Indonesia
NovelToon NovelToon

CEO Yang Terjerat Pesona Sang Model

PEWARIS TANPA IKATAN DARAH

BAB 1

Langkah kaki seorang pria tampan bergema pelan di lantai marmer lobi gedung pencakar langit yang menjadi pusat kerajaan bisnisnya. Jas hitam mewah yang membalut tubuh tegapnya tampak sempurna, memancarkan aura elegan sekaligus berwibawa.

Tatapannya setajam mata elang, rahangnya tegas, dan setiap gerak-geriknya memancarkan karisma yang sulit diabaikan. Dengan gerakan tenang, ia melepas kacamata hitam yang menutupi sepasang mata dinginnya, memperlihatkan sorot penuh kewibawaan yang seketika membuat suasana menjadi hening.

Di belakangnya, beberapa ajudan berbadan tegap dengan setelan hitam berjalan mengikuti setiap langkah sang bos. Mereka menjaga jarak yang rapi, selalu waspada terhadap keadaan sekitar.

Begitu pria itu memasuki area utama perusahaan, seluruh karyawan yang telah berbaris di sisi lobi serempak menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.

"Selamat pagi, Tuan."

Sapaan itu terdengar hampir bersamaan, menggema memenuhi ruangan megah tersebut. Sosok pria itu bukan hanya dikenal sebagai CEO termuda, tetapi juga sebagai pemilik perusahaan terbesar di negaranya.

Tak sedikit karyawan wanita yang diam-diam mencuri pandang. Wajahnya yang nyaris sempurna, dipadukan dengan pembawaan dingin dan berkelas, membuatnya tampak bak dewa Yunani yang turun ke dunia manusia. Namun, tak seorang pun berani menatapnya terlalu lama.

Tanpa menghiraukan tatapan kagum di sekelilingnya, pria itu tetap melangkah dengan ekspresi datar. Di sampingnya, sang sekretaris berjalan sambil membawa tablet berisi jadwal dan dokumen penting hari itu.

Mereka berhenti di depan sebuah lift eksklusif yang hanya dapat diakses oleh CEO dan orang-orang tertentu. Pintu lift terbuka secara otomatis setelah sistem mengenali identitas sang pemilik perusahaan.

Pria itu melangkah masuk bersama sekretarisnya. Sementara itu, para ajudan hanya berhenti tepat di depan pintu lift, berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan tubuh. Mereka memahami batas tugas masing-masing; tak seorang pun diizinkan memasuki area privat yang dikhususkan bagi sang CEO.

Saat pintu lift perlahan menutup, bayangan sosok pria berkarisma itu menghilang dari pandangan, meninggalkan kesan hormat sekaligus kekaguman di hati setiap orang yang menyaksikan kedatangannya.

Eros Forger. Nama itu kini telah dikenal luas di kalangan pebisnis dan masyarakat kelas atas. Nama keluarga Forger melekat begitu erat pada dirinya, seolah-olah ia memang terlahir sebagai bagian dari keluarga tersebut.

Di usianya yang baru menginjak 28 tahun, Eros telah menjelma menjadi salah satu pengusaha muda paling sukses dan berpengaruh. Kecerdasan, ketegasan, serta kerja kerasnya membuat namanya disegani di dunia bisnis. Namun, tidak banyak orang yang mengetahui kisah di balik kehidupannya yang tampak sempurna.

Eros bukanlah putra kandung keluarga Forger.

Ia adalah anak semata wayang dari sahabat dekat pasangan Erwin Forger dan Alice Forger. Takdir yang kejam merenggut kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan pesawat saat Eros baru berusia lima tahun. Sejak hari itu, hidupnya berubah untuk selamanya.

Melihat putra sahabatnya kehilangan segalanya dalam sekejap, Erwin dan Alice tidak sanggup membiarkannya menghadapi dunia seorang diri. Terlebih lagi, pasangan itu belum pernah dikaruniai seorang anak karena Alice tidak bisa hamil.

Dengan penuh kasih sayang, mereka membawa Eros ke dalam keluarga mereka dan membesarkannya layaknya darah daging sendiri.

Hari demi hari berlalu, dan hubungan mereka tidak lagi sekadar antara orang tua angkat dan anak asuh. Eros tumbuh dengan cinta yang tulus, perhatian yang tak pernah kurang, serta kehangatan keluarga yang selama ini hampir hilang dari hidupnya.

Karena itulah, Erwin Forger mempercayakan seluruh kerajaan bisnis keluarga kepada Eros. Bukan hanya karena kemampuan luar biasa yang dimiliki pemuda itu, tetapi juga karena Erwin telah menganggapnya sebagai putranya sendiri.

Di mata sang kepala keluarga, Eros adalah pewaris yang paling pantas untuk meneruskan segala yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Perasaan yang sama juga dimiliki Eros.

Ia begitu menghormati dan menyayangi Erwin serta Alice. Bagi Eros, mereka bukanlah orang tua angkat, melainkan keluarga sejatinya. Mereka adalah orang-orang yang mengisi kekosongan dalam hidupnya, memberikan kasih sayang tanpa syarat, serta menghadiahkan segala hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Sejak kecil hingga dewasa, Eros selalu menjadi satu-satunya putra yang dimanja, diperhatikan, dan dibanggakan oleh keluarga Forger. Setiap pencapaian yang diraihnya membuat Erwin dan Alice merasa bangga seolah melihat darah daging mereka sendiri tumbuh menjadi pria luar biasa.

Dan kini, berdiri di puncak kesuksesan dengan nama besar Forger yang disandangnya, Eros berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjaga keluarga itu, sebagaimana keluarga itu telah menjaganya selama ini.

Malam mulai menyelimuti kota Brussels dengan gemerlap lampu yang menghiasi setiap sudut jalan. Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya di perusahaan, Eros akhirnya kembali ke mansion keluarga Forger.

Mobil mewahnya memasuki halaman luas yang dipenuhi taman-taman indah. Begitu kendaraan itu berhenti di depan pintu utama, beberapa pelayan segera berbaris rapi menyambut kepulangannya.

"Selamat malam, Tuan Eros."

Eros hanya membalas dengan anggukan tipis sebelum melangkah masuk ke dalam mansion.

"Aku pulang."

Suara beratnya menggema di ruang tengah yang megah.

Tak jauh dari sana, Erwin dan Alice Forger sedang duduk santai di sofa sembari menikmati secangkir teh hangat.

"Wah, anak Mommy sudah pulang!"

Alice langsung bangkit dari duduknya dan berlari kecil menghampiri putra kesayangannya.

Tanpa ragu, wanita paruh baya itu mengecup lembut kening Eros.

Kebiasaan itu tak pernah berubah sejak Eros masih kecil. Dahulu, setiap Eros pulang sekolah, Alice selalu menyambutnya dengan kecupan di dahi. Hingga kini, meski Eros telah tumbuh menjadi pria dewasa, kebiasaan sederhana itu tetap dipertahankan.

"Capek tidak, nak?" tanya Alice sambil mengusap lembut pipi putranya.

Eros tersenyum tipis.

"Tidak, Mom. Hari ini jadwalku tidak terlalu padat. Pertemuan dengan para kolega juga tidak banyak."

"Syukurlah."

Alice menggandeng tangan Eros menuju sofa.

"Duduk dulu, ya. Mommy dan Daddy ingin membicarakan sesuatu yang cukup serius."

Eros mengernyitkan dahi.

"Soal apa, Mom?"

Erwin meletakkan cangkir tehnya sebelum menatap Eros penuh kebanggaan.

"Bagaimana keadaan perusahaan? Semuanya berjalan lancar?"

"Sangat lancar, Dad. Tidak ada kendala berarti."

Erwin mengangguk puas.

"Bagus. Daddy benar-benar bangga padamu. Di usiamu yang sekarang, kamu sudah mampu memimpin perusahaan sebesar ini. Bahkan teman-teman Daddy tidak berhenti memujimu."

Eros tersenyum hormat.

"Terima kasih, Dad. Apa pun yang kulakukan, semuanya untuk Mommy dan Daddy."

Mendengar jawaban itu, senyum Alice semakin mengembang.

"Kalau begitu..." ucapnya sambil menatap wajah tampan putranya dengan jahil.

"Anak Mommy yang tampan ini sudah punya pacar belum?"

Pertanyaan itu membuat Eros terdiam sesaat.

Nama seorang gadis langsung terlintas di benaknya.

Lura.

Wanita yang telah mengisi hatinya selama tiga tahun terakhir.

Sebenarnya, Eros sudah lama ingin memperkenalkan Lura kepada Erwin dan Alice. Namun, kesibukan Lura yang sedang menempuh pendidikan di Australia membuat rencana itu terus tertunda.

Mereka belum pernah memiliki kesempatan untuk mempertemukan kedua orang tua angkatnya dengan wanita yang dicintainya.

"Memangnya kenapa, Mom?" tanya Eros hati-hati.

Alice saling melirik dengan Erwin, lalu tersenyum penuh arti.

"Begini, Sayang... Mommy dan Daddy ingin menjodohkanmu dengan putri sahabat kami."

Deg!

Jantung Eros seolah berhenti berdetak.

Seketika senyum di wajahnya menghilang. Tatapannya berubah datar, meski ia berusaha tetap terlihat tenang.

"Kamu masih ingat Zenaya, kan?" tanya Alice antusias. "Waktu kecil kalian pernah bertemu."

Eros mencoba mengingat-ingat.

"Seingatku... iya. Tapi aku sudah lupa wajahnya. Waktu itu aku masih kecil dan tidak terlalu memperhatikannya."

Alice bertepuk tangan kecil dengan wajah berbinar.

"Sekarang Zenaya sudah tumbuh menjadi wanita yang luar biasa cantik. Dia juga sangat baik dan sopan. Bahkan sekarang dia menjadi model internasional. Saat ini dia tinggal di Paris karena mendapat kontrak sebagai brand ambassador ternama."

Nada suara Alice dipenuhi rasa bangga.

"Hebat sekali, bukan?"

Eros hanya terdiam.

Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Erwin ikut tersenyum.

"Zenaya anak yang baik. Daddy yakin kalian akan cocok."

Namun, bagi Eros, setiap pujian itu terdengar semakin jauh.

Pikirannya kini dipenuhi oleh satu nama.

Lura.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Haruskah aku menolak?"

"Tapi... Mommy dan Daddy terlihat begitu bahagia."

"Bagaimana dengan Lura?"

"Apa yang harus kukatakan kepadanya nanti?"

"Eros?"

Suara Alice membuyarkan lamunannya.

"Eros..."

Wanita itu melambaikan tangan di depan wajah putranya.

Eros tersadar.

"Ah... iya, Mom?"

"Kamu melamun."

Alice menggenggam kedua tangan Eros dengan lembut.

"Kalau kamu tidak setuju dengan perjodohan ini, tidak apa-apa. Mommy dan Daddy tidak akan memaksamu."

Kalimat itu justru membuat hati Eros semakin sesak.

Ia memandang wajah Alice yang tersenyum lembut.

Meski wanita itu berusaha terlihat tenang, Eros dapat menangkap secercah harapan di balik sorot matanya.

Ia tahu...

Alice sangat menginginkan pernikahan itu terjadi.

Perlahan, Eros membalas genggaman tangan wanita yang telah membesarkannya sejak kecil.

"Aku setuju, Mom."

Alice membeku beberapa detik.

"Serius?"

Eros mengangguk sambil memaksakan seulas senyum.

"Apa pun keputusan Mommy dan Daddy... aku akan menerimanya. Aku percaya, kalian selalu menginginkan yang terbaik untukku."

Air mata haru langsung menggenang di pelupuk mata Alice.

Tanpa menunggu lebih lama, ia memeluk erat putra kesayangannya.

"Mommy sangat menyayangimu, Nak. Mommy yakin... kamu akan bahagia bersama Zenaya."

Eros membalas pelukan itu.

Namun senyum di wajahnya tak pernah benar-benar sampai ke hatinya.

Erwin ikut tersenyum lega.

"Kalau begitu, Dady akan mengatur jadwal pertemuan dengan keluarga Harper, sekaligus makan malam bersama."

Alice mengangguk penuh semangat.

Sementara itu, Eros hanya duduk diam.

Tak ada penolakan.

Tak ada protes.

Hanya keheningan yang memenuhi dadanya.

"Mungkin... memang sudah seharusnya aku mengorbankan cintaku."

"Mommy dan Daddy telah memberiku kehidupan, kasih sayang, dan keluarga. Mana mungkin aku menyakiti hati mereka hanya demi kebahagiaanku sendiri?"

"Sekarang... yang harus kupikirkan adalah bagaimana menjelaskan semua ini kepada Lura."

RAHASIA DI HATI ZENAYA

BAB 2

Di tempat lain...

Sebuah mansion megah yang berdiri di kawasan elit kembali dipenuhi kehangatan keluarga setelah kepulangan putri mereka.

Malam itu, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu utama mansion keluarga Harper. Para pelayan segera menyambut kedatangan wanita yang baru saja kembali dari Paris setelah menyelesaikan serangkaian pekerjaan besar sebagai model sekaligus brand ambassador ternama dunia.

Zenaya Harper.

Nama yang tidak asing lagi di dunia fashion internasional.

Wanita itu melangkah masuk dengan anggun. Tubuh tinggi semampainya dibalut pakaian elegan yang sederhana namun tetap memancarkan aura seorang wanita kelas atas.

Wajah cantiknya yang sering menghiasi sampul majalah dunia masih terlihat sempurna meski baru saja melewati perjalanan panjang.

Namun, senyum lembutnya seketika berubah menjadi ekspresi terkejut ketika mendengar kabar dari kedua orang tuanya.

"Perjodohan?"

Mata hazel indah milik Zenaya membulat sempurna.

Ia menatap kedua orang tuanya bergantian, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.

"Mom... maksudnya, aku akan dijodohkan dengan seseorang?"

Jane tersenyum lembut melihat reaksi putrinya.

"Bukan seseorang sembarangan, Sayang."

Daniel ikut tersenyum bangga.

"Dia adalah Eros Forger."

Nama itu.

Nama yang sangat dikenal di dunia bisnis.

Siapa yang tidak mengenal Eros Forger?

Pria muda yang berhasil mengambil alih kerajaan bisnis keluarga Forger di usia yang sangat muda. Seorang CEO yang dikenal dingin, cerdas, dan memiliki karisma luar biasa hingga membuat banyak orang mengaguminya.

Bahkan media sering menyebutnya sebagai salah satu pria paling berpengaruh di generasinya.

Zenaya terdiam.

Entah mengapa, hanya mendengar nama itu saja membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

"Memangnya... Tuan Eros tidak memiliki kekasih, Mom?"

Pertanyaan itu keluar tanpa sadar dari bibirnya.

Jane tersenyum penuh arti, seolah sudah mengetahui sesuatu.

"Tante Alice sudah mengatakan kepada Mommy bahwa Eros tidak memiliki kekasih."

Jane berhenti sejenak, lalu menatap putrinya dengan senyum menggoda.

"Bahkan dia juga menyetujui perjodohan ini, Sayang."

Mendengar hal itu, wajah Zenaya langsung berubah.

Pipi putihnya perlahan memerah.

Ia menundukkan kepala dengan malu, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang mulai muncul di wajahnya.

Sebenarnya...

Ada sebuah rahasia yang tidak pernah diketahui banyak orang.

Zenaya sudah menyukai Eros sejak mereka masih kecil.

Saat pertama kali bertemu dengannya bertahun-tahun lalu, sosok Eros kecil sudah meninggalkan kesan yang begitu dalam di hatinya.

Bukan hanya karena wajah tampannya.

Bukan hanya karena kecerdasannya.

Namun karena ada sesuatu dalam diri Eros yang membuat Zenaya merasa bahwa pria itu berbeda dari orang lain.

Istimewa.

Dan perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang meski waktu telah berlalu.

Selama bertahun-tahun, Zenaya hanya bisa melihat perkembangan Eros melalui berita, majalah bisnis, dan berbagai media sosial.

Ia melihat bagaimana anak laki-laki yang dulu ia kenal tumbuh menjadi pria luar biasa yang dikagumi banyak orang.

Pria yang kini menjadi pusat perhatian dunia.

Pria yang diam-diam masih ia kagumi.

"Jadi..."

Zenaya memainkan jemarinya pelan.

"Eros benar-benar setuju?"

Jane tertawa kecil.

"Iya. Dia bahkan mengatakan bahwa dia percaya keputusan Mommy dan Daddy-nya adalah yang terbaik untuknya."

Mendengar jawaban itu, hati Zenaya terasa hangat.

Dalam pikirannya, ia mulai berpikir bahwa mungkin...

Mungkin Eros juga memiliki perasaan yang sama.

Mungkin pria itu masih mengingatnya.

Mungkin perjodohan ini bukan hanya sekadar kewajiban keluarga.

Senyum kecil perlahan terukir di bibirnya.

Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk kembali berada di dekat Eros.

Ia penasaran...

Seperti apa pria itu sekarang?

Apakah dia masih memiliki tatapan yang sama seperti dulu?

Apakah dia masih mengingat gadis kecil yang pernah bertemu dengannya bertahun-tahun lalu?

Atau...

Apakah sekarang dia benar-benar akan menjadi miliknya?

Zenaya menarik napas pelan, lalu menatap kedua orang tuanya.

"Baiklah, Mom. Dad."

Senyum manis menghiasi wajah cantiknya.

"Aku menyetujui perjodohan ini."

Seketika, wajah Jane dan Daniel dipenuhi kebahagiaan.

Mereka lega.

Bukan karena berhasil memaksakan kehendak kepada putri mereka, melainkan karena untuk pertama kalinya Zenaya menerima seseorang tanpa keraguan.

"Kami senang mendengarnya, Sayang."

Jane memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.

Daniel hanya tersenyum puas melihat kebahagiaan keluarganya.

Malam itu...

Dua keluarga besar telah menentukan jalan hidup anak-anak mereka.

Tanpa mengetahui bahwa di balik pernikahan yang terlihat sempurna itu...

Ada hati yang sedang menyimpan rahasia.

Eros dengan cintanya kepada Lura.

Dan Zenaya dengan cintanya kepada Eros yang telah ia simpan sejak kecil.

JANJI DI MASA KECIL

BAB 3

Eros duduk terdiam di kursi ruang kerjanya. Tatapannya kosong menembus dinding kaca yang memperlihatkan gemerlap Kota Brussels.

Perlahan ia membuka laci meja kerjanya, lalu mengambil sebuah kotak kayu kecil yang selalu ia simpan dengan hati-hati.

Di dalam kotak itu tersimpan sebuah jepit pita berwarna lembut yang mulai memudar dimakan waktu.

Benda sederhana itu adalah harta paling berharga yang tak pernah ia tinggalkan. Dengan lembut jemarinya mengusap permukaan jepit pita tersebut hingga tanpa sadar bibirnya membentuk senyum tipis.

Kenangan belasan tahun lalu kembali memenuhi benaknya.

Flashback On

Beberapa bulan setelah kecelakaan pesawat yang merenggut kedua orang tuanya, Eros kecil tinggal di sebuah panti asuhan di Sydney.

Mansion keluarganya telah disita karena perusahaan sang ayah terlilit utang. Tidak ada lagi tempat yang bisa ia sebut rumah. Seorang pelayan keluarga akhirnya mengantarkannya ke panti itu.

Hari itu, seorang anak laki-laki berusia lima tahun berdiri di halaman sambil memperhatikan sepasang suami istri yang baru datang. Wajah mereka tampak asing baginya.

"Eros, sini, Nak,"

Panggil seorang wanita cantik berpakaian elegan sambil tersenyum hangat.

Eros mengernyit bingung. Bagaimana mungkin wanita itu mengetahui namanya, padahal mereka belum pernah bertemu?

Tatapannya beralih kepada Kartika, pengurus panti yang selama ini merawatnya.

"Ayo, berikan salam kepada mereka," ujar Kartika lembut.

Dengan sedikit ragu, Eros melangkah mendekat lalu mencium tangan keduanya.

"Ya ampun... ternyata kau sudah sebesar ini. Terakhir kali aku melihatmu, kau masih bayi," ucap wanita itu sambil mengusap pipi Eros penuh kasih.

"Ibu... mereka siapa?" tanya Eros kepada Kartika.

Kartika tersenyum.

"Lebih baik kita berbicara di dalam."

Mereka pun memasuki ruang tamu panti dan duduk berhadapan.

"Perkenalkan, aku Alice," ujar wanita itu ramah.

"Dan ini suamiku, Erwin. Kami adalah sahabat

kedua orang tuamu dari Brussels."

"Sahabat Mama dan Papa?" tanya Eros terkejut.

Alice mengangguk pelan.

"Benar, Sayang."

"Kami datang untuk menjemputmu," sambung Erwin dengan senyum hangat.

"Menjemputku?" Eros memandang bingung.

"Ke mana? Aku sudah tidak punya rumah. Rumahku sekarang menjadi milik orang lain karena utang perusahaan Papa. Bahkan Paman Harja dan Bibi Elin membuangku ke panti ini beberapa bulan yang lalu."

Mendengar ucapan itu, hati Erwin terasa sesak.

Anak sekecil ini sudah memahami kenyataan hidup seberat ini... Sikapnya benar-benar mirip Dario (Ayah Kandung Eros) . Tenang dan dewasa.

Alice memberi isyarat kepada Kartika.

"Ibu Kartika, sebaiknya Ibu yang menjelaskan."

Kartika mengusap kepala Eros dengan lembut.

"Nak, mulai hari ini kamu tidak akan tinggal di panti lagi. Tuan Erwin dan Nyonya Alice ingin membawamu pulang. Mereka ingin merawatmu, menyayangimu, dan membesarkanmu seperti anak kandung mereka sendiri."

"Maksudnya?" tanya Eros pelan.

"Kami ingin kau menjadi putra kami satu-satunya," ucap Alice dengan mata berkaca-kaca. "Kami akan memberikan kasih sayang yang selama ini hilang darimu."

"Kelak kami juga akan menyekolahkanmu sampai setinggi mungkin. Memangnya cita-citamu ingin menjadi apa?"

Eros memiringkan kepala.

"Cita-cita itu apa?"

Erwin tertawa kecil.

Ia baru sadar bahwa anak itu masih berusia lima tahun.

"Cita-cita adalah impianmu saat sudah dewasa nanti. Misalnya menjadi dokter, pilot, pengusaha..."

"Aku ingin menjadi miliarder!" seru Eros dengan mata berbinar.

Semua orang tertawa geli.

"Kau tahu arti miliarder?" tanya Alice.

Eros mengangguk mantap.

"Orang yang punya uang banyak dan uangnya tidak pernah habis."

Alice tertawa gemas.

"Anak pintar."

Erwin kemudian berkata dengan penuh keyakinan.

"Aku akan memastikan impianmu itu terwujud. Tapi ada satu syarat."

"Apa itu?"

"Kau harus ikut kami tinggal di Brussels."

Eros terdiam cukup lama. Wajah mungilnya tampak berpikir serius hingga membuat ketiga orang dewasa di hadapannya ikut menunggu dengan gugup.

Akhirnya ia mengangguk pelan.

"Baik... aku mau ikut."

Alice langsung memeluknya erat.

"Mulai sekarang panggil kami Mommy dan Daddy. Karena mulai hari ini, kau adalah anak kami."

Eros tersenyum malu.

"Baik... M-Mommy..."

Kartika ikut tersenyum bahagia. Akhirnya ada seseorang yang benar-benar tulus ingin memberikan keluarga baru untuk Eros.

Namun tanpa mereka sadari, di balik pintu ruangan, seorang gadis kecil berkuncir dua sedang menangis diam-diam.

Air matanya mengalir tanpa henti.

"Brussels itu di mana...?" gumamnya lirih. "Aku tidak tahu..."

Ia berlari menuju taman belakang panti lalu duduk di atas ayunan sambil memeluk boneka kesayangannya.

Beberapa saat kemudian, Eros telah berpamitan kepada seluruh penghuni panti. Namun ia menyadari satu orang belum terlihat.

"Di mana Lura?" tanyanya.

"Sejak tadi dia menangis di taman belakang," jawab salah seorang temannya.

Eros segera berlari ke sana.

Di bawah rindangnya pepohonan, Lura duduk di atas ayunan dengan kepala tertunduk.

"Kau kenapa?" tanya Eros lembut.

Lura terkejut. Ia buru-buru menghapus air matanya.

"Kau akan pergi meninggalkan panti ini, kan?"

"Iya. Aku berangkat hari ini."

Lura berusaha tersenyum meski matanya masih sembab.

"Selamat... sekarang kau punya orang tua baru. Semoga mereka memberikan kasih sayang dan kebahagiaan untukmu."

"Terima kasih, Lura. Jujur saja... aku juga berat meninggalkan panti ini. Terutama meninggalkanmu."

Lura menggeleng pelan.

"Aku tidak apa-apa. Kau harus baik-baik di sana."

Lalu gadis kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya.

"Berjanjilah... jangan pernah melupakanku."

Eros tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya.

"Aku berjanji. Aku tidak akan pernah melupakanmu."

Mereka saling tersenyum.

"Oh iya," tanya Lura polos, "Brussels itu di mana?"

"Yang aku tahu... tempat itu sangat jauh. Harus naik pesawat."

Eros memandang gadis kecil yang selama ini selalu menemaninya bermain.

Tiba-tiba Lura melepas jepit pita dari rambutnya.

"Ini untukmu."

Eros menatap benda kecil itu.

"Bawalah. Supaya kau selalu mengingatku."

Dengan hati-hati Eros menerimanya.

"Aku akan menjaganya."

Ia menggenggam jepit pita itu erat.

"Aku harus pergi sekarang. Orang tua baruku sudah menunggu."

"Jaga dirimu baik-baik ya, Eros."

"Kau juga, Lura."

Tak lama kemudian, mobil sport hitam membawa Eros meninggalkan panti.

Dari balik kaca mobil, ia melambaikan tangan kepada seluruh penghuni panti, sementara Lura terus berdiri memandang hingga mobil itu menghilang di kejauhan.

Flashback Off

Eros tersadar dari lamunannya. Jepit pita itu masih berada dalam genggamannya.

Bertahun-tahun telah berlalu.

Takdir kembali mempertemukan mereka.

Eros berhasil menemukan Lura yang kini telah tumbuh menjadi gadis cantik dengan kepribadian lembut dan sederhana.

Sejak pertemuan itu, benih-benih cinta yang dulu hanya berupa persahabatan kecil akhirnya berkembang menjadi sebuah hubungan yang begitu dalam.

Meski dipisahkan jarak karena Lura harus melanjutkan kuliah di Sydney, perasaan Eros tak pernah berubah.

Dan jepit pita yang selalu ia simpan itu menjadi saksi bahwa hingga hari ini, Eros tidak pernah sekalipun melupakan Lura.

Namun, takdir kembali mempermainkan mereka. Kebahagiaan yang baru saja mereka temukan harus terancam oleh sebuah perjodohan yang telah ditetapkan keluarga Forger.

Berat bagi Eros menerima kenyataan itu, tetapi ia merasa tidak memiliki pilihan.

Baginya, Erwin dan Alice Forger bukan sekadar orang tua angkat, melainkan orang tua yang telah memberinya kasih sayang, keluarga, dan kehidupan baru.

Karena itulah, ia tidak sanggup menolak keinginan mereka, meski keputusan tersebut mengharuskannya mengorbankan cinta yang selama ini ia jaga bersama Lura

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!