"Ibu, aku dengar mas Alen akan pulang tiga hari lagi, benarkah itu?" tanya Lilian kepada ibu mertuanya yang saat itu sedang duduk di sofa ruang tamu sambil asik bermain ponsel.
"Ya, kau tidak perlu terlalu senang karena bisa saja dia akan memberikan kejutan yang tidak menyenangkan untuk mu," jawab wanita paruh baya itu tanpa menatap Lilian yang wajahnya terlihat sangat antusias karena mendengar kabar kepulangan sang suami.
"Kenapa ibu bicara seperti itu? Semua kejutan pastinya akan sangat menyenangkan, aku sangat tidak sabar," ucap Lilian masih tetap dengan senyum sumringahnya itu.
"Terserah kau saja, oh ya, siapkan pesta penyambutan untuk putraku, aku mau pesta penyambutan yang meriah atas keberhasilan kali ini, jangan sampai kau membuat ku kecewa, kau paham itu?" ucap Sinta, ibu mertua Lilian.
"Iya Bu, aku paham, aku akan menyiapkan semuanya dari sekarang," ucap Lilian yang kemudian berlalu pergi dari hadapan sang mertua dengan suasana hati bahagia.
"Dasar bodoh, anakku menikahi wanita seperti dia benar-benar membuat keluarga ini sial, ayam yang tidak bisa bertelur sama sekali tidak layak jadi menantuku," gumam Sinta setelah Lilian tak terlihat lagi dari pandangannya.
"Lilian" nama yang cantik bukan? Ya secantik orangnya, wanita berusia dua puluh enam tahun itu menjadi seorang istri dan juga menantu yang cukup sempurna di keluarga Bayron. Keluarga yang tergolong kaya di kota tersebut.
Kecantikan, kebaikan, kepintaran, semua dimiliki oleh Lilian, ia adalah sosok yang memegang kendali dalam segala urusan rumah tangga di keluarga suaminya, mulai dari A sampai Z.
Dengan semua yang Lilian lakukan untuk keluarga itu, apakah dia mendapatkan kasih sayang? Penghormatan? Atau pujian? Tentu saja ... TIDAK. Lilian sama sekali tidak pernah mendapatkan apapun di keluarga suaminya melainkan hinaan, cacian serta makian, ibu mertua yang jahat, adik ipar yang penindas serta suami yang jarang pulang dengan alasan pekerjaan dan juga bisnis luar kota.
Namun hal ini tidak pernah membuat Lilian mengeluh sedikitpun, meskipun selalu diperlakukan seperti pembantu di rumah itu Lilian tetap mempertahankan posisinya karena cintanya kepada Alen, sang suami.
Lilian sudah menikah dengan Alen selama tiga tahun, akan tetapi mereka berdua tak kunjung diberikan keturunan, hal ini membuat mertuanya selalu mengatakan hal yang menyakitkan untuk Lilian, adik iparnya juga memberinya gelar ayam betina yang tidak bisa bertelur.
Namun Lilian mengacuhkan hal tersebut, baginya anak bukanlah hal yang wajib mereka miliki, cinta dan kasih sayang suami adalah hal yang paling penting, anak hanyalah bonus, jika tidak memiliki juga tidak masalah, itulah yang selalu Lilian pikirkan meskipun sebenarnya jauh di lubuk hati paling dalam dia juga menginginkan kehadiran sang buah hati.
"Huh, akhirnya mas Alen akan kembali, aku tidak sabar menunggu," ucap Lilian sambil membereskan kamarnya, rasanya sungguh tidak sabar menunggu kepulangan sang suami setelah pergi selama setengah tahun ke kota X dengan alasan menjalankan satu proyek dari perusahaannya.
"Kira-kira jamuan seperti apa yang akan aku buat untuknya, pakaian seperti apa yang akan aku pakai nanti, aku harus tampil cantik," ucap Lilian sambil berdiri di depan cermin dan memperhatikan tubuh kurusnya yang terlihat terlalu kurus. Namun Lilian tak pernah terlalu memperhatikan hal tersebut, baginya yang paling penting adalah membuat seluruh keluarga tetap nyaman dan tenang di rumah tersebut.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar milik Lilian saat Lilian sedang memikirkan banyak hal tentang hari kepulangan suaminya itu.
"Siapa?" tanya Lilian sedikit meninggikan nada suaranya.
"Aku," ucap seorang wanita yang seketika langsung membuka pintu kamar itu dan menerobos masuk.
"Raya, ada apa?" tanya Lilian sambil mengerutkan kening dan tampak sedikit terkejut karena adik iparnya itu masuk kamar dengan wajah marah.
Raya adalah adik ipar Lilian, usia mereka tak jauh berbeda, karena Raya pada saat ini sudah berusia 24 tahun.
"Uang bulanan ku habis, aku ada kegiatan di luar bersama teman-temanku malam ini," ucap Raya sambil menadahkan tangan.
"Apa? Bukannya seminggu lalu aku baru saja memberimu uang bulanan sepuluh juta untuk satu bulan, bagaimana bisa habis secepat itu?" tanya Lilian sedikit tersentak.
"Jangan banyak tanya! Berikan saja uang itu padaku, jika tidak aku akan melaporkan ke ibu kalau kau pelit," ucap Raya mengancam.
"Tapi Raya ..."
"Tidak ada tapi-tapian, masih untung kau dikirim uang oleh kakakku, kau pikir dia mengirimmu uang-uang itu untuk dirimu sendiri? Hei, kau itu hanya ayam betina yang tidak bisa bertelur, kau dikirim uang hanya untuk kepentingan aku dan ibu di rumah ini, jangan-jangan kau ingin memakainya sendiri!?" ucap Raya dengan tidak sopannya.
Ya, ini bukan pertama kalinya hal seperti itu terjadi kepada Lilian, melainkan sudah sangat sering, adik iparnya itu adalah wanita yang boros, tidak bekerja dan hanya bermain-main dengan uang yang dia bilang adalah milik kakak laki-lakinya.
Karena tak ingin berdebat dan ibu mertuanya marah, Lilian pun segera mengeluarkan ponselnya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Raya.
"Jangan buat ibu marah, aku sudah mengirim sejumlah uang padamu," jawab Lilian dengan nada pasrah.
"Bukannya dari tadi! Aku peringatkan padamu sekali lagi, uang yang kakakku kirim jangan sampai kau gunakan untuk dirimu sendiri, jika kau mau uang bekerjalah sendiri, uang itu milik aku dan ibu yang dititipkan ke rekeningmu untuk kau urus agar semua keperluan kami di rumah ini terpenuhi," ucap Raya menuding Lilian lalu setelah itu meninggalkan kamar tersebut.
"Andai kalian tahu kebenarannya seperti apa, aku tidak yakin kalian berani bicara seperti itu lagi kepadaku," batin Lilian sambil menatap datar pintu kamarnya sepeninggal Raya.
TIGA HARI KEMUDIAN
Tak terasa hari yang sudah ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, di mana hari ini adalah hari kepulangan Alen.
"Lilian," panggil Sinta dengan suara lantang.
"Iya Bu," jawab Lilian yang saat ini sedang menata meja makan dengan berbagai macam jenis hidangan serta dihiasi lilin-lilin kecil yang menambah nuansa cantik di meja makan tersebut.
"Semua persiapannya sudah selesai?" tanya Sinta lagi sambil memperhatikan sekaligus memeriksa pekerjaan Lilian.
"Iya Bu, sudah hampir selesai," jawab Lilian tanpa memperlihatkan rasa lelahnya di hadapan sang mertua.
"Bagus, sebentar lagi Alen akan sampai, sebaiknya kau segera urus diri dan penampilanmu, sisa pekerjaan ini biarkan Raya yang merapikannya," ucap Sinta.
"Ibu, aku malas, biarkan saja Lilian yang mengurusnya sampai selesai," jawab Raya yang sedari tadi hanya duduk sambil memainkan ponselnya.
Sang ibu langsung menatap Raya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Bersambung ....
"tidak apa-apa Bu, tinggal sedikit lagi, aku akan menyelesaikannya setelah itu bersiap-siap," jawab Lilian tak ingin merepotkan siapapun di rumah itu, dia selalu memberikan semua tugas yang ada kepada dirinya sendiri.
"Tidak perlu, naiklah ke atas sekarang juga, jangan membantah," ucap Sinta lagi.
"Baiklah Bu," jawab Lilian patuh.
Ia pun meninggalkan ruang makan tersebut karena perintah ibu mertuanya.
"Ibu, kenapa sih ibu tiba-tiba menyuruh Lilian pergi? Bukankah pekerjaannya sebentar lagi akan selesai dan dia bisa langsung mempersiapkan dirinya," oceh Raya yang saat itu melepaskan ponselnya dan berdiri lalu menghampiri sang ibu.
"Diam, kakakmu sebentar lagi akan tiba, dia pasti tidak senang jika melihat Lilian berpenampilan compang-camping, ibu tidak mau kalau kakakmu tahu kita memperlakukan Lilian seperti pembantu," ucap Sinta yang ternyata ada udang di balik batu.
"Ibu benar juga, secara kakak selalu saja menunjukkan kasih sayangnya kepada wanita itu, bahkan di saat mereka tak kunjung punya anak, kakak masih saja mempertahankan kehadirannya di rumah ini," ucap Raya dengan mimik wajah datar.
"Karena itu segera selesai pekerjaan Lilian, ibu akan membantumu," ungkap sang ibu yang kemudian buru-buru menyelesaikan sisa pekerjaan yang ada.
"Baiklah," jawab Raya dengan penuh keterpaksaan.
Satu jam kemudian.
Lilian berdiri di depan cermin dengan pakaian terbaiknya, dia terlihat cantik dan elegan dengan apapun yang dia kenakan, sosok Lilian ini selalu terlihat seperti wanita berkarisma dan mewah meskipun asal-usulnya tidak pernah diketahui oleh keluarga Alen, mereka hanya tahu kalau Lilian hidup sebatang kara dan tidak punya orang tua apalagi saudara karena jika ditanya tentang keluarga Lilian selalu tidak bisa memberikan keterangan yang jelas.
"Kenapa jantungku berdegup kencang? Padahal ini bukan pertama kalinya menunggu kepulangan mas Alen dari dinas, apakah ini perasaan rindu?" tanya Lilian pada dirinya sendiri sambil mengenakan anting-anting ke telinganya.
Jantungnya berdegup tak karuan seolah-olah ada sesuatu yang mendebarkan.
"Lilian! Apa yang kau lakukan di atas begitu lama! Cepat turun!" teriak Raya yang saat itu sudah selesai dengan segala sesuatu di lantai bawah bersama ibunya.
Mendengar itu Lilian mempercepat persiapan dirinya dan segera keluar dari kamar.
"Iya, aku sudah siap," katanya sambil bergegas menuruni tangga menuju lantai bawah.
Cuaca sedikit tidak bagus malam itu, angin berhembus perlahan, kilat-kilat kecil mulai memberi tanda kalau malam itu hujan akan segera turun.
"Cuacanya tidak bagus, kapan mas Alen akan tiba, ibu apa dia menghubungimu?" tanya Lilian sambil menatap ibu mertuanya berharap ada kabar dari sang suami.
"Dia sebentar lagi akan sampai," jawab Sinta dengan tatapan dingin.
Gerimis mulai terdengar kasar di genteng rumah kediaman keluarga Bayron yang menambah rasa gelisah di hati Lilian.
Tit ...
Tit ...
Tit ...
Terdengar pula suara klakson mobil yang pada saat itu tiba di halaman depan rumah tersebut.
"Bu, kakak sudah tiba," ucap Raya sambil mengintip di balik gorden.
"Benarkah?" ucap sang ibu yang sudah lama menanti.
Lilian yang mendengar ucapan itu semakin berdebar ditambah angin malam itu yang semakin kencang, ia tak sabar ingin menyambut sang suami ke dalam rumah agar segera merasa nyaman dan aman.
Seseorang turun dari mobil dan melangkah menuju teras depan rumah.
"Aku dan ibu akan membuka pintu dan menyambut kak Alen, kau di sini saja, pastikan semua hidangan sudah tersusun dengan benar," ucap Raya menahan langkah kaki Lilian yang hendak menuju pintu rumah.
"Tapi Raya, aku juga ingin menyambut mas Alen," ucap Lilian merasa tidak adil kalau dirinya tidak ikut berdiri di depan pintu untuk menyambut suaminya.
"Sudahlah Lilian, jangan terlalu banyak membantah toh dia juga akan langsung ke ruang makan setelah itu," ucap Sinta yang kemudian berlalu pergi bersama putrinya.
"Huh, baiklah," jawab Lilian mengalah.
Ia pun memilih untuk kembali merapikan meja makan dan memeriksa satu-persatu menu makanan kesukaan suaminya yang dia siapkan sejak tadi pagi.
Sementara itu ...
"Kak akhirnya kau kembali, aku dan ibu sangat merindukanmu," ucap Raya. Setelah membuka pintu dia langsung memeluk sang kakak yang ada di hadapannya.
"Astaga, kau ini masih saja manja, aku juga sangat merindukan kalian," ucap Alen sambil membalas pelukan Raya sang adik.
"Juga akhirnya kau tiba, aku sangat khawatir karena cuaca mulai memburuk," ucap sang ibu sambil menampilkan senyum hangatnya.
"Permisi,"
Tiba-tiba terdengar suara lirih seorang wanita yang saat itu muncul dari belakang Alen. Wajahnya tampak lembut, rambut digerai panjang, memakai dress putih, tangan kanannya memegang gagang koper sementara tangan kirinya memegang perutnya yang tampak besar.
Raya dan Sinta menatap perempuan tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"D-dia Tasya?" tanya Bu Sinta sambil menunjuk wanita tersebut.
"Permisi Bu Sinta," ucap wanita itu dengan suara lembut.
"Kak, siapa dia? Bu, kok sepertinya ibu sudah tahu dia?" tanya Raya kebingungan.
Siapa yang tidak bingung melihat seorang kakak laki-laki yang sudah punya istri kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil.
Sementara itu, Lilian yang tadinya memutuskan untuk ikut ke pintu depan menyambut kedatangan Alen sambil membawa segelas air putih hangat juga tampak sangat kaget dengan kehadiran sosok wanita hamil berdiri di samping suaminya.
Prang ...
Gelas yang dia bawa seketika jatuh berserakan di lantai, membuat semua mata tertuju ke arahnya.
"Mas! Siapa dia? Siapa wanita itu?" tanya Lilian penuh rasa gelisah dan kekhawatiran.
Ia mengabaikan pecahan gelas yang ada di lantai dan segera menghampiri mereka semua.
"Hallo, aku Tasya, kau pasti istrinya mas Alen ya," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya kepada Lilian.
Lilian semakin dibuat bingung dengan situasi tersebut, hatinya terasa panas karena cemburu, ditambah lagi wanita itu berdiri sangat dekat di samping Alen.
"Lilian, perkenalkan, ini Tasya, dia istrinya Tian," ucap Alen kepada Lilian.
Suasana seketika hening, di benak masing-masing kecuali Sinta mulai berpikir keras.
Tian adalah asisten pribadi sekaligus sekretaris Alen di perusahaannya, tapi kenapa Alen membawa istri asistennya itu pulang ke rumah mereka? Ditambah wanita tersebut tampak sedang mengandung.
"Is-istrinya Tian?" tanya Lilian tanpa menerima uluran tangan Tasya.
"Iya, dia istrinya Tian," ungkap Alen lagi.
"Lalu kenapa dia pulang ke rumah kita bersamamu mas? Di mana Tian?" tanya Lilian lagi.
"Iya kak, kenapa dia ke rumah kita?" Raya yang penasaran pun juga ikut bertanya.
"Tian sudah meninggal," lirih Alen yang wajahnya mulai menampilkan sebuah kesedihan.
Bersambung ....
"Apa? Bagaimana mungkin?" ucap Lilian kaget setelah mendengar ucapan Alen.
"Ya, Tian sudah meninggal, sesuatu terjadi di luar kota sebulan sebelum kepulangan ku ke sini, malam itu setelah pulang dari membahas pekerjaan dengan klien aku dan Tian di rampok, Tian meninggal karena melindungi ku dari serangan seorang perampok yang membawa sajam," ucap Alen dengan mata berkaca-kaca.
Saat mengingat kejadian tersebut dia selalu merasa bersalah, menyesal dan ingin menangis.
"Astaga, kenapa kau tidak pernah menceritakan hal itu padaku?" tanya Lilian sangat kaget.
"Itu karena mas Alen tidak ingin membuat mu khawatir kak Lilian," jawab Tasya.
"Tasya benar, aku tidak ingin kau dan Raya khawatir jadi memutuskan untuk menyembunyikan hal itu dan menceritakan setelah kembali," jelas Alen lagi.
"Apapun itu, yang jelas kita semua berhutang budi kepada Tian, selama ini dia sudah berkorban banyak untuk perusahaan dan juga Alen," ucap Bu Sinta seolah-olah dia tua banyak soal perusahaan.
"Jadi ibu sudah tau?" tanya Lilian.
"Jangan salahkan ibu, aku memang melaporkan kejadian ini hanya kepada ibu dan meminta ibu untuk merahasiakan nya dari mu agar kau tidak khawatir," jelas Alen kepada Lilian yang tampak masih tidak bisa menerima semua alasan tersebut.
"Mas, ini tidak benar, aku istrimu, seharusnya kau mengatakan semuanya padaku, tidak perlu khawatir soal apapun," ucap Lilian tak habis pikir.
"Sudahlah Lilian, bukan kah seharusnya kau bersyukur kak Alen baik-baik saja?" ungkap Raya kembali menatap Lilian dengan tatapan jengkel.
"Sepertinya posisi Lilian di rumah ini tidak terlalu kuat ya," batin Tasya sambil memperhatikan gerak-gerik semua orang sejak dia datang.
"Baiklah lupakan masalah itu, tapi kenapa kau membawa istri asisten mu pulang ke rumah kita?" tanya Lilian segera mengalihkan pandangannya kepada Tasya.
Tasya yang mendengar itu seketika mendudukkan kepalanya.
"Lilian dengarkan aku, kau dan Tasya tidak jauh berbeda, jika kau hanya punya aku, Tasya juga hanya punya Tian, dia yatim pintu sama seperti mu tidak punya kelurga, lagipula ini adalah wasiat terakhir Tian, dia meminta ku untuk menjaga istri dan calon anak nya, aku tidak bisa menolak karena Tian meningal akibat menyelamatkan nyawa ku," ungkap Alen panjang lebar.
Deg ...
Jantung Lilian seolah-olah berhenti berdetak pada saat itu juga, darah nya berdesir hebat mendengar pertanyaan sang suami.
"Mas! Jadi kau memutuskan untuk menerima wasiat gila itu? Apa kau tidak memikirkan perasaan ku?" ucap Lilian dengan tegas.
"Lilian cukup! Apa kau gila bicara seperti itu di hadapan Tasya? Dia kehilangan suaminya karena menyelamatkan suamimu, lagipula Alen hanya akan bertanggung jawab untuk menjaga Tasya dan anak nya, bukan menikahinya! Untuk apa kau bersikap jahat seperti itu!" ucap Sinta sambil mencengkram erat lengan Lilian.
"Tapi Bu, bukan kah mas Alen bisa memberinya tempat tinggal, pelayan dan juga uang? Tidak perlu harus membawanya tinggal serumah dengan kita dan merawat dia secara langsung," ungkap Lilian merasa keputusan tersebut tidak masuk akal.
"Lilian benar, mas Alen sepertinya kehadiran ku di rumah ini sama sekali tidak bisa di terima, sebaiknya aku pergi saja, aku tidak masalah dengan kepergian mas Tian, aku sudah ikhlas, kau tidak perlu merasa bersalah padaku dan anak malang kami yang akan lahir tanpa ayah," ucap Tasya hendak pergi setelah mengatakan hal itu.
"Cukup Lilian! Apa kau tidak punya hati nurani? Aku bisa berdiri di hadapan mu saat ini karena Tian! Dia yang sudah mengorbankan nyawanya untukku, apa kau tidak kasihan melihat Tasya yang seperti ini? Kau juga tidak jauh berbeda dengan nya seharusnya kau bisa memahami," ungkap Alen lagi sambil memegang pergelangan tangan Tasya agar dia tidak beranjak pergi.
"Bukan begitu mas, tapi masih banyak cara lain untuk balas budi tapi tidak seperti itu," jelas Lilian mulai memelan kan nada bicaranya.
"Tidak ada cara lain, dokter bilang kandungan Tasya sangat lemah, dia bisa dalam bahaya kapanpun aku khawatir kalau dia tinggal di rumah yang terpisah, lagipula aku juga sudah berjanji di hadapan Tian yang pada saat itu hendak menghembuskan nafas terakhir nya, aku akan mengakui anak ini sebagai anaku," ucap Alen dengan suara lantang.
Duar ...
Bagai di sambar petir hati Lilian kini hancur berkeping-keping setelah mendengar pernyataan hebat dari sang suami.
Bukan lagi jantung yang berhenti berdetak bukan pula darah yang berdesir, Lilian kini seolah-olah sudah kehilangan separuh hidupnya ketika mendengar ucapan Alen.
"Gila, kau benar-benar gila! Aku tidak setuju mas," ucap Lilian dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya mulus nya.
"Maafkan aku Lilian, aku tidak bisa menerima pendapat mu, setuju atau tidak, anak ini akan ku angkat menjadi anaku, aku sudah menghilangkan nyawa ayahnya, jadi aku harus bertanggung jawab, tapi kau tenang saja, aku hanya akan mengakui anak ini, soal Tasya dia juga sudah setuju, kau jangan khawatir aku tidak akan berbuat lebih, aku hanya akan mengakui anak ini sebagai anak ku agar dia tetap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah saat dia lahir nanti," jelas Alen.
"Iya, lagipula kalian berdua sama sekali tidak memiliki anak, bukan kah bagus kalau anak ini juga kau anggap seperti anak mu? Lagipula Alen hanya akan menjadikan anak ini sebagai anak nya, dia tidak akan menikahi Tasya, hanya sebatas pengakuan anak dan ayah saja," ucap Bu Sinta membantu Alen untuk meyakinkan Lilian.
"Gila! Kalian semua gila! Kalian semua tidak masuk akal, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui ide gila kalian! Aku memang belum bisa melahirkan keturunan untuk mas Alen tapi bukan berarti aku rela melihat suamiku mengakui anak orang lain sebagai anaknya hanya karena hutang budi," ucap Lilian yang kemudian berjalan cepat meninggalkan mereka semua.
Ia memutuskan untuk kembali ke kamar melupakan segala sesuatu tentang makan malam Istimewa yang sudah dia siapkan untuk Alen.
Tangis Lilian pecah di iringi dengan suara hujan yang kian turun begitu deras seolah-olah langit pun ikut merasakan penderitaan yang di rasakan Lilian saat ini.
"Jangan pedulikan dia, Raya antar Tasya ke kamar tamu, Alen kau pasti lelah, malam ini biarkan Lilian menenangkan dirinya sendiri kau istirahat di kamar lain," ucap ibu Sinta di susul kata iya dari sang anak yang notabene nya patuh terhadap ucapan sang ibu.
"Baik Bu, oh ya, apakah aku benar-benar salah sudah mengambil keputusan ini?" tanya Alen setelah Tasya dan Raya berlalu pergi.
"Tidak salah, sudah sepatutnya kau balas budi, lagipula Tasya sepertinya anak baik-baik dan mudah di atur tidak keras seperti Lilian, terlebih lagi dia baru menikah dengan Tian tujuan bulan, mereka sudah di karuniai anak, ibu sangat iri, ibu juga sudah lama menginginkan kehadiran seorang cucu, kali ini kehadiran Tasya dan anak nya bisa membuat ibu sangat senang," ucap Sinta dengan senyum lembut nya.
Bersambung ....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!