"Ugh ... haah ... haah ..."
Yana tersentak bangkit dari pembaringannya dengan napas yang memburu. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar, sementara tenggorokannya terbakar kering. Jemarinya mencengkeram erat alas tidur berbulu tebal yang melapisinya, gemetar hebat tanpa bisa dihentikan.
Rasa dingin kematian itu ... ia masih bisa merasakannya dengan jelas.
Bau amis darah yang menggenang di tanah, suara retakan tulang, letupan api yang melahap habis pemukiman Suku Serigala, dan raungan terakhir para prajurit yang tewas satu per satu—semuanya masih menari-nari dengan mengerikan di balik kelopak matanya. Hal terakhir yang ia ingat adalah tubuhnya yang ambruk di atas abu hangat, sementara kekuatan sucinya yang terlambat bangkit justru menggerogoti organ tubuhnya dari dalam hingga bernapas pun terasa menyiksa.
'Tetapi ... mengapa rasa sakit itu hilang?' batin Yana bingung.
Yana membelalakkan mata. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan dada.
Tidak ada bekas luka bakar melintang di sepanjang lengan. Tidak ada kulit kasar bernanah akibat racun pertarungan di masa pembuangan. Tangannya tampak kecil, mulus, dan pucat—tangan seorang gadis muda yang belum tersentuh kerasnya medan perang.
Dengan panik, Yana menyapu pandangan ke sekeliling.
Ia tidak berada di padang pembantaian yang hangus. Ia berada di dalam gua batu berukuran sedang. Di sudut ruang, terdapat tumpukan kayu bakar, wadah-wadah tanah liat, dan aroma khas akar herbal yang ditumbuk halus. Udara yang masuk ke hidungnya terasa begitu segar, bercampur bau tanah basah seusai hujan semalam dan wangi daging panggang yang lembut.
Ini adalah gua tempat tinggalnya! Gua Suku Serigala yang seharusnya sudah berubah menjadi tumpukan abu!
'Bagaimana mungkin? Apakah ini ilusi sebelum jiwaku terseret ke alam baka?'
Yana bergegas turun dari pembaringan. Kakinya yang kaku hampir membuatnya tersandung kain tenun yang menyapu lantai. Ia setengah berlari menuju sebuah wadah batu besar berisi air jernih di sudut gua.
Saat ia menundukkan kepala dan melihat pantulan di permukaan air, Yana membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Wajah yang terpantul di sana adalah wajahnya sendiri ... tetapi versi muda. Pipinya masih memiliki sedikit jejak kelembutan remaja, matanya yang berwarna abu-abu kehijauan jernih tanpa kerutan kelelahan, dan rambut peraknya terurai panjang tanpa cacat.
Ini adalah wujudnya saat berusia enam belas tahun!
"Yana? Kamu sudah bangun, Nak?"
Suara berat dan penuh kehangatan itu menggelegar dari arah pintu masuk gua. Suara yang sudah bertahun-tahun hanya bisa Yana dengar dalam mimpi buruk dan penyesalannya yang paling dalam.
Yana berbalik begitu cepat hingga tubuhnya bergetar.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria bertubuh tegap berotot. Pundaknya yang lebar dilapisi mantel kulit beruang, wajahnya yang tegas dihiasi beberapa luka parut bekas pertarungan masa lalu, dan matanya memancarkan rasa kasih sayang yang begitu murni. Di tangannya, pria itu membawa sebuah mangkuk kayu berisi potongan daging panggang yang masih berasap hangat.
Aron. Kepala Suku Serigala. Ayahnya.
Pria yang di kehidupan sebelumnya tewas mengenaskan dengan dada tertembus tombak batu tepat di depan mata Yana—kini berdiri utuh dan bernapas di depannya.
"A_yah ...?" Suara Yana tercekat di tenggorokan.
Air mata yang menumpuk di pelupuk matanya luruh seketika, mengalir membasahi pipinya yang mulus. Pandangannya menjadi kabur karena tangis yang mendadak pecah.
Aron mengerutkan dahi, tampak terkejut sekaligus cemas melihat reaksi putrinya. Ia menyandarkan tombaknya di dinding gua lalu bergegas meletakkan mangkuk kayu ke atas meja batu sebelum menghampiri Yana.
"Ada apa, Yana? Mengapa kamu menangis seperti ini? Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?" tanya Aron panik. Tangannya yang besar dan kasar terulur hendak mengecek suhu tubuh Yana.
Namun, sebelum tangan ayahnya menyentuh dahi, Yana sudah lebih dulu menghambur ke depan dan memeluk pinggang pria itu erat-erat. Ia menyandarkan wajahnya di dada tegap Aron, mendengarkan detak jantung yang kuat dan teratur di balik pakaian kulit binatang itu.
'Detak jantung ... Ayah benar-benar bernapas! Ayah masih hidup!' Yana menjerit di dalam hatinya, mencengkeram kain pakaian ayahnya seolah takut pria itu akan menghilang menjadi abu jika ia melepaskannya sedikit saja.
Aron terkekeh bingung, meski rasa cemas masih terpancar dari dadanya. Pria gagah itu mengelus rambut perak Yana dengan lembut, mencoba menenangkan putri tunggalnya.
"Ssst ... ada apa denganmu pagi ini, Gadis Kecil? Apakah kamu bermimpi buruk lagi? Kamu biasanya melompat bangun dan menantang para pemburu muda berlatih sebelum matahari terbit," ucap Aron penuh kehangatan.
"Aku ... aku hanya mimpi buruk. Sangat buruk, Yah," bisik Yana serak, mengusap air matanya dengan kasar ke lengan baju Aron. Ia berjuang mati-matian menguasai emosinya agar tidak membuat ayahnya curiga.
Aron tersenyum tipis, menepuk-nepuk bahu Yana pelan. "Mimpi hanyalah bayangan pikiran saat kamu lelah. Jangan dipikirkan lagi. Habiskan daging panggang ini, lalu bantu para tetua memilah persediaan. Musim dingin sebentar lagi tiba, kita harus bersiap."
Setelah membelai kepala Yana sekali lagi, Aron berbalik dan melangkah keluar dari gua untuk memimpin para prajurit.
Yana berdiri mematung beberapa saat, memandangi punggung ayahnya yang menjauh hingga menghilang di balik tikungan batu. Daging panggang hangat di mangkuk kayu mengeluarkan aroma yang menggugah selera, membuktikan bahwa semua ini sama sekali bukan mimpi.
Yana menarik napas panjang, menguatkan kakinya yang masih terasa kaku, lalu melangkah keluar meninggalkan gua batu.
Begitu ia melangkah ke luar, cahaya matahari pagi menyambut matanya.
Di hadapannya, terhampar pemukiman Suku Serigala yang megah dan penuh kehidupan. Gua-gua batu tersusun alami di sepanjang tebing. Di lapangan lembah di bawah sana, anak-anak suku berlarian riang sambil saling melempar bola kayu. Para wanita sibuk menenun kain dan mengeringkan daging di bawah naungan pohon-pohon rindang. Sementara para pemburu sibuk mengasah senjata batu dan tulang sambil tertawa bersama.
Tidak ada kobaran api. Tidak ada sungai darah. Tidak ada bau pembantaian.
Semua orang yang dulu tewas mengenaskan dan Yana tangisi di masa pembuangan ... kini hidup dan tersenyum di hadapannya.
Yana berjalan menyusuri jalan setapak tanah di antara pemukiman. Beberapa warga menyapanya dengan ramah, dan Yana hanya bisa mengangguk kaku sambil menahan gejolak di dadanya.
Ia menghentikan langkah di tepi tebing kecil yang menghadap ke seluruh wilayah suku, lalu menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang cerah.
Dari posisi matahari, hawa dingin tipis yang mulai bertiup dari utara, serta daun-daun pohon yang mulai memungut warna keemasan—Yana tahu pasti penanggalan ini.
Gadis asing dari dunia lain itu ... belum muncul.
Gadis transmigrator yang mengaku sebagai Wanita Suci pilihan Dewa Binatang, yang membawa ide-ide "modern" yang memicu perang persaingan antar suku, belum menginjakkan kaki di tanah ini.
Tunangannya belum berpaling dan mengkhianati sukunya demi mengikuti gadis itu. Dan kehancuran dunia binatang belum dimulai.
Dewa Binatang telah memberinya kesempatan kedua. Ia dikembalikan ke titik waktu ini—tepat dua bulan sebelum tragedi pertama yang meruntuhkan kehidupannya terjadi.
Yana mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan memucat. Matanya yang tadinya penuh dengan sisa kepedihan kini berubah menjadi berkilat dingin, tajam, dan penuh ketetapan hati.
Di kehidupan lalu, ia terlalu polos dan tidak berdaya. Ia hanya bisa menonton dari jauh saat gadis transmigrator itu merebut segalanya dan memobilisasi suku-suku demi perubahan yang membiarkan alam hancur.
Saat kekuatan suci Yana yang sebenarnya akhirnya bangkit, semuanya sudah terlambat. Ayahnya sudah tewas, sukunya sudah rata dengan tanah, dan dunia berada di ambang kehancuran.
Namun kali ini, sejarah tidak akan terulang kembali!
Ia tidak butuh status atau pengakuan dari siapa pun bahwa ia adalah Wanita Suci yang sebenarnya. Ia hanya memiliki satu tujuan: menyelamatkan ayahnya, melindungi Suku Serigala, dan menghentikan kejahatan yang dibungkus dengan nama "kemajuan" itu.
Yana memandang lurus ke arah hutan lebat di utara, menyeringai tipis dengan tatapan mata yang berbahaya.
"Aku masih punya waktu." Ucapnya.
***
Bersambung....
...❤️❤️❤️...
...Halo semuanya ... Author minta responnya ya buat penyemangat ......
...Komen, like atau hadiah. Sangat mempengaruhi mood menulis loh ... Tolong bantu ya ......
...Author...
Angin pagi yang berembus dari utara membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Namun, Yana tetap berdiri mematung di tepi tebing batu itu, memandangi wilayah Suku Serigala yang ada di bawahnya dengan tatapan campur aduk.
Dua bulan. Hanya dua bulan waktu yang ia miliki sebelum gadis transmigrator itu muncul di hutan utara dan memutarbalikkan roda takdir mereka.
'Aku tidak boleh panik,' batin Yana sambil mengepalkan tangannya di balik lengan baju kulit. 'Di kehidupan lalu, aku hanya gadis yang tidak tahu apa-apa. Tapi sekarang, aku tahu persis apa yang akan terjadi.'
"Yana! Mengapa berdiri di sana sambil melamun? Ayo cepat turun! Sarapanmu akan segera dingin!"
Suara lantang seorang wanita paruh baya memecah lamunan Yana. Yana menoleh dan melihat Bibi Nora—wanita juru masak suku yang bertubuh agak gempal—sedang berkacak pinggang di bawah tebing sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Mata Yana berkaca-kaca seketika.
Bibi Nora ... wanita hangat yang selalu memberinya porsi daging ekstra saat kecil, wanita yang di kehidupan sebelumnya tewas berdarah-darah demi melindungi anak-anak suku dari serbuan suku asing yang terprovokasi. Kini wanita itu berdiri segar bugar dengan celemek kulit yang bernoda jelaga perapian.
"I-iya, Bibi! Aku turun sekarang!" sahut Yana cepat. Ia menyapu sudut matanya yang basah sebelum berlari kecil menyusuri jalan setapak berbatu menuju area pemukiman utama.
Suasana pagi di pemukiman Suku Serigala terasa sangat hidup dan sibuk. Asap tipis membumbung tinggi dari belasan perapian batu. Di sudut kanan, para pria bertubuh kekar sedang membelah kayu bakar dan mengasah tombak tulang mereka. Suara dentangan batu beradu dan gelak tawa menggema ramah di udara.
Di sudut lain, beberapa wanita sibuk menumbuk biji-bijian dan mengeringkan daging hasil buruan kemarin di atas panggangan kayu. Anak-anak suku yang masih kecil berlarian ke sana kemari, saling mengejar sambil menirukan suara aungan serigala dengan gembira.
Semua ini adalah pemandangan yang dulu hilang dilahap api dan kemiskinan. Pemukiman yang indah dan hangat ini pernah berubah menjadi kuburan massal yang bau amisnya tercium hingga berhari-hari.
Yana berjalan perlahan melewati deretan gua tempat tinggal. Setiap kali ada warga suku yang lewat dan menyapanya, dada Yana terasa seperti teremas ketat.
"Selamat pagi, Yana! Wajahmu sedikit pucat, apakah kamu kurang tidur?" sapa Paman Barek, seorang prajurit tua yang kakinya agak pincang akibat gigitan beruang di masa mudanya.
"Selamat pagi, Paman Barek. Aku baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan," balas Yana sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.
*Paman Barek ... di kehidupan lalu, dada Paman tertembus tiga panah saat memblokir pintu masuk gua tempat anak-anak bersembunyi,’ bisik Yana dalam hati dengan kepedihan yang ditahan erat-erat.
"Ayo makan dulu, Yana. Ayahmu sudah pergi ke gua rapat bersama para tetua," ucap Bibi Nora seraya menyodorkan semangkuk sup daging hangat dan sepotong umbi bakar.
"Terima kasih, Bibi Nora." Yana menerima mangkuk batu itu dengan kedua tangan yang gemetar tipis.
Ia duduk di atas bongkahan kayu dekat perapian umum, menyesap sup hangat itu perlahan. Rasa gurih dan hangat mengalir ke dalam tenggorokannya, menghangatkan badannya yang dingin. Namun rasa sakit di hatinya sama sekali tidak berkurang.
Sambil mengunyah makanan, matanya terus bergerak mengawasi sekeliling suku, memetakan setiap detail yang ada.
Suku Serigala adalah salah satu suku terkuat di wilayah barat pegunungan. Mereka hidup harmonis dengan alam, menghormati aturan Dewa Binatang, dan hanya berburu secukupnya demi menjaga keseimbangan hutan. Tidak ada kerakusan, tidak ada eksploitasi berlebihan.
Namun, semua keseimbangan itu hancur saat gadis transmigrator itu datang.
Gadis itu mengajarkan cara mengeksploitasi hutan secara besar-besaran, membuat perangkap mematikan yang menghabiskan populasi hewan, serta mengajarkan pembuatan senjata besi kasar yang memicu rasa iri dan ketakutan dari suku-suku tetangga. Demi mengejar "kemajuan" dan kekuasaan, keseimbangan alam hancur. Kelaparan hebat melanda, dan Suku Serigala—yang menolak ide gila itu—akhirnya menjadi korban pertama dari keserakahan yang diprovokasi.
Tak hanya itu ... Yana mengingat satu nama lagi yang membuat dadanya makin memanas.
Luka. Tunangannya.
Pria yang dipuji sebagai pemburu muda paling berbakat di Suku Serigala. Pria yang seharusnya memimpin suku bersama Yana, tetapi di kehidupan lalu justru menjadi orang pertama yang terpesona oleh kecantikan dan pengetahuan gila gadis transmigrator itu. Luka bahkan tega meninggalkan Suku Serigala dan berbalik menyerang tanah kelahirannya sendiri hanya demi mendapatkan senyuman dari sang "Wanita Suci" palsu.
"Sedang memikirkan apa, Yana? Begitu serius sampai-sampai supmu hampir menetes ke baju?"
Sebuah suara pria yang renyah dan penuh percaya diri mendadak terdengar dari sampingnya.
Yana tersentak pelan. Ia menoleh dan mendapati seorang pemuda bertubuh jangkung dengan rambut cokelat kemerahan terikat rapi di belakang kepala sedang berjalan mendekatinya. Pemuda itu membawa busur kayu besar di bahunya dan tersenyum tampan ke arah Yana.
Luka.
Melihat wajah pemuda itu, darah Yana terasa mendidih seketika. Ingatan tentang bagaimana Luka menatapnya dengan dingin di kehidupan lalu—saat Suku Serigala terbakar dan Dia bersimbah darah—langsung berkelebat di benaknya.
'Gadis itu membawa keajaiban yang bisa menyelamatkan dunia ini, Yana. Sukumu terlalu kuno dan keras kepala! Jangan menyalahkan siapa pun atas kehancuran kalian!'
Kata-kata kejam yang diucapkan Luka di masa lalu seolah kembali bergema tajam di telinga Yana.
"Luka ..." bisik Yana dengan nada suara yang mendadak dingin. Tatapan matanya yang biasanya hangat, kini berubah datar dan asing.
Luka yang tidak menyadari perubahan emosi Yana justru melangkah semakin dekat, ia lalu duduk di atas batang kayu di sebelah Yana dengan santai.
"Kulihat kamu dari tadi melamun terus. Ada apa? Apakah kamu merindukanku? Maaf ya, kemarin aku berburu sampai larut malam di batas hutan utara," ucap Luka percaya diri, memamerkan senyumannya yang biasanya selalu berhasil membuat Yana malu-malu.
Namun kali ini, Yana tidak merona merah. Tidak ada canggung atau rasa kagum di matanya.
Yana hanya memandang Luka dari atas ke bawah secara dingin. Betapa bodohnya ia di kehidupan lalu sampai bisa mengagumi pria dangkal seperti ini. Pria yang dengan mudahnya berpaling hanya karena ada wanita asing yang membawa hal-hal baru yang menarik perhatiannya.
"Aku tidak memikirkanmu," jawab Yana singkat, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke mangkuk supnya.
Luka sedikit terkejut dengan kepatuhan Yana yang hilang secara tiba-tiba. Biasanya, gadis di depannya ini akan tersenyum lembut dan menanyakan bagaimana hasil berburunya.
"Kamu ... kenapa, Yana? Apakah aku membuat kesalahan?" tanya Luka heran sambil mengerutkan dahi. "Gaya bicaramu dingin sekali pagi ini."
"Aku hanya sedang tidak ingin diganggu, Luka," pungkas Yana tegas, berdiri dari duduknya tanpa memandang wajah pemuda itu lagi. "Aku harus membantu para tetua memilah tanaman obat."
Luka membelalakkan mata, tidak percaya bahwa Yana baru saja meninggalkannya begitu saja di tengah percakapan. "Hei, Yana! Tunggu dulu! Nanti siang kita ada latihan panahan bersama!" panggil Luka dengan nada agak kesal.
Yana tidak menghentikan langkahnya sedikit pun. Ia terus berjalan menuju gua penyimpanan obat tanpa menoleh lagi.
Bagi Yana, hubungan pertunangan konyol ini sudah mati sejak kehidupan sebelumnya. Ia tidak punya waktu untuk melayani ego pria pengkhianat seperti Luka.
Fokus utamanya saat ini hanyalah menyelamatkan ayahnya dan mempersiapkan suku dari bencana yang akan datang.
Yana melangkah masuk ke dalam gua penyimpanan yang hangat dan berbau harum dedaunan kering. Di dalam gua, tampak Nenek Greta—tetua pendoa suku yang sudah sangat tua—sedang duduk menyortir akar-akar tanaman di atas kain tenun.
"Ah, Yana ... kamu datang, Nak?" panggil Nenek Greta dengan suara serak namun lembut.
"Iya, Nenek. Aku datang untuk membantu," kata Yana, mengambil tempat duduk di dekat sang tetua.
Yana mengulurkan tangannya, mengambil segenggam akar obat yang mengering. Mengingat kembali kehidupan lalu, penyakit batuk darah sempat menyerang beberapa prajurit suku satu bulan sebelum transmigrator datang, membuat kekuatan tempur suku melemah. Di kehidupan lalu, mereka kekurangan akar herbal ini hingga beberapa prajurit tewas.
'Aku harus memastikan persediaan obat ini cukup. Musim dingin kali ini tidak boleh ada prajurit yang mati sia-sia,' tekad Yana dalam hati.
Nenek Greta mengamati jemari Yana yang dengan terampil dan cepat memilah akar obat beracun dan akar penyembuh. Sang tetua mengerutkan alisnya yang keriput, merasa ada yang berbeda dari cara kerja gadis remaja di depannya.
"Yana ..." panggil Nenek Greta pelan.
"Ada apa, Nenek?" Yana mendongak.
Nenek Greta menatap dalam-dalam ke dalam mata abu-abu kehijauan milik Yana. "Mata anak muda biasanya penuh dengan keraguan atau keceriaan. Tapi matamu pagi ini ... terasa sangat berat dan tua. Seperti mata seseorang yang sudah melihat ribuan kematian."
Yana membeku sejenak.
Jantungnya berdetak agak kencang.
Ia lupa, bahwa para tetua pendoa memiliki kepekaan batin yang sangat tinggi.
Namun, Yana dengan cepat menguasai dirinya lagi. Ia menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna, lalu menunduk kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku hanya bermimpi tentang masa depan yang gelap, Nenek," jawab Yana dengan nada suara yang mantap. "Dan aku berjanji ... tidak akan membiarkan kegelapan dalam mimpi itu menjadi kenyataan di suku kita."
Nenek Greta terpaku mendengar jawaban itu, lalu mengelus janggut tipisnya sambil mengangguk pelan tanpa bertanya lebih lanjut.
***
Bersambung ....
Matahari mulai merambat naik menuju puncak langit, memancarkan sinar hangat yang mengusir hawa dingin di sekitar lembah.
Setelah selesai membantu Nenek Greta memilah akar-akar obat di gua penyimpanan, Yana melangkah menuju ke area tengah pemukiman.
Di sana, sebuah drum kayu besar berlapis kulit binatang dipukul tiga kali dengan suara menggelegar.
Bum!
Bum!
Bum!
Gema pukulan drum itu merupakan pertanda panggilan rapat bagi seluruh prajurit dan kelompok pemburu Suku Serigala.
Para pria bertubuh tegap segera menghentikan aktivitas mereka.
Dengan membawa senjata masing-masing seperti tombak berlapis tulang keras, busur kayu tebal, dan kapak batu—mereka berbondong-bondong berkumpul di depan Gua Utama tempat Kepala Suku dan para tetua biasa memimpin.
Yana mengambil posisi berdiri di balik rimbunnya semak tebal dekat tebing, mengamati kerumunan tersebut dari jarak yang aman. Matanya tertuju lurus pada sosok Aron, ayahnya, yang berdiri gagah di atas panggung batu bersama tiga tetua suku lainnya.
Di samping ayahnya, Luka berdiri dengan busur di bahunya, dikelilingi oleh para pemburu muda lainnya yang tampak tertawa bersenda gurau.
Luka beberapa kali menoleh ke sekeliling kerumunan, seolah-olah mencari keberadaan Yana, tetapi Yana sengaja menyembunyikan posisinya.
"Dengar, semuanya!" Suara Aron bergema keras, seketika membungkam riuh suara kerumunan.
Seluruh prajurit dan warga yang berkumpul langsung menaruh perhatian penuh pada sang Kepala Suku.
"Musim gugur sudah hampir berakhir, dan hawa dingin dari utara bertiup lebih cepat dari tahun lalu!" ujar Aron dengan raut wajah tegas dan penuh wibawa. "Pasokan daging kering di penyimpanan utama kita masih belum cukup untuk bertahan melewati musim dingin yang panjang. Mulai hari ini, kita harus melipatgandakan hasil buruan!"
"Hooouu!" Sorak-sorai para prajurit membumbung tinggi ke udara, menyuarakan semangat bertarung mereka.
Aron mengangkat tangannya, meminta ketenangan. "Tim pemburu akan dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama dipimpin oleh Paman Barek untuk berburu di lembah selatan. Kelompok kedua dipimpin oleh Luka untuk menyisir sungai barat."
Aron kemudian menepuk dadanya sendiri. "Dan kelompok ketiga... akan kupimpin sendiri menuju ke wilayah Hutan Hitam di batas utara!"
Deg!
Mendengar nama Hutan Hitam, jantung Yana seolah berhenti berdetak.
Sensasi dingin mendadak menjalar cepat dari ujung kakinya hingga ke ujung kepala.
'Hutan Hitam?! Tidak... tidak boleh!' jerit Yana di dalam hatinya.
Ingatan kelam dari kehidupan sebelumnya langsung membayang jelas di benaknya seolah baru saja terjadi kemarin.
Di kehidupan lalu, tepat di hari ini, ayahnya memimpin kelompok berburu ke Hutan Hitam. Di sana, mereka dijebak oleh sekawanan Babi Hutan Berduri—binatang buas yang sangat agresif dan beracun. Akibat serangan mendadak itu, setengah dari anggota kelompok berburu tewas mengenaskan, sementara ayahnya mengalami luka dalam parah yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh.
Luka dalam itulah yang membuat kekuatan tempur ayahnya menurun drastis, sehingga ketika tragedi kedatangan transmigrator dan serangan suku tetangga terjadi kemudian, ayahnya tidak bisa bertarung dengan kekuatan penuh hingga akhirnya gugur!
'Peristiwa itu... Bencana Babi Hutan Berduri berawal dari hari ini!' batin Yana dengan napas memburu.
Di panggung batu, Aron melanjutkan instruksinya. "Kelompok Hutan Hitam akan berangkat dua jam lagi. Persiapkan senjata dan pembawa perbekalan kalian!"
Para prajurit mulai membubarkan diri untuk bersiap-siap.
Aron turun dari panggung batu sambil berbincang dengan dua tetua suku.
Tanpa membuang waktu, Yana keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari cepat memotong jalan menuju ke arah ayahnya.
"Ayah!" panggil Yana dengan suara sedikit sengau karena panik.
Aron menghentikan langkahnya dan menoleh.
Senyum hangat langsung terukir di wajah tegas pria itu saat melihat putrinya mendekat. "Yana? Ada apa, Nak? Mengapa kamu berlari seperti itu?"
Yana menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia menggenggam erat lengan baju kulit binatang milik ayahnya.
"Ayah... jangan pergi ke Hutan Hitam," kata Yana cepat, menatap langsung ke dalam mata ayahnya dengan raut wajah sangat serius.
Aron agak terkejut mendengar ucapan itu. Ia terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk tangan Yana. "Mengapa? Hutan Hitam adalah tempat terbaik untuk mendapatkan daging segar dalam jumlah besar sebelum musim dingin tiba. Binatang di sana sangat gemuk."
"Tidak, Yah! Hutan Hitam sangat berbahaya hari ini!" desak Yana dengan nada suara yang makin tinggi, membuat beberapa prajurit di dekat mereka sempat menoleh heran. "Hawa dingin dari utara membuat binatang buas di Hutan Hitam menjadi sangat agresif. Ayah harus mengalihkan rute berburu ke Lembah Bintang saja!"
Aron mengerutkan dahi, raut wajahnya berubah menjadi sedikit heran. "Lembah Bintang? Lembah Bintang itu jaraknya dua kali lipat lebih jauh dan jalurnya berbatu. Lagipula, dari mana kamu tahu binatang di Hutan Hitam sedang agresif? Kamu bahkan tidak ikut patroli kemarin."
Yana menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ia tidak mungkin menceritakan bahwa ia adalah seorang yang hidup kembali dari masa depan! Jika ia mengatakannya sekarang, ayahnya pasti akan menganggapnya stres atau terganggu jiwanya.
"Aku... aku merasakannya, Yah! Angin pagi ini membawa bau berbahaya dari arah utara!" Yana memutar otak memberi alasan yang paling masuk akal bagi suku mereka yang sangat mempercayai naluri alam. "Naluri serigalaku memberitahuku bahwa ada bahaya besar yang menunggu di Hutan Hitam hari ini!"
Aron menatap Yana cukup lama.
Keheningan sempat tercipta di antara mereka berdua.
Pria gagah itu bisa melihat ketakutan dan keseriusan yang sangat nyata di mata abu-abu kehijauan milik putrinya—ketakutan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Namun sebagai seorang Kepala Suku, Aron tidak bisa membatalkan keputusan rapat hanya karena firasat seorang gadis muda tanpa bukti fisik yang jelas.
Aron mendesah pelan, lalu mengelus rambut perak Yana dengan penuh kasih sayang. "Yana, Ayah menghargai perhatian dan nalurimu. Tapi Ayah adalah Kepala Suku. Ayah membawa sepuluh prajurit terbaik suku kita. Apapun binatang buas yang ada di sana, kami pasti bisa mengatasinya."
"Tapi, Ayah—"
"Tidak ada tapi, Gadis Kecil," potong Aron lembut namun tegas. "Kebutuhan makanan suku adalah yang paling utama saat ini. Kami akan kembali sebelum matahari terbenam dengan daging yang melimpah, mengerti?"
Yana terpaku. Ia tahu sifat keras kepala ayahnya jika sudah menyangkut tanggung jawab sebagai pemimpin suku. Membujuknya dengan kata-kata saja sama sekali tidak akan berguna.
'Jika Ayah tidak mau mengubah rutenya... maka aku sendiri yang harus memastikan bahwa bencana itu tidak akan pernah terjadi!' tekad Yana di dalam hati.
"Baiklah kalau begitu, Ayah..." bisik Yana sambil menundukkan kepala, pura-pura menerima keputusan ayahnya.
"Bagus. Sekarang kembalilah ke gua dan beristirahatlah," ujar Aron lega, lalu menepuk bahu Yana sebelum berjalan pergi menemui kelompok prajuritnya.
Yana memandangi punggung ayahnya yang menjauh dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan.
Ia tahu persis di mana sarang Babi Hutan Berduri itu berada di Hutan Hitam. Di kehidupan sebelumnya, para pemburu menyusuri jalur bawah tebing dan langsung masuk ke perangkap binatang-binatang ganas tersebut.
Jika Yana ikut dalam kelompok berburu itu, ia bisa mengarahkan mereka untuk menghindari jalur bawah tebing atau memberi peringatan sebelum serangan terjadi!
Tetapi masalahnya... Aron pasti tidak akan pernah mengizinkan putri tunggalnya yang belum lulus ujian prajurit untuk ikut dalam kelompok berburu tingkat tinggi di Hutan Hitam.
"Hei, Yana! Kamu sedang apa di sini?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan Yana.
Dari arah depan, Luka berjalan mendekatinya dengan senyum lebar dan busur kayu di genggamannya.
"Aku dengar dari paman Aron kamu melarangnya pergi ke Hutan Hitam? Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin ada bahaya yang tidak bisa ditangani oleh Kepala Suku kita," ucap Luka terkekeh, tampak meremehkan ketakutan Yana.
Yana menoleh ke arah Luka dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Cowok di depannya ini benar-benar tidak berguna dan hanya tahu membanggakan diri.
"Bukan urusanmu, Luka," jawab Yana singkat dan kaku.
"Yana, ada apa sih denganmu hari ini? Sejak tadi pagi kamu bersikap seperti ini padaku!" Luka mulai merasa kesal dan kehilangan kesabaran. "Aku ini tunanganmu! Nanti siang aku akan memimpin kelompok ke sungai barat dan membawa hasil buruan terbanyak untuk membuktikan padamu bahwa aku—"
Tanpa mendengarkan celotehan Luka lebih lanjut, Yana berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan pemuda itu begitu saja.
"Hei! Yana! Aku belum selesai bicara!" teriak Luka kesal dari belakang, namun Yana sama sekali tidak peduli.
Yana berjalan lurus menuju ke gua tempat tinggalnya. Ia harus bersiap-siap.
Ia mengambil sebuah pisau belati berburu berbilah tulang tebal yang tersembunyi di bawah pembaringannya, menyangkutkannya di pinggang, lalu melapisinya dengan mantel kulit serigala yang ringan namun hangat.
Jika ayahnya melarangnya ikut secara terang-terangan... maka ia akan mengikuti kelompok berburu itu secara diam-diam dari belakang!
Yana mengepalkan tangannya rapat-rapat sambil menatap bayangannya sendiri di cermin air.
'Di kehidupan ini, aku tidak akan lagi menjadi penonton yang meratapi kematianmu, Ayah. Kali ini, aku yang akan melindungimu!'
***
Bersambung ....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!