Malam itu, Dira diseret tanpa belas kasihan oleh ayah kandungnya menyusuri gang-gang gelap yang dipenuhi lampu remang. Tangis dan jeritannya tak mampu meluluhkan hati pria yang seharusnya menjadi pelindungnya.
Bagi lelaki itu, Dira bukanlah seorang anak. Ia hanyalah barang yang bisa ditukar demi sebotol minuman keras.
Sang ayah telah lama tenggelam dalam kecanduan alkohol. Demi memuaskan hasratnya, ia tak lagi mengenal rasa malu, kasih sayang, ataupun kemanusiaan. Malam itu, ia membawa putrinya menuju sebuah rumah bordil, berniat menyerahkannya sebagai pembayaran agar bisa kembali menenggak minuman yang telah menghancurkan hidupnya.
"Ayah... jangan... Ayah, tolong..." isak Dira sambil berusaha melepaskan genggaman kasar di pergelangan tangannya.
Namun lelaki itu justru menariknya semakin keras. "Diam! Kau harus menuruti perintahku agar aku bisa minum sepuasnya."
Ucapan itu menghantam hati Dira lebih keras daripada tarikan tangan ayahnya. Di usianya yang masih belia, ia menyadari satu kenyataan yang begitu menyakitkan, orang yang seharusnya melindunginya justru menjadi orang pertama yang menjual masa depannya.
"Tolong ... tolong aku. Tolong bantu lepaskan aku, kasihani aku!" Gadis berusia enam belas tahun itu terus berteriak meminta tolong. Suaranya pecah oleh tangis, menggema di sepanjang gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah reyot. Namun, tak seorang pun datang membantunya.
Beberapa orang hanya melirik dari balik jendela yang terbuka sedikit. Ada yang berpura-pura sibuk, ada pula yang menutup pintu rapat-rapat, seolah tak mendengar jeritan yang memohon belas kasihan.
Mungkin karena mereka tinggal di perkampungan kumuh, tempat pertengkaran, kekerasan, dan tangisan telah menjadi pemandangan yang terlalu sering terjadi. Atau mungkin karena setiap orang di sana sedang berjuang menghadapi kesulitannya sendiri, sehingga memilih untuk tidak mencampuri urusan orang lain demi menghindari masalah baru.
Apa pun alasannya, malam itu Dira hanya memiliki suaranya sendiri. Dan ketika jeritannya tak lagi mampu menggerakkan hati siapa pun, ia mulai menyadari betapa sendirinya dirinya di dunia ini.
Dira membenci segala hal yang ada disekitarnya. Kemiskinan, kekerasan, alkohol, ketidak pedulian. Semuanya. Apapun itu. Tempat ini adalah tempat terburuk, seperti neraka dunia untuknya. Bahkan untuk bertahan selama enam belas tahun dengan aman di tempat ini, Dira harus berpenampilan seperti orang gila. Ia rela tidak mandi, kumuh, bau bahkan hingga rambutnya jadi gimbal. Semua demi menjaga dirinya sendiri.
Tetapi sayangnya, hari ini, semua kebodohan yang ia lakukan sepertinya tak akan berhasil sebab akhirnya Ayahnya menyeretnya menuju tempat yang paling menakutkan bagi Dira. Sungguh, Dira tak mau ke sana. Ia takut. Beberapa orang yang ia kenal setelah berada di sana berakhir menjadi manusia yang mengerikan menurut Dira.
Ketika mereka hanya tinggal beberapa meter lagi dari pintu rumah bordil, deru sebuah mobil mewah memecah kesunyian malam. Mobil berwarna hitam mengilap itu berhenti tepat di depan Dira dan ayahnya, menghalangi langkah mereka.
Pintu mobil terbuka. Seorang pemuda turun dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Usianya sekitar dua puluh satu tahun, hanya lima tahun lebih tua dari Dira. Kemeja putih yang dikenakannya masih rapi, sementara tatapannya yang tajam langsung tertuju pada tangan kasar yang mencengkeram pergelangan Dira.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya dengan nada dingin.
Ayah Dira mendengus. "Bukan urusanmu! Dia anakku."
Pemuda itu melirik sekilas ke arah bangunan di belakang mereka. Hanya dengan melihat plang dan keadaan di sekitarnya, ia sudah memahami apa yang sedang terjadi. Tanpa banyak bicara, ia melangkah maju.
Saat ayah Dira berusaha menghalanginya, sebuah pukulan telak mendarat di wajah pria itu. Tubuhnya terhuyung sebelum kembali menyerang dengan mabuk dan kalap. Namun, pemuda itu jauh lebih sigap. Dalam hitungan detik, beberapa pukulan berhasil melumpuhkan pria tersebut hingga tersungkur di jalan dengan wajah babak belur.
Dira membeku. Air matanya masih mengalir, tetapi untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat secercah harapan.
Pemuda itu segera mengeluarkan ponselnya. "Tolong kirim patroli. Ada percobaan perdagangan anak. Pelakunya sudah saya amankan."
Tak lama kemudian, suara sirene polisi memecah keheningan. Beberapa petugas datang, memborgol ayah Dira yang masih meracau karena pengaruh alkohol, lalu membawanya ke mobil patroli.
Kini, pemuda itu menoleh kepada Dira yang masih gemetar. "Kamu sudah aman."
Tiga kata sederhana itu menjadi kalimat yang tak pernah dilupakan Dira seumur hidupnya. Dira tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya pemuda itu. Ia bahkan tidak sempat menanyakan namanya malam itu. Namun, di mata Dira, lelaki tersebut tak ubahnya seperti malaikat yang datang di saat seluruh dunia seolah meninggalkannya. Bukan hanya karena ia menyelamatkannya dari rumah bordil dan menyerahkan ayahnya kepada polisi. Yang lebih membekas di hati Dira adalah apa yang terjadi setelahnya.
Pemuda itu tidak memandangnya dengan rasa jijik ataupun hina. Ia tidak menganggap Dira sebagai anak jalanan yang tak berharga atau gadis malang. Sebaliknya, ia memperlakukannya sebagaimana seorang manusia seharusnya diperlakukan, dengan hormat, kepedulian, dan kasih sayang.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" ia memberikan jasnya pada Dira untuk menutupi pakaian Dira yang robek karena ditarik paksa ayahnya. Ia memberi Dira kesempatan untuk memulai hidup yang baru. Kesempatan yang selama ini bahkan tak pernah berani Dira impikan.
Sejak malam itu, di dalam hati gadis berusia enam belas tahun tersebut tumbuh sebuah tekad yang tak tergoyahkan. Suatu hari nanti, ia akan menjadi seseorang yang bisa berdiri di aisi lelaki yang telah menyelamatkan hidupnya.
Saat itu, Dira belum menyadari bahwa rasa syukur yang memenuhi hatinya perlahan akan berubah menjadi kekaguman, kemudian menjadi cinta, dan akhirnya menjelma menjadi obsesi yang sanggup mengubah seluruh jalan hidupnya.
Malam itu juga, Dira dibawa ke sebuah yayasan sosial milik keluarga pemuda tersebut. Di sanalah untuk pertama kalinya ia mengetahui nama orang yang telah menyelamatkan hidupnya.
Adrian Maulana. Nama itu terpatri begitu dalam di benak Dira, seolah tak akan pernah bisa ia lupakan.
Setibanya di yayasan, seorang perempuan paruh baya berwajah lembut segera menghampiri mereka. Perempuan itu adalah Bu Emi, salah satu pengasuh yang telah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya untuk merawat anak-anak yang membutuhkan perlindungan.
Adrian menoleh kepadanya. "Bu Emi, mulai malam ini Dira berada di bawah pengawasan yayasan. Tolong jaga dia baik-baik."
Bu Emi mengangguk penuh pengertian. "Baik, Pak Adrian."
Adrian kembali memandang Dira yang sejak tadi hanya menunduk. Wajah gadis itu masih dipenuhi bekas air mata, tubuhnya gemetar, sementara kedua tangannya terus mencengkeram ujung bajunya seolah takut semua ini hanyalah mimpi.
Dengan nada tenang, Adrian berkata kepada Bu Emi, "Pastikan kondisinya benar-benar baik. Minta dokter memeriksanya untuk memastikan tidak ada luka atau cedera yang terlewat. Kalau perlu, datangkan juga psikolog. Anak ini sepertinya mengalami trauma yang cukup berat."
"Baik, Pak Adrian. Saya akan mengurus semuanya." ucap Bu Emi.
Adrian mengangguk pelan sebelum melangkah pergi.
Sementara itu, Dira diam-diam mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya ia melihat sosok lelaki itu dengan jelas di bawah cahaya lampu yayasan. Wajahnya tegas, tetapi sorot matanya dipenuhi kepedulian yang tulus.
Malam itu, Dira merasa seolah telah menemukan tempat yang selama ini tidak pernah ia miliki, sebuah tempat yang memberinya rasa aman. Dan tanpa disadarinya, nama Adrian Maulana mulai terukir di dalam hatinya, menjadi sosok yang kelak akan memengaruhi setiap keputusan besar dalam hidupnya.
***
Bu Emi mengantar Dira menuju sebuah kamar sederhana di lantai dua yayasan. Ukurannya tidak besar, tetapi bersih, rapi, dan terasa hangat. Di dalamnya hanya ada sebuah ranjang, lemari kecil, meja belajar, serta jendela yang menghadap halaman. "Mulai malam ini, kamu tinggal di sini," ucap Bu Emi dengan senyum lembut. "Kalau ada apa-apa, panggil saja Ibu."
Dira mengangguk pelan. Setelah Bu Emi menutup pintu, ia berdiri mematung di tengah kamar.
Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Kasur yang empuk. Seprai yang bersih. Bantal yang harum. Sebuah lemari untuk menyimpan pakaian. Semua itu terasa begitu asing baginya.
Perlahan, Dira duduk di tepi ranjang. Jemarinya menyentuh seprai putih itu dengan hati-hati, seolah takut semua ini akan lenyap jika disentuh terlalu keras. Pikirannya melayang pada tempat tinggal lamanya.
Selama bertahun-tahun, ia hidup di sebuah gubuk reyot yang dindingnya terbuat dari kardus bekas dan potongan seng berkarat. Saat hujan turun, air merembes dari atap yang bocor. Ketika angin malam bertiup, udara dingin dengan mudah masuk melalui celah-celah dinding.
Tak ada kasur empuk. Tak ada selimut hangat. Tak ada rasa aman. Malam-malamnya dipenuhi ketakutan akan amukan ayahnya yang mabuk.
Kini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dira memiliki sebuah kamar yang benar-benar bisa ia sebut sebagai rumah. Air matanya kembali mengalir, tetapi kali ini bukan karena rasa takut. Melainkan karena rasa syukur. Di dalam hati, ia terus mengucapkan terima kasih kepada satu orang yang telah mengubah jalan hidupnya.
Adrian Maulana. Lelaki yang bahkan nyaris tidak mengenalnya, tetapi bersedia mengulurkan tangan saat seluruh dunia seolah membuangnya. "Terima kasih..." bisik Dira lirih sambil menatap langit-langit kamar. "Kalau bukan karena Mas Adrian... mungkin hidupku sudah berakhir malam ini."
Sejak saat itu, Dira berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan kepadanya. Ia akan belajar, bekerja keras, dan menjadi seseorang yang bisa dibanggakan. Meski saat itu ia belum menyadarinya, rasa syukur yang memenuhi hatinya perlahan sedang tumbuh menjadi perasaan yang jauh lebih dalam.
***
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Dira berdiri di depan cermin dengan tenang. Di tangannya tergenggam sebuah gunting. Perlahan, ia mulai memotong rambut gimbalnya yang kusut dan tak terawat. Helai demi helai jatuh ke lantai. Setelah itu, ia mandi hingga bersih, menggosok kulitnya yang selama ini dipenuhi debu dan kotoran jalanan.
Bu Emi kemudian memberinya pakaian yang bersih dan sederhana.
Saat Dira kembali berdiri di depan cermin, ia terdiam. Pantulan di hadapannya terasa seperti orang lain. Seorang gadis muda berusia enam belas tahun dengan wajah yang ayu, mata yang jernih, dan paras yang alami. Selama ini, kecantikannya seolah terkubur di balik rambut kusut, pakaian dekil, dan tubuh yang sengaja ia biarkan tampak kumuh.
Dira mengusap pelan pipinya. "Jadi... beginikah wajahku?" gumamnya lirih. Ia memang sengaja membuat dirinya terlihat sekumuh mungkin. Bukan karena ia tidak peduli pada penampilannya, melainkan karena itulah satu-satunya cara yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Di perkampungan kumuh tempat ia dibesarkan, terlalu banyak lelaki yang memandang anak-anak perempuan dengan niat yang buruk. Beberapa di antaranya bahkan tak peduli pada usia. Mereka mencari korban yang lemah, yang tak memiliki keluarga atau siapa pun untuk melindungi mereka.
Dira adalah salah satunya. Tanpa ibu yang mendampinginya dan dengan ayah yang justru menjadi ancaman, ia tahu bahwa menjadi gadis yang menarik hanya akan membuat dirinya semakin rentan.
Karena itulah ia membiarkan rambutnya kusut dan menggimbal. Ia jarang membersihkan diri, mengenakan pakaian lusuh, dan berusaha tampak sekumuh mungkin agar orang-orang yang berniat jahat enggan mendekatinya.
Penampilan yang selama ini dianggap menjijikkan oleh banyak orang ternyata adalah tameng terakhir yang melindunginya.
Kini, tameng itu tak lagi ia perlukan..Untuk pertama kalinya, Dira menatap dirinya sendiri tanpa rasa takut. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Mulai hari ini... aku akan menjalani hidup yang baru.".Dan tanpa ia sadari, perubahan itu bukan hanya mengubah penampilannya, tetapi juga menjadi langkah pertama menuju masa depan yang sama sekali berbeda dari kehidupan yang pernah ia kenal.
Bu Emi tersenyum lembut sambil meletakkan secangkir susu hangat di hadapan Dira. "Dira," panggilnya pelan.
"Ya, Bu?"
"Mulai hari ini, kamu punya kesempatan untuk mengubah hidupmu. Tapi ingat, kesempatan hanya akan berarti jika kamu mau memperjuangkannya."
Dira mengangguk penuh perhatian.
Bu Emi melanjutkan, "Yayasan akan menanggung semua kebutuhanmu sampai kamu lulus SMA. Tempat tinggal, makan, sekolah, dan biaya pendidikan akan kami usahakan. Namun setelah itu, kamu harus berdiri di atas kakimu sendiri."
Dira menundukkan kepala.
"Kamu harus belajar mencari nafkah dengan kedua tanganmu sendiri. Dunia di luar sana tidak akan selalu baik. Kamu tahu itu, kan? Dan kamu sudah menjalaninya selama ini. Karena itu, bekal terbaik yang bisa kamu miliki adalah ilmu, keterampilan, dan kemauan untuk bekerja keras agar kamu tidak perlu kembali ke tempat masa lalumu lagi."
Dira mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan.
"Selama ini kamu kehilangan banyak kesempatan. Kamu terlambat sekolah, tidak mendapatkan kehidupan yang layak, dan harus melalui masa kecil yang berat. Tapi itu bukan berarti kamu tidak bisa mengejar ketertinggalanmu." Bu Emi menatapnya dengan penuh keyakinan.
"Mulai sekarang, jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk belajar. Kejarlah semua pelajaran yang selama ini tertinggal. Bekerjalah lebih keras daripada anak-anak lain. Mungkin jalanmu lebih sulit, tetapi bukan berarti kamu tidak bisa sampai di tujuan."
Mata Dira mulai berkaca-kaca.
"Percayalah, Nak. Masa lalumu tidak menentukan masa depanmu. Yang menentukan adalah apa yang kamu lakukan mulai hari ini."
Dira mengusap air matanya lalu mengangguk mantap. "Saya mengerti, Bu."
"Tidak perlu membuktikan apa pun kepada orang yang pernah menyakitimu," ujar Bu Emi sambil tersenyum. "Buktikan kepada dirimu sendiri bahwa kamu mampu mengubah takdirmu."
Saat itu, sebuah tekad kembali tumbuh di dalam hati Dira. Ia akan belajar sekuat tenaga. Ia akan mengejar semua ketertinggalannya. Dan suatu hari nanti, ia ingin menjadi seseorang yang tidak lagi dikasihani, melainkan dihormati karena hasil kerja kerasnya sendiri. Ia akan berusaha tak akan kembali ke perkampungan kumuh itu, apapun yang terjadi.
Hari-hari Dira di yayasan dipenuhi dengan belajar. Karena selama ini pendidikannya tertinggal jauh, yayasan terlebih dahulu memberikan kelas pendamping agar ia mampu mengejar pelajaran yang seharusnya telah ia kuasai. Bu Emi dan para relawan membimbingnya dengan sabar, mulai dari membaca, berhitung, hingga mata pelajaran sekolah lainnya.
Awalnya, Dira sering kesulitan mengikuti pelajaran. Banyak hal yang terasa asing baginya. Namun, ia tidak pernah menyerah. Ia belajar sejak subuh sebelum berangkat ke sekolah. Sepulang sekolah, ia kembali membuka buku hingga larut malam. Saat anak-anak lain beristirahat, Dira masih menghafal rumus, mengerjakan soal, dan membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan yayasan. Ia tahu kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
Setiap kali rasa lelah menghampiri, bayangan kehidupan lamanya kembali muncul di benaknya. Gubuk reyot berdinding kardus. Atap bocor yang membiarkan hujan masuk begitu saja. Perut yang sering kosong. Jeritan ayahnya yang mabuk. Tatapan para lelaki yang membuatnya selalu merasa tidak aman. Semua kenangan itu menjadi pengingat akan kehidupan yang tidak ingin ia jalani lagi.
"Aku tidak akan kembali ke sana," bisiknya berkali-kali setiap kali semangatnya mulai goyah. Kalimat sederhana itu menjadi bahan bakar yang mendorongnya untuk terus maju.
Sedikit demi sedikit, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Nilai-nilainya meningkat, kemampuannya berkembang, dan ia mulai mampu menyamai teman-teman seusianya. Para guru di sekolah maupun para pembina di yayasan melihat sesuatu yang istimewa dalam diri Dira, kecerdasan yang selama ini tertutup oleh kerasnya kehidupan.
Dira akhirnya memahami bahwa pendidikan bukan sekadar jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan, ketakutan, dan masa lalu yang selama ini membelenggunya.
Sejak saat itu, ia berjanji bahwa apa pun yang terjadi, ia akan terus melangkah maju. Ia tidak akan pernah membiarkan dirinya kembali terperangkap dalam kehidupan yang pernah hampir menghancurkan masa depannya.
***
Di sela-sela kesibukannya belajar, ada satu hal yang selalu dinantikan Dira. Kedatangan Adrian ke yayasan.
Sebagai putra keluarga pendiri yayasan, Adrian sesekali datang untuk meninjau kegiatan, berbincang dengan para pengurus, atau memastikan semua anak mendapatkan fasilitas yang layak. Kunjungannya tidak terlalu sering, tetapi cukup untuk membuat suasana yayasan menjadi lebih hidup.
Setiap kali mendengar kabar bahwa Adrian datang, jantung Dira selalu berdebar. Ia tidak pernah berani mendekat. Ia hanya mengamati dari kejauhan.
Terkadang Adrian berjalan melewati halaman sambil berbincang dengan Bu Emi. Terkadang ia menyapa anak-anak lain dengan senyum tipis atau menanyakan perkembangan yayasan. Sesekali pandangan mereka bertemu, dan Adrian hanya menganggukkan kepala sebagai sapaan yang sopan.
Bagi Adrian, Dira hanyalah salah satu dari banyak anak yang dibantu yayasan. Namun bagi Dira, itu sudah lebih dari cukup. Melihat lelaki itu dari kejauhan saja sudah mampu membuat hatinya terasa tenang.
Ia tidak berharap Adrian mengingatnya setiap saat. Ia juga tidak berharap mendapatkan perhatian khusus. Yang ia inginkan hanya satu. Suatu hari nanti, ketika Adrian melihatnya lagi, lelaki itu akan menyadari bahwa gadis jalanan yang pernah diselamatkannya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.
Dira ingin membuktikan bahwa pertolongan Adrian tidak sia-sia. Bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya telah berubah menjadi kerja keras, prestasi, dan kehidupan yang jauh lebih baik. "Suatu hari nanti..." bisik Dira sambil memandang sosok Adrian yang perlahan menjauh. "...aku ingin membuatmu bangga, Mas Adrian."
Tanpa disadarinya, keinginan sederhana untuk membuat penyelamatnya bangga perlahan tumbuh menjadi pusat dari seluruh impian dan arah hidupnya. Itulah benih pertama dari perasaan yang kelak akan berkembang jauh melampaui rasa syukur.
Dira sendiri tidak mengerti apa nama perasaan yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Setiap kali Adrian datang ke yayasan, hari-harinya terasa lebih cerah. Namun jika seminggu berlalu tanpa melihat sosok lelaki itu, ia tanpa sadar mulai menunggu.
Saat mendengar suara mobil memasuki halaman, ia akan menoleh dengan harapan Adrian yang datang. Ketika langkah kaki terdengar di koridor, jantungnya berdegup lebih cepat. Namun berkali-kali pula ia harus menelan rasa kecewa karena yang datang hanyalah tamu lain atau para relawan yayasan.
Dira tidak pernah mengeluhkan hal itu. Ia hanya kembali belajar sambil menunggu kunjungan berikutnya. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa kehadiran satu orang bisa memengaruhi suasana hatinya sedemikian besar.
Mungkin karena selama enam belas tahun hidupnya, ia hampir tidak pernah merasakan kasih sayang dari sosok laki-laki yang seharusnya melindunginya. Ayahnya justru menjadi sumber ketakutan dan penderitaan. Lalu Adrian hadir. Bukan dengan janji-janji manis atau perhatian yang berlebihan, melainkan dengan satu tindakan yang mengubah seluruh hidupnya.
Ia menyelamatkan Dira ketika tak seorang pun datang menolong. Ia memberinya kesempatan untuk bersekolah, tempat tinggal yang aman, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Bisa jadi, itulah sebabnya Dira begitu mudah menambatkan hatinya kepada Adrian.
Bagi Adrian, semua itu mungkin hanyalah bentuk kepedulian kepada seorang anak yang membutuhkan bantuan. Namun bagi Dira, kebaikan itu menjadi sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Tanpa ia sadari, rasa syukur itu perlahan berubah menjadi rasa ingin selalu melihat Adrian, ingin diakui keberadaannya, dan ingin menjadi seseorang yang layak berada dalam pandangan lelaki tersebut. Perasaan itu masih begitu polos. Tetapi diam-diam, akarnya mulai tumbuh semakin dalam.
Namun, kebahagiaan kecil yang selama ini menjadi penyemangat Dira mendadak runtuh. Suatu sore, tanpa sengaja ia mendengar percakapan Bu Emi dengan salah seorang pengurus yayasan. "Pak Adrian berangkat ke Amerika minggu depan. Beliau akan fokus mengembangkan bisnis keluarga di sana."
"Berapa lama?"
"Belum tahu. Mungkin beberapa tahun. Tergantung perkembangan usahanya."
Kalimat itu membuat Dira membeku. Dadanya terasa sesak. Malam itu, ia tidak mampu berkonsentrasi belajar. Buku yang terbuka di hadapannya tak satu pun berhasil ia baca. Pikirannya terus dipenuhi oleh satu pertanyaan. Bagaimana jika ia tidak pernah bertemu Adrian lagi?
Selama ini, tanpa ia sadari, Adrian telah menjadi alasan terbesar di balik setiap langkahnya. Ketika ia lelah belajar, ia mengingat Adrian. Ketika nilai ujiannya jelek, ia bangkit karena ingin membuat Adrian bangga. Ketika masa lalunya menghantuinya, ia mengingat bahwa Adrian pernah percaya dirinya pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Kini, lelaki itu akan pergi ke negeri yang begitu jauh. Jarak yang bahkan tak mampu dibayangkan oleh Dira.
Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. "Kalau Mas Adrian pergi..." bisiknya lirih. "...apa aku masih bisa bertemu dengannya lagi?"
Pertanyaan itu terus menghantuinya. Untuk pertama kalinya, Dira menyadari bahwa semangatnya selama ini telah bertumpu terlalu besar pada satu orang. Ia bangkit karena Adrian. Ia belajar karena Adrian. Ia bermimpi karena Adrian. Dan kini, ketika Adrian pergi, ia merasa kehilangan arah.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!