Indonesia
NovelToon NovelToon

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Episode 1

Bab 1: Burung Kenari

Air hangat jatuh di bahu Keira Salim seperti hujan yang terlalu lembut untuk dunia yang keras.

Di balik uap tipis kamar mandi kecil di ruang istirahat HEALER, aroma sabun tanpa pewangi bercampur sisa teh putih dari kulitnya. Keira menutup mata. Selama beberapa detik, ia membiarkan air menuruni leher, tulang selangka, lalu berhenti di bekas merah samar di ujung matanya yang basah.

Getar ponsel memecah semuanya.

Keira membuka mata. Pantulan wajahnya di cermin buram terlihat tenang, terlalu tenang untuk perempuan yang baru menyelesaikan lembur dua hari. Tahi lalat merah di ujung matanya tampak seperti luka kecil yang sengaja dibiarkan hidup.

Pesan dari Tari muncul di layar.

Ci Keira, Pak Rayhan ada di Velvet. Steven bilang suasananya kurang enak. Ci diminta jemput.

Keira mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu mengetik satu kata.

Oke.

Tidak ada pertanyaan. Tidak ada keluhan.

Sepuluh menit kemudian, ia keluar dari gedung HEALER di Kuningan dengan blazer hitam di atas gaun satin warna sampanye. Jakarta malam itu lembap. Lampu gedung memantul di kaca mobil, seperti ribuan mata yang tidak pernah benar-benar tidur.

Sopir kantor menahan pintu mobil untuknya. “Bu Keira, langsung ke SCBD?”

“Velvet Lounge,” jawab Keira.

Suaranya pelan, tetapi cukup untuk membuat sopir tidak bertanya lagi.

Velvet Lounge tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan sebelum pintu lift terbuka di lantai privat, Keira sudah mencium campuran alkohol mahal, asap cerutu, parfum kulit, dan arogansi yang terlalu lama dipelihara uang keluarga.

Di depan ruang VIP, dua penjaga langsung menunduk.

“Bu Keira.”

Keira melewati mereka tanpa berhenti. Dari dalam terdengar tawa laki-laki, denting gelas, musik rendah, dan suara Steven yang samar seperti sedang mencoba menenangkan seseorang.

Begitu pintu terbuka, belasan pasang mata menoleh.

Ruang itu penuh anak konglomerat muda Jakarta. Ada yang duduk di sofa beludru, ada yang berdiri dekat meja biliar, ada yang pura-pura sibuk dengan gelas hanya supaya punya alasan untuk menatapnya lebih lama. Di ujung ruangan, tirai hitam setengah tertutup memisahkan area dalam. Keira tahu Rayhan ada di sana, dari aroma cerutu Kuba dan wangi kulit yang selalu menempel padanya.

Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, seorang laki-laki berambut pirang menghadang.

Putra keluarga Hsu itu tersenyum miring. Matanya turun dari wajah Keira ke gaunnya, lalu naik lagi dengan cara yang membuat beberapa perempuan di sofa tertawa kecil.

“Ini dia burung kenari Bos Besar,” katanya. “Malam-malam masih disuruh jemput. Rajin juga, ya.”

Keira berhenti.

Ruangan mendadak lebih hening.

Si pirang mengangkat gelas red wine-nya. “Gue kira simpanan Hartono bakal lebih mahal tampilannya. Ternyata ya begini saja.”

Seseorang tertawa. Seseorang lain berbisik, “Pelan-pelan, Ray ada di dalam.”

Namun si pirang seperti sedang mabuk keberanian.

“Kenapa diam?” Ia mendekat setengah langkah. “Atau burung kenari memang cuma bisa bernyanyi kalau sangkarnya digoyang?”

Keira menatapnya.

Tidak ada merah di wajahnya. Tidak ada gemetar di jarinya. Hanya matanya yang perlahan menjadi dingin, seperti kaca parfum yang baru keluar dari lemari es.

“Kamu sudah selesai?” tanyanya.

Si pirang tertawa pendek. “Belum. Aku masih penasaran, Rayhan bayar kamu berapa per bulan sampai kamu mau jadi simpanan murahan seperti ini?”

Tamparan itu jatuh sebelum tawa berikutnya lahir.

Plak!

Kepala si pirang terlempar ke samping. Gelas di tangannya miring, red wine tumpah ke karpet. Beberapa orang spontan berdiri.

Keira mengambil gelas itu dari tangannya, lalu menyiramkan sisa wine ke wajahnya.

Cairan merah mengalir dari rambut pirangnya ke dagu, menetes ke kemeja putih mahal yang seketika terlihat seperti kain kotor.

“Sekarang selesai,” kata Keira.

Si pirang terdiam dua detik, lalu wajahnya berubah gelap. “Perempuan nekat!”

Tangannya terangkat.

Namun sebelum tangan itu menyentuh Keira, tirai hitam di ujung ruangan tersibak.

Suara korek api terdengar pelan.

Cekrek.

Api kecil menyala di antara jari panjang Rayhan Hartono. Korek api emas berukir itu memantulkan cahaya, tajam seperti kilatan pisau.

Semua orang langsung menahan napas.

Rayhan berjalan keluar dengan cerutu di antara bibir. Kemeja hitamnya terbuka dua kancing, rambutnya sedikit berantakan, tetapi aura yang ia bawa membuat ruangan seperti turun beberapa derajat.

Matanya tidak langsung melihat si pirang. Ia melihat Keira dulu.

“Kena?” tanyanya.

Keira menggeleng. “Belum.”

Satu kata itu cukup.

Rayhan tersenyum, tetapi tidak ada hangat di senyum itu. “Bagus.”

Si pirang mundur setengah langkah. “Ray, tadi cuma bercanda.”

“Ulangi,” kata Rayhan.

“Apa?”

Rayhan berhenti tepat di depannya. Tingginya membuat si pirang terlihat seperti anak kecil yang salah masuk ruangan orang dewasa.

“Kata-katamu tadi.” Suara Rayhan rendah. “Ulangi di depan aku.”

Si pirang menelan ludah. “Gue cuma bilang...”

“Burung kenari?” Rayhan membantu dengan nada lembut yang justru lebih menyeramkan. “Simpanan murahan?”

Tidak ada yang berani bergerak.

Steven berdiri dari sofa. “Ray, dia mabuk. Biar anak buah bawa keluar saja.”

Rayhan tidak menoleh. “Duduk, Steve.”

Steven mengangkat kedua tangan, lalu duduk lagi. Wajahnya mengatakan bahwa ia sudah mencoba.

Rayhan mengangkat cerutu dari bibirnya. Ujungnya menyala merah.

Si pirang langsung pucat. “Ray, jangan nekat.”

“Nekat?” Rayhan memiringkan kepala. “Tadi kamu berani menyentuh perempuan saya.”

“Belum kena!”

“Karena aku keluar.”

Kalimat itu jatuh dingin.

Dua pengawal Rayhan masuk tanpa perlu dipanggil. Mereka menahan bahu si pirang dari belakang. Si pirang mulai meronta, tetapi tidak ada satu pun orang di ruangan yang berani membantu.

Keira berdiri di tempat yang sama. Matanya mengikuti gerakan Rayhan, tetapi wajahnya tetap tidak berubah.

Rayhan menekan ujung cerutu yang menyala ke bibir si pirang.

Jeritannya pecah.

Bau tembakau terbakar bercampur kulit hangus tipis memenuhi udara. Beberapa perempuan menutup mulut. Seseorang menjatuhkan gelas. Musik masih mengalun rendah, terlalu mewah untuk adegan sebrutal itu.

Rayhan menarik cerutu itu setelah satu detik yang terasa panjang.

“Mulut ini dipakai untuk menghina Keira,” katanya. “Jadi mulut ini yang belajar sopan.”

Si pirang terisak, bibirnya gemetar, matanya basah oleh rasa sakit dan malu.

Rayhan mengibaskan tangan. “Bawa keluar. Kirim tagihan medisnya ke keluarga Hsu. Sekalian bilang, kalau mereka keberatan, datang ke Hartono Group besok pagi.”

Pengawal menyeret si pirang keluar. Pintu tertutup. Ruangan masih kaku, seolah semua orang baru saja melihat hukum tidak tertulis tentang Rayhan berubah menjadi darah dan asap di depan mata mereka.

Rayhan akhirnya menoleh ke Keira.

Nada suaranya berubah. Tidak lagi tajam. Tidak lagi membawa ancaman.

“Capek?” tanyanya.

Keira menatapnya sebentar. “Aku baru lembur dua hari.”

“Berarti capek.”

“Aku bisa jalan sendiri.”

Rayhan sudah melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Keira. “Aku tidak tanya itu.”

Sebelum Keira sempat menolak, Rayhan membungkuk dan mengangkatnya dalam gendongan. Satu tangannya menopang punggung Keira, satu lagi di bawah lututnya.

Ruang VIP itu kembali menahan napas.

Keira memegang bahu Rayhan agar tidak jatuh. “Rayhan.”

“Hm?”

“Semua orang melihat.”

Rayhan melirik ruangan, dingin dan malas. “Bagus. Biar mereka tahu.”

Tidak ada yang berani tertawa.

Steven memijat pelipis sambil bergumam, “Selamat tinggal reputasi malam ini.”

Rayhan berjalan keluar membawa Keira seolah seluruh Velvet Lounge memang dibangun hanya untuk menjadi lorong bagi perempuan di pelukannya. Penjaga menunduk lebih dalam. Lift privat terbuka bahkan sebelum mereka sampai.

Di dalam lift, pantulan mereka terlihat di dinding baja mengilap. Keira di dalam jas hitam Rayhan, gaun satin yang sedikit kusut, wajah tenang, tahi lalat merah di ujung mata seperti api kecil yang tidak padam.

Rayhan menatap pantulan itu terlalu lama.

“Kalau lain kali ada yang bicara begitu lagi, telepon aku,” katanya.

“Aku bisa menampar sendiri.”

“Aku tahu.” Sudut bibir Rayhan naik tipis. “Itu masalahnya. Aku jadi tidak punya alasan untuk muncul.”

Keira meliriknya. “Kamu butuh alasan untuk muncul?”

“Untuk orang lain, iya.” Rayhan menunduk sedikit, napasnya menyentuh rambut Keira. “Untuk kamu, tidak.”

Pintu lift terbuka ke basement. Aston Martin hitam Rayhan sudah menunggu dengan mesin menyala. Sopir hendak turun, tetapi Rayhan memberi isyarat kecil. Pria itu langsung mundur dan membuka pintu belakang.

Rayhan meletakkan Keira di kursi belakang dengan hati-hati. Perbedaan cara tangannya menyentuh si pirang dan menyentuh Keira terlalu jauh sampai terasa tidak masuk akal. Kepada dunia, ia pisau. Kepada Keira, ia belajar menjadi sarungnya.

Begitu pintu tertutup, suara luar hilang.

Hanya ada napas mereka, aroma kulit jok mahal, sisa cerutu dari tubuh Rayhan, dan teh putih dari kulit Keira.

Rayhan duduk di sampingnya. “Tunjukkan tanganmu.”

“Tidak kena.”

“Kei.”

Keira diam sebentar, lalu menyerahkan tangannya.

Rayhan memeriksa telapak dan pergelangannya satu per satu. Ketika menemukan sedikit kemerahan di buku jarinya, alisnya langsung turun.

“Ini apa?”

“Akibat menampar orang.”

“Keras sekali?”

“Wajahnya cukup tebal.”

Rayhan tertawa rendah. Suara itu membuat ruang mobil yang sempit terasa berubah. Ia mengambil sapu tangan dari saku, membungkus buku jari Keira, lalu mencium pelan di atas kain.

“Lain kali pakai tanganku,” katanya.

Keira menarik tangannya, tetapi Rayhan menahannya.

“Ray.”

“Hm?”

“Kamu baru saja membakar mulut orang di depan banyak saksi.”

“Dia menghina kamu di depan banyak saksi.”

“Itu bukan jawaban.”

Rayhan menatapnya. Dalam cahaya redup basement, wajahnya tampak lebih muda dari reputasinya, tetapi matanya tetap milik pria yang terbiasa membuat orang tunduk.

“Untukku, itu jawaban.”

Keira tidak membalas.

Rayhan mengangkat tangan, ibu jarinya menyentuh tahi lalat merah di ujung mata Keira. Sentuhannya ringan, hampir takut merusak sesuatu.

“Mereka boleh menyebutmu apa pun,” katanya pelan. “Tapi di depanku, mereka harus ingat satu hal. Burung kenari ini milikku.”

Keira menatapnya lurus. “Aku bukan barang.”

“Aku tahu.”

“Kamu sering terdengar seperti tidak tahu.”

Rayhan tersenyum. Kali ini ada sesuatu yang lembut sekaligus berbahaya di sana. “Kalau kamu barang, aku sudah simpan di rumah dan tidak kubiarkan keluar dari pintu.”

“Itu seharusnya bukan kalimat romantis.”

“Aku sedang belajar.”

Keira hampir tersenyum, tetapi menahannya. Rayhan melihat gerakan kecil di bibirnya dan seperti menemukan seluruh hadiah malam itu.

Ia mendekat.

Keira tidak mundur.

Ciuman Rayhan jatuh di sudut matanya dulu, tepat di dekat tahi lalat merah itu, lalu turun ke pipi. Tidak terburu-buru. Tidak seperti pria yang baru saja membuat satu ruangan gemetar. Di dekat Keira, kekerasannya seperti dipaksa berlutut.

“Tidur,” katanya setelah menarik sabuk pengaman untuk Keira. “Aku antar pulang.”

“Kamu juga pulang?”

“Menurutmu aku mau ke mana?”

“Velvet masih penuh temanmu.”

“Temanku tidak punya tahi lalat merah di ujung mata.”

Keira akhirnya memejamkan mata. Mungkin karena lelah. Mungkin karena tubuhnya sudah terlalu hafal pada rasa aman palsu yang Rayhan tawarkan, hangat, mahal, dan berkunci dari luar.

Aston Martin melaju keluar dari basement, membelah malam Jakarta yang basah.

Di sampingnya, Rayhan masih menggenggam tangan Keira seolah satu detik tanpa menyentuhnya bisa membuat perempuan itu menghilang.

Ia tidak tahu, di balik wajah tenang Keira, ada ruang gelap yang bahkan uang Hartono Group tidak bisa beli kuncinya.

Dan Keira sendiri tidak pernah memberi tahu siapa pun bahwa badai di dalam dirinya punya nama.

Gangguan bipolar.

Episode 2

Bab 2: Pertemuan Pertama

Enam bulan sebelum Rayhan Hartono mengenal badai itu sebagai gangguan bipolar, ia pertama kali melihat Keira Salim di tempat yang sama, Velvet Lounge.

Malam itu, Keira tidak memakai gaun mahal. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam, rambutnya diikat rendah, wajahnya terlalu bersih untuk ruangan yang penuh alkohol dan niat buruk. Di antara lampu merah redup dan asap cerutu, tahi lalat merah di ujung matanya terlihat seperti tanda kecil yang sengaja ditinggalkan takdir.

Rayhan tidak datang untuk mencari perempuan.

Ia duduk di sofa sudut bersama Steven, memainkan belati tipis di antara jari, mendengar orang-orang bicara soal proyek properti dan saham seolah dunia hanya papan permainan keluarga kaya.

Lalu suara perempuan pecah di sisi bar.

“Tolong lepaskan.”

Rayhan menoleh.

Seorang pria gemuk sedang mencengkeram pergelangan tangan Keira. Wajah pria itu merah oleh alkohol. Di kemudian hari, nama pria itu akan muncul lagi sebagai Bagong Prasetyo. Malam itu, ia hanya terlihat seperti orang mabuk yang merasa tubuh perempuan bisa dibeli bersama sebotol wine.

“Jangan sok suci,” kata Bagong. “Masuk tempat seperti ini, ya tahu risikonya.”

Keira mencoba menarik tangan. Gerakannya tidak panik, tetapi cukup untuk membuat Rayhan memperhatikan. Matanya dingin. Bukan mata perempuan yang ketakutan. Lebih seperti seseorang yang sedang menghitung jarak.

Steven mendecak. “Ray, jangan.”

Rayhan sudah berdiri.

Belati di tangannya berhenti berputar.

Dalam tiga langkah, ia sudah berada di belakang Bagong. Ujung belati menyentuh kulit leher pria itu, ringan sekali, tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Bagong membatu.

“Lepaskan,” kata Rayhan.

Bagong langsung melepaskan tangan Keira. “Bos, saya cuma bercanda.”

“Bercanda pakai tangan?” Rayhan menekan belati sedikit lebih dekat. “Mau aku bercanda juga?”

Wajah Bagong pucat. “Ampun, Bos.”

Rayhan menatap Keira.

Perempuan itu tidak menangis. Tidak berterima kasih dengan suara gemetar. Ia hanya merapikan manset kemejanya, lalu mengangkat wajah.

“Terima kasih,” katanya.

Dua kata. Datar. Rapi.

Entah kenapa, justru itu yang membuat Rayhan tertarik.

Perempuan lain biasanya menatapnya dengan takut, kagum, atau perhitungan yang terlalu mudah dibaca. Keira tidak. Ia menatap Rayhan seperti menatap pintu keluar, bukan penyelamat.

“Nama,” kata Rayhan.

“Keira.”

“Lengkap.”

“Keira Salim.”

Rayhan mengulang nama itu dalam hati. Keira Salim. Dingin di lidah, tetapi meninggalkan rasa yang aneh.

“Pulang denganku,” katanya.

Keira menatapnya. “Kenapa?”

Steven yang berdiri di belakang hampir tersedak minumannya. Tidak banyak orang bertanya “kenapa” saat Rayhan Hartono memberi perintah.

Rayhan tersenyum tipis. “Karena kalau kamu pulang sendiri, pria seperti dia akan muncul lagi.”

“Kalau saya pulang dengan Anda, apa bedanya?”

Ruang itu seolah berhenti sebentar.

Rayhan menunduk, tertawa rendah. “Bedanya, aku lebih mahal.”

“Itu bukan kelebihan.”

“Tapi lebih aman.”

Keira menatap belati di tangannya. “Aman untuk siapa?”

Pertanyaan itu membuat Rayhan benar-benar menatapnya. Di bawah lampu Velvet yang redup, wajah Keira tampak tenang, tetapi ada kelelahan samar di kelopak matanya. Ada aroma teh putih yang tipis di tubuhnya, bersih dan nyaris tidak cocok berada di sana.

“Untuk kamu,” jawab Rayhan.

“Saya tidak butuh pemilik.”

Rayhan mendekat setengah langkah. “Aku tidak menawarkan jadi pemilik.”

“Lalu?”

“Jadi tempat kamu berlindung.”

Keira diam.

Rayhan mengangkat belatinya dari leher Bagong dan memberi isyarat pada pengawal. Pria gemuk itu langsung diseret keluar. Di dekat pintu, Bagong masih sempat menoleh ke arah Keira dengan mata yang sulit dibaca. Keira tidak membalas tatapannya.

Rayhan melihat semuanya.

Seharusnya ia curiga.

Namun malam itu, ia hanya melihat perempuan bermata dingin dengan aroma teh putih dan tahi lalat merah yang membuat tangannya gatal ingin menyentuh.

“Satu bulan,” kata Rayhan.

Keira mengerutkan dahi. “Apa?”

“Tinggal denganku satu bulan. Kalau kamu tidak suka, pergi.”

“Dan kalau saya menolak sekarang?”

Rayhan menyimpan belatinya. “Aku akan tetap mengantar kamu pulang. Lalu besok, aku akan muncul lagi.”

“Itu terdengar seperti ancaman.”

“Anggap saja rayuan yang kurang halus.”

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Keira bergerak sedikit. Nyaris tidak terlihat. Namun bagi Rayhan, itu cukup untuk membuat seluruh ruangan kehilangan warna.

Ia tidak tahu bahwa senyum kecil itu adalah bagian dari sandiwara yang dibayar mahal oleh Keira sendiri.

Ia hanya tahu satu hal, ia menginginkan perempuan itu.

Pagi setelah insiden si pirang, Keira terbangun di apartemennya dengan aroma kopi dari dapur.

Rayhan berdiri di depan kompor, lengan kemejanya digulung, rambutnya masih basah sehabis mandi. Pemandangan itu terlalu domestik untuk pria yang semalam membakar bibir seseorang di Velvet.

“Bangun juga,” katanya tanpa menoleh.

Keira duduk di kursi meja makan. “Kamu masak?”

“Telur. Roti. Kopi. Jangan berharap lebih.”

“Aku tidak pernah berharap kamu bisa masak.”

Rayhan menaruh piring di depannya. “Makanya aku suka membuatmu salah.”

Keira mengambil garpu. Aroma teh putih dari tubuhnya bercampur kopi hitam dan mentega hangat. Ia baru makan dua suap ketika Rayhan meletakkan tablet di samping piringnya.

Di layar, ada foto rumah di Menteng dengan halaman luas, kolam renang, dan garasi yang cukup untuk enam mobil.

“Pilih,” kata Rayhan.

Keira mengangkat alis. “Apa ini?”

“Rumah.”

“Aku punya apartemen.”

“Apartemenmu terlalu kecil.”

“Cukup untukku.”

Rayhan menggeser layar. Foto berikutnya memperlihatkan penthouse dengan kaca penuh menghadap skyline Jakarta. “Kalau tidak suka rumah, ini.”

“Tidak.”

“Mobil?”

“Tidak.”

“Kartu tambahan?”

“Rayhan.”

Rayhan berhenti. Ia bersandar di kursi, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Perempuan lain biasanya tidak menolak.”

Keira mengoleskan selai tipis ke roti. “Kalau begitu berikan pada perempuan lain.”

Udara di dapur hening.

Rayhan tertawa pelan, tetapi matanya menajam. “Kamu ingin aku punya perempuan lain?”

“Aku ingin kamu berhenti mengira semua hal bisa dibeli.”

Rayhan berdiri, berjalan mendekat, lalu menahan sandaran kursi Keira dari belakang. Tubuhnya membungkuk, napasnya menyentuh telinga Keira.

“Kalau kamu tidak mau rumah, tidak mau mobil, tidak mau kartu, setidaknya berhenti kerja.”

Keira meletakkan garpu.

“Tidak.”

“Aku bisa menghidupimu.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Keira menoleh. Jarak mereka begitu dekat sampai Rayhan bisa melihat bayangan dirinya di mata perempuan itu.

“Karena aku bisa menghidupi diriku sendiri.”

Rayhan menatapnya lama. Sesuatu di dadanya terasa tertarik, antara kesal dan kagum.

“Keras kepala,” gumamnya.

“Mandiri.”

“Sama saja.”

Keira mengambil tas kerjanya. “Aku ada rapat jam sembilan.”

Rayhan meraih pergelangan tangannya. “Aku antar.”

“Sopir kantor bisa.”

“Aku antar.”

Keira menatap tangan yang menggenggamnya, lalu wajah Rayhan. “Kalau aku bilang tidak?”

Rayhan tersenyum. “Aku akan tetap muncul di lobi HEALER.”

“Itu terdengar seperti ancaman.”

“Anggap saja rayuan yang belum membaik sejak enam bulan lalu.”

Kali ini Keira benar-benar tersenyum tipis.

Rayhan melihat senyum itu dan merasa sangat yakin, terlalu yakin, bahwa Keira Salim mencintainya.

Ia tidak pernah bertanya kenapa perempuan yang menolak rumah, mobil, dan kartu tambahan itu justru menerima dirinya.

Episode 3

Bab 3: Duri di Balik Senyuman

Jam sembilan kurang lima, Aston Martin Rayhan berhenti di depan lobi HEALER.

Keira baru melepas sabuk pengaman ketika Rayhan menahan pintu dari dalam. “Jam berapa pulang?”

“Tergantung rapat.”

“Jawaban yang tidak berguna.”

Keira menoleh. “Kalau aku jawab jam enam, lalu rapat molor, kamu akan datang menjemput dan membuat satu gedung panik.”

Rayhan tersenyum, sama sekali tidak merasa tersindir. “Berarti jawab jam lima.”

“Rayhan.”

“Baik. Aku tunggu kabar.”

Ia berkata begitu, tetapi Keira tahu pria itu akan tetap mengirim orang untuk memeriksa jadwalnya. Ia turun dari mobil tanpa memperdebatkan. Kadang melawan Rayhan terlalu pagi hanya membuang energi yang lebih baik dipakai untuk menghadapi manusia kantor.

Dan benar saja, manusia kantor sudah menunggu.

Begitu Keira masuk ke lantai divisi parfum, bisik-bisik langsung menempel seperti aroma murah yang sulit hilang.

Tari menghampirinya dengan tablet di dada. “Ci Keira, rapat formula jam setengah sepuluh. Tapi...”

“Tapi?”

Tari melirik ke arah pantry kaca.

Di sana, Daniel Tjiang sedang berdiri bersama Sinta. Mereka tidak benar-benar berbisik. Mereka bicara cukup pelan untuk bisa pura-pura tidak sengaja terdengar.

“Jam tangan delapan ratus juta,” kata Sinta sambil melirik pergelangan Keira. “Gaji perfumer memang segede itu?”

Daniel tertawa pendek. “Kalau gajinya dari HEALER, tidak. Kalau dari tempat tidur Bos Besar Hartono, mungkin iya.”

Tari langsung menegang. “Ci, aku tegur?”

“Tidak perlu.”

Keira berjalan ke pantry. Langkahnya tidak cepat, tidak juga ragu. Daniel baru menyadari kehadirannya ketika bayangan Keira jatuh di meja marmer.

“Lanjutkan,” kata Keira.

Sinta tersentak. Daniel lebih cepat memakai senyum sok santai.

“Bu Keira, kami cuma bercanda.”

“Aku dengar. Bercandanya kurang rapi.”

Daniel melipat tangan. “Kalau merasa tersinggung, berarti ada yang kena.”

Tari menarik napas tajam, tetapi Keira justru mengambil gelas kosong dan menuangkan air.

“Daniel, kamu sudah selesai revisi accord jasmine untuk proyek Valentine?”

Wajah Daniel berubah sedikit. “Masih proses.”

“Deadline kemarin.”

“Aku perlu waktu. Tidak semua orang bisa langsung disorot karena punya koneksi.”

Keira meminum airnya seteguk. “Benar. Tidak semua orang bisa. Sebagian orang bahkan diberi waktu pun tetap tidak bisa.”

Sinta menunduk, pura-pura mengecek ponsel.

Daniel memerah. “Maksudnya?”

“Maksudku sederhana. Jam tangan ini hadiah, bukan CV. Kalau kamu ingin membahas karierku, pakai data. Langit Senja menang Golden Pear Award sebelum aku mengenal Rayhan. Formulanya masuk arsip museum parfum P&L sebelum orang kantor tahu aku memakai jam apa.”

Beberapa staf yang pura-pura lewat berhenti. Nama Golden Pear dan P&L membuat udara berubah.

Keira meletakkan gelas. “Jadi kalau kamu ingin menuduhku naik karena tempat tidur, pastikan dulu karya kamu cukup tinggi untuk melihat tanggaku.”

Wajah Daniel mengeras. Tidak ada yang tertawa, tetapi diam mereka lebih memalukan dari tawa.

Tari menunduk supaya senyumnya tidak terlihat.

Keira berbalik. “Rapat lima belas menit lagi. Kalau accord jasmine belum selesai, duduk di belakang dan catat.”

Hari itu lewat dengan rapat yang panjang dan kepala Daniel yang terus menunduk.

Sore menjelang malam, Rayhan benar-benar muncul.

Bukan di lobi, melainkan di depan lift khusus, mengenakan jaket hitam dan sarung tangan balap. Steven bersandar di dinding di belakangnya, wajahnya terlalu cerah untuk membawa kabar baik.

“Sirkuit,” kata Rayhan.

Keira menatap jam. “Aku belum makan malam.”

“Di sana ada makanan.”

Steven menyela, “Dan ada drama. Paket lengkap.”

Keira menatap Steven.

Steven langsung mengangkat tangan. “Aku tidak bilang apa-apa.”

Sirkuit balap privat itu berada di pinggir Jakarta, milik salah satu rekan bisnis Hartono Group. Lampu lintasan menyala putih, memotong langit malam. Deru mesin terdengar sebelum Keira turun dari mobil.

Di area lounge kaca, beberapa sosialita dan anak konglomerat sudah berkumpul. Di antara mereka, Jessica Liem berdiri paling mencolok. Gaun merahnya sederhana tapi mahal, rambutnya disanggul longgar, senyumnya indah dengan cara yang membuat orang lupa bahwa gigi juga bisa menggigit.

“Ray,” sapa Jessica manis. “Lama tidak lihat.”

Rayhan bahkan tidak berhenti. Ia menarik kursi untuk Keira. “Duduk.”

Jessica menatap Keira. “Keira, kan? Aku sering dengar.”

“Aku tidak bisa berkata sama,” jawab Keira.

Senyum Jessica menipis sesaat, lalu kembali sempurna. “Tidak apa-apa. Sebentar lagi kamu akan sering dengar banyak hal. Apalagi kalau seseorang yang sangat dekat dengan Rayhan sudah pulang ke Jakarta.”

Steven, yang sedang mengambil minuman, langsung batuk kecil.

Keira mengangkat mata. “Seseorang?”

Jessica menyentuh anting mutiaranya. “Ah, aku kira kamu tahu. Maaf, mungkin Rayhan belum sempat cerita.”

Rayhan meletakkan segelas air putih di depan Keira. “Jessica.”

Satu kata itu cukup untuk membuat Jessica berhenti, tetapi tidak cukup untuk menghapus duri yang sudah ia tinggalkan.

Tidak lama kemudian, balapan dimulai.

Rayhan masuk ke mobil hitam. Lawannya dua pria dari lingkaran sosial yang terlalu percaya diri. Mesin meraung. Lampu start menyala. Dalam hitungan detik, mobil Rayhan melesat seperti panah yang tidak mengenal ragu.

Keira berdiri di balik kaca. Angin malam menekan ujung rambutnya. Tari tidak ada di sini. Tidak ada aroma laboratorium. Tidak ada formula yang bisa ia kendalikan. Hanya ada pria yang membuat seluruh dunia di sekitarnya bergerak terlalu cepat.

Rayhan menang dengan jarak hampir memalukan.

Ketika ia turun dari mobil, sorak sorai terdengar. Namun ia tidak melihat siapa pun selain Keira. Dengan langkah panjang, ia menghampirinya, melepas sarung tangan, lalu mencium Keira di depan semua orang.

Ciuman itu singkat, tetapi cukup untuk membuat beberapa orang terdiam.

“Hadiah,” katanya.

Keira menatapnya. “Aku tidak menjanjikan hadiah.”

“Aku ambil sendiri.”

Jessica melihat adegan itu dengan senyum yang tidak mencapai mata.

Di sudut lounge, seorang anak laki-laki kecil, aktor cilik yang tadi diminta ikut iklan salah satu brand, berdiri dekat meja dessert. Namanya Rio Santoso. Ia memegang piring kecil, wajahnya canggung ketika Jessica memanggilnya.

“Rio, sini. Ambilkan aku stroberi.”

Rio mendekat dengan patuh. “Kak, stroberinya sudah habis.”

Jessica menatap piring kosong, lalu wajah anak itu. “Kamu tidak cari dengan benar.”

“Aku sudah tanya staf.”

“Anak kecil sekarang berani membantah, ya?”

Keira menoleh.

Jessica mengambil garpu kecil dari meja. Gerakannya cepat, hampir tidak terlihat. Ujung garpu itu menusuk punggung tangan Rio.

Anak itu menjerit.

Piring jatuh pecah. Semua orang membeku. Darah kecil muncul di kulit tangan Rio, tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat wajah Keira berubah.

Dalam sepersekian detik, sesuatu yang jauh dan gelap menyambar matanya. Lantai sekolah. Tawa remaja. Tubuh seseorang jatuh dari ketinggian. Jeritan yang tidak selesai.

Keira sudah berada di depan Rio sebelum siapa pun bergerak.

Ia meraih pergelangan Jessica dan memutarnya ke samping. Garpu itu jatuh.

“Minta maaf,” kata Keira.

Jessica terkejut, lalu marah. “Kamu berlebihan? Itu cuma luka kecil.”

Keira menekan pergelangan Jessica lebih kuat. “Minta maaf.”

“Lepaskan aku!”

Rayhan mendekat, wajahnya langsung menggelap. Namun kali ini Keira tidak melihatnya. Matanya tertuju pada tangan Rio yang gemetar.

Anak itu menahan tangis, terlalu takut pada orang dewasa untuk benar-benar menangis.

Dada Keira terasa sempit.

“Steven,” kata Rayhan dingin.

Steven langsung bergerak. “Aku bawa anak ini ke rumah sakit. Sekarang.”

Rayhan menatap pengawal. “Kawal. Pastikan rekam medisnya lengkap.”

Jessica mencoba menarik tangannya dari Keira. “Ray, kamu percaya perempuan ini? Aku cuma bercanda dengan anak itu.”

Keira melepaskannya dengan dorongan kecil. “Bercanda pakai garpu?”

Kalimat itu seperti memantulkan ucapan Rayhan enam bulan lalu, tetapi kali ini wajah Keira jauh lebih dingin.

Rayhan meraih bahu Keira. “Kita ke mobil.”

“Dia menyakiti anak kecil.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu, tapi orang seperti dia tetap berdiri di lingkaranmu.”

Rayhan berhenti.

Di dalam mobil, pintu baru saja tertutup ketika Keira menarik tangannya dari genggaman Rayhan.

“Kamu sama saja dengan mereka, kan?”

Rayhan menatapnya. “Apa?”

“Orang-orang yang menganggap rasa sakit orang lain cuma hiburan. Selama pelakunya cukup cantik, cukup kaya, cukup berguna, semua bisa disebut bercanda.”

Rahang Rayhan menegang. “Aku sudah mengirim anak itu ke rumah sakit.”

“Setelah dia terluka.”

“Keira.”

“Apa?”

Keheningan jatuh di antara mereka, panas dan tajam.

Rayhan mendekat, satu tangan menahan sandaran kursi di sisi kepala Keira. Matanya gelap, tetapi suaranya justru rendah.

“Kalau aku memang sama dengan mereka,” katanya, “aku sudah mengurungmu seumur hidup di kamar tidur.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!