Sudah 2 tahun Arka mengidap tumor otak stadium 4, rambutnya rontok, wajahnya berubah menjadi mengerut, tubuhnya kurus dan bahkan untuk berjalan ia sering terjatuh.
Hari ini adalah hari operasinya, dan Arka telah bersiap-siap untuk operasi. Sekalipun kemungkinan kecil operasi kali ini berhasil, tapi ia punya harapan besar untuk sembuh setelah mengumpulkan tabungannya selama beberapa tahun ini.
Sebelumnya, ia sudah memberi tahu ayahnya jika ia ingin operasi, bukan dukungan yang ia dapatkan, tapi malah makian.
"Untuk apa dia operasi? Hah! Buang-buang uang saja! Kau pikir biaya operasi murah hah? Mau minta uang? Lebih baik menunggu mati saja, dasar tidak berguna!" Maki ayahnya beberapa hari yang lalu.
Tiba-tiba saja ponsel Arka berbunyi. Ia meraih dan mengambil ponsel itu, ternyata dari istrinya, Grina.
"Arka, mari kita berpisah. Aku sudah mengirim surat cerai di pengadilan, aku sudah menemukan pria yang lebih baik darimu, mulai sekarang dan selamanya, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi.”
Wajah Arka hanya menatap datar ponselnya, ia sudah ia duga akan ada terjadi perceraian.
"Pak Arka, apa Anda tidak apa-apa?” Tanya Dokter Cinta.
"Tidak apa-apa dokter saya baik-baik saja," Kata Arka mengangguk.
Arka hanya menatap tulisan itu sebentar lalu menyimpan ponselnya kembali.
Keluarganya mencampakkannya, istrinya menceraikannya, teman-teman menjauh sejak tahu ia sakit, tapi kini ia menyadari, ia tidak perlu bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup.
"Dokter, sekarang aku siap untuk operasi," kata Arka dengan suara mantap.
"Baiklah Pak Arka, jika Anda siap, mari kita operasi sekarang," kata dokter Ali tak ingin membuat Arka menjadi sedih.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan dan Arka duduk di atas brankar.
"Baiklah, ayo tim kita mulai operasi," kata dokter Ali kepada para tim operasi yang sudah siap siaga.
Arka merebahkan tubuhnya di brangkar operasi dengan mata terpejam, air matanya mengalir dari ujung mata, menandakan betapa pedih hatinya.
Ia adalah tulang punggung keluarga di mana uang hasil kerjanya di ambil orangtuanya untuk kuliah Kakaknya hingga S1 dan membuat rumah orang tuanya.
Meskipun begitu, akhirnya ia menikah dengan istrinya yang sudah jalan 3 tahun ini.
Tapi, kebahagiaan itu hancur setelah penyakit yang telah menggerogotinya, wajahnya menjadi pucat, badannya mengurus, ia tidak setampan dulu, kulitnya mengerutkan, hingga sampai di titik saat ini, dan berakhir di meja operasi.
Dokter pun menyuntikkan obat bius, perlahan-lahan kesadaran Arka memudar dan ia hilang kesadaran.
Dokter pun mulai melakukan operasi otak kepala Arka.
Andai pun gagal, Arka tidak menyalahkan dokter dan sudah menandatangani surat perjanjian, karena kondisinya saat ini memang tidak memungkinkan untuk operasi, tapi bagi Arka yang ingin bertahan hidup, lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali.
Lampu sorot terang menyinari kepala Arka yang terbaring tak bergerak di meja operasi. Dokter Cinta mengangkat tangan untuk memulai.
"Stadium 4, tumor sudah menjalar ke sumsum tulang belakang. Kita cuma punya satu kesempatan," katanya dengan napas pendek.
Beep... beep... beep...
Satu per satu alat dimasukkan, skalpell, forseps, laser bedah yang memancarkan cahaya merah tipis untuk memisahkan jaringan sehat dari tumor yang busuk.
"Jangan sentuh saraf optik!" teriak Dokter Ali, ahli neuro yang berdiri di sisi kiri. Satu kesalahan kecil bisa membuat pasien buta selamanya. Laser sedikit menyimpang, dan monitor tiba-tiba menunjukkan denyut jantung yang melambat.
Beep... beep...
"Pemberian obat penstabil!" Dokter Cinta memerintahkan.
Perawat segera menyuntikkan cairan ke dalam saluran darah Arka. Denyut jantung kembali normal, tapi ketegangan di ruangan makin kuat.
Mereka sudah beroperasi selama 6 jam lebih, tenaga mulai menipis, tapi tumor masih belum selesai diangkat.
"Tumor menyatu dengan saraf syaraf pusat!" teriak salah satu perawat yang memeriksa layar pemindaian.
Dokter Cinta melihat dengan mata membelalak, ia tahu apa artinya itu. Jika mereka terus memisahkan, saraf akan putus dan Arka akan lumpuh sepenuhnya. Jika berhenti, tumor akan terus tumbuh dan mematikan dalam waktu cepat.
Ia mengambil napas dalam-dalam. "Kita lanjut. Hati-hati sebaiknya."
Laser mulai bekerja lagi, tapi dalam sekejap, layar monitor menjadi merah. Denyut jantung pasien menjadi cepat sekali, lalu tiba-tiba... flatline. Suara beep yang terus-menerus berbunyi di ruangan.
"CPR sekarang!"
Tim bergerak cepat, menekan dada pasien, memberinya napas buatan. Tapi setelah 30 menit perjuangan tepatnya 7 jam masa operasi, Dokter Cinta mengangkat tangan. Matanya berkaca-kaca. "Berhenti," katanya dengan suara yang hancur. "Kita sudah kalah."
Ruangan menjadi sunyi, hanya terdengar napas pendek dari semua orang. Meja operasi yang semula menjadi tempat harapan, kini menjadi tempat kehilangan.
Arka pun di nyatakan meninggal dunia di meja operasi.
Dokter Cinta menarik nafas, sekali pun ia dokter dan biasa melihat hal ini, tapi ia tetap merasa kalah.
Dokter Cinta mereka air matanya karena kesedihan yang mendalam. Pasien bukan hanya kehilangan kehidupan, tapi juga kehilangan keluarga, ini adalah pasien yang sangat menyedihkan yang pernah ia temui.
"Pindahkan pasien ke kamar jenazah," kata Dokter Cinta terduduk lemas dan lelah, 7 jam operasi yang mereka lakukan ternyata tidak ada artinya.
...*******...
[Ting tong]
Loading...
Menemukan Tuan...
Memindai...
Pengenalan Tuan...
Memproses....
Selesai...
Mengscan tubuh Tuan...
Selesai.
Nama: Arka .
Umur: 28 tahun.
Pekerjaan: -
Jenis kelamin: Pria.
Status: Duda
Menyadarkan Tuan dari kematian...
Memproses...
Selesai.
Ting!
Tiba-tiba saja ia membuka matanya dan terkejut setelah menyadari di tempat asing.
"Di mana ini? Tempat apa ini?" tanyanya melihat sekeliling karena ada banyak pasien yang tertutup kain putih.
Ting
Mendadak kepala Arka berdenyut kuat, ia merasakan sakit kepala yang tidak pernah ia rasakan sebelum.
"Akhhhhhhh! Sakit sekali!" teriak Arka memegang kepalanya hingga tubuhnya meringkuk.
Ting!
Suara itu muncul lagi, tapi kali ini membuat sakit kepalanya perlahan menghilang.
"Eh, suara apa itu?" tanya Arka melihat kedua tangannya, lalu ia melihat sekeliling tempat ia berada sekarang.
"Tempat apa ini?" tanyanya kebingungan, ia. melihat para orang-orang di dekatnya di tutup dengan kasih putih, sama dengannya saat ini.
"Ini jangan-jangan... "
WELLCOME
[Selamat datang di system teknologi canggih, System Medis super. Anda akan menjadi Tuan dari system ini, Anda mendapatkan keahlian pengobatan. System akan membantu Anda menjadi dokter terhebat]
"Menjadi Dokter terhebat? Terhebat seperti apa?" tanya Arka sedikit takut, ia berputar-putar untuk mencari keberadaan sistem tersebut. Ia tidak bisa melihat siapa pun, tetapi suara itu terus berbicara kepadanya.
[Menjadi dokter hebat di masa depan, yang banyak menyelamatkan nyawa orang banyak]
Arka merasa seperti sedang bermimpi, rasanya itu tidak akan terjadi. "Ti-tidak mungkin! Aku... aku adalah orang biasa, yang bahkan tidak pernah belajar ilmu kedokteran sedikit pun. Bagaimana aku bisa jadi dokter hebat?" tanya Arka dengan kebingungan.
[Tidak perlu khawatir, sistem akan membantu Anda mencapai tujuan Anda. Anda hanya perlu mengikuti instruksi yang diberikan]
"Siapa kamu sebenarnya?! Ada di mana kamu?!" teriak Arka lagi.
[Saya adalah sistem teknologi canggih. Saya ada di dalam tubuh Anda, silakan sentuh layar di depan Anda, jika Anda setuju untuk menjadi bagian dari sistem, maka sentuh tulisan [ya] untuk menerimanya]
Arka masih bingung dengan apa yang terjadi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa dan juga tak bisa kemana-mana.
Tiba-tiba, sebuah layar muncul di depannya, dengan tulisan
[Apakah Anda menerima sistem menjadi bagian dari Anda? Klik [Ya] jika Anda setuju].
Arka melihat ada dua pilihan, Ya dan Tidak. Ia merasa ragu-ragu, tetapi kemudian ia memutuskan untuk menyentuh tulisan Ya.
Saat ia menyentuh tulisan Ya, sebuah cahaya terang muncul di sekitarnya. Ia merasa seperti sedang mengalami perubahan yang besar.
[Selamat, Anda telah menjadi bagian dari sistem. Sistem akan membantu Anda mencapai tujuan Anda]
Arka merasa seperti sedang berada di dalam suatu dunia baru, yang tidak pernah ia alami sebelumnya.
Ting!
[Hadiah perkenalan]
[Saldo 1.000.000]
[Obat penyembuhan kanker otak 10%]
[Insting penyembuhan:1%]
[Pendeteksi penyakit:1%]
[Kecerdasan:1%]
[Keberanian:1%]
[Keterampilan Tindakan:1%]
[Pengendali Energi:1%]
[Pengetahuan ramuan/obat-obatan:1%]
[Ketahan Mental:1%]
[Energi tubuh: 0%]
[Poin:1000]
[Level 1]
"Hadiah perkenalan? Hadiah apa ini?" tanya Arka kebingungan, memandang layar sistem dengan mata yang penuh pertanyaan.
[Ini adalah hadiah dari sistem, silakan di Terima]
"Bagaimana aku menerimanya?" tanya Arka kebingungan.
[Silakan sentuh layar di depan Anda, maka akan muncul secara otomatis]
Arka pun menyentuh layar tersebut, dan tiba-tiba muncul dua buah potion.
"Apa yang harus aku lakukan dengan potion ini? Apa aku harus meminumnya?" tanya Arka penasaran.
[Benar, potion yang Anda Terima penyembuhan hanya 10%, jika Anda ingin mendapatkan penyembuhan lainnya, Anda harus menggunakan poin, dan poin itu Anda dapatkan dari menyelesaikan misi]
"Misi apa itu?" tanya Adnan bertambah penasaran.
[Misi utama adalah menyembuhkan para pasien, tapi ada misi tersembunyi dan misi sekunder yang harus di selesaikan, salah satunya misi penyelamatan]
Arka mengangguk-angguk, ia tak sabar untuk meminum potion tersebut, ia pun meneguk potion tersebut, dan perlahan-lahan tumor di otaknya mulai mengecil, perlahan-lahan kulitnya sedikit lebih cerah dari sebelumnya.
"Wah, potion ini sangat luar biasa, penyembuhan sangat cepat dan efektif, walau hanya 10%.
"Terima kasih sistem," ucap Arka tak percaya dengan apa yang ia alami saat ini.
[Baiklah, hadiah yang terakhir adalah pemberian kemampuan medis instan, Siap-siap menerimanya]
"Eh, ada hadiah lain lagi?" tanya Arka mengangkat alisnya, merasa terkagum-kagum.
Memuat...
Loading...
Mulai.
0%...
10%...
20%...
30%...
40%...
50%...
60%...
70%...
80%...
90%...
100%...
Selesai.
Tiba-tiba saja di kepala Arka merasa seperti sudah belajar tentang medis, ia melihat kedua tangannya. "Aku... aku seorang dokter sekarang? Aku... aku bisa menyelamatkan seseorang?" tanya Arka melihat kedua tangannya antara kagum dan tak percaya.
[Ada beberapa cara pengobatan yang bisa Anda lakukan, yaitu dengan nadi kehidupan, akupuntur, ramuan herbal, pijatan dan potion yang bisa Anda beli di toko sistem (obat ini tidak terbatas). Tapi Anda tidak perlu khawatir, selagi Anda memiliki poin yang cukup banyak, Anda bisa melakukannya. Poin juga bisa untuk menambah pengetahuan yang lebih banyak]
Arka mengangguk-angguk sambil tersenyum puas, ternyata sistem sehebat ini.
Cek status kehidupan:
Kategori Status: %
[Sehat Sempurna \= 90-100%. Tubuh dan jiwa sehat, tidak ada masalah apapun. ]
[Sehat\= 70-89% Sedikit kelelahan atau gejala ringan, cepat pulih].
[Sedang Sakit \=40-69%. Ada penyakit/cedera sedang, membutuhkan perawatan rutin].
[Kritis \=10-39.% Kondisi berbahaya, membutuhkan tindakan darurat untuk menghindari kematian.]
[Sangat Kritis \=1-9%. Kondisi sangat berbahaya, kemungkinan kematian tinggi meskipun ada perawatan].
[Mati \=0% Aliran energi dan fungsi tubuh berhenti sepenuhnya].
Arka penasaran dengan status kehidupan, ia pun mendekati salah satu mayat yang tepat di sampingnya, ia pun memegang tangan mayat itu dengan ragu-ragu dan sedikit takut untuk mengetes status kehidupan.
Ting!
Status pasien:
Status Kesehatan:0%
Status kehidupan\= 0%
Tahan tubuh\=0%
Kondisi fisik\=0%
Kesehatan mental\=0%
Kesadaran\=0%
"Ternyata begitu, hanya dengan menyentuhnya, aku bisa tahu jika dia sudah meninggal," kata Arka merasa bawah dirinya kini telah menjadi luar biasa.
Arka di kamar mayat tersebut hanya berbalut selembar kain putih tanpa busana sehelai pun.
"Ah, terpaksa kain putih ini kujadikan penutup badan," gumam Arka, suaranya parau dan bergetar.
Dengan cekatan, ia merobek kain kafan itu menjadi beberapa bagian, lalu mengikat ujung-ujungnya sedemikian rupa hingga membentuk pakaian darurat.
"Aku harus segera keluar dari sini sebelum ada yang sadar aku bernapas lagi," bisik Arka pada dirinya sendiri.
Arka menyelinap ke dekat pintu. Ia memegang gagang pintu yang dingin, perlahan memutarnya, lalu menongolkan kepalanya untuk memantau situasi.
Koridor di luar tampak sepi. Namun, saat ia hendak melangkahkan kaki kelur, engsel pintu berderit. Seorang penjaga malam berseragam serba biru berjalan mendekat sambil membawa senter dan papan dada.
Langkah mereka berdua terhenti seketika. Mata sang penjaga membelalak sempurna saat menatap Arka yang berdiri dengan wajah pucat dan pakaian dari kain kafan acak-acakan.
"Ka-kamu... ha-hantu, hantuuuuuu!" pekik penjaga kamar mayat itu histeris.
Tangannya gemetar hebat hingga papan dadanya jatuh ke lantai. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik arah dan lari pontang-panting menyusuri koridor.
"Hei! Tunggu! Aku bukan... ah, percuma!" seru Arka frustrasi.
Arka tertegun sejenak karena Suara teriakan penjaga itu pasti akan memanggil keamanan.
Ia langsung berlari melintasi koridor rumah sakit yang dingin dan sepi. Ia harus melarikan diri secepatnya sebelum menimbulkan kerusuhan atau ditangkap karena dianggap penyusup gila.
Saat Arka sedang sibuk mencari jalan keluar, sebuah sistem muncul di depannya.
[Ting!]
[Misi Baru Diaktifkan]
[Target: Menyelamatkan seorang pasien yang belum meninggal, tetapi telah dinyatakan meninggal oleh tim dokter]
Arka mendadak menghentikan langkahnya di persimpangan koridor, napasnya terengah-engah.
"Eh, apa ini misinya?" tanya Arka kebingungan, menatap layar transparan yang hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri.
[Benar, Anda harus menyelamatkan nyawanya. Jika gagal, nyawa target akan benar-benar melayang dan ikatan Sistem dengan Anda akan tidak stabil.]
Arka mengepalkan tangannya. Ia tak mau ada nyawa melayang seperti dirinya, semua orang berhak hidup jika belum waktunya.
"Baiklah! Aku akan menyelamatkannya dengan pengetahuan yang aku punya darimu. Bersyukurnya ada sistem ini yang menghidupkan aku kembali... aku tak boleh menyia-nyiakannya!" kata Arka dengan tatapan mata bertekad.
"Sistem, beri tahu aku di mana posisi pasien itu!" perintah Arka seraya kembali berlari.
[Petunjuk Navigasi: Ruang ICU VIP Nomor 04, Lantai 3. Pasien mengalami kondisi catalepsy parah yang memalsukan tanda-tanda kematian.]
Arka melompati tangga darurat, mengabaikan rasa lemas pada otot-ototnya yang baru kembali berfungsi.
Tiba di Lantai 3, suasana tampak jauh lebih riuh. Di depan ruang VIP Nomor 04, terlihat sekelompok dokter, perawat, dan keluarga menangis
"Dokter! Tolong periksa sekali lagi! Anak saya pasti masih hidup! Saya mohon!" ratap seorang wanita paruh baya bergaun mewah, memegang tangan seorang dokter senior.
Dokter senior itu menghela napas berat dan menggelengkan kepala. "Maafkan kami, Ibu Siska. Grafik EKG sudah mendatar selama 10 menit. Pupil matanya tidak lagi merespons cahaya. Secara medis, putri Anda, Nona Clara, telah meninggal dunia pukul 02.15 WIB."
"Tidak! Clara!" jerit wanita itu histeris sebelum akhirnya pingsan di pelukan suaminya.
Di tengah tangisan gema keluarga tersebut, Arka membelah kerumunan tanpa ragu.
"Minggir! Dia belum mati!" teriak Arka lantang.
Sontak seluruh orang di lorong itu menoleh. Suasana hening seketika melihat sosok pria muda berwajah pucat, bertelanjang dada, dan hanya terbungkus robekan kain kafan.
"Siapa kamu?! Penjaga! Tangkap orang gila ini!" seru sang Dokter Senior dengan nada marah dan terkejut.
"Aku bilang dia belum mati! Kematian yang kalian lihat itu palsu!" tangkas Arka sambil menerobos masuk ke dalam kamar VIP, mengunci pintu dari dalam sebelum para petugas keamanan sempat menghentikannya.
"Hei! Buka pintunya! Kamu menyalahi hukum!" teriak Dokter dari luar sambil menggedor pintu kaca dengan kencang.
Arka tidak peduli. Ia menghampiri tubuh seorang gadis muda yang terbaring kaku di atas bangsal. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kebiruan.
"Sistem, apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Arka cepat.
[Anda bisa menggunakan CPR dan poin untuk menyelamatkannya]
[Ambil CPR di sebelah kanan Anda]
Dengan tangan yang diusahakan tidak gemetar, Arka mengambil CPR.
Dari luar, para petugas keamanan mulai mencoba mendobrak pintu.
Brak! Brak!
"Tahan sebentar lagi..." gumam Arka.
Ia memfokuskan pandangannya. Pengetahuan dari Sistem ke dalam otaknya membuat tangannya bergerak dengan sangat cepat.
"Gunakan poin untuk menyatakan jantungnya berdetak lagi, aku mohon...!"
[Poin di potong 500 poin]
[Sisa 500 poin]
Arka meletakkan CPR di dada gadis itu dengan pengetahuan dari sistem dengan yang dianjurkan secara universal adalah 100–120 kali per menit.
Tekan dada dengan kedalaman 5–6 cm dan biarkan dada terangkat penuh kembali.
"Bangunlah! Kembali!" seru Arka sambil menekan titik saraf dada gadis itu dengan teknik khusus yang diajarkan Sistem.
Brak!
Pintu berhasil didobrak. Para petugas keamanan dan Dokter Senior menerobos masuk.
"Pegang dia! Amankan orang gila ini!" perintah Dokter Senior dengan wajah merah padam.
Dua orang petugas keamanan langsung memiting lengan Arka dan memitingnya ke lantai.
"Lepaskan aku! Lihat pasiennya dulu!" teriak Arka, mencoba memberontak.
"Kamu sudah merusak jenazah! Kamu akan dipenjara karena ini!" bentak Dokter Senior seraya melangkah mendekati bangsal untuk mencabut jarum-jarum yang dipasang Arka.
Namun, sebelum tangan dokter itu menyentuh jarum, sebuah suara mengejutkan terdengar dari monitor jantung.
Bip... Bip... Bip...
Garis datar di monitor tiba-tiba melompat naik. Suara napas tersengal yang berat terdengar dari tenggorokan gadis yang terbaring itu.
"Gasp... Uhuk! Uhuk!"
Gadis itu mendadak membuka matanya, dadanya naik turun mengirup udara.
"I... ibu... " gadis itu memanggil ibunya dengan terbata-bata.
Seluruh ruangan seketika membeku. Dokter Senior itu terperanjat mundur hingga hampir terjatuh, matanya menatap monitor dan pasiennya secara bergantian dengan tidak percaya.
"Ti-tidak mungkin..." bisik Dokter Senior itu dengan bibir gemetar. "Detak jantungnya... kembali?"
Arka, yang masih dipiting di lantai, hanya menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.
"Sudah kubilang, kan? Dia belum waktunya mati," kata Arka pelan pada dokter itu.
[Ting!]
[Misi Berhasil]
[Selamat Anda mendapatkan 2.000.000]
[Selamat Anda mendapatkan 1000 poin]
[Obat penyembuhan kanker otak 40%]
[Saldo 2.000.000]
[Insting penyembuhan:2%]
[Pendeteksi penyakit:2%]
[Kecerdasan:2%]
[Keberanian:2%]
[Keterampilan Tindakan:2%]
[Pengendali Energi:2%]
[Pengetahuan ramuan/obat-obatan:2%]
[Ketahan Mental:2%]
[Poin:1500]
[Level 2]
Ibu gadis tadi yang masih terpaku mendadak sadar dan langsung memeluk erat putrinya.
"Nak, kau akhirnya bangun nak, kau bangun," kata ibu Siska terisak penuh hari dan kebahagiaan.
"I... bu... "
"Lepaskan dia," kata Dokter Senior itu dengan wajah murung.
Kedua petugas keamanan itu langsung melepaskan tangan Arka, ia langsung berdiri dan memegang tangannya yah sakit karena di telan dengan kuat.
"Ughh, sakit banget," keluh Arka.
"Kamu... dari mana tahu jika pasien belum meninggal?" tanya dokter senior itu menatap Arka tajam.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!