Indonesia
NovelToon NovelToon

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Chapter 1

Langit malam di Dunia Bawah tidak pernah memancarkan warna gelap yang pekat seperti langit di Dunia Manusia. Di atas sana, ruang hampa tidak diisi oleh bintang-bintang, melainkan oleh gugusan kristal raksasa yang melayang secara statis.

Kristal-kristal tersebut membiaskan spektrum cahaya berwarna ungu muda, merah muda, dan biru pudar, menciptakan pendaran konstan yang menyelimuti seluruh bentang daratan. Cahaya lembut itu jatuh menyinari atap-atap perak dan pilar-pilar pualam putih di sebuah kediaman megah milik salah satu dari tujuh puluh dua pilar bangsawan iblis, keluarga Sitri.

Angin sepoi-sepoi bertiup dari arah perbukitan, membawa serta aroma manis dari flora eksotis Dunia Bawah yang bermekaran di malam hari. Angin itu menggoyangkan dedaunan pohon perak di taman kediaman, menghasilkan suara gemerisik halus yang memecah keheningan. Di bagian tengah taman yang luas tersebut, sebuah kolam ikan koi membentang dengan air yang sangat jernih.

Permukaan airnya beriak pelan, memantulkan bayangan langit kristal yang berpendar di atasnya. Di tepi kolam itulah, sebuah gazebo berbahan dasar kayu eboni gelap berdiri kokoh, diterangi oleh lentera-lentera kecil yang melayang di sekeliling tiangnya.

Di dalam gazebo, sepasang kursi berukir rumit ditempati oleh dua orang gadis berambut hitam dan berambut hitam panjang yang duduk saling berhadapan. Di atas meja bundar berlapis taplak renda putih di antara mereka, sebuah set teh dari porselen berkualitas tinggi tersusun dengan sangat rapi. Uap panas mengepul tipis dari moncong teko, berputar-putar di udara sebelum menghilang tertiup angin malam.

Gadis yang duduk di sisi kiri meja memiliki rambut hitam panjang yang diikat dengan gaya *twintail*. Ia mengenakan pakaian yang sangat mencolok; sebuah kostum bergaya gadis penyihir dengan *ruffles* merah muda, pita besar di dada, dan rok pendek yang mengembang. Tongkat sihir mainan tergeletak di pangkuannya.

Senyum ceria tidak pernah lepas dari wajahnya, matanya menyipit membentuk bulan sabit saat ia mengangkat teko porselen tersebut. Suara gemericik cairan teh berwarna kuning keemasan terdengar saat teh itu jatuh membentur dasar cangkir. Gadis berambut perak itu meletakkan kembali teko ke atas meja, lalu mengambil cangkir miliknya sendiri dan mendekatkannya ke bibir.

"Ara, Sona-tan," ucap Serafall Leviathan, nada suaranya mengalun riang dan penuh semangat. Ia meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas tatakan dengan bunyi denting pelan. "Kau benar-benar harus mencari Pawn baru untuk melengkapi keluargamu. Rias-tan sudah membuktikan sendiri kemampuan luar biasa dari budak barunya itu. Lelaki yang memiliki Sekiryuutei itu benar-benar luar biasa di luar dugaan, bukan?"

Gadis yang duduk di seberangnya tidak langsung menjawab. Sona Sitri, mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang elegan dan tertutup, duduk dengan punggung tegak lurus. Posturnya sangat anggun, tanpa sedikit pun gerakan yang tidak perlu.

Rambut hitam pendeknya bergerak ringan saat angin malam kembali berhembus. Tangan kanannya yang terbalut sarung tangan putih perlahan terulur, menjepit pegangan cangkir tehnya dengan ujung-ujung jari yang lentik.

Sona mengangkat cangkir tersebut sejajar dengan dadanya. Tatapan matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis menatap lurus ke arah permukaan teh yang beriak pelan.

"Aku tahu, *Onee-sama*," jawab Sona. Nada suaranya datar, tenang, dan sangat terkendali. "Semalam, *Sekiryuutei* itu datang menerobos masuk dan menyelamatkan Rias dari pesta pertunangan yang sama sekali tidak diinginkannya. Keberaniannya memang patut diperhitungkan."

"Justru karena itu!" Serafall mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua sikunya di atas meja hingga pita di dadanya sedikit berayun. Senyumnya semakin melebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.

"Kelompok Rias-tan sekarang memiliki seseorang yang sangat bisa diandalkan di garis depan pertarungan. Bagaimana dengan keluargamu sendiri, Sona-tan? Kau tidak boleh tertinggal dari rivalmu!"

Sona memiringkan kepalanya sedikit. Ia menyesap tehnya perlahan, membiarkan keheningan menguasai gazebo itu selama beberapa detik. Setelah menyesap tehnya, ia menjauhkan cangkir itu dari bibirnya dan meletakkannya kembali ke atas tatakan dengan gerakan yang sangat hati-hati hingga tidak menghasilkan bunyi denting sedikit pun.

"Aku akan mempertimbangkannya," ucap Sona singkat.

Percakapan mereka berakhir di titik tersebut. Sona berdiri dari kursinya, merapikan lipatan gaun birunya dengan kedua tangan, lalu menundukkan kepala sedikit ke arah Serafall sebagai bentuk pamitan. Serafall hanya melambaikan tangannya dengan riang.

Sona membalikkan badan dan berjalan keluar dari gazebo, melangkah menyusuri jalan setapak berbatu di taman kediaman Sitri. Langkah kakinya terdengar berirama, sepatu hak rendahnya berketuk pelan di atas batu-batu pipih.

Di ujung jalan setapak, Sona berhenti melangkah. Ia mengangkat tangan kanannya ke depan dada. Sebuah lingkaran sihir berwarna biru terang dengan lambang keluarga Sitri di tengahnya meluas perlahan di udara, berputar dengan kecepatan konstan sambil memancarkan partikel-partikel cahaya biru.

Sona melangkah masuk ke dalam lingkaran cahaya tersebut. Detik berikutnya, pendaran cahaya biru itu menyilaukan mata sebelum akhirnya meledak menjadi serpihan cahaya kecil, meninggalkan ruang kosong di tempat Sona berdiri sebelumnya.

Malam telah larut ketika udara di sudut Kota Kuoh bergetar hebat. Di sebuah gang sempit yang diapit oleh dua gedung bata merah, sebuah lingkaran sihir berwarna biru menyala terang di atas tanah beraspal. Cahaya biru itu menerangi tumpukan kotak kayu dan dinding-dinding bata yang dipenuhi coretan grafiti.

Dari dalam lingkaran sihir tersebut, siluet Sona Sitri muncul secara perlahan, wujudnya memadat dari partikel-partikel cahaya. Udara musim semi di Dunia Manusia terasa jauh lebih sejuk dan lembap dibandingkan dengan udara di Dunia Bawah. Angin malam berhembus menyusuri gang, membawa serta debu dan helaian daun kering.

Di kejauhan, suara mesin mobil yang melintas sesekali memecah keheningan, berpadu dengan suara jangkrik yang berderik samar dari arah taman kota.

Sona melangkah keluar dari gang sempit tersebut menuju trotoar jalan utama. Pakaiannya telah berubah. Gaun malam biru tuanya kini berganti menjadi seragam Akademi Kuoh yang rapi; blazer hitam dengan garis putih, kemeja berkerah, pita di dada, dan rok lipit.

Ia berjalan menyusuri trotoar yang lengang dengan langkah yang konstan dan tenang. Lampu-lampu jalan berwarna kuning temaram menyorot dari atas, melemparkan bayangan tubuhnya yang memanjang ke atas trotoar.

Suasana kota malam itu tampak sangat damai. Namun, kedamaian itu pecah seketika.

Brak!

Sebuah suara ledakan keras menggema di udara, menggetarkan kaca-kaca jendela di bangunan sekitarnya. Di kejauhan, dari arah sebuah area konstruksi bangunan yang terbengkalai, kilatan cahaya kuning menyala terang menembus langit malam, diikuti oleh kepulan debu tebal yang membubung tinggi.

Langkah Sona terhenti secara tiba-tiba. Matanya yang tajam menyipit di balik lensa kacamatanya. Ia memutar tubuhnya ke arah sumber ledakan. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sona mengerahkan energi iblis ke kedua kakinya dan berlari dengan kecepatan yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia biasa.

Ujung roknya berkibar keras di udara, sementara sepatunya hanya meninggalkan suara gesekan samar di atas aspal saat ia melesat membelah jalanan malam. Sesampainya di tepi area konstruksi yang dipagari oleh seng-seng berkarat, Sona melompat melewati pagar tersebut dan mendarat tanpa suara di atas gundukan tanah di bagian dalam.

Area itu dipenuhi oleh tumpukan beton, kerangka besi bangunan, dan alat-alat berat yang ditinggalkan. Debu masih berterbangan di udara, menghalangi jarak pandang. Di tengah area terbuka tersebut, pertarungan tidak seimbang sedang terjadi.

Seorang pemuda berpakaian kasual yang compang-camping tampak berguling ke tanah, menghindari rentetan tombak cahaya yang meluncur deras dari udara. Tombak-tombak bercahaya kuning itu menghujam tanah, meledakkan bongkahan beton dan menciptakan kawah-kawah kecil yang berasap.

Di angkasa, melayang sekitar sepuluh meter dari permukaan tanah, sesosok makhluk mengepakkan dua sayap berbulu hitam legam. Makhluk itu, seorang malaikat jatuh berpakaian jubah gelap, menatap ke bawah dengan senyum sadis yang mengembang lebar di wajahnya.

Chapter 2

"Berlarilah sesukamu, cacing kecil!" seru malaikat jatuh itu, suaranya menggema penuh ejekan. Tangannya kembali terangkat, dan lima buah tombak cahaya baru terbentuk dari ketiadaan, berputar di sekeliling lengannya.

"Ini adalah akhir dari permainan konyol ini!"

Pemuda itu, Yudi, memaksakan dirinya untuk berdiri. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun dengan keras. Darah segar menetes dari pelipisnya, mengalir melewati pipinya dan menetes ke kerah bajunya. Luka-luka sayatan memenuhi kedua lengannya. Ia mundur selangkah, kakinya tersandung kerikil, namun ia segera menyeimbangkan tubuhnya.

Yudi mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Gigi-giginya bergemeretak menahan rasa sakit. Tiba-tiba, udara di sekeliling tubuhnya bergetar hebat. Percikan energi berwarna jingga kemerahan meletup dari pori-pori kulitnya, berputar cepat mengelilingi bahu dan punggungnya. Energi itu perlahan memadat, membentuk sebuah bayangan semi-transparan yang menyerupai mantel lebat dari kulit harimau.

Di atas bahunya, siluet wajah harimau raksasa dengan taring-taring panjang berkedip redup. Sebuah raungan samar yang terdengar seperti geraman buas dari dasar hutan bergema di lapangan terbuka tersebut.

Itu adalah wujud samar dari sebuah sacred gear tidak sempurna. Aura jingga yang dipancarkannya cukup kuat untuk meniup debu dan kerikil di sekitar kaki pemuda itu. Namun, pendaran energi itu tampak sangat tidak stabil. Sinarnya berkedip-kedip tak menentu, auranya kadang membesar seolah siap menerkam, lalu sedetik kemudian menyusut drastis, seolah kekuatan di dalamnya menolak untuk tunduk sepenuhnya pada pemuda yang memanggilnya.

Malaikat jatuh di udara mendengus remeh. Tawanya kembali meledak keras.

"Hoo? Sebuah Sacred Gear tingkat menengah? Seekor roh harimau biasa yang bersembunyi di balik mantel kekaisaran? Sayang sekali! Penggunanya terlalu lemah untuk mengeksplorasi kekuatannya. Benda cacat itu tidak akan bisa melindungimu!"

Malaikat jatuh itu mengepakkan keenam sayap hitamnya dan menghilang dari pandangan, hanya menyisakan beberapa helai bulu hitam yang melayang di udara.

Sreet!

Dalam sekejap mata, malaikat jatuh itu muncul tepat di depan Yudi. Angin kencang dari kepakan sayapnya menyapu debu ke segala arah. Yudi membelalakkan matanya. Ia mencoba mengangkat tangannya yang terbalut aura harimau untuk menangkis, namun pergerakannya terlalu lambat.

Mantel energi jingganya berkedip meredup tepat di saat yang paling krusial. Tombak cahaya kuning di tangan malaikat jatuh itu melesat maju. Terdengar suara robekan yang mengerikan saat tombak cahaya itu menembus pertahanan mantel harimau yang melemah, lalu menembus dada sang pemuda. Ujung tombak bercahaya itu menyembul dari punggung Yudi, meneteskan darah segar yang langsung menguap akibat panas cahaya suci.

"Sangat menyenangkan bermain kejar-kejaran denganmu," bisik malaikat jatuh itu tepat di depan wajah Yudi. Ujung bibirnya tertarik ke atas. "Kalau kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan saja takdirmu yang sangat buruk ini! Hahaha!"

Malaikat jatuh itu menarik tombaknya dengan kasar. Tubuh Yudi terhuyung ke belakang, darah memuncrat mewarnai tanah berdebu, sebelum akhirnya tubuh pemuda itu ambruk tak berdaya. Aura jingga dari mantel harimaunya berkedip untuk terakhir kalinya sebelum hancur berkeping-keping menjadi debu cahaya yang memudar di udara.

Sona yang sedari tadi mengamati dari balik bayangan gundukan tanah melangkah maju. Sepatunya menginjak kerikil, menciptakan suara retakan kecil yang menarik perhatian malaikat jatuh tersebut.

Malaikat jatuh itu menoleh tajam. "Siapa di sana?!"

Sebagai jawaban, sebuah lingkaran sihir biru berskala besar menyala terang tepat di bawah kedua telapak kaki Sona. Suhu di sekitar area konstruksi itu anjlok drastis dalam hitungan detik. Napas malaikat jatuh itu seketika berubah menjadi uap putih akibat udara yang mendadak membeku.

"[Water Splash]," gumam Sona dengan nada datar yang sedingin es.

Air dalam jumlah besar menyembur keluar dari lingkaran sihir di bawah kaki Sona, meliuk-liuk di udara melawan gravitasi. Gelombang air itu dengan cepat memecah dan berubah bentuk menjadi puluhan cambuk air yang berputar dengan kecepatan tinggi.

Tanpa aba-aba, cambuk-cambuk air itu melesat maju, merobek udara dengan suara mendesing tajam, menargetkan malaikat jatuh tersebut dari berbagai arah.

"Iblis?!" Malaikat jatuh itu memaki keras. Ia mengepakkan sayapnya sekuat tenaga, melesat naik ke udara untuk menghindari serangan. Ujung cambuk air itu menyambar ruang kosong, meleset hanya beberapa sentimeter dari kaki malaikat jatuh itu, dan menghantam beton penyangga hingga hancur berkeping-keping.

Sona tidak membiarkan buruannya lepas. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. Jari-jarinya merentang kaku. Seluruh cambuk air yang gagal mengenai sasaran mendadak berhenti di udara.

Air itu bergerak mundur, berkumpul di satu titik tepat di atas telapak tangan Sona, dan memadat membentuk sebuah bola air berukuran raksasa yang terus berputar. Suhu udara kembali turun. Uap dingin mulai mengepul dari permukaan bola air tersebut. Kristal-kristal es mulai merambat di permukaan air, membekukannya sedikit demi sedikit dengan suara gemeretak yang nyaring.

"[Ice Javelin]."

Bola air yang telah membeku itu berubah bentuk, memanjang dan menajam di kedua ujungnya hingga membentuk sebuah tombak es raksasa sepanjang hampir dua meter. Sona mengayunkan lengannya ke depan, menunjuk lurus ke arah malaikat jatuh yang melayang di angkasa.

Wuussh!

Tombak es itu melesat membelah udara dengan kecepatan luar biasa. Gelombang kejut dari luncurannya meniup debu di sekitar Sona membentuk lingkaran besar. Malaikat jatuh itu hanya sempat menoleh, pupil matanya mengecil melihat bongkahan es raksasa yang meluncur tepat ke arahnya.

Suara daging yang tertembus benda tajam bergema di udara. Tombak es itu menghantam dada malaikat jatuh tersebut dengan telak, menembusnya hingga tembus ke belakang. Darah tidak sempat menetes karena suhu es yang ekstrem seketika membekukan luka tersebut.

Malaikat jatuh itu menatap tidak percaya ke arah dadanya yang tertembus es. Mulutnya terbuka seolah ingin meneriakkan sesuatu, namun hanya udara beku yang keluar. Sedetik kemudian, tubuhnya mulai retak, memancarkan cahaya hitam dari sela-sela lukanya.

Dengan suara ledakan tertahan, tubuh makhluk itu pecah menjadi ribuan butiran cahaya hitam dan bulu-bulu gelap yang berterbangan liar sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya tanpa sisa ditiup angin malam.

Suasana area konstruksi itu kembali sunyi senyap. Hanya suara angin yang berhembus melewati kerangka besi yang tersisa. Sona menurunkan tangan kanannya secara perlahan. Lingkaran sihir di bawah kakinya memudar dan menghilang.

Ia melangkah maju dengan tenang, mendekati tubuh pemuda yang tergeletak bersimbah darah di atas tanah. Genangan darah kental telah meresap ke dalam debu dan pasir di sekitarnya. Napas pemuda itu terdengar sangat lemah dan terputus-putus. Dada yang tertembus luka menganga itu masih bergerak naik turun dengan sangat lambat.

Tiba-tiba, cahaya biru kembali berpendar di udara. Beberapa meter dari Sona, sebuah lingkaran sihir yang lebih kecil terbuka. Dari dalamnya, sesosok gadis jangkung berkacamata melangkah keluar.

Ia mengenakan seragam akademi yang sama dengan Sona. Rambut hitam panjangnya diikat dengan rapi, dan raut wajahnya begitu tenang bagaimana dipahat dengan indah. Tsubaki Shinra, wakil ketua OSIS sekaligus Queen dari keluarga Sitri, mengedarkan pandangannya dengan cepat untuk menilai situasi.

Tsubaki melangkah mendekat, jarinya bergerak membetulkan letak kacamatanya yang sedikit merosot di pangkal hidungnya. Matanya menatap genangan darah dan pemuda yang sekarat tersebut. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya berdiri diam dalam jarak yang tepat, menunggu perintah dari tuannya.

Sona berlutut di samping tubuh pemuda itu. Ia mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan, menyentuh leher pemuda itu selama beberapa detik untuk memeriksa denyut nadi.

"Dia Masih hidup," gumam Sona pelan.

Sona menengadahkan telapak tangannya ke atas. Cahaya sihir berpendar, dan sebuah kotak kecil berbahan dasar logam hitam dengan lapisan emas di sudut-sudutnya muncul di atas telapak tangannya.

Sona membuka pengait kotak itu secara perlahan. Di dalamnya, hanya tersedia 3 bidak pawn, lalu dua bidak Pawn bercahaya biru redup, Evil Pieces. Hanya tidak bidak itulah yang tersisa dalam peerage-nya dan karena dua bidak merespon terhadap pemuda ini maka tersisa satu bidak Pawn di dalam kotak tersebut.

Tiba-tiba, seolah merespons sisa-sisa aura harimau yang masih menempel di tubuh pemuda itu, dua buah bidak Pawn di dalam kotak bergetar hebat. Bidak-bidak itu memancarkan cahaya biru yang jauh lebih terang dari sebelumnya, lalu melayang naik, keluar dari kotak dengan sendirinya.

Kedua bidak catur itu bergerak melayang mengitari tubuh pemuda yang sekarat itu, seolah sedang mengukur sisa energi dari Sacred Gear yang tersimpan di dalam jiwanya.

Sona menatap kedua bidak yang melayang itu tanpa ekspresi terkejut di wajahnya.

"...Dua Pawn. Untuk sebuah jiwa dengan wujud mantel harimau yang bahkan belum sempurna," gumam Sona.

Sona berdiri dari posisi berlututnya. Ia mengangkat kotak Evil Piece di tangannya sedikit lebih tinggi. Lingkaran sihir raksasa berlambang Sitri tiba-tiba menyebar luas tepat di bawah tubuh pemuda itu, memancarkan cahaya biru terang yang menerangi seluruh area konstruksi.

"Aku, Sona Sitri, iblis bangsawan dari keluarga pilar Sitri..." Suara Sona mengalun jernih, memecah keheningan malam dengan otoritas mutlak.

Cahaya dari lingkaran sihir semakin menyilaukan. Tsubaki yang berdiri di belakang sedikit memicingkan matanya di balik kacamata.

"Dengan ini mengikat kontrak dengan jiwamu, menghapus batas kematianmu, dan mereinkarnasikanmu sebagai iblis seutuhnya atas nama dan kebanggaan keluarga Sitri. Bangkitlah kembali, dan abdikan dirimu sebagai pelayanku."

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, kedua bidak Pawn yang melayang di udara berubah menjadi dua berkas cahaya biru yang melesat secepat kilat, menusuk lurus masuk ke dalam dada pemuda tersebut, tepat di titik jantungnya berdetak. Tubuh Yudi terangkat beberapa sentimeter dari tanah.

Luka menganga di dadanya perlahan merapat, darah berhenti mengalir, dan energi iblis yang kuat mulai berbaur dengan sisa-sisa aura jingga di dalam nadinya. Beberapa saat kemudian, cahaya terang itu perlahan meredup dan menghilang.

Tubuh pemuda itu kembali terbaring di atas tanah. Napasnya kini terdengar sangat teratur dan stabil. Luka-lukanya telah menutup sepenuhnya tanpa menyisakan bekas luka sedikit pun.

Sona menutup kotak Evil Piece miliknya dengan suara klik pelan, lalu menghilangkan kotak tersebut ke dalam dimensi saku. Ia memutar tubuhnya dan memberikan isyarat anggukan kecil ke arah Tsubaki.

Memahami isyarat tuannya, Tsubaki melangkah maju. Ia membungkukkan badannya, menyelipkan kedua lengannya ke bawah ketiak dan lutut pemuda tersebut, lalu mengangkat tubuh Yudi dengan sangat mudah, seolah berat pemuda itu tidak berarti apa-apa baginya.

Sona kembali mengangkat tangannya, memanggil lingkaran sihir teleportasi besar yang menelan ketiganya. Cahaya biru berkedip sesaat sebelum menghilang, membawa mereka menuju ruang klub OSIS di Akademi Kuoh. Angin malam kembali bertiup melewati kerangka besi dan tumpukan beton, menyapu sisa-sisa debu yang berterbangan. Area konstruksi itu kembali sunyi senyap, tanpa ada satu pun jejak pertarungan tersisa di bawah sinar bulan yang temaram.

Chapter 3

Cahaya bulan purnama menembus celah gorden jendela ruang klub OSIS Akademi Kuoh, menjatuhkan bayangan panjang dari perabotan di dalamnya. Udara di dalam ruangan itu terasa berat, dipenuhi oleh sisa-sisa energi sihir yang berpendar dari sebuah sofa kulit panjang di sudut ruangan. Di atas sofa tersebut, tubuh Yudi terbaring tanpa bergerak.

Pakaian kasualnya masih dipenuhi noda darah yang telah mengering, namun dada yang sebelumnya berlubang akibat tusukan tombak cahaya kini tertutup rapat. Sebuah pendaran cahaya biru pucat menyelimuti seluruh tubuhnya, berdenyut pelan seirama dengan detak jantungnya.

Beberapa langkah dari sofa, Tsubaki Shinra berdiri tegak dalam balutan seragam akademinya. Tangan kanannya terangkat, jari telunjuknya bergerak perlahan mendorong bingkai kacamata yang sedikit merosot di pangkal hidungnya. Lensa kacamatanya memantulkan cahaya biru dari tubuh Yudi.

Matanya menyipit, meneliti setiap inci dari pemuda yang terlelap itu, sebelum akhirnya ia menoleh ke arah meja kerja di tengah ruangan.

Di balik meja kayu mahoni itu, Sona Sitri berdiri membelakangi jendela. Kedua lengannya bersilang di depan dada. Pandangannya lurus tertuju pada tubuh pemuda di atas sofa, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Cahaya bulan menerangi separuh wajahnya, menyoroti garis rahangnya yang tegas dan matanya yang memancarkan ketenangan absolut.

"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau mereinkarnasikan dia, Kaichou?" Suara Tsubaki memecah keheningan ruangan. Nada bicaranya datar, tanpa intonasi yang meninggi, sekadar menuntut penjelasan logis dari atasannya.

Sona menurunkan kedua lengannya perlahan. Kepalanya sedikit miring ke kanan. "Mungkin hanya firasat," jawab Sona dengan suara pelan. "Apalagi, dia mengkonsumsi dua bidak Pawn terakhir dari set Evil Piece milikku. Potensi yang terpendam di dalam dirinya menuntut jumlah energi yang tidak sedikit."

Sona melangkah keluar dari balik mejanya, sepatunya menghasilkan suara ketukan pelan di atas lantai kayu ruangan tersebut. Ia berhenti tepat di samping Tsubaki. "Yang lebih penting, apa kau tahu tentang identitas pemuda ini,

Tsubaki?"

Tsubaki kembali membenarkan posisi kacamatanya, sebuah gestur kebiasaan yang selalu ia lakukan saat sedang menganalisis informasi. "Namanya Yudi. Siswa kelas 2-B," lapornya tanpa ragu. "Dia sekelas dengan Sekiryuutei dari keluarga Rias Gremory."

Sona terdiam sejenak. Matanya berkedip pelan. "Lalu... tumben sekali kau bertindak berdasarkan sesuatu yang tidak pasti seperti firasat, Kaichou?" tanya Tsubaki lagi, kali ini tubuhnya berputar sepenuhnya menghadap Sona.

"Mungkin aku terbawa suasana setelah Nee-chan terus-menerus bertanya tentang seseorang yang bisa diandalkan untuk menjadi barisan depanku," ucap Sona. Ia memalingkan wajahnya kembali ke arah Yudi. "Dan entah bagaimana, garis takdir seolah mempertemukanku langsung dengan remaja ini. Hn... jadi dia sekelas dengan Ise-san, sang Sekiryuutei ya."

Sona menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara teratur. "Tsubaki, pulanglah lebih dulu. Biar aku sendiri saja yang menjaga dan menjelaskan situasinya saat dia

sadar nanti."

Tsubaki mengangguk pelan. Tidak ada perdebatan yang keluar dari mulutnya.

"Baiklah. Kalau begitu, selamat malam, Kaichou."

Tsubaki membungkukkan badannya membentuk sudut empat puluh lima derajat dengan gerakan kaku dan formal. Setelah menahan posisi itu selama tiga detik, ia kembali menegakkan tubuh, berbalik, dan melangkah keluar dari ruangan. Suara derit engsel pintu terdengar sesaat, disusul suara klik halus saat pintu ruang OSIS tertutup rapat.

Ruangan itu kembali hening. Hanya tersisa suara detak jam dinding dan tarikan napas halus dari pemuda di atas sofa.

Sona berdiri mematung di tempatnya selama beberapa menit. Pandangannya tidak terlepas dari pendaran cahaya biru yang mulai meredup di sekujur tubuh Yudi. Langkah kakinya kembali terdengar saat ia berjalan mendekati sofa. Sona berhenti tepat di samping tubuh yang terlelap itu.

Tangan kanan Sona terulur perlahan menuju kerah blazernya sendiri. Jari-jarinya yang ramping mulai melepas kancing teratas seragam Akademi Kuoh tersebut satu per satu. Helaian kain hitam dari blazernya meluncur jatuh ke lantai. Ia melanjutkan gerakan tangannya pada kancing kemeja putih di baliknya. Bersamaan dengan itu, di bawah temaram cahaya bulan, semburat merah tipis mulai muncul dan menjalar di kedua pipi Sona. Udara malam yang menembus celah jendela menyapu kulitnya, membuat bahunya sedikit menegang.

Proses pemulihan tubuh manusia yang rusak parah setelah reinkarnasi sering kali membutuhkan aliran energi sihir eksternal yang konstan. Kontak fisik—kulit bertemu kulit—adalah metode penyaluran sihir paling efisien. Sona meletakkan sisa pakaiannya di atas sandaran kursi, lalu dengan gerakan perlahan, ia membaringkan tubuhnya di sisi sofa yang masih tersisa, menempelkan lengan dan bahunya langsung bersentuhan dengan lengan pemuda tersebut. Cahaya biru dari tubuh Yudi seketika berpendar sedikit lebih terang saat aliran sihir Sona mulai terhubung.

Kelopak mata Sona tertutup rapat. Napasnya mulai berbaur dengan keheningan malam yang

panjang.

... * * *...

Pagi datang membawa perubahan warna pada langit. Semburat jingga kemerahan dari ufuk timur perlahan menembus kaca jendela ruang OSIS. Kicauan burung-burung terdengar bersahutan dari pepohonan di halaman akademi. Cahaya matahari pagi merayap naik menyinari meja kayu, rak-rak buku, dan akhirnya jatuh tepat ke atas sofa di sudut ruangan.

Tubuh Yudi bereaksi terhadap cahaya terang tersebut. Jari-jari tangannya bergerak-gerak kecil. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pupil matanya mengerucut menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya. Ia menatap langit-langit putih ruangan yang asing baginya.

Yudi mencoba bergerak, namun ia merasakan sebuah beban yang menindih lengan kanannya. Rasa hangat juga menjalar di sepanjang sisi tubuhnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah kanan.

Mata Yudi seketika membelalak lebar hingga urat-urat merah kecil di sudut matanya terlihat. Di sebelah tubuhnya, terbaring seorang gadis dengan rambut hitam pendek yang sangat ia kenal; Sona Sitri, Ketua OSIS Akademi Kuoh, salah satu dari Yondai Oujousama yang paling dihormati di sekolahnya. Sona tertidur lelap menghadap ke arahnya. Ia mengenakan sebuah kaus *T-shirt* putih polos berukuran besar yang tampak terlalu longgar untuk tubuh rampingnya. Kaus itu melorot hingga mengekspos sebagian bahu mulusnya, menyisakan pemandangan garis tulang selangka yang halus.

Napas Yudi tertahan di tenggorokan. Ia refleks menundukkan pandangannya untuk melihat keadaan dirinya sendiri. Tubuhnya bagian atas sama sekali tidak terbalut pakaian apa pun, memamerkan kulit dadanya yang mulus tanpa bekas luka. Di bagian bawah, ia hanya mengenakan sepotong celana *boxer* kain berwarna gelap.

Seketika itu juga, Yudi menarik tubuhnya ke belakang dengan gerakan kasar dan serabutan. Tubuhnya kehilangan keseimbangan di tepi sofa.

Gedebuk!

Yudi terjatuh menghantam lantai kayu dengan keras. Ia buru-buru merangkak mundur hingga punggungnya menabrak rak buku di belakangnya. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Jari-jarinya mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya, meluncur turun melewati pelipis.

"Tidak mungkin... tidak mungkin..." Suara Yudi bergetar hebat, keluar dari mulutnya dalam bentuk bisikan parau. Dadanya naik turun dengan cepat. Pandangannya bergerak liar mengitari ruangan sebelum kembali terpaku pada sosok gadis di atas sofa. Matanya melebar penuh kepanikan. Kedua tangannya meremas rambutnya semakin kuat. "Apa yang sudah kulakukan? Kenapa situasi semacam ini terjadi padaku? Apa... apa yang harus aku jelaskan pada komite kedisiplinan?!"

Suara benturan keras tadi mengusik ketenangan gadis di atas sofa.

"Kau... tidak perlu menjelaskan apa pun," gumam sebuah suara pelan, sedikit serak dan berat khas seseorang yang baru saja terbangun dari tidur yang panjang.

Leher Yudi bergerak menoleh dengan gerakan patah-patah bagai roda gigi berkarat ke arah sumber suara. Di atas sofa, Sona perlahan mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Ia mengangkat satu tangannya ke atas, menutup mulutnya saat menguap pelan. Kaus putih besar yang ia kenakan semakin melorot, memperlihatkan lebih banyak kulit di area bahu kirinya. Tangan kirinya bergerak mengucek-ngucek salah satu matanya dengan gerakan lambat.

Rambut hitam Sona tampak sedikit berantakan. Mata ungunya yang biasanya menatap tajam kini terlihat sayu dan setengah tertutup.

Pemandangan gadis yang terkenal sebagai iblis penegak kedisiplinan berwajah dingin itu kini berubah seratus delapan puluh derajat. Sikapnya yang lamban, rambutnya yang acak-acakan, dipadukan dengan baju yang kebesaran, menciptakan aura yang sangat tidak berdaya dan terlampau menggemaskan.

Yudi membeku di tempatnya. Tangan kanannya tiba-tiba terangkat ke udara dengan sendirinya. Jari-jarinya membuka dan menutup perlahan, seolah tubuhnya merespons dorongan impulsif untuk menyentuh dan menarik pipi gadis yang sedang mengantuk itu.

Namun, sedetik kemudian, mata Yudi terbelalak. Ia segera menarik tangannya kembali dan memukul punggung tangannya sendiri dengan telapak tangan kirinya hingga terdengar suara tamparan keras. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kepalanya menggeleng cepat dari kiri ke kanan berulang kali hingga rambutnya semakin berantakan. Napasnya ditarik dalam-dalam melalui hidung dan dihembuskan lewat mulut dengan paksa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!