### Bab 1
Musik di The Jade Lounge berdentum rendah, cukup keras untuk menelan jeritan kecil, tetapi tidak cukup keras untuk menutupi suara gelas kristal yang pecah di dekat kaki Keira.
Ia mundur setengah langkah.
Hak sepatunya menyentuh pecahan kaca. Bau alkohol mahal, asap tipis dari area smoking room, dan parfum orang-orang kaya yang terlalu manis bercampur di udara. Di balik pintu kaca lounge lantai atas hotel bintang lima itu, Jakarta malam masih menyala, dingin dan jauh, seperti tidak ada hubungannya dengan tiga pria yang sedang mengepungnya.
"Mau ke mana, Non?" Pria pertama tertawa. Tangannya sengaja menutup jalan Keira. "Dari tadi sendirian. Temani kami sebentar."
Keira menelan ludah.
Di luar, ia terlihat seperti gadis muda yang tersesat di tempat yang salah. Wajah pucat, mata berair, bahu mengecil. Gaun hitam sederhana yang ia pilih malam ini membuat kulitnya tampak semakin putih di bawah lampu lounge.
Di dalam kepalanya, ia menghitung.
Tiga puluh detik lagi.
Richard biasanya turun dari private dining room pukul 22.17. Dua minggu terakhir, Keira mencatat pola itu dari jadwal rapat, foto tamu hotel, unggahan samar sosialita di Instagram, sampai obrolan staf valet yang ia bayar dengan uang tunai. Malam ini Rolls-Royce berplat B 1 RIC sudah terparkir di area VIP sejak pukul sembilan lewat dua belas.
Berarti pria itu ada di sini.
Berarti sandiwara ini tidak boleh gagal.
"Tolong, saya mau pulang," ucap Keira lirih.
Suaranya bergetar pas. Tidak terlalu dramatis. Tidak terlalu tenang.
Pria kedua mendekat, tubuhnya sengaja menabrak bahu Keira. "Pulang sama kami saja."
Keira menunduk. Jemarinya meremas clutch kecil di tangannya sampai buku-bukunya memutih. Di bawah kuku yang rapi, telapak tangannya basah oleh keringat. Sebagian karena akting. Sebagian lagi karena kilasan mimpi itu kembali menyayat kepalanya.
Lampu putih rumah sakit.
Bau obat yang menempel di tenggorokan.
Pergelangan tangannya dibalut perban basah. Di balik pintu, suara perempuan tertawa pelan, manis, tetapi membuat kulit Keira merinding.
"Lihat dia. Cucu palsu Keluarga Tan akhirnya tahu tempatnya."
Lalu wajah Kevin yang dingin. Tatapan Engkong yang kosong karena tidak lagi mengenalinya. Pintu kamar rumah sakit jiwa yang terkunci dari luar. Darah merah di lantai kamar mandi.
Keira menarik napas pendek.
Tidak.
Mimpi itu tidak akan menjadi masa depannya.
"Eh, kok bengong?" Pria ketiga menyentuh ujung rambutnya.
Keira menepis dengan gerakan kecil, cukup lemah untuk terlihat tidak berdaya. "Jangan sentuh saya."
Pria itu tersenyum miring. "Galak juga."
Di meja dekat bar, dua wanita bergaun satin melirik sebentar, lalu pura-pura tidak melihat. Seorang staf lounge tampak ragu ingin mendekat, tetapi pria pertama menatapnya tajam. Staf itu berhenti. Tempat seperti ini punya aturan tidak tertulis: jangan ikut campur urusan tamu penting, kecuali ada tamu yang lebih penting lagi merasa terganggu.
Keira membutuhkan tamu yang lebih penting itu.
Sepuluh detik.
Ia mundur lagi sampai punggungnya menyentuh sisi meja. Gelas lain bergetar. Aroma lily of the valley dari pergelangan tangannya naik samar, bersih dan lembut, terlalu tidak cocok dengan sudut lounge yang mulai terasa pengap.
"Saya sudah bilang, saya mau pulang."
"Kami juga sudah bilang, temani dulu."
Pria pertama meraih pergelangan tangan Keira.
Keira membiarkannya setengah detik.
Cukup lama agar terlihat kasar.
Cukup singkat agar ia masih bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
"Lepaskan," katanya, kini suaranya lebih kecil.
Pria itu tertawa. "Kalau tidak?"
Keira mengangkat wajah. Matanya bergerak melewati bahu pria itu, ke lorong marmer yang menghubungkan lounge dengan lift privat.
Di sana, seorang pria baru saja berhenti.
Tidak ada suara keras. Tidak ada langkah terburu-buru. Hanya keheningan kecil yang tiba-tiba turun di beberapa meja sekaligus, seperti udara di ruangan itu diberi perintah untuk diam.
Pria itu mengenakan setelan gelap tanpa dasi. Tinggi, rapi, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Cahaya hangat lounge memantul di sisi kacamata frame emas yang ia pegang, bukan pakai. Tangannya panjang, urat di punggung tangannya terlihat saat ia menyerahkan sebuah map tipis kepada pria di belakangnya.
Keira tahu wajah itu.
Lim Richard.
Kepala Lim Group. Teman lama Papa. Pria yang dalam mimpi tidak pernah sempat ia dekati. Satu-satunya orang di Jakarta yang cukup kuat untuk membuat Keluarga Ong menunduk dan cukup berbahaya untuk membuat keluarga besarnya berpikir dua kali sebelum membuangnya.
Targetnya.
Penyelamatnya.
Atau, kalau ia gagal, orang pertama yang akan tahu bahwa ia pembohong.
Richard menatap tangan pria yang masih mencengkeram pergelangan Keira.
Hanya itu.
Satu tatapan.
Pria pertama langsung melepaskan tangannya seolah baru menyentuh bara. Senyumnya hilang. Dua temannya ikut mundur, kebingungan melihat perubahan itu, lalu ikut menoleh.
"Pak Lim," ucap pria pertama. Suaranya pecah di tengah. "Kami cuma bercanda."
Richard tidak menjawab.
Pria di belakangnya, yang Keira duga asistennya, melangkah setengah maju. Wajahnya lebih muda, tetapi sorot matanya sama dinginnya. "Bercanda dengan memaksa tamu wanita?"
"Bukan begitu, Pak. Kami..."
"Pergi."
Satu kata dari Richard jatuh lebih berat daripada bentakan.
Tiga pria itu tidak menunggu perintah kedua. Mereka bergerak hampir bersamaan, menunduk kaku, lalu menghilang ke arah pintu samping. Salah satu menabrak kursi, tetapi tidak berani berhenti untuk meminta maaf.
Staf lounge buru-buru mendekat. "Pak Lim, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami akan..."
Richard mengangkat tangan sedikit.
Staf itu langsung diam.
Keira masih berdiri di tempatnya. Pergelangan tangannya terasa panas bekas cengkeraman. Ia bisa saja menarik napas lega sekarang. Bisa juga menangis. Gadis baik yang baru saja diselamatkan seharusnya menangis.
Tapi ia tidak boleh terlalu cepat.
Ia menunggu sampai Richard menoleh padanya.
Tatapan pria itu lebih dingin dari yang ia bayangkan. Bukan dingin yang dibuat-buat, melainkan dingin seseorang yang terbiasa menilai manusia dalam satu pandangan dan membuang yang tidak berguna tanpa penyesalan.
"Kamu terluka?" tanyanya.
Keira menggeleng pelan. "Tidak, Om."
Kata itu keluar dengan sengaja.
Om.
Bukan Pak Lim. Bukan Tuan Lim. Panggilan itu menaruh jarak keluarga di antara mereka, jarak aman yang akan membuat niatnya tampak lebih bersih.
Alis Richard hampir tidak bergerak, tetapi Keira menangkap perubahan kecil di matanya.
"Kamu mengenal saya?"
Keira menunduk lagi. "Saya pernah melihat foto Om di ruang kerja Papa."
Asisten Richard menatapnya lebih tajam.
Richard diam sejenak. "Papa kamu siapa?"
Ini titiknya.
Keira membiarkan bibirnya bergetar. Ia meremas clutch lebih kuat, sampai tampak seperti sedang mencari keberanian dari benda kecil itu. Di bawah lampu lounge, matanya mulai basah. Kali ini tidak sepenuhnya palsu. Nama itu selalu punya cara sendiri untuk membuka luka.
"Papa saya..." Suaranya tersangkut. "Tan Hendra."
Keheningan turun lagi.
Bedanya, kali ini hanya di antara mereka bertiga.
Wajah asisten Richard berubah. Sangat cepat, tetapi cukup untuk Keira tahu ia berhasil menyentuh pintu yang benar.
Richard menatapnya tanpa berkedip.
"Hendra?" katanya pelan.
Keira mengangguk. "Iya, Om. Saya Keira. Tan Keira."
Untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu di wajah Richard retak. Bukan kelembutan. Belum. Lebih mirip ingatan lama yang muncul tanpa izin.
Di kejauhan, musik lounge kembali terdengar. Orang-orang mulai bicara lagi, tetapi lebih pelan. Staf membersihkan pecahan kaca di lantai. Dunia bergerak seolah tidak ada yang berubah.
Bagi Keira, semuanya baru saja berubah.
Richard melangkah mendekat. Tidak banyak, hanya satu langkah, tetapi cukup membuat aroma cedarwood dan kopi hitam samar mengalahkan bau alkohol di sekitarnya. Ia menatap wajah Keira lama, terlalu lama untuk sekadar memastikan identitas.
Keira menahan napas.
Kalau ia bertanya terlalu banyak, Keira sudah menyiapkan jawaban.
Kalau ia mencurigai timing pertemuan ini, Keira sudah menyiapkan air mata.
Kalau ia pergi begitu saja, Keira harus memulai rencana kedua yang jauh lebih berisiko.
Namun Richard hanya berkata dengan suara rendah, "Kamu mirip ayahmu."
### Bab 2
"Kamu mirip ayahmu."
Kalimat itu tidak keras. Bahkan di antara denting gelas dan musik rendah The Jade Lounge, suara Richard hampir tenggelam. Namun bagi Keira, kalimat itu seperti pintu besi yang akhirnya terbuka satu celah.
Ia menunduk lebih dalam, membiarkan rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah. "Banyak orang bilang begitu, Om."
Padahal tidak banyak.
Engkong pernah berkata ia punya mata Hendra saat sedang marah. Papa pernah tertawa dan bilang keberaniannya lebih mirip anak jalanan daripada anak keluarga Tan. Selain mereka, tidak ada yang benar-benar melihat kemiripan itu. Bagaimana mungkin ada, kalau darahnya saja bukan darah Tan?
Richard menatapnya beberapa detik lagi. "Kenapa sendirian di tempat seperti ini?"
Pertanyaan itu pendek, tetapi tajam.
Keira sudah menyiapkan jawaban sejak tiga hari lalu.
"Saya datang dengan teman. Tapi dia pulang duluan." Keira menggigit bibir bawahnya, cukup pelan agar tampak seperti kebiasaan gugup. "Saya kira bisa pesan taksi sendiri. Ternyata..."
Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.
Pria pintar lebih mudah percaya pada cerita yang ia simpulkan sendiri.
Richard menoleh sedikit. "Jason."
Asisten di belakangnya langsung maju. "Ya, Pak Lim."
"Cek CCTV. Pastikan tiga orang tadi tidak masuk lagi ke tempat ini."
"Baik."
Keira mengangkat wajah dengan cepat. "Tidak perlu, Om. Saya tidak apa-apa."
Richard kembali menatapnya. Dingin. Seolah kalimat Keira tadi tidak masuk daftar hal yang perlu dipertimbangkan.
"Aku tidak bertanya apakah perlu."
Keira terdiam.
Untuk sesaat, ia benar-benar lupa harus berakting. Ada sesuatu pada cara pria itu memberi perintah, tidak keras, tidak sibuk membuktikan kekuasaan, tetapi semua orang di sekitarnya langsung bergerak. Staf lounge menunduk. Manajer datang tergopoh. Jason mengetik cepat di ponsel.
Beginilah rupa kuasa yang ia cari.
Bukan Kevin yang hanya bisa mengancam memakai nama keluarga.
Bukan Om Hartono yang berani ketika Engkong sedang lemah.
Lim Richard adalah pintu keluar dari mimpi buruknya.
"Rumahmu di mana?" tanya Richard.
"Menteng. Rumah Keluarga Tan."
Ada jeda kecil saat ia menyebut nama rumah itu. Keira tahu Richard mendengarnya. Rumah itu bukan sekadar alamat. Di sana ada Engkong, nama Tan Hendra, dan seluruh kebohongan yang selama dua puluh dua tahun melindunginya.
Richard mengambil ponsel dari saku jasnya. "Saya panggilkan mobil."
"Saya bisa pesan sendiri, Om."
"Malam ini kamu tidak pulang sendiri."
Keira menatapnya.
Kalimat itu seharusnya membuatnya lega. Dalam rencana awal, ia memang menginginkan Richard merasa bertanggung jawab. Ia ingin pria itu menempatkannya dalam daftar orang yang harus dilindungi.
Namun saat kalimat itu benar-benar datang, dadanya justru terasa aneh. Hangat sedikit, nyeri sedikit.
Ia menunduk lagi. "Terima kasih, Om."
Jason kembali setelah beberapa menit. Di tangannya ada kartu nama hitam dengan tulisan perak. "Nona Tan, ini kartu saya. Kalau ada masalah seperti tadi, hubungi nomor ini. Saya akan bantu menghubungi pihak hotel atau keamanan."
Keira menerima kartu itu dengan dua tangan. "Terima kasih, Ko Jason."
Jason tampak agak terkejut mendengar panggilan itu, tetapi hanya mengangguk sopan.
Richard tidak mengomentari apa pun. Ia hanya berjalan lebih dulu menuju lift. Keira mengikuti beberapa langkah di belakangnya, menjaga jarak yang cukup sopan. Di cermin dinding lorong, ia melihat wajahnya sendiri. Pucat, rapuh, mata sedikit merah.
Sempurna.
Di luar hotel, angin malam Jakarta membawa bau aspal basah dan sisa kretek dari area parkir. Taksi online yang dipanggil Jason berhenti tepat di depan lobby. Sebelum Keira masuk, Richard berdiri di sisi pintu mobil.
"Sampaikan salam saya untuk Om Budi," katanya.
Jantung Keira bergerak pelan. "Om kenal Engkong?"
"Dulu."
Hanya itu. Satu kata yang menutup pintu pembicaraan.
Keira tidak memaksa. Ia masuk ke mobil, menutup pintu, lalu menatap keluar dari balik kaca. Richard masih berdiri di bawah lampu lobby, wajahnya setengah tertutup bayangan. Di belakangnya, Rolls-Royce hitam dengan plat B 1 RIC menunggu seperti binatang mahal yang jinak hanya pada pemiliknya.
Mobil Keira bergerak meninggalkan hotel.
Baru setelah tikungan pertama, senyum kecil muncul di bibirnya.
Langkah pertama berhasil.
Rumah Keluarga Tan di Menteng sudah sunyi ketika Keira tiba. Lampu taman masih menyala, memantul di kolam kecil dekat pintu samping. Pak Hasan membukakan pintu dengan kardigan tipis di atas baju koko rumah.
"Non Kei, kok pulangnya malam sekali?" suaranya pelan agar tidak membangunkan penghuni rumah.
"Ada urusan sebentar, Pak."
Pak Hasan memperhatikan wajahnya. Matanya turun ke pergelangan tangan Keira yang masih sedikit merah. "Ini kenapa?"
Keira menarik lengan bajunya. "Tidak apa-apa. Cuma kesenggol."
"Non Kei."
Nada Pak Hasan berubah. Lembut, tetapi tidak mudah dibohongi. Pria itu sudah bekerja di rumah ini sejak Keira masih kecil. Ia pernah melihat Keira pulang dengan lutut berdarah setelah berkelahi dengan anak laki-laki tetangga, lalu tetap bersikeras bilang hanya jatuh dari sepeda.
Keira tersenyum tipis. Kali ini senyumnya lebih jujur. "Nanti saya cerita, Pak. Engkong sudah tidur?"
"Sudah. Tadi sempat tanya Non Kei pulang jam berapa."
Hati Keira seperti ditusuk pelan. "Besok pagi saya sarapan sama Engkong."
Pak Hasan mengangguk, masih tidak puas, tetapi membiarkan Keira naik.
Kamar Keira berada di lantai dua, menghadap taman belakang. Begitu pintu tertutup, wajah rapuh yang ia pakai sepanjang malam runtuh. Bahunya lurus. Matanya mengering. Ia melepas sepatu hak tinggi, berjalan ke meja rias, lalu membuka laci paling bawah.
Di bawah tumpukan syal sutra, ada amplop cokelat.
Tidak ada logo mencolok. Tidak ada tulisan dramatis. Hanya nama laboratorium, nomor sampel, dan tanggal yang sudah ia hafal.
Hasil tes DNA.
Keira duduk di tepi ranjang. Jarinya berhenti di ujung amplop, lalu menarik kertas di dalamnya.
Setiap kali melihat baris kesimpulan itu, tubuhnya tetap memberi reaksi yang sama.
Perutnya dingin.
Napasnya memendek.
Hubungan biologis tidak cocok.
Kalimat medis yang kering. Sopan. Bersih. Seolah hanya sedang membandingkan dua angka, bukan mencabut seluruh hidupnya dari akar.
Ia bukan anak kandung Tan Hendra.
Ia bukan cucu kandung Tan Budiman.
Ia bukan darah keluarga yang memberinya nama, kamar, meja makan, guru piano, pesta ulang tahun, dan pelukan Papa saat ia demam.
Keira menekan kertas itu dengan ibu jari sampai sudutnya melengkung.
Dalam mimpi, kertas seperti inilah yang menghancurkannya. Setelah kebenaran terbuka, Kevin berdiri di sisi perempuan bernama Vanya dan berkata Keira sudah cukup lama menikmati hidup orang lain. Keluarga Ong menarik dukungan. Om Hartono menatapnya seperti barang cacat. Engkong sakit, lupa namanya, lalu semua orang memakai kebingungan itu untuk mengusirnya.
Paling akhir, pintu rumah sakit jiwa tertutup.
Keira masih bisa merasakan dingin lantainya setiap kali terbangun.
"Tidak," bisiknya.
Suaranya kecil, tetapi di kamar sunyi itu terdengar seperti sumpah.
Ia melipat kembali hasil tes DNA, memasukkannya ke amplop, lalu meletakkannya di atas meja. Di samping amplop itu, ia menaruh kartu nama Jason.
Dua benda.
Satu adalah pisau di lehernya.
Satu lagi adalah tangga keluar.
Keira berdiri di depan cermin. Rambutnya sedikit berantakan, lipstiknya pudar, bekas merah di pergelangan tangan belum hilang. Gadis di cermin terlihat seperti korban kecil yang baru saja diselamatkan.
Keira tersenyum.
Bukan senyum lemah di depan Richard.
Bukan senyum manja di depan Engkong.
Senyum ini dingin, pelan, dan hanya miliknya sendiri.
Kalau masa depan ingin menyeretnya ke rumah sakit jiwa, ia akan menyeret masa depan itu lebih dulu ke meja permainannya.
Keesokan paginya, setelah memastikan Engkong sedang berjemur di taman belakang dan tidak mendengar percakapannya, Keira memanggil Pak Hasan ke ruang kecil dekat dapur.
Pak Hasan datang membawa kopi tubruk yang belum sempat diminum. "Ada apa, Non?"
Keira menyerahkan kartu nama Jason.
Pak Hasan membaca nama di sana, lalu menatap Keira. "Lim Group?"
"Semalam saya bertemu Om Lim."
Alis Pak Hasan terangkat. "Om Lim? Maksud Non Kei, Pak Lim Richard?"
Keira mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, Pak Hasan tidak langsung bertanya. Ia hanya meletakkan cangkir kopinya di meja, wajahnya berubah serius.
Keira menatap kartu itu, lalu berkata pelan, "Pak, cari tahu jadwal Om Lim minggu depan. Semua."
### Bab 3
Tiga hari setelah Keira meminta jadwal Lim Richard, Pak Hasan masuk ke ruang makan sambil membawa nampan teh dan satu kalimat yang membuat sendok di tangan Keira berhenti bergerak.
"Non Kei, Pak Lim akan datang sore ini."
Engkong yang sedang membaca koran di ujung meja mengangkat wajah. "Pak Lim siapa?"
Keira menurunkan sendoknya pelan. "Lim Richard, Engkong. Teman lama Papa."
Kerutan di dahi Engkong mengendur sedikit. Nama itu seperti kunci kecil yang membuka laci ingatan. "Richard? Anaknya Lim?"
"Iya, Kong."
"Hendra pernah cerita." Engkong meletakkan koran, matanya berubah lebih hidup. "Anak itu dulu keras kepala. Kalau sudah pegang keputusan, susah dibelokkan."
Keira tersenyum manis. "Berarti cocok berteman dengan Papa."
Engkong tertawa pelan. Tawa itu membuat dada Keira menghangat, tetapi hanya sebentar. Di bawah meja, jari-jarinya menyentuh ujung ponsel. Pesan dari Pak Hasan masih terbuka di layar.
Pak Lim minta waktu bertamu pukul lima. Bawa asisten. Katanya ingin menyampaikan salam untuk Engkong.
Pukul lima kurang sepuluh, Rumah Keluarga Tan sudah berubah.
Pak Hasan memastikan ruang tamu utama dibersihkan dua kali. Teh oolong terbaik dikeluarkan dari lemari kayu. Vas berisi anggrek putih dipindah ke meja tengah. Rumah kolonial tua di Menteng itu tidak pernah kekurangan kemewahan, tetapi sore ini kemewahan itu terasa lebih waspada, seperti seluruh rumah tahu tamu yang datang bukan orang biasa.
Keira memilih blus putih berlengan panjang dan rok warna krem. Rambutnya diikat setengah, riasannya tipis. Ia ingin terlihat seperti cucu keluarga baik-baik yang tidak tahu caranya meminta perlindungan, bukan perempuan yang mengatur seluruh papan catur sejak The Jade Lounge.
Saat suara mobil berhenti di halaman depan, Pak Hasan menatap Keira sebentar.
"Non Kei yakin?"
Keira tersenyum lembut. "Saya cuma menyajikan teh, Pak."
Pak Hasan tidak percaya, tetapi ia tetap membukakan pintu.
Richard masuk dengan jas gelap dan kemeja putih tanpa motif. Jason berjalan setengah langkah di belakangnya, membawa map tipis. Tidak ada pengawal yang terlihat, tetapi entah mengapa halaman depan terasa lebih diam sejak mobil itu berhenti.
Keira berdiri di samping sofa, menunduk sopan. "Selamat sore, Om."
Mata Richard berhenti padanya sejenak. "Keira."
Hanya namanya. Pendek. Datar. Namun Keira mendengar Jason menarik napas sangat pelan, seolah mencatat sesuatu yang tidak ditulis di map.
Engkong keluar dari ruang dalam dengan tongkat ringan. Keira segera bergerak mendekat, tetapi Richard sudah lebih dulu melangkah. Ia menunduk sedikit, sikapnya hormat tanpa berlebihan.
"Om Budi."
Engkong menatapnya lama, lalu wajah tuanya melunak. "Richard. Sudah besar kamu."
"Sudah terlalu lama saya tidak datang."
"Hendra pasti senang kalau tahu kamu masih ingat rumah ini."
Nama Papa membuat ruangan itu hening sebentar.
Keira menunduk. Di matanya ada basah yang tidak perlu ia paksa. Bagian ini mudah. Papa selalu menjadi luka yang jujur.
Engkong duduk. Richard duduk di sofa seberangnya. Jason tetap berdiri sampai Engkong melambaikan tangan.
"Duduklah. Jangan kaku begitu. Di rumah ini teman Hendra bukan tamu asing."
Jason duduk dengan sopan. "Terima kasih, Pak Tan."
Keira menyajikan teh. Tangannya stabil saat menuang, tetapi ia sengaja berhenti sebentar di depan Richard, seolah gugup karena dekat dengannya.
"Tehnya, Om."
Richard menerima cangkir itu. Jari mereka tidak bersentuhan. Keira memang tidak merencanakannya. Sentuhan terlalu cepat akan terlihat murah.
"Terima kasih."
Percakapan berjalan pelan. Engkong bertanya tentang Lim Group, tentang kabar keluarga Lim, lalu tiba-tiba lupa pertanyaan yang baru saja ia ajukan. Keira mengulang dengan lembut, seolah itu hal biasa. Richard melihat semuanya. Cara Keira membetulkan selimut tipis di lutut Engkong. Cara Pak Hasan langsung mengganti obat kecil di meja tanpa diminta. Cara rumah ini mengelilingi Engkong dengan hati-hati.
Keira tahu ia sedang dilihat.
Maka ia menjadi lebih diam.
Gadis yang baik tidak perlu menjelaskan bahwa ia berbakti.
Ia cukup membiarkan orang lain menyaksikannya.
Setengah jam kemudian, suara hak tinggi terdengar dari teras.
"Loh, ramai sekali?" suara perempuan muda masuk lebih dulu sebelum orangnya muncul. "Keira, kamu enggak bilang ada tamu."
Ong Felicia berdiri di pintu ruang tamu dengan tas desainer di siku. Rambutnya dicatok rapi, bibirnya merah muda mengilap. Ia berhenti saat melihat Richard, lalu ekspresinya berubah cepat. Terkejut, kemudian tersenyum terlalu manis.
"Pak Lim?" Felicia hampir tersedak oleh antusiasmenya sendiri. "Aduh, maaf, saya tidak tahu."
Keira berdiri. "Felicia, ini Om Lim. Teman lama Papa. Om, ini Felicia, adik Kevin."
Felicia melirik Keira saat nama Kevin disebut, lalu tertawa kecil. "Iya, calon adik iparnya Keira. Walaupun jujur saja, kadang saya bingung harus panggil dia apa. Di rumah kami, Keira itu seperti tamu penting yang semua orang harus jaga perasaannya."
Ruang tamu mendadak lebih sunyi.
Pak Hasan yang berdiri dekat pintu menegang.
Keira menunduk. "Fel, jangan bicara begitu di depan Engkong."
"Loh, aku bercanda." Felicia berjalan masuk tanpa menunggu dipersilakan. "Keira kan paling sensitif. Dulu Ko Kevin cuma telat jemput saja bisa bikin seluruh rumah panik."
Engkong mengerutkan dahi. "Kevin sering telat jemput Kei?"
Felicia sadar ia salah memilih arah, tetapi terlambat. Ia tersenyum kikuk. "Bukan sering, Engkong. Cuma ya... Ko Kevin kan sibuk. Apalagi sekarang ada asisten baru yang banyak dibimbing."
Jari Keira berhenti di sisi nampan.
Ini dia.
Ia mengangkat wajah sedikit. "Asisten baru?"
Felicia tertawa, merasa menemukan topik aman untuk mengalihkan kesalahan. "Iya. Cantik juga orangnya. Namanya Vanya. Ko Kevin bilang dia pintar tapi perlu banyak bantuan. Makanya akhir-akhir ini mereka sering lembur."
Jason menurunkan pandangan ke map di pangkuannya.
Gerakannya kecil, tetapi Keira melihatnya.
Richard juga melihat.
Keira memucat pelan. Bukan karena terkejut. Karena ia ingin semua orang melihat wajah seorang tunangan yang baru mendengar calon suaminya dekat dengan asisten cantik.
"Oh," katanya lirih. "Kevin tidak pernah cerita."
Felicia menggigit bibir. Baru sekarang ia sadar percakapannya tidak membuat Keira malu sendirian. Ia juga sedang memperlihatkan Kevin di depan Lim Richard.
"Mungkin lupa," gumam Felicia.
Richard meletakkan cangkir tehnya di meja. Suaranya sangat pelan, tetapi Felicia langsung menoleh.
"Kamu biasa membicarakan urusan kakakmu seperti ini di rumah orang?"
Wajah Felicia memerah. "Saya..."
"Felicia hanya bercanda, Om," Keira memotong lembut.
Kalimat itu terdengar seperti pembelaan. Padahal Keira tahu, semakin ia membela, semakin buruk Felicia terlihat.
Rahang Richard mengeras sedikit.
Engkong menatap Felicia dengan kecewa. "Felicia, kalau datang ke rumah orang, jaga mulut."
"Iya, Engkong. Maaf." Felicia menunduk, tetapi matanya sempat menusuk Keira. "Saya cuma mampir sebentar. Mama suruh ambil dokumen Kevin."
Pak Hasan langsung bergerak. "Saya ambilkan, Nona Felicia."
Felicia tidak punya alasan untuk tinggal. Setelah menerima amplop dokumen dari Pak Hasan, ia pamit dengan senyum yang sudah retak. Ketika langkahnya hilang di teras, udara ruang tamu terasa lebih ringan, tetapi ketegangan yang ia tinggalkan belum pergi.
Engkong mengusap punggung tangan Keira. "Kei, Kevin baik padamu?"
Keira berlutut kecil di samping kursi Engkong, bukan karena drama, tetapi karena posisi itu membuat wajahnya berada tepat di bawah pandangan Richard.
"Baik, Kong." Ia tersenyum. "Mungkin dia memang sibuk."
Engkong masih tampak tidak puas. "Kalau dia tidak baik, bilang Engkong."
"Iya."
Richard tidak mengatakan apa pun sampai ia pamit satu jam kemudian.
Di depan pintu utama, senja sudah turun. Jason lebih dulu menuju mobil, memberi ruang yang terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Pak Hasan berdiri agak jauh. Engkong sudah masuk untuk minum obat.
Keira mengantar Richard sampai teras.
"Terima kasih sudah datang, Om."
Richard menatapnya. "Kalau ada masalah, hubungi saya langsung. Bukan Jason."
Keira mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sore itu, ia membiarkan keterkejutan terlihat utuh. "Saya boleh?"
Richard mengambil ponselnya, lalu menyebutkan nomor.
Keira mengetiknya pelan, memastikan tidak ada satu digit pun salah. Saat nama kontak tersimpan, layarnya menampilkan dua kata yang membuat darahnya berdesir.
Om Lim.
"Jangan simpan untuk keadaan darurat saja," kata Richard.
Keira menatapnya, seolah tidak mengerti.
Richard sudah berbalik menuju mobil sebelum ia sempat menjawab. Rolls-Royce hitam itu meninggalkan halaman Rumah Keluarga Tan dengan tenang, tetapi di dada Keira, sesuatu meledak tanpa suara.
Ia menunduk menatap nomor pribadi itu.
Wajahnya tetap patuh.
Di dalam hatinya, hanya ada satu kata.
Jackpot.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!