Brak!
Suara pintu dibanting dengan keras membuat tubuh Yao Wi tersentak kaget.
Ia menatap pria paruh baya bertubuh tambun yang berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam.
"Keluar dari apartemenku sekarang juga, dasar sampah!" teriak pria itu yang merupakan bapak kosnya.
"Tapi Pak, saya hanya telat bayar dua hari, tolong beri saya waktu," ucap Yao Wi mencoba membela diri.
"Dua hari kau bilang?" balas bapak kos itu sambil meludah ke lantai lorong.
"Kau bahkan sudah dipecat dari perusahaanmu kemarin sore, dari mana kau bisa dapat uang untuk bayar bulan depan?"
Yao Wi terdiam mendengar ucapan tajam tersebut.
Ia tidak bisa membantah karena apa yang dikatakan bapak kosnya adalah fakta.
Ting!
Suara notifikasi ponselnya berbunyi memecah keheningan yang canggung itu.
Yao Wi membuka pesan itu dan melihat foto mantan pacarnya, Li Na, di layar.
Di foto tersebut, Li Na sedang tersenyum manis memeluk lengan Wang Hao, mantan manajernya di kantor.
"Yao Wi, terima kasih atas ide proyekmu yang luar biasa," tulis Wang Hao dalam pesan teks itu.
"Berkat idemu, aku naik jabatan menjadi direktur dan Li Na sekarang bersamaku."
"Jangan pernah kembali ke Beijing, dasar pecundang kampungan."
Yao Wi meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih pucat.
Ia sudah bekerja siang malam selama lima tahun di kota metropolitan ini tanpa henti.
Ia tidak pernah mengambil hari libur dan selalu makan mi instan demi menabung untuk masa depan.
Tapi pada akhirnya, hasil jerih payahnya dirampas begitu saja oleh orang kaya yang punya koneksi.
Bahkan wanita yang ia cintai dan ia biayai hidupnya pun ikut pergi mengkhianatinya.
"Baiklah, aku akan pergi dari sini hari ini juga," kata Yao Wi akhirnya dengan suara serak.
Ia meraih koper tuanya yang sudah kusam di sudut ruangan.
Hanya koper inilah yang menemani perjalanannya saat pertama kali datang ke kota ini lima tahun lalu.
Dan sekarang, ia pulang dengan koper yang sama, tanpa membawa apa-apa selain kekecewaan yang mendalam.
Bapak kos itu mendengus sinis dan melipat tangannya di dada besarnya.
"Bagus, jangan pernah bermimpi bisa hidup sukses di kota besar jika kau hanya orang miskin yang tidak punya modal."
Yao Wi tidak membalas hinaan itu sama sekali.
Ia menyeret kopernya keluar dari kamar sempit yang menjadi saksi bisu perjuangannya selama ini.
Langkahnya terasa sangat berat saat menuruni anak tangga apartemen yang gelap.
Hujan gerimis mulai turun menyambutnya saat ia keluar dari gedung.
"Seolah langit pun ikut menertawakan nasibku yang menyedihkan ini," batin Yao Wi dengan senyum pahit.
Ia berjalan menembus gerimis menuju stasiun kereta bawah tanah.
Stasiun kereta terlihat sangat ramai oleh orang-orang yang sibuk berangkat kerja hari ini.
Yao Wi membeli tiket kereta kelas ekonomi paling murah menuju kota kelahirannya, Kota Linzhou.
Linzhou adalah sebuah kota kecil di ujung provinsi yang sangat tertinggal dan miskin.
Tidak ada gedung tinggi, tidak ada mal mewah, hanya ada jalanan berdebu dan populasi penduduk yang menua.
Semua anak muda di Linzhou selalu bermimpi untuk pergi ke kota besar mencari kehidupan yang lebih baik.
Sama seperti Yao Wi lima tahun yang lalu saat ia baru lulus sekolah.
Namun sekarang, ia harus kembali dan menelan ludahnya sendiri.
Ia duduk di kursi kereta yang keras dan sempit.
"Lihat pria itu, bajunya sangat kotor dan basah," bisik seorang penumpang wanita di seberang kursi.
"Pasti dia pengangguran yang gagal bertahan di ibu kota," balas teman di sebelahnya sambil tertawa kecil.
Yao Wi mendengar bisikan merendahkan itu tapi memilih menutup matanya rapat-rapat.
"Terserah apa kata mereka, aku memang gagal total," batin Yao Wi pasrah.
Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel terdengar nyaring di telinganya.
Srettt! Srettt!
Yao Wi memejamkan matanya, mencoba menenangkan rasa sakit yang menusuk dadanya.
Perjalanan ini memakan waktu lebih dari belas jam yang melelahkan.
Ia hanya minum air putih dari botol bekas untuk mengganjal perutnya yang keroncongan.
Ciiiit!
Kereta akhirnya berhenti dengan suara decitan panjang yang memekakkan telinga.
Yao Wi membuka matanya dan melihat pemandangan yang familiar dari balik jendela kusam kereta.
Bangunan stasiun Linzhou masih sama seperti lima tahun lalu, catnya mengelupas dan atap sengnya berkarat.
"Kita sudah sampai di perhentian terakhir, Kota Linzhou," terdengar suara pengumuman dari pengeras suara yang kresek-kresek.
Yao Wi berdiri dengan gontai dan mengangkat kopernya.
Ia melangkah turun dari kereta dan menghirup udara di kota kelahirannya.
Udara di sini memang tidak sesak oleh polusi, tapi entah kenapa terasa sangat hampa.
Jalanan di depan stasiun terlihat sangat sepi seolah tidak ada kehidupan.
Hanya ada beberapa tukang ojek tua yang sedang duduk merokok di pos jaga yang reot.
"Ojek, Mas? Mau ke mana?" tawar seorang bapak tua dengan senyum ramah yang memperlihatkan giginya yang ompong.
Yao Wi menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis.
"Tidak, Pak, terima kasih, saya mau jalan kaki saja," jawab Yao Wi sopan.
Uang di dalam dompetnya saat ini hanya tersisa lima puluh ribu saja.
Ia harus menghemat setiap peser untuk bisa makan esok hari.
Yao Wi berjalan menyusuri jalanan kota yang lengang tanpa trotoar yang layak.
Banyak toko di pinggir jalan yang tutup permanen dan bangunannya dibiarkan terbengkalai begitu saja.
Kota ini benar-benar seperti kota mati yang tidak memiliki harapan untuk maju.
Ia menatap pantulan bayangannya di genangan air hujan sisa semalam.
Wajahnya terlihat sangat pucat, matanya berkantung hitam tebal, dan pakaiannya lusuh seperti pengemis.
"Apakah hidupku akan berakhir sebagai pecundang tua di kota mati ini?" gumam Yao Wi pada dirinya sendiri.
Ia merasa sangat putus asa hingga rasanya ingin mati saja.
Ia bahkan tidak tahu harus bekerja apa di kota yang bahkan tidak memiliki satu pun pabrik besar ini.
Langkahnya tiba-tiba terhenti di depan sebuah jembatan tua yang melintasi sungai kering.
Ia menatap dasar sungai berbatu di bawah jembatan dengan tatapan kosong dan hampa.
Tiba-tiba, rasa pusing yang luar biasa hebat menyerang kepalanya tanpa peringatan.
Yao Wi memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan jatuh berlutut di tanah berdebu.
"Ahhh, sialan, sakit sekali, apa ini?" rintihnya menahan rasa sakit yang seolah membelah otaknya.
Ding!
Sebuah suara mekanis yang sangat aneh bergema jelas di dalam kepalanya.
Yao Wi terbelalak lebar, mengira ia sudah mulai gila atau berhalusinasi karena terlalu lama kelaparan.
[Mendeteksi keputusasaan yang ekstrim dari target tuan rumah.]
[Sistem Pembangunan Kota Halaman yang Tak Terkalahkan sedang melakukan proses pengikatan jiwa.]
[Satu persen, lima puluh persen, seratus persen!]
[Pengikatan berhasil diselesaikan tanpa penolakan.]
Yao Wi mengusap matanya dengan panik dan napas terengah-engah.
Sebuah layar virtual berwarna biru transparan tiba-tiba muncul melayang di depan wajahnya.
"Sistem? Apakah ini semacam sistem curang seperti di novel yang sering kubaca saat senggang?" ucap Yao Wi dengan suara gemetar.
Ia melihat deretan tulisan bercahaya yang tertera di layar virtual tersebut.
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Mata Yao Wi melebar hampir keluar saat membaca aturan gila tersebut.
"Seratus ribu dari setiap warga? Setiap hari tanpa jeda?" teriak Yao Wi tidak percaya dengan apa yang dibacanya.
Ia segera melakukan perhitungan matematika sederhana di dalam kepalanya yang masih berdenyut.
Meskipun Linzhou adalah kota kecil yang sepi, jumlah penduduk yang tercatat masih lumayan banyak untuk ukuran daerah.
"Berapa jumlah pasti penduduk Kota Linzhou saat ini, Sistem?" tanya Yao Wi setengah berteriak.
[Memindai data kependudukan Kota Linzhou dari server pusat...]
[Jumlah penduduk saat ini adalah tepat 50.000 jiwa.]
Tubuh Yao Wi bergetar hebat bagai disambar petir di siang bolong mendengar angka itu.
Lima puluh ribu jiwa dikalikan seratus ribu.
Itu berarti ia mendapatkan dana segar sebesar lima miliar setiap harinya!
"Lima miliar setiap hari? Aku mendapatkan lima miliar per hari secara cuma-cuma tanpa harus bekerja?" gumam Yao Wi dengan napas tersengal karena syok.
Ia merasa seolah kewarasannya sedang diuji saat ini.
Beberapa jam sebelumnya ia hanyalah gembel yang diusir dari kos dan dibuang oleh pacarnya.
Detik ini juga, ia resmi menjadi miliarder yang pendapatan hariannya mengalahkan pendapatan kotor CEO perusahaan tempatnya bekerja dulu.
[Peringatan Sistem: Tuan Rumah harus memperhatikan batasan dan aturan mutlak.]
[Seluruh dana harian yang diberikan oleh sistem HANYA BISA DIBELANJAKAN di dalam batas wilayah administratif Kota Linzhou.]
[Dana ini juga hanya boleh digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan, investasi, pembelian, atau konsumsi pribadi di dalam kota ini.]
[Jika uang dari sistem dibawa keluar dari perbatasan kota, atau dicoba dihabiskan di luar kota, maka dana akan hangus secara otomatis tanpa peringatan.]
Yao Wi membaca deretan peringatan merah itu dengan sangat teliti dan hati-hati.
"Jadi uang ini hanya bisa dihabiskan di Linzhou saja?" ulangnya memastikan.
Ia menatap sekeliling kota kelahirannya yang kumuh, sepi, dan dipenuhi bangunan tua ini.
Tidak ada tempat hiburan mewah satu pun, tidak ada toko barang mewah, apalagi dealer penjual mobil sport.
"Bagaimana caranya aku bisa menghabiskan uang lima miliar sehari di kota mati yang bahkan tidak punya bioskop ini?" pikir Yao Wi bingung.
Tapi tak lama kemudian, sebuah senyum lebar perlahan mengembang di wajah pucatnya.
Bahkan ia mulai tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema memecah keheningan jalanan yang sepi.
"Hahaha! Hanya bisa dihabiskan di sini katamu?" tawa Yao Wi dengan mata berapi-api.
"Kalau kota ini tidak punya toko mewah, maka aku sendiri yang akan membangun mall terbesar di sini!"
"Kalau tidak ada rumah sakit yang bagus, aku yang akan mendirikan rumah sakit bertaraf internasional dari kantongku sendiri!"
"Aku akan membeli seluruh tanah di kota ini dan membangun peradaban dari titik nol!"
Matanya yang beberapa menit lalu meredup karena putus asa, kini menyala terang dengan ambisi liar yang membara.
Ia tiba-tiba merasa sangat bersyukur telah dipecat oleh Wang Hao dan ditinggalkan oleh Li Na.
"Aku tidak peduli lagi dengan gemerlap ibu kota, aku akan membuat mereka semua menangis darah saat melihat siapa penguasa Linzhou nanti," batin Yao Wi penuh dendam yang memuaskan.
Ding!
[Saldo hari pertama sebesar 5.000.000.000 telah berhasil ditransfer ke rekening bank pribadi Tuan Rumah.]
Ting!
Detik berikutnya, ponsel kusam di saku celananya bergetar dengan keras.
Yao Wi buru-buru merogoh sakunya, hampir menjatuhkan ponselnya sendiri saking gugupnya, lalu membuka layar ponselnya.
Itu adalah pesan SMS resmi dari bank pusat tempatnya menabung sisa gajinya.
"Dana masuk sebesar 5.000.000.000,00 ke rekening Anda. Saldo Anda saat ini adalah: 5.000.050.000,00."
Yao Wi menempelkan wajahnya ke layar ponsel dan menghitung jumlah angka nol di pesan itu berulang kali.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan angka nol.
Benar-benar sembilan angka nol utuh yang tidak bisa dipalsukan.
Tangannya gemetar hebat menyentuh layar ponsel yang retak itu.
"Ini nyata, astaga ini benar-benar bukan mimpi halusinasi," bisiknya dengan suara serak menahan tangis bahagia.
Di saat emosinya sedang memuncak, perutnya tiba-tiba berbunyi dengan sangat keras.
Kruyuk!
Ia baru ingat bahwa ia sama sekali belum makan nasi yang layak sejak kemarin siang.
"Langkah pertama untuk menjadi penguasa kota adalah dengan mengisi perut dewa ini terlebih dahulu," ucap Yao Wi sambil menyeringai lebar.
Ia melihat sebuah warung makan kecil yang terlihat agak kotor di seberang jalan raya.
Dulu saat masih remaja, ia tidak akan berani makan di sana karena harganya terlalu mahal untuk ukuran kantong pelajarnya.
Tapi sekarang, dengan saldo di rekeningnya, ia bahkan sanggup membeli warung itu beserta tanah dan ibu penjualnya sekaligus jika ia mau.
Yao Wi berjalan dengan langkah ringan dan percaya diri menyeberangi jalan menuju warung tersebut.
Seorang bibi paruh baya yang sedang mengelap meja kayu menoleh ke arahnya dengan tatapan menilai.
"Mau pesan apa, anak muda? Kita cuma punya menu sisa hari ini," tanya bibi itu dengan nada malas.
"Bibi, tolong berikan aku semua menu lauk terbaik yang ada di warung ini," jawab Yao Wi dengan nada lantang dan penuh wibawa.
Bibi itu mengerutkan keningnya hingga berlipat-lipat, menatap penampilan Yao Wi dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Pakaian Yao Wi terlihat sangat kotor dan sedikit basah karena terkena gerimis tadi.
"Kau yakin mau pesan semua? Semua menu terbaik di sini kalau ditotal harganya bisa sampai seratus ribu lebih," kata bibi itu dengan nada meragukan kemampuan bayar Yao Wi.
Yao Wi sama sekali tidak merasa marah dihina atau diremehkan seperti itu.
Ia sangat sadar bahwa penampilannya saat ini memang seratus persen mirip gembel lampu merah.
Tanpa banyak bicara, ia langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pembayaran.
"Bibi sebutkan saja berapa total semuanya, aku akan membayarnya sekarang juga," kata Yao Wi dengan ekspresi tenang.
Bibi itu mendengus kasar dan menekan tombol kalkulator bututnya dengan kuat.
"Totalnya seratus lima puluh ribu, awas saja jangan bilang kau tiba-tiba mau ngutang," ucapnya sinis memperingatkan.
Yao Wi hanya tersenyum tipis lalu memindai kode QR pembayaran yang tertempel miring di dinding warung.
Ting!
"Pembayaran berhasil diterima," terdengar suara notifikasi robotik dari mesin kasir kecil milik bibi tersebut.
Bibi itu menoleh dan menatap layar mesin kasirnya dengan mata terbelalak seakan melihat hantu.
Bukan hanya seratus lima puluh ribu yang masuk ke rekeningnya, tapi satu juta setengah!
"Anak muda, kau salah ketik, kau kelebihan bayar sepuluh kali lipat!" seru bibi itu panik hingga kain lapnya terjatuh.
"Sisanya tidak perlu dikembalikan, anggap saja uang tip dariku karena bibi masih mau buka warung di cuaca yang sepi ini," balas Yao Wi santai sambil menarik kursi plastik dan duduk.
"Sekarang tolong cepat siapkan makananku, perutku sudah sangat lapar," lanjutnya memberi perintah.
Bibi itu langsung salah tingkah, membungkuk berkali-kali, dan buru-buru berlari masuk ke dapur.
"Baik, Tuan Muda! Saya akan segera memasakkan makanan yang paling enak khusus untuk Anda!" seru bibi itu dengan nada yang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat hormat.
Yao Wi bersandar di kursi plastiknya sambil menyilangkan kaki dan tersenyum penuh kemenangan.
Uang memang sihir paling nyata yang bisa mengubah sikap dan derajat seseorang dalam sekejap mata.
Ia menatap ke luar jendela warung yang kusam, mengamati pemandangan jalanan kota kelahirannya yang terlihat menyedihkan.
"Nikmatilah kesepian ini selagi bisa, Linzhou," batin Yao Wi sambil mengetuk jarinya di atas meja.
"Karena mulai besok, aku, Yao Wi, akan mengubah tanah mati ini menjadi surga yang tidak bisa dibayangkan oleh siapapun."
Burp!
Suara sendawa keras keluar dari mulut Yao Wi setelah ia menghabiskan porsi ketiganya.
Ia mengusap perutnya yang membuncit dengan perasaan sangat puas dan bahagia.
"Bibi, masakannya luar biasa enak, besok aku akan mampir lagi," ucap Yao Wi sambil berdiri dari kursi plastiknya.
Bibi pemilik warung itu terus membungkuk hormat mengantarkannya sampai ke pinggir jalan.
"Terima kasih banyak, Tuan Muda yang tampan, hati-hati di jalan," balas bibi itu dengan senyum yang sangat lebar.
Yao Wi melambaikan tangannya santai lalu berjalan menyusuri trotoar yang basah.
Gerimis sudah berhenti, menyisakan udara sore yang cukup dingin menusuk tulang.
Ia menatap koper tuanya yang ia seret dan menyadari satu masalah penting.
Ia tidak punya tempat tinggal karena rumah peninggalan orang tuanya sudah dijual bertahun-tahun lalu untuk biaya kuliahnya.
"Sistem, apakah aku bisa menggunakan uang ini untuk membeli rumah hari ini juga?" batin Yao Wi sambil terus berjalan.
Ding!
[Tuan Rumah bebas menggunakan dana harian untuk membeli properti residensial selama itu berada di dalam wilayah Kota Linzhou.]
[Namun, disarankan untuk mencari tempat tinggal sementara terlebih dahulu karena proses pembelian dan renovasi membutuhkan waktu.]
Yao Wi mengangguk pelan menyetujui saran logis dari sistem tersebut.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalanan kota yang mulai gelap.
Di ujung jalan utama ini, berdiri sebuah bangunan berlantai lima yang merupakan bangunan tertinggi sekaligus termewah di kota ini.
Lampu neon besar berkedip-kedip di atapnya membentuk tulisan Hotel Grand Linzhou.
Ini adalah satu-satunya hotel bintang tiga di kota ini, tempat berkumpulnya para pejabat lokal atau pengusaha dari luar kota.
"Dulu aku hanya bisa bermimpi untuk menginap di sana," gumam Yao Wi dengan senyum miring.
"Sekarang, mari kita lihat apakah pelayanan mereka sepadan dengan nama besarnya."
Yao Wi melangkah pasti menuju pintu kaca putar di pintu masuk hotel tersebut.
Srettt! Srettt!
Suara roda kopernya yang bergesekan dengan lantai marmer lobi hotel langsung memecah keheningan ruangan mewah itu.
Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya, membuat pakaian lusuhnya yang agak basah semakin terasa dingin.
Ia berjalan menuju meja resepsionis yang terbuat dari kayu jati berpelitur mengkilap.
Di balik meja itu, berdiri seorang wanita muda dengan seragam kerja yang rapi dan riasan wajah yang tebal.
Papan nama di dadanya menunjukkan nama Zhao Min.
Zhao Min sedang asyik mengikir kuku saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
Ia mendongak dan senyum ramah yang biasanya ia siapkan untuk tamu langsung lenyap seketika.
Matanya menatap jijik ke arah pakaian Yao Wi yang kotor, sepatu ketsnya yang berdebu, dan koper bututnya.
"Maaf, apakah Anda tersesat, Tuan?" tanya Zhao Min dengan nada dingin dan menusuk.
"Pintu keluar ada di sebelah sana, tolong jangan mengotori lantai marmer kami yang baru saja dipel."
Yao Wi menatap wanita itu dengan tenang, sama sekali tidak terprovokasi oleh nada bicaranya.
"Aku tidak tersesat, aku datang ke sini untuk menyewa kamar," jawab Yao Wi santai.
Zhao Min mendengus pelan, nyaris seperti tawa yang meremehkan.
"Menyewa kamar? Di sini?" tanyanya sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Tuan, ini adalah Hotel Grand Linzhou, bukan penginapan murah di pinggir jalan raya."
"Tarif kamar standar kami yang paling murah adalah delapan ratus ribu per malam."
Zhao Min sengaja menekan kata delapan ratus ribu untuk membuat pria gembel di depannya ini sadar diri.
Menurutnya, pria dengan penampilan seperti pengemis ini jangankan delapan ratus ribu, delapan puluh ribu saja pasti tidak punya.
Yao Wi hanya mengangguk-angguk kecil mendengar penjelasan tarif tersebut.
"Hanya delapan ratus ribu? Itu terlalu murah," ucap Yao Wi dengan wajah datar.
"Aku ingin kamar yang paling mahal dan paling besar di hotel ini, ada?"
Mata Zhao Min melotot kesal, merasa pria ini sedang mempermainkan waktunya.
"Dengar ya, orang gila, aku tidak punya waktu untuk melayani leluconmu," desis Zhao Min mulai kehabisan kesabaran.
"Kamar Presidential Suite kami harganya lima juta per malam, dan itu jelas bukan untuk orang sepertimu!"
"Sekarang cepat keluar dari sini sebelum aku memanggil pihak keamanan untuk menyeretmu paksa!"
Yao Wi menghela napas panjang, merasa lelah dengan orang-orang picik yang selalu menilai dari penampilan luar.
"Kenapa kau tidak mengecek ketersediaan kamarnya dulu sebelum mengusir pelanggan potensialmu?" balas Yao Wi membalas tatapan tajam wanita itu.
"Pelanggan? Kau menyebut dirimu pelanggan?" tawa Zhao Min akhirnya pecah.
Ia meraih telepon di atas mejanya dan memutar nomor ruang keamanan.
"Halo, keamanan? Tolong ke lobi sekarang juga, ada pengemis gila yang membuat keributan di sini," lapornya tanpa ragu sedikit pun.
Yao Wi tidak mencegahnya, ia malah tersenyum tipis dan bersandar di meja resepsionis.
Tidak sampai satu menit, dua orang satpam bertubuh kekar berlari mendekat dengan wajah garang.
"Ada apa ini, Nona Zhao? Siapa yang berani membuat keributan?" tanya salah satu satpam sambil memelototi Yao Wi.
"Itu dia, cepat seret gembel ini keluar, dia mengotori lobi kita dan mengaku ingin menyewa kamar lima juta," tunjuk Zhao Min dengan dagunya.
Satpam itu langsung maju dan mencengkeram bahu Yao Wi dengan kasar.
"Ayo jalan, jangan membuat kami menggunakan kekerasan," ancam satpam tersebut.
Namun, sebelum tangan satpam itu sempat menariknya lebih jauh, Yao Wi merogoh saku celananya dengan tenang.
Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak dan meletakkannya di atas meja resepsionis dengan bunyi bantingan pelan.
Tak!
"Buka matamu lebar-lebar dan lihat angka ini, Nona Zhao," ucap Yao Wi dengan suara rendah namun penuh tekanan.
Ia membuka aplikasi bank selulernya dan memutar layar ponselnya menghadap ke arah Zhao Min.
Zhao Min awalnya enggan melihat, namun matanya secara refleks tertuju pada layar yang menyala itu.
Deretan angka nol yang sangat panjang langsung menghantam retina matanya tanpa ampun.
Satu, dua, tiga, hingga sembilan angka nol di belakang angka lima.
Lima miliar rupiah.
Napas Zhao Min seketika terhenti dan wajahnya yang penuh riasan itu langsung berubah sepucat kertas.
"I-ini... ini tidak mungkin nyata, kau pasti menggunakan aplikasi palsu kan?" gagap Zhao Min dengan bibir gemetar.
"Kau pikir aku pengangguran kurang kerjaan yang repot-repot membuat aplikasi palsu hanya untuk pamer di hotel rongsokan ini?" balas Yao Wi tajam.
Ia mengambil kembali ponselnya dan membuka menu transfer.
"Katakan berapa nomor rekening hotel ini sekarang juga."
Zhao Min masih mematung, otaknya gagal memproses situasi yang berbalik begitu cepat.
Satpam yang memegang bahu Yao Wi juga ikut mengintip ke arah layar ponsel dan langsung melepaskan cengkeramannya seolah tersengat listrik.
"Nona Zhao, cepat berikan nomor rekeningnya, dia benar-benar orang kaya!" bisik satpam itu panik.
Dengan tangan bergetar hebat, Zhao Min mengambil kartu nama hotel dan menyodorkannya ke arah Yao Wi.
Yao Wi mengetik nomor rekening tersebut dengan gerakan jari yang cepat.
"Berapa banyak kamar kosong yang kalian miliki malam ini?" tanya Yao Wi tanpa melihat ke arah wanita itu.
"A-ada lima puluh kamar standar, sepuluh kamar VIP, dan satu Presidential Suite, Tuan," jawab Zhao Min terbata-bata.
Yao Wi menghitung cepat di dalam kepalanya.
"Total semua kamar itu per malam kurang lebih seratus juta, benar?" tanya Yao Wi lagi.
"B-benar, Tuan, sekitar sembilan puluh lima juta rupiah."
"Bagus."
Ding!
"Transfer berhasil," ucap suara otomatis dari aplikasi ponsel Yao Wi yang sengaja ia keraskan volumenya.
Beberapa detik kemudian, mesin pencetak di belakang meja resepsionis berbunyi dan mencetak bukti mutasi rekening hotel.
Zhao Min menarik kertas itu dengan kasar dan matanya nyaris copot saat melihat angka yang tertera di sana.
Satu miliar rupiah telah masuk ke rekening operasional Hotel Grand Linzhou.
"Tuan... ini... Anda mentransfer satu miliar? Ini terlalu banyak!" teriak Zhao Min histeris.
Keributan itu akhirnya menarik perhatian seorang pria paruh baya berkacamata yang keluar dari ruang kantor di belakang lobi.
"Ada apa ribut-ribut di sini? Nona Zhao, jaga sikapmu di depan tamu!" tegur pria itu yang merupakan manajer hotel, bernama Tuan Li.
"Manajer Li, Tuan ini... Tuan ini baru saja mentransfer satu miliar ke rekening kita!" lapor Zhao Min sambil menyodorkan kertas bukti transfer dengan tangan gemetar.
Manajer Li menyambar kertas itu dan membelalakkan matanya tidak percaya.
Ia langsung menatap Yao Wi yang masih berdiri santai dengan pakaian kumalnya.
Sebagai manajer berpengalaman, Tuan Li tahu betul bahwa banyak orang kaya sejati yang suka berpenampilan eksentrik.
Ia langsung membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Yao Wi hingga kepalanya hampir menyentuh meja.
"Tuan yang terhormat, mohon maafkan ketidaksopanan staf kami yang bodoh ini," ucap Manajer Li dengan suara penuh penyesalan dan ketakutan.
"Satu miliar ini... apakah Anda ingin memborong kamar kami untuk sepuluh hari ke depan?"
Yao Wi tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, aku menyewa seluruh kamar di hotel ini hanya untuk malam ini saja," jawab Yao Wi tegas.
"Sisanya, anggap saja sebagai uang kompensasi karena kalian harus membatalkan dan mengusir semua tamu lain yang sudah memesan kamar hari ini."
Manajer Li tersedak ludahnya sendiri mendengar permintaan gila tersebut.
Mengusir semua tamu lain demi satu orang merupakan tindakan yang gila.
Itu akan merusak reputasi hotel, tapi uang satu miliar setara dengan pendapatan kotor hotel ini selama berbulan-bulan penuh.
Di kota kecil seperti Linzhou, satu miliar adalah uang dewa yang tidak bisa ditolak oleh akal sehat manapun.
"Baik! Sangat baik, Tuan! Kami akan segera mengosongkan seluruh hotel hanya untuk Anda malam ini!" putus Manajer Li tanpa ragu.
Ia berbalik dan menatap Zhao Min yang masih membeku ketakutan di tempatnya.
"Zhao Min! Apa yang kau tunggu? Cepat berikan kunci kamar Presidential Suite kepada Tuan ini dan kemasi barangmu!" bentak Manajer Li.
"K-kemasi barangku? Maksud Manajer?" tanya Zhao Min dengan mata berkaca-kaca.
"Kau dipecat karena berani menyinggung tamu VIP terpenting kita! Sekarang cepat pergi dari sini!"
Zhao Min langsung menangis tersedu-sedu dan merosot ke lantai marmer dengan lemas.
"Tuan, saya mohon maaf, saya buta, saya salah menilaimu, tolong jangan biarkan saya dipecat," ratap Zhao Min sambil mencoba memegang kaki Yao Wi.
Yao Wi melangkah mundur menghindari sentuhan wanita itu dengan wajah sangat dingin.
"Penyesalan selalu datang terlambat, Nona Zhao," ucap Yao Wi tanpa rasa kasihan sedikit pun.
"Di dunia ini, uang adalah penguasa, dan sayangnya kau salah memilih orang untuk diremehkan hari ini."
Yao Wi mengambil kartu akses kamar berlapis emas dari atas meja dan menyeret kopernya menuju lift.
Ia memunggungi lobi yang kini penuh dengan suara tangisan penyesalan dan kepanikan para staf hotel.
Saat pintu lift tertutup perlahan, Yao Wi tersenyum puas menatap pantulan dirinya di dinding cermin lift.
"Langkah pertama menaklukkan kota ini berjalan sangat mulus," batinnya dengan seringai kemenangan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!