Bab 1: Mati di Malam Hujan
Dingin itu seperti masuk lewat tulang yang retak.
Bu Yati menggigil di bawah hujan, satu tangan memegang payung rusak yang rangkanya sudah bengkok, satu tangan lagi menekan pinggangnya yang nyeri. Air menetes dari ujung jilbab lusuhnya, turun ke leher, merembes ke daster tipis yang sejak sore belum sempat kering.
Di depan rumah Guntur, pintu sudah tertutup rapat.
"Tur..." Suara Bu Yati hampir hilang ditelan suara hujan. "Tur, bukakan pintu, Nak. Ibu cuma mau numpang sebentar sampai hujannya reda."
Dari dalam, tadi masih ada suara televisi. Masih ada bayangan orang bergerak di balik gorden. Tapi setelah ia mengetuk, semua mendadak senyap.
Bu Yati menempelkan telapak tangannya ke pintu besi. Dingin. Licin. Tidak ada jawaban.
Ia mencoba mengetuk lagi, lebih pelan, karena takut tetangga mendengar. Sampai detik terakhir hidupnya, rasa malu itu masih menempel seperti kulit kedua. Malu kalau orang tahu anak bungsunya mengusir ibunya sendiri. Malu kalau orang tahu perempuan tua yang dulu membesarkan empat anak itu kini tidak punya tempat pulang.
"Tur, ini Ibu..."
Di dalam, suara kunci diputar sekali.
Bukan untuk membuka. Untuk mengunci lebih rapat.
Jari Bu Yati berhenti di udara.
Hujan menghantam payung rusak itu makin keras. Kain payungnya sobek di satu sisi, membuat air jatuh tepat ke bahu kirinya. Ia ingin marah, ingin memaki, ingin bertanya apakah susu yang ia beli waktu Guntur kecil dulu juga terasa sedingin ini saat lewat tenggorokan anak itu.
Tapi mulutnya hanya bergetar.
"Ya sudah," bisiknya, entah untuk siapa. "Ra popo."
Kata itu dulu selalu menyelamatkannya dari pertengkaran. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa kalau Pak Tono pulang membawa gaji kurang karena sebagian dititipkan untuk orang lain. Tidak apa-apa kalau Anto membawa istrinya pulang dan menguasai dapur. Tidak apa-apa kalau Bagus butuh uang lagi untuk urusan yang tidak pernah jelas. Tidak apa-apa kalau Tari harus mengalah karena ia anak perempuan.
Malam itu, kata ra popo terdengar seperti doa yang sudah busuk.
Bu Yati berjalan meninggalkan teras Guntur. Sandalnya menapak genangan. Setiap langkah membuat lututnya seperti digesek batu. Kampung Sumber tidak pernah benar-benar gelap, biasanya ada warung yang masih menyala, ada bapak-bapak di pos ronda, ada ibu-ibu yang pura-pura membeli garam sambil mencari kabar. Namun sepuluh hari sebelum Lebaran, hujan membuat semua orang mengunci rumah masing-masing.
Orang masih menyiapkan kue, baju baru, amplop untuk anak-anak.
Ia menyiapkan tubuhnya untuk bertahan satu malam lagi.
Rumah Darmanto tidak jauh. Dulu, rumah kecil itu dibeli dari uang muka yang sebagian besar berasal dari tabungan Bu Yati. Ia masih ingat hari ketika Anto datang dengan wajah kusut, berkata Watini malu kalau setelah menikah masih menumpang di rumah mertua. Bu Yati melepas gelang emas tipis satu-satunya, menambah sisa tabungan, lalu berkata pada dirinya sendiri bahwa anak pertama memang harus ditolong.
Sekarang lampu rumah itu menyala kuning dari balik jendela.
Bu Yati berdiri di depan pagar. Napasnya pendek-pendek.
"Anto," panggilnya. "Nak, ini Ibu."
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk pagar, bunyinya kecil, kalah oleh hujan. "Tin, Ibu tahu kamu ada di dalam. Ibu tidak minta makan. Cuma mau duduk di teras sampai subuh."
Lampu ruang tamu padam.
Bu Yati menatap gelap yang tiba-tiba itu.
Seketika dadanya kosong, seperti ada yang mencabut seluruh udara dari paru-parunya. Lebih sakit dari nyeri pinggang. Lebih tajam dari angin malam.
Mereka bukan tidak mendengar. Mereka memilih tidak mendengar.
Di balik pintu itu mungkin cucu lelakinya sedang tidur di kasur empuk. Anak kecil yang dulu ia gendong setiap kali Watini mengeluh lelah itu pernah pipis di pangkuannya, muntah di bajunya, menarik kerudungnya sambil tertawa. Bu Yati tidak pernah marah. Ia selalu berkata, "Namanya juga anak kecil."
Tapi ketika neneknya berdiri basah di luar pagar, tidak ada satu pun yang membuka pintu.
"Bu..."
Ia hampir mengira ada yang memanggil. Tapi itu hanya suara angin melewati celah seng.
Bu Yati memegang pagar sampai buku jarinya memutih. Ingin sekali ia menggedor keras, membuat seluruh kampung bangun, membuat semua orang tahu rumah yang dulu ia bantu bayar kini menolak tubuh tuanya. Tapi tubuhnya sudah terlalu lemah. Rasa malu yang tersisa juga terlalu tua untuk mati lebih dulu dari dirinya.
Ia mundur.
Payung rusak itu terbalik diterpa angin. Rangka besinya patah satu lagi, menusuk telapak tangan. Bu Yati mendesis. Darah kecil keluar, langsung dicuci hujan.
"Allah..." Ia menekan luka itu ke dada. "Aku salah apa sampai anak-anakku begini?"
Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban.
Bagus tinggal di ujung gang yang lebih terang. Dari tiga anak lelakinya, Bagus paling pandai bicara. Kalau butuh sesuatu, suaranya manis. "Ibu, cuma kali ini." "Ibu, nanti aku ganti." "Ibu, kalau usahaku jalan, Ibu yang pertama aku bahagiakan."
Bu Yati pernah percaya semua itu.
Percaya sampai uang arisan habis.
Percaya sampai kain batik baru untuk Lebaran ia batalkan.
Percaya sampai makan tempe sisa pun ia anggap cukup, asalkan anak-anaknya tidak merasa kurang.
Di depan rumah Bagus, pagar tidak terkunci. Bu Yati merasa harapan kecil menyala di dadanya. Ia mendorong pagar pelan, lalu berjalan ke teras.
"Gus..." Kali ini suaranya lebih parau. "Gus, Ibu kehujanan. Bukakan dulu."
Ada cahaya biru ponsel di balik jendela. Seseorang sedang memegang HP.
Bu Yati cepat-cepat mengeluarkan ponsel murah dari saku plastik yang ia ikat di pinggang. Layarnya retak, basah di pinggir. Tangannya gemetar saat membuka WhatsApp.
Pesan terakhir untuk Bagus masih centang dua biru.
Bu: Gus, Ibu di depan rumahmu.
Centang dua biru.
Tidak ada balasan.
Lalu lampu dalam rumah padam.
Bu Yati menatap layar itu lama. Air hujan jatuh di atas kaca ponsel, membuat tulisan menjadi kabur. Ia mengusapnya dengan ujung daster, tapi tangannya terlalu basah. Semua tetap buram.
Begitu juga hidupnya.
Satu per satu pintu anak lelakinya menutup, seolah ia bukan ibu, melainkan utang lama yang datang menagih saat semua orang ingin tidur.
Ia ingin teriak. Ingin menyebut nama mereka satu per satu. Darmanto. Bagus. Guntur. Anak-anak yang pernah demam di pangkuannya, pernah ia suapi bubur, pernah ia bela mati-matian dari omongan tetangga. Anak-anak yang karena mereka ia menelan semua hinaan Pak Tono, semua sindiran menantu, semua lapar yang ia sembunyikan dengan alasan sudah kenyang.
Tapi yang keluar hanya batuk.
Batuknya panjang, mengguncang dada. Bu Yati membungkuk, satu tangan memegang tiang teras Bagus. Tenggorokannya terasa pahit. Hujan makin rapat. Angin membawa bau got yang meluap dan tanah basah.
Ia tidak boleh mati di depan rumah Bagus, pikirnya samar. Nanti anak itu malu. Nanti orang-orang menyalahkan Bagus. Nanti ribut sebelum Lebaran.
Lihatlah, bahkan pada malam ketika ketiga anak lelakinya menolak membuka pintu, ia masih memikirkan malu mereka.
Bu Yati tertawa pelan. Suaranya pecah, lebih mirip tangis.
"Bodoh," bisiknya pada diri sendiri. "Yati, kamu ini bodoh sekali."
Ia menyeret kaki keluar dari teras. Payungnya sudah tidak berguna, ia biarkan tergantung di tangan seperti bangkai burung patah. Gang kecil menuju rumah tua lamanya gelap dan licin. Rumah tua itu pun sebenarnya sudah bukan tempat pulang. Setelah Pak Tono meninggal, anak-anak berkata lebih baik rumah itu dijual saja untuk membantu biaya keluarga. Biaya keluarga siapa, Bu Yati tidak pernah berani bertanya.
Yang ia tahu, setelah semua dibagi, ia justru berpindah dari satu rumah anak ke rumah anak lain, seperti barang titipan yang membuat semua orang repot.
Sore tadi, Guntur akhirnya mengeluarkan kalimat itu.
"Ibu jangan di sini terus. Istri saya nggak nyaman. Ibu kan masih punya anak lain."
Masih punya anak lain.
Kalimat itu mendorongnya ke jalan seperti sapu mendorong debu.
Bu Yati berjalan tanpa arah. Di ujung gang, ada tembok tua di samping rumah kosong. Dulu di sana sering dipakai anak-anak bermain petasan menjelang Lebaran. Sekarang hanya ada lumut, sampah plastik, dan genangan air kecokelatan.
Kakinya terpeleset.
Tubuhnya jatuh ke samping. Kepala bagian kanannya menghantam sudut tembok.
Dunia meledak putih sesaat.
Lalu hitam.
Bu Yati tersungkur di genangan. Rasa sakit datang terlambat, seperti api kecil yang menyala di bawah kulit kepala. Ada sesuatu hangat mengalir dari pelipisnya, bercampur hujan, turun melewati pipi. Ia mencoba mengangkat tangan, tapi jari-jarinya kaku.
"Tolong..." Bibirnya bergerak. Suaranya tidak keluar.
Tidak ada yang datang.
Hujan terus turun. Dari kejauhan, terdengar adzan Isya yang terlambat dari musholla kecil, pecah oleh angin dan gemuruh air. Bu Yati ingin menjawab dalam hati, tapi pikirannya mulai berantakan.
Wajah Pak Tono muncul lebih dulu. Hartono muda, tersenyum di hari pernikahan, berkata ia akan menjaga Yati seumur hidup. Bu Yati dulu percaya. Ia percaya saat Pak Tono membawa pulang gaji pertama dan menyerahkannya separuh. Ia percaya saat ia melahirkan Anto, lalu Bagus, lalu Tari, lalu Tur. Ia percaya bahkan ketika separuh gaji itu makin lama makin sedikit dan alasan Pak Tono makin banyak.
"Jangan ribut, Bu'e. Aku cuma bantu orang."
Orang itu seorang janda yang selalu dibela Pak Tono. Perempuan lain bisa memakai batik baru, sementara Bu Yati menambal daster di bagian ketiak.
Wajah Anto muncul setelah itu. Anak pertama yang dulu menangis kalau ia tinggal sebentar ke pasar. Kini pintunya padam begitu mendengar suara ibunya.
Bagus, anak yang paling pintar memeluk kalau butuh uang. Guntur, si bungsu yang dulu ia manja karena lahir saat ia sudah lelah. Semua tumbuh dari tubuhnya, dari nasi yang ia kurangi untuk dirinya sendiri, dari tidur yang ia potong, dari doa yang ia panjatkan setelah sholat.
Lalu wajah Tari.
Begitu wajah itu muncul, air mata Bu Yati langsung mengalir tanpa suara.
Tari adalah anak yang paling jarang meminta. Waktu kecil, kalau kakak-kakaknya berebut lauk ayam, Tari mengambil tempe paling kecil lalu berkata, "Aku suka ini, Mak." Ketika sekolahnya harus berhenti karena uang tidak cukup, Tari menunduk dan berkata, "Nggak apa-apa, Mak. Tari bisa bantu."
Anak perempuan itu selalu bilang tidak apa-apa.
Sama seperti ibunya.
Dan karena Bu Yati terlalu lama percaya bahwa tidak apa-apa adalah bentuk sabar, Tari ikut dikorbankan. Dikirim ke Desa Karanganyar dengan alasan kerja, lalu terjebak pada laki-laki kasar yang mengikatnya dengan ancaman dan rasa malu. Bu Yati masih ingat kabar yang datang bertahun-tahun lalu. Tari meninggal saat melahirkan. Bayinya tidak selamat. Tidak ada suami yang benar-benar menangis. Tidak ada keluarga yang mengaku salah.
Hari itu Bu Yati tidak pingsan. Ia memasak nasi seperti biasa, menyajikan makan untuk anak-anak lelaki yang bahkan tidak bertanya apakah ia masih sanggup berdiri.
Sekarang, di bawah hujan, penyesalan itu datang menindih dadanya.
Tari, Nduk...
Kalau dulu Ibu berani sedikit saja.
Kalau dulu Ibu tidak takut pada Pak Tono.
Kalau dulu Ibu tidak menganggap anak perempuan harus selalu mengalah.
Jari Bu Yati bergerak sedikit di atas tanah basah. Ia seperti ingin meraih sesuatu. Mungkin tangan Tari. Mungkin masa lalu. Mungkin pintu yang tidak pernah terbuka.
Dingin makin dalam. Bukan lagi di kulit, tapi di dada. Napasnya tersangkut, pendek dan kasar. Ia mendengar suara langkah di kejauhan, tapi mungkin hanya hujan yang menipu telinga.
Di langit, petir menyambar, membuat gang sempit itu terang sesaat.
Dalam terang yang sangat pendek itu, Bu Yati melihat payung rusaknya tergeletak tidak jauh dari tangannya. Kainnya robek. Rangkanya patah. Mirip hidupnya, dipakai semua orang sampai rusak, lalu dibiarkan di tanah ketika tidak bisa lagi melindungi siapa pun.
Sesuatu yang panas tumbuh di balik dingin.
Bukan demam.
Bukan takut.
Marah.
Marah yang terlambat lima puluh tahun.
Bu Yati menggertakkan gigi, tapi rahangnya hampir tidak kuat bergerak. Air mata, darah, dan hujan bercampur di wajahnya. Ia tidak tahu apakah Allah masih memberi kesempatan pada perempuan setua dirinya untuk meminta sesuatu yang mustahil.
Tapi pada napas yang hampir putus itu, ia tetap memohon.
Kalau bisa ulang...
Aku nggak mau jadi orang baik lagi.
Aku nggak mau jadi ibu yang diam saja saat anak sendiri menginjak kepala.
Aku nggak mau membiarkan Tari mati.
Aku nggak mau takut pada pintu yang tertutup.
Bu Yati menarik napas sekali lagi. Udara masuk sedikit, tajam, lalu hilang. Suara hujan menjauh. Sakit di kepala pun pelan-pelan padam.
Kampung Sumber tenggelam dalam gelap.
Sepuluh hari sebelum Lebaran, Maryati mati sendirian di ujung gang, dengan tangan dingin terbuka ke arah payung rusak yang tak lagi bisa ia genggam.
Lalu semua menjadi hitam.
Dalam hitam itu, sesuatu tiba-tiba membakar pipinya.
Sebuah tamparan.
Bab 2: Lahir Kembali
Pipi Bu Yati terbakar.
Rasa panas itu begitu nyata sampai ia mengira neraka memang dimulai dari wajah sendiri. Kepala yang tadi pecah di ujung gang terasa berdenyut, tetapi kini bukan hujan yang membasahi kulitnya. Bukan tanah becek yang menempel di punggungnya.
Ia duduk di lantai ruang tengah rumah Pak Tono.
Di depannya, Watini berdiri dengan napas memburu. Tangannya masih terangkat, jari-jarinya merah setelah menampar wajah mertua sendiri.
"Ibu jangan pura-pura lemah!" bentak Watini. "Dari tadi diajak bicara baik-baik malah diam. Kalau memang kerja tetap itu mau dikasih ke Gus, ya kasih kompensasi ke Mas Anto!"
Bu Yati menatap perempuan itu.
Jantungnya berhenti sesaat, lalu berdetak terlalu keras.
Watini masih muda. Wajahnya belum kusam oleh kesusahan, perutnya belum buncit oleh kehamilan berikutnya yang kelak tidak sempat lahir. Anto berdiri di sampingnya dengan muka kesal, rambut masih hitam tebal. Bagus bersandar dekat pintu kamar, matanya licin seperti orang yang sudah menghitung untung rugi sebelum orang lain selesai bicara.
Dan di kursi rotan dekat meja, Pak Tono duduk sambil memegang gelas teh.
Hidup.
Hartono masih hidup.
Bu Yati menahan napas. Ruang tengah sempit itu berputar. Kalender lama di dinding menunjukkan tahun yang mustahil. Di rak televisi, ada foto keluarga yang dulu sudah lama dibuang setelah rumah tua dijual. Suara tukang sayur terdengar dari gang, bercampur adzan Dhuha dari musholla kecil.
Ini bukan malam hujan.
Ini pagi.
Pagi bertahun-tahun sebelum ia mati.
Pagi ketika Watini pernah menamparnya karena rebutan jatah kerja tetap.
Bu Yati menunduk melihat tangannya sendiri. Kulitnya masih keriput, tapi belum sekering malam kematian itu. Jari-jarinya masih kuat. Tidak ada darah di pelipis. Tidak ada lumpur. Hanya bekas tamparan di pipi yang panasnya merayap sampai ke telinga.
Ia kembali.
Allah memberinya ulang.
Untuk beberapa detik, seluruh suara di rumah itu menjauh. Yang terdengar hanya hujan dari masa depan, pintu yang dikunci Guntur, lampu rumah Anto yang padam, centang biru dari Bagus, dan nama Tari yang pecah di dalam dada.
Tari masih hidup.
Istri Bagus juga masih hidup.
Pak Tono belum mati.
Semua belum terlambat.
"Bu!" suara Anto memotong pikirannya. "Jangan diam saja. Tin benar. Kalau lowongan kerja tetap di PT Sandang Jaya itu Ibu kasih ke Gus, aku sebagai anak pertama dapat apa?"
Bu Yati mengangkat wajah pelan.
Anak pertama.
Dulu kata itu cukup untuk membuatnya mengalah. Anak pertama harus dibantu. Anak lelaki harus diutamakan. Anak perempuan jangan banyak berharap. Ibu harus nrimo, karena kalau ibu tidak mengalah, rumah akan ribut.
Sekarang kata itu hanya terdengar seperti ember kosong dipukul di telinganya.
"Kamu minta apa?" tanya Bu Yati.
Suaranya serak. Terlalu tenang.
Watini menyilangkan tangan. "Dua juta rupiah. Murah itu, Bu. Kerja tetap gajinya bisa empat juta sebulan. Kalau Gus yang dapat, masa Mas Anto nggak dapat bagian?"
Bagus langsung meluruskan badan. "Lho, Mbak Tin. Kok bawa-bawa aku? Ibu memang dari awal bilang lowongan itu buat aku."
"Makanya kamu enak!" Watini menoleh tajam. "Kamu belum punya tanggungan sebesar Mas Anto. Kami punya anak."
"Aku juga punya anak," balas Bagus, mulai panas. "Anakku juga masih kecil."
"Anak perempuan," cibir Watini.
Kalimat itu menampar bagian lain dari hati Bu Yati.
Anak perempuan.
Di kepalanya muncul wajah Tari kecil yang tersenyum sambil mengambil potongan tempe paling kecil. Muncul juga tubuh Tari yang tidak sempat ia lihat terakhir kali, hanya kabar dingin dari kampung bahwa anaknya mati saat melahirkan.
Tangan Bu Yati mengepal di pangkuan.
Pak Tono meletakkan gelas dengan suara pelan. "Sudah, sudah. Jangan ribut pagi-pagi. Tetangga bisa dengar."
Watini langsung menunjuk pipi Bu Yati. "Tadi Ibu yang bikin saya emosi, Pak. Saya ini cuma menantu. Dari pagi saya bicara baik-baik, tapi Ibu diam saja. Kalau Ibu adil, saya juga nggak akan sampai lepas tangan."
Lepas tangan.
Tamparan pada ibu mertua disebut lepas tangan, seolah tangannya tersandung angin.
Pak Tono menghela napas, bukan pada Watini, melainkan pada Bu Yati. "Bu'e, kamu juga. Kenapa diam saja dari tadi? Bicarakan yang enak. Kalau Anto dan Tin merasa kurang adil, ya kita cari jalan tengah."
Bu Yati menatap laki-laki itu lama.
Wajah yang sama. Nada yang sama. Gelas teh di tangan yang sama. Selama puluhan tahun, Hartono selalu berdiri di tengah, tapi tubuhnya condong ke orang yang paling keras bersuara. Kalau Bu Yati menangis, ia menyuruh diam. Kalau anak-anak menuntut, ia menyuruh Bu Yati mengalah.
"Jalan tengah apa?" tanya Bu Yati.
Pak Tono tampak lega karena istrinya akhirnya bicara. "Begini. Lowongan kerja itu tetap kasih ke Gus dulu. Untuk Anto, kita kasih uang dua juta sedikit-sedikit. Kalau belum cukup, kamu bantu-bantu dulu di rumah Pak Wiro. Bu Yem katanya butuh orang bantu masak dan cuci karena mereka mau ada acara keluarga. Anggap saja bentuk baik kita sebagai besan."
Ruang tengah mendadak sunyi.
Watini mengangkat dagu, jelas puas. Anto membuang napas, seperti merasa keputusan itu wajar. Bagus menunduk, menyembunyikan senyum tipis.
Bu Yati hanya menatap suaminya.
Dulu, pada pagi yang sama, ia menelan kalimat itu. Ia pergi ke rumah keluarga Watini tiga hari berturut-turut, mencuci piring, menyapu halaman, mengulek bumbu, mendengar Bu Yem menyebutnya mertua tidak tahu diri. Setelah itu, uang dua juta tetap keluar dari tabungan yang seharusnya ia simpan untuk Tari.
Uang untuk Tari.
Uang yang dulu ia niatkan sebagai bekal kecil kalau anak perempuannya menikah baik-baik atau mencari kerja di kota.
Uang itu habis untuk menutup mulut Anto.
Dan Tari mati.
Panas di pipi Bu Yati pelan-pelan turun ke dada, lalu berubah menjadi bara.
"Pak Tono," katanya.
Pak Tono mengerutkan kening. Biasanya Bu Yati memanggilnya Pak'e. Bukan Pak Tono.
"Kalau rumah Pak Wiro butuh orang masak dan cuci," lanjut Bu Yati, "kenapa bukan kamu yang pergi?"
Anto melongo. Bagus menoleh cepat. Watini menurunkan tangan dari dada.
Pak Tono seperti salah dengar. "Apa?"
"Kamu kan besan juga." Bu Yati bangkit dari lantai. Lututnya berdenyut, tapi tubuhnya berdiri tegak. "Kamu laki-laki, tenagamu lebih kuat. Pergilah. Cuci piring di sana. Sapu halaman di sana. Kalau Bu Yem minta dipijat, pijat sekalian."
"Maryati!" Pak Tono memerah.
Bu Yati tersenyum tipis. "Malu?"
"Kamu bicara apa ini?"
"Aku tanya, malu?" Suara Bu Yati makin jelas. "Kalau kamu malu disuruh jadi pembantu di rumah besan, kenapa mulutmu ringan sekali menyuruh istrimu pergi?"
Watini maju setengah langkah. "Bu, jangan kasar sama Bapak. Kita ini bicara baik-baik."
Bu Yati menoleh padanya. "Baik-baik?"
Ia menyentuh pipinya sendiri.
"Ini tanganmu, kan?"
Watini sempat gentar, tapi cepat membusungkan dada. "Saya menantu, tapi saya juga manusia. Kalau disudutkan terus, siapa yang nggak emosi?"
"Kamu manusia," ulang Bu Yati pelan. "Aku apa? Keset?"
"Ibu jangan membesar-besarkan. Cuma tamparan sekali."
Cuma.
Kata itu mematahkan sisa kesabaran Bu Yati.
Ia melangkah maju.
Watini belum sempat mundur ketika telapak tangan Bu Yati menghantam pipinya.
Plak!
Suara itu meledak di ruang tengah.
Watini terhuyung, memegang wajahnya dengan mata membelalak. Anto refleks maju. "Ibu!"
Plak!
Tamparan kedua mendarat di pipi Anto.
Anak sulung itu membeku.
Bu Yati tidak berhenti. Ia menarik kerah baju Anto, menatap mata anak yang dulu pernah ia gendong sambil menahan demam semalaman.
"Kamu mau dua juta?" tanyanya.
"Bu, lepas!"
Plak!
"Uang itu buat Tari."
Plak!
"Adik perempuanmu."
Plak!
"Yang kamu anggap rugi karena dia lahir bukan laki-laki."
Anto mencoba menangkis, tapi Bu Yati lebih cepat. Bukan karena tubuhnya lebih muda. Bukan karena ia tiba-tiba kuat seperti pendekar. Tapi karena kemarahan puluhan tahun membuat tangannya tidak lagi gemetar.
"Ibu sudah tua, ya?" Bu Yati mendorong dada Anto dengan satu tangan. "Makanya gampang kalian hitung. Gampang kalian suruh kerja. Gampang kalian minta uang."
Plak!
Anto mundur selangkah. Watini menjerit, tapi tidak berani mendekat.
"Dua juta itu kamu sebut kompensasi." Bu Yati menampar lagi, membuat wajah Anto menoleh ke samping. "Padahal itu uang yang kusimpan buat adikmu. Buat Tari kalau suatu hari dia butuh ongkos pulang, butuh baju layak, butuh pegangan agar tidak bergantung pada laki-laki sembarangan."
"Bu, aku nggak tahu!" Anto berusaha bicara.
"Kamu memang tidak pernah mau tahu."
Plak!
"Yang kamu tahu cuma bagianmu. Hakmu. Urutanmu sebagai anak pertama."
Plak!
"Saat adikmu disuruh mengalah, kamu diam. Saat istrimu menampar ibumu, kamu juga diam. Tapi saat uang tidak masuk ke tanganmu, mendadak kamu paling lantang."
Wajah Anto merah bercampur malu. Untuk pertama kalinya sejak ia menikah, ia tidak bisa memakai tubuh Watini sebagai tameng. Semua kalimat ibunya mendarat tepat di depan Pak Tono dan Bagus.
Pak Tono berdiri panik. "Bu'e, sudah! Kamu kesetanan apa?"
Bu Yati menoleh, matanya merah. "Aku baru sadar."
Kata itu membuat Pak Tono diam sesaat.
"Sadar kalau selama ini aku yang kesetanan karena terus menganggap kalian keluarga."
Bagus menelan ludah.
Watini menjerit, "Mas Anto, lihat ibumu! Dia mukul kamu!"
Anto yang pipinya merah langsung terdorong oleh suara istrinya. Ia mengangkat tangan, mungkin hendak menahan Bu Yati, mungkin hendak mendorongnya.
Bu Yati melihat gerakan itu.
Dalam ingatannya, tangan anak-anak lelaki itu kelak tidak membuka pintu. Tangan mereka kelak menghitung uang hasil rumah tua. Tangan mereka kelak menunjuk saudara lain saat ditanya siapa yang mau merawat ibu.
Sekarang tangan itu berani terangkat di depannya.
Bu Yati menangkap pergelangan Anto, lalu mendorongnya keras ke arah Watini. Pasangan itu jatuh bertabrakan ke kursi bambu. Kursi berderit. Gelas teh Pak Tono tumpah ke lantai.
"Ya Allah!" Pak Tono berteriak.
Bagus cepat mundur sampai punggungnya menempel ke lemari.
Bu Yati membungkuk, meraih rambut Watini.
"Aduh! Lepas, Bu! Sakit!"
"Sakit?" Bu Yati menariknya bangun. "Saat kamu menampar ibu mertua, kamu kira rasanya seperti dielus?"
Watini menjerit memanggil Anto. Anto berusaha bangun, tapi Bu Yati menendang kaki kursi hingga menghalangi jalannya. Semua terjadi begitu cepat sampai Pak Tono hanya bisa berputar-putar seperti ayam kehilangan arah.
"Bu'e, jangan bikin malu!" katanya.
Bu Yati menyeret Watini ke arah pintu.
"Justru hari ini aku mau semua orang lihat."
"Bu!" Bagus akhirnya bersuara. "Kalau ribut sampai luar, satu RT tahu!"
Bu Yati berhenti di ambang pintu, menoleh pada anak keduanya.
"Bagus. Kamu diam kalau masih mau gigimu utuh."
Bagus langsung mengatupkan mulut.
Watini mencakar tangan Bu Yati, tapi cengkeraman perempuan tua itu seperti besi. Pintu depan dibuka. Cahaya pagi masuk bersama bau gorengan dari warung ujung gang. Di seberang rumah, dua ibu-ibu yang sedang membeli sayur berhenti mengobrol. Seorang anak kecil di dekat pos ronda ikut menoleh.
Bu Yati menarik napas.
Inilah pintu yang dulu selalu ia jaga agar aib keluarga tidak keluar.
Hari ini, ia sendiri yang membukanya.
"Mau semua orang lihat?" katanya tepat di telinga Watini. "Ayo. Kita tunjukkan siapa yang berani pukul mertua."
Lalu Bu Yati menyeret Watini keluar.
Di depan gang Kampung Sumber, ibu-ibu yang tadi hanya melirik mulai mendekat. Satu orang mengangkat HP. Yang lain menutup mulut, matanya membesar.
Pintu rumah Pak Tono terbuka lebar.
Dan seluruh kampung melihat Bu Yati berdiri dengan satu tangan mencengkeram rambut Watini.
Bab 3: Ke Rumah Mertua
Dan seluruh kampung melihat Bu Yati berdiri dengan satu tangan mencengkeram rambut Watini.
Pagi yang semula biasa saja langsung pecah seperti piring jatuh.
Ibu-ibu yang tadi membeli bayam berhenti di tengah jalan. Tukang sayur mematikan suara klakson kecilnya. Dari warung depan gang, dua orang keluar sambil mengelap tangan ke celemek. Mata mereka membesar melihat Watini, menantu yang biasanya paling nyaring bicara, kini setengah terseret dengan rambut dalam genggaman ibu mertuanya.
"Bu Yati?" salah satu tetangga berseru ragu. "Ya Allah, ada apa ini?"
Watini menutup wajah dengan kedua tangan. "Lihat, Bu! Ibu mertuaku gila! Aku dipukul!"
Bu Yati menarik rambutnya sedikit lebih kuat. Watini langsung meringis.
"Tadi waktu tanganmu menampar pipiku, kamu tidak teriak gila," kata Bu Yati lantang. "Sekarang baru malu?"
Suara itu cukup keras untuk membuat pintu-pintu rumah lain terbuka.
Anto keluar tergesa, pipinya merah sebelah. Pak Tono berdiri di belakangnya dengan wajah pucat. Bagus tidak ikut mendekat. Ia hanya muncul di ambang pintu, matanya menghitung jumlah tetangga yang mulai berkumpul.
"Bu'e, masuk dulu," desis Pak Tono. "Jangan bikin tontonan."
Bu Yati menoleh pelan. "Tontonan? Waktu istrimu disuruh jadi pembantu di rumah besan, itu bukan tontonan? Waktu menantumu menampar ibu mertua di dalam rumah, itu bukan aib?"
Beberapa ibu langsung saling pandang.
"Menantu mukul mertua?"
"Serius?"
"Kok bisa?"
Satu ponsel terangkat. Lalu satu lagi. Dalam hitungan detik, kamera-kamera kecil itu seperti mata baru yang tidak bisa dipaksa tutup.
Watini makin panik. "Jangan rekam! Jangan rekam!"
"Rekam saja," ujar Bu Yati. "Biar kalau nanti ada yang memutar cerita, videonya sudah ada."
Kalimat itu membuat Watini terdiam.
Dulu Bu Yati takut sekali pada omongan tetangga. Ia menyapu halaman lebih pagi agar tidak disebut malas. Ia menahan lapar agar anak-anak tetap terlihat terurus. Ia tersenyum pada orang yang menyindir, karena Pak Tono selalu berkata keluarga baik-baik tidak membuka aib.
Hari ini, aib itu ia angkat sendiri ke tengah gang.
"Jalan," perintah Bu Yati.
"Ke mana?" Watini menangis kesal.
"Ke rumah orang tuamu."
Wajah Watini berubah. "Apa?"
"Katanya ibumu butuh orang bantu masak dan cuci. Katanya bapakmu keluarga terhormat. Ayo. Kita tanya langsung, menantu seperti apa yang mereka ajari sampai berani memukul ibu mertuanya."
Anto langsung maju. "Bu, jangan ke sana. Ini urusan rumah kita."
Bu Yati menatapnya. "Kamu baru ingat ini rumah kita setelah istrimu mau kuantar pulang?"
Anto tercekat.
Pak Tono mencoba meraih lengan Bu Yati, tapi ia menepis tangan itu. "Kalau kamu malu, tutup saja mukamu pakai sarung. Aku tidak malu lagi."
Mereka berjalan melewati gang.
Bukan berjalan sebenarnya. Watini terseret, kadang tersandung sandal sendiri, kadang memaki pelan, kadang memohon pada Anto agar menolong. Anto mengikuti dengan wajah kusut. Pak Tono berjalan di belakang sambil berkali-kali meminta tetangga bubar, tetapi tidak ada yang benar-benar pergi. Beberapa ibu-ibu mengikuti dari jarak aman. Ada yang mengirim voice note ke grup RT. Ada yang mengetik cepat di WhatsApp arisan.
Kabar di Kampung Sumber bergerak lebih cepat daripada angin.
Saat mereka tiba di rumah orang tua Watini, halaman depan sudah ada beberapa tamu. Sebuah motor matic baru terparkir rapi. Di ruang tamu, tampak keluarga lain sedang duduk, mungkin membicarakan perjodohan adik laki-laki Watini. Ada piring kue kering di meja, gelas teh manis, dan senyum sopan yang langsung beku saat Bu Yati masuk ke halaman sambil menyeret anak perempuan tuan rumah.
Ibu Watini keluar lebih dulu.
"Astaghfirullah! Tin!" jeritnya. "Apa-apaan ini, Bu Yati? Lepaskan anak saya!"
Bu Yati melepaskan rambut Watini begitu saja. Watini jatuh terduduk di ubin teras.
Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi, Bu Yati menepuk dadanya sendiri lalu menangis keras.
Tangisnya pecah, panjang, menyayat, sampai semua orang yang tadi siap memarahinya justru mundur setengah langkah.
"Ya Allah, lihatlah nasibku!" ratap Bu Yati sambil duduk di teras. "Aku membesarkan anak lelaki sampai besar, menikahkan dia baik-baik, tapi apa balasannya? Menantuku menampar aku di rumahku sendiri!"
Ibu Watini kaget. "Jangan sembarangan bicara!"
"Sembarangan?" Bu Yati mengangkat wajah, air matanya masih jatuh, tapi matanya tajam. "Pipiku masih panas. Kalau tidak percaya, tanya tetangga. Banyak yang lihat aku keluar setelah dipukul. Videonya juga ada."
Ibu-ibu yang mengikuti dari Kampung Sumber langsung mengangguk-angguk.
"Saya lihat sendiri Bu Yati keluar sambil pipinya merah."
"Mbak Tin juga teriak jangan direkam."
"Kalau tidak salah, ada urusan kerja tetap itu."
Wajah ibu Watini berubah merah. Ia menoleh ke anaknya. "Tin?"
Watini menangis. "Mak, aku cuma emosi. Ibu itu tidak adil. Lowongan kerja dikasih ke Gus, Mas Anto tidak dapat apa-apa."
Ayah Watini keluar dari ruang tamu. Laki-laki itu berusaha terlihat tenang, tetapi matanya gelisah melihat tamu-tamu yang mulai berdiri.
"Bu Yati," katanya dengan suara ditahan. "Masuk dulu. Jangan ribut di depan orang."
Bu Yati memukul lantai teras dengan telapak tangan.
"Justru di depan orang aku mau bicara. Anak perempuanmu memukul aku. Suamiku malah menyuruh aku datang ke rumah ini untuk masak dan cuci sebagai ganti dua juta rupiah. Aku ini ibu mertua atau pembantu gratis?"
Tamu perempuan di ruang tamu saling pandang. Salah satunya, perempuan berkerudung krem yang duduk paling dekat pintu, menatap adik laki-laki Watini dengan ragu.
Bu Yati melihat itu.
Ia mengusap air mata, lalu menatap pemuda itu dari kepala sampai kaki. Dalam ingatannya, laki-laki itu kelak membuat banyak masalah. Tabiatnya kasar, mulutnya manis hanya saat ada calon mertua. Bu Yati tidak perlu menyebut masa depan. Cukup menusuk bagian yang sekarang terlihat.
"Dan kamu," katanya pada adik Watini. "Kalau keluargamu menganggap perempuan tua bisa disuruh-suruh dan ditampar, bagaimana nanti kamu memperlakukan istrimu? Baru calon saja sudah duduk seperti raja, teh diambilkan, kue disodorkan. Jangan-jangan setelah menikah, perempuan juga kamu anggap barang rumah."
Pemuda itu berdiri tersinggung. "Lho, kok saya dibawa-bawa?"
Perempuan berkerudung krem langsung menunduk. Ibunya berbisik sesuatu, lalu berdiri dengan wajah kaku.
"Sepertinya kami pulang dulu," kata sang ibu. "Urusan keluarga ini... kami tidak enak ikut mendengar."
Ayah Watini tercekat. "Lho, Bu, tunggu dulu. Ini salah paham."
Namun keluarga tamu itu sudah berjalan keluar. Pemuda tadi ingin mengejar, tetapi ibunya sendiri menahan lengannya dengan tajam.
Wajah ibu Watini berubah makin buruk.
"Bu Yati!" bentaknya. "Kamu sengaja merusak acara anak saya?"
Bu Yati berhenti menangis. Tangisnya hilang secepat kompor dimatikan.
"Anakmu merusak wajahku dulu."
Anto yang sejak tadi diam akhirnya bersuara lemah, "Mak, sudah. Kita pulang saja."
Watini menoleh padanya, marah. "Pulang? Setelah aku dipermalukan begini?"
Ibu Watini menunjuk Anto. "Kalau keluargamu memang tidak bisa menghargai anak saya, lebih baik cerai saja! Anak saya masih bisa hidup tanpa kamu."
Pak Tono langsung panik. "Jangan sampai begitu. Kita keluarga. Jangan bicara cerai."
Bu Yati tertawa pendek.
Semua orang menoleh.
"Cerai?" Ia berdiri pelan. "Silakan."
Watini membeku.
Anto seperti kehilangan tulang.
Pak Tono melotot. "Bu'e!"
Bu Yati tidak memedulikannya. "Kalau anak perempuanmu mau cerai, bawa pulang. Aku malah lega. Tapi sebelum itu, tamparan tadi harus dibayar."
Ayah Watini menyipit. "Maksudnya?"
"Ganti rugi."
"Berapa?"
"Delapan juta rupiah."
Halaman langsung riuh.
"Delapan juta?"
"Bu Yati, itu kebanyakan."
"Tamparan kok mahal amat."
Bu Yati menoleh pada para ibu yang berbisik. "Murah. Kalau aku lapor ke Polres, visum, pakai UU PKDRT, urusannya bisa lebih mahal. Belum lagi video ini masuk grup RT, grup arisan, sampai saudara-saudara mereka tahu anak perempuan rumah ini memukul mertua."
Ayah Watini menelan ludah. Ibu Watini masih ingin memaki, tapi suaminya mengangkat tangan memberi isyarat diam.
Orang seperti mereka paling takut bukan pada salah, melainkan pada malu yang menyebar.
"Empat juta," kata ayah Watini akhirnya. "Saya kasih empat juta. Selesai sampai sini."
Bu Yati menggeleng. "Empat juta uang, satu informasi kerja."
"Kerja apa lagi?"
"Aku dengar keluarga kalian punya kenalan di mal. Ada toko pakaian yang butuh pegawai perempuan lulusan SMA. Beri alamat dan nomor kontaknya."
Watini mendongak curiga. "Buat siapa?"
"Bukan urusanmu."
Tentu saja untuk Tari.
Uang di tangan, jalan kerja di depan mata. Kali ini anak perempuannya tidak akan dibiarkan tenggelam di kampung orang.
Perundingan berlangsung alot hampir satu jam. Ibu Watini berkali-kali mengumpat, Watini menangis seolah ia korban terbesar, Anto hanya berdiri seperti suami tanpa suara. Pak Tono beberapa kali mencoba menurunkan angka, tetapi setiap kali ia bicara, Bu Yati menatapnya sampai ia diam sendiri.
Akhirnya sebuah amplop cokelat dikeluarkan dari lemari. Empat juta rupiah dihitung di atas meja teras, lembar demi lembar. Setelah itu, ayah Watini menulis alamat toko di sebuah pusat perbelanjaan kecil Cirebon dan nomor pemiliknya di kertas sobekan kalender.
Bu Yati menghitung uang itu dua kali.
Lalu ia memasukkannya ke dalam tas kain lusuh yang ia bawa dari rumah.
"Mulai hari ini," katanya pada Watini, "kalau tanganmu gatal mau menampar orang tua, ingat harga satu tamparanmu."
Ibu Watini mendorong Anto dan Watini ke arah jalan. "Pergi! Gara-gara kalian, acara adikmu bubar!"
Watini menangis makin keras. Anto ikut terseret, kali ini bukan oleh Bu Yati, melainkan oleh kemarahan keluarganya sendiri.
"Mak, aku ini anakmu!" Watini memekik.
"Justru karena kamu anakku, aku malu!" balas ibunya. "Apa kurang ajarku mengajarimu sampai kamu berani mengangkat tangan ke mertua? Kamu pikir orang-orang akan menyalahkan siapa? Mereka akan bilang rumah ini tidak bisa mendidik anak perempuan!"
Ayah Watini juga tidak lagi memakai suara halus. Ia menunjuk Anto tepat di dada.
"Dan kamu. Laki-laki macam apa membiarkan istrimu bikin rusuh sampai calon besan adik iparmu kabur? Kamu mau uang dua juta, kan? Lihat sekarang. Uang empat juta keluar dari lemari saya karena kalian berdua tidak bisa menahan mulut dan tangan."
Anto menunduk, wajahnya makin merah. "Pak, saya..."
"Jangan panggil saya Pak kalau cuma mau bawa rugi."
Kalimat itu membuat ibu-ibu yang menonton berdesis pelan. Watini yang tadi masih berani menangis mendadak terisak tanpa suara. Selama ini ia selalu pulang ke rumah orang tuanya dengan dada tegak, yakin keluarganya akan membela apa pun yang ia lakukan. Hari ini, untuk pertama kalinya, pintu rumah itu juga terasa seperti menolaknya.
Bu Yati melihat pemandangan itu tanpa berkedip.
Dulu ia yang selalu dipojokkan dua keluarga sekaligus. Hari ini, Anto dan Watini berdiri di tengah halaman seperti anak kecil yang ketahuan mencuri uang warung.
Rasanya tidak manis.
Rasanya panas, tajam, dan membuat napasnya lebih lega.
Bu Yati berjalan pulang tanpa menoleh. Di belakangnya, ibu-ibu masih berbisik. Beberapa menatapnya dengan takut, beberapa dengan kagum. Bu Yati tidak peduli.
Di ujung gang, ia berhenti di bawah pohon mangga kecil. Tangannya meraba tas kain, memastikan amplop itu masih ada. Empat juta rupiah. Satu alamat kerja. Dua benda yang dulu tidak ia pertahankan, kini terasa seperti nyawa baru untuk Tari.
Ponsel murahnya bergetar.
Bu Yati mengeluarkannya.
Di layar retak itu, nama Tari muncul.
Pesan WhatsApp baru masuk.
Mama, aku mau nikah sama dia. Nggak apa-apa kan?
Jari Bu Yati langsung dingin.
Amplop empat juta di tasnya terasa mendadak berat seperti batu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!