Langkah kaki Kaynara terhenti tepat di depan pintu gerbang kayu jati yang menjulang tinggi. Ia merapikan rok kainnya yang sedikit kusut, menyapu helai jilbab instan ke belakang pundaknya, lalu menarik napas panjang.
Menginjakkan kaki di rumah ini selalu membutuhkan persiapan mental yang matang. Di balik pintu itu, aturan bukan sekadar imbauan, melainkan hukum mutlak yang tidak bisa ditawar.
Ponsel di dalam tasnya bergetar pendek. Nara buru-buru merogoh benda kecil itu sebelum ketukan bunyinya memancing perhatian dari dalam. Layar ponselnya menyala, menampilkan satu nama yang sukses mengikis rasa tegang di dadanya.
Devino.
"Sudah sampai rumah, Sayang? Jangan lupa istirahat. Nanti malam aku telepon seperti biasa, ya."
Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Nara. Dua tahun. Sudah dua tahun lamanya ia menyimpan nama itu rapat-rapat di celah kehidupannya yang terawasi ketat.
Devino Nugraha Wijaya, seorang pengusaha muda yang sukses membangun bisnis kulinernya sendiri dari nol, adalah tempat Nara melarikan diri dari impitan ekspektasi keluarga.
Devino adalah sosok yang hangat, penuh perhatian, dan yang paling penting: membuat Nara merasa dihargai sebagai dirinya sendiri.
Namun, di rumah ini, Devino hanyalah bayangan. Sosok yang tidak pernah boleh ada.
"Nara? Kenapa berdiri di depan pintu saja?"
Suara bariton yang berat dan tenang memecah lamunan Nara.
Ia mendongak dan menemukan papah, Pak Rahardja, sedang berdiri di teras rumah dengan kacamata baca di pangkal hidungnya. Tatapan mata ayahnya selalu sama: tajam, penuh perhitungan, dan menuntut kepatuhan.
"Eh, papah. Baru saja mau masuk, Yah," jawab Nara cepat sembari menyembunyikan ponselnya ke dalam tas. Ia berjalan mendekat, mencium tangan ayahnya dengan sopan.
"Masuklah. bunda dan tamu kita sudah menunggu di dalam," ujar Pak Rahardja singkat, membalikkan badan dan berjalan mendahului Nara.
Jantung Nara mendadak berdegup kencang. "Tamu? Jam segini?"
Nara melangkah masuk ke dalam ruang tamu bergaya klasik Jawa yang didominasi ukiran kayu gelap. Di atas sofa kulit, ibunya sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berjas abu-abu gelap.
Pria itu membelakangi Nara, namun dari gestur tubuhnya yang tegap dan kaku, Nara bisa merasakan aura dingin yang sangat dominan.
"Nah, ini dia Nara baru pulang," ucap Bu (Bunda Mayang) Rahardja dengan senyum merekah, jenis senyum yang hanya keluar jika ada hal besar yang sudah disiapkan.
"Nara, duduk sini, Nak."
Nara berjalan mendekat dengan ragu. Saat pria berjas abu-abu itu menoleh untuk menyambut keberadaannya, mata Nara berbenturan dengan sepasang iris mata hitam pekat yang tajam.
Pria itu memiliki rahang yang tegas, wajah tampan namun sangat minim ekspresi. Tidak ada senyum ramah atau sapaan hangat. Pria itu hanya menatapnya datar, seolah-olah Nara hanyalah sebuah berkas laporan kerja yang sedang dievaluasi.
"Nara, kenalkan. Ini Zaid," kata Pak Rahardja sambil duduk di kursi utamanya. "Zaid ini putra dari almarhum sahabat Ayah. Dia baru saja kembali dari luar negeri beberapa bulan untuk memimpin cabang perusahaan familinya di sini."
Pria bernama Zaid itu mengangguk tipis. "Zaid," ucapnya singkat dengan suara rendah yang dalam, tanpa mengulurkan tangan.
Nara menelan ludah, merasa kikuk dengan sikap pria di hadapannya. "Nara..." balasnya pelan.
Ibu (Bunda Mayang) Nara terkekeh kecil, mencoba memecahkan kekakuan di ruangan tersebut.
"Zaid ini orangnya memang sedikit pendiam, Nara. Tapi dia pria yang sangat bertanggung jawab dan mandiri. Sangat cocok denganmu."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut sang ibu, namun efeknya bagaikan petir di siang bolong bagi Nara. Tangannya yang memegang tali tas mengepal erat.
"Maksud bunda... bagaimana?" tanya Nara, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras menyembunyikannya.
Pak Rahardja meletakkan cangkir tehnya ke tatakan porselen, menimbulkan bunyi klenting yang nyaring di ruangan yang hening itu.
"Kamu tentu masih ingat kesepakatan keluarga kita, Nara. Sejak kecil, kamu tahu bahwa persoalan masa depan dan pasangan hidupmu adalah tanggung jawab papah dan bunda . Kami yang paling tahu apa yang terbaik untukmu."
Nara merasa dadanya sesak. Udara di ruang tamu itu mendadak terasa sangat tipis. "Tapi pah, Nara kan sudah dewasa. Nara bisa—"
"Tidak ada tapi, Kaynara," potong Pak Rahardja tegas, tanpa menaikkan nada suaranya namun sanggup membungkam argumen apa pun.
"Kami tidak pernah melarangmu menuntut ilmu atau berkarier, tapi untuk pendamping hidup, aturan di rumah ini tidak berubah. Zaid adalah pilihan terbaik yang sudah kami pertimbangkan matang-matang."
Nara melirik ke arah Zaid, berharap pria itu merasa terganggu atau setidaknya menunjukkan penolakan atas situasi perjodohan yang dipaksakan ini. Namun, Zaid hanya duduk tenang, menyesap tehnya tanpa riak emosi sedikit pun di wajahnya.
Pria itu seolah tak peduli bahwa hidup seorang gadis sedang diputarbalikkan di depannya.
.
.
Malam harinya, kamar tidur Nara terasa seperti penjara yang dingin. Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang berkedip.
Nama Devino tertera di sana. Dengan tangan bergetar, Nara menggeser tombol hijau dan menempelkan telepon ke telinganya.
"Halo, Nara? Kamu baik-baik saja? Suaramu terdengar beda," suara Devino terdengar lembut dari seberang telepon, penuh perhatian yang selalu berhasil menenangkan Nara.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes juga. Nara menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak tangannya agar tidak terdengar.
"Dev..." suara Nara serak.
"Ada apa, Sayang? Cerita sama aku. Ada masalah di rumah?"
Tanya Devino dengan nada khawatir yang jelas terdengar.
Nara menyapu air matanya kasar. Bagaimana ia bisa mengatakan kepada pria yang telah menemaninya selama dua tahun terakhir bahwa orang tuanya telah menjodohkannya dengan pria asing?
Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa cinta rahasia mereka kini berada di ujung tanduk karena tembok aturan keluarga yang tak tertembus?
"Orang tuaku... mereka menjodohkan aku, Dev," bisik Nara akhirnya.
Kalimat itu terasa begitu berat saat diucapkan.
Hening sejenak di seberang telepon. Hening yang mencekam, hanya terdengar helaan napas berat dari Devino.
"Dijodohkan?" tanya Devino, suaranya berubah pelan dan dalam.
"Siapa pria itu, Nara? Kenapa bisa mendadak seperti ini?"
"Namanya Zaid. Dia... anak dari sahabat papahku. Aku baru tahu tadi sore saat pulang ke rumah,"
Terang Nara dengan nada putus asa.
"Dev, aku harus bagaimana? Kamu tahu sendiri papah tidak bisa dibantah. Kalau aku menolak, papah tidak akan segan-segan..."
"Tenang dulu, Nara," potong Devino, berusaha tetap tenang meski suaranya menyiratkan emosi yang tertahan.
"Kita sudah bertahan dua tahun secara sembunyi-sembunyi. Aku membangun usahaku ini juga supaya pantas berdiri di depan ayahmu. Beri aku waktu untuk bicara langsung dengan orang tuamu."
"Jangan, Dev! Jangan sekarang!" cegah Nara panik.
"Papah sangat benci kalau tahu aku berpacaran di belakangnya. Kalau kamu datang tiba-tiba, papah justru akan makin keras dan makin cepat menikahkan aku dengan Zaid."
Devino menghela napas panjang. Ada jeda cukup lama sebelum ia kembali berbicara.
"Lalu kita harus bagaimana, Nara? Aku tidak mau kehilangan kamu. Dua tahun ini bukan waktu yang singkat untuk kita."
"Aku akan cari cara untuk bicara pelan-pelan dengan bunda," kata Nara berusaha mencari celah harapan, walau ia sendiri ragu.
"Aku janji akan berjuang, Dev. Tolong beri aku waktu."
"Baik. Aku percaya sama kamu. Tapi ingat, kalau situasinya makin sulit, kabari aku. Aku tidak akan tinggal diam," tegas Devino.
Setelah menutup telepon, Nara menyandarkan kepalanya pada sandaran ranjang. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada Devino yang begitu hangat dan telah mengukir banyak kenangan manis bersamanya.
Di sisi lain, ada titah orang tua yang selama ini tak pernah sanggup ia langgar, serta sosok Zaid yang dingin seperti es.
Sesuai dengan rencana orang tua kedua belah pihak, Nara diminta untuk menemui Zaid di sebuah kafe di pusat kota. Alasan resminya adalah untuk "saling mengenal lebih dekat."
Namun bagi Nara, ini terasa seperti eksekusi pelan-pelan terhadap kebebasannya.
Nara tiba lebih awal sepuluh menit, memilih meja di sudut yang agak tersembunyi. Ia sengaja memesan es kopi hitam untuk menahan rasa kantuk akibat tidak bisa tidur semalaman.
Tepat pada waktu yang dijanjikan, sosok Zaid muncul. Pria itu mengenakan kemeja putih kasual yang digulung hingga ke siku, namun kesan kaku dan formal tetap terpancar kuat dari gesturnya. Langkah kakinya mantap saat mendekati meja Nara.
"Sudah lama menunggu?" tanya Zaid singkat sembari menarik kursi di hadapan Nara.
"Tidak, baru beberapa menit," jawab Nara formal.
Zaid mengangguk pelan, lalu memanggil pelayan untuk memesan americano tanpa gula. Setelah pelayan pergi, suasana di antara mereka kembali diselimuti canggung yang pekat.
Zaid hanya menatap keluar jendela glass-house kafe tersebut, seolah kehadiran Nara di depannya tidak terlalu penting.
Nara yang merasa tidak nyaman dengan keheningan ini akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara. Jika ia ingin menyelesaikan benang kusut ini, ia harus jujur—setidaknya pada Zaid.
"Pak Zaid," panggil Nara.
Zaid menoleh, alisnya terangkat sebelah.
"Zaid saja. Kita tidak sedang di kantor."
"Baik, Zaid," Nara berdehem pelan, mengumpulkan keberaniannya. "Soal perjodohan ini... apakah kamu sebenarnya menyetujuinya?"
Zaid menatap Nara lurus-lurus. Pandangannya tenang, namun sangat intens hingga membuat Nara harus menahan diri untuk tidak mengalihkan pandangan.
"Pernikahan bagi saya adalah sebuah komitmen dan keputusan rasional," jawab Zaid dingin. "Orang tua saya percaya pada keluarga Anda, dan orang tua Anda percaya pada saya. Bagi saya, itu sudah cukup menjadi landasan."
Nara tertegun mendengar jawaban yang begitu mekanis.
"Hanya karena itu? Bagaimana dengan perasaan? Cinta? Apakah kamu mau menikah dengan seseorang yang tidak kamu cintai, bahkan belum kamu kenal?"
Zaid menyandarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangannya di dada. "Cinta adalah konsep yang terlalu dilebih-lebihkan, Nara. Perasaan bisa berubah seiring waktu, tapi komitmen dan kesamaan latar belakang adalah hal yang menjaga sebuah hubungan tetap stabil."
"Tapi saya tidak bisa seperti itu!" cetus Nara, emosinya mulai terpancing oleh kepasifan pria di hadapannya.
"Saya tidak bisa menikah tanpa ada rasa. Ini masa depan saya, Zaid. Bukan transaksi bisnis!"
Zaid tidak tampak terkejut atau marah dengan reaksi Nara. Ia hanya menatap gadis di depannya dengan tatapan menelisik.
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menolaknya langsung di depan ayahmu kemarin?"
Kata-kata Zaid bagaikan tamparan keras yang tepat mengenai sasaran. Nara terdiam. Bibirnya terkunci rapat.
Ia tahu persis jawabannya: karena ia takut pada ayahnya. Karena ia tidak memiliki keberanian untuk mendobrak aturan yang telah mengekangnya sejak kecil.
"Kamu tidak berani menolak orang tuamu, tapi kamu berharap saya yang membatalkan perjodohan ini," lanjut Zaid dengan suara datar, namun sangat menohok. "Jangan membebankan ketakutanmu pada orang lain, Kaynara."
Nara mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa kesal dan malu bercampur menjadi satu. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak memiliki empati, dingin, dan sangat tajam dalam menilai orang.
"Aku punya seseorang yang aku cintai," pengakuan itu akhirnya meluncur dari mulut Nara, menjadi benteng pertahanan terakhirnya. "Kami sudah berhubungan selama dua tahun. Aku tidak bisa menerima perjodohan ini."
Zaid merespons pengakuan itu hanya dengan senyuman tipis—jenis senyum sinis yang sangat tipis hingga hampir tak terlihat.
"Kalau begitu, buktikan," tantang Zaid pelan. "Bawa pria itu ke hadapan ayahmu. Minta dia memperjuangkanmu secara terhormat. Jika ayahmu menyetujuinya dan membatalkan perjodohan ini, saya akan mundur dengan senang hati."
Zaid menyesap kopinya yang baru saja diantarkan pelayan, lalu menatap Nara kembali.
"Tapi jika kamu tidak berani, atau priamu itu tidak sanggup menghadapi ayahmu... maka terima kenyataan bahwa perjodohan ini akan tetap berjalan."
Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. Terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
.
.
Tantangan dari Zaid terus bergema di kepala Nara sepanjang perjalanan pulang. Suara baritonnya yang tenang namun menusuk itu seolah terus mengejar.
“Bawa pria itu ke hadapan ayahmu... Jika tidak sanggup, terima kenyataan.”
Di dalam taksi yang membelah kemacetan kota, Nara mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.
Haruskah ia benar-benar membawa Devino ke hadapan Ayah? Membayangkan wajah tegas Pak Rahardja saja sudah membuat nyali Nara menciut, apalagi membayangkan reaksi sang ayah saat mengetahui putri tunggalnya telah berbohong selama dua tahun penuh.
Ponsel di genggamannya bergetar. Nama Devino kembali menyala di layar.
"Halo, Dev..." panggil Nara, suaranya terdengar sangat lelah.
"Nara? Kamu dari mana? Bagaiamana pertemuanmu dengan pria itu?".
Cecar Devino tanpa basa-basi. Ada nada gelisah yang samar-samar ditutupi oleh ketegasannya.
Nara menarik napas panjang, mencoba menata kalimatnya agar tidak membuat Devino panik.
"Kami baru saja selesai bicara, Dev. Dia... dia pria yang sangat kaku dan dingin. Tapi, dia mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir."
"Berkata apa dia?" suara Devino terdengar menajam.
"Dia tahu kalau aku menyukai orang lain. Dan dia menantangku... dia bilang, kalau kamu benar-benar serius, bawalah kamu bertemu Ayah secara jantan. Kalau Ayah merestui, Zaid akan mundur."
Hening merayap di seberang telepon. Hening yang terasa jauh lebih lama dari biasanya.
"Dev? Kamu masih di sana?" panggil Nara cemas.
"Aku di sini, Nara," sahut Devino pelan. "Tapi... apakah ini saat yang tepat? Kamu tahu sendiri bisnis kulinerku baru saja mau ekspansi cabang ketiga. Aku sedang butuh modal besar dan fokus penuh. Kalau aku datang ke rumahmu sekarang tanpa persiapan yang benar-benar matang, ayahmu pasti akan memandang sebelah mata."
Mendengar jawaban itu, ada sesuatu yang mengganjal di dada Nara. Sebuah rasa kecewa tipis yang merambat perlahan.
"Dev, ini bukan soal bisnismu. Ini soal kita. Zaid memberikan celah agar kita bisa keluar dari perjodohan ini!"
"Nara, dengarkan aku dulu," potong Devino lembut, mencoba memetakan logika.
"Aku hanya ingin datang dengan posisi yang kuat. Aku ingin ayahmu melihatku sebagai pengusaha yang setara, bukan pemuda biasa yang nekat. Beri aku waktu beberapa bulan lagi, ya? Kita ulur waktu perjodohan itu."
"Mengulur waktu?" Nara tertawa sumbang, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Ayah tidak bisa diulur, Dev. Pernikahan ini sedang disiapkan!"
"Nara, tolong mengerti posisiku..."
"Aku selalu mengerti posisimu selama dua tahun ini, Dev," bisik Nara lirih, rasanya sangat menyakitkan. "Tapi saat aku paling membutuhkanmu untuk berdiri di sampingku, kamu justru minta waktu."
Tanpa menunggu balasan Devino, Nara mematikan sambungan telepon. Ia menyandarkan dadanya yang terasa sesak pada pintu taksi, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca luar.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Nara merasakan keraguan yang sangat besar terhadap sosok Devino.
Dua hari berlalu tanpa komunikasi yang berarti antara Nara dan Devino. Di rumah, tekanan makin terasa nyata.
Bu Mayang sudah mulai sibuk mengumpulkan katalog gaun pengantin dan memesan gedung, seolah-olah keputusan Nara sama sekali tidak diperlukan.
Sore itu, atas desakan ibunya, Nara terpaksa menemui Zaid kembali. Kali ini bukan di kafe, melainkan di sebuah panti asuhan di pinggiran kota.
Ibu Nara bilang, Zaid rutin berkunjung ke sana dan meminta Nara menyusul untuk menyerahkan beberapa dokumen keluarga.
Nara melangkah masuk ke halaman panti asuhan yang asri. Suara gelak tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan dari arah taman belakang. Saat Nara berjalan mendekat, langkahnya mendadak terhenti.
Di atas rumput hijau, Zaid sedang duduk bersila. Kemeja mewahnya kini tergulung serampangan, dan jasnya sudah dilepas entah ke mana.
Seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar lima tahun tampak memanjat punggungnya, sementara dua anak perempuan lainnya sibuk menyodorkan buku gambar ke hadapan Zaid.
Dan yang paling membuat Nara terpaku. Zaid sedang tersenyum. Bukan senyum tipis sinis seperti di kafe kemarin, melainkan senyum tulus, hangat, dengan mata yang menyipit jenaka.
"Mas Zaid! Gambarkan naga lagi!" seru salah satu anak perempuan.
"Naga terus? Kelinci tidak mau?" goda Zaid, suaranya yang tajam kini terdengar begitu lembut dan sabar. Pria itu tertawa kecil saat anak-anak itu bersorak protes.
Nara berdiri membeku di balik pohon mahoni. Hatinya bergetar aneh. Pria di hadapannya ini sangat berbeda dengan sosok kaku berhati dingin yang ditemuinya kemarin. Apakah aura dingin itu hanyalah benteng pertahanan yang sengaja dibangun Zaid dari dunia luar?
Zaid mendadak menoleh, seolah menyadari keberadaan seseorang. Senyum hangat di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi tenang yang biasa saat matanya berbenturan dengan mata Nara.
"Nara?" panggil Zaid seraya berdiri perlahan, membiarkan anak-anak itu kembali bermain. Ia mengibas-ibaskan rumput yang menempel di celananya lalu berjalan mendekati Nara.
"Maaf... aku mengganggu," ucap Nara canggung, menyerahkan map cokelat di tangannya. "Ibu menyuruhku mengantarkan ini untukmu."
Zaid menerima map itu. "Terima kasih. Kamu tidak mengganggu."
Mereka berjalan berdampingan menuju bangku taman di bawah pohon rindang. Keheningan di antara mereka kali ini tidak lagi sepekat kemarin.
"Aku tidak tahu kamu suka anak-anak," ujar Nara memecah keheningan, menatap anak-anak panti yang masih berlarian.
"Anak-anak itu jujur," jawab Zaid datar, pandangannya lurus ke depan. "Mereka tidak memakai topeng, tidak berpura-pura, dan tidak memanipulasi perasaan demi kepentingannya sendiri."
Nara tersentak tipis. Kata-kata Zaid seolah menyindir situasi hidupnya.
"Bagaimana dengan priamu?" tanya Zaid tiba-tiba, menoleh menatap Nara. "Apakah dia sudah menemui ayahmu?"
Nara menunduk, meremas jemarinya sendiri. Rasa malu dan sesak kembali menghampirinya.
"Dia... dia butuh waktu. Dia merasa belum siap secara finansial untuk berhadapan dengan Ayah."
Zaid tertawa kecil—senyuman tipis tanpa nada mengejek, melainkan senyum prihatin.
"Seorang pria yang benar-benar mencintaimu, tidak akan menghitung kesiapan hartanya ketika wanitanya sedang terancam diambil orang lain, Nara. Yang dibutuhkannya hanya keberanian untuk pasang badan."
Kalimat Zaid menghantam dada Nara begitu keras. Perih, tapi sangat menohok.
"Kamu tidak berhak menilai dia, Zaid! Kamu tidak tahu perjuangan Devino!" selak Nara, mencoba membela sisa-sisa kebanggaannya, meski di dalam hati ia tahu kata-kata Zaid ada benarnya.
Zaid menatap Nara dalam-dalam, pandangannya begitu tajam seolah sanggup membaca seluruh isi hati gadis itu.
"Saya tidak menilai dia, Nara. Saya hanya menilai tindakan. Dan sampai detik ini, kamu berjuang sendirian di balik tembok yang kamu buat sendirian.
.
.
Malam harinya, rumah keluarga Rahardja kedatangan tamu tak terduga. Devino berdiri di depan pintu gerbang, mengenakan kemeja rapi dengan wajah yang tampak lelah.
Rupanya, rasa bersalah membuat pria itu memberanikan diri menyusul Nara, meski ia memilih menunggu di luar pagar tanpa berani melangkah masuk.
Nara menemui Devino di bawah remang lampu jalanan, beberapa meter dari gerbang rumahnya.
"Nara, maafkan aku soal kemarin," ucap Devino cepat, langsung menggenggam kedua tangan Nara. "Aku sadar aku salah. Aku terlalu panik membayangkan usahaku."
Nara menatap wajah Devino. Pria yang selama dua tahun ini selalu dipujanya, pria yang mengisi hari-harinya dengan kata-kata manis. Namun malam ini, tatapan mata Devino terasa berbeda. Ada rasa cemas akan kehilangan, tapi juga ada keraguan yang tersirat jelas.
"Dev, kalau kamu benar-benar minta maaf... maukah kamu masuk sekarang? Masuk dan bicara pada Ayah?" tantang Nara pelan, suaranya hampir berbisik.
Devino menoleh ragu ke arah pintu rumah Nara yang tertutup rapat. Lampu teras yang terang seolah menjadi ancaman besar baginya. Tangannya yang menggenggam Nara perlahan mengendur.
"Nara... malam ini? Tanpa janji terlebih dahulu?" Devino menggeleng pelan. "Ayahmu orang yang sangat berpengaruh. Kalau aku datang tanpa persiapan, kita hanya akan makin memperburuk keadaan."
Nara tersenyum pahit. Bayangan Zaid di taman panti asuhan tadi siang mendadak melintas di pikirannya.
“Seorang pria yang benar-benar mencintaimu tidak akan menghitung kesiapannya ketika wanitanya terancam...”
"Kamu takut, Dev," kata Nara lirih. "Kamu lebih takut ditolak dan jatuh harga diri di depan Ayah, daripada kehilangan aku."
"Bukan begitu, Nara! Aku melakukan ini demi masa depan kita!" pangkas Devino defensif.
"Masa depan yang mana, Dev? Masa depan di mana aku harus terus berbohong dan sembunyi-sembunyi?" Nara menarik tangannya dari genggaman Devino.
"Dua tahun aku bertahan karena percaya kamu adalah pelindungku. Tapi ternyata... kamu hanya mau mencintaimu di tempat yang aman."
"Nara!"
"Pulanglah, Dev," potong Nara dingin. "Jangan cari aku dulu. Aku butuh waktu untuk berpikir."
Tanpa memedulikan panggilan Devino yang tertahan, Nara membalikkan badan dan berjalan kembali menuju rumahnya. Langkah kakinya terasa berat, namun ada ketegasan baru yang menyusup di dalam dadanya.
Saat melangkah melewati pintu teras, Nara terkejut menemukan Pak Rahardja sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar. Ayahnya pasti telah melihat keberadaan Devino di luar pagar tadi.
"Siapa pria di luar itu, Nara?" tanya Pak Rahardja, suaranya terdengar dingin dan penuh selidik.
Jantung Nara berdegup kencang. Ini adalah momen yang selalu ditakutinya selama dua tahun. Namun malam ini, ketakutan itu mendadak menguap, berganti dengan rasa lelah yang amat sangat.
Nara menatap matanya ayahnya secara langsung. "Dia teman Nara, Yah. Seseorang yang pernah Nara harapkan... tapi ternyata tidak cukup berani untuk melangkah bersama Nara."
Pak Rahardja menatap putrinya diam-diam. Ada keheningan panjang di antara ayah dan anak itu. Untuk pertama kalinya, Pak Rahardja tidak langsung memarahi atau mendikte, melainkan hanya mengangguk pelan.
"Zaid baru saja menelepon Ayah," ujar Pak Rahardja kemudian. "Dia bilang, dia ingin memajukan tanggal pernikahan kalian bulan depan. Dia menyerahkan seluruh keputusan akhir padamu, tanpa paksaan."
Nara tertegun. Zaid... memajukan tanggal pernikahan, tapi menyerahkan keputusan padanya?
.
.
Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Nara menatap ke luar jendela. Hatinya bagaikan lautan yang dihantam badai.
Di satu sisi, cinta rahasianya dengan Devino mulai retak oleh keraguan dan ketakutan. Di sisi lain, sosok Zaid yang dingin dan misterius perlahan-lahan menunjukkan sebuah ketegasan dan perlindungan yang selama ini tak pernah Nara dapatkan.
Pilihan itu kini sepenuhnya ada di tangan Nara. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Kaynara tahu ia harus berani mengambil keputusannya sendiri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!