Indonesia
NovelToon NovelToon

Angsa Cantikku

PROLOG : JERITAN DI KEGELAPAN

​Jeritan wanita itu teredam seketika saat sebuah telapak tangan besar membekap mulutnya dengan kasar.

​Ia diseret paksa ke dalam kegelapan lorong sempit yang buntu, melintasi bayang-bayang malam yang dingin dan sunyi. Tubuhnya gemetar hebat, berusaha sia-sia melepaskan diri dari cengkeraman sesosok pria bertubuh tinggi besar yang berdiri mengintimidasinya bagaikan malaikat pencabut nyawa.

​Tak ada wajah yang bisa dikenali. Pria itu mengenakan topeng hitam polos tanpa lekuk, sebuah topeng licin yang sama sekali tak memancarkan ekspresi manusia. Hanya sepasang mata di balik lubang topeng yang memancarkan aura kegelapan mutlak.

​"M-mohon... lepaskan aku... tolong jangan sakiti aku..." bisik wanita itu berselimut tangis pilu dan napas berburu. Suaranya gemetar parah, bergetar di bawah bekapan telapak tangan yang begitu tebal.

​Air matanya meleleh basah membasahi sarung tangan kulit pria itu. Namun bukannya melunak, pria bertopeng itu justru perlahan melepaskan bekapannya, lalu menempelkan satu jari telunjuknya yang terbungkus kulit hitam tepat di depan bibirnya sendiri.

​"Shhh..." desis pria itu rendah, sebuah gestur perlahan yang mengisyaratkan ketenangan mengerikan lalu memerintahkan sang wanita untuk bungkam dan tak lagi membuat suara.

​Tubuh wanita itu makin membeku. Rasa takut melumpuhkan napasnya saat menyadari tidak ada sedikit pun rasa kemanusiaan di balik topeng tersebut.

​Pria bertopeng itu tak lagi mengucap sepatah kata pun. Suara napasnya tenang, datar dan penuh perhitungan dingin. Tanpa keraguan sedikit pun, jemari besarnya mencengkeram rahang wanita itu dengan kekuatan monster.

​KRAK!

​Bunyi leher yang patah bergema mengerikan di sunyinya malam, disusul keheningan yang menyayat.

​Tubuh wanita itu terkulai tak bernyawa di atas tanah basah, matanya mendelik kosong menatap langit malam. Pria itu menyapu sedikit noda darah dari sarung tangannya dengan pelan, menatap tubuh korbannya sejenak tanpa emosi, lalu berbalik dan menyatu kembali bersama kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

BAB 1 : TARGET SANG ATASAN

Bip! Bip! Bip!

​Alarm di ponsel Lulu meraung tepat pukul 06.00 WIB. Lulu tersentak bangun dari tidur yang gelisah, napasnya memburu seolah habis berlari jauh. Sisa-sisa mimpi buruk yang samar masih menggelayuti benaknya, namun ketakutan itu langsung berganti dengan kepanikan yang nyata saat melihat jam. ​Hanya satu nama yang langsung menghantam kesadarannya yaitu Angga.

​Pria itu tidak kenal kata toleransi. Bagi Angga, satu detik keterlambatan atau satu kesalahan kecil dalam berkas adalah dosa besar yang taruhannya adalah karier.

​Tanpa membuang waktu untuk meregangkan badan, Lulu melompat dari tempat tidur, menyambar handuk dan menyelesaikan urusan kamar mandi dalam waktu rekor. Ia mengabaikan perutnya yang melilit perih karena belum diisi sejak semalam. Rasa lapar jauh lebih bisa ditoleransi daripada menghadapi tatapan mematikan Pak Angga.

​Ia menyambar map dokumen tebal yang semalaman ia kerjakan hingga matanya berkaca-kaca, mengenakan kemeja dan kacamata seadanya, lalu berlari keluar kamar kos.

​"Lulu! Tumben berangkat jam segini?" sapa Lastri, tetangga kosnya, keheranan melihat Lulu berlari kesetanan menuju taksi online yang baru saja tiba.

​"Aku buru-buru, Las! Takut Pak Angga sudah di kantor!" teriak Lulu tanpa sempat menoleh, langsung melompat masuk ke dalam mobil.

​Di dalam taksi yang membelah kemacetan Jakarta, dada Lulu masih berdegup kencang. Ia memeluk erat map dokumen di pangkuannya, seolah itu adalah perisai nyawanya. Sudah dua tahun ia bertahan di bawah tekanan pria sedingin es itu.

Pak Angga usianya yang baru 28 tahun sudah memegang kendali penuh atas divisi Administrasi dan Pergudangan dengan tangan besi. Parasnya tampan di atas rata-rata, namun auranya begitu dominan dan matanya seakan bisa menembus pikiran siapa pun yang menatapnya.

​Begitu taksi berhenti, Lulu berlari melintasi lobi, menempelkan sidik jari di mesin fingerprint dan akhirnya bernapas lega saat berhasil menginjakkan kaki di ruang divisinya.

​"Hah... Syukurlah, tepat waktu" Lulu menyeka keringat dingin di dahinya.

​"Eits, tumben baru sampai? Biasanya jam lima subuh sudah stay," sapa Rama, rekan kerjanya tersebut dari balik meja.

​"Aku menyelesaikan laporan ini semalaman, Ram. Sesuai arahan Pak Angga" sahut Lulu sambil meletakkan tumpukan berkas tebal di meja.

​Rama melotot melihat ketebalan berkas itu.

"Gila... Cuma kamu yang tahan sama siksaan Pak Angga. Harusnya kamu yang jadi bos di sini, bukannya dia yang sukanya cuma menekan bawahan"

​"Hush! Jaga ucapanmu, Ram!" Bisik Lulu panik, matanya melirik ke sekeliling ruangan, takut sang bos tiba-tiba muncul.

​Tiba-tiba, pintu ruangan terdorong kasar. Indah berlari masuk dengan wajah pucat pasi, pelipisnya basah oleh keringat dingin.

​"Gawat... Gawat banget!" suara Indah gemetaran, matanya berkaca-kaca menatap Lulu dan Rama.

​"Kamu kenapa, Ndah?" tanya Rama bingung melihat kepanikan total rekannya itu.

​"Dokumen pencatatan barang yang diminta Pak Angga hari ini... aku belum menyelesaikannya" bisik Indah, suaranya hampir hilang.

"Gimana ini? Pak Angga pasti bakal pecat aku..." Ujarnya kembali.

​Seketika, atmosfer di ruangan itu membeku.

Seluruh staf tahu aturan main tunggal di divisi ini yaitu Kesalahan satu orang adalah kegagalan satu tim dan hukuman dari Angga adalah neraka.

​Prok! Prok! Prok!

​Suara tepukan tangan yang pelan dan ritmis, namun bergema dingin memotong udara yang mencekam.

​Semua orang di ruangan itu mendadak mematung, seolah darah mereka berhenti mengalir. Langkah kaki bersepatu kulit mahal terdengar mantap mendekati mereka. Sosok pria bertubuh tegap dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku berdiri tepat di belakang Indah. Auranya begitu pekat dan dominan, mengintimidasi setiap pasang mata.

​Angga...

​Pria itu tidak tersenyum. Matanya tajam, dingin dan menusuk. Tanpa memedulikan Indah yang sudah gemetar hebat, Angga melangkah maju dan menyandarkan sebelah tangannya di meja Lulu. Ia menunduk sedikit, mengikis jarak hingga wajahnya hanya tersisa beberapa sentimeter dari Lulu. Manik matanya yang kelam mengunci pandangan Lulu tanpa ampun.

​"Jadi..." suara Angga berat, tenang, namun menyengat hingga ke tulang belakang.

"...siapa yang mau bertanggung jawab atas keteledoran ini sebelum saya membuat kalian semua menyesal pernah bekerja di sini?"

​Lulu menahan napas. Jantungnya berdegup begitu keras dan liar di dalam rongga dadanya, menimbulkan sensasi sesak yang menghimpit. Di bawah kungkungan tatapan tajam pria yang kini menatapnya seolah ia adalah satu-satunya objek berharga sekaligus mangsa utama di ruangan itu, Lulu benar-benar membeku tak mampu berkutik ataupun berpaling.

BAB 2 : SANKSI DAN KEGELAPAN

Tring... tring... tring!

​Alarm di sudut meja berdering nyaring tepat pukul 06.00 WIB. Angga tersentak, mengusap wajahnya yang kusut. Ruangan 2x3 meter itu berantakan. Sebagai Manajer Logistik selama lima tahun, waktu libur adalah kemewahan yang tak pernah ia miliki. Rasa lelah dan bayang-bayang masa lalu terus menghantuinya.

​Angga merapikan kertas yang berceceran dengan sangat telaten dan detail. Setelah selesai, ia mengempaskan tubuh di sofa. Matanya terpejam, melayang pada sosok Anna—kekasih yang meninggalkannya tanpa kabar setelah delapan tahun bersama. Luka itu begitu dalam, membekukan hatinya untuk wanita mana pun.

​Usai membasuh muka dan mengenakan kemeja navy resmi perusahaan, Angga menatap cermin. Model rambut short and spiky mempertegas wajah tampannya yang dingin. Pukul 07.50 WIB, agenda rapat dan pengawasan barang sudah menanti.

​Namun saat melangkah keluar ruangan, raut wajahnya seketika menyipit tajam. ​Di depan meja administrasi, tiga bawahannya yaitu Lulu, Indah dan Rama malah berkerumun. Mood pagi Angga hancur seketika.

​"Ngapain berkerumun? Sudah tak ada pekerjaan?" Tegur Angga dingin, suaranya menggelegar menghentikan obrolan mereka.

​Seketika atmosfer di ruangan itu membeku. Langkah sepatu kulit Angga mendekat dengan aura mengintimidasi.

​"Sial..." gumam Rama, pucat pasi.

​"Lulu, gimana dong?" bisik Indah gemetaran, berlindung di balik punggung Lulu.

​"Tenang, Ndah. Kita hadapi" bisik Lulu pelan.

​"Kenapa diam? Apa kalian sudah bosan kerja dan ingin dipecat?" ketus Angga, menatap mereka satu per satu dengan pandangan meremehkan.

​"A-anu, Pak... Indah bisa jelaskan..." Rama memberanikan diri menunjuk Indah.

​Indah yang terdesak langsung berlutut dan bersimpuh di lantai.

"Maafkan saya, Pak! Saya melakukan kesalahan lagi..."

​Lulu terperanjat melihat tindakan Indah yang berlebihan. Ia berusaha menarik lengan Indah untuk berdiri, namun Indah menolaknya sambil menunduk dalam.

​Angga menghela napas berat, menatap Indah dengan tatapan muak. Indah memang terkenal manja, anak orang kaya yang masuk lewat "jalur belakang" dan sudah puluhan kali membuat kekacauan stok hingga perusahaan rugi.

​"Cepat katakan, kesalahan apa lagi?" potong Angga tak sabar.

​"Saya... belum menyelesaikan pencatatan barang yang Bapak minta. Saya lupa..." Indah gugup.

​Angga memijat pelipisnya yang mendadak pening. Aturan perusahaan harusnya sudah cukup untuk memecat Indah, namun intervensi orang tua Indah membuat posisinya tertahan.

​Melihat Indah yang pucat ketakutan, Lulu akhirnya melangkah ke depan.

​"Saya yang salah, Pak" potong Lulu tegas dan tenang.

"Sebagai pengawas, saya lalai mengingatkan dan memeriksa pekerjaan Indah"

​Sontak Rama dan Indah membelalak. Angga tersenyum sinis, menatap Lulu yang berani pasang badan.

​Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.20 WIB dan rapat pimpinan segera dimulai, Angga menahan amarahnya.

​"Indah, berdiri!" perintah Angga datar. Indah bergegas bangkit.

"Mulai hari ini, gaji kamu dipotong dan kamu dilarang menyentuh tugas apa pun."

​Ajaibnya, Indah justru tersenyum lega. Asal tidak dipecat dan bisa terus melihat Angga, ia tidak peduli.

​Pandangan tajam Angga kini beralih sepenuhnya pada Lulu.

"Dan kamu... temui saya di ruangan setelah rapat. Jangan coba-coba pulang sebelum bertemu saya. Pekerjaanmu malam ini akan sangat banyak"

​"Baik, Pak. Saya tidak akan pulang" sahut Lulu tenang, meski dalam hati ia menelan ludah membayangkan luasnya area gudang di malam hari.

​Malam makin larut dan waktu sudah menunjukkan Pukul 22.30 WIB, kantor logistik sudah sepi dan mencekam. Rama dan Indah sudah pulang lebih dulu setelah sempat mewanti-wanti Lulu agar berhati-hati.

​Lulu yang menahan kantuk akhirnya tertidur di atas mejanya.

​BRAK!

​Setumpuk berkas tebal dijatuhkan kasar ke mejanya, membuat Lulu tersentak bangun. Ia menyambar kacamatanya dan mendapati Angga berdiri tegap di hadapannya.

​"Nyenyak tidurnya?" sindir Angga dingin.

"Cocokkan semua berkas ini dengan barang di gudang malam ini juga. Satu saja ada kesalahan, surat pemecatanmu langsung keluar"

​Tanpa menunggu jawaban, Angga berlalu. Lulu menghela napas, mengatur alarm ponselnya setiap satu jam agar tidak tertidur lalu berjalan menuju gudang penyimpanan yang luas dan remang.

​Di antara tumpukan barisan rak tinggi, Lulu mulai memeriksa barang satu per satu. Namun saat ia fokus mencatat...

​PLEK! TRASSSHH!

​Seluruh lampu gudang mendadak padam total. Kegelapan pekat langsung menelan ruangan.

​"A-apa ada orang di luar?" panggil Lulu, suaranya mulai bergetar.

​Ia meraba saku celananya kosong! Ponselnya tertinggal di meja kerja. Panik mulai menguasai dirinya. Trauma masa lalu saat ia dikunci di ruangan gelap oleh perundung SMA-nya mendadak bangkit, mencekik lehernya hingga sulit bernapas.

​"Tolong! Pak Angga... Tolong!" teriak Lulu histeris dalam kegelapan.

​Tap... tap... tap...

​Bukan jawaban yang ia dapat, melainkan suara langkah kaki berayun cepat di atas lantai semen. Langkah itu bukan langkah santai melainkan langkah mantap yang dengan sengaja bergerak lurus menuju ke arahnya!

​"S-siapa di sana...?" bisik Lulu dengan tubuh gemetar hebat dan keringat dingin membasahi pelipis.

​Sesosok bayangan bertubuh tinggi besar berdiri makin dekat di dalam kegelapan. Sebelum Lulu sempat menjerit, pandangannya menggelap total dan tubuhnya ambruk pingsan ke lantai.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!