"Kamu tidak bisa seperti ini Araina! Perjodohan ini sudah ditetapkan sejak dulu. Kamu tidak bisa menolaknya" Ucap Maria Jordan yang merupakan Mommy dari Araina Jordan.
Araina tidak bergeming sedikit pun. Ini hidupnya bukan mereka yang menentukan tapi dirinya sendiri! Siapa pun itu tidak akan bisa membuat keputusannya berubah.
"Araina kamu dengar mommy?" Tanya Maria yang melihat Araina hanya diam dari tadi.
Araina menghela nafasnya lelah, "Aku tetap dengan keputusan ku mom. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menerimanya" jelasnya.
Maria tidak tau lagi ingin mengatakan apa pada putrinya itu. Araina sangat keras kepala. Maria hanya takut suaminya akan marah jika tau Araina masih menolak perjodohan ini.
Ditambah perjodohan ini adalah perjodohan yang sudah di atur oleh para tetua dua keluarga itu. Karna itulah perjodohan ini tidak bisa diputuskan sebelah pihak.
Maria mendekati putrinya, "Araina...., mom tau kamu masih ingin bebas. Tapi sayang keluara Jordan bukan keluara biasa sayang. Daddy mu akan marah jika kamu terus menolak seperti ini" ucapnya meyakinkan Araina.
"Maaf mom..." ucapnya begitu pelan.
Araina melepaskan genggaman tangan Mommy nya kemudian pergi menuju kamarnya sendiri. Araina tau dirinya terlalu egois. Tapi ia juga ingin bahagia...., apakah itu salah? pikirnya.
Sampai di dalam kamar.....
Araina mengunci pintu kamarnya dan dengan segera mencari ponsel yang sudah ia sembunyikan di dalam laci. Karna ia menolak perjodohan, Daddy nya mengambil semua fasilitas termasuk ponselnya. Semua itu di lakukan agar ia menerima perjodohan.
Sayangnya Araina sudah melakukan persiapan yang matang. Sebelum Daddy nya bertindak, Araina sudah menyembunyikan tabungannya dan juga ponsel cadangan agar membantunya kabur dari mansion.
"Sorry mom" lirihnya menatap foto keluarga nya yang masih tersimpan di atas meja.
Araina membuka ponselnya dan mulai menekan tombol panggilan. Ia menunggu sebentar sampai panggilannya diterima...
"Hallo Ana..."
Araina menghela nafasnya, "Agam. Jemput gue ke mansion sekarang!" pintanya.
Agam di sebrang sana mengernyitkan dahinya, "Ada apa? Lo lagi ada masalah?" tanyanya merasa aneh dengan Araina.
"Gue ingin kabur" ujarnya yang membuat Agam di sebrang sana membatu.
"Lo gila na. Jangan buat masalah woi. Lo lupa keluarga lo siapa hah?"
Araina memutar bola matanya malas, "Nanti gue ceritain. Sekarang lo jemput gue sebelum bokap gue sampai di mansion!" perintahnya.
"Ya..., ya...., gue otw. Tempat biasa kan? Gue nggak mau ya ditangkap sama pengawal keluarga lo."
Araina berdecak kesal, "Iyaa sialan. Gue tunggu awas kalau lo telat" ancamnya kemudian memutuskan panggilan.
Araina menyimpan kembali ponselnya dan bersiap untuk keluar dari mansion. Ia sudah membulatkan tekadnya, sebelum ia dipaksa lebih baik ia kabur kan? pikirnya.
Setelah selesai bersiap, Araina berjalan pelan ke arah balkon kamarnya. Ia menatap ke arah sekitarnya untuk melihat dimana saja para pengawal keluarganya.
"Udah lama gue nggak kabur lewat dahan pohon" gumamnya menatap sebuah pohon yang dahannya lumayan dekat dari balkon kamarnya sendiri.
Araina bergerak perlahan untuk naik ke arah pagar balkon. Ia berjinjit menggapai dahan pohon dengan hati-hati agar para pengawal di bawah sana tidak mengetahui keberadaannya.
Butuh waktu lima belas menit baginya untuk turun dari balkon lantai dua mansionnya. Untungnya para pengawal masih bisa ia kelabui dengan baik.
Araina menghela nafasnya lega setelah berhasil keluar dari mansion. Ia dengan cepat ke arah yang sudah ia sepakati dengan Agam.
Sampai di sana ia bisa melihat Agam yang duduk dengan santai di atas motor sportnya sambil melambaikan tangan kepadanya.
Araina tersenyum tipis baru ia berjalan mendekati Agam yang ada di sebrang jalan. Karna terlalu senang, Araina dengan gegabah melintas tanpa memperhatikan jalan yang ia lewati. Hingga sebuah mobil melintas dengan cepat....
Brakh.....
Mobil itu menabrak Araina hinga terlempar ke arah pinggir jalan. Kecelakaan begitu cepat terjadi, membuat Agam tidak sempat bertindak sedikit pun. Wajah Agam memucat menatap Araina yang sudah bergelimangan dengan darahnya sendiri.
Dengan kaki yang gemetar Agam mencoba mendekati Araina. "Ana...." panggilnya begitu lirih.
Araina sendiri pun masih sadar dengan keadaanya, namun tubuhnya sudah mati rasa karna merasakan sakit yang tidak bisa ia tahan. Araina masih bisa melihat dan mendengar suara Agam. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Agam sebelum kesadarannya mulai menghilang. Namun...
"Sudah saat nyo lo pergi na..." ucap Agam menatap tajam ke arah Araina.
"A-agam l-lo....."
Belum selesai berbicara Araina sudah tidak sadarkan diri. Agam tersenyum miring sambil merasakan denyut nadi Araina yang semakin melemah.
*****
"Ughh..." gumam seorang gadis cantik yang baru terbangun dari tidurnya.
Gadis itu memegang kepalanya yang begitu sakit, "Akhhh, sakit banget sialan" ucapnya.
Para pelayan yang baru masuk ke kamar nona mudanya begitu terkejut mendengar umpatan dari nona mudanya. Mereka saling pandang tidak tau ingin mengatakan apa pun.
Salah satu dari pelayan di sana dengan ragu mendekati nona mudanya yang baru saja menyandarkan dirinya ke arah kepala ranjang. "No-nona anda membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan itu dengan sopan.
Gadis itu mengernyitkan dahinya, Sejak kapan para pelayan di mansionnya berubah seperti ini. Ia tidak mengenal satu pun dari mereka. "Kalian semua pelayan baru?" tanya nya tanpa menjawab pertanyaan dari pelayan itu.
Para pelayan itu menatap ragu nona muda mereka, "Nona, kami adalah pelayan lama anda. apa anda lupa siapa kami?" ujar pelayan lainnya.
Gadis itu terdiam sambil mengingat pelayan yang ada di sana, namun ia masih tidak bisa mengenal mereka. Namun satu ingatan terlintas di otaknya.
"Gue kan kecelakaan" gumamnya dengan mata yang membola. Ia dengan cepat memeriksa tubuhnya, tapi ada yang aneh. "Kenapa tubuh gue jadi kecil begini" ujarnya tidak percaya.
"Nona Freya...., anda kenapa? Apa kami perlu memanggil dokter?"
Araina terdiam, Freya? Pelayan tadi memanggilnya apa? Freya?
Araina menatap para pelayan yang di sana, "Siapa Freya?" tanya nya.
Para pelayan menjadi panik sendiri dengan pertanyaan nona muda mereka, "Anda lupa dengan nama anda sendiri nona?"
Araina ingin bersikeras kalau ia bukan Freya namun bibirnya kembali terkatup karna ia baru menyadari suaranya berubah menjadi begitu lembut. Padahal ia hanya berbicara dengan nada biasa.
"Nona..." panggil pelayan tadi dengan khawatir.
Araina mengerjapkan matanya, ada satu kata yang terlintas di otaknya namun ia masih menyangkalnya.
"Gue baik-baik saja" ujarnya agar pelayan itu tidak membuat keributan.
"Nona anda baru menyebutkan kata gue?"
'Sial' pikir Araina begitu kalut takut ketahuan. "Ah hahaha, Aku hanya bercanda" ucapnya sambil cengengesan yang membuat para pelayan menghela nafasnya dengan lega.
"Aku hanya ingin tau apa kalian mengetahui nama ku atau tidak" ujar Araina mencoba meregangkan tubuhnya.
Pelayan itu tersenyum, "Tentu saja kami mengenal nama anda nona. Siapapun yang bekerja di keluarga Smith pasti mengenal anda" jelasnya.
Araina tersenyum, "Benarkah?" ucapnya main-main yang membuat para pelayan menatap gemas nona muda mereka. 'Keluarga Smith ya' batinnya mencoba menggali informasi.
"Nama anda sangat cantik nona, Freya Anastasia Smith" ucap pelayan itu yang membuat senyum Araina luntur begitu saja.
~ To Be Continue
Araina masih terdiam menatap cermin di kamarnya dengan ekpresi yang begitu aneh. Setelah mendengar dari pelayan jika namanya sekarang adalah Freya Anastasia Smith, benar-benar membuat kepalanya berdenyut semakin sakit.
Bukan hanya ber transmigrasi ke tubuh orang lain. Ia malah masuk ke dalam salah satu Novel yang ia sendiri pun tidak membacanya sampai akhir.
Araina menghela nafasnya, "Sialan, kenapa jadi begini" gumamnya masih menatap wajahnya di dalam cermin.
Araina memegang pipinya yang agak cuby dan sesekali menariknya karna gemas. Tubuh Freya begitu berbanding terbalik dengan tubuh asli Araina. Araina itu tergolong tinggi jika dibandingkan gadis biasa, sedangkan Freya itu agak pendek. Wajah Freya itu cantik polos menurutnya, sedangkan wajah nya sendiri cantik tegas.
"Hahhhh, sekarang apa yang harus gue lakukan" ucapnya begitu pelan. Araina berjalan ke arah meja belajar kemudian mengeluarkan buku dan alat tulis.(Kita bahas sedikit silsilah keluarga Freya agar tidak bingung nantinya yaa)
Araina berusaha mengingat apa saja kejadian yang ada di dalam novel tersebut. Kalau ia tidak salah ingat Freya itu cucu perempuan satu-satunya dari dua keluarga besar ayah dan ibunya.
Keluarga ibunya memiliki marga Morgan, dimana kakeknya Josep de Morgan dan neneknya Yasmin Arelia Morgan. Mereka memiliki dua anak, yang pertama Gabriel de Morgan dan istrinya Serena Morgan juga memiliki dua putra yaitu Justin dan Langit. Anak kedua adalah ibunya sendiri, Vanesa Anastasia Morgan.
Keluarga ayahnya memiliki marga Smith, dimana Kakeknya Abraham Leonel Smith dan neneknya Laura Tasya Smith. Mereka memiliki tiga putra, yang pertama Mario Leonel Smith paman pertamanya yang juga memiliki tiga putra, Kenan, Arga, dan Marvel. Putra kedua nya adalah ayahnya sendiri Arthur Leonel Smith, memiliki satu putri yaitu Freya Anastasia Smith. Terakhir putra ketiga atau paman kedua Freya bernama Kevin Leonel Smith, pamannya itu tidak memiliki anak karna belum menikah. Namun setelah kecelakaan pamannya tewas hingga muncul anak perempuan yang mengatakan bahwa dirinya adalah putri dari paman Kevin, namanya Selena.
Araina mengetuk ngetukan jarinya pada meja.
Ia masih ingat jika Freya hanya figuran yang tewas di luar negeri karna kelicikan dari sepupunya yaitu Selena. Karna Freya yang begitu polos sangat mudah di manipulasi oleh Selena sendiri. Bahkan Araina sempat heran apa yang ada di otak Freya sampai begitu percayanya dengan Selena.
Namun mengingat ini hanyalah Novel membuatnya terkekeh. Ia hanya pelengkap sebuah cerita romansa anak SMA dan intrik keluarga kaya.
"Sayangnya gue nggak akan mudah ditipu...., jadi Selena lo harus bersiap" ucapnya menyeringai.
Ting....
Araina mengambil ponselnya yang berdering, wajahnya begitu syok melihat pesan yang masuk barusan.
[Freya, aku akan menerima cintamu jika kau mau meminta maaf pada Airin!] Mine
Bibir Araina berkedut membaca pesan tersebut, "Narsis banget tu cowok" kesalnya.
[Aku tunggu permintaan maaf mu di sekolah besok] Mine
Araina melemparkan ponsel di tangannya, ia tidak sanggup melihat pesan dari cowok yang di sukai Freya. Lagian sekarang dirinya lah yang menjadi Freya. Mana mungkin ia mau dengan cowok modelan seperti itu.
Tok....tok....
"Masuk..." ujar Araina tanpa menoleh ke arah pintu.
Salah satu pelayan mendekati Araina, "Nona muda makan malam sudah disiapkan" ujarnya dengan sopan.
Araina tersenyum, "Yaa aku akan ke sana sebentar lagi" ujarnya.
Pelayan itu mengangguk kemudian keluar dari kamar Araina.
Araina sendiri membersihkan dirinya terlebih dahulu baru keluar dari kamar. Ia sedikit grogi untuk bertemu dengan kedua orang tua Freya. Ia takut jika kedua orang tua Freya sama dengan kedua orang tua kandungnya yang lebih mementingkan kekuasaan lebih dari apapun.
Bahkan mereka menjual dirinya atas nama perjodohan, karna itulah ia kabur dari mansion yang mengakibatkan dirinya kecelakaan hingga tewas.
Walaupun di novel dikatakan Freya putri kesayangan dari dua keluarga besar, namun semuanya berubah setelah Freya yang tidak lagi ingin bertemu dengan mereka. Akibat hasutan dari Selena akhirnya semua keluarga nya membenci Freya.
Araina tidak tau sudah berapa lama Freya di luar negeri saat ini. Setelah makan ia akan memastikan jalan apa yang bisa ia ambil sebelum Freya mati dibunuh tanpa ada yang tau keberadaannya.
Sampai di ruang makan...
Araina tidak melihat siapa pun kecuali para pelayan dan pengawal. Araina menghela nafasnya, sepertinya ia akan makan malam seorang diri. Baik di kehidupan sebelumnya sampai sekarang ia menjadi terbiasa untuk melakukan apapun seorang diri.
"Nona, Tuan dan Nyonya masih dalam perjalanan di luar kota, kemungkinan mereka akan sampai besok" ujar Pelayan yang melihat Araina seperti mencari kedua orang tuanya.
Araina mengangguk kemudian duduk di meja makan, tanpa pertanyaan lainnya Araina mulai memakan makanan dengan santai. Ia akan melupakan sejenak masalah yang akan ia hadapi setelah ini.
*****
Pagi harinya.....
Araina sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Hari ini ia akan membuat pria sialan itu malu di depan umum. Araina sudah memastikan jika saat ini masih belum menuju konflik pada novel. Ia masih mempunyai kesempatan untuk merubah nasib Freya.
"Sekarang mari kita hadapi para monyet sialan itu" ucapnya sambil memasang jepitan rambut.
"Ck, cantik banget gue" gumamnya menatap wajahnya di cermin.
Setelahnya Araina mengambil tas dan ponsel milik Freya, baru ia turun dari kamar. Ia memang ingin berangkat lebih cepat untuk melihat apa yang akan ia lakukan nanti. Sekalian ia akan mengurus surat kepindahannya. Ia akan kembali ke Indonesia untuk merubah masa depannya.
Lagian pusat dari cerita itu di Indonesia. Protagonis prianya juga kakak sepupunya sendiri yaitu Kenan Algerio Smith.
Karna itulah ia harus kembali dan membuat Selena membayar semua penderitaan yang di alami oleh Freya.
"Nona supir sudah menunggu anda di bawah" ucap pelayan.
Araina mengangguk kemudian mengikuti pelayan itu. Freya benar-benar seorang putri yang dimanjakan pikir Araina melihat bagaimana Pelayan dan pengawal meratukan dirinya seperti seorang bayi.
Beberapa menit berlalu...
Araina akhinya sampai di sekolah ternama di Inggris ini. Ia cukup terkesan melihat bangunan sekolah ini. Cukup megah dari sekolah lamanya.
"Freya..." panggil seorang gadis melambaikan tangannya di arah parkiran.
Araina ikut melambaikan tangannya sambil tersenyum. Rasanya wajah nya saat ini akan kebas karna selalu tersenyum. Bagaimanapun Araina harus bermain dengan lembut agar tidak ada yang bisa mengenali diri nya dengan baik.
"Aku pikir kamu tidak akan datang hari ini" ujar Raya yang sudah berada di samping Araina.
Araina mengernyitkan dahinya, "Memangnya kenapa?" tanya nya begitu penasaran.
Raya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Kan kemarin kamu baru saja menyatakan perasaan pada Sergio. Apalagi Sergio menolak dan mempermalukan mu di halaman sekolah" ucapnya dengan ragu.
Raya takut Freya akan tersinggung dengan ucapannya jika terus membahas hal buruk tentang Sergio. Ia takut Freya akan marah dan kembali menjauhinya.
Araina menghela nafas nya, ia harus menebalkan wajahnya hari ini menahan lirikan dan ucapan siswa di sekolah. Sampai ia membuat Sergio dan Airin di permalukan. 'Tunggu saja' batinnya.
~ To Be Continue
Araina yang tadinya ingin menuju kelas bersama Raya seketika terhenti karna rombongan yang Araina yakini adalah teman-teman dari Sergio sendiri. Mereka menatap sedih ke arah Araina...., hal ini membuat Araina bertanya-tanya ada apa dengan mereka semua.
Salah satu dari mereka mendekati Araina, "Sergio menunggu mu di lapangan Reya..." ujarnya.
Araina memiringkan kepalanya membuat Bastian gemas sendiri. "Kenapa?" tanya nya dengan lembut. (Sekarang kita panggil Araina dengan Freya supaya lebih mudah ya)
Bastian menghela nafasnya kemudian menatap para temannya di belakang. Mereka kasihan melihat Freya selalu di permalukan oleh Sergio. Tapi mereka tidak bisa menghentikan semua itu. "Kata Sergio kamu mau meminta maaf pada Airin karna menjebaknya. Tapi Freya kamu beneran sengaja mengunci Airin di perpustakaan sekolah?"
Bukan apa-apa Bastian tidak percaya jika Freya melakukan hal itu, karna ia tau sendiri bagaimana baik dan polosnya sifat Freya.
'Ck, Airin teh hijau ternyata. Tapi sekarang gue yang jadi Freya. Gue gak semudah itu kalian permainkan' batinnya menyeringai.
Freya menghela nafasnya, "Aku tidak melakukannya...., Kenapa Kak Sergio tidak percaya padaku" lirihnya yang membuat mereka merasa kasihan.
Raya pun setuju dengan apa yang dikatakan Freya, "Kemarin Freya bersama ku menyusun rencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Kak Sergio. Freya sama sekali tidak bertemu dengan Airin' Jelas Raya agar semua orang di sana berhenti menuduh Freya sembarangan.
Freya hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
Bastian menghela nafasnya, "Kamu ke kelas aja ya. Urusan Sergio biar aku yang tangani" ujarnya.
"Apa Kak Sergio tidak akan marah pada ku kak?" Tanya Freya dengan takut.
"Tenang saja, aku yang akan menjelaskan padanya" Bastian meminta Raya untuk membawa Freya ke kelas. Sebentar lagi pembelajaran pertama akan di mulai.
Setelahnya, Freya hanya diam sambil mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya masuk ke dalam tubuh Freya. Jika yang di katakan Raya benar, berarti Airin sama dengan Selena. Selena berpura-pura peduli pada Freya tapi dengan halus menjauhkan Freya dari keluarganya sendiri. Sedangkan Airin berpura-pura lembut di depan orang lain tapi tidak pada Freya sendiri.
Di perjalanan ke kelas, Freya tidak sengaja menatap ruangan yang bertuliskan labor komputer. Ia menatap Raya yang masih sibuk mengutuk Airin yang memfitnah dirinya. "Raya, kamu duluan aja ke kelas. Aku mau ke toilet" ucapnya.
"Aku temani ya" ujarnya ragu jika Freya pergi sendiri.
Apalagi sejak kemarin banyak siswa yang selalu mencoba menyakiti Freya karna mereka membela Airin. Ia tidak ingin Freya terluka lagi.
Freya yang paham kalau Raya khawatir menggenggam tangannya dengan lembut. "Jangan khawatir, aku hanya ke toilet sebentar"
Raya mengangguk kemudian membiarkan Freya pergi,
Sedangkan Freya berbalik menuju ruangan yang sempat ia lihat. Senyum di wajah cantik Freya langsung berubah datar setelah Reya pergi. Ia cukup lelah tersenyum seperti orang bodoh.
"Kenapa Freya bisa tersenyum setiap saat" gumamnya merasa tidak percaya. Dulu pas ia masih menjadi Araina, ia hanya tersenyum pada orang terdekatnya saja itu pun kalau ia tidak lelah. Sedangkan Freya selalu tersenyum jika melihat orang lain bahkan orang yang tidak di kenal pun Freya masih bisa menyapanya.
Ia tidak tau apakah sanggup berpura-pura baik pada semua orang. Tapi tidak masalah, Araina dingin yang datar tapi otaknya licik pasti bisa bertahan hidup di novel sialan ini. ia akan merubah Freya yang aslinya polos itu menjadi Freya polos di depan licik di belakang.
Sampai di depan ruangan....
Freya menatap sekitar ia tidak ingin orang lain melihat apa yang akan ia lakukan. Di rasa tidak ada orang, Freya memutuskan untuk masuk ke dalam labor komputer.
Freya duduk di paling pojok dimana agak sulit di lihat dari luar karna tertutupi. Ia mulai membuka komputer dan memasukkan kode-kode untuk coding. Ia sudah tau jika di sekeliling sekolah mempunya CCTV. Ia akan membuat Airin menyesal telah memfitnah dirinya.
Ting....
Freya berhasil membuka akses rekaman cctv, ia mengerutkan dahinya melihat rekaman video yang tersebut ternyata sudah dihapus. "Ck, Sayang sekali video yang kalian hapus bisa gue pulihkan" ucapnya terkekeh. Ia beruntung keahlian dirinya masih ikut berpindah ke raga Freya. Setidaknya bisa membantu hidupnya saat ini.
Jari Freya bergerak lincah menekan kode-kode baru berusaha memulihkan rekaman.
Sampai beberapa menit berlalu...
Rekaman video sudah dapat di pulihkan, Freya dapat melihat langsung Airin dan beberapa temannya sengaja merencanakan semua ini. "Benar-benar teh hijau tu bocah" ucapnya begitu kesal.
"Airin...., gimana ekspresi lo jika tau video ini ke sebar ya..." gumanya begitu senang.
Freya membuka akun sekolah kemudian membuka akses nya, ia mengirimkan video tadi dengan waktu terjadwal. Ketika istirahat nanti, video ini pasti sudah tersebar. Ia juga menambahkan video dan foto kejahatan Airin di sekolah. Setidaknya Freya meninggalkan kesan yang begitu besar untuk Airin sebelum ia pindah ke Indonesia.
"Selesai" ucap Freya yang sudah menghapus cctv keberadaan dirinya di sini dan beberapa pergerakannya di jalan tadi. Ia menghapus total rekaman ini agar tidak ada yang bisa memulihkan nya kembali. Baru setelahnya ia pergi dari sana.
Bukannya ke kelas Freya malah pergi ke ruang kepala sekolah. Ia akan mengurus kepindahannya hari ini, untuk orang tua kandung Freya asli akan ia bujuk belakangan. Yang terpenting ia harus merubah alur hidupnya.
Tok...Tok...
"Masuk..."
Freya membuka pintu perlahan kemudian masuk ke ruangan kepala sekolah.
"Ahh kamu ternyata. Duduk Freya..." ujar kepala sekolah itu mempersilahkan Freya duduk di sofa yang sudah tersedia di ruangan.
Freya duduk dengan sopan di depan kepala sekolah, kemudian ia menyampaikan tujuan kedatangannya. Dengan wajah yang sedih Freya meminta tolong agar kepindahannya di rahasiakan sampai ia kembali ke indonesia.
"Apa orang tua mu setuju Freya? Saya tidak bisa membuat pilihan sepihak"
Freya mengangguk, "Orang tua saya sedang di luar kota pak. mereka sudah setuju dengan pilihan saya" ucapnya dengan pelan.
"Baiklah, saya akan mengurusnya. Kamu ke kelas saja sekarang" ujar kepala sekolah.
Freya pun meminta izin pergi dari sana, Ia tersenyum miring tidak sabar menunggu jam istirahat. "Pasti mengagumkan" pikirnya.
*****
"Ayo ke kantin, aku sudah lapar" ajak Freya pada Raya yang masih sibuk memasukkan alat tulis ke dalam tasnya.
"Bentar" ucapnya.
Setelah selesai, mereka berdua berjalan berdampingan ke arah kantin. Freya dapat mendengar kalimat ejekan dari para siswa terhadapnya. Lagian Freya yang mereka maki adalah Freya asli bukan dirinya pikirnya.
"Lihat siswa sok polos itu datang lagi..."
"Kau benar, kok bisa dia masih berani datang ke sekolah ya"
"Biasa tidak tau malu hahaha...."
"Kasihan Airin selalu ditindas olehnya, padahal cantik tapi kenapa sifatnya jelek banget..."
Raya menatap ragu ke arah Freya, ia takut Freya akan bersedih seperti sebelumnya. Tapi sudah beberapa menit berlalu Raya tidak melihat kesedihan di wajah Freya. Ia menghembuskan nafasnya dengan lega, ia senang melihat perubahan Freya saat ini.
Sampai di kantin mereka langsung duduk di meja yang kosong sambil memilih-milih makanan yang akan mereka pesan. Freya mengangkat tangannya bermaksud memanggil pelayan, namun ia tersentak kaget karna mendengar teriakan yang menyebutkan namanya.
"FREYA!"
~ To Be Continue
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!