Indonesia
NovelToon NovelToon

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

JIWA BARU

Rasa dingin yang merasuk hingga ke tulang adalah hal pertama yang dirasakan oleh Easter.

"Sialan! Kenapa neraka sedingin ini," batin Ester.

Ester adalah seorang pengacara, yang memiliki karir bagus, dia di bunuh saat menangani kasus salah satu kliennya.

Di atas permukaan air, bayangan remang malam memperlihatkan dua sosok yang berdiri saling merapat di tepi dermaga kayu.

"Apa dia benar-benar sudah mati, Pangeran?" suara seorang wanita terdengar bergetar, berpura-pura cemas.

"Tentu saja, Elisabeth, si bodoh itu sudah tenggelam lebih dari sepuluh menit. Tidak ada manusia yang bisa bertahan di dasar Danau dalam suhu seperti ini," jawab Pangeran Luis Caliber dengan nada penuh keangkuhan.

"Lagipula, besok seluruh kekaisaran hanya akan tahu bahwa Lady Aura Luminar bunuh diri karena stres menanggung beban statusnya sebagai calon permaisuriku," lanjut Pangeran Luis, tersenyum miring.

Suara tawa pelan dan remeh mengudara, diikuti langkah kaki kedua orang itu yang perlahan menjauh dari area danau.

Di dalam air, sepasang mata mendadak terbuka lebar, iris matanya yang semula redup kini berkilat tajam, dingin, pekat, dan tak menyisakan kepolosan milik Aura Luminar yang lama.

Memori milik pemilik tubuh asli berhamburan masuk, membuat sang pengacara genius itu langsung paham situasi yang sedang terjadi saat ini.

Ester tidak pergi ke neraka, tapi dia kini hidup kembali di tubuh seorang gadis bodoh yang baru saja di bunuh oleh tunangan nya sendiri.

Aura Luminar, gadis naif, putri tunggal dari Duke Luminar, dijebak, didorong hingga tenggelam oleh tunangannya sendiri, bersama selingkuhan nya.

"Cih! Benar-benar gadis bodoh," batin Ester berdecih sinis.

Sebagai wanita yang terbiasa hidup keras di dunia modern, mati konyol akibat cinta buta sama sekali tidak ada dalam kamusnya.

Jika tubuh ini diberikan kesempatan kedua, maka orang-orang yang membunuhnya harus membayar harganya sampai tuntas.

Secara perlahan, Ester, atau yang kini sudah menjadi Aura Luminar, dia berenang menuju tepi danau.

Tangan pucatnya mencengkeram rumput basah, menarik tubuhnya yang dingin naik ke daratan.

Dia duduk bersandar di bawah rindangnya pohon, mengabaikan gaun mewahnya yang basah kuyup, jemari lentiknya meremas helai rambutnya yang basah sembari menyusun ingatan tentang struktur kekaisaran ini.

"Luis Caliber... Elisabeth Velis..." gumam Aura lirih.

Suara Aura terdengar serak, namun bibirnya melengkungkan senyum tipis yang amat berbahaya di balik kegelapan malam.

"Nikmati kemenangan singkat kalian, sebelum aku hancurkan kalian berdua, seperti yang kalian lakukan pada pemilik tubuh ini," gumam Aura, tersenyum dingin.

Untuk meruntuhkan posisi tunangan nya dan wanita simpanannya, membalas dendam secara terang-terangan hanya akan membuang energi, dia butuh pelindung sekaligus senjata yang paling mematikan di kekaisaran ini.

Seseorang yang posisinya berada di atas Luis.

Satu nama muncul di kepalanya, Kaisar Zane Caliber.

Pria dingin, gila kerja, dan tidak tersentuh yang memegang kendali penuh atas takhta dan seluruh militer kekaisaran.

Pria yang membuat posisi Permaisuri kosong bertahun-tahun karena tidak pernah tertarik pada wanita mana pun, bahkan wanita yang sudah melahirkan Pangeran Luis, tidak mendapatkan status apapun di istana.

Aura mendongak menatap langit malam, tiga hari lagi adalah Perayaan Ulang Tahun Kaisar Zane, acara paling megah di mana seluruh bangsawan akan berkumpul, termasuk Luis dan Elisabeth yang pasti akan memamerkan kedekatan mereka di atas kematian Aura.

Itu adalah panggung yang sempurna.

"Tunggu aku di acara ulang tahunmu, Yang Mulia Kaisar," bisik Aura dingin sembari bangkit berdiri, melangkah menembus kegelapan malam untuk mempersiapkan kejutan terbesarnya.

Sementara itu di kediaman Duke Luminar, seorang wanita paruh baya sedang menangis, saat mendengar laporan dari pelayanan pribadi Putri nya.

"CARI PUTRI KU SAMPAI KETEMU! JANGAN PERNAH MENAMPAKKAN WAJAH KALIAN SEBELUM PUTRI KU DI TEMUKAN!"

Bentak Duke Daren Luminar, dengan amarah yang meluap-luap.

"B-baik Duke!" jawab para prajurit langsung berlari pergi.

"Daren ku mohon, bawa Aura pulang, aku sangat menghawatirkan nya," ucap Duches Clara.

Duke Daren berusaha meredam emosi nya, dan menenangkan istri nya.

"Tenang lah sayang, aku bersumpah kalau sampai hal buruk terjadi dengan Aura, aku sendiri yang akan membunuh pria bajingan itu, tidak perduli walaupun dia seorang Pangeran," ucap Duke Daren, mengeram rendah.

Sebenarnya Daren dari awal memang tidak setuju dengan pertunangan putri nya dengan Pangeran Luis, kalau bukan karena putri nya memaksa dirinya, untuk menyetujui pertunangan itu, tidak akan pernah Daren biarkan putri nya bertunangan dengan Pangeran Luis.

Tidak jauh dari sana, Sora, pelayan pribadi Aura, tampak lebih menundukkan kepalanya, sambil terus meremas kedua tangan nya.

"Seharusnya tadi aku tidak membiarkan Nona Aura pergi sendiri untuk menemui Pangeran Luis," batin Sora menyesal.

Karena semua orang terlalu fokus dan takut dengan kemarahan sang Duke, sampai-sampai mereka tidak menyadari, bahwa Aura sudah berdiri di ambang pintu dengan penampilan basah kuyup dan bibir pucat nya karena kedinginan.

"Rupanya pemilik tubuh ini benar-benar disayang oleh keluarganya," gumam Aura pelan.

Sebagai Ester yang dulunya tumbuh tanpa kemewahan dan harus berjuang keras sendirian di dunia hukum yang kejam, melihat kepanikan Duke Daren dan Duchess Clara memberi rasa hangat yang asing di dadanya.

"Sayang sekali, Aura yang dulu terlalu buta karena cinta sampai tidak sadar punya keluarga se sayang ini," bisik Aura lagi. Bibirnya melengkung tipis.

"NONA AURA!"

Teriak salah satu pelayan yang menyadari keberadaan Nona muda nya.

Sontak saja teriakan pelayan itu membuat suasana ruang utama yang tadinya tegang dan penuh kepanikan langsung mendadak hening seketika.

Duke Daren, Duchess Clara, dan Sora secara bersamaan memutar tubuh mereka, menatap lurus ke arah pintu masuk.

"Aura?!"

Pekik Duchess Clara histeris melihat putri nya.

Tanpa membuang waktu, sang Duchess langsung berlari mendekati putrinya dan memeluk tubuh Aura yang terasa sangat dingin.

"Astaga, Nak! Kamu dari mana saja?! Kenapa tubuhmu basah kuyup seperti ini?!" cecar Duchess Clara dengan air mata yang menetes deras di pipinya, tangan gemetarnya terus mengusap wajah pucat Aura.

Aura sempat membeku sejenak saat merasakan pelukan hangat yang begitu tulus. Rasa asing sekaligus haru menyelimuti dadanya yang tertutup jiwa baru Ester.

"Aku tidak apa-apa, Ibu," ucap Aura dengan suara pelan dan sedikit serak.

"Tidak apa-apa bagaimana?!" bentak Duke Daren yang ikut mendekat dengan raut wajah sangat cemas bercampur emosi.

"Tubuhmu dingin sekali, Aura! Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?! Pelayan mu bilang kamu pergi menemui Pangeran Luis! Tapi kenapa kamu pulang seperti ini! Jawab Ayah, apa yang sebenarnya terjadi!?"bentak Duke Daren, marah dan juga khawatir.

PERUBAHAN AURA LUMINAR

"N-Nona Muda... maafkan saya! Ini semua salah saya karena membiarkan Nona pergi sendirian!" ucap Sora langsung berlutut di depan kaki Aura, menangis sesenggukan sembari memegang gaun basah majikannya.

Aura melirik pelayan pribadinya itu dengan tatapan tenang, lalu memegang pundak Sora untuk menyuruhnya berdiri.

"Berdirilah, Sora. Ini bukan salahmu," ucap Aura datar.

Duke Daren menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Ada yang aneh dari cara bicaranya, Aura yang dia kenal biasanya akan menangis atau menjerit panik jika berada di situasi seperti ini, tapi gadis di depannya sekarang terlihat begitu tenang.

"Jawab Ayah, Aura. Apa yang dilakukan Pangeran Luis padamu sampai kamu pulang dalam keadaan seperti ini?!" tanya Duke Daren lagi, dengan nada menekan, rahangnya mengeras menahan amarah.

Aura menatap lurus ke dalam mata ayahnya. Tatapan matanya yang tajam dan tak gentar membuat Duke Daren sempat tertegun beberapa saat.

"Luis mendorongku ke danau," jawab Aura santai.

"APA?!"

Pekik Duchess Clara sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, hampir saja pingsan kalau tidak ditahan oleh Sora.

"Pria bajingan itu... berani-beraninya dia!" teriak Duke Daren murka.

"Prajurit! Siapkan kuda sekarang juga! Aku sendiri yang akan memenggal kepala Pangeran bajingan itu malam ini!" teriak Duke Daren, pada para pengawal.

"Tunggu, Ayah," ucap Aura tegas, memotong langkah sang Duke.

"Aura! Pria itu hampir membunuhmu! Apa kamu masih mau membelanya hah?!" tanya Duke Daren, geram.

Aura menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, membuat orang-orang di ruangan itu merinding.

"Membelanya? Tentu saja tidak," jawab Aura pelan namun penuh penekanan.

"Tapi memenggal kepalanya malam ini hanya akan membuat keluarga kita disalahkan atas tuduhan pemberontakan," lanjut Aura, menatap Ayah nya.

Duke Daren menyipitkan matanya, kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut putri tunggalnya yang biasanya cuma tahu soal gaun dan pesta.

"Lalu kamu mau Ayah diam saja setelah dia mencoba membunuhmu?!" tanya Duke Daren tidak sabar.

"Sabar, Ayah. Permainan ini baru saja dimulai," jawab Aura sembari melangkah maju dengan tenang, mengabaikan gaunnya yang terus meneteskan air ke lantai.

"Bagi Luis dan selingkuhannya, aku sudah mati malam ini, biarkan mereka berpesta di atas kabar kematianku untuk sementara waktu," ucap Aura, tersenyum miring.

"Maksudmu bagaimana, Sayang? Selingkuhan? Siapa selingkuhan Pangeran Luis?" tanya Duchess Clara menatap putrinya bingung.

"Siapa lagi kalau bukan Lady Elisabeth Velis," jawab Aura tenang.

"Wanita bermuka dua itu?!" ucap Sora emosi, lupa akan tata kramanya karena terlalu kesal.

"Pantas saja selama ini dia selalu mendekati Nona Aura dengan pura-pura baik!" lanjut Sora, kesal.

"Benar," sela Aura singkat.

"Tiga hari lagi adalah perayaan ulang tahun Kaisar Zane, di saat itulah aku akan muncul dan membongkar semuanya di depan seluruh bangsawan kekaisaran, sekaligus untuk membatalkan perjodohan ini," ucap Aura, menatap Ayah dan Ibunya bergantian

Duke Daren tercengang, dia memandangi putrinya dari atas ke bawah, merasa seolah gadis di depannya ini bukanlah Aura yang sama yang selama ini dia rawat.

"Kamu... benar-benar ingin melakukan itu, Aura? Kamu tidak takut bertindak sejauh itu? Dan apa kata mu tadi, kamu ingin membatalkan perjodohan mu dengan Pangeran Luis?" tanya Duke Daren ingin memastikan.

"Kenapa harus takut?" ulang Aura menaikkan satu alisnya, tersenyum miring.

"Mereka yang seharusnya takut, karena ini akan menjadi awal dari kehancuran mereka," ucap Aura tersenyum miring.

"Dan ya untuk perjodohan bodoh ini, aku akan membatalkan nya," lanjut Aura, dengan dendam yang berkobar di depan hati nya.

Duchess Clara yang masih cemas memegang tangan dingin putrinya.

"Tapi Aura, kesehatanmu-"

"Aku tidak apa-apa ibu, aku hanya butuh mandi air hangat dan istirahat," potong Aura lembut.

"Sora, siapkan air hangat di kamarku sekarang," perintah Aura, pada pelayan pribadi nya.

"B-baik, Nona Muda! Segera saya siapkan!" jawab Sora sigap dan langsung berlari cepat.

Aura berbalik menatap Duke Daren yang masih berdiri terpaku menatapnya.

"Ayah, sembunyikan keberadaan ku selama tiga hari ke depan, jangan biarkan ada satu orang pun di luar kediaman ini tahu kalau aku masih hidup," ucap Aura, tegas.

Duke Daren mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis karena bangga melihat keberanian baru putrinya.

"Baik, Ayah akan pastikan tidak akan ada yang bisa membocorkan keberadaan mu," jawab Duke Daren, menepuk lembut pucuk kepala putri nya.

"Bagus," bisik Aura puas.

Aura melangkah pergi menuju kamarnya, menyunggingkan senyum dingin nya.

Setibanya di dalam kamar, Sora, pelayan setia nya itu, lansung sibuk menyiapkan air hangat dan juga pakaian tidur Aura.

"Nona, air hangatnya sudah siap, mari saya bantu melepaskan gaun Anda," ucap Sora cemas, menyentuh lengan Aura.

"Terima kasih, Sora, tapi biarkan aku sendiri di sini. Kamu boleh keluar," jawab Aura pelan, melepas jepitan rambutnya.

"Nona serius tidak mau dibantu? Biasanya Nona selalu minta saya menemani," ucap Sora menatap majikannya heran.

"Aku cuma ingin tenang sebentar, Sora," ucap Aura, menatap lurus ke mata pelayannya.

"Tolong jaga di depan pintu dan pastikan tidak ada pelayan lain yang masuk," lanjut Aura tegas.

"Baik, Nona. Saya akan jaga pintu di luar," jawab Sora menundukkan kepala dan mengangguk pelan.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Aura segera menanggalkan gaun mewahnya yang terasa berat dan dingin, lalu dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, untuk berendam, membiarkan air hangat meresap ke seluruh pori-pori kulitnya yang hampir membeku.

"Ah... lega sekali," gumam Aura sembari menyandarkan kepalanya di tepi bak mandi.

Sambil memejamkan mata, ingatan milik Aura yang asli dan pengetahuan Ester sebagai pengacara mulai beradu di kepalanya, dia harus menyusun rencana yang benar-benar rapi.

"Kalau cuma mengandalkan amarah Duke Daren, Luis paling hanya kena teguran dari Kaisar," batin Aura, menyunggingkan senyum miring.

"Tapi kalau aku memainkan kartu hukum dan posisi politik, aku bisa meruntuhkan posisinya sebagai Pangeran Mahkota," lanjut Aura, dengan rencana licik yang sudah tersusun rapi di otak kecil nya.

Setelah cukup berendam nya, Aura membilas tubuhnya dengan cepat, dan keluar dari dalam kamar mandi, tidak ingin membuang-buang waktu.

Setelah selesai, dia mengeringkan badan dan memakai gaun tidur sutra berwarna krem yang longgar dan nyaman.

Dia berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi oleh tumpukan surat dan buku-buku catatan milik Aura yang asli, tangan lentiknya memilah-milah kertas tersebut hingga menemukan sebuah dokumen dengan stempel kerajaan.

"Surat perjanjian pertunangan," gumam Aura sembari membaca lembaran itu secara teliti.

Bibirnya tersenyum puas saat menemukan satu poin penting di dalam dokumen itu.

KAISAR ZANE CALIBER

Point yang menyatakan bahwa pertunangan hanya bisa dibatalkan secara sepihak oleh Pihak Kekaisaran jika salah satu pihak terbukti melakukan tindak kejahatan berat.

"Percobaan pembunuhan sudah lebih dari cukup untuk membuat nama Luis hancur," bisik Aura dingin.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan dari luar.

Tok

Tok

Tok

"Aura, ini Ibu, Sayang," suara Duchess Clara terdengar lembut di balik pintu.

Aura segera menyimpan dokumen itu kembali ke laci, lalu berjalan membuka pintu.

Ceklekk

"Masuklah, Ibu," ucap Aura.

Duchess Clara masuk membawa nampan berisi semangkuk sup hangat dan segelas teh, beliau meletakkannya di atas meja kecil di dekat tempat tidur Aura.

"Makanlah sedikit, Sayang, tubuhmu masih sangat pucat," ucap Duchess Clara sembari mengusap lembut pipi Aura.

Aura duduk di tepi ranjang dan menerima mangkuk sup yang disodorkan ibunya.

"Terima kasih, Ibu," ucap Aura, hati nya merasa menghangat.

"Aura... jujur pada Ibu. Apa kamu benar-benar yakin dengan rencanamu untuk hadir di pesta Ulang Tahun Kaisar?" tanya Duchess Clara menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

"Tentu saja aku yakin, Ibu," jawab Aura tenang sebelum menyesap sup hangat itu perlahan.

"Tapi Nak, Kaisar Zane itu pria yang sangat berbahaya," bisik Duchess Clara khawatir.

"Beliau sangat kejam dan tidak ragu menghabisi siapa saja yang berani mengacaukan ketenangan nya. Ibu takut kamu malah masuk ke dalam bahaya yang lebih besar," ucap Duches Clara khawatir.

"Biarkan Ayah mu yang menyelesaikan ini semua sayang, kalau kamu memang ingin pertunangan dengan pangeran Luis di batal kan," lanjut Duches Clara, menggenggam lembut tangan Aura.

Aura menyunggingkan senyum tipis, menatap ibunya dengan tatapan penuh percaya diri yang belum pernah diperlihatkan oleh Aura yang dulu.

"Ibu tenang saja, pria seperti Kaisar Zane tidak bisa dipengaruhi oleh tangisan atau godaan murahan," ucap Aura santai.

"Tapi dia adalah seorang penguasa sejati, dia hanya tertarik pada keuntungan dan penawaran yang masuk akal," lanjut Aura tersenyum penuh rencana.

"Penawaran apa yang mau kamu berikan pada Kaisar?" tanya Duchess Clara mengerutkan keningnya heran.

"Sebuah alasan untuk menyingkirkan Pangeran Luis tanpa harus mengotori tangannya sendiri," jawab Aura tegas.

Duchess Clara terpaku mendengar ucapan tajam dari putri tunggalnya itu, rasanya benar-benar aneh melihat perubahan sifat Aura yang mendadak menjadi begitu dewasa dan penuh perhitungan.

"Kamu... benar-benar sudah berubah ya, Aura," gumam Duchess Clara pelan.

Aura meletakkan mangkuk sup nya yang sudah kosong di atas meja, lalu menatap ibunya hangat.

"Aku hanya belajar dari kesalahanku, Ibu, maaf karena selama ini Aura selalu membuat ibu dan Ayah malu," ucap Aura, mengingat kelakukan Aura asli yang tidak tahu malu.

"Apapun yang mau kamu lakukan, Ibu dan Ayahmu akan selalu berdiri di belakangmu," ucap Duchess Clara menghela napas panjang, lalu memeluk putrinya erat.

"Terima kasih, Ibu," jawab Aura, membalas pelukan hangat itu.

"Yasudah sekarang kamu tidur, istirahat, ibu keluar dulu," ucap Duches Clara, berdiri.

Setelah ibunya keluar dari kamar untuk membiarkannya beristirahat, Aura berjalan mendekati jendela besar kamarnya, dia menatap langit malam yang ditaburi bintang-bintang, membayangkan wajah Pangeran Luis dan Elisabeth yang saat ini mungkin sedang merayakan kematiannya.

"Tertawa lah mumpung kalian masih bisa tertawa," gumam Aura dingin, mengusap kaca jendela yang berembun.

"Karena saat itu tiba, aku sendiri yang akan mencabut semua senyuman dari wajah kalian," lanjut Aura tersenyum miring.

Di waktu yang sama di istana kerajaan Caliber, Kaisar Zeno masih ada di ruang kerja nya, masih fokus dengan beberapa laporan.

"Yang Mulia, ini laporan dari wilayah timur, tahun ini hasil panen, tiga kali lipat dari tahun lalu," ucap Nico, tangan kanan sekaligus asisten pribadi sang Kaisar

Kaisar Zane Caliber hanya melirik sekilas berkas yang disodorkan Nico di atas meja kerjanya, jarinya yang panjang dan tegas mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu mahoni yang dipoles mengilap.

"Simpan saja di sana," ucap Kaisar Zane dingin, suaranya yang berat memecah keheningan ruangan.

"Baik, Yang Mulia," jawab Nico sembari menaruh berkas itu dengan rapi di sudut meja.

Zane menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, menatap keluar jendela besar ruang kerjanya yang memperlihatkan pemandangan malam ibu kota. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak begitu datar, tak tersentuh oleh emosi apa pun.

"Bagaimana dengan persiapan pesta tiga hari lagi?" tanya Kaisar Zane tanpa beralih pandang.

"Semua berjalan sesuai rencana, Yang Mulia. Seluruh pangeran dan bangsawan dari berbagai wilayah sudah mengonfirmasi kehadiran mereka," jawab Nico sigap, berdiri tegap di samping meja.

"Pesta yang membosankan, mereka semua datang hanya untuk bermuka dua dan mencari muka di hadapanku," ucap Kaisar Zane terkekeh sinis.

Nico hanya diam, dan menundukkan kepalanya, tidak berani berkomentar apa-apa, karena itu memang kenyataan nya.

"Yang Mulia, mata-mata kita melaporkan bahwa malam ini Pangeran Luis kembali menemui Lady Elisabeth, bahkan mereka terang-terangan bermesraan di depan umum," ucap Nico, hati-hati.

Pangeran Zane mengeram rendah, dengan aura membunuh yang begitu pekat.

"Anak itu!" geram Kaisar Zane.

"Awasi anak itu, jangan biarkan kelakuan bodoh nya, mempermalukan kerajaan," ucap Kaisar Zane, mengepalkan tangannya kuat.

"Baik Yang Mulia," jawab Nico, sopan.

Kaisar Zane menyenderkan kepalanya, memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, ingatan nya kembali ke kejadian delapan belas tahun yang lalu, saat dirinya masih menjadi seorang pangeran Mahkota, seorang wanita tiba-tiba datang dan mengaku mengandungnya anak nya.

Waktu itu dirinya sudah menyangkal nya dengan keras, bahwa dirinya tidak mengenal wanita itu, tapi mendiang Ayah nya memaksa nya untuk bertanggung jawab, dengan tegas tentu saja Kaisar Zane menolak, hingga akhir nya, wanita itu melahirkan.

Kaisar Zane dengan terpaksa membawa bayi itu ke istana nya, tapi tidak dengan wanita itu.

Kaisar Zane menghela napas kasar, mengingat betapa menyebalkannya situasi delapan belas tahun lalu itu.

Bayi yang terpaksa dia akui sebagai anaknya sekaligus dibesarkannya di istana itu kini tumbuh menjadi pria tidak tahu diri seperti Luis.

"Harusnya sejak awal aku tidak perlu kasihan dan membiarkan anak itu hidup nyaman di istana," gumam Kaisar Zane sinis.

"Yang Mulia, Pangeran Luis masih muda dan emosinya belum stabil, tapi tindakan beliau yang terus-terusan mengabaikan Lady Aura demi Lady Elisabeth memang sudah sangat keterlaluan," ucap Nico dengan hati-hati.

Kaisar Zane mendengus pelan, menatap Nico dengan tatapan dinginnya.

"Gadis dari keluarga Luminar itu juga sama bodohnya," ucap Kaisar Zane datar.

"Sudah tahu Luis memanfaatkan posisinya, tapi dia masih saja mengejar-ngejar anak itu seperti orang tidak punya harga diri," lanjut Kaisar Zane, sinis.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!