?"
Rafa berdiri beberapa langkah dari mereka. Tatapannya tajam mengarah kepada Lily dan Wafa.
"Nggak", Jawaban santai Wafa justru membuat wajah Rafa semakin gelap.
"Wafa...", Rafa mengusap wajahnya kasar, berusaha menahan emosi. "Helm gue jadi rusak... dan ini gara-gara kalian berdua."
Barulah Lily menyadari. Helm milik Rafa terjatuh dari atas meja dan kini tergeletak di lantai dengan bagian kaca pelindung yang retak.
"Maaf, Kak... kita nggak sengaja," ucap Lily penuh penyesalan.
"Sengaja atau nggak, tetap aja helm gue rusak!" bentak Rafa.
Wafa malah mengangkat bahu. "Halah... helm doang."
"HELM DOANG, KAMU BILANG?!", Suara Rafa menggema memenuhi ruang tamu.
Semua orang langsung terdiam.
"Udah, Bang. Jangan marahin adik-adiknya. Nanti Papi beliin yang baru," ucap Jaya berusaha menenangkan.
Rafa menoleh perlahan ke arah ayahnya. Senyumnya tipis, tetapi penuh kepahitan.
"Ganti yang baru?"
Ia tertawa pelan.
"Uang satu miliar pun nggak bakal bisa ganti helm ini, Pih."
Tak ada lagi yang mampu berkata-kata. Dengan rahang mengeras menahan amarah dan kesedihan, Rafa langsung berbalik menuju kamarnya.
Brak!
Pintu kamar dibanting keras hingga membuat seluruh rumah kembali sunyi. Owen kemudian memanggil kedua adiknya. "Wafa, Lily. Sini."
Keduanya berjalan mendekat dengan wajah tertunduk.
Jaya yang masih bingung ikut bertanya. "Emangnya kenapa? Nggak biasanya Rafa semarah itu."
Owen menghela napas panjang. "Helm itu...", Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Dulu Rafa beli bareng mami."
Ucapan itu membuat Lily membeku. "Apa...?",
Matanya membesar.
Perlahan, air mata mulai menggenang sebelum akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak tahu kalau helm itu memiliki kenangan sedalam itu.
Wafa yang masih merasa kesal justru menunjuk Lily. "Ini gara-gara lo, sih. Gue kan tadi udah berhenti. Kenapa lo nggak ikut berhenti?"
Lily hanya menggigit bibir, tak sanggup membalas.
"Udah," potong Owen tegas. "Jangan saling nyalahin. Ini salah kalian berdua."
Wafa langsung terdiam.
"Mending sekarang kalian ke kamar Bang Rafa. Minta maaf baik-baik," lanjut Jaya.
Lily dan Wafa saling berpandangan, lalu mengangguk pelan. Keduanya berjalan menuju lantai dua. Sesampainya di depan kamar Rafa, Lily mengetuk pintu perlahan.
"Bang... maafin kita."
Tak ada jawaban.
Wafa ikut mengetuk.
"Bang, buka dulu. Kita mau minta maaf."
Tetap sunyi.
Mereka mencoba beberapa kali lagi. Namun Rafa tetap memilih diam. Tak sekali pun pintu kamarnya terbuka.
Lamunan Lily buyar. Kenangan malam itu perlahan menghilang dari benaknya. Ia mengembuskan napas pelan, lalu memutar gagang pintu kamar Rafa.
Ceklek,
Pintu ternyata tidak dikunci. Lily mengintip ke dalam. Kamar itu masih sedikit redup karena tirai belum dibuka. Di atas ranjang, Rafa masih terlelap dengan posisi terlentang, selimut hanya menutupi setengah tubuhnya.
Lily berjalan mendekat.
"Bang... bangun", Ia menggoyang pelan bahu Rafa agar tidak membuat kakaknya itu terkejut.
Rafa mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya perlahan.
"Hmm..."
"Bang, bangun. Abang jadi ikut jalan-jalan, kan?" tanya Lily memastikan.
"Iya, Dek."
Rafa bangkit dan duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap wajah, lalu menggaruk tengkuknya pelan. Wajahnya masih terlihat mengantuk, seolah jiwanya belum sepenuhnya kembali.
"Semua udah nunggu di bawah buat sarapan," ujar Lily. Rafa hanya mengangguk pelan.
"Iya."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Lily keluar dari kamar, memberi Rafa waktu untuk bersiap.
Di Dapur
Aroma nasi goreng memenuhi seluruh ruangan. Semua sudah berkumpul di meja makan, menikmati sarapan buatan Owen.
"Emm... enak banget," puji Kino setelah menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
Ia menoleh ke arah Owen sambil tersenyum. "Bener kata Ell. Kak Owen jago masak", Owen terkekeh pelan sambil menuangkan susu hangat ke beberapa gelas.
"Oh ya? Memangnya apalagi yang sering Ell ceritain ke kamu, Dek?"
Kino berpikir sejenak.
"Ell sering cerita tentang Kak Lily."
"Pasti Ell cerita kalau Lily itu cerewet, cengeng, sama sok cantik, kan, No?", ujar Wafa percaya diri.
"Lah, emang gue cantik", saut Lily dari arah tangga.
Wafa mendecak. "Ih, najis. Cuma gara-gara lo satu-satunya cewek di rumah ini, jadi ngerasa paling cantik."
"Kak Lily memang cantik kok, Bang," sela Ell polos. Lily langsung tersenyum lebar.
"Makasih, adekku sayang", Ia mencubit pelan pipi gembul Ell, lalu mengecupnya dengan gemas.
"Ih... najis," gumam Wafa sambil memalingkan wajah.
Lily melirik jahil.
"Bilang aja lo iri, kan? Lo caper ke gue, tapi orang yang paling gue sayang tetap Ell."
"Diam lo lampir!"
"Lo manggil gue apa tadi?"
Wafa menyeringai puas.
Owen hanya bisa menggeleng sambil menghela napas. "Heran deh sama kalian berdua. Tiap hari pasti ada aja yang diributin."
Baru saat itu Rafa memasuki ruang makan. Ia mengusap pelan pelipisnya yang masih sedikit pusing.
"Kalian lagi?", Tatapannya bergantian mengarah ke Lily dan Wafa. "Ini masih pagi, udah berisik aja."
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat keduanya langsung diam.
"Maaf, Bang," ucap Lily sambil kembali duduk.
"Udah. Makan!"
Mereka pun kembali menikmati sarapan dalam suasana yang jauh lebih tenang.
Beberapa menit kemudian, semua sudah selesai makan.
Owen bersama Rafa mulai membereskan piring kotor. Lily ikut membantu mencuci dan mengeringkannya. Sementara anak-anak yang lain duduk santai di ruang makan.
"Kalian mau jalan-jalan ke mana, emangnya?" tanya Owen.
Kino mengangkat tangan lebih dulu. "Gimana kalau ke taman?"
"Aku setuju!" seru Ell antusias. Karena Ell sudah setuju, yang lain pun ikut menganggukkan kepala.
"Yaudah, ke taman aja," ujar Rafa.
Tak lama kemudian mereka pun bersiap dan berjalan kaki menuju taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah.
Sepanjang perjalanan, suasana dipenuhi obrolan ringan.
Kino berjalan di samping Wafa. "Bang Wafa", panggil Kino.
"Hm?"
"Abang satu sekolah SMA sama Kak Lily, ya?"
Wafa mengangguk malas. "Iya", Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Sebenarnya gue ogah satu sekolah sama dia. Tapi Papi yang maksa. Mau gimana lagi."
"Nggak ada yang nanya alasan, Bang," sahut Ell yang berjalan paling depan.
Semua langsung menoleh ke arah Ell.
Sedetik kemudian...
"Hahaha..."
Tawa pun pecah. Wajah Wafa langsung berubah kesal. "Awas aja lo, Ell!"
Ell malah menjulurkan lidah sambil tertawa kecil. Rafa yang berjalan paling belakang akhirnya bersuara.
"Udah. Jangan ribut di jalan."
"Iya, Bang," jawab mereka hampir bersamaan.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di taman kota.
Hamparan rumput hijau membentang luas, sementara berbagai jenis bunga bermekaran dengan indah. Udara pagi yang sejuk membuat suasana terasa semakin nyaman.
Mata Ell langsung berbinar.
"Eh, lihat deh! Bunga tulipnya cantik banget", Ia menunjuk hamparan bunga tulip berwarna-warni yang tersusun rapi di salah satu sudut taman.
Kino ikut menoleh ke arah bunga-bunga itu. "Iya...", Tatapannya kemudian beralih diam-diam ke arah Lily yang sedang tersenyum menikmati pemandangan.
"Secantik Kak Lily"
Suasana taman yang tadinya tenang seketika berubah riuh setelah Kino mengucapkan kalimat yang membuat Lily sedikit salah tingkah.
"Iya... secantik Kak Lily," ucap Kino sambil tersenyum malu.
"Huek!"
Rafa dan Wafa spontan bersuara bersamaan. Keduanya memasang ekspresi seolah ingin muntah.
"Ih, geli banget," gerutu Wafa sambil memegang perutnya.
"Iya, iya. Mual gue," timpal Rafa tak kalah jahil.
Ell yang sedari tadi memandangi hamparan bunga tulip ikut memetik satu tangkai bunga yang sudah terjatuh di rerumputan. Ia lalu berlari kecil menghampiri Lily dan menyodorkannya.
"Iya kok, Kak Lily memang cantik."
Mendengar perkataan Ell membuat Lily tersenyum hangat sambil menerima bunga itu. "Makasih, Dek."
Wafa kembali berdecak. "Tambah mual gue lihatnya."
Kali ini Lily tidak menanggapi. Ia hanya menatap tajam kedua saudara laki-lakinya hingga tawa Wafa dan Rafa mulai mereda.
Sementara itu, Owen hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis melihat tingkah adik-adiknya yang tidak pernah akur.
Tiba-tiba...
Ting!..
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Rafa.
Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membuka pesan tersebut.
📱 Japin Bloon 📱
Javin
Rap, gue OTW ke rumah lo, ya
Rafa
Lah, kemarin lo bilang nggak bisa
Javin
Selagi ada PS, gue usahain
Rafa
Y
Rafa memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Eh, gue pulang duluan, ya. Temen gue chat, katanya mau main ke rumah."
Owen menoleh. "Berapa orang dek?"
"Satu orang doang bang, Si Japin"
Owen mengangguk, lalu menoleh ke arah Wafa. "Kalau temenmu, Waf? Berapa orang yang datang?"
"Dua orang"
Lily yang sejak tadi menemani Ell dan Kino bermain akhirnya ikut menyela. "Tumben temen kalian yang main ke rumah. Biasanya kalian yang pada pergi"
Rafa terkekeh pelan. "Mumpung Papi lagi nggak di rumah"
Ia lalu menoleh ke arah semua orang.
"Gue duluan, ya"
"Gue ikut, Bang," sahut Wafa. Tanpa menunggu lama, kedua bersaudara itu pun berjalan meninggalkan taman.
Owen memperhatikan punggung mereka yang semakin menjauh.
"Kayaknya nanti rumah bakal rame," gumam Owen pelan.
Ia kemudian menoleh ke arah Lily.
"Dek"
Lily langsung berdiri tegak dan memberi hormat bercanda.
"Siap, Komandan," Ia sudah tahu apa maksud Owen. Kakaknya itu pasti ingin menitipkan Ell dan Kino kepadanya.
Owen tertawa kecil.
"Kakak mau ke minimarket beli jajanan. Kalian mau tetap di sini atau ikut?"
Ell langsung menggeleng. "Ell masih mau main di sini, Kak"
Kino ikut mengangguk, "Aku juga"
Owen kembali menatap Lily. Lily hanya mengangguk pelan sebagai tanda mengerti.
"Kalian mau titip jajan nggak?" tanya Owen.
"Enggak, Kak," jawab Ell dan Kino hampir bersamaan. Lily pun ikut menggeleng.
"Yaudah. Kakak pergi dulu. Kalau udah puas main, langsung pulang, ya."
"Iya, Kak," jawab mereka serempak.
Setelah memastikan Owen benar-benar pergi, Ell berjalan menghampiri Lily dengan wajah penuh harap.
"Kak Lily..."
"Hm?"
"Kita main ke sungai, yuk"
Lily mengernyit.
"Ke sungai? Mau ngapain?"
"Mau lihat ikan"
Ell lalu menoleh ke arah Kino, berharap mendapat dukungan, "Iya kan, No?"
Kino langsung mengangguk semangat. "Iya, Kak, boleh ya?"
Lily menghela napas pelan sambil tersenyum tipis melihat wajah memelas kedua adiknya.
"Yaudah. Tapi janji, nggak lama-lama di sungainya"
Ell langsung mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji"
Lily tersenyum lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Ell.
"Janji"
Mereka bertiga pun berjalan menuju sungai kecil yang letaknya tidak jauh dari taman.
Sekitar lima menit kemudian, mereka akhirnya sampai.
Air sungai mengalir tenang. Dasarnya yang dipenuhi bebatuan terlihat jelas karena airnya begitu jernih. Beberapa ikan kecil berenang bebas mengikuti arus.
"Ell! Ell!," Kino memanggil Ell dengan penuh semangat. "Lihat deh! Ikan yang merah itu lucu banget," Ia menunjuk seekor ikan merah kecil yang berenang lincah di antara bebatuan.
Mata Ell langsung berbinar.
"Wah... lucu banget!," Ia berlari kecil menghampiri tepian sungai sambil terus memperhatikan ikan itu.
Tak lama kemudian, ia menoleh ke arah Lily.
"Kak Lily... Ell mau ikan itu," Ell menarik pelan ujung baju Lily sambil memasang wajah memohon.
Lily tersenyum geli. "Ell pengen pelihara ikan?"
Ell mengangguk cepat dengan senyum lebar menghiasi wajahnya, "Iya!"
"Kalau gitu, besok kita ke toko ikan sama Papi, ya. Nanti Ell pilih ikan yang Ell suka"
Namun, Ell langsung menggeleng keras.
"Enggak," Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ell maunya ikan yang itu, Kak... bukan yang di toko."
Lily memijat pelipisnya pelan sambil terkekeh. "Ya nggak bisa gitu, Dek"
"Ikan itu hidupnya memang di sungai. Kalau kita ambil sembarangan, dia bisa sedih karena terpisah dari rumahnya."
Ell langsung terdiam, masih menatap ikan merah yang berenang bebas di dalam air. Wajahnya menunjukkan rasa kecewa, meski ia mulai memahami apa yang dikatakan Lily.
Ell terdiam beberapa saat. Pandangannya masih terpaku pada ikan merah yang berenang lincah di dalam sungai.
'Tapi Ell tetap pengen ikan itu. Udah ah, Ell tangkap aja,' batinnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ell berjalan menghampiri Kino.
"Kino, bantuin aku, yuk."
Kino langsung mengangguk semangat. "Oke!"
Beberapa menit kemudian, keduanya sibuk mencoba mendekati ikan merah itu.
"Kino, sebelah sini!" seru Ell, "Ayo buruan bantuin!," Ell berjongkok di tepian sungai lalu memasukkan tangannya ke dalam air. Tubuhnya semakin condong ke depan demi meraih ikan yang terus menghindar.
"Ell, hati-hati!" teriak Lily dari belakang. Namun Ell tak menghiraukannya. Kakinya mulai kehilangan pijakan. Tubuhnya hampir terjatuh ke sungai.
"ELL...!," Lily berlari secepat mungkin. Refleks, ia langsung menarik bagian belakang baju Ell.
Namun...
"Ah!"
Byurrr...!
Sementara itu, di rumah. Owen tampak mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. Ia beberapa kali melirik jam dinding.
"Duh... adik-adik ke mana, sih?" gumamnya cemas. "Tadi aku lewat di taman, tapi mereka udah nggak ada, mereka kemana sih?"
Belum sempat Owen keluar rumah lagi...
Ceklek...
Pintu depan terbuka.
"Kita pulang," Suara Kino terdengar lebih dulu. Di belakangnya menyusul Ell dan Lily.
Semua mata langsung tertuju kepada ketiga anak yang baru datang itu. Rafa yang sedang duduk di sofa bersama temannya langsung mengernyit.
"Lho, kok lo basah, Dek?" tanyanya heran. "Di luar nggak hujan, perasaan," lanjutnya tambah keheranan.
Owen buru-buru menghampiri. "Loh, kamu kenapa, Dek?" Tangannya memegang pelan kedua bahu Lily.
Namun Lily hanya menundukkan kepala. Ia bahkan diam-diam bersembunyi di balik tubuh Ell. Baru saat itulah Lily sadar...
Di ruang tamu ada orang asing.
Seorang pemuda seusia Rafa sedang duduk santai di sofa sambil memperhatikannya. Pipi Lily langsung memanas karena malu.
Ell maju selangkah.
"Ini semua salah Ell, Kak," Semua orang langsung menoleh kepadanya.
"Tadi Ell ngajak Kak Lily sama Kino ke sungai," Ell mulai bercerita dengan wajah penuh penyesalan. "Terus Ell pengen nangkap ikan. Pas hampir jatuh, Kak Lily langsung nolong Ell..."
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Tapi... Kak Lily malah kepeleset terus jatuh ke sungai deh"
Suasana mendadak hening.
"Hahahaha!", Tawa keras tiba-tiba memecah keheningan. Semua langsung menoleh.
Wafa baru saja menuruni tangga sambil tertawa terbahak-bahak. "Kalau kata gue sih..."
Ia menunjuk Lily. "Itu namanya kena azab"
"Hahaha!"
Lily langsung melotot.
"Wafa!"
Namun sebelum Lily sempat membalas, Ell lebih dulu maju dengan wajah cemberut.
"Bukan!", "Kak Lily jatuh karena mau nolong Ell!" Ell langsung berlari mengejar Wafa.
"Bang Wafa jahat!"
"Eh! Jangan ngejar gue!", Wafa spontan kabur mengelilingi ruang tamu.
"Rasain!"
"Kena, kan?", gumam Lily pelan, dan karena Ell pergi dengan segera ia lanjut bersembunyi di belakang tubuh Owen.
Melihat keduanya saling kejar-kejaran, Rafa hanya tertawa kecil. "Dasar bocah"
Ia lalu menoleh kepada Lily.
"Udah sana, Dek, ganti baju dulu"
"Nanti masuk angin"
Owen ikut mengangguk.
"Iya"
Namun Owen justru memandang Lily dengan bingung, setelah ia membalik badannya menghadap Lily. "Kamu ini kenapa, sih, Dek?"
"Nggak apa-apa, Kak", Lily buru-buru menggeleng. "Udah... anterin Lily ke kamar," Sambil berkata begitu, ia menarik tangan Owen paksa.
Owen hanya bisa pasrah mengikuti adiknya.
Di ruang tamu.
Javin memperhatikan suasana rumah itu sambil tersenyum.
"Rame juga ya", "Kalau satu keluarga ada lima anak, pasti tiap hari begini".
Rafa mengangguk kecil.
"Yo'i, Bro"
"Tapi bentar," Javin menunjuk ke arah Kino yang sedang duduk sendirian. "Bukannya lo bilang adik lo cuma tiga? Satu cewek sama dua cowok."
"Nah, yang itu siapa?"
"Oh, dia?", Rafa melirik Kino.
"Itu temennya Ell", "Orang tuanya lagi ada kerjaan di luar kota, jadi buat beberapa hari ke depan dia tinggal di sini."
"Oalah..."
Javin mengangguk paham.
"Sini, No," Rafa menepuk sofa di sampingnya.
Kino pun duduk dengan sopan.
Sementara itu, di lantai atas. Setelah berganti pakaian, Lily langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Ia berguling ke kanan dan ke kiri sambil menutup wajah dengan bantal.
"Aduh..."
"Malu banget..."
"Kenapa harus ada tamu segala, sih?"
Ia mengacak rambutnya sendiri karena masih teringat wajah Javin yang melihatnya pulang dalam keadaan basah kuyup.
Tak lama kemudian...
Owen memanggil dari bawah. "Kino, bisa tolong panggil Kak Lily?"
"Iya, Kak"
Kino segera menaiki tangga.
Tok... tok... tok...
Ia mengetuk pintu kamar Lily dengan pelan.
"Kak Lily"
"Ini Kino"
"Kak Owen manggil"
"Iya...," Suara Lily terdengar malas dari dalam kamar. Mau tidak mau, ia bangkit dari kasur. Kalau Owen yang menyuruh, ia memang tidak pernah berani membantah.
Pintu kamar pun terbuka.
"Kak Lily nggak apa-apa, kan?" tanya Kino penuh khawatir.
"Nggak ada yang luka?"
Lily tersenyum tipis. "Kakak nggak apa-apa, kok"
"Oh ya..., Kak Owen di mana, Dek?"
"Di dapur, Kak"
'Aelah... kenapa harus di dapur, sih?' batin Lily.
Tanpa sadar, Lily menggenggam pergelangan tangan Kino.
"Ayo"
Ia menarik Kino berjalan bersamanya. Tujuannya sederhana. Kalau ada Kino di sampingnya, ia bisa sedikit mengurangi rasa malu bertemu tamunya Rafa.
Sementara itu, Kino justru membeku. Pipinya perlahan berubah merah. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Sesampainya di dapur, Owen menatap adiknya dengan heran. "Kamu ini kenapa lagi, sih, Dek?"
Belum sempat Lily menjawab...
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan keras terdengar dari pintu depan.
"Wafaa!", Suara seorang laki-laki menggema dari luar.
"Open the door!"
Wafa yang sedang duduk santai langsung berlari menuju pintu. "Iya... iya... bawel amat."
Ceklek...
Begitu pintu terbuka...
"Halo, ade ipar!", Seorang pemuda langsung masuk begitu saja sambil merangkul bahu Wafa.
Wafa spontan menepis tangannya.
"Ade ipar pala lu peang!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!