Indonesia
NovelToon NovelToon

Pendekar Pedang Langitan

Bab 1. Kembali ke Swarna Dwipa

Kembali ke Swarna Dwipa

Sebuah kapal layar besar bersiap merapat di pelabuhan Batang Hari. Seorang pria muda tampan berdiri di anjungan kapal menatap daratan Swarna Bhūmī. Tiupan angin laut membuat pakaian biru muda yang dia kenakan berkibar. Begitu juga dengan rambut panjangnya yang diikat seperti ekor kuda. Angin memainkan anak anak rambutnya.

Ada sinar kerinduan dibalik bola matanya. Sebuah senyuman unik terukir di bibirnya.

"Uda..." Seorang wanita cantik jelita berpakaian serba kuning muda  muncul bersama gadis berpakaian serba putih yang tidak kalah cantik dengan wanita yang berpakaian serba kuning muda.

Pria muda tampan yang tidak lain adalah Pandeka Pedang Suling Kumala tersenyum lembut kepada kedua gadis cantik jelita itu.

"Lala, Reno... Kalian datang kesini ? Mana yang lain ??"

"Ayaa Lingga dan Nilam masih di kamar mereka. Mantiak Suri, Nguyen Lan dan Ngo Chian juga ada dikamar mereka. Indra Kiemas dan Tombak Maut serta Pendekar Bayangan sedang ngobrol di buritan kapal."  Dewi Rimau Kumango menjawab pertanyaan Pandeka Pedang Suling Kumala.

Mereka sudah berlayar lebih dari dua bulan. Meninggalkan daratan Tionggoan melalui teluk Pohai. Mereka meninggalkan daratan Tionggoan setelah menghadiri pernikahan Angku Mantiko Sangek dan Kao Lan murid dalam sekte Hati Pedang. Sekarang Angku Mantiko Sangek bersama istrinya Kao Lan melakukan petualangan sebagai sepasang pendekar yang menumpas kejahatan di dataran Tionggoan.

Para Patriak sekte dan tetua serta murid mereka telah kembali ke negeri mereka masing-masing. Mereka semua berpisah setelah pesta pernikahan Angku Mantiko Sangek dan Kao Lan.

Hanya Pangeran Muda yang mendapat beban saat pulang. Dia harus memberi tahukan kepada ayah Nguyen Lan dan Ngo Chian. Bahwa kedua gadis itu ngotot pergi untuk melihat tanah Swarna Bhūmī. Hati Pangeran Muda terasa sangat berat melepas kepergian Ngo Chian. Gadis mungil yang diam diam telah mengisi penuh hatinya.

Tombak Maut dan Pendekar Bayangan juga ikut. Kedua pendekar itu sudah bertekad akan ikut Pandeka Pedang Suling Kumala kemanapun. Jadi mereka ikut ke Swarna Bhūmī dan mengabdi kepada Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango toanio.

Menjelang sore, kapal layar besar itu merapat di dermaga pelabuhan Batang Hari. Para penumpang mulai turun meninggalkan kapal layar besar itu.

Tujuh orang biharawan mengenakan pakaian dengan selempang kain kuning bergaris merah. Mereka adalah para bhiksu yang hendak menuju vihara Buda di kota raja lama kedatuan Sriwijaya. Juga turun beberapa kelompok pedagang.

Beberapa waktu kemudian, Pandeka Pedang Suling Kumala juga turun. Menyusul setelah itu Dewi Rimau Kumango bersama Dewi Bulan, kemudian Mantiak Suri diapit oleh Nguyen Lan dan Ngo Chian. Selanjutnya menyusul pendekar Golok Ganda Talaud bersa istrinya Walet Pasisia. Dibelakang sepasang pendekar Golok Ganda Talaud, menyusul Malin dan Denok Mantiak. Terakhir disusul oleh Indra Kiemas dan Tombak Maut serta Pendekar Bayangan.

Sementara itu, diluar pelabuhan Batang Hari. Banyak orang berkerumun melihat kearah pelabuhan.  Tiga kereta besar kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya berjejer rapi di kawal oleh dua puluh empat pasukan khusus. Ada seorang Senopati Muda yang memimpin dua puluh empat orang prajurit pasukan khusus itu.

Semua menunggangi kuda hitam.  Kereta paling depan ditarik oleh empat ekor kuda hitam besar. Kereta itu dihiasi dengan lapisan plat emas berukir pada sudut atap kereta. Dipuncak atap kereta terdapat tutup menyerupai tahta. Jelas itu merupakan kereta resmi Yuvaraja (putra mahkota) kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.

Mungkin itu yang menyebabkan orang orang berkumpul begitu banyak di luar pelabuhan Batang Hari.

Ketika Pandeka Pedang Suling Kumala keluar diapit oleh Dewi Rimau Kumango dan Dewi Bulan. Dua puluh empat prajurit pasukan khusus melompat turun dari kuda mereka. Senopati Muda Hanusa segara mendatangi Pandeka Pedang Suling Kumala dan menyapa dengan hormat dan ramah.

"Selamat datang kembali di Swarna Bhūmī, Pandeka Pedang Suling Kumala. Selamat datang Yang Mulia Dewi Bulan. Selamat datang Dewi Rimau Kumango. Selamat datang semua."

Pandeka Pedang Suling Kumala sempat tertegun sejenak. Hanya sejenak lalu tersenyum lebar.

"Senopati Muda Hanusa ?! Kejutan apa yang kau berikan untuk kami. Ada hal apa sehingga kau datang menjemput kami ?"

Senopati Muda Hanusa tersenyum gembira. Hatinya senang karena Pandeka Pedang Suling Kumala tidak lupa dengan dirinya.

"Yang Mulia Yuvaraja Mauli Balanaga memberi perintah kepada kami untuk menjemput Pandeka Pedang Suling Kumala dan rombongan.

Anda tentu sangat letih setelah berlayar hampir tiga purnama. Kami menyiapkan tiga kereta kuda untuk Pandeka Pedang Suling Kumala dan rombongan.

Melihat Senopati Muda Hanusa, Pati Mantiak Suri, Pati Malin dan Pati madya Indra Kiemas maju memberi salam penghormatan.

"Sendika Senopati Muda."

"Baguslah kalian bertiga telah kembali dengan selamat." Senopati Muda Hanusa menepuk pundak Pati Malin."

"Terimakasih Senopati."

Pati Malin memberikan sikap hormat. Begitu juga dengan Pati Mantiak Suri dan Pati madya Indra Kiemas.

Putri Nguyen Lan dan Ngo Chian melihat kearah Senopati Muda Hanusa dengan sorot mata kagum. Kemudian dia melihat Senopati Muda Hanusa mendekati pendekar Golok Ganda Talaud.

"Selamat datang kembali iyaa Lingga, dan Pati madya Nilam." Pendekar Golok Ganda Talaud tersenyum lebar dan berucap.

"Lama tidak melihat mu Hanusa. Engkau tampak semakin gagah." Hanusa tertawa dan bercanda sejenak dengan pendekar Golok Ganda Talaud. Dua orang ini memang cukup dekat sejak perkenalan mereka di tataran Sunda.

"Hormat ku Senopati." Walet Pasisia memberi penghormatan ala militer kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.

Setelah menyapa semua orang yang dia kenal. Senopati Muda Hanusa berdiri di hadapan Tombak Maut dan Pendekar Bayangan.

"Salam kami untuk Anda, tuan Senopati. Aku Tombak Maut..."

"...dan aku Pendekar Bayangan." Tombak Maut dan Pendekar Bayangan memperkenalkan diri.

"Mereka berdua adalah kawan ku, Senopati." Ucap Pandeka Pedang Suling Kumala. Namun Pendekar Bayangan dengan cepat menukas ucapan Pandeka Pedang Suling Kumala.

"Kami berdua adalah pengikut tuan Pandeka, tuan Senopati." Senopati Muda Hanusa tersenyum, tapi sedikit bingung. Dia bisa merasakan dua orang itu adalah pendekar suci puncak. Bahkan setengah langkah menuju pendekar agung.

"Salam kembali Tombak Maut dan Pendekar Bayangan. Selamat datang di kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya. Semoga Anda berdua betah dan kita bisa berteman baik." Senopati Muda Hanusa balas menjura. Kemudian dia melanjutkan kearah putri Nguyen Lan dan Ngo Chian.

Dewi Rimau Kumango mendekati Senopati Muda Hanusa dan berucap.

"Perkenalkan saudara Hanusa. Putri yang cantik ini adalah putri dari pangeran Nguyen Gou. Seorang putri dari negeri Campha, namanya Nguyen Lan."

"Salam hormat hamba untuk anda putri Nguyen Lan. Hamba Hanusa, Senopati Muda kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya."

"Salam kembali tuan Hanusa. Aku rasa kita tidak usah bersikap formal. Aku lihat, tuan juga teman dari udda Bagaga dan atasan guru ku Walet Pasisia." Nguyen Lan berkata dengan sikap berkawan.

"Terimakasih Nona Nguyen Lan, dengan senang hati. Panggil saja aku Hanusa."  Senopati Muda Hanusa tersenyum dan menjura. Kemudian dia melihat kearah Ngo Chian. Dia tertegun sejenak. Diam diam senopati yang muda dan gagah terpesona melihat pesona unik dari gadis imut yang cantik jelita itu.

Dewi Rimau Kumango tersenyum kecil melihat tingkah Senopati Muda Hanusa. "Nona cantik mungil ini, adalah Ngo Chian, putri tunggal Patriak sekte Lembah Api dari negeri Campha."

Senopati Muda Hanusa segara menjura. "Selamat datang di kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya nona Ngo Chian. Aku harap, Nona betah di negeri kami."

Ngo Chian tersenyum sedikit dan mengangguk.

"Terimakasih tuan Senopati. Tidak perlu sungkan."

Senopati Muda Hanusa menjura dan berbalik mendekati Pandeka Pedang Suling Kumala.

"Silahkan naik ke kereta. Kereta paling depan untuk Dewi Bulan, Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango.

Kereta ke dua untuk putri Nguyen Lan, nona Ngo Chian dan kereta ke tiga untuk Pati Mantiak Suri, Pati madya Nilam dan Nyonya Pati Denok Mantiak. Maaf untuk yang lain, silahkan naik kuda atau kereta di sebelah sais kereta."

Semua orang menaiki kereta kuda. Pendekar Golok Ganda Talaud duduk disebelah sais kereta ke tiga. Adapun Tombak Maut naik kereta kedua, sedangkan Pendekar Bayangan menaiki kereta pertama. Pati Malin dan Pati madya Indra Kiemas menunggang kuda yang telah disiapkan oleh prajurit pasukan khusus.

Senopati Muda Hanusa memberi sinyal dan kereta mulai bergerak meninggalkan pelataran pelabuhan Batang Hari.

\=\=\=\=\=***\=©

Bab 2. Menuju Kotaraja Dharmasraya

Menjelang senja, ketika matahari telah condong jauh ke barat. Semburat merah jingga mulai muncul di kanvas langit.

Tiga iringan kereta kuda kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya dengan kawalan pasukan khusus, memasuki kawasan istana kadipaten Batang Hari.

Penjaga gerbang segera membuka gerbang dan memberi hormat ketika iring iringan itu mendekat ke arah istana Adipati Batang Hari.

"Selamat datang yang mulia Senopati dan rombongan. Tuan Adipati telah menunggu." Seorang pengawal penjaga gerbang memberi tahu.

Adipati Batang Hari Hang Balaboh  menyambut iring iringan kereta di depan istana bersama istri dan dua anaknya. Tentu saja ikut hadir pemimpin pasukan kadipaten Batang Hari Pati  Mugi Laweh serta beberapa pejabat tinggi kadipaten Batang Hari.

Iring iringan kereta berhenti, Pandeka Pedang Suling Kumala adalah orang pertama yang turun dari kereta. Senopati Muda Hanusa yang berdiri di samping pintu kereta kuda memberikan penghormatan ala militer kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya. Pandeka Pedang Suling Kumala hanya mengangguk kecil. Setelah Pandeka Pedang Suling Kumala, turun Dewi Rimau Kumango yang kemudian berdiri disebelah Pandeka Pedang Suling Kumala. Terakhir turun Dewi Bulan, yang juga langsung berdiri disebelah Pandeka Pedang Suling Kumala. Sehingga pendekar super sakti itu diapit oleh Dewi Rimau Kumango dan Dewi Bulan.

Kemudian penumpang dua kereta lainyo juga ikut turun. Senopati Muda Hanusa memperkenalkan semua orang kepada Adipati Hang Balaboh.

"Aku sungguh bangga, kadipaten Batang Hari di kunjungi oleh sepasang pendekar super sakti dan Puti Reno Bulan. Serta semua orang besar dari kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.

Aaahhh... Terimakasih kasih atas kunjungan Anda putri Nguyen Lan dan nona Ngo Chian. Juga untuk anda berdua pendekar dari Tionggoan." Adipati Hang Balaboh menyambut semua dengan ramah.

Mereka kemudian menghabiskan waktu dengan ngobrol dan makan malam bersama.

Esok harinya.  Hari masih sangat pagi. Rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Namun semua tidak lagi mengenakan pakaian seragam pasukan. Bagaga juga tidak lagi naik kereta. Dia menunggang seekor kuda besar bewarna coklat. Rombongan itu terlihat seperti satu iring iringan pedagang.

Ketika matahari telah naik melebihi penggalan. Rombongan itu mulai memasuki jalur hutan. Bagaga menjejerkan lari kudanya disebelah kuda Senopati Hanusa.

Belum terlalu lama mereka menyusuri jalanan hutan. Pandeka Pedang Suling Kumala melihat banyak bayangan melesat dengan cepat dibalik rimbunan tanaman dikiri kanan jalanan hutan.

"Maaf Uda Bagaga, sepertinya akan ada yang mengganggu perjalanan kita."

"Masih ada kelompok kelompok perampok berkeliaran di jalur jalur jalanan hutan ?"

"Akhir akhir ini memang ada kelompok perampok berkeliaran Uda. Namun ketika kami turun untuk menangkap mereka. Tidak satupun yang bisa kami temukan."

"Oh, itu mungkin karena kalian datang dalam seragam resmi pasukan khusus."

Hanusa tercenung sejenak. Kemudian dia mengangguk dan berkata.

"Mestinya Uda Bagaga benar. Kini ketika kita berpakaian biasa, nyatanya mereka bakal segera muncul."

Setelah melewati sebuah tikungan, mereka menemukan rombongan puluhan orang berpakaian hitam dengan sabuk warna merah dan ikat kepala merah menutupi jalan yang akan mereka lewati.

Hanusa mengangkat tangannya tinggi dan iring iringan itupun berhenti. Hanusa melihat seorang pria besar berambut ikal panjang dengan ikat kepala merah. Dari sikapnya dan sikap orang orang lain dalam kelompok itu. Terlihat pria itu adalah pemimpin rombongan perampok itu.

Pria besar itu cukup ganteng. Hanya sorot matanya yang liar menunjukkan dia adalah seorang yang licik, sombong dan sangat kejam.

"Maaf sanak. Siapakah kiranya engkau dan kelompok mu yang sangat banyak ini ?"

Pria besar dengan rambut ikal panjang itu tertawa keras. Tawanya besar dan terdengar menyeramkan.

Ha ha haa hua ha haa haaa haaah....

"Kau tidak tahu siapa kami ? Hua ha ha haa haaa....

Apakah kau pernah mendengar  Rajo Legam kepala rampok penguasa hutan yang kalian lewati ini ??"

Hanusa melihat kepada Pandeka Pedang Suling Kumala yang juga tengah melihat kearah dirinya. Hanusa mengangguk kecil, sepertinya dia membenarkan pertanyaan yang muncul di mata Bagaga. Lalu Hanusa kembali melihat kepada Rajo Legam.

"Jadi engkau yang bernama Rajo Legam ?  Sungguh ini suatu hal sangat kebetulan.  Aku telah cukup lama sebetulnya mencari engkau dan semua anggota mu."

"Ooh... Untuk apa kau mencari ku anak muda ?" Rajo Legam menatap Hanusa dengan tatapan penuh tanya dan raut wajah heran.

Sementara semua pasukan yang dibawa Hanusa adalah pasukan khusus, pasukan darah besi. Mereka semua langsung  menyebar. Tentu saja tindakan semua anggota pasukan darah besi yang tidak berseragam itu langsung diikuti oleh Pati Malin, Pati Indra Kiemas dan Lingga. Begitu juga dengan pendekar Tombak Maut dan Pendekar Bayangan.

Hanusa menatap tajam kepada Rajo Legam dan berkata. Suaranya terdengar sangat keren dan penuh kuasa.

"Rajo Legam... Aku perintahkan kau dan semua anak buahmu untuk menyerah. Atau kalian akan segera dimusnahkan."  Rajo Legam kaget mendengar ucapan Hanusa yang terdengar penuh kekuasaan dan tekanan.

Tapi itu hanya sejenak. Kemudian tawa gelak yang sangat keras berkumandang menggetarkan hutan yang tenang.

"Hua ha ha Hua ha haa haaa haaah....  Siapa kau Bunduang ?!  Sikap mu seperti seorang pejabat istana saja.

"Ya aku memang dari istana Dharmasraya. Aku adalah Senopati Hanusa." Ucap Hanusa sambil memperlihatkan lencana emas yang menunjukkan pemegang lencana emas itu adalah seorang Senopati kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.

Melihat itu Rajo Legam kaget. Namun kembali tertawa gelak. Diujung tawanya, Rajo Legam langsung menurunkan perintah.

"Hua ha ha haa haaa haaah.... Seraaaaang...!  Bunuuuhhh...!!"

Begitu bicara, Rajo Legam langsung menyerang Senopati Hanusa.

Berbeda dengan Rajo Legam yang langsung menyerang. Anggota pasukan darah besi yang mendengar perintah Rajo Legam. Langsung bertindak mendahului anak buah Rajo Legam.

Pertempuran segera pecah. Namun dalam waktu singkat, anak buah Rajo Legam berguguran. Keberadaan Senopati muda Malin dan Pati Indra Kiemas serta Pendekar Bayangan dan Pendekar Tombak Maut. Semua anggota perampok itu menjadi makanan empuk.

Empat orang pendekar dan juga pejabat tinggi kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya itu langsung membantai anak buah Rajo Legam. Pekik kesakitan dan jerit kematian langsung menuhi udara.

Rajo Legam yang menyerang Senopati Hanusa juga tersentak. Dia terdorong mundur dua tombak ketika Senopati Hanusa menangkis serangan kejutnya.

Ternyata Senopati Hanusa sudah sangat siaga. Tidak lama kemudian, hanya sekitar waktu sepenanakan nasi. Semua anggota perampok Rajo Legam tewas. Mereka seperti menghantam tembok besi ketika bertarung dengan pasukan darah besi. Karena semua anggota pasukan darah besi adalah para pendekar yang telah lolos seleksi ketat atas kemampuan dalam pertandingan pesilat muda kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.

 

Dua hari kemudian. Iring iringan kereta kuda itu memasuki kota kerajaan Dharmasraya. Iring iringan itu langsung bergerak menuju istana Yuvaraja Mauli Balanaga, sang putra mahkota kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.

Warga kota raja Dharmasraya yang sedang berada diluar rumah. Langsung berjejer di sepanjang jalan. Mereka melihat kearah tiga kereta kuda yang berjalan beriringan. Kereta kereta itu dikawal oleh dua puluh empat orang anggota pasukan khusus berpakaian lengkap dan seorang Senopati Muda yang gagah perkasa. Masih ada lima orang pemuda yang juga menunggang kuda berjejer di belakang Senopati Muda Hanusa. Dua orang pria asing dengan rambut dikepang. Juga seorang pemuda gagah yang terlihat sangat tenang.

"Bukankah itu pendekar Golok Ganda Talaud ?" Salah seorang warga berkata kepada orang di sebelahnya.

"Hei itu adalah Pati Malin dan Pati Indra Kiemas. Bukankah mereka yang bertugas ke daratan Tionggoan ??"

"Kalau melihat penampilan mereka aku yakin mereka membawa berita kemenangan besar."

Berbagai komentar terdengar dari orang orang di sepanjang jalan.

Iring iringan kereta terus berjalan menyusuri jalanan kota raja Dharmawangsa. Menuju kearah timur, kearah istana Yuvaraja.

Seorang pengawal berlari dengan terburu buru menghadap kepada Yuvaraja Mauli Balanaga. Pati Talang Perigi melirik sekilas kearah prajurit tersebut.

"Mohon ampun Yang Mulia Yuvaraja..." Prajurit itu langsung menjura dalam memberikan sikap hormat. Nafas masih tersengal, namun wajahnya terlihat sumringah.

"Tenangkan hatimu dulu. Setelah itu baru bicara." Pengawal itu mengangguk dan berusaha untuk mengatur kembali nafasnya yang masih agak tersengal.

"Datang melapor kepada Yang Mulia Yuvaraja. Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Bulan beserta semua rombongan telah kembali."

"Dimana mereka ?" Yuvaraja bertanya dengan cepat. Wajah tampan sang putra mahkota kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya itu langsung senang. Senopati Talang Perigi juga terlihat sangat tertarik. Pria ahli strategi kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya yang juga calon suami Pati Mantiak Suri yang cantik dan sensual.

"Sedang menuju ke istana ini Yang Mulia Yuvaraja. Mereka telah memasuki kota." Ucap pengawal yang datang melapor.

Senyum bahagia terukir di wajah tampan Yuvaraja Mauli Balanaga. Dia bergegas melangkah keluar diikuti oleh Senopati Talang Perigi.

\=\=\=\=\=***\=©

Bab 3. Dan Yuvaraja Meminang

Iring iringan terus berjalan menyusuri jalan kota raja yang lebar bersih. Warga kota raja Dharmasraya membungkuk memberi penghormatan kearah kereta utama yang besar. Dewi Bulan dan Dewi Rimau Kumango yang berada dalam kereta itu tersenyum kearah warga yang memandang iring iringan itu dengan sorot mata hormat dan penuh kagum.

Tidak lama kemudian iring iringan itu memasuki halaman luas istana Yuvaraja Mauli Balanaga. Yuvaraja, Senopati Talang Perigi dan beberapa pelayan berdiri didepan serambi utama istana untuk menyambut kedatangan iring iringan tersebut.

Begitu sampai, Senopati Muda Hanusa segera melompat dari kudanya. Dia segera memberikan sembah kepada Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Salam Yang Mulia Yuvaraja. Kami kembali dengan selamat bersama Puti Reno Bulan, Pandeka Pedang Suling Kumala dan rombongan." Senopati muda Hanusa sengaja menyebutkan nama Dewi Bulan lebih dulu. Dia sangat paham seperti apa posisi Dewi Bulan dalam hati Yuvaraja.

Sudah beberapa kali Dapunta Hyang meminta Yuvaraja Mauli Balanaga untuk mempunyai istri. Namun jangankan mengambil seorang istri, bahkan satu selirpun Yuvaraja Mauli Balanaga tidak punya. Yuvaraja selalu menjawab permintaan Dapunta Hyang, Maharaja kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya dengan, Aku pasti akan menikah, jika telah bertemu dengan jodohku. Mohon Ayahanda bisa mengerti.

Yuvaraja mengangguk dan dia melangkah memeluk Pandeka Pedang Suling Kumala yang juga sudah turun dari kudanya dan menjura kepada Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Selamat datang saudara ku Bagaga. Senang melihat mu telah kembali." Pandeka Pedang Suling Kumala balas memeluk Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Maaf jika kami terlalu merepotkan anda Yuvaraja Mauli." Ucap Pandeka Pedang Suling Kumala. Pria sakti itu mundur dan menyenggol bahu Dewi Bulan.

Puti Reno Bulan alias Dewi Bulan juga telah turun dari kereta. Segera diikuti oleh Dewi Rimau Kumango.

Dewi Bulan melirik Pandeka Pedang Suling Kumala sekilas. Gadis cantik itu melihat kepada Yuvaraja Mauli Balanaga dan tersenyum sangat manis.

Yuvaraja segera maju dan meraih tangan Dewi Bulan. Putra mahkota kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya itu meremas lembut tangan Dewi Bulan dan berbisik.

"Terimakasih kasih sudah kembali Reno." Dewi Bulan tersenyum dan mengangguk. Gerakan gadis cantik itu terlihat begitu anggun. Namun rona merah menjalari pipinya sampai ke leher.

Perlahan Dewi Bulan menarik tangannya dan berdiri di sisi Pandeka Pedang Suling Kumala. Yuvaraja Mauli Balanaga segera menyapa Dewi Rimau Kumango.

"Selamat datang kembali nona Nirmala, ahh... Maaf maaf, maksud ku saudari ipar." Ucap Yuvaraja sambil menjura dan tersenyum ramah.

"Anda terlalu merendah Yang Mulia Yuvaraja." Jawab Dewi Rimau Kumango balas menjura lebih dalam.

"Ha ha haa... Nirmala, kau adalah istri dari saudara ku. Tidak ada sikap terlalu merendah atau apa diantara saudara sendiri." Ucap Yuvaraja Mauli Balanaga dengan ramah.

Lingga atau Pendekar Golok Ganda Talaud yang telah yang juga telah turun dari kudanya. Segera maju dan menjura dalam.

"Salam sembah ku Yang Mulia Yuvaraja."

"Ha ha haa... Terimakasih sudah kembali Pendekar Golok Ganda Talaud. Aku dengar kau dan Nilam sudah jadi menikah yaa." Yuvaraja berbisik ditelinga Pendekar Golok Ganda Talaud. Kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Pendekar Golok Ganda Talaud. Mereka berdua tertawa, tapi tawa Pendekar Golok Ganda Talaud tawanya dibalut malu.

Pendekar Tombak Maut dan Pendekar Bayangan langsung maju dan berlutut. "Salam hormat kami Pendekar Tombak Maut dan Pendekar Bayangan kepada Yang Mulia putra mahkota. Kami berdua adalah pengikut dan Pandeka Pedang Suling Kumala."

"Terimakasih dan selamat datang Pendekar Tombak Maut dan Pendekar Bayangan. Aku ucapkan selamat datang di Dharmasraya."

Senopati Talang Perigi melihat kearah dua kereta yang lain. Tiga orang wanita cantik turun dari kereta yang paling belakang. Diawali oleh Denok Mantiak, diikuti oleh Nilam alias Walet Pasisia. Sesaat kemudian keluar wanita yang cantik, sensual dan sangat memikat, Pati Mantiak Suri. Seorang wanita cantik, putri tunggal dari patriak sekte sesat yang kembali menjadi pendekar pembela kebenaran.

Gadis cantik perkasa itu tersenyum manis dan sangat lembut kepada Senopati Talang Perigi. Kemudian dia langsung menghaturkan sembah kepada Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Selamat kembali pulang Mantiak Suri. Kau telah membuat seorang ahli strategi kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya, kalimpasiang tidak bisa tidur." Ucapan akrab dari Yuvaraja membuat semua orang tertawa.

Setelah Nilam dan Denok Mantiak memberi sembah. Pintu kereta kedua terbuka. Dua wanita yang memiliki wajah cantik dan unik muncul. Dewi Bulan segera maju untuk memperkenalkan kedua gadis cantik itu.

"Kanda Balanaga. Dua gadis cantik ini berasal dari negeri Champa. Yang cantik dan anggun ini adalah tuan putri Nguyen Lan. Putri dari Pangeran Nguyen Gou, seorang menteri utama kerajaan Champa. Nguyen Lan menjura memberi salam hormat kepada Yuvaraja.

"Salam ku untuk mu Yang Mulia Yuvaraja."

"Terimakasih nona Nguyen Lan. Selamat datang di negeri Dharmasraya. Semoga engkau betah di negeri kami." Yuvaraja Mauli Balanaga balas menjura dan tersenyum ramah pada Nguyen Lan.

"Oh iyaa, putri cantik ini juga dapat didikan ilmu silat dari uni Nilam dan kakak Nirmala." Yuvaraja Mauli Balanaga mengangguk mendengar penjelasan dari Dewi Bulan.

Putra mahkota kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya itu. Menatap Dewi Bulan dengan lembut dan penuh cinta kasih. Dewi Bulan segera melanjutkan.

"Adapun gadis cantik, lembut dan ayu ini adalah putri dari sebuah sekte besar dari negeri Champa. Yaitu sekte Lembah Api dan dia juga di latih oleh Uda Bagaga. Nama gadis cantik, lembut dan ayu ini adalah Ngo Chian."

Ngo Chian segera menjura dalam kepada Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Terimalah hormat dariku Yang Mulia." Suara lembut Ngo Chian terdengar enak di telinga.

Yuvaraja Mauli Balanaga tersenyum lebar. "Nona Ngo Chian, kau pastilah seorang wanita sakti. Kamu mendapat bimbingan langsung dari dua orang pendekar yang sangat kuat."

"Hamba beruntung Yang Mulia." Ngo Chian tersenyum dan menjura dalam.

Pati Malin dan Pati Madya Indra Kiemas juga maju memberikan sembah. Yuvaraja Mauli Balanaga tersenyum lebar dan mengajak semua orang masuk.

Setelah menikm yang jamuan. Semua orang beristirahat. Namun Yuvaraja Mauli Balanaga mengajak Pandeka Pedang Suling Kumala untuk duduk di teras belakang.

"Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting saudara ku Yuvaraja Mauli ?" Pandeka Pedang Suling Kumala berkata setelah menyesap teh daun kelor.

Yuvaraja Mauli Balanaga tersenyum dan menatap Pandeka Pedang Suling Kumala. Ada sedikit malu dan ragu diwajah Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Katakan saja saudara ku. Kenapa tiba-tiba kau terlihat ragu ragu ?"

"Saudara ku Bagaga. Sekarang ini engkau menjadi wali dari Reno Bulan. Aku... (Yuvaraja menarik nafas dalam-dalam)

Aku mau meminang Reno Bulan."

Pandeka Pedang Suling Kumala terdiam sejenak. Kemudian dengan tenang dia menjawab.

"Aku setuju. Lalu kapan rencana untuk meminang resmi akan dilakukan ?"

"Kapan engkau dan keluarga siap. Aku akan datang secara resmi untuk meminang."

"Kalau begitu lusa kami akan kembali ke Batu Taba. Aku dan keluarga akan menanti kedatangan mu sekitar dua pekan kedepan."

"Terimakasih saudara ku Bagaga. Aku akan datang bersama Talang Perigi dan Mapati Giring Amarta dan rombongan."

"Baiklah, kami akan menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan rombongan dari istana Dharmasraya."

Yuvaraja Mauli Balanaga merasa batu besar di dadanya telah diangkat. Kini putera mahkota kerajaan besar Bhūmī Malayu Dharmasraya itu bisa bernafas lega. Dia juga bisa memenuhi titah ayahanda nya Dapunta Hyang.

Malam itu

Malam itu, Pandeka Pedang Suling Kumala langsung bicara bertiga dengan Dewi Rimau Kumango dan Dewi Bulan.

"Ada apa Uda. Sepertinya sangat serius." Dewi Bulan dan Dewi Rimau Kumango bertanya hampir bersamaan.

"Tenanglah... Kenapa kalian berdua terlihat seperti orang panik.

"Ah tidak. Aku pikir saudara Langkisau yang...  Aduuuh..."

Dewi Rimau tidak melanjutkan ucapannya. Wanita cantik jelita itu menjerit.

"Aaaahhhh....!!" Ternyata tangan Dewi Bulan telah mamiriak keras pinggang Dewi Rimau Kumango.

"Adduuuuhh kau kenapa Lang... Aduuh aduh ampun, iya aku tidak akan mengulangi lagi." Dewi Rimau Kumango berkata sambil tertawa geli.

Dewi Bulan memang telah berteman akrab dengan Dewi Rimau Kumango. Perkenalan mereka berawal sejak Dewi Rimau Kumango membuka penyamaran Dewi Bulan di dalam kamarnya di sebuah kapal. Kala itu Dewi Bulan sedang menyamar menjadi seorang pria.

\=\=\=\=\=***©

# mamiriak  \= mencubit dengan gemas

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!