Indonesia
NovelToon NovelToon

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Hari Pertama di Grand Hotel Pratama

Mentari pagi baru saja menyinari sudut-sudut kota ketika Maya berdiri di depan cermin kecil di kamar kontrakannya. Dengan seragam sederhana yang baru diterimanya sehari sebelumnya, ia merapikan kerah baju dan mengikat rambut panjangnya menjadi sanggul rapi.

Hari ini adalah hari yang telah lama ia nantikan.

Setelah berbulan-bulan mencari pekerjaan dan melewati serangkaian tes yang tidak mudah, akhirnya ia diterima sebagai Housekeeping Attendant di Grand Hotel Pratama, hotel bintang lima paling bergengsi di kota itu.

Maya menarik napas panjang.

"Ini awal yang baru," gumamnya pelan sambil tersenyum kepada bayangannya sendiri.

Tak ada orang tua yang mengantarnya bekerja. Sejak kecil, Maya hanyalah seorang anak sebatang kara yang tumbuh di panti asuhan. Ia tidak pernah mengetahui siapa ayah maupun ibunya. Yang ia miliki hanyalah tekad untuk mengubah hidup dengan usahanya sendiri.

Di panti asuhan, Maya dikenal sebagai anak yang rajin belajar dan ringan tangan. Ia selalu membantu mengurus adik-adiknya, membersihkan ruangan, hingga memasak ketika pengurus sedang kewalahan. Kebiasaan itu membuatnya terbiasa bekerja keras tanpa mengeluh.

Meski hidup sederhana, Maya percaya satu hal.

Kesempatan tidak datang kepada orang yang hanya menunggu, tetapi kepada mereka yang terus berusaha.

Pukul tujuh kurang lima belas menit, Maya sudah berdiri di depan bangunan megah Grand Hotel Pratama. Gedung tinggi dengan dinding kaca yang berkilau itu membuatnya terpukau. Mobil-mobil mewah keluar masuk area lobi, sementara para tamu disambut ramah oleh petugas hotel.

Untuk sesaat, Maya merasa gugup.

"Aku benar-benar akan bekerja di sini..." bisiknya.

Ia mengepalkan kedua tangannya, mencoba mengusir rasa minder yang sempat muncul.

"Aku diterima karena kemampuanku. Jadi aku harus percaya pada diriku sendiri."

Maya kemudian melangkah masuk.

Di ruang Human Resources, ia disambut beberapa karyawan baru lainnya. Setelah mengikuti pengarahan singkat mengenai standar pelayanan hotel, para karyawan dibagi ke departemen masing-masing.

Ketika nama Maya dipanggil menuju Departemen Housekeeping, supervisor bernama Bu Ratna tersenyum tipis sambil melihat berkasnya.

"Nilai tesmu paling tinggi di antara pelamar housekeeping. Semoga hasil kerjamu juga sebagus nilaimu."

Maya segera membungkukkan badan dengan sopan.

"Terima kasih, Bu. Saya akan bekerja sebaik mungkin."

Bu Ratna mengangguk puas. Dari cara Maya berbicara dan bersikap, ia bisa melihat kesungguhan yang jarang dimiliki karyawan baru.

Hari pertama pun dimulai.

Maya belajar cara merapikan tempat tidur sesuai standar hotel bintang lima, menata perlengkapan kamar dengan presisi, hingga memastikan setiap sudut ruangan benar-benar bersih. Ia memperhatikan setiap arahan dengan saksama dan tidak segan bertanya ketika belum memahami sesuatu.

Meski tubuhnya mulai lelah menjelang siang, semangatnya tidak sedikit pun berkurang.

Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah.

Ini adalah langkah pertama untuk membangun masa depan yang selama ini hanya ia impikan.

Sebelum para karyawan baru mulai menjalankan tugas di departemen masing-masing, mereka terlebih dahulu diarahkan menuju ballroom Grand Hotel Pratama. Ruangan yang luas dan mewah itu telah dipenuhi puluhan karyawan baru yang duduk rapi sambil menunggu acara orientasi dimulai.

Maya duduk di barisan tengah. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Matanya tak henti mengamati setiap sudut ballroom yang dihiasi lampu kristal berkilauan dan dekorasi bernuansa emas. Semua yang ada di hadapannya terasa begitu megah, jauh berbeda dari kehidupan sederhana yang selama ini ia jalani.

Tak lama kemudian, seluruh hadirin berdiri ketika pembawa acara mempersilakan pemilik Grand Hotel Pratama memasuki ruangan.

Seorang pria berusia sekitar 30 tahun berjalan dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Jas hitam yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi aura kepemimpinannya begitu kuat hingga membuat seluruh ruangan seketika hening.

Di sampingnya berjalan seorang wanita anggun dengan gaun putih gading yang dipadukan blazer krem. Senyumnya hangat, memberikan kesan ramah kepada siapa pun yang memandangnya.

"Selamat pagi. Mari kita sambut Presiden Direktur Grand Hotel Pratama, Bapak Mahesa Pratama, beserta Ibu Naura Hermawan Pratama," ucap pembawa acara.

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ballroom.

Maya ikut bertepuk tangan, tetapi pandangannya tak lepas dari pasangan itu.

Jadi... mereka pemilik hotel ini.

Mahesa berdiri di depan podium. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan sebelum tersenyum tipis.

"Selamat datang di keluarga besar Grand Hotel Pratama. Hari ini bukan hanya hari pertama kalian bekerja, tetapi juga awal perjalanan untuk membangun masa depan bersama kami."

Suara Mahesa terdengar tegas, namun tidak mengintimidasi.

"Kami tidak mencari karyawan yang sempurna. Kami mencari orang-orang yang memiliki kejujuran, disiplin, kemauan belajar, dan rasa tanggung jawab. Jabatan bisa berbeda, tetapi setiap orang di hotel ini memiliki peran yang sama pentingnya dalam memberikan pelayanan terbaik kepada tamu."

Ucapan itu membuat Maya mengangguk pelan. Kalimat-kalimat sederhana tersebut terasa begitu tulus.

Setelah Mahesa selesai berbicara, Naura melangkah maju mengambil alih podium.

"Saya berharap kalian bekerja dengan hati. Sebuah hotel bukan hanya tentang bangunan yang megah, melainkan tentang bagaimana setiap tamu merasa dihargai sejak mereka datang hingga pulang."

Naura tersenyum lembut kepada seluruh peserta orientasi.

"Jangan pernah merasa rendah karena posisi kalian. Seorang petugas housekeeping yang menjaga kebersihan kamar sama berharganya dengan seorang manajer yang memimpin tim. Kesuksesan hotel ini dibangun oleh kerja keras kalian semua."

Ballroom kembali dipenuhi tepuk tangan.

Maya merasakan dadanya menghangat. Selama ini ia mengira pemilik perusahaan besar pasti akan bersikap dingin dan menjaga jarak. Namun, melihat Mahesa dan Naura berbicara langsung kepada para karyawan baru membuat kekagumannya semakin besar.

"Suatu hari nanti... aku ingin menjadi karyawan yang bisa mereka banggakan," batinnya penuh tekad, tanpa pernah menyangka bahwa takdir akan mempertemukannya dengan keluarga Pratama jauh lebih dekat daripada yang pernah ia bayangkan.

Acara penyambutan berakhir tepat menjelang siang. Para karyawan baru kembali menuju departemen masing-masing untuk melanjutkan orientasi.

Sepanjang perjalanan menuju area housekeeping, bayangan wajah Mahesa Pratama dan Naura Hermawan masih terlintas di benak Maya. Pasangan itu terlihat begitu serasi, berwibawa, sekaligus rendah hati. Tak heran jika Grand Hotel Pratama mampu berkembang menjadi salah satu jaringan hotel terbaik di negeri ini.

Tanpa sadar, sudut bibir Maya terangkat.

"Bagaimana rasanya ya... menjadi nyonya di keluarga seperti itu?" pikirnya sesaat.

Namun, ia segera menggeleng pelan sambil menertawakan dirinya sendiri.

"Itu cuma khayalan, Maya," bisiknya lirih.

Ia hanyalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Sedangkan keluarga Pratama adalah keluarga konglomerat yang memiliki kekayaan dan pengaruh luar biasa. Dunia mereka bagaikan langit dan bumi.

Baginya, bisa bekerja di Grand Hotel Pratama saja sudah merupakan anugerah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Maya menarik napas panjang, mengusir lamunan yang menurutnya terlalu tinggi untuk digapai.

"Fokus bekerja. Jangan bermimpi yang tidak-tidak."

Sesampainya di ruang briefing housekeeping, seluruh karyawan baru diminta duduk mengelilingi meja panjang. Ketua tim housekeeping, Pak Hendra, datang membawa setumpuk map berwarna biru.

"Baik, sebelum mulai bekerja, saya akan membagikan formulir data diri karyawan. Tolong diisi dengan lengkap dan jujur. Data ini akan menjadi arsip resmi perusahaan."

Satu per satu lembar formulir dibagikan.

Ketika tiba di tangan Maya, ia langsung membacanya dengan saksama. Di bagian atas tertulis identitas diri, alamat, nomor telepon, pendidikan terakhir, hingga kontak darurat yang dapat dihubungi apabila terjadi sesuatu.

Maya menggenggam bolpoinnya sejenak.

Pada kolom Nama Orang Tua, tangannya berhenti bergerak.

Tatapannya perlahan berubah sendu.

Dengan hati yang berat, ia menulis sebuah garis pendek pada kolom nama ayah. Begitu pula pada kolom nama ibu.

Tak ada nama yang bisa ia tuliskan.

Tak pernah ada yang memberitahunya siapa kedua orang tuanya.

Ia hanya tahu bahwa dirinya ditemukan di depan sebuah panti asuhan ketika masih bayi, tanpa sepucuk surat maupun petunjuk apa pun mengenai asal-usulnya.

Maya mengembuskan napas pelan, lalu melanjutkan mengisi bagian lainnya.

Nama, alamat kontrakan, nomor telepon, pendidikan, hingga riwayat pekerjaan paruh waktu ia tulis dengan rapi.

Setelah selesai, ia menyerahkan formulir itu kepada Pak Hendra.

"Terima kasih, Maya," ucap pria itu sambil menerima berkas.

Maya mengangguk sopan.

"Semoga saya bisa bekerja dengan baik di sini, Pak."

Pak Hendra tersenyum tipis.

"Itu tergantung usahamu sendiri. Kalau terus rajin seperti saat tes kemarin, saya yakin kamu akan bertahan lama di Grand Hotel Pratama."

Maya membalas senyum itu dengan penuh semangat.

"Baik, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin."

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa formulir sederhana yang baru saja ia isi suatu hari nanti akan menjadi awal terbongkarnya rahasia besar yang selama dua puluh tahun terkubur rapat.

Sore itu, setelah seluruh pekerjaan hari pertama selesai, para karyawan housekeeping kembali berkumpul di ruang briefing. Mereka mengira hanya akan menerima evaluasi singkat sebelum pulang.

Namun, Pak Hendra justru membawa sebuah map berisi daftar nama.

Ia menatap satu per satu wajah para karyawan, lalu berkata, "Lusa kita mendapat penugasan khusus. Bukan di hotel, melainkan di kediaman pribadi Presiden Direktur."

Ruangan yang semula tenang seketika dipenuhi bisik-bisik.

"Kediaman Presiden Direktur?"

"Serius?"

"Bukannya itu hanya untuk karyawan tertentu?"

Pak Hendra mengangkat tangan, meminta semua kembali tenang.

"Setiap tahun keluarga Pratama mengadakan jamuan makan malam untuk keluarga besar dan beberapa rekan bisnis penting. Acara itu membutuhkan bantuan dari berbagai departemen hotel, mulai dari koki, pelayan restoran, housekeeping, dekorasi, hingga tim teknis."

Mendengar penjelasan itu, semua saling berpandangan.

Bekerja di Grand Hotel Pratama saja sudah menjadi kebanggaan, apalagi mendapat kesempatan menginjakkan kaki di rumah pribadi pemilik hotel.

Pak Hendra kemudian mulai membacakan nama-nama yang terpilih.

"Rina..."

"Herman..."

"Dewi..."

"Maya..."

Maya yang sedang menundukkan kepala langsung mengangkat wajahnya.

"Saya, Pak?"

"Iya. Kamu ikut."

Maya membelalakkan mata. Ia bahkan sempat menoleh ke kanan dan kiri, memastikan dirinya tidak salah dengar.

"Ta-tapi saya masih karyawan baru."

"Justru karena hasil evaluasi hari ini bagus. Kamu teliti, cepat belajar, dan bekerja rapi. Saya memilihmu."

Ucapan itu membuat beberapa rekan kerja menoleh ke arah Maya. Ada yang ikut tersenyum bangga, tetapi tak sedikit pula yang mulai memandangnya dengan iri.

Pak Hendra melanjutkan, "Ingat, kalian bukan tamu. Kalian datang sebagai perwakilan Grand Hotel Pratama. Jaga sikap, jaga etika, dan jangan melakukan hal yang bisa mempermalukan nama hotel."

"Baik, Pak!" jawab mereka serempak.

Setelah briefing selesai, suasana justru semakin ramai.

"Katanya rumah Pak Mahesa lebih mirip istana daripada rumah biasa."

"Aku dengar ada taman yang luasnya hampir sama dengan lapangan sepak bola."

"Kolam renangnya ada dua."

"Garasinya penuh mobil mewah."

Maya hanya mendengarkan sambil tersenyum tipis. Ia tak ikut menimpali. Baginya, bisa dipercaya mengikuti penugasan itu saja sudah merupakan pengalaman yang luar biasa.

Dalam hati, ia berjanji akan bekerja sebaik mungkin.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa langkahnya menuju kediaman keluarga Pratama dua hari lagi bukan sekadar menjalankan tugas sebagai karyawan.

pertanda yang tak di inginkan

Malam mulai larut ketika mobil hitam yang ditumpangi Mahesa Pratama dan istrinya memasuki halaman kediaman keluarga Pratama. Gerbang besi perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah rumah bergaya klasik modern yang berdiri megah di atas lahan yang sangat luas. Cahaya lampu taman memantulkan kemewahan bangunan tiga lantai itu, sementara beberapa pelayan sudah berbaris rapi menyambut kepulangan tuan dan nyonya rumah.

"Selamat malam, Tuan. Selamat malam, Nyonya," sapa mereka serempak.

Mahesa hanya mengangguk singkat sebelum menyerahkan jasnya kepada kepala pelayan. Naura melepaskan sepatu hak tingginya dengan wajah yang mulai menunjukkan kelelahan. Seharian mendampingi sang suami menghadiri berbagai agenda perusahaan benar-benar menguras tenaganya.

Baru beberapa langkah memasuki ruang utama, suara seorang wanita tua menghentikan langkah mereka.

"Kalian pulang juga."

Di ruang keluarga, duduk seorang wanita berusia sekitar enam puluh lima tahun dengan postur tubuh tegap dan sorot mata tajam. Dialah Ratih Pratama, ibu Mahesa sekaligus pendiri keluarga Pratama yang masih sangat disegani.

Naura langsung menundukkan kepala dengan sopan.

"Malam, Ibu."

Ratih hanya melirik sekilas, lalu meletakkan cangkir tehnya di atas meja.

"Acara perusahaan berjalan lancar?"

"Lancar, Bu," jawab Mahesa singkat.

Ratih mengangguk pelan, tetapi tatapannya kemudian beralih kepada Naura.

"Kalau urusan perusahaan memang selalu lancar. Tapi urusan keluarga... entah sampai kapan."

Ucapan itu membuat suasana berubah canggung.

Naura sudah hafal ke mana arah pembicaraan mertuanya.

"Kalian menikah sudah hampir tiga tahun." Ratih menghela napas. "Sampai sekarang rumah ini masih sepi. Tidak ada suara cucu."

Naura menundukkan pandangannya.

Mahesa hendak berbicara, tetapi Ratih kembali melanjutkan.

"Aku ini sudah tua. Sebelum menutup mata, aku hanya ingin melihat penerus keluarga Pratama. Seorang cucu laki-laki yang kelak memimpin kerajaan bisnis ini."

Naura mengepalkan jemarinya di balik gaun yang dikenakan.

"Ibu..." ucap Mahesa pelan.

"Apa yang salah dari ucapanku?" sahut Ratih. "Bukankah setiap keluarga besar membutuhkan pewaris? Atau kalian memang tidak berniat memiliki anak?"

Naura menggigit bibirnya.

Bukan tidak ingin.

Selama bertahun-tahun ia dan Mahesa telah menjalani berbagai pemeriksaan dan pengobatan. Berkali-kali harapan itu muncul, tetapi selalu berakhir dengan kekecewaan.

Namun, semua usaha itu seolah tidak pernah berarti di mata Ratih.

Yang ia lihat hanyalah satu kenyataan.

Naura belum mampu memberikan keturunan.

Ratih berdiri dari duduknya sambil menatap menantunya tanpa sedikit pun melembutkan ekspresi.

"Sebagai istri seorang Pratama, tugasmu bukan hanya mendampingi suami di acara perusahaan."

Kalimat itu menusuk tepat ke hati Naura.

"Melahirkan penerus keluarga jauh lebih penting."

Ratih kemudian berlalu meninggalkan ruang keluarga, menyisakan keheningan yang terasa menyesakkan.

Naura masih berdiri mematung.

Ia mencoba tersenyum tipis, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

Mahesa mendekat dan menggenggam tangannya.

"Jangan dipikirkan."

Naura menggeleng pelan.

"Aku sudah berusaha, Mas. Aku benar-benar sudah berusaha..."

Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Mahesa menarik istrinya ke dalam pelukan, berusaha menenangkan perempuan yang selama ini selalu tampak tegar di hadapan semua orang.

Namun, jauh di dalam hati Naura, luka itu semakin dalam.

Ia mulai dihantui ketakutan.

Bagaimana jika suatu hari nanti keluarga Pratama benar-benar membutuhkan seorang pewaris... dan ia tidak pernah mampu memberikannya?

Pintu kamar ditutup sedikit lebih keras dari biasanya.

Naura mengembuskan napas panjang sebelum melepaskan anting dan kalung yang sejak pagi menghiasi penampilannya. Ia meletakkannya di atas meja rias, lalu menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajah yang selalu terlihat anggun di depan banyak orang kini berubah muram.

Ucapan Ratih Pratama terus terngiang di telinganya.

"Melahirkan penerus keluarga jauh lebih penting."

Naura mengepalkan kedua tangannya.

"Kenapa harus selalu aku?" gumamnya lirih. "Seolah-olah semua ini sepenuhnya salahku."

Bukan sekali dua kali ia mendengar sindiran seperti itu. Hampir setiap kali mereka bertemu, sang mertua selalu membahas cucu, pewaris, dan keturunan laki-laki. Seakan seluruh keberhasilannya mendampingi Mahesa membangun perusahaan tidak pernah memiliki arti.

Ia telah mengorbankan banyak hal demi keluarga Pratama. Mendampingi Mahesa dari pagi hingga malam, menghadiri rapat, bertemu investor, hingga mengurus kegiatan sosial perusahaan. Namun di mata Ratih, semua itu tidak cukup.

Yang diinginkan hanya satu.

Seorang cucu laki-laki.

Naura memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.

Mahesa yang baru masuk ke kamar menghampirinya.

"Masih memikirkan ucapan Ibu?"

Naura tersenyum hambar.

"Bagaimana aku bisa tidak memikirkannya? Apa pun yang kulakukan selalu dianggap tidak berarti."

Mahesa menggenggam kedua tangan istrinya.

"Kamu istriku, bukan mesin yang bisa memenuhi semua keinginan orang. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."

Naura mengangguk pelan, meski hatinya belum sepenuhnya tenang.

---

Di sisi lain kota, Maya baru saja turun dari angkutan umum yang membawanya pulang.

Langkahnya terasa berat setelah seharian menjalani hari pertama bekerja di Grand Hotel Pratama. Telapak kakinya pegal, bahunya terasa kaku, tetapi senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya.

Sesampainya di kontrakan sederhana yang hanya terdiri dari satu kamar, sebuah dapur kecil, dan kamar mandi mungil, Maya langsung membuka pintu sambil mengembuskan napas lega.

"Akhirnya pulang juga."

Ia meletakkan tasnya di atas kursi, lalu merebahkan tubuh di kasur tipis.

"Lelah sekali..."

Meski tubuhnya terasa remuk, hatinya justru dipenuhi rasa syukur.

Hari pertamanya berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan. Rekan-rekan kerja cukup ramah, supervisornya sabar membimbing, bahkan ia terpilih untuk membantu acara di kediaman Presiden Direktur dua hari lagi.

Semua itu membuat semangatnya semakin besar.

Maya bangkit, mengambil segelas air putih, lalu membuka jendela kamar. Angin malam yang sejuk berembus perlahan, membawa ketenangan setelah hari yang panjang.

"Terima kasih," bisiknya pelan sambil menatap langit malam.

Ia tidak meminta kehidupan yang mewah.

Baginya, memiliki pekerjaan tetap, bisa membayar kontrakan tepat waktu, dan menjalani hidup dengan tenang sudah lebih dari cukup.

Tanpa ia sadari, takdir perlahan sedang membawanya semakin dekat dengan keluarga Pratama—keluarga yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya.

Keesokan paginya, Naura bersiap menghadiri pertemuan arisan bulanan yang rutin diadakan bersama teman-teman sosialitanya. Meski semalam pikirannya dipenuhi ucapan sang mertua, ia tetap berusaha tampil seperti biasa.

Gaun berwarna biru muda membalut tubuhnya dengan anggun. Senyum tipis menghiasi wajahnya, menutupi kegelisahan yang terus mengusik hati.

Pertemuan kali ini berlangsung di sebuah restoran mewah. Tawa para wanita terdengar bersahut-sahutan, membahas bisnis, liburan, hingga keluarga.

"Aku pusing sekali mengurus anak laki-lakiku. Baru delapan tahun, sudah minta dibelikan mobil sport kalau besar nanti," keluh salah seorang sambil tertawa.

"Kalau anakku malah mulai merengek ingin punya adik," sahut yang lain.

Percakapan mereka perlahan beralih membahas anak-anak.

Naura hanya tersenyum tipis sambil mengaduk teh hangat di depannya. Sesekali ia mengangguk ketika diajak bicara, tetapi lebih banyak memilih diam.

Seorang sahabatnya, Marlina, menyadari perubahan itu.

"Naura, kamu tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja."

"Jangan bohong. Wajahmu kelihatan murung."

Naura mengembuskan napas pelan.

"Ibu mertuaku kembali membahas soal cucu."

Suasana meja mendadak hening.

Semua orang di sana mengetahui bahwa Naura dan Mahesa sudah bertahun-tahun menikah, tetapi belum juga dikaruniai anak.

Marlina menggenggam tangan Naura.

"Aku tahu seseorang yang mungkin bisa membantumu."

Naura mengernyitkan dahi.

"Maksudmu dokter?"

Marlina menggeleng.

"Bukan. Seorang cenayang."

Naura langsung terdiam.

"Cenayang?"

"Iya. Banyak orang datang kepadanya untuk meminta petunjuk. Katanya, apa yang dia katakan sering kali terjadi."

Naura tersenyum kecil, berusaha menolak dengan halus.

"Aku tidak terlalu percaya hal-hal seperti itu."

"Aku juga dulu begitu," sahut Marlina cepat. "Tapi beberapa temanku merasa terbantu. Anggap saja tidak ada salahnya mencoba."

Naura menundukkan pandangannya.

Selama ini ia dan Mahesa sudah mendatangi dokter kandungan terbaik, menjalani berbagai pemeriksaan, hingga mencoba program kehamilan. Hasilnya tetap sama.

Harapan demi harapan datang, lalu menghilang.

Melihat Naura mulai bimbang, Marlina kembali berkata pelan, "Kalau bukan demi dirimu, anggap saja demi ketenangan hatimu."

Naura terdiam cukup lama.

Akal sehatnya menolak.

Namun, rasa putus asa yang selama ini ia pendam perlahan mengalahkan keraguannya.

"Baiklah," ucapnya lirih. "Aku akan ikut."

Marlina tersenyum lega.

"Sepulang dari sini kita berangkat."

Naura mengangguk pelan.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa keputusan yang diambil karena keputusasaan itu akan menjadi awal dari sebuah rahasia besar yang kelak mengubah kehidupan keluarga Pratama selamanya.

Pagi itu, suasana Grand Hotel Pratama jauh lebih sibuk dibandingkan hari sebelumnya. Tingkat hunian hotel sedang tinggi karena beberapa tamu penting dan rombongan pebisnis menginap. Hampir setiap lantai dipenuhi aktivitas para karyawan.

Maya bahkan belum sempat menarik napas panjang sejak memulai pekerjaannya.

"Room 1208 sudah selesai?"

"Maya, setelah itu bantu ke lantai lima, ya."

"Jangan lupa kamar VIP harus selesai sebelum pukul sebelas."

Berbagai instruksi datang silih berganti. Bersama rekan-rekannya, Maya berpindah dari satu kamar ke kamar lain. Mengganti seprai, membersihkan kamar mandi, mengelap kaca, hingga memastikan setiap sudut kamar kembali rapi sesuai standar Grand Hotel Pratama.

Peluh mulai membasahi dahinya.

Meski kedua lengannya terasa pegal, ia tetap bekerja tanpa mengeluh.

"Capek juga, ya," ujar Rina sambil meregangkan bahunya ketika mereka mendapat waktu istirahat singkat.

Maya tersenyum kecil.

"Iya, tapi seru. Aku jadi banyak belajar."

Rina terkekeh pelan.

"Kamu masih bisa bilang seru. Besok baru tahu rasanya."

"Memangnya kenapa?"

"Besok kita ditugaskan ke rumah Pak Mahesa. Acara keluarga besar dan tamu penting. Pekerjaannya pasti dua kali lipat."

Maya mengangguk pelan. Ia memang sempat memikirkan penugasan itu sejak kemarin. Di satu sisi ia merasa gugup, tetapi di sisi lain ia tidak ingin mengecewakan atasannya.

"Apa pun pekerjaannya, kita jalani saja," katanya penuh semangat.

Rina tersenyum kagum.

"Pantas saja Pak Hendra memilihmu."

Menjelang sore, pekerjaan akhirnya selesai. Seluruh tubuh Maya terasa nyeri akibat aktivitas seharian. Bahkan telapak kakinya seperti kehilangan tenaga.

Sesampainya di kontrakan, ia langsung meletakkan tas di atas meja dan duduk di tepi ranjang.

"Huft... ternyata kerja di hotel memang tidak mudah."

Ia memijat pelan betisnya yang mulai pegal. Setelah itu, Maya membuka laci kecil di samping tempat tidur dan mengambil sebotol vitamin yang dibelinya beberapa hari lalu.

Ia menuangkan satu butir ke telapak tangan, lalu meneguknya dengan segelas air putih.

"Besok harus lebih fit," gumamnya.

Ia tahu penugasan di kediaman Presiden Direktur bukan kesempatan yang datang setiap hari. Sedikit saja melakukan kesalahan, bukan hanya dirinya yang mendapat teguran, tetapi nama Departemen Housekeeping juga bisa ikut tercoreng.

Karena itu, Maya bertekad menjaga kondisi tubuhnya sebaik mungkin.

Ia memandang seragam yang telah digantung rapi untuk dipakai esok hari.

Dengan senyum tipis, Maya mematikan lampu kamar dan berbaring.

"Semoga besok berjalan lancar."

Tanpa disadari, penugasan ke kediaman keluarga Pratama bukan sekadar hari kerja biasa. Di sanalah takdir perlahan mulai mempertemukan dua kehidupan yang selama ini berjalan di dunia yang sangat berbeda.

Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi beberapa lilin yang diletakkan di sudut-sudut ruangan. Aroma dupa memenuhi udara, membuat suasana terasa begitu sunyi.

Naura duduk dengan gelisah di hadapan seorang perempuan tua yang dikenal banyak orang sebagai cenayang.

Perempuan itu memejamkan mata selama beberapa saat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jemarinya perlahan menyentuh butiran tasbih kayu yang berada di atas meja.

Marlina yang duduk di samping Naura ikut menahan napas.

Beberapa saat kemudian, perempuan tua itu membuka matanya dan menatap Naura lekat-lekat.

"Hatimu sedang dipenuhi keinginan memiliki seorang putra."

Naura terkejut.

"Itu benar."

Perempuan tua itu kembali memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas panjang.

"Aku melihat jalan hidupmu tidak mudah."

Naura semakin menegakkan duduknya.

"Apa maksud Anda?"

Perempuan itu berbicara dengan suara pelan.

"Dalam penglihatanku... kau tidak akan mendapatkan anak laki-laki dari suamimu."

Kalimat itu membuat wajah Naura berubah pucat.

"Apa?"

"Takdirmu dan takdir suamimu tidak mempertemukan kalian dengan seorang putra."

Naura langsung menggeleng.

"Tidak... itu tidak mungkin."

Marlina menggenggam tangan sahabatnya yang mulai gemetar.

Namun, perempuan tua itu kembali berkata, "Percaya atau tidak, itu hanyalah apa yang kulihat. Aku tidak memaksamu untuk mempercayainya."

Naura mengembuskan napas panjang.

"Kalau begitu, apakah tidak ada jalan lain?"

Perempuan itu terdiam cukup lama sebelum menjawab.

"Jangan mencari jalan yang salah. Ada orang-orang yang, karena putus asa, memilih mengkhianati pasangannya demi mendapatkan keturunan. Jalan itu hanya akan membawa penyesalan."

Naura mengernyitkan dahi.

"Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu."

Perempuan tua itu mengangguk pelan.

"Itu keputusan yang benar."

Sesaat kemudian, ia kembali berkata dengan nada yang lebih dalam.

"Namun... ada satu hal lagi yang kulihat."

Naura dan Marlina saling berpandangan.

"Dalam waktu dekat, hidupmu akan bersinggungan dengan seorang perempuan muda yang berhati bersih, pekerja keras, dan belum banyak mengenal pahitnya cinta."

Naura mengerutkan kening.

"Siapa dia?"

Perempuan tua itu hanya menggeleng.

"Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku hanya melihat bahwa kehadirannya akan mengubah kehidupan keluargamu."

"Bagaimana caranya?"

"Aku tidak tahu. Penglihatan bukanlah kepastian. Itu hanya gambaran yang bisa saja ditafsirkan berbeda."

Naura menatap perempuan tua itu dengan bingung.

Semula ia datang dengan harapan memperoleh jawaban yang dapat menenangkan hatinya. Namun, ia justru pulang membawa lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.

Di sepanjang perjalanan pulang, ucapan perempuan tua itu terus terngiang di kepalanya.

Ia tidak tahu apakah harus mempercayainya atau menganggap semua itu sebagai omong kosong.

Yang jelas, ia belum menyadari bahwa perempuan muda yang disebut dalam penglihatan itu akan segera hadir dalam kehidupannya—bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari takdir yang akan mengikat keluarga Pratama dengan sebuah rahasia besar.

pertanda yang terlupakan

Mata Naura berbinar saat mendengar kalimat pertama dari sang cenayang. Jantungnya berdegup lebih cepat. Selama bertahun-tahun ia mendambakan seorang anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Harapan yang hampir padam itu seolah kembali menyala. Bibirnya perlahan tersenyum, membayangkan masa depan yang selama ini ia impikan.

Namun senyum itu membeku ketika cenayang tersebut kembali membuka mata dan menatapnya dengan tatapan tajam, seolah mampu melihat seluruh rahasia yang selama ini ia kubur rapat. "Aku juga melihat kebohongan yang kau sembunyikan. Hubungan terlarang dengan seseorang yang sangat dekat denganmu... asisten pribadimu."

Tubuh Naura langsung menegang. Wajahnya memucat dalam sekejap. Napasnya terasa tercekat, sementara jemarinya gemetar tanpa mampu ia kendalikan. Rahasia yang selama ini ia yakini tak mungkin diketahui siapa pun ternyata begitu mudah dibaca oleh orang asing di hadapannya. Ia ingin menyangkal, tetapi tatapan cenayang itu membuat seluruh keberaniannya runtuh.

Belum sempat Naura memulihkan dirinya, ucapan berikutnya menghantam jauh lebih keras. "Benar, kau akan segera memiliki seorang anak laki-laki. Tetapi... anak itu bukan darah daging suamimu."

Seakan dunia berhenti berputar. Mata Naura membelalak lebar, bibirnya terbuka tanpa mampu mengeluarkan suara. Kebahagiaan yang baru saja memenuhi dadanya berubah menjadi ketakutan yang mencekik. Jika ramalan itu benar, berarti semua kebohongan yang selama ini ia bangun akan runtuh satu per satu.

Naura menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai menguasai dirinya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Di dalam hatinya berkecamuk dua perasaan yang saling bertentangan. Ia bahagia karena akhirnya akan memiliki anak laki-laki, tetapi di saat yang sama ia dihantui kenyataan bahwa kehadiran anak itu justru bisa menjadi bukti paling nyata atas pengkhianatan yang telah ia lakukan. Ketakutan akan hari ketika semua rahasia terbongkar kini terasa jauh lebih besar daripada kebahagiaan yang baru saja ia rasakan.

Mentari pagi baru saja menyinari halaman rumah megah keluarga Pratama. Sejak fajar, suasana kediaman itu sudah jauh dari kata sepi. Beberapa mobil operasional hotel keluar masuk membawa perlengkapan dekorasi, rangkaian bunga, meja prasmanan, hingga peralatan tata boga. Para karyawan hotel datang lebih awal agar seluruh persiapan acara dapat selesai sebelum para tamu berdatangan.

Di antara mereka, Maya melangkah pelan sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah. Bangunan bergaya modern yang menjulang megah, taman yang tertata rapi dengan air mancur di tengahnya, serta deretan mobil mewah yang terparkir membuatnya tak mampu menyembunyikan kekaguman. Selama bekerja di hotel, ia memang sering melayani tamu dari kalangan berada, tetapi baru kali ini ia melihat secara langsung kemewahan sebuah rumah yang begitu luar biasa.

"Rumah ini benar-benar seperti istana," gumam Maya lirih. Ia segera menggelengkan kepala, mengingatkan dirinya untuk tetap fokus bekerja. Kekaguman tidak boleh mengganggu tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya.

Tak lama kemudian, Ratih keluar menyambut rombongan karyawan dengan senyum hangat. Penampilannya anggun dan berwibawa, tetapi sikapnya tetap ramah kepada setiap orang yang datang.

"Selamat pagi. Terima kasih sudah datang lebih awal," ucap Ratih dengan sopan. "Silakan langsung mempersiapkan semuanya. Jika ada kebutuhan atau kendala, jangan ragu menyampaikannya kepada saya."

"Baik, Bu Ratih," jawab para karyawan hampir bersamaan.

Setelah mendapat arahan, seluruh karyawan segera berpencar sesuai tugas masing-masing. Sebagian mulai menata meja dan kursi, sebagian lagi memasang dekorasi, sementara tim dapur sibuk menyiapkan hidangan. Maya ikut membantu menata perlengkapan dengan penuh ketelitian. Meski ini hanyalah sebuah pekerjaan, ia ingin memberikan hasil terbaik agar acara keluarga Pratama berlangsung sempurna tanpa kekurangan sedikit pun.

Sebelum waktu menunjukkan siang, halaman luas kediaman keluarga Pratama telah berubah menjadi tempat penyelenggaraan acara yang begitu mewah. Para karyawan hotel bekerja dengan cekatan, masing-masing memahami tugasnya tanpa perlu banyak instruksi. Mereka bergerak saling membantu, memastikan setiap sudut terlihat sempurna.

Meja-meja bundar berlapis taplak putih gading ditata dengan jarak yang serasi. Di atasnya, vas bunga segar berpadu dengan lilin hias dan peralatan makan berkilau, menciptakan kesan elegan. Kursi-kursi berbalut kain satin disusun rapi menghadap panggung utama yang dihiasi rangkaian bunga putih dan lampu gantung kristal.

Di sisi lain, deretan meja prasmanan mulai dipenuhi hidangan kelas atas yang disiapkan dengan teliti. Aneka steak premium, salmon panggang, udang dan lobster, sup krim hangat, beragam pasta, sushi, dim sum, hingga aneka salad segar tersusun menggugah selera. Tak ketinggalan berbagai pilihan dessert, mulai dari kue-kue mini, macarons berwarna pastel, mousse cokelat, puding, buah-buahan segar, hingga minuman jus dan mocktail yang disajikan dalam gelas-gelas kristal.

Maya ikut memastikan setiap hidangan tersusun simetris dan mudah dijangkau para tamu. Ia merapikan lipatan serbet, mengilapkan kembali peralatan makan yang masih tampak kurang berkilau, lalu memeriksa satu per satu meja agar tidak ada yang terlewat. Kerapian menjadi prioritas utama, karena sedikit saja kesalahan dapat mengurangi kesan mewah acara tersebut.

Tak lama kemudian, seluruh halaman rumah tampak berubah bak lokasi pesta eksklusif di hotel berbintang lima. Dekorasi yang anggun, aroma masakan yang menggoda, serta pelayanan yang tertata rapi membuat suasana terlihat begitu berkelas. Ratih mengamati hasil kerja para karyawan dengan senyum puas, mengangguk pelan karena semua persiapan telah selesai tepat waktu dan sesuai dengan harapannya.

Setelah memastikan seluruh persiapan acara berjalan sesuai rencana, Ratih melangkah menuju ruang keluarga. Di sana telah tergantung beberapa gaun dan setelan jas mewah yang sengaja ia siapkan untuk anggota keluarga yang akan menghadiri acara malam itu. Ia memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang kurang sebelum para tamu mulai berdatangan.

Saat hendak kembali ke halaman, pandangannya tertuju pada sebuah name tag yang terjatuh di dekat lorong. Ratih memungutnya dengan refleks. Nama yang tertera adalah Maya, salah satu karyawan hotel yang sejak pagi membantu mempersiapkan acara.

Tanpa sengaja, matanya membaca data singkat yang tercetak di balik name tag tersebut. Ketika melihat tanggal lahir Maya yang bertepatan dengan Kamis Kliwon, langkah Ratih seketika terhenti. Ada sesuatu yang mengusik ingatannya. Wajahnya berubah sedikit serius, seolah sedang berusaha mengingat sebuah peristiwa atau ucapan dari masa lalu yang selama ini tersimpan di sudut benaknya.

"Kenapa aku merasa... pernah mendengar tentang tanggal itu?" gumam Ratih lirih. Ia terus menatap name tag tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya, mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan ingatan yang samar.

Di saat yang sama, Maya terlihat mondar-mandir di sekitar halaman dengan wajah cemas. Tangannya meraba saku seragam dan celemeknya berulang kali.

"Astaga... name tag-ku ke mana?" bisiknya panik. Ia khawatir kehilangan kartu identitas itu karena merupakan perlengkapan kerja yang wajib dikenakan selama bertugas.

Saat pandangannya berkeliling, Maya melihat Ratih sedang memegang name tag miliknya. Ia segera menghampiri dengan langkah sopan.

"Permisi, Bu Ratih," ucap Maya sambil sedikit menundukkan kepala. "Maaf mengganggu. Sepertinya itu name tag saya yang tadi tidak sengaja terjatuh. Boleh saya memintanya kembali?"

Ratih tersadar dari lamunannya. Ia mengalihkan pandangan kepada Maya, lalu tersenyum tipis seolah menutupi rasa penasarannya.

"Oh... ini milikmu?" tanyanya lembut.

"Iya, Bu. Maaf karena saya kurang hati-hati."

Ratih mengangguk pelan, lalu menyerahkan name tag itu ke tangan Maya.

"Pegang baik-baik. Jangan sampai terjatuh lagi."

"Terima kasih banyak, Bu," jawab Maya tulus. Setelah kembali mengenakan name tag di dadanya, ia segera kembali bekerja, sementara Ratih masih memandangi punggung gadis itu yang semakin menjauh. Entah mengapa, tanggal lahir yang baru saja ia lihat terus berputar di benaknya, seolah menjadi petunjuk menuju sebuah rahasia yang belum ia pahami.

Menjelang sore, kediaman keluarga Pratama mulai dipenuhi tamu-tamu penting. Mobil-mobil mewah bergantian memasuki halaman, sementara para petugas keamanan sigap membuka gerbang dan mengarahkan kendaraan menuju area parkir yang telah disiapkan. Satu per satu para pengusaha, investor, rekan bisnis, hingga tokoh masyarakat turun dengan penampilan terbaik mereka.

Di teras utama, keluarga besar Pratama berdiri menyambut setiap tamu dengan senyum hangat. Tuan Pratama dan Ratih menjadi tuan rumah yang ramah, didampingi anggota keluarga lainnya. Percakapan demi percakapan mengalir membahas perkembangan Grand Hotel Pratama, rencana ekspansi bisnis, serta berbagai peluang kerja sama yang menjanjikan. Tawa dan denting gelas sesekali terdengar, menciptakan suasana pesta kalangan elite yang penuh kemewahan.

Lampu-lampu kristal yang menghiasi halaman memancarkan cahaya keemasan, berpadu dengan alunan musik orkestra yang mengiringi malam. Para tamu menikmati hidangan premium yang tersaji rapi di meja prasmanan, sementara para pelayan bergerak sigap memastikan tidak ada satu pun kebutuhan tamu yang terlewat.

Di balik kemewahan itu, para karyawan hotel terus bekerja tanpa mengenal lelah. Maya bersama rekan-rekannya mondar-mandir mengantarkan minuman, mengganti piring yang telah digunakan, merapikan meja, hingga memastikan setiap sudut acara tetap bersih dan nyaman. Meski kaki mereka mulai pegal dan tubuh terasa letih, tak seorang pun mengeluh. Mereka tetap memberikan pelayanan terbaik hingga tamu terakhir meninggalkan kediaman keluarga Pratama.

Waktu telah menunjukkan larut malam ketika pesta akhirnya berakhir. Dekorasi mulai dibongkar, peralatan makan dikumpulkan, dan sisa hidangan dibereskan. Setelah seluruh pekerjaan selesai, wajah-wajah lelah para karyawan terlihat jelas, namun terselip rasa lega karena acara berlangsung sukses tanpa kendala berarti.

Melihat kondisi mereka, Ratih menghampiri koordinator tim hotel.

"Sudah terlalu malam. Tidak aman jika kalian langsung pulang dalam keadaan kelelahan," ujarnya dengan penuh perhatian. "Silakan beristirahat dulu di paviliun belakang. Besok pagi setelah sarapan, kalian bisa kembali."

Ucapan itu disambut rasa syukur oleh para karyawan. Mereka kemudian berjalan menuju sebuah paviliun yang masih berada di dalam area kediaman keluarga Pratama. Bangunannya sederhana namun tetap nyaman, lengkap dengan beberapa kamar dan ruang istirahat.

Begitu memasuki paviliun, sebagian langsung merebahkan tubuh di sofa, sementara yang lain memilih beristirahat di kamar yang telah disediakan. Maya mengembuskan napas panjang sambil meregangkan bahunya yang terasa kaku. Hari itu benar-benar menguras tenaga.

Tak butuh waktu lama, suasana paviliun berubah hening. Setelah seharian bekerja tanpa henti, para karyawan satu per satu terlelap dalam tidur yang nyenyak, memulihkan tenaga sebelum kembali menjalani aktivitas mereka keesokan pagi.

Malam semakin larut. Setelah memastikan seluruh tamu telah pulang dan para karyawan beristirahat, Ratih akhirnya masuk ke kamar. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian menjadi tuan rumah, hingga tak butuh waktu lama baginya untuk terlelap.

Dalam tidurnya, Ratih kembali melihat bayangan peristiwa tiga tahun silam.

Saat itu, ia dan suaminya pernah menemui seorang tetua yang dikenal masyarakat sebagai orang bijak. Mereka datang dengan satu harapan, ingin mengetahui masa depan Mahesa yang saat itu akan segera menikah.

Ratih melihat kembali ruangan sederhana yang diterangi lampu minyak. Tetua itu memejamkan mata beberapa saat sebelum membuka pembicaraan.

"Mahesa akan memiliki kehidupan yang berkecukupan. Namun jalan rumah tangganya tidak akan semudah yang dibayangkan."

Ratih dalam mimpinya mendengarkan dengan saksama.

"Jika ia menikah dengan perempuan yang sekarang menjadi pilihannya, keturunannya akan diuji. Keinginan memiliki seorang anak laki-laki akan menjadi penantian yang panjang."

Ratih yang berada dalam mimpi itu tampak gelisah.

"Apakah tidak ada jalan lain?" tanyanya kala itu.

Tetua tersebut kembali memejamkan mata sejenak sebelum menjawab dengan suara pelan.

"Ada satu kecocokan yang kulihat. Mahesa memiliki kecocokan yang kuat dengan perempuan yang lahir pada Kamis Kliwon. Jika takdir mempertemukan mereka sebagai pasangan, peluang memperoleh anak laki-laki akan lebih besar."

Ratih mengingat dirinya yang langsung menggeleng pelan.

"Bukankah jodoh sudah ditentukan? Kami tidak mungkin memilih seseorang hanya karena ramalan."

Tetua itu tersenyum tipis.

"Benar. Ramalan bukan penentu takdir. Manusia tetap memiliki pilihan, dan Tuhanlah yang menentukan segala hasilnya. Apa yang kulihat hanyalah kemungkinan, bukan kepastian."

Mimpi itu berakhir tepat ketika Ratih teringat name tag Maya yang sempat ia pegang beberapa jam sebelumnya.

Ratih terbangun dengan napas sedikit memburu. Ia duduk di tepi ranjang sambil memegang dadanya.

"Itu hanya mimpi... atau mungkin hanya ingatan lama," gumamnya pelan.

Meski berusaha mengabaikannya, bayangan tentang ucapan tetua itu terus menghantui pikirannya. Entah mengapa, sejak melihat name tag Maya, kenangan yang selama bertahun-tahun terlupakan itu kembali muncul dengan begitu jelas, membuat Ratih diliputi rasa penasaran yang sulit dijelaskan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!