Indonesia
NovelToon NovelToon

Janda Tua yang Bangkit Jadi Konglomerat

Episode 1

Asap dupa di ruang tengah keluarga Susanto belum benar-benar hilang ketika Suparti membuka mata dan menyadari dirinya kembali hidup.

Foto mendiang ibu Handoko masih berdiri di meja kecil dekat dinding. Pita hitam di sudut bingkainya belum dilepas. Delapan hari lalu, perempuan tua itu baru dimakamkan. Delapan hari setelah rumah ini dipenuhi suara doa dan bau bunga tabur, Handoko sudah membawa Jenny duduk di sofa keluarga, seolah duka bisa digeser begitu saja untuk memberi tempat bagi perempuan lain.

Suparti berdiri di ambang ruang tengah dengan tangan masih memegang lap dapur.

Lantai dingin di bawah telapak kakinya. Dinding krem yang sudah menguning. Gorden cokelat yang pernah ia cuci sendiri sampai tangannya pecah-pecah. Semua sama.

Hanya satu hal yang berbeda.

Ia masih bernapas.

Dalam kehidupan sebelumnya, napas terakhirnya tersangkut di lorong rumah kontrakan sempit, sendirian, lapar, dan terlalu lemah untuk memanggil siapa pun. Anak-anak yang ia lahirkan tidak datang. Suami yang ia layani tiga puluh empat tahun tidak menoleh. Sampai tubuhnya ditemukan tetangga, dingin di dekat pintu yang tidak sempat ia kunci.

Kali ini tidak.

Kali ini, ia tidak akan mati sambil menunggu belas kasihan keluarga Susanto.

"Suparti."

Suara Handoko menariknya kembali ke ruang tengah.

Pria itu duduk dengan punggung tegak. Kemeja batiknya licin, jam tangannya berkilat, wajahnya masih memakai ketenangan seorang rektor yang terbiasa didengar. Di sampingnya, Jenny menunduk dengan gaun hitam sederhana. Rambutnya disanggul rendah. Sekilas ia tampak seperti orang yang datang melayat.

Tapi jari-jarinya bertaut manis di pangkuan, dan cincin tipis di tangannya memantulkan cahaya pagi.

Kevin berdiri dekat lemari kaca, lengan terlipat di dada. Anak laki-laki yang dulu pernah ia gendong semalaman saat demam itu kini menatapnya seperti menatap pelayan yang lambat mengerti perintah.

"Duduk," kata Handoko.

Suparti tidak duduk.

Ia meletakkan lap dapur di sandaran kursi makan, lalu berjalan masuk dengan langkah pelan. Matanya melewati meja tamu, melewati cangkir teh yang belum disentuh Jenny, lalu berhenti pada sebuah kotak kayu kecil yang terbungkus kain merah di rak bawah altar keluarga.

Kotak itu masih ada.

Jantung Suparti berdenyut sekali, keras. Ia menahan diri untuk tidak langsung mengambilnya.

"Aku tidak punya banyak waktu," lanjut Handoko. "Kita bicarakan baik-baik hari ini."

Baik-baik.

Kata itu hampir membuat Suparti tertawa.

Tiga puluh empat tahun pernikahan mereka, berapa kali Handoko memakai kata baik-baik untuk memaksanya diam? Baik-baik saat uang belanja dipotong. Baik-baik saat mertuanya memaki. Baik-baik saat Jenny muncul lagi dalam hidup mereka dan semua orang berpura-pura tidak melihat.

"Mama," Kevin akhirnya bersuara, nada suaranya dibuat sabar. "Papa sudah mempertimbangkan semuanya. Jangan keras kepala."

Suparti menoleh kepadanya. "Keras kepala?"

Kevin menghela napas, seperti orang yang sudah lelah menghadapi perempuan tua yang tidak tahu diri. "Mama tahu posisi Papa. Papa tokoh kampus. Pak Rektor. Kalau rumah tangga ini terus dingin begini, orang luar juga akan bicara macam-macam."

"Orang luar?" Suparti mengulang pelan.

"Reputasi keluarga," kata Kevin. "Mama harus pikirkan itu."

Reputasi.

Selama hidupnya, keluarga Susanto selalu punya kata indah untuk menutup luka yang mereka buat. Reputasi. Bakti. Kesabaran. Pengertian. Semua terdengar mulia, sampai dipakai untuk mengikat lehernya.

Jenny mengangkat wajah sedikit. Matanya basah, tetapi air mata itu tidak jatuh.

"Bu Suparti, aku benar-benar tidak ingin membuat keadaan sulit," ucapnya lembut. "Kalau memang kehadiranku menyakiti Ibu, aku bisa pergi dulu."

Pergi dulu.

Tapi tubuhnya tidak bergerak.

Suparti memandang perempuan itu. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah percaya pada wajah seperti itu. Wajah yang tampak merasa bersalah, suara yang seolah tidak ingin merebut apa pun, tangan yang diam-diam menggenggam semua yang bukan miliknya.

Handoko menoleh kepada Jenny, lalu berkata dengan suara lebih rendah, "Kamu tidak perlu pergi. Ini memang harus diselesaikan."

Kevin ikut mengangguk. "Mama, Tante Jenny juga korban keadaan. Jangan semua disalahkan ke dia."

Suparti menatap putranya lebih lama.

Korban keadaan.

Jadi perempuan yang datang ke rumah duka delapan hari setelah neneknya meninggal adalah korban. Laki-laki yang membawa selingkuhan ke sofa keluarga adalah korban. Anak yang berdiri membela ayahnya juga korban.

Lalu ia apa?

Perempuan yang diberi uang bulanan seratus ribu rupiah selama puluhan tahun, apa namanya?

Suparti menunduk sebentar. Di atas meja, ada piring kue kering sisa tamu melayat. Dulu ia yang membeli bahan, ia yang memanggang, ia yang menata di toples supaya rumah ini tetap terlihat pantas menerima orang. Seratus ribu rupiah sebulan. Bahkan di warung kecil dekat perumahan, uang itu bisa habis untuk beberapa bungkus Indomie dan telur. Di Jakarta, satu paket makan sederhana saja bisa membuat angka itu terasa seperti lelucon.

Tapi dari angka kecil itulah Handoko membangun tembok malu di sekeliling hidupnya.

"Suparti," kata Handoko lagi. Kali ini suaranya lebih tegas. "Aku ingin bercerai."

Ruang tengah mendadak sunyi.

Di luar, suara penjual sayur lewat dengan pengeras kecil. Suaranya samar, seperti berasal dari dunia lain. Di dalam rumah, hanya ada bunyi jam dinding dan napas Jenny yang dibuat pelan.

Suparti mengangkat wajah.

Handoko tampak sudah menyiapkan kalimat panjang. Ia mengatur posisi duduk, menaruh kedua tangan di lutut, lalu mulai bicara seperti sedang membuka rapat senat kampus.

"Kita sudah sama-sama tua. Anak-anak juga sudah besar. Ibu sudah tidak ada. Aku rasa tidak ada gunanya mempertahankan hubungan yang hanya tinggal nama. Aku akan memberi kamu tempat tinggal sementara dan sejumlah uang. Secukupnya."

"Secukupnya," ulang Suparti.

Handoko mengerutkan alis. Mungkin ia baru sadar Suparti belum sekali pun memohon.

"Aku tidak akan membiarkan kamu terlantar," katanya.

Di kehidupan sebelumnya, kalimat itu juga pernah ia dengar. Setelah itu, ia tinggal di rumah kontrakan bocor, menghitung nasi sisa, dan menunggu transfer yang semakin jarang datang. Ia menunggu sampai tubuhnya habis sendiri.

Kevin maju setengah langkah. "Mama harus realistis. Papa juga berhak bahagia."

"Lalu Mama tidak berhak?" tanya Suparti.

Kevin tampak terganggu. "Bukan begitu. Tapi Mama selama ini juga hidup dari Papa. Semua orang tahu itu."

Kalimat itu jatuh lebih dingin daripada lantai.

Suparti menatap wajah anaknya. Ada bagian kecil di dadanya yang dulu pasti hancur mendengar ucapan itu. Tapi bagian itu sudah mati di lorong rumah kontrakan bersama tubuh lamanya.

Yang tersisa hanya tenang.

"Aku hidup dari Papa kamu?" tanyanya.

Kevin membuka mulut, tetapi Handoko lebih dulu mengangkat tangan.

"Jangan mulai memperbesar masalah."

"Aku hanya bertanya."

"Kamu tidak perlu merasa tersinggung," kata Handoko, mulai kehilangan sabar. "Selama ini aku tetap memberi kamu uang bulanan."

Suparti tersenyum tipis.

Jenny menunduk lebih dalam, tetapi sudut bibirnya sempat bergerak.

"Berapa?" tanya Suparti.

Handoko terdiam.

"Uang bulanan yang membuatku harus berterima kasih itu, berapa?"

Kevin menyela cepat, "Mama, ini bukan waktunya menghitung begitu."

"Justru ini waktunya."

Suara Suparti tidak tinggi. Tidak juga bergetar. Tapi Kevin berhenti bicara.

Handoko menatapnya tajam. "Aku memberi sesuai kebutuhan rumah."

"Seratus ribu rupiah."

Jenny akhirnya mengangkat kepala.

Suparti memandang Handoko tanpa berkedip. "Tiga puluh tahun lebih, kau memberiku seratus ribu rupiah sebulan dan menyebutnya kebutuhan rumah. Untuk makan. Untuk sabun. Untuk minyak. Untuk tamu keluarga Susanto yang datang tanpa henti. Untuk menjaga rumahmu tetap terlihat terhormat."

Wajah Handoko mengeras. "Jangan bicara seolah aku menelantarkanmu."

"Kalau bukan menelantarkan, namanya apa?"

"Suparti!" bentak Handoko.

Jenny segera menyentuh lengan Handoko. "Ko Handoko, jangan marah. Bu Suparti mungkin masih berduka."

Masih berduka.

Suparti menoleh padanya. "Yang meninggal ibunya Handoko. Kenapa kau yang duduk di sini seperti calon nyonya rumah?"

Wajah Jenny pucat seketika.

Kevin langsung naik suara. "Mama, jaga ucapan!"

"Aku sudah menjaga ucapan tiga puluh empat tahun, Kevin." Suparti menatap putranya. "Hasilnya apa? Hari ini kamu berdiri di sana, membela perempuan yang dibawa ayahmu ke rumah duka nenekmu sendiri."

Kevin tersentak. "Ini tidak sesederhana itu."

"Memang tidak sederhana," jawab Suparti. "Makanya aku tidak akan menyederhanakannya lagi dengan diam."

Handoko berdiri. Tubuhnya tinggi, bayangannya jatuh ke meja tamu.

"Cukup. Kalau kamu ingin uang lebih, katakan saja. Jangan mempermalukan semua orang."

Dulu, kalimat seperti itu akan membuat Suparti menunduk. Dulu ia takut disebut mata duitan. Takut dianggap perempuan tidak tahu diri. Takut anak-anaknya malu.

Sekarang ia hanya merasa lucu.

"Uang lebih?" Suparti berkata pelan. "Kau membawa Jenny ke rumah ini delapan hari setelah ibumu meninggal, meminta cerai, lalu masih merasa aku yang mempermalukanmu?"

Handoko menahan napas. Jenny menutup mulutnya dengan punggung tangan, seperti hendak menangis.

Kevin memandang Suparti dengan campuran marah dan bingung. Ia seolah tidak mengenal perempuan di depannya.

Memang tidak.

Mereka tidak pernah mengenal Suparti yang pulang dari kematian.

"Aku tidak akan berdebat sepanjang pagi," kata Handoko dingin. "Kita ke kantor catatan sipil sekarang. Aku sudah minta Kevin menyiapkan berkas awal. Setelah itu proses hukum bisa diurus."

Suparti melirik kotak kayu berbalut kain merah sekali lagi.

Ia harus membawa kotak itu pergi.

Tapi bukan dengan tangan tergesa. Lebih dulu, ia harus membuat mereka percaya bahwa ia masih perempuan tua yang bisa digeser begitu saja, supaya ketika pukulan pertama jatuh, tidak ada satu pun dari mereka sempat berlindung.

Handoko mengira diamnya adalah ketakutan.

"Bagaimana?" tanyanya. "Kamu setuju?"

Ruang tengah menunggu jawaban itu.

Jenny menahan napas. Kevin menatapnya tajam. Di meja kecil, asap dupa terakhir meliuk tipis di depan foto mendiang ibu Handoko, seperti saksi yang juga enggan bersuara.

Suparti mengusap telapak tangannya ke sisi kain rumah yang ia kenakan. Gerakan kecil itu menghapus sisa gemetar yang tadi sempat muncul ketika ia pertama kali sadar dirinya hidup lagi.

Lalu ia menatap Handoko.

"Setuju."

Satu kata itu jatuh begitu ringan, sampai seisi ruangan tidak langsung mengerti.

Kevin berkedip. "Mama bilang apa?"

Suparti mengulang, lebih jelas, "Aku setuju bercerai."

Jenny membeku. Tangan yang tadi menempel di lengan Handoko turun perlahan.

Handoko justru tidak tampak lega. Wajahnya berubah kaku, seolah jawaban yang ia tunggu seharusnya berupa tangisan, permohonan, atau setidaknya pertengkaran panjang yang bisa membuatnya merasa menang.

Suparti tersenyum tipis.

"Kalau begitu kita pergi sekarang," katanya. "Dan kali ini, Handoko, pastikan semua berkasmu ikut."

Warna di wajah Handoko berubah dalam sekejap.

Episode 2

Warna di wajah Handoko berubah dalam sekejap, tetapi Suparti tidak memberinya kesempatan untuk bertanya lagi.

Pagi itu juga, sebelum aroma dupa di ruang tengah benar-benar hilang, ia masuk ke kamar dan membuka lemari paling bawah. Tangannya bergerak tenang, jauh lebih tenang daripada napas orang-orang di belakangnya. Ia mengambil map berisi KTP, akta perkawinan, kartu keluarga, beberapa fotokopi lama, lalu kotak kayu kecil yang terbungkus kain merah.

Jenny berdiri di depan pintu kamar seperti bayangan yang tidak diundang. "Bu Suparti, kalau Ibu belum siap, tidak perlu memaksakan diri."

Suparti mengikat kain merah itu lebih rapat. "Aku sudah siap tiga puluh empat tahun."

Jenny kehilangan kata.

Handoko menunggu di ruang tengah dengan wajah yang sudah kembali disusun rapi. Kevin sibuk menelepon seseorang, mengurus mobil, mengurus dokumen, mengurus segala hal kecuali perasaan ibunya sendiri.

"Mama yakin mau ikut sekarang?" tanya Kevin. "Jangan nanti sampai di sana bikin masalah."

Suparti memasukkan kotak kayu ke dalam tas kain lusuhnya. "Yang membuat masalah sejak pagi bukan aku."

Kevin hendak membalas, tetapi Handoko memotong dengan suara rendah, "Sudah. Kita berangkat."

Di dalam mobil, Jenny duduk di kursi depan. Suparti duduk sendirian di belakang, memandang jalan Surabaya yang mulai ramai. Motor ojek online melintas di sela mobil. Penjual bubur mendorong gerobak. Seorang ibu menuntun anak berseragam sekolah, tangan kecil anak itu menggenggam plastik berisi roti murah.

Hidup orang lain berjalan seperti biasa.

Hidupnya baru saja berbelok tajam.

Handoko tidak menyalakan radio. Jenny beberapa kali menoleh lewat kaca kecil, seolah ingin memastikan Suparti masih ada dan masih bisa dikasihani. Suparti pura-pura tidak melihat. Di pangkuannya, tas kain berisi kotak kayu terasa berat.

Kantor Catatan Sipil pagi itu penuh orang.

Ada pasangan muda yang hendak mengurus akta perkawinan. Ada ibu yang membawa bayi untuk mencatat kelahiran. Ada lelaki tua dengan map plastik biru. Kursi tunggu hampir penuh, kipas angin di sudut ruangan berputar pelan, tidak cukup mengusir panas dan bau kertas lama.

Begitu Handoko masuk, beberapa orang menoleh.

Wajahnya dikenal di Surabaya. Prof. Dr. Handoko Susanto, rektor UCR, sering muncul di acara kampus, seminar pendidikan, dan berita lokal. Ia terbiasa disapa dengan hormat. Hari itu pun seorang pegawai langsung berdiri sedikit.

"Pak Rektor?"

Handoko mengangguk pendek. "Kami mau konsultasi administrasi perkawinan."

Konsultasi.

Suparti hampir tersenyum lagi.

Jenny merapikan ujung gaunnya. Ia berdiri tidak terlalu dekat dengan Handoko, tetapi cukup dekat untuk membuat beberapa mata menilai. Seorang perempuan muda di kursi tunggu melirik Suparti, lalu melirik Jenny. Bisik-bisik kecil mulai bergerak.

Petugas perempuan di loket mengamati mereka dengan hati-hati. "Untuk perceraian, Bapak dan Ibu nanti tetap perlu proses di pengadilan. Kantor Catatan Sipil hanya mencatat perubahan status setelah ada putusan yang berkekuatan hukum."

"Kami mengerti," jawab Handoko cepat. "Hari ini hanya ingin memastikan dokumen."

Suparti menaruh mapnya di meja loket. Bunyi map plastik menyentuh meja terdengar jelas.

"Bu?" Petugas itu memandangnya.

"Saya yang akan menggugat cerai," kata Suparti.

Handoko menoleh tajam. "Suparti."

Jenny ikut terkejut, tetapi cepat menunduk.

Beberapa orang di kursi tunggu berhenti bicara.

Petugas itu tampak canggung. "Kalau Ibu yang mengajukan, nanti istilahnya cerai gugat. Untuk pasangan non-Muslim, prosesnya ke Pengadilan Negeri. Ibu bisa konsultasi dengan pengacara."

"Saya akan lakukan itu," jawab Suparti.

Handoko menahan rahang. "Kita belum sampai ke sana. Jangan membuat pernyataan sembarangan di tempat umum."

Suparti menoleh kepadanya. "Kau yang membawaku ke tempat umum bersama Jenny."

Ruangan hening setengah detik.

Jenny segera berkata pelan, "Bu Suparti, jangan salah paham. Aku hanya menemani Ko Handoko karena beliau meminta."

Kata Ko Handoko jatuh di ruangan seperti jarum kecil yang menusuk telinga semua orang.

Seorang ibu yang menggendong bayi langsung mengangkat alis. Lelaki tua dengan map biru menatap lebih lama. Perempuan muda di kursi tunggu perlahan membuka kamera ponselnya, pura-pura melihat layar.

Handoko berbisik tajam, "Jenny."

Suparti menatap Jenny. "Menemani suami orang delapan hari setelah ibunya meninggal?"

Jenny menggigit bibir. "Aku tidak berniat menghancurkan rumah tangga siapa pun."

"Tidak berniat?" Suparti melangkah satu langkah mendekat. "Kalau tidak berniat, kenapa duduk di kursi depan mobil suamiku? Kenapa ikut ke kantor catatan sipil? Kenapa memanggilnya Ko Handoko di depan istrinya?"

Wajah Jenny memerah.

Handoko mengulurkan tangan hendak menarik Suparti menjauh. "Cukup. Jangan mempermalukan diri sendiri."

Telapak tangan Suparti bergerak lebih dulu.

Plak!

Suara tamparan itu membelah ruangan.

Kepala Handoko tersentak ke samping. Kacamata tipisnya nyaris terlepas. Semua orang membeku. Bahkan kipas angin tua di sudut ruangan terasa mendadak lebih keras.

Suparti menatapnya tanpa berkedip. Telapak tangannya panas, tetapi dadanya justru terasa lapang.

"Itu untuk tiga puluh empat tahun kau menyuruhku diam."

Handoko memegang pipinya, mata membesar. "Kau gila?"

Jenny refleks maju. "Ko Handoko!"

Suparti berbalik.

Plak!

Tamparan kedua mendarat di pipi Jenny.

Jenny terhuyung mundur, tangannya menutup pipi. Air matanya kali ini benar-benar keluar, entah karena sakit atau karena semua mata sedang menonton.

"Dan itu untuk perempuan yang berani datang ke rumah duka sebagai calon nyonya rumah."

"Bu Suparti!" Petugas loket berdiri panik.

Handoko menurunkan suara, tetapi kemarahannya membuat wajahnya gelap. "Kau akan menyesal."

"Aku sudah menyesal sekali," kata Suparti. "Menyesal karena dulu menikah denganmu."

Bisik-bisik berubah menjadi dengung.

Seseorang di belakang berkata pelan, "Itu Pak Rektor UCR, kan?"

"Iya, yang sering masuk berita."

"Perempuan itu siapa?"

"Sepertinya selingkuhannya."

Jenny menangis lebih keras. "Aku bukan selingkuhan. Kami punya masa lalu."

Suparti tertawa pendek. "Masa lalu tidak memberi hak untuk mencuri masa kini orang lain."

Handoko menunjuknya. "Jaga mulutmu."

"Kenapa? Takut orang mendengar?"

Suparti mengambil satu langkah ke tengah ruang tunggu, cukup dekat dengan pasangan muda yang dari tadi menahan napas. Ia mengangkat suaranya, bukan berteriak membabi buta, melainkan bicara jelas supaya setiap orang mendengar.

"Tiga puluh tahun lebih aku menjadi istri Prof. Dr. Handoko Susanto. Kalian tahu berapa uang bulanan yang ia berikan untuk kebutuhan rumah?"

Handoko bergerak maju. "Suparti, berhenti!"

"Seratus ribu rupiah."

Ruangan meledak dalam bisik tertahan.

Perempuan muda yang memegang ponsel langsung menatap layar, memastikan rekamannya berjalan. Seorang pria di belakang menggumam, "Seratus ribu? Buat parkir sama makan saja habis."

Suparti melanjutkan, "Seratus ribu rupiah untuk satu bulan. Untuk makan, sabun, minyak, tamu keluarga, semua. Di warung dekat rumah, uang itu hanya cukup untuk beberapa bungkus Indomie telur. Di kota besar, bahkan makan sederhana sekali saja bisa lebih mahal dari itu. Tapi pria ini menyuruhku bersyukur."

Wajah Handoko pucat karena marah.

"Kau memelintir fakta," katanya.

"Kalau begitu sebutkan faktanya." Suparti menantangnya. "Berapa uang yang kau berikan setiap bulan?"

Handoko diam.

Diamnya lebih keras daripada bantahan.

Jenny terisak, "Bu Suparti, masalah rumah tangga tidak perlu dibuka begini."

"Rumah tanggaku sudah kau masuki. Sekarang kau baru ingat malu?"

Beberapa orang tidak lagi pura-pura. Ponsel diangkat terang-terangan. Ada yang merekam, ada yang mengetik cepat. Petugas loket gelisah, tetapi tidak tahu harus menghentikan bagian mana lebih dulu.

Suparti kembali menatap Handoko. "Kau ingin cerai. Baik. Aku setuju. Tapi jangan kira aku akan keluar dari rumah itu seperti pembantu yang diusir setelah tua."

"Apa maumu?" tanya Handoko, suaranya rendah.

"Uang tunai satu juta rupiah sekarang. Untuk hotel malam ini."

Handoko tertawa sinis. "Kau baru saja bilang aku menelantarkanmu, sekarang langsung minta uang."

"Aku meminta biaya keluar dari rumahmu dengan layak. Murah sekali dibanding tiga puluh empat tahun hidupku."

Kevin yang sejak tadi menunggu di luar akhirnya masuk tergesa. Mungkin ia mendengar suara ribut dari pintu. "Ada apa ini?"

Ia melihat pipi Handoko memerah, Jenny menangis, dan beberapa ponsel mengarah ke mereka. Wajah Kevin langsung berubah.

"Mama, apa yang Mama lakukan?"

"Membuat semua orang melihat keluarga Susanto tanpa topeng."

"Mama mempermalukan Papa!"

Suparti menoleh kepadanya. "Papa kamu mempermalukan dirinya sendiri sejak membawa Jenny ke sini."

Kevin hendak merebut ponsel salah satu orang, tetapi petugas keamanan mendekat. "Pak, jangan ganggu pengunjung lain."

Kevin terpaksa mundur, napasnya kasar.

Handoko mengeluarkan dompet dengan gerakan kaku. Ia mengambil beberapa lembar uang, lalu menaruhnya di meja loket, bukan menyerahkan langsung.

"Ambil. Setelah ini jangan membuat keributan lagi."

Suparti menghitungnya di depan semua orang.

"Satu juta," katanya. "Untuk pertama kalinya, kau memberi uang sesuai yang diminta."

Handoko tampak ingin menamparnya balik. Tapi terlalu banyak kamera.

Suparti memasukkan uang itu ke tas. Lalu ia mengangkat tas kainnya sedikit. "Dokumenku ikut denganku. Kotak ini juga."

Mata Jenny menyipit singkat saat melihat kain merah itu. Gerakan kecil, tetapi Suparti menangkapnya.

Jadi Jenny tahu kotak ini penting.

Bagus.

Suparti memeluk tas kainnya lebih erat.

Petugas loket akhirnya berkata dengan suara hati-hati, "Bu, kalau Ibu membutuhkan informasi pengacara atau alur Pengadilan Negeri, kami bisa beri daftar layanan bantuan hukum."

"Terima kasih," jawab Suparti. "Saya akan mengurusnya hari ini."

Ia berbalik pergi.

Di belakangnya, Handoko memanggil dengan suara tertahan, "Suparti."

Suparti berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Jangan pikir kau bisa menang hanya karena membuat tontonan."

Suparti menoleh sedikit. "Aku tidak sedang membuat tontonan. Aku sedang berhenti menjadi tontonan kalian."

Lalu ia berjalan keluar.

Panas Surabaya menyambutnya di halaman kantor. Udara membuat kulitnya perih, tetapi untuk pertama kalinya setelah kembali hidup, ia merasa bisa bernapas penuh.

Di tangga belakang, perempuan muda yang tadi duduk di ruang tunggu berbisik kepada temannya sambil melihat layar ponsel.

"Upload saja. Kasih caption apa?"

Temannya menjawab cepat, "Istri rektor cuma dikasih seratus ribu sebulan. Gila."

Jari perempuan itu bergerak. Ikon TikTok terbuka.

Di layar kecil itu, wajah Suparti yang baru saja menampar Handoko mulai berulang dari awal.

Episode 3

Video itu sudah menyebar sebelum Suparti menemukan hotel murah.

Ia baru duduk di kursi plastik sebuah warung depan gang, memesan teh tawar hangat untuk menenangkan tenggorokan, ketika dua anak muda di meja sebelah tertawa tertahan sambil menonton ponsel.

"Ini yang tampar rektor itu?"

"Iya. Lihat caption-nya. Istri tiga puluh tahun cuma dikasih seratus ribu sebulan."

Suparti tidak menoleh.

Sendok kecil beradu dengan gelasnya. Bunyi itu pelan, tetapi cukup membuatnya sadar bahwa tangannya masih hidup, masih bisa memegang, masih bisa memilih. Dalam kehidupan sebelumnya, ia menunggu belas kasihan sampai tubuhnya habis. Hari ini, orang-orang yang tidak mengenalnya justru menjadi saksi.

Ia menyesap teh. Pahit, terlalu encer, tetapi hangat.

Ponselnya bergetar berkali-kali.

Kevin. Handoko. Nomor rumah. Kevin lagi.

Suparti mematikan suara.

Ia membuka map plastik dari tas kain. KTP, akta perkawinan, kartu keluarga, beberapa salinan dokumen lama. Kotak kayu berbalut kain merah tetap ia simpan di pangkuan, tertutup rapat. Belum waktunya dibuka. Ada urusan yang lebih mendesak.

Di lembar daftar bantuan hukum dari petugas Catatan Sipil, satu nama diberi lingkaran kecil dengan pulpen biru.

Cynthia Kho, S.H.

Kantor pengacara itu tidak besar. Letaknya di lantai dua ruko dekat jalan utama, di atas toko alat tulis dan fotokopi. Tangga sempitnya berbau kertas panas dan tinta. Suparti menaiki anak tangga satu per satu, lututnya agak kaku, tetapi ia tidak berhenti.

Resepsionis muda di depan meja memandangnya cepat dari ujung kepala sampai sandal yang sudah menipis.

"Ada janji, Bu?"

"Belum. Saya ingin konsultasi cerai gugat."

Kata itu terasa asing di lidah Suparti. Cerai gugat. Bukan diusir. Bukan dibuang. Ia yang menggugat.

Resepsionis itu sedikit lebih sopan setelah mendengar istilah hukum. "Sebentar, Bu. Bu Cynthia sedang selesai telepon."

Lima menit kemudian, pintu kaca buram terbuka.

Perempuan berusia sekitar empat puluhan berdiri di sana dengan blazer abu-abu gelap. Rambutnya dipotong sebahu, wajahnya bersih tanpa senyum berlebihan. Matanya tajam, tetapi tidak menghakimi.

"Bu Suparti Wijaya?"

Suparti berdiri. "Iya."

"Saya Cynthia Kho." Perempuan itu mengulurkan tangan. "Silakan masuk."

Ruangannya sederhana. Ada rak berisi map perkara, meja kerja penuh sticky note, dan satu gelas kopi hitam yang tinggal setengah. Di dinding, ijazah hukum dan izin advokat tergantung rapi.

Cynthia menutup pintu, lalu duduk di seberang Suparti. "Saya sudah lihat videonya."

Suparti memegang tali tasnya lebih kuat.

Cynthia tidak tertawa. Tidak bertanya kenapa ia menampar. Tidak berkata perempuan baik-baik seharusnya sabar.

Ia hanya mengambil buku catatan. "Saya perlu dengar versi Ibu dari awal."

Kalimat sesederhana itu membuat tenggorokan Suparti panas.

Tapi ia tidak menangis.

Ia bercerita. Tentang Handoko membawa Jenny ke rumah duka. Tentang Kevin yang membela ayahnya. Tentang uang bulanan seratus ribu rupiah. Tentang keinginannya bercerai, bukan lagi memohon supaya dipertahankan.

Cynthia mencatat cepat. Sesekali ia bertanya, "Ada bukti transfer?" atau "Rumah atas nama siapa?" atau "Aset yang Ibu tahu apa saja?"

Suparti membuka beberapa salinan dokumen. "Aku tidak tahu semua. Selama ini Handoko tidak pernah melibatkanku."

"Itu biasa dalam perkawinan yang timpang kuasa," kata Cynthia tenang. "Bukan berarti Ibu tidak punya hak."

Suparti mengangkat wajah.

Cynthia menyusun kertas di meja. "Untuk pasangan non-Muslim seperti Ibu dan Pak Handoko, perceraian diproses lewat Pengadilan Negeri. Karena Ibu yang mengajukan, kita pakai cerai gugat. Tidak ada istilah langsung selesai di Catatan Sipil hari ini. Setelah ada putusan berkekuatan hukum, baru perubahan status dicatat."

"Berapa lama?"

"Tergantung perkara dan perlawanan pihak sana. Tapi kita tidak menunggu pasif." Cynthia mengetuk satu dokumen dengan ujung pulpen. "Yang penting sekarang harta bersama."

Kata itu membuat Suparti menahan napas.

"Selama perkawinan, aset yang diperoleh bisa masuk kategori harta bersama," lanjut Cynthia. "Kalau ada indikasi Pak Handoko akan mengalihkan, menjual, atau menyembunyikan aset, kita ajukan permohonan sita marital atau tindakan pengamanan lewat pengadilan. Dalam praktik, kalau bukti awal cukup dan urgensinya jelas, penetapan awal bisa keluar beberapa hari kerja. Tidak selalu instan, tapi kita bisa bergerak cepat."

Suparti mengingat wajah Handoko di Kantor Catatan Sipil. Marah, malu, tetapi juga menghitung.

Pria itu pasti tidak akan diam.

"Dia punya banyak rumah," kata Suparti pelan. "Aku tidak tahu jumlahnya. Tapi aku pernah dengar Jenny menyebut beberapa alamat. Dan Handoko selalu bilang semua bukan urusanku."

Cynthia mencondongkan badan. "Kalau begitu kita buat daftar. Apa pun yang Ibu ingat, tulis. Nama bank, alamat, nomor sertifikat kalau ada, kendaraan, deposito, yayasan kampus, semua."

Suparti mengambil pulpen.

Tangannya sempat gemetar saat menulis alamat pertama. Bukan karena takut, melainkan karena untuk pertama kalinya ia menuliskan harta keluarga Susanto sebagai sesuatu yang juga bisa ia pertanyakan.

Cynthia memberi waktu.

Di luar ruangan, suara mesin fotokopi dari lantai bawah berdengung. Satu demi satu alamat muncul. Rumah utama. Ruko yang dulu disebut investasi kampus. Apartemen yang pernah secara tidak sengaja dibicarakan Kevin. Tanah di pinggiran Surabaya. Nama bank yang pernah ia lihat di amplop.

"Cukup untuk langkah awal," kata Cynthia setelah hampir satu jam. "Saya akan siapkan surat kuasa dan permohonan. Ibu perlu tanda tangan."

"Biayanya?"

Cynthia menyebut angka yang membuat Suparti terdiam. Tidak terlalu tinggi untuk ukuran perkara besar, tetapi tetap besar untuk perempuan yang baru meminta satu juta rupiah demi tidur di hotel.

Cynthia menangkap perubahan wajahnya. "Kita bisa atur bertahap. Tapi saya perlu jujur, perkara melawan orang seperti Pak Handoko tidak ringan."

Suparti mengeluarkan uang satu juta dari tasnya. Lembaran itu masih kaku karena tadi dilempar dari dompet Handoko ke meja loket.

"Ini uang pertama dari dia setelah tiga puluh tahun," kata Suparti. "Pakai untuk membuka perkara."

Cynthia memandang uang itu beberapa detik. Lalu ia mengangguk. "Baik. Kita pakai sebagai tanda jadi. Sisanya nanti dibicarakan."

Suparti menandatangani surat kuasa.

Namanya tertulis jelas di bawah tinta hitam: Suparti Wijaya.

Ia menatap tanda tangan itu lama.

Nama yang dulu terasa hanya menempel pada dapur, cucian, dan kesabaran, kini berdiri di atas dokumen hukum.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini bukan Handoko.

Nomor tidak dikenal.

Suparti mengangkat, meletakkannya di telinga. "Halo?"

"Selamat sore, apakah benar dengan Ibu Suparti Wijaya?" Suara perempuan terdengar dari seberang, formal dan datar.

"Iya."

"Kami dari bagian administrasi Rumah Sakit Bhakti Sehat Surabaya. Hasil pemeriksaan atas nama keluarga Susanto sudah bisa diambil. Mohon Ibu atau pihak keluarga datang secepatnya untuk mengambil laporan dokter."

Suparti mematung.

Hasil pemeriksaan.

Ia hampir lupa. Di kehidupan sebelumnya, tubuhnya sendiri baru diperiksa ketika semua sudah terlambat. Perut yang sering nyeri ia anggap masuk angin, muntah darah ia sembunyikan, sampai kanker memakan sisa tenaganya.

"Bu?" suara petugas memanggil.

Suparti mengerjap. "Saya bisa datang malam ini?"

"Bisa, Bu. Loket pengambilan hasil buka sampai pukul delapan."

"Baik. Terima kasih."

Panggilan terputus.

Cynthia memperhatikan wajahnya. "Ada masalah?"

Suparti menurunkan ponsel. "Rumah sakit meminta hasil pemeriksaan diambil."

"Pemeriksaan siapa?"

Suparti menatap layar ponsel yang mulai gelap.

Di sana, satu SMS masuk menyusul panggilan tadi.

Mohon segera mengambil hasil pemeriksaan dokter di RS Bhakti Sehat Surabaya.

Suparti menggenggam ponselnya.

"Atas nama keluarga Susanto," jawabnya pelan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!