Indonesia
NovelToon NovelToon

Terlahir Kembali, Menggulingkan Kaisar

Istana Dingin

“Kenapa? Aku mencintaimu…Kenapa kamu jadi seperti ini?” Seorang wanita yang memuntahkan darah segar dari mulutnya. Mahkota Phoenix masih menghiasi rambutnya. Namun bukan pakaian sutra yang kini dikenakan, hanya pakaian putih biasa.

Darah segar yang terus mengalir dari mulutnya. Menatap ke arah pria yang dicintainya. Pria yang menggunakan jubah naga.

“Seluruh anggota keluarga Lin sudah dieksekusi. Atas tuduhan melakukan pemberontakan.” Itulah yang diucapkan oleh sang Kaisar penuh senyuman arogan. 

“Pemberontakan? Ayah…adik…mereka tidak mungkin—” kalimat dari permaisuri Lin Krisan terhenti.

Suara tawa Kaisar menggema, pria itu menatapnya penuh senyuman. Kemudian mendekat dan berbisik di telinganya.”Benar-benar kotor dan menyedihkan, biar aku katakan satu rahasia padamu. Mereka memang tidak melakukan pemberontakan, aku yang melakukannya. Aku yang meletakkan bukti-bukti palsu di kediaman Lin.”

“Brengsek! Ayahku sudah sepenuh hati untuk mendukungmu…kamu tidak ingat? Bagaimana saat kamu terkepung di medan perang, ketika menjadi pangeran yang tidak diperhitungkan. Ayah dan adikku yang datang untuk menyelamatkanmu!” Suara teriakan darinya, wanita yang kembali memegangi dadanya memuntahkan darah dari mulutnya.

Tubuhnya sudah rusak, mengalami keracunan. Lebih tepatnya diracuni sedikit demi sedikit. 

“Dia hanya orang tua yang serakah. Jendral Lin hanya pejabat yang serakah. Jenderal yang memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada aku. Seluruh rakyat di kekaisaran ini memujinya. Sementara aku? Aku adalah seorang Kaisar! Kematian memang pantas untuknya, yang selalu ingin menginjakku…” kalimat penuh senyuman yang diucapkan oleh pria itu. 

Pupil mata sang permaisuri bergetar penuh kekecewaan. Perlahan wanita itu tertawa, sebuah tawa yang sumbang dan aneh. Air matanya mengalir.”Jadi ini adalah alasan Kenapa bahkan setelah belasan tahun menikah kamu tidak menyentuhku? Kamu takut akan kekuasaan keluarga Lin. Jika aku melahirkan anak untukmu, maka anak itu kemungkinan besar akan menjadi Kaisar berikutnya. Kamu takut dengan keluarga Lin. Aku mencintaimu…ayahku benar-benar tulus padamu…ha…ha…ha…” wanita yang kembali tertawa sumbang. Benar-benar penuh dengan kekecewaan dan rasa sakit. 

Selir agung yang dari tadi berada di samping Kaisar, bergelayut manja, kemudian sedikit bersembunyi. Wanita itu berucap pelan.”Yang mulia Erlin takut…kak Krisan terlihat begitu menyeramkan dan menjijikan. Nanti akan membawa sial bagi anak kita.”

Wanita yang merupakan selir kesayangan Kaisar tersebut tersenyum. Membelai perutnya yang membuncit, sudah 5 anak yang dilahirkan olehnya untuk Kaisar. Dan ini adalah kehamilan keenam baginya.

Sedangkan Krisan tidak melahirkan seorang anak pun. Wanita yang hanya dapat menangis sembari tertawa, menatap ke arah darahnya yang terus mengalir dari mulutnya, menetes ke lantai istana dingin ini. 

Bertahun-tahun dirinya mengharapkan cinta Kaisar. Mengharapkan sedikit saja perhatian, seperti yang diberikan oleh pemuda itu saat sebelum menikahinya. Tapi bagaikan satupun tidak didapatkan olehnya. 

“Ha…ha…ha…ha…” wanita itu tertawa miris, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Terlihat begitu menyedihkan saat ini, dirinya dulunya adalah Nona muda pertama dari keluarga Lin. Keluarga Jenderal yang paling dihormati. Wanita paling berbakat di ibukota, terpikat oleh salah satu pangeran. Kemudian menikahinya dan menjadikannya Kaisar. 

Tapi inilah akhir nasibnya.

“Sebaiknya kamu mati…” Kaisar melirik ke arah dayang, wajahnya menyeringai. Tatapan matanya terlihat begitu dingin, dayang yang mengerti akan isyaratnya memegangi sang permaisuri. 

Memaksanya untuk meminum semangkok racun. Dirinya berusaha melawan, tapi hampir tidak memiliki tenaga. Membiarkan cairan itu merusak tubuhnya. 

Pada akhirnya dirinya berbaring di lantai yang dingin. Beberapa kali memuntahkan darah lagi. Menatap ke arah Kaisar, yang pergi dengan merangkul pinggang selir kesayangannya. 

Seorang wanita yang mati dengan penuh penyesalan. Seharusnya dirinya mendengarkan ayahnya. Seharusnya dirinya menuruti keinginan terakhir ibunya. 

Seharusnya dirinya tidak terpikat akan cinta. Wanita yang bergumam dengan sisa tenaga terakhirnya. 

Tangannya terangkat, seakan-akan mencoba untuk meraih kaisar yang pergi melalui pintu depan istana dingin. 

Hujan salju yang turun, dirinya perlahan berucap. Saat dingin merasuk ke dalam kulitnya.”Jika ada kehidupan kedua aku tidak ingin cintamu. Aku akan lebih memilih merebut tahta…”

Perlahan sinar mata itu memudar. Mengantarnya ke dalam kematian, tangannya masih terulur ke arah pintu keluar. 

Tempat seseorang pada akhirnya masuk, menerobos ke dalam istana dingin. Seorang pria, yang kemudian mendekati dan memeluknya. Lebih tepatnya memeluk jasadnya, seseorang pria yang menangis untuknya.”Yang mulia permaisuri…yang mulia...”

***

Namun ada yang aneh, ketika dirinya berpikir kematian telah menjemputnya. Ketika dirinya berpikir akan melihat kedua orang tuanya dan kakaknya di akhirat.

Dirinya terbangun, menatap ke arah sekitarnya. Seharusnya ini adalah musim dingin. Tapi kenapa udara terasa hangat? Lalu kenapa dirinya tidak mati?

“Yang mulia, sudah aku bilang, lebih baik mengadukan ini kepada ayah anda. Bagaimana bisa yang mulia Kaisar begitu tidak adil. Seharusnya tanggal 15 tepat pada saat pertengahan bulan, menghabiskan malam dengan anda.” Shi Riri (dayang kepercayaan permaisuri) berada di sampingnya, tengah menggosokkan tinta untuknya.

Matanya melirik ke arah sekitar. Ini bukan istana dingin, ini adalah istana Phoenix. Istana yang ditempati oleh permaisuri, sang permaisuri menatap ke arah jemari tangannya sendiri. 

Bukankah Shi Riri seharusnya sudah meninggal karena dihukum mati oleh kaisar? 

Pelayannya yang paling setia, Kenapa masih hidup? Apakah ini akhirat? 

“Kaisar bahkan memiliki lebih banyak anak lagi dari selir lainnya. Seperti seekor kelinci jantan yang terus kawin.” Komat kami pelayan itu mengomel. 

Kalimat ini, tempat ini…dirinya segera bangkit dari tempatnya duduk.”Riri, ini tanggal berapa?”

“Musim semi, tahun ke 564. Kenapa?” Tanya sang pelayan tidak mengerti. 

“Aku kembali ke 15 tahun lalu…” pada akhirnya sang permaisuri tersenyum, perlahan tertawa. Tawa yang begitu kencang menatap ke arah cermin kuningan yang ada di hadapannya. Wajahnya terlihat jauh lebih muda, tubuhnya juga terasa jauh lebih sehat. 

“Jadi apa yang mulia akan mengadukan ini kepada jenderal?” Tanya sang pelayan kepada majikannya. 

Permaisuri Lin Krisan tersenyum, di kehidupan lalu dirinya mengadukan ini kepada ayahnya. Pada akhirnya Kaisar memang menghabiskan malam dengannya. Bersedia menghabiskan malam, tapi malah menyuruhnya tidur di lantai yang dingin. Sedangkan Kaisar pada akhirnya tidur di atas tempat tidur yang hangat. Semua hanya formalitas agar tidak mengundang kemarahan dari jenderal Lin.

“Tidak…” wanita itu meraih kuasnya. Tangannya bergerak begitu lihai, menuliskan sebuah surat untuk ayahnya. 

“Yang mulia, apa yang Anda tulis? Jika tidak membuat tentang keluhan mengenai kaisar yang melanggar aturan, untuk menghabiskan malam dengan anda, maka---” Sang pelayan terlihat penasaran. 

“Aku hanya menulis keluh kesahku sebagai permaisuri. Sekaligus sebagai Putri tunggal kediaman Jendral.” Wanita yang menggoreskan kuasnya di atas kertas. 

Sang pelayan yang penasaran perlahan mengintip. Wanita yang tiba-tiba saja membulatkan matanya.

“Yang mulai akan menghentikan bantuan bencana atas nama Kaisar? Tapi bukankah Kaisar akan murka pada yang mulia…” langkah demi langkah yang tidak dimengerti oleh sang pelayan. Seharusnya permaisuri menarik perhatian Kaisar hingga bersedia menghabiskan malam dengannya.

“Uang adalah uang keluargaku. Bukan uangnya, Lalu kenapa aku harus keluar uang atas nama Kaisar. Lebih baik nikmati bukan? Aku juga harus membeli beberapa kain sutera, permata dan batu giok baru.” Sang permaisuri tersenyum, bahkan tertawa. 

Dirinya dulu begitu bodoh menggunakan harta keluarga Lin untuk kepentingan suaminya. 

Tapi kali ini tidak lagi. Wajah sang permaisuri terlihat begitu cerah.”Antar surat ini, dan sampaikan kepada ayahku. Ada banyak pengungsi di luar kota, lebih baik bagikan bubur atas nama keluarga Lin. Ingat! Harus atas nama keluarga Lin, bukan atas nama Kaisar lagi.” 

Kecantikan, uang, kekuasaan, bahkan relasi di bidang politik. Dirinya memiliki semuanya, menginjak Kaisar sialan itu bukan hal yang sulit bagi keluarga Lin.

"Aku akan menarik pelan-pelan dukungan politikku. Jika tidak bisa melahirkan darah naga. Maka aku tinggal mengadopsinya..." Permaisuri yang menyeringai, mulai menggunakan satu persatu perhiasan miliknya.

Perubahan

Berdandan secantik mungkin, hal yang tidak dapat dilakukannya di istana dingin. Menggunakan pakaian berwarna merah yang disukainya, bermotif burung Phoenix. Riasan wajah yang begitu indah. Perlahan dirinya meraih salah satu hiasan rambut.

“Yang mulia, kaisar tidak menyukai jika anda menggunakan pakaian dan perhiasan yang terlalu mencolok. Karena itu tidak melambangkan penderitaan rakyat. Kaisar akan—” Kalimat dari Shi Riri disela.

“Selir-selirnya berpenampilan cantik. Maka aku harus terlihat lusuh?” Tanya sang permaisuri pada pelayannya.

“Tapi ini agar kaisar memperhatikan yang mulia.” Sang dayang meyakinkannya.

“Sudah 10 tahun, dari usia 14 tahun aku memasuki istana, kemudian pada usia 17 tahun menjadi permaisuri dia sama sekali tidak pernah bersedia berbagi kamar denganku. Dia sendiri berkata, aku yang berpenampilan terlalu berlebihan. Dia tidak menyukai wanita yang terlalu menampilkan kemewahan. Tapi pada kenyataannya, itu hanya untuk mengurangi anggaran istana Phoenix. Agar dialihkan pada istana selir. Sungguh kaisar anjing…” Sebuah hinaan yang cukup vulgar.

“Yang…yang mulia, jika anda menghina Yang mulia kaisar dengan kata-kata kasar seperti itu, anda bisa dihukum.” Riri terlihat cemas, perlahan memasang satu persatu hiasan rambut pilihan majikannya.

“Menghukum ku? Bagaimana? Kaisar anjing itu saja masih bergantung pada kekuasaan keluarga Lin.” Sang permaisuri menghela nafas mengagumi penampilannya sendiri.”Ternyata aku memang cantik ya? Pantas menyandang gelar wanita yang paling berbakat. Sayangnya aku dulu masih terlalu muda dan bodoh hingga mengejar-ngejar Kaisar anjing itu. Kalau tidak aku mungkin akan memilih tinggal di kediaman Jendral saja, mengangkat beberapa selir pria, daripada memasuki istana.”

“Yang mulia permaisuri, anda sudah menduduki posisi tertinggi. Semua wanita di negeri ini menginginkan posisi anda. Yang kurang mungkin hanya satu hal, bayi yang akan menjadi putra mahkota. Yang mulia hanya tinggal merayu kaisar, menghabiskan satu malam romantis dengannya. Kemudian melahirkan pangeran kecil yang manis…” Riri berteriak gemas, mungkin wanita itu tengah berimajinasi menjadi pengasuh putra mahkota.

“Kamu berharap aku melahirkan anak untuk pecundang kotor yang asal celap-celup itu. Kamu gila ya?” Sang permaisuri berusaha keras untuk tersenyum.

“Ini…ini buktinya! Anda sendiri yang memasang jimat agar cepat hamil.” Sang pelayan menggeledah kantong wewangian kecil milik permaisuri. Ternyata memang terdapat jimat disana.

“Ini juga! Yang mulia sendri yang ingin saya meracik berbagai ramuan agar subur dan cepat memiliki keturunan.” Sang pelayan mengeluarkan beberapa resep dari laci.

Hal yang membuat sang permaisuri berusaha keras untuk tersenyum memendam rasa kesal. Kesal pada dirinya sendiri lebih tepatnya. Di kehidupan yang lalu, dirinya bahkan mati di istana dingin dalam keadaan masih perawan.

“Bagaimana caranya betina hamil, jika pejantannya saja berada di kandang ayam lain?” Pertanyaan sang permaisuri membuat sang pelayan menelan ludahnya. Menyadari ekspresi wajah wanita ini terlihat begitu kesal.

“Karena itu…karena itu yang mulia permaisuri harus menarik perhatian kaisar.” Lagi-lagi dayang ini meyakinkannya. 

Tapi memang semuanya masuk akal. Dayang ini menasehati semuanya untuk kebaikannya sendiri. Pria adalah langit, dan wanita adalah bumi, hukum patriarki dimana wanita hanya dapat bergantung kepada pria.  

“Sudah aku bilang, Aku memiliki rencana lain. Jika aku tidak bisa melahirkan naga, maka aku dapat mengadopsinya. Persiapkan semuanya, aku ingin pergi ke istana belakang.” Wanita yang begitu anggun mulai bangkit dari depan meja rias.

Dirinya melangkah pelan. Saat ini selir agung tengah mengandung darah naga. Beberapa selir bahkan sudah memiliki keturunan. Pangeran pertama merupakan putra dari selir Shen. Ada 11 pangeran yang sudah terlahir, dan 5 orang putri di istana ini. Semua keturunan Kaisar dilahirkan oleh para selir. Sedangkan dirinya tidak melahirkan satu keturunan pun. 

Ketika malam pertama pernikahan mereka, suaminya beralasan karena dirinya terlalu muda. Selanjutnya pria itu pergi berperang, datang membawa selir satu persatu. Berkata tetap akan menjadikan dirinya yang utama. Tapi tetap saja, setelah menjadi Kaisar dirinya sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Semua kata cinta hanyalah omong kosong. 

Ketika melewatinya beberapa ada yang bagaikan menahan senyuman. Walaupun tetap memberikan hormat padanya. 

Mereka membicarakannya di belakang, mengatakan dirinya sebagai wanita mandul. Permaisuri mandul yang tidak dapat memberikan keturunan. 

Setelah memberi hormat padanya, beberapa ada yang sedikit berbisik, saat sudah melewatinya. 

“Selir Shu bahkan sudah melahirkan sepasang pangeran ke-8, dan putri kedua. Tapi permaisuri bahkan belum melahirkan satu keturunan pun.”

“Kamu tidak tahu? Permaisuri kemungkinan besar mandul. Walaupun seorang permaisuri, ayam yang tidak bisa bertelur tetap saja tidak berguna.”

“Kalau bukan karena dia adalah Putri Jenderal besar, mungkin sudah lama statusnya dicopot.”

Lin Krisan yang masih dapat mendengar semuanya menghentikan langkahnya. Dulu dirinya akan membiarkan semuanya, benar-benar berusaha memendam amarahnya. Karena Kaisar tidak menyukai wanita kasar yang sering membuat masalah. 

Tapi kali ini berbeda, wanita itu melirik ke arah ketiga orang dayang yang baru dilewati olehnya. 

“Berhenti! Kalian bertiga berani membicarakan permaisuri…prajurit!” Panggil permaisuri, seorang Kasim yang berada di dekat sana mendekat bersama dengan dua orang prajurit. 

“Hamba memberi hormat kepada yang mulia permaisuri…” sang kasim menunduk memberi hormat, bersama dengan kedua prajurit di belakangnya. 

“Dua orang pelayan ini tidak bisa menjaga mulut mereka. Menurut hukum, Apa yang harus dilakukan pada mereka?” Dirinya melirik ke arah sang Kasim. 

“Paling ringan hukuman 50 pukulan. Paling berat jika menghina keluarga Kerajaan pemusnahan 9 generasi.” Jawaban dari sang Kasim, membuat ketiga orang dayang itu berlutut. 

“Ampuni hamba yang mulia permaisuri!” 

“Ampuni hamba yang mulia permaisuri!”

“Ampuni hamba yang mulia permaisuri!”

Ucap mereka bertiga hampir bersamaan. 

Sang permaisuri tidak tersenyum sedikitpun pada awalnya. Tapi menatap jijik ke arah ketiga pelayan yang dulu pernah menyiksanya di istana belakang di kehidupan lalu. Dan sekarang mereka berlutut di bawah telapak kakinya seperti ini. Sungguh memuakan, bagaikan bunga red spider Lily dirinya akan menghargai kesempatan ini untuk balas dendam. 

“Pukul mereka 50 kali, kemudian cukur rambutnya, buka pakaian mereka, paksa mereka berjalan tanpa pakaian berkeliling ibukota…” suara tawa permaisuri menggema, tidak ada lagi wanita yang baik hati. Tidak ada lagi wanita penyabar, tidak ada lagi permaisuri lembut yang menginginkan cinta Kaisar. 

“Baik yang mulia…” Sang Kasim menunduk memberi hormat. 

Sedangkan sang permaisuri kembali melangkah bersama dengan pelayannya. Benar-benar melangkah begitu anggun dengan pakaian berwarna mencolok, begitu banyak perhiasan indah di rambutnya. 

Bukan bagaikan permaisuri yang dulu, seseorang yang rendah hati.

Tanpa disadarinya, seorang pria menipiskan bibir menahan tawanya. Menatap bagaimana tingkahnya memperlakukan pelayan saat ini. 

Pria yang menduduki jabatan perdana menteri saat ini. Seseorang yang sering mendapatkan julukan sebagai raja neraka. Karena begitu ditakuti akan kekuasaannya, matanya menatap ke arah sang permaisuri.

“Tuan, permaisuri terlihat begitu kejam. Dia—” kalimat pria itu disela.

“Itulah yang menarik, dia memang seperti itu dari dulu. Seperti bunga beracun yang indah dan berbahaya…”

Menjadi Berbeda

Wanita yang melangkah menuju istana belakang. Matanya melirik ke arah sekitarnya. Bunga sakura tengah bermekaran, udara yang begitu hangat. 

Di kehidupan lalu, dirinya selalu bekerja keras untuk menjadi permaisuri yang baik. Mengatur pengeluaran dan pemasukan istana belakang. Membagikan bubur untuk rakyat jelata atas nama keluarga Kerajaan. Hidup sederhana, bahkan lebih sederhana dari Putri bangsawan kecil. Padahal dirinya adalah permaisuri, itu hanya untuk mengikuti selera dan keinginan Kaisar. 

Padahal dirinya hanya dipermainkan. 

Melewati kolam bunga teratai, ketika berjalan melewati sebuah gazebo. Dirinya berpapasan dengan seseorang. Pria yang dulu merupakan murid dari ayahnya. 

“Hamba memberi hormat kepada yang mulia Permaisuri.” Itulah yang diucapkan orang ini, menunduk ketika berpapasan dengannya.

Sang permaisuri hanya sedikit menunduk, sekedar membalas sapaan. Kemudian kembali melangkah, pria itu adalah lawan politik Kaisar. Perdana menteri, orang yang paling diwaspadai oleh kaisar saat ini. 

Mendapatkan posisinya, karena kecerdasannya. Dirinya sedikit melirik ke belakang, jika ingin menghancurkan Kaisar. Mungkin orang itu dapat dijadikan pion. 

Tapi orang itu begitu membencinya di kehidupan lalu. Selalu menentang keputusannya yang membela Kaisar. 

Sang permaisuri menghentikan langkahnya. Kemudian menatap ke arah belakang. 

Pria berpakaian hitam itu berjalan dengan anggun. Pria yang benar-benar rupawan, tapi belum menikah hingga saat ini. Semua wanita di ibukota menginginkannya.

Permaisuri Lin mengangkat salah satu alisnya.

“Menurutmu, Bagaimana caranya agar perdana menteri berpihak kepadaku? Apa aku harus memberikan banyak harta padanya?” Tanya sang permaisuri kepada dayangnya. 

“Tuan perdana menteri sama sekali tidak kekurangan harta. Hampir separuh toko di negeri ini dimiliki olehnya.” Jawaban dari dayangnya membuat sang permaisuri mengepalkan tangan berusaha keras untuk tersenyum. 

“Baiklah, Bagaimana jika aku mencarikannya jodoh. Mencarikan wanita cantik dari keluarga bangsawan. Ketika istrinya berada di pihakku maka—” kalimat sang permaisuri disela.

“Tuan perdana menteri, tinggal tunjuk saja jika menginginkan seorang wanita. Seluruh wanita di ibukota mengejar-ngejarnya. Mendinginkannya untuk menjadi seorang suami.” Riri menggeleng heran, dengan kata-kata majikannya. 

Bagaimana bisa lawan politik berpihak kepadanya? 

“Benar juga ya? Nanti akan aku pikirkan cara lain. Benar-benar seorang pria pemilih…” dirinya kemudian melangkah pergi. Berhenti menatap punggung pria yang sudah berjalan begitu jauh. 

Namun, pria dengan pakaian hitam itu, menghentikan langkahnya. Menatap ke arah permaisuri dari kejauhan. Hanya menatapnya saja…

Bagaimana caranya agar sang perdana menteri ini berpihak kepada permaisuri? 

Entahlah…

Namun yang jelas ketika wanita itu melangkah. Tiba-tiba langkahnya terhenti, menatap seseorang yang menggunakan jubah naga di hadapannya.

Perdana menteri melihatnya dari jauh, hanya mengepalkan tangannya dan menghela nafas. Matanya memerah, menahan amarah atau tangis? Entah apa yang ada di pikiran orang itu. Orang yang segera melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Tanpa ingin mengetahui apa yang Kaisar dan permaisuri bicarakan. 

***

“Hamba memberi hormat kepada yang mulia Kaisar. Semoga yang mulia Kaisar panjang umur 1000 tahun…” sang permaisuri menunduk kepada suaminya. Padahal dalam hatinya ingin sekali meludahi orang ini. 

“Mau ke mana? Apa mau membuat masalah di istana selir lagi?” Pertanyaan yang diucapkan oleh sang Kaisar, merangkul pinggang wanita yang baru diangkatnya menjadi selir, wanita yang kini tengah hamil. Selir Wen Lili itulah namanya. 

“Yang mulia, kakak tidak bermaksud buruk. Dia mungkin cemburu karena belum mengandung darah naga. Padahal yang mulia Kaisar melakukan semuanya demi kebaikan kakak. Melahirkan itu menyakitkan, harus bertaruh nyawa. Yang mulia Kaisar terlalu menyayangi Kak Lin, jadi tidak mengizinkannya melahirkan. Jangan salah paham ya Kak Lin…” itulah yang diucapkan Selir Wen.

Kata-kata yang bahkan membuat permaisuri memutar bola matanya malas. Jika dulu dirinya akan menampar selir ini. Kemudian berteriak di hadapan Kaisar, meminta Kaisar untuk menghabiskan satu malam saja dengannya.

“Wen Lili memang yang paling pengertian, tidak seperti seseorang yang pencemburu.” Sang Kaisar merangkul pinggang selir Wen, tersenyum mengelus perutnya yang membuncit. 

“Seseorang yang pencemburu? Yang mulia mengatakan siapa? Aku? Cemburu pada sampah masyarakat, maaf…maksudku cemburu padamu?” Pada akhirnya sang permaisuri tidak dapat menahan tawanya. Dirinya tertawa begitu kencang. 

“Diam! Kalau bukan pencemburu sifat apa yang kamu keluarkan ini? Selir Wen bahkan selalu takut jika kamu akan mencelakai para pangeran! Hanya karena sifat iri dengki dan cemburumu!” Kaisar menatap nyalang ke arahnya.

Sedangkan dirinya hanya mengangkat salah satu alisnya. Menghela nafas kasar.”Apa Aku mengatakan sesuatu yang membuat selir Wen ketakutan? Jika iya mohon maafkan Aku…” pada awalnya raut wajah permaisuri terlihat tenang penuh senyuman. 

Selir Wen mengepalkan tangannya, seharusnya wanita ini marah dan menunjukkan perilaku tidak beradab. Tapi kenapa terlihat begitu tenang? 

“Tapi…selir ini berani merendahkan namaku yang menjadi seorang permaisuri dengan memanggilku kakak. Sejak kapan posisi kita setara?” Raut wajah sang permaisuri tiba-tiba terlihat begitu muram dan gelap. Wanita itu menyeringai, senyuman menyenangkan yang anggun tidak terlihat lagi.

“Mohon ampun Yang mulia permaisuri, aku mengatakannya karena ingin akrab dengan anda. Ingin akrab dengan yang mulia…ingin kita dapat seperti saudara. Yang mulia Kaisar, pasti lebih mengetahui maksudku.” Selir Wen tiba-tiba saja berlutut. Yang ada di otaknya adalah untuk mempengaruhi Kaisar membenci permaisuri. 

“Sudah aku bilang hentikan perilaku cemburumu! Kamu mengintimidasi para selir! Sudah aku katakan aku tidak menyukai wanita pencemburu. Bagaimana bisa ada seorang permaisuri pencemburu sepertimu.” Sang Kaisar membantu Selir Wen bangkit. 

Pasangan anjing ini benar-benar penuh drama. Membuat sang permaisuri mengangkat salah satu alisnya.”Sebagai pemegang stempel Phoenix, hamba hanya menegakkan peraturan istana belakang. Hamba tidak menamparnya atau melakukan kekerasan. Jika yang mulia berani ikut campur dengan otoritas hamba. Jangan salahkan jika hamba, juga akan terlibat masalah politik. Karena stempel Phoenix, hanyalah satu-satunya mainan hamba yang tinggal di istana belakang ini.”

Kalimat sinis bagaikan penuh ancaman. Itu artinya, jika Kaisar menentangnya. Jangan salahkan jika dirinya mengadu kepada keluarga Lin.

“Kamu tidak bisa menghukum selir yang tengah mengandung darah naga.” Kaisar menekankan kata-katanya. 

“Benar! Hamba memang tidak bisa karena belum melahirkan darah naga sama sekali. Tapi, Selir Wen, tunjanganmu akan dipotong 3/4 nya. Kemudian kamu juga dihukum, untuk menggantikanku melayani kaisar setiap tanggal 15 selama 10 bulan.” Kalimat penuh tawa yang diucapkan oleh permaisuri.

“Kamu berani memotong tunjangan…” Kaisar membulatkan matanya, menyadari kalimat terakhir yang diucapkan oleh istrinya.”Apa maksudmu dengan menggantikanmu melayaniku?”

“Ha…ha…ha…” sang permaisuri menghentikan tawanya.”Aku sedikit kurang sehat karena terus-menerus tidur di lantai setiap tanggal 15. Nah, karena tidak ingin menulari penyakitku pada yang mulia Kaisar.  Lebih baik selir Wen saja yang melayani. Hamba permisi…”

“Yang mulia, hamba takut…” Selir Wen memeluk sang Kaisar. Sementara Kaisar menatap ke arah punggung sang permaisuri. Ada yang begitu aneh padanya? Entah itu apa…

Hingga sang permaisuri menghentikan langkahnya sejenak.”Saat yang mulia naik tahta menjadi Kaisar. Yang mulia pernah memberikan titah kosong kepada keluarga Lin, karena jasa-jasanya. Mungkin belakangan ini aku akan menggunakannya.”

“Jangan menggunakannya untuk hal-hal yang—” kalimat Kaisar di sela. 

“Kaisar tidak tahu, belakangan ini aku begitu kesepian. Mungkin lebih baik, aku mengangkat salah satu pangeran untuk menjadi putraku. Lebih tepatnya menjadi mainanku. Ha …ha…ha...ha..."sang permaisuri tertawa sumbang, sembari kembali melangkah meninggalkan tempat tersebut, diikuti dayang kepercayaannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!