Indonesia
NovelToon NovelToon

Mantan Tapi Menikah

Berkunjung ke Rumah Eyang

Terik panas menemani sepanjang perjalanan menuju ke pedesaan yang masih berada di kota Jogja, tetapi jarak tempuh yang memakan waktu lebih dari 2 jam itu membuat Keandra memilih menggunakan mobil Arlo. Sementara di sebelahnya, duduk seorang gadis yang sedari tadi diam tidak banyak bersuara.

Keheningan tercipta cukup lama di dalam kabin. Sampai akhirnya Keandra menoleh, sedikit mengeratkan pegangan tangannya pada setir mobil.

"Nginep, nggak papa kan?"

Jeviza menoleh dengan wajah tercengang, ia mengerjap beberapa kali sebelum bersuara.

"Nginep?" ulangnya diangguki Keandra.

"Enggak, kita tetep pulang nanti malam."

Sudut bibir Keandra tertarik ke atas membentuk senyum tipis, ia sudah menduganya kalau Jeviza akan menolak, tetapi lihat saja nanti, eyangnya pasti punya cara lain untuk membuat gadis itu tertahan lebih lama di rumah beliau.

Sekitar pukul 12 siang. Mobil yang mereka tumpangi mulai memelan, suasana perkotaan dan jalanan lebar kini berganti menjadi jalan kecil yang mungkin hanya bisa dilewati satu mobil, tetapi pemandangan di sekitar sangat menyegarkan mata, hijau dari persawahan berhasil membuat Jeviza merogoh benda pipih miliknya dan mengarahkan kamera ponselnya untuk mengabadikan.

"Indah banget, kaya di lukisan," ujarnya mengambil vidio untuk ia kirimkan pada Puspa. Rencana ia akam memamerkan apa saja yang nanti ia lihat di rumah eyang Keandra.

Dan itu salah besar

Karena Puspa jelas sudah berkunjung beberapa kali ke sana.

Keandra melirik Jeviza sekilas, sudut bibirnya berkedut saat melihat wajah cantik Jeviza dipenuhi dengan senyum bahagia. Rasa kagum pada keindahan pedesaan.

Tunggu sampai nanti mereka sampai, Jeviza pasti akan merasakan lebih dari ini.

Sekitar 15 menit berlalu, pada akhirnya mobil Keandra berhenti di depan rumah dengan bangunan lama tetapi masih sangat terawat.

Jeviza masih terdiam di tempatnya, belum ada gerakan setelah mobil berhenti. Ia masih mengamati suasana sekitar yang tampak lebih indah dari pemandangan di perjalanan tadi.

Lalu menoleh pada Keandra yang juga melakukan hal yang sama. Bedanya Keandra tidak kagum dengan keindahan sekitar rumah eyangnya, tetapi kagum dengan sosok di sebelahnya.

"Ini, rumah eyang?" tanyanya diangguki Keandra.

"Mau tetap di sini atau ikut turun?" tanya Keandra sengaja menggoda.

Meski tadi Jeviza menolak untuk menginap, tetapi ia sangat yakin setelah ini Jeviza akan berubah pikiran. Lihat saja gelagat gadis itu yang terus menatap kagum pada area sekitar rumah eyangnya.

Tidak berselang lama setelah keduanya turun dari mobil, seorang perempuan paruh baya datang menghampiri, beliau tersenyum dan menyapa sopan Keandra.

"Mas Kean, nah gitu lho jengukin eyangnya, monggo mas biar bibi yang bawain barang mas Kean."

Lalu perempuan itu melirik ke sebelah Keandra. Gadis cantik yang mengangguk sopan dan memberi senyum untuk ibu-ibu tersebut.

"Monggo mba, langsung masuk saja," kata mbok Nah.

"Makasih bu," balas Jeviza diangguki mbok Nah.

Sementara Keandra melirik ke arah Jeviza. Rasanya gemas ingin sekali mengulurkan tangannya dan menarik Jeviza agar keduanya masuk dengan tangan yang saling menggenggam, tetapi Keandra tidak bisa gegabah, salah sedikit saja bisa membuat Jeviza merasa tidak nyaman. Mengingat untuk mengajak Jeviza ke sini saja ia harus meminta bantuan Puspa tadi.

Masuk ke dalam rumah tua yang masih terlihat sangat rapih dan terawat, Jeviza semakin berdecak kagum. Perabotan di rumah tersebut dipenuhi dengan kayu yang mengkilap juga tersusun rapih. Apa lagi pintu besar dengan ukiran di atasnya. Masih sangat menjaga keaslian rumah Jogja di jaman dulu.

"Eyang di belakang mas, lagi metik mangga, aneh banget bukan musimnya tapi sudah berbuah," jelas bibi diangguki Keandra.

"Biar saya ke sana saja bi," ujarnya.

Keandra melirik Jeviza yang masih mengamati rumah besar dengan satu lantai itu, sebelum akhirnya tatapan keduanya bertabrakan.

"Gue ke eyang dulu, mau ikut atau tunggu di sini?"

Jeviza mendekat, meski kagum dengan kemewahan yang masih terlihat asri dari rumah itu, tetapi rasanya aneh kalau ia sendiri tanpa adanya Keandra di sisinya.

"Ikut," cicitnya diangguki Keandra.

Untuk bisa sampai ke taman belakang, mereka harus melewati beberapa ruangan yang juga sama luasnya, bahkan Jeviza sempat kagum saat melewati meja makan besar dan panjang yang terdapat banyak kursi, di tengahnya terdapat bunga asli yang masih segar. Di dalam rumah juga Jeviza sudah menemukan banyak bunga asli sebagai penghias.

"Eyang," sapa Keandra membuat wanita yang sudah tidak lagi muda itu menoleh.

Terdiam sebentar sebelum akhirnya menyunggingkan senyum.

Keandra semakin mendekat, memeluk wanita tua itu dan mencium puncak kepalanya.

Tinggi eyang yang tidak seberapa itu tertelan oleh tubuh tinggi dan tegap Keandra.

Jeviza yang melihat itu seketika dadanya berdesir diliputi kehangatan. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyum tipisnya melihat interaksi Keandra dan eyangnya.

"Siapa?" tanya beliau setelah dekapan terlepas.

Beliau menatap Jeviza yang masih berdiri di tempatnya.

"Halo eyang, saya Jeviza," ujarnya melirik Keandra sekilas. Lalu menyalami punggung tangan wanita tua itu.

Eyang mengangguk, lalu tanpa bersuara memeluk Jeviza dengan lembut.

"Kalian sudah balikan?"

Pertanyaan tidak terduga eyang berhasil membuat Jeviza terperangah.

Dari mana eyang tahu tentang hubungannya dengan Keandra?

Ia melirik Keandra yang masih memasang wajah tenang, bahkan seakan tidak terpengaruh dengan pertanyaan tiba-tiba eyangnya tadi.

Sangat berbeda dengan respon Jeviza yang sudah gugup juga berdebar sangat hebat di dalam sana.

"Ayo masuk, tadi mbok Nah sudah masak banyak," ujar Eyang diangguki keduanya.

Di belakang eyang, Jeviza melirik Keandra yang masih saja bisa bersikap tenang, sadar akan tatapan Jeviza yang penuh dengan tuntutan penjelasan. Keandra mencondongkan tubuhnya berbisik pelan yang lagi-lagi membuat Jeviza tercengang.

"Eyang tahu lo mantan gue, pas lo kabur, gue di sini lama," bisiknya.

Entah berapa banyak yang tidak Jeviza ketahui tentang Keandra setelah perpisahan keduanya 2 tahun lalu. Tetapi yang jelas setiap fakta yang terungkap tentang Keandra, selalu berhasil membuat Jeviza tahu, bahwa banyak sekali perubahan dari cowok itu.

Selesai makan siang yang penuh dengan kehangatan, kini Jeviza duduk di ruang tengah yang terdapat kolam hias dengan dua ekor kura-kura yang sangat besar. Jeviza duduk di sebelah kolam. Bingung mau melakukan apa, sebenarnya Jeviza sangat ingin sekali melihat sekitar rumah eyang, tetapi ia masih sungkan.

Tidak lama Keandra datang dengan satu mangkok berisi rujak. Jeviza menatap dengan bingung.

"Mbok Nah yang bikin, ini buah-buahan yang eyang petik tadi, di belakang," ujarnya duduk di sebelah Jeviza.

Melihat diamnya Jeviza, satu alis Keandra tertarik ke atas. "Nggak suka?"

Jeviza menggeleng, bukan tidak suka, tetapi sendok yang Keandra bawa cuma satu, itu berati mereka harus menggunakan satu sendok yang sama.

"Sendoknya," cicitnya membuat Keandra tanpa berpikir panjang memberikannya pada Jeviza.

Jeviza pikir Keandra akan mengambilnya setelah ia menerima sendok tersebut, tetapi tindakan Keandra setelahnya membuat debaran di dada Jeviza kembali bereaksi.

Setelah Jeviza tadi menggunakan sendok tersebut, Keandra dengan santainya mengambil alih sendok yang tadi digunakan oleh Jeviza, lalu memasukan ke dalam mulutnya.

"Kak, bekas gue," ujar Jeviza mengingatkan.

Keandra berhenti sejenak, baru menyadari tindakannya itu, lalu menyunggingkan senyumnya.

"Kenapa? Kita pernah melakukan lebih dari ini."

...****************...

Yang baru baca ini, baca "Seatap dengan Mantan" ya biar nyambung

Menginap

Jeviza tidak menyangka, eyang begitu hangat menyambut kedatangannya. Membuat rasa sungkan Jeviza mulai mengikis seiring dengan kedekatan mereka.

Sekarang, Jeviza sedang naik delman bersama dengan eyang untuk berkeliling desa. Dan karena eyang mengajaknya tadi, tentu saja Jeviza tidak mungkin menolak, itu juga salah satu yang ingin Jeviza lakukan, melihat ke sekeliling desa.

"Gimana? Masih satu kota tapi beda kan udaranya?"

Jeviza mengangguk membenarkan. Memang benar udara di tempat eyang lebih sejuk dari tempat tinggalnya di rumah Arlo, mungkin karena masih banyak pohon liar dan juga pemukiman yang tidak begitu padat.

"Adem di sini eyang," ujar Jeviza jujur.

Eyang mengangguk, lalu menyuruh sang kusir untuk berhenti di depan rumah dengan pagar bambu di depannya.

"Berhenti di depan sebentar pak," ujar eyang.

Saat eyang mulai turun, Jeviza lebih dulu turun dan membantu beliau, reflek saja melakukannya tanpa diminta terlebih dahulu. Lalu eyang menarik tangan Jeviza untuk ikut beliau ke rumah dengan cat coklat.

"Sebentar ya pak," ujar eyang diangguki bapak kusir.

Jeviza menurut saja, mau bertanya juga masih sungkan, ia lebih memilih mengikuti eyang yang kebetulan masih menggandeng tangannya.

"Ini rumah temen eyang," ujar beliau dibalas Jeviza dengan anggukan kepala.

Rumah itu lebih sederhana dan tidak seluas rumah eyang, tetapi tetap saja halamannya luas dan dipenuhi dengan pohon buah-buahan. Lebih asri karena pagarnya saja masih menggunakan bambu.

"Mau ikut masuk tidak?" tanya eyang membuat Jeviza menggeleng.

"Saya tunggu di sini saja eyang," tolak Jeviza sopan.

Jika Jeviza ikut masuk ia takut akan semakin lama di rumah itu, mengingat sekarang saja sudah pukul 4 sore lebih. Rencananya ia dan Keandra akan pulang dipukul 6 petang nanti, setelah maghrib.

Benar saja, eyang kembali muncul dengan seorang wanita yang sebaya dengan beliau. Lalu pamit untuk pergi. Namun sebelum meninggalkan rumah itu, teman eyang itu sempat melirik ke arah Jeviza, memberi anggukan dan seulas senyum. Begitu juga dengan Jeviza yang melakukan hal sama seperti teman eyang itu.

"Ini namanya jenang, mamanya Kean itu sangat suka sekali dulu sebelum diboyong ke jakarta sama papanya Kean," beritahu beliau.

"Kamu juga tinggal di rumah Puspa kan?" tanya beliau diangguki Jeviza.

"Iya, eyang."

"Nanti setelah pulang kasih ini untuk Puspa ya? Dia suka sekali makan jenang buatan teman eyang," beritahu eyang kembali diangguki Jeviza.

"Kamu pengen apa? Mumpung masih di sini?" tanya eyang membuat Jeviza menggeleng.

"Enggak eyang, saya sudah kenyang makan di rumah eyang tadi, maaf malah ngrepoti eyang sama mbok Nah."

"Enggak ngrepoti, eyang malah seneng kamu ikut Kean ke sini, dia itu paling susah diajak ke sini, mentoknya ya di rumah Arlo, mulai sibuk sama pekerjaannya." Jeviza mengangguk membenarkan.

Keandra memang selalu terlihat sibuk, bahkan tadi ketika ditinggal oleh Jeviza dan eyang untuk berkeliling menggunakan delman saja, Keandra sudah mulai membuka laptopnya, perjalanan ke rumah eyang tidak serta merta membuatnya terbebas dari pekerjaan.

Sampai di rumah eyang sudah hampir setengah 6. Jeviza menatap halaman luas tersebut yang kini sudah dipenuhi oleh beberapa motor dan juga terdapat satu mobil tambahan selain mobil Arlo yang Keandra bawa tadi.

"Sudah pada datang rupanya," ujar eyang seketika membuat Jeviza menoleh pada eyang.

Ingin bertanya, tetapi tidak enak, Jeviza cukup sadar diri meski eyang sebaik itu dengannya.

Tidak lama mbok Nah datang menghampiri, mengambil belanjaan di tangan eyang dan Jeviza.

Selain berkeliling, beliau tadi juga sempat mampir ke rumah makan yang mereka lewati di perjalanan.

"Ayo, nggak usah malu, yang datang itu adik eyang dan anak-anaknya."

Jeviza mengangguk, meski dalam hatinya sudah mengumpati Keandra. Tidak ada obrolan tentang kedatangan keluarga besarnya di Jogja.

Saat tiba di ruang tamu, Jeviza tertegun, sudah banyak sekali orang di sana yang sedang mengobrol, Jeviza mengikuti langkah eyang. Ia seperti anak itik yang takut ditinggal ibunya.

Dari semua orang yang berada di sana, tak ada sosok yang kini Jeviza cari.

Kak Kean dimana sih?

Batin Jeviza mencari keberadaan Keandra. Meski terkadang ucapan Kean terdengar ambigu, tetap saja Jeviza butuh Kean sekarang.

Sementara senyumnya tetap tersungging disaat eyang memperkenalkan satu persatu keluargnya yang ternyata juga masih tinggal di sekitaran kampung itu.

"Eyang, saya mau ke belakang dulu," pamit Jeviza diangguki beliau.

"Sudah tahu letak toiletnya kan?" tanya beliau diangguki Jeviza.

Padahal Jeviza lupa dimana letak kamar mandi yang tadi sempat ia gunakan sekali. Berada di sana membuat Jeviza sangat hati-hati sekali.

Ia tidak benar-benar ingin ke kamar mandi, tetapi ia ingin mencari keberadaan Keandra. Setelah jauh dari orang-orang, Jeviza mengambil benda pipih di sakunya. Ia mencoba menghubungi Keandra untuk menanyakan keberadaannya.

"Kak Kean dimana?" tanyanya dengan nada sedikit kesal.

Udah pulang?

Bukan jawaban yang Jeviza dapatkan, tetapi pertanyaan yang membuatnya berdecak sebal.

"Udah dari tadi, gue malu tahu, banyak banget keluarga eyang yang datang."

Terdengar tawa ringan dari sebrang telepon, sebelum akhirnya suara Keandra kembali terdengar.

Mau ke sini?

Gue di gazebo belakang

Tanpa menunggu lebih lama lagi. Jeviza langsung mematikan sambungan telepon, ia kembali ke ruang tamu dan pamit pada eyang untuk menghampiri Keandra.

Jarak ruang tamu ke tempat Keandra cukup jauh. Ia berhenti sebentar saat melihat cahaya dari layar laptop yang berada di sebuah gazebo taman belakang. Lampu-lampu mulai menyala di sekitar, tetapi masih tetap memberi kesan cahaya remang.

Hanya ada laptop yang menyala, tanpa adanya sosok yang dicarinya.

"Dimana?" gumam Jeviza mencari keberadaan Keandra.

"Di sini."

Seketika tubuh Jeviza merinding mendapati napas hangat Keandra di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati wajah Keandra begitu dekat dengan wajahnya.

"Kayaknya, kita nggak bisa pulang malam ini," ujar Keandra membawa Jeviza menuju gazebo.

Kita?

Kata itu rasanya menggelitik relung jiwa Jeviza.

"Gue nggak bawa baju ganti," ujar Jeviza menolak dengan alasan.

"Ada bajunya eyang," balas Keandra seketika membuat Jeviza mendelik.

Keandra terkekeh, lalu menyerahkan minuman dengan warna hijau di tangannya.

"Nyogok biar gue mau nginep?" tanya Jeviza tetap menerima minuman kesukaannya.

"Anggap aja gitu," ujar Keandra mematikan laptopnya, lalu menutupnya sebelum menaruh di samping mereka.

Jeviza menikmati minuman tersebut, entah Keandra mendapatkannya dari mana, yang jelas itu seperti obat ditengah rasa gugupnya sedari tadi, lebih menangkan dan juga melegakan.

"Je," lirih Keandra mengamati gerak-gerik Jeviza sedari tadi.

"Jangan maksa kak, gue takut kena omel kak Puspa," ujarnya langsung membuat Keandra terkekeh.

"Karena...itu?" tanya Keandra membuat Jeviza langsung beralih menatap Keandra.

Ah, sial

Kenapa angin di pedesaan membuat sosok Keandra terlihat lebih tampan sih?

Apa karena udara yang begitu sejuk membuat aura Keandra lebih terpancar?

"Liat," ujar Keandra memperlihatkan layar ponselnya.

Kening Jeviza mengernyit mendapati pesan yang Puspa kirimkan.

Ke, nginep aja di rumah eyang

Gue malah nggak tenang kalau lo maksa buat nyetir lagi

Titip Jevi ya? Sorry kalau bikin lo repot

Jeviza mendesah pelan. Sudah tidak ada alasan lagi untuknya menolak. Singa betina yang paling ditakutinya di rumah justru yang menyuruh untuk menginap.

"Serius, Je. Gue lumayan capek kalau harus nyetir lagi."

"Terus?" tanya Jeviza dengan wajah frustasi karena menyerah.

Bukannya kasihan melihat wajah memelas Jeviza, Keandra justru merasa puas, lebih gilanya lagi terbesit pikiran liar tentangnya dan Jeviza. Apa lagi mereka berada di tempat yang sangat mendukung sekali perbuatan bejat yang bisa saja Keandra lakukan.

"Kita, pulang besok," ujarnya mengalihkan tatapannya.

Tangannya terkepal bersama dengan saliva yang mengumpul di tenggorokan.

Tidur Bareng

Setelah makan bersama tadi dengan kehangatan yang begitu nyata, satu persatu keluarga eyang mulai pamit untuk pergi, hanya tinggal saudara sepupu jauh Keandra yang masih berada di sana.

Dari pengamatan Jeviza. Keandra tidak begitu dekat dengan sepupunya itu. Mereka mengobrol seperlunya saja.

"Jeviza juga kuliah di sini?" tanya sala satu cowok yang juga masih berkumpul di sana.

Mendapati pertanyaan itu, Jeviza menganggukan kepalanya.

"Iya, satu kampus juga sama kak Kean, beda fakultas," terangnya.

Cowok yang tadi bertanya itu mengangguk, melirik Keandra yang terlihat tampak tidak nyaman berada di sana. Begitu juga dengan Jeviza yang menyadari ketidak nyamanan Keandra sedari tadi.

"Betah di Jogja?" tanyanya menambah topik.

Rasanya tidak rela obrolan berakhir begitu saja, sementara di depannya ada gadis cantik yang bahkan ramah dengan semua pertanyaannya.

Cowok itu ingin mengenal lebih, jujur saja dari awal tadi melihat Jeviza dengan segala keanggunan dan kesopanannya, ia tidak bisa melepaskan begitu saja, setidaknya ada usaha meski entah hasilnya akan seperti apa nanti.

"Betah, di sini orangnya ramah-ramah," ujar Jeviza dengan seulas senyum.

Tidak tahu saja Jeviza, jika di sebelahnya, tangan kekar Keandra sudah mengepal, dadanya panas hanya dengan melihat interaksi Jeviza dan saudara jauhnya itu.

"Eyang, aku ke kamar ya? Capek," ujar Keandra diangguki eyang.

Mendengar itu Jeviza terperangah, ia menatap kepergian Keandra yang tega sekali meninggalkannya.

Mau ikut langsung pamit tetapi tidak enak, bertahan juga Jeviza tidak nyaman karena kepergian Keandra. Ia di sana tamu yang dibawa oleh Keandra, harusnya Keandra tidak pergi begitu saja.

"Kamu mau istirahat juga? tidak papa nak, pasti capek tadi diajak eyang keliling seharian."

Ucapan eyang itu seperti angin segar untuk Jeviza, ia tersenyum kikuk dan mengangguk dengan sopan.

"Maaf ya eyang, saya juga mau langsung istirahat," pamitnya pada eyang, lalu pada semua yang masih duduk di sana.

"Jeviza, kalau ada waktu, besok ngobrol lagi ya?" teriak cowok yang tadi.

Jeviza hanya menoleh, tidak memberi anggukan apa lagi jawaban, ia kembali melangkah menuju ke kamarnya.

"Dia, bukan pacar Kean, kan eyang? tidak ada romantisnya sama sekali?" tanya cowok yang tadi.

Eyang menghembuskan napas panjang. "Kalau bukan pacar, nggak mungkin ikut ke sini."

Cowok itu tercekat dengan jawaban eyang. Tetapi ada benarnya juga apa yang eyang katakan.

Saat Jeviza melangkah untuk menuju kamar tamu yang sudah dibersihkan untuknya, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik dari arah berlawanan. Jeviza menoleh, mendapati Keandra dengan wajah muram, tetapi sorot mata itu kian tajam, dan penuh kabut yang menggumpal di netra hitam itu.

"Kak Kean," lirihnya.

Untuk seperkian detik, mereka saling beradu pandang tanpa suara. Sebelum akhirnya Keandra mendorong tubuh Jeviza untuk masuk ke dalam kamar yang seharusnya hanya ditempati oleh Jeviza saja, tetapi kini sosok Keandra juga berada di sana, di dalam ruangan yang sama dengan Jeviza.

Jeviza tidak bisa lagi menahan getaran pada ujung jari yang merambat hampir setiap tubuhnya saat jemari Keandra memaksa mengisi sela-sela jarinya. Lalu mengunci tangan Jeviza di atas kepala, tubuh Jeviza sudah menempel dinding, dengan deru napas yang tidak kalah cepat dari getaran aneh yang merambat di sekujur tubuh tadi.

"Kak," cicitnya terkejut dengan tindakan lebih agresif Keandra.

Seakan tidak mengidahkan ucapan Jeviza. Seringai justru terlihat dari wajah tampan yang sekarang terlihat menakutkan bagi Jeviza.

Entah bagaimana bisa Keandra tiba-tiba berubah seperti sekarang ini.

"Gue nggak suka lo ngobrol sama dia."

Mata Jeviza memicing, menatap Keandra tidak percaya.

"Tapi dia sepupu lo kak."

"Sepupu jauh," ralat Keandra.

Mata Jeviza sudah menggenang, ingin menangis rasanya melihat sikap Keandra yang tiba-tiba berubah.

Melihat wajah takut Jeviza karena ulahnya. Keandra melepas tautan tangan mereka, menghela napas dalam sebelum akhirnya memberi jarak.

"Je, sorry, gue kasar," sesal Keandra.

Sebelumnya Keandra tidak pernah selepas ini, bahkan saat melihat Januar yang mencoba mendekati Jeviza. Keandra masih bisa menahan, tetapi untuk malam ini, entah kenapa emosinya tidak bisa dikendalikan.

Interaksi Jeviza dengan cowok tadi membuat Keandra tidak bisa menahan lagi, dan hampir saja membuat Jeviza ketakutan karena kebodohannya.

"Lo jahat," ujar Jeviza tidak membuat marah Keandra.

Justru rasa bersalah Keandra semakin besar. Ia menghela napas dan menarik Jeviza ke dalam dekapannya.

Anehnya

Jeviza sama sekali tidak menolak, membiarkan tubuh tinggi itu merengkuh tubuh kecilnya, bahkan saat Keandra membawa Jeviza ke ranjang, gadis itu sama sekali tidak menolak, rasa lelah menghadapi emosi Keandra tadi menguras tenaganya.

Keandra seperti ancaman untuknya, tetapi juga penenang dalam waktu yang bersamaan, lihat saja, entah sadar atau tidak, keduanya sama-sama memberi ketenangan dan kehangatan dengan dekapan yang masih bertahan. Bahkan saat rasa kantuk mulai menyerang Jeviza, gadis itu bukannya mendorong Keandra malah mencari posisi nyaman di atas dada bidang itu.

Hingga tanpa disadari, setelah pertikaian kecil yang terjadi tadi. Keduanya tidur di atas ranjang yang sama tanpa beban, seakan rasa sesak dan amarah yang tadi sempat melingkupi menguap begitu saja.

...****************...

Sudah pukul setengah 7 pagi. Eyang yang sedari subuh tadi sudah berkutat dengan mbok Nah di dapur menoleh ke belakang. Barang kali ada pergerakan dari cucu dan pacar cucunya itu. Tetapi baik pintu kamar Keandra ataupun Jeviza masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.

"Mbok Nah, tolong bangunin mas Kean, tadi malam bilang mau jalan pagi di sini."

Mbok Nah mengangguk, mencuci tangannya dan mengelapnya dengan tisu dapur, sebelum akhirnya melangkah menuju ke kamar Keandra.

Beberapa ketukan tidak membuat si penghuni kamar merespon, mbok Nah mulai khawatir takut terjadi hal yang tidak diinginkan dengan tuan mudanya itu.

Ia kembali ke dapur, melapor pada eyang jika kamar Keandra tampak sepi seakan tidak berpenghuni.

"Ya sudah, biar saya saja yang bangunin." Eyang melangkah mendekati kamar Keandra.

Sama seperti yang mbok Nah tadi lakukan, beliau mengetuk beberapa kali dengan harapan Keandra segera muncul, tetapi eyang tidak sesabar mbok Nah, beliau langsung membuka pintu dan mendapati kamar tersebut kosong, tidak ada penghuni.

"Apa sudah keluar dari tadi ya?" gumam eyang berpikir mungkin saja Keandra sudah berjalan-jalan di kampung halaman mamanya.

Lalu beliau melangkah menuju kamar Jeviza. Ada keraguan ketika beliau berdiri di depan kamar tersebut. Mau bagaimanapun Jeviza adalah tamu, rasanya kurang pantas jika eyang yang membangunkan, tetapi beliau khawatir jika Jeviza tidak segera dibangunkan sekarang, yang ada gadis itu akan lebih malu jika terlalu siang.

"Mbak, mbak Jeviza bangun nak, sudah mau jam 7," ujar eyang dengan ketukan pada pintu kamar.

Tidak ada respon dari dalam, sama seperti kamar Keandra. Beliau pikir Jeviza juga sedang ikut Kean jalan pagi di kampung.

Dengan helaan napas beliau berbalik, tidak membuka kamar Jeviza seperti yang beliau lakukan pada kamar Keandra, tidak sopan saja rasanya sekalipun itu rumah beliau sendiri. Jeviza tetaplah tamu.

Sudah 1 jam berlalu sejak eyang tadi membangunkan dua remaja yang sedang berkunjung ke rumah beliau. Tetapi belum ada tanda-tanda kepulangan mereka. Beliau menunggu di teras depan dengan perasaan mulai tidak tenang.

"Kok sampai siang gini? Nyasar apa gimana?" gumam beliau beranjak.

Tanpa diminta, beliau membuka kamar Keandra yang masih sama seperti tadi, sepi dan masih rapih, lalu melangkah ke kamar Jeviza. Membukanya sama seperti yang beliau lakukan di kamar Keandra, tetapi saat itu juga, jantung beliau hampir saja lepas dari tempatnya saat melihat dua remaja itu berada di satu ranjang yang sama, saling mendekap dan bahkan wajah Jeviza sembunyi di dada bidang Keandra.

"Eyang ada ap-" suara mbok Nah terhenti begitu saja melihat pemandangan di dalam kamar.

"Ya ampun mas Kean," cicit beliau menutup mulutnya.

"Mbok, ambilkan hp saya," titah eyang langsung diangguki mbok Nah.

"Anak ini, sudah kelewatan," decak eyang memukul dada yang hampir saja meregang nyawanya sendiri.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!