Indonesia
NovelToon NovelToon

Mama yang Terlupakan

Episode 1

Bab 1: Buntalan Kecil

Genki memasukkan kaus dinosaurusnya ke dalam sehelai kain lusuh dengan gerakan yang sangat hati-hati.

Kaus itu tidak terlipat rapi. Bagian lengannya masih menyembul keluar, menindih celana pendek biru muda dan sepasang kaus kaki yang warnanya sudah tidak sama. Tapi bagi Genki, itu sudah cukup. Ia menarik sudut kain, menyatukannya di tengah, lalu mengikatnya dengan simpul kecil seperti yang pernah ia lihat dari pengasuh lama di panti.

Jari-jarinya mungil. Simpul itu lepas dua kali.

Genki tidak menangis.

Ia hanya menggigit bibir bawah, mencoba lagi, lalu menepuk buntalan kecil itu setelah akhirnya berhasil. Seolah benda itu bukan kain berisi pakaian, melainkan koper penting milik orang dewasa.

Di kamar anak yang luasnya hampir sebesar ruang tamu rumah biasa, buntalan itu tampak terlalu miskin. Rak mainan penuh mobil miniatur impor berdiri di satu sisi. Boneka, buku bergambar, dan kotak balok kayu tersusun rapi. Di dekat jendela, ada tempat tidur kecil dengan seprai putih bersih dan selimut lembut.

Tetapi Genki memilih kain lusuh itu.

Kain yang ia bawa sejak pertama kali pulang ke Vila Biru.

Pintu kamar terbuka pelan.

"Genki, mau ke mana?"

Genki cepat-cepat memeluk buntalan kecilnya ke dada. Matanya yang bundar menatap pengasuh di depan pintu dengan curiga.

"Genki pergi."

Pengasuh itu terdiam sebentar. Wajahnya langsung berubah panik, tapi ia masih berusaha tersenyum. "Pergi ke mana? Sarapan dulu, ya. Ada roti cokelat."

"Nggak mau."

"Susu stroberi?"

Genki menggeleng keras. Rambut hitamnya yang lembut ikut bergoyang.

"Pancake bentuk beruang?"

Biasanya tawaran itu bisa membuat Genki melirik. Paling tidak, ia akan bertanya apakah beruangnya punya mata dari cokelat.

Pagi ini tidak.

Ia mengangkat buntalan kecil itu ke punggung. Karena tubuhnya masih terlalu kecil, kain itu lebih sering melorot ke siku daripada benar-benar menempel di bahu. Genki membetulkan posisinya dengan wajah serius.

"Genki mau cari Mama."

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Pengasuh yang tadi berdiri di ambang pintu langsung masuk. "Genki, Papa sedang di kantor. Nanti kalau Papa pulang, kita telepon Papa, ya?"

"Bukan Papa." Genki mengerutkan hidung. "Mama."

"Mama siapa, sayang?"

Genki menatapnya lama, seperti pertanyaan itu terlalu aneh.

"Mama Genki."

Suara kecil itu tidak keras. Namun entah kenapa, lebih menyayat daripada tangisan.

Di Vila Biru, semua orang tahu kebiasaan itu. Kalau Genki marah, sedih, atau merasa tidak didengar, ia akan mengambil kain lusuhnya, memasukkan dua tiga potong pakaian, lalu berjalan ke arah pintu. Katanya ia mau pergi. Katanya ia mau mencari Mama.

Tidak ada yang berani menertawakannya.

Sejak keluarga Harto menemukannya di Panti Asuhan Harapan Baru dan membawanya pulang, kebiasaan itu belum hilang. Mainan baru tidak menghapusnya. Kamar besar tidak menenangkannya. Pengasuh berganti-ganti mencoba membujuk, tetapi setiap beberapa minggu, buntalan kecil itu kembali muncul di punggungnya.

Seolah anak sekecil itu masih menyimpan keyakinan bahwa rumah bisa hilang kapan saja.

"Genki," pengasuh itu berjongkok di depannya. "Di luar panas. Nanti kaki Genki sakit."

Genki menunduk melihat sandal karetnya. Satu sandal terbalik antara kiri dan kanan. Ia memperbaikinya sendiri, pelan-pelan, tanpa meminta bantuan.

"Kaki Genki kuat."

"Tapi jalanan ramai."

"Genki pegangan buntalan."

"Kalau tersesat?"

Genki memeluk buntalannya makin erat.

"Mama nanti ketemu."

Pengasuh itu menarik napas, hampir menyerah, lalu memberi isyarat kepada pembantu lain yang kebetulan lewat. Dalam hitungan detik, suasana lantai dua berubah sibuk. Seseorang turun memanggil kepala rumah tangga. Seseorang lagi berlari ke dapur. Dari bawah terdengar suara langkah tergesa dan bisikan tertahan.

"Genki mau pergi lagi."

"Aduh, jangan sampai Pak Rayhan tahu kita lengah."

"Pintu depan sudah dikunci?"

Genki mendengar semua itu. Alis kecilnya menyatu.

Ia tidak suka kalau orang dewasa berbisik seolah ia tidak mengerti apa-apa. Ia memang belum tahu banyak hal. Ia belum tahu kenapa anak lain punya Mama yang datang saat pertunjukan sekolah, sementara ia hanya punya Papa yang selalu datang dengan jas hitam dan wajah dingin. Ia belum tahu kenapa setiap kali bertanya tentang Mama, ruangan selalu jadi sepi.

Tapi ia tahu satu hal.

Kalau Mama tidak datang, Genki yang harus pergi mencari.

Ia menyelinap dari sisi pengasuh yang sedang menoleh ke tangga. Tubuhnya kecil, langkahnya cepat. Buntalan di punggungnya berguncang-guncang.

"Genki!"

Teriakan itu membuat beberapa pembantu di lantai bawah menoleh bersamaan.

Genki menuruni tangga sambil berpegangan pada pagar. Kakinya belum cukup panjang untuk turun cepat, jadi ia melompat satu anak tangga terakhir dengan bunyi kecil.

Tuk.

Begitu mendarat, ia nyaris kehilangan keseimbangan. Pengasuh di belakangnya menjerit pelan, tetapi Genki sudah berdiri lagi. Ia menoleh sebentar, pipinya menggembung.

"Jangan ikut!"

"Genki, nanti jatuh!"

"Genki nggak jatuh."

Ia berlari melewati ruang tengah yang mengilap. Lantai marmer memantulkan tubuh mungilnya. Di dinding, foto keluarga Harto tergantung dalam bingkai besar. Rayhan berdiri di tengah dengan setelan gelap, satu tangan memegang bahu Genki. Foto itu diambil saat Genki baru pulang ke rumah ini. Di foto itu, Genki tidak menangis, tetapi tangannya menggenggam ujung kain lusuh yang sama.

Pintu utama terbuka sedikit karena seorang sopir baru saja menerima paket dari kurir.

Udara Jakarta langsung masuk, panas dan berdebu tipis, bercampur wangi bunga kamboja dari halaman depan.

Penjaga di dekat pos keamanan terkejut melihat Genki berlari keluar.

"Genki!"

Genki mempercepat langkah. Buntalannya jatuh dari bahu. Ia memungutnya, memeluknya di depan dada, lalu terus berlari dengan kaki kecil yang belum stabil.

"Genki mau cari Mama!" serunya.

Kalimat itu membuat penjaga yang hendak mengejar berhenti setengah detik. Terlalu singkat untuk disebut ragu, tetapi cukup untuk memberi Genki jarak.

Pintu gerbang besar Vila Biru sedang terbuka karena mobil pengantar bahan makanan hendak masuk. Suara mesin mobil menutupi teriakan pengasuh dari teras.

"Tutup gerbang! Cepat!"

Namun Genki sudah melewati celah itu.

Di luar gerbang, jalan Menteng pagi itu mulai ramai. Motor melintas pelan, mobil-mobil hitam berkilat keluar dari rumah-rumah besar, dan tukang tanaman mendorong gerobak kecil di seberang jalan. Dunia di luar Vila Biru jauh lebih besar daripada yang Genki bayangkan.

Ia berhenti sebentar di tepi trotoar.

Mata kecilnya menyapu kanan kiri. Buntalan lusuh menempel di dadanya. Bibirnya bergerak pelan, seperti sedang menghafal doa yang hanya ia mengerti sendiri.

"Mama tunggu Genki, ya."

Lalu ia berjalan.

Satu langkah. Dua langkah. Sandal karetnya menampar trotoar dengan suara pelan.

Di belakangnya, pengasuh dan penjaga berlari keluar dari gerbang. Suara mereka memanggil namanya berkali-kali.

"Genki!"

Tetapi sebuah mobil boks putih berhenti di depan gerbang, menurunkan barang kiriman berikutnya. Beberapa detik saja pandangan mereka tertutup.

Ketika mobil itu maju lagi, trotoar di depan Vila Biru sudah kosong.

Genki telah hilang di tikungan jalan.

Episode 2

Bab 2: Pertemuan Pertama

Di tikungan jalan itu, Genki baru sadar bahwa dunia di luar Vila Biru terlalu ramai.

Motor lewat dengan suara mendengung. Mobil-mobil berhenti dan maju lagi seperti tidak sabar. Di trotoar, orang dewasa berjalan cepat sambil menatap ponsel, membawa tas, kopi, atau kantong belanja. Tidak ada yang memperhatikan anak kecil dengan buntalan lusuh di dada.

Genki berdiri di depan sebuah toko bunga yang belum buka sepenuhnya. Pintu kacanya masih setengah tertutup. Bau daun basah dan tanah dari pot tanaman membuat hidungnya gatal.

Ia memeluk buntalannya lebih kuat.

"Mama di mana?" gumamnya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Genki menatap kanan kiri, lalu memilih berjalan mengikuti deretan pohon di tepi jalan. Ia pernah dengar pengasuh berkata, kalau tersesat jangan lari. Tapi ia tidak merasa tersesat. Ia sedang mencari Mama. Itu berbeda.

Beberapa menit kemudian, langkah kecilnya mulai melambat.

Sandal karetnya menggesek tumit. Kain lusuh di dadanya terasa makin berat. Ia berhenti di dekat zebra cross, menunggu lampu pejalan kaki berubah, meski ia tidak benar-benar paham harus menunggu yang mana. Ketika beberapa orang dewasa menyeberang, Genki ikut melangkah.

"Eh, hati-hati!"

Sebuah tangan menarik bahunya pelan sebelum ia terlalu dekat dengan jalur motor.

Genki tersentak. Ia langsung berbalik dan mundur setengah langkah, memeluk buntalannya seperti perisai.

Di hadapannya, seorang perempuan muda bergaun putih berjongkok agar sejajar dengannya. Rambutnya panjang, wajahnya lembut, dan napasnya masih sedikit cepat seperti baru saja berlari.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya perempuan itu.

Genki tidak menjawab.

Matanya menatap perempuan itu lama.

Ada sesuatu yang aneh di dada kecilnya. Bukan takut. Bukan juga malu. Rasanya seperti saat ia memegang selimut hangat setelah mimpi buruk, atau saat seseorang menepuk punggungnya pelan sampai tangisnya berhenti.

Perempuan itu tidak langsung menyentuhnya lagi. Ia hanya menurunkan suara. "Aku Keira. Kamu siapa?"

Genki mengedip.

"Genki."

"Genki," ulang Keira pelan, seolah nama itu penting dan tidak boleh salah diucapkan. "Kamu sendirian?"

Genki menunduk melihat buntalannya.

"Genki cari Mama."

Di belakang Keira, Salma yang membawa dua gelas minuman dingin hampir tersedak. "Kei, ini anak siapa? Kok bisa sendirian di sini?"

Keira tidak menoleh. Perhatiannya tetap pada Genki. Anak itu terlalu kecil untuk berdiri sendirian di pinggir jalan Jakarta dengan wajah setegar itu. Buntalan lusuh di dadanya membuat sesuatu dalam hati Keira berdenyut pelan.

"Mama Genki ada di mana?" tanya Keira.

"Genki belum tahu."

Salma menahan napas. "Aduh."

Keira mengulurkan tangan perlahan, telapak menghadap ke atas. "Kalau belum tahu, kita cari tempat duduk dulu, ya. Di sini banyak kendaraan. Bahaya."

Genki menatap tangan itu.

Biasanya ia tidak suka tangan orang asing. Terlalu banyak tangan yang menarik, mengangkat, atau memindahkannya tanpa bertanya. Di panti dulu, orang dewasa sering bilang anak kecil harus menurut. Di Vila Biru, semua orang baik, tetapi tetap saja mereka sering panik dan memeluknya agar ia tidak pergi.

Tangan Keira diam saja.

Menunggu.

Genki menatap wajah Keira lagi.

"Kakak nggak ambil buntalan Genki?"

Keira tertegun sebentar, lalu menggeleng. "Nggak. Itu punya Genki."

"Nggak paksa pulang?"

"Aku belum tahu rumah Genki di mana. Jadi aku nggak akan paksa."

Jawaban itu membuat bibir Genki bergetar sedikit.

Pelan-pelan, ia meletakkan tangan kecilnya di telapak Keira.

Salma memandang adegan itu dengan mata membesar. "Kei," bisiknya. "Anak kecil biasanya nggak gampang percaya sama orang asing lho."

"Aku tahu," jawab Keira pelan.

Dan justru karena itu, dadanya terasa makin sesak.

Mereka membawa Genki masuk ke area mall terdekat. Bukan ke tempat ramai di tengah atrium, melainkan ke bangku dekat toko roti yang lebih tenang. Keira duduk di samping Genki, tidak terlalu dekat, memberi ruang agar anak itu tidak merasa dikurung. Salma berdiri sebentar untuk membeli air mineral dan roti kecil.

Genki duduk dengan buntalan tetap di pangkuan.

"Genki lapar?" tanya Keira.

Genki menggeleng.

Perutnya berbunyi.

Salma yang baru datang hampir tertawa, tetapi cepat-cepat menahannya saat melihat wajah serius Genki. "Perutnya beda pendapat, Kei."

Keira tersenyum kecil. "Mau roti?"

"Nggak."

"Kue?"

Genki melirik.

Salma langsung menangkap sinyal itu. "Ada cake cokelat. Besar. Ada stroberinya juga."

Mata Genki bergerak lagi, kali ini lebih jelas.

Keira tidak menggoda. Ia hanya berdiri. "Aku beli satu, ya. Kalau Genki mau makan, makan. Kalau nggak, nanti aku yang makan."

"Genki mau lihat."

"Boleh."

Keira membawa Genki ke depan etalase toko kue. Di balik kaca, potongan cake tersusun rapi. Ada cokelat, keju, matcha, dan stroberi. Genki berdiri di ujung kaki, hidungnya hampir menempel ke kaca.

"Yang itu," katanya sambil menunjuk cake cokelat dengan stroberi merah di atasnya.

"Satu slice?" tanya petugas toko.

Keira mengangguk. "Satu slice, tolong. Sama sendok kecil."

Ketika cake itu diletakkan di meja, Genki tidak langsung makan. Ia menatap Keira, lalu mendorong piringnya sedikit ke arah perempuan itu.

"Kakak makan dulu."

Salma dan Keira saling pandang.

"Kenapa aku dulu?" tanya Keira lembut.

"Biar nggak hilang."

Keira merasa senyumnya tertahan di tenggorokan.

Ia mengambil sedikit cake dengan sendok, mencicipinya, lalu berkata, "Enak. Sekarang giliran Genki."

Baru setelah itu Genki makan. Satu suapan kecil. Lalu satu lagi. Wajahnya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur. Ada remah cokelat menempel di sudut bibirnya.

Keira mengambil tisu dan berhenti sebentar sebelum menyentuhnya. "Boleh aku bersihkan?"

Genki mengangguk.

Keira menyeka sudut bibirnya pelan. Gerakan itu sederhana. Tetapi Genki tiba-tiba merasakan panas di belakang matanya.

"Kenapa?" Keira menunduk cemas. "Sakit?"

Genki menggeleng cepat.

"Kak Kei..."

Panggilan itu keluar begitu saja.

Keira membeku sejenak. Salma juga berhenti mengaduk minumannya.

"Iya?" jawab Keira akhirnya.

Genki menatapnya dengan mata basah, lalu menyodorkan sendok berisi cake. "Kak Kei makan lagi. Genki bagi."

Salma memalingkan wajah, pura-pura melihat etalase roti. "Aduh, aku nggak kuat."

Keira menerima suapan kecil itu. "Terima kasih, Genki."

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari Vila Biru, Genki tersenyum.

Kecil sekali.

Tapi cukup untuk membuat Keira ingin menjaga anak itu sampai keluarganya ditemukan.

"Genki ingat nomor telepon Papa?" tanya Keira setelah beberapa menit. Nada suaranya hati-hati.

Senyum Genki langsung hilang.

"Papa nanti suruh Genki pulang."

"Papa pasti khawatir."

"Papa nggak kasih Mama."

Keira terdiam.

Salma meletakkan gelasnya pelan. Ia tidak lagi bercanda. "Kei, kita harus lapor petugas mall. Kalau keluarganya cari, mereka bisa ketemu di informasi."

Keira mengangguk. "Iya."

Seolah mendengar kata keluarga, tangan Genki buru-buru meraih lengan Keira.

"Kak Kei jangan pergi."

"Aku nggak pergi."

"Janji?"

Keira menatap tangan kecil yang mencengkeram lengannya. Cengkeraman itu lemah, tetapi penuh ketakutan. Seperti kalau dilepas sedikit saja, dunia akan kembali mengambil semua yang ia punya.

"Janji," kata Keira.

Genki mendekat. Detik berikutnya, ia menyandarkan kepala ke perut Keira dan memeluknya sekuat tenaga. Buntalan kecilnya terjepit di antara mereka.

Keira tidak siap. Tubuhnya menegang sesaat, lalu perlahan melembut. Ia menurunkan tangan dan mengusap punggung Genki.

Entah kenapa, dadanya ikut sakit.

"Kei," bisik Salma.

Keira mengikuti arah pandang Salma.

Di ujung koridor mall, beberapa pria berjas hitam berjalan cepat ke arah mereka. Langkah mereka teratur, wajah mereka tegang. Salah satunya memegang ponsel dan menatap foto di layar, lalu mengangkat wajahnya tepat ke arah Genki.

Genki merasakan pelukan Keira berubah kaku.

Ia menoleh.

Begitu melihat orang-orang itu, wajahnya pucat. Tangannya makin erat memeluk Keira.

"Nggak mau," bisiknya. "Genki nggak mau pulang."

Pria berjas hitam paling depan berhenti beberapa langkah dari meja. Tatapannya jatuh pada Genki, lalu pada tangan kecil yang mencengkeram gaun Keira.

"Kami harus membawa Genki pulang sekarang."

Episode 3

Bab 3: Pria Itu

"Kami harus membawa Genki pulang sekarang."

Kalimat pria berjas hitam itu membuat Genki langsung menyembunyikan wajah ke lipatan gaun Keira.

Keira menahan napas.

Di sekeliling mereka, beberapa pengunjung mulai menoleh. Tiga pria berjas hitam berdiri terlalu rapi untuk terlihat seperti keluarga biasa. Tatapan mereka tajam, langkah mereka tertahan, seolah sudah biasa membuat orang lain memberi jalan tanpa banyak tanya.

Salma berdiri di samping Keira. Wajahnya tidak lagi santai. "Maaf, Bapak siapa?"

Pria paling depan menunjukkan kartu identitas perusahaan sekilas. "Kami dari keluarga Harto. Anak ini harus kembali."

Keira tidak langsung menyerahkan Genki.

Ia menunduk melihat anak kecil yang masih gemetar di pelukannya. Jari Genki mencengkeram kain gaunnya sampai kusut. Buntalan kecil itu terjepit di antara tubuh mereka, seolah seluruh keberanian Genki tinggal di sana.

"Genki," bisik Keira. "Kamu kenal mereka?"

Genki mengangguk sangat pelan, tapi pelukannya makin erat.

"Mereka orang rumah?"

Anggukan kedua.

"Mau pulang bersama mereka?"

Kali ini kepala Genki bergerak cepat ke kiri dan kanan.

"Nggak mau. Kak Kei ikut."

Pria berjas hitam itu tampak cemas. "Nona, kami mengerti Anda berniat baik, tapi tolong jangan mempersulit. Keluarganya sudah panik."

"Saya tidak mempersulit," jawab Keira. Suaranya lembut, tetapi jelas. "Saya hanya memastikan anak ini aman. Dia ditemukan sendirian di jalan."

Salma langsung menimpali, "Dan hampir menyeberang sembarangan. Jadi kalau mau bawa anak sekecil ini, paling tidak jelaskan baik-baik."

Pria itu mengatupkan rahang. Ia menatap Genki, lalu menurunkan suara. "Genki, ayo pulang. Papa menunggu."

Tubuh Genki menegang.

"Papa jahat."

Keira merasakan kata itu lebih sebagai ketakutan daripada kemarahan.

Pria berjas itu kelihatan tidak tahu harus menjawab apa. Pengunjung makin banyak memperhatikan. Salah satu pria di belakangnya segera bicara lewat ponsel dengan suara rendah. Situasi di dalam mall terasa menipis, seperti kaca yang bisa retak kapan saja.

"Lebih baik kita ke area parkir," kata pria paling depan akhirnya. "Mobil sudah menunggu. Kalau Nona khawatir, silakan ikut sampai anak ini masuk mobil."

Salma menatap Keira, jelas tidak setuju. "Kei."

Keira juga ragu. Tetapi Genki menengadah, matanya basah.

"Kak Kei ikut, ya?"

Keira menelan rasa tidak nyaman di tenggorokannya. "Aku ikut sampai Genki aman."

Salma mendesah. "Kalau begitu aku ikut juga."

Mereka berjalan menuju lift parkir dengan posisi yang aneh. Dua pria berjas di depan, satu di belakang, Salma di sisi kiri, sementara Genki tetap menempel pada Keira. Anak itu menolak digendong siapa pun. Ia berjalan kecil-kecil, satu tangan menggenggam buntalan, satu tangan menggenggam jari Keira.

Di dalam lift, tidak ada yang bicara.

Pantulan di dinding logam memperlihatkan wajah Keira sendiri. Tenang, tetapi matanya waspada. Ia tidak tahu keluarga Harto yang dimaksud itu keluarga Harto mana, sampai Salma mendekat dan berbisik nyaris tanpa suara.

"Kei, kalau ini Harto yang aku pikir, kita sedang berdiri di tengah masalah konglomerat."

Keira meliriknya.

"Harto Group?" bisiknya balik.

Salma mengangguk kecil. "Yang itu."

Keira menunduk melihat Genki.

Anak sekecil ini, dengan buntalan lusuh dan sandal karet, ternyata berasal dari salah satu keluarga paling kuat di Jakarta. Entah kenapa, fakta itu tidak membuat adegan ini terasa lebih mewah. Justru lebih menyedihkan.

Anak yang punya segalanya masih berlari mencari Mama.

Pintu lift terbuka di lantai parkir.

Udara di sana lebih dingin. Bau beton, bensin, dan pendingin ruangan bercampur. Di ujung jalur parkir, beberapa mobil hitam berderet. Lampu hazard menyala pelan. Seorang pria lain berdiri di dekat pilar, mengenakan kemeja putih dan jas gelap, sibuk menerima laporan dari ponsel.

Begitu melihat Genki, ia segera mendekat.

"Genki sudah ditemukan," katanya ke ponsel. "Kami di parkir, Pak."

Genki bersembunyi lagi di balik tubuh Keira.

Keira menunduk. "Genki, itu siapa?"

"Om Gio," jawab Genki lirih.

Gio berhenti dua langkah dari mereka. Matanya bergerak cepat, membaca situasi dalam satu detik. Lalu ia menatap Keira dengan sopan, tetapi penuh tekanan.

"Terima kasih sudah menjaga Genki. Saya Gio, asisten Pak Rayhan."

"Keira," jawab Keira singkat. "Teman saya, Salma."

Gio mengangguk. "Pak Rayhan sedang menuju ke sini."

Baru selesai kalimat itu, suara mesin halus terdengar dari arah pintu masuk parkir.

Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari mereka. Tidak ada logo mencolok, tidak ada suara berlebihan. Namun kehadirannya membuat semua pria berjas di sekitar mereka berdiri lebih tegak.

Pintu belakang terbuka.

Seorang pria keluar.

Keira tidak tahu harus menyebut apa yang pertama kali ia rasakan. Mungkin tekanan. Mungkin dingin. Mungkin sesuatu yang terlalu tajam untuk disebut hanya sebagai tatapan.

Pria itu tinggi, bahunya lebar, jas hitamnya jatuh sempurna di tubuh. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi, tetapi udara di sekitarnya seperti ikut menahan diri. Ia tidak berjalan cepat. Tidak perlu. Semua orang sudah memberi ruang sebelum ia sampai.

Rayhan Harto.

Nama itu muncul di kepala Keira bersamaan dengan ingatan tentang berita bisnis yang pernah ia baca sekilas. CEO muda Harto Group. Pria yang lebih sering muncul di halaman ekonomi daripada infotainment. Terlalu jauh dari hidupnya.

Namun sekarang, pria itu berdiri beberapa meter di depannya, matanya langsung tertuju pada Genki.

"Genki."

Satu kata. Rendah. Dingin. Tapi tidak kasar.

Genki mengangkat wajah sedikit, lalu cemberut.

"Papa jahat."

Alis Rayhan bergerak tipis. "Kamu kabur dari rumah."

"Genki cari Mama."

Kalimat itu membuat suasana parkir kembali sunyi.

Keira merasakan jari Genki makin erat menggenggam tangannya. Rayhan juga melihatnya. Tatapannya turun pada tangan kecil Genki yang menempel pada jari Keira, lalu naik perlahan ke wajah Keira.

Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Jantung Keira berdetak lebih cepat dari yang ia inginkan.

Tatapan Rayhan tidak seperti pria kebanyakan yang terkejut melihat perempuan asing bersama anaknya. Tidak ada tuduhan kasar. Tidak ada panik yang berantakan. Hanya diam yang sangat terkontrol, seolah ia sedang menimbang setiap detail.

Gaun putih Keira yang kusut di genggaman Genki.

Buntalan kecil di dada anak itu.

Remah cokelat di sudut bibir Genki yang belum sepenuhnya bersih.

Dan cara Genki berdiri setengah melindungi Keira dari Papanya sendiri.

"Terima kasih sudah menjaga anak saya," kata Rayhan akhirnya.

Keira mengangguk. "Dia sendirian di jalan. Saya tidak bisa meninggalkannya."

"Itu keputusan yang benar."

Jawaban itu membuat Keira sedikit terkejut. Ia mengira pria seperti Rayhan akan langsung mengambil alih dan selesai. Ternyata ia mendengar dulu.

Rayhan menunduk pada Genki. "Pulang."

"Nggak mau kalau Kak Kei nggak ikut."

"Genki."

"Kak Kei punya Genki!" seru Genki, tiba-tiba lebih keras. Suaranya menggema kecil di area parkir. "Papa nggak boleh ambil!"

Salma menutup mulutnya, antara panik dan ingin tertawa karena tegang.

Gio batuk kecil, pura-pura menatap ke arah lain.

Rayhan diam.

Beberapa detik berlalu.

Keira ingin menjelaskan bahwa anak itu hanya takut, bahwa ia tidak bermaksud ikut campur urusan keluarga siapa pun. Tetapi tatapan Rayhan kembali padanya, dan kalimat itu tertahan.

"Kak Kei?" ulang Rayhan pelan.

Genki mengangguk cepat. "Kak Kei baik. Kak Kei beli cake. Kak Kei nggak ambil buntalan Genki."

Sesuatu yang sulit dibaca melintas di mata Rayhan.

Ia melihat buntalan lusuh itu, lalu wajah anaknya. Dingin di wajahnya tidak hilang, tetapi Keira menangkap ada retak kecil di sana. Barangkali bukan retak. Barangkali lelah.

"Kalau begitu," kata Rayhan, "Kak Kei boleh mengantar sampai mobil."

Genki menatap Keira penuh harap.

Keira menarik napas pelan. "Aku antar sampai mobil, ya. Setelah itu Genki pulang dengan Papa."

"Kak Kei janji ketemu lagi?"

Keira tidak segera menjawab.

Rayhan menatapnya.

Di bawah tatapan pria itu, Keira tahu jawaban sekecil apa pun bisa menjadi awal dari sesuatu yang tidak sederhana. Tetapi melihat mata Genki yang menunggu, ia tetap tersenyum lembut.

"Kalau memang ada kesempatan, kita ketemu lagi."

Genki tampak tidak puas, tetapi setidaknya ia mau melangkah.

Saat Keira menuntunnya ke mobil, Rayhan berjalan di sisi lain. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Kehadirannya terasa seperti dinding tinggi di samping mereka.

Di depan pintu mobil, Genki akhirnya melepas tangan Keira, tetapi hanya setelah Rayhan sendiri membuka pintu dan menunggu.

"Kak Kei," panggil Genki.

"Iya?"

"Jangan lupa Genki."

Keira tersenyum. "Tidak akan."

Genki masuk ke mobil sambil tetap memeluk buntalannya.

Pintu belum ditutup ketika Rayhan menoleh kepada Gio.

"Catat namanya."

Gio langsung mengangguk. "Baik, Pak."

Rayhan kembali menatap Keira. Suaranya datar, tetapi matanya tidak pergi dari wajahnya.

"Keira," katanya, seolah menguji nama itu sekali di lidahnya.

Keira menegakkan punggung. "Ya."

Rayhan diam setengah detik.

"Kita mungkin akan bertemu lagi."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!