Bab 1: Seleksi
Lantai marmer di aula Kediaman Ciu terlalu mengilap untuk koper tua Keira Lo.
Roda koper itu berbunyi seret setiap kali ia menggesernya sedikit. Suara kecil itu tenggelam di bawah ketukan heels, gesekan kain mahal, dan bisik-bisik perempuan yang sejak tadi berdiri melingkar seperti sedang menunggu audisi hidup mereka.
Pagi masih basah oleh hujan. Di luar, halaman luas kediaman itu berkilau, dijaga dua lapis gerbang dan satpam berseragam rapi. Di dalam, udara dingin dari pendingin ruangan menempel di kulit Keira sampai ia sadar telapak tangannya lembap.
Hampir dua ratus pelamar memenuhi aula. Sebagian memakai setelan putih bersih seperti perawat klinik swasta. Sebagian membawa map tebal, tas bermerek, dan cerita pengalaman bekerja di rumah pejabat.
Keira hanya membawa satu koper kain hitam yang sudutnya sudah terkelupas, satu map plastik bening, dan ponsel Android dengan retak halus di dekat kamera depan.
"Nomor seratus delapan puluh tujuh."
Bi Sari berdiri di depan meja panjang. Kebayanya rapi, rambutnya disanggul rendah, dan tatapannya bergerak dari kepala sampai ujung sepatu setiap pelamar tanpa terburu-buru. Ia tidak perlu meninggikan suara. Semua orang tetap mendengarnya.
"Keira Lo," ucap Bi Sari, membaca berkas. "Usia dua puluh satu. Sertifikat baby care specialist dari yayasan pelatihan swasta. Pengalaman merawat bayi baru lahir dua tahun. Tidak ada catatan kriminal. Hasil tes kesehatan lengkap."
Beberapa kepala menoleh.
Dua puluh satu tahun terdengar terlalu muda di ruangan ini.
Seorang perempuan di sebelah Keira tersenyum tipis. "Masih muda sekali. Ini bukan kerja menjaga keponakan sendiri, lho."
Bi Sari menurunkan berkas sedikit. Matanya berhenti di wajah Keira, turun ke bahu sempitnya, lalu ke tangan kanannya.
"Terlalu muda," katanya datar. "Terlalu kurus."
Bi Sari melangkah mendekat. "Tanganmu ada bekas luka."
Keira menunduk sekilas. Di punggung tangan kanannya, bekas luka bakar itu memang tampak jelas, lebih pucat dari kulit di sekitarnya. Ia sudah biasa melihat orang-orang memandangnya seperti melihat cacat pada barang yang akan dibeli.
"Itu tidak mengganggu pekerjaan saya, Bi Sari," jawab Keira.
Suaranya tenang. Tidak keras, tidak juga meminta iba.
Alis Bi Sari naik sedikit. "Di Kediaman Ciu, pengasuh bayi bukan hanya harus bisa menggendong dan mengganti popok. Kalian akan merawat cucu keluarga Ciu. Satu kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar. Kami tidak menerima orang ceroboh, orang serakah, atau orang yang membawa masalah pribadi ke dalam rumah ini."
Kata serakah membuat beberapa pelamar saling pandang.
Keira tahu ia tidak bisa melakukan itu.
Ia memang datang untuk uang.
Rp 50 juta sebulan. Untuk sebagian orang di ruangan ini, uang itu mungkin hanya harga satu tas. Untuk Keira, itu berarti konsultasi neurologi Kiara di rumah sakit swasta, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan biaya transportasi dari Sriwedari ke Jakarta tanpa harus meminjam dari siapa pun.
"Semua pelamar sudah menyerahkan hasil pemeriksaan kesehatan?" tanya Bi Sari.
"Sudah, Bi," jawab beberapa staf serempak.
"Tes narkoba?"
"Sudah."
"Pelatihan pertolongan pertama bayi?"
"Akan diuji langsung setelah seleksi berkas."
Bisik-bisik mulai naik lagi. Kali ini lebih gugup.
Keira menarik napas pelan. Lima puluh juta. Setiap kali angka itu muncul, lehernya seperti dicekik oleh harapan sendiri.
Ponselnya bergetar di saku rok hitamnya.
Ia menunggu sampai perhatian Bi Sari berpindah, lalu menunduk sedikit dan membuka layar.
Satu pesan dari Kak Anisa.
Kia sudah bangun. Hari ini dia gambar kucing oranye lagi.
Di bawah pesan itu ada foto.
Kiara duduk di lantai kamar kecil di Desa Sriwedari. Dinding di belakangnya kusam, catnya mengelupas di dekat jendela. Rambutnya diikat asal, senyumnya miring seperti anak kecil yang baru menemukan rahasia menyenangkan.
Di kertas gambar, seekor kucing oranye berdiri di bawah matahari besar.
Keira menatap foto itu lebih lama dari yang seharusnya.
Kak.
Kata itu tidak ia ucapkan. Hanya bergerak di dalam dada.
Kiara lebih tua tujuh menit darinya. Dulu, kakaknya yang berdiri di depan saat anak-anak lain mengejek mereka anak panti. Sekarang Kiara sering lupa hari, menangis tanpa sebab, lalu tertawa sendiri sambil bertanya apakah kucing bisa menjaga manusia dari mimpi buruk.
Tiga tahun lalu, semua itu dirampas dari mereka.
Keira mengetik singkat.
Jaga Kak Kiara ya, Kak Nis. Aku akan dapat kerja ini.
Balasan Kak Anisa datang cepat.
Pelan-pelan, Dek. Jangan lupa makan.
"Nomor seratus delapan puluh tujuh."
Keira memasukkan ponsel kembali ke saku. "Saya, Bi."
"Kenapa kau ingin bekerja di sini?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi puluhan pasang mata langsung mengarah padanya.
Keira tahu jawaban yang diinginkan orang kaya biasanya terdengar bersih. Saya menyukai bayi. Saya ingin mengabdikan diri. Saya terhormat bisa melayani keluarga Ciu.
Semua itu benar sebagian. Tapi tidak cukup benar.
"Saya butuh pekerjaan yang membayar sesuai tanggung jawabnya," jawab Keira.
Seseorang tertawa kecil.
Bi Sari menatapnya. "Jadi karena uang?"
"Ya," kata Keira.
Tawa kecil itu berhenti. Beberapa orang menatapnya seperti ia baru saja menampar dirinya sendiri di depan juri.
"Tapi saya tidak akan mempertaruhkan bayi siapa pun demi uang," lanjut Keira. "Justru karena saya tahu nilai uang, saya tahu setiap rupiah harus dibayar dengan kerja yang benar."
Untuk pertama kalinya, mata Bi Sari tidak langsung bergerak pergi.
Ia menatap Keira beberapa detik, seolah sedang mencari kebohongan di wajahnya.
"Di rumah ini," ucap Bi Sari pelan, "orang yang terlalu jujur sering tidak bertahan lama."
"Kalau harus berbohong untuk bertahan, berarti saya memang tidak cocok sejak awal."
Suasana menegang. Di Kediaman Ciu, bahkan sebelum diterima kerja, semua orang sudah belajar satu hal: jangan menjawab terlalu lurus kepada orang yang memegang pintu.
Bi Sari tidak marah. Justru itu yang membuat udara terasa lebih dingin.
"Kita lihat nanti," katanya.
Ia kembali ke meja dan memberi tanda kepada staf. "Pisahkan berkas yang lengkap. Setelah itu, tes penanganan bayi menangis dan keadaan darurat ringan. Yang gagal langsung pulang."
Gelombang keresahan bergerak di aula.
Perempuan yang tadi mengejek Keira kini diam, bibirnya bergerak tanpa suara seperti sedang mengulang prosedur.
Keira menutup mapnya.
Ia pernah mengganti perban bayi demam di rumah kontrakan yang listriknya padam. Ia pernah menenangkan ibu muda yang menangis karena ASI tidak keluar. Ia pernah membawa Kiara ke IGD naik ojek saat hujan deras.
Tes di aula marmer ini tetap menakutkan.
Tapi hidupnya jauh lebih menakutkan kalau ia pulang tanpa pekerjaan.
Tiba-tiba, pintu besar di sisi tangga terbuka.
Suara itu tidak keras, tetapi cukup membuat seluruh aula berhenti bergerak.
Bi Sari menegakkan punggung. Para staf menunduk serempak. Pelamar yang sejak tadi berbisik langsung bungkam.
Dari puncak tangga melengkung, seorang pria muncul.
Jas gelapnya jatuh sempurna di bahu. Wajahnya dingin, nyaris tanpa ekspresi. Ia tidak perlu memperkenalkan diri. Dari cara semua orang menahan napas, Keira tahu pria itu bukan sekadar anggota keluarga.
Seseorang di belakangnya berbisik sangat pelan, penuh gugup dan kagum.
"Ko Ethan turun sendiri."
Keira mengangkat kepala.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, aula marmer yang luas terasa seperti perangkap yang baru saja dikunci dari dalam.
Bab 2: Ko Ethan
Ko Ethan turun tanpa tergesa.
Setiap langkahnya di tangga marmer terdengar jelas, rapi, dingin, seperti ketukan palu kecil di ruang sidang. Tidak ada yang berani berbisik lagi. Bahkan perempuan yang sejak tadi paling percaya diri kini menunduk sambil merapikan map di dadanya.
Keira tetap berdiri di tempatnya.
Dari jarak beberapa meter, ia bisa melihat pria itu lebih jelas. Wajahnya tidak setajam kemarahan, tetapi lebih menakutkan karena tidak menunjukkan apa pun. Matanya menyapu aula, bukan seperti melihat manusia, melainkan seperti membaca laporan kerugian.
"Ko Ethan," sapa Bi Sari sambil menunduk.
Pria itu berhenti di depan meja seleksi. "Berapa yang lolos berkas?"
"Seratus dua belas, Ko."
"Terlalu banyak."
Hanya dua kata, tetapi beberapa pelamar langsung pucat.
Bi Sari tidak membantah. "Tes praktik akan dimulai setelah ini."
"Tidak perlu menunggu." Ethan mengambil satu map teratas, membuka sekilas, lalu menutupnya kembali. "Aku wawancara langsung."
Kali ini, kegugupan di aula berubah menjadi sesuatu yang nyaris bisa disentuh.
Keira mendengar seseorang di belakangnya menggumam lirih, "Ya Tuhan."
Ethan mengangkat wajah. "Pertanyaan pertama. Kenapa kalian datang ke Kediaman Ciu?"
Beberapa pelamar saling pandang, seakan kalimat itu perangkap yang bentuknya terlalu sederhana.
Seorang perempuan maju lebih dulu. "Saya mencintai anak-anak, Ko Ethan. Saya ingin mengabdikan kemampuan saya untuk keluarga Ciu."
Ethan tidak bereaksi. "Jawaban hafalan. Mundur."
Wajah perempuan itu langsung merah.
Pelamar kedua mencoba lebih berani. "Saya punya pengalaman tujuh tahun di keluarga ekspatriat. Saya yakin bisa memberi standar terbaik."
"Aku tidak bertanya pengalamanmu."
Perempuan itu terdiam.
Pelamar ketiga menjawab terlalu cepat, "Saya butuh pekerjaan, Ko. Gajinya besar dan saya bisa bekerja keras."
Ethan menatap Bi Sari. "Coret."
Suara pena Bi Sari di kertas terdengar halus, tetapi bagi perempuan itu seperti pintu yang ditutup.
"Ko Ethan, saya hanya jujur," protesnya lirih.
"Kami tidak membutuhkan orang yang melihat bayi keluarga ini sebagai angka di slip gaji."
Tidak ada yang berani membela.
Keira merasakan kalimat itu mengenai dirinya juga. Beberapa pelamar yang mendengar jawabannya kepada Bi Sari tadi mulai meliriknya, ada yang diam-diam tersenyum puas, seolah giliran Keira tinggal menunggu.
Pertanyaan itu berlanjut dari satu orang ke orang lain.
Yang terlalu manis dianggap palsu. Yang terlalu ambisius dianggap berbahaya. Yang terlalu takut langsung disuruh mundur. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, separuh barisan sudah kehilangan warna dari wajahnya.
Lalu staf membawa sebuah boneka bayi latihan.
Boneka itu diletakkan di meja kecil, lengkap dengan selimut, botol kosong, dan monitor simulasi. Dari pengeras suara kecil di dalamnya, tangis bayi mendadak pecah, melengking dan berulang.
Beberapa pelamar tersentak.
"Pertanyaan kedua," kata Ethan. "Bayi menangis terus-menerus setelah minum. Suhu normal. Popok bersih. Apa yang kalian lakukan?"
Satu demi satu pelamar maju. Ada yang langsung mengangkat boneka terlalu tinggi. Ada yang menepuk punggung terlalu keras. Ada yang panik mencari dot. Ada yang sibuk menjelaskan teori tanpa menyentuh bayi sama sekali.
Ethan menonton tanpa ekspresi.
"Bayi bukan presentasi PowerPoint," ucapnya saat seorang pelamar membaca catatan dari ponsel. "Mundur."
Keira menahan napas.
Ketika gilirannya hampir tiba, ia memperhatikan boneka itu, posisi selimut, sudut kepala, dan bunyi tangis yang diputar berulang. Ini simulasi sederhana, tetapi tangan yang panik bisa membuat kesalahan yang nyata.
"Nomor seratus delapan puluh tujuh," panggil Bi Sari.
Keira maju.
Ia tidak langsung menggendong boneka. Pertama, ia mencuci tangan dengan hand sanitizer yang disediakan. Kedua, ia menyentuh bagian leher boneka seolah memeriksa suhu. Ketiga, ia mengangkatnya perlahan, menopang kepala dan punggung, lalu memiringkan tubuh kecil itu di bahunya.
Tangis simulasi masih terdengar.
"Jelaskan," kata Ethan.
"Kalau suhu normal, popok bersih, dan baru selesai minum, saya cek kemungkinan masuk angin, reflux ringan, atau bayi butuh sendawa," jawab Keira. Tangannya menepuk pelan, ritmenya terukur. "Untuk bayi di bawah enam bulan, saya tidak akan memberi air. Hanya ASI atau susu formula sesuai instruksi dokter. Saya juga tidak mengguncang dan tidak memaksa bayi diam. Tangis bukan musuh. Itu informasi."
Untuk pertama kalinya, suara tangis boneka terasa lebih kecil daripada keheningan aula.
Ethan menatap tangannya.
"Kau yakin dengan ritme itu?"
"Untuk bayi baru lahir, tekanan harus lebih ringan dari orang dewasa. Punggungnya bukan pintu yang harus diketuk keras."
Ada yang menahan tawa, tetapi cepat bungkam saat Ethan melirik.
"Cukup."
Keira meletakkan boneka kembali dengan posisi kepala aman. Ia mundur satu langkah.
Ethan tidak memuji. Namun ia juga tidak berkata mundur.
Tes berlanjut.
Pertanyaan ketiga lebih kejam.
Ethan memberi isyarat kepada seorang staf. Layar besar di sisi aula menyala, menampilkan daftar singkat hasil verifikasi. Nama beberapa pelamar muncul dengan catatan merah.
Pernah menyembunyikan riwayat penyakit menular.
Memalsukan lama pengalaman kerja.
Rekomendasi tidak valid.
Suasana langsung pecah dalam bisik tertahan.
"Yang namanya ada di layar, keluar," kata Ethan.
"Ko, itu salah paham," seorang perempuan mencoba maju. "Saya cuma lupa mencantumkan..."
"Keluar."
Satu kata itu cukup.
Satpam di dekat pintu bergerak. Tidak kasar, tetapi jelas tidak memberi ruang tawar.
Keira melihat satu demi satu pelamar meninggalkan aula. Ada yang menangis. Ada yang marah. Ada yang menatap lantai seperti semua masa depannya jatuh di sana.
Namanya tidak muncul di layar.
Namun Ethan tiba-tiba mengambil map plastik bening miliknya.
"Keira Lo."
Dada Keira mengeras. "Ya, Ko Ethan."
"Lulusan panti asuhan berbasis gereja. Tidak punya orang tua. Pernah bekerja di klinik bersalin kecil di Klaten, lalu mengambil sertifikat baby care. Tidak ada keluarga inti yang tercatat, kecuali satu saudari kembar."
Keira tidak bergerak.
Kiara.
Nama itu tidak diucapkan Ethan, tetapi rasanya tetap seperti seseorang menyentuh luka yang belum kering.
"Dalam berkas kesehatanmu, ada bekas luka bakar di tangan kanan." Ethan mengangkat matanya. "Dari mana?"
Semua tatapan kembali menempel pada Keira.
Ia bisa berbohong. Bisa bilang kecelakaan dapur, air panas, setrika. Semua alasan itu aman. Tidak ada yang peduli cukup lama untuk membuktikan.
Tapi mata Ethan terlalu dingin untuk diberi cerita yang mudah.
Keira diam tiga detik.
"Kehidupan yang meninggalkannya," jawabnya.
Beberapa orang tampak bingung. Bi Sari menoleh sedikit.
Ethan tidak.
Ia justru menatap Keira lebih lama daripada pelamar lain. Bukan iba. Bukan tertarik. Lebih seperti seseorang menemukan angka yang tidak cocok dalam laporan yang seharusnya rapi.
"Jawaban yang tidak menjawab."
"Ada hal yang tidak mengganggu pekerjaan, Ko Ethan. Jadi tidak perlu saya jual sebagai cerita sedih."
Udara kembali menipis.
Bi Sari menahan napas pelan. Staf di belakang meja berhenti menulis. Di antara puluhan orang yang tersisa, tidak ada yang berani memandang Ethan terlalu lama.
Ethan menutup map Keira.
"Sisa sepuluh orang."
Bi Sari segera membaca daftar. Nama demi nama jatuh seperti keputusan hakim. Keira mendengar nomor enam puluh dua, empat belas, sembilan puluh, seratus lima. Bukan namanya.
Jarinya meremas ujung map.
Kalau ia gagal di sini, ia harus pulang ke Sriwedari dengan uang sisa yang bahkan tidak cukup untuk satu kali konsultasi Kiara. Ia bisa mencari pekerjaan lain, tentu. Tapi pekerjaan lain tidak membayar lima puluh juta. Pekerjaan lain tidak membuka pintu rumah sakit yang selama ini hanya bisa ia lihat dari brosur.
"Nomor seratus delapan puluh tujuh."
Keira nyaris tidak bernapas.
Bi Sari meliriknya. "Keira Lo."
Beberapa pelamar langsung menoleh. Perempuan yang tadi mengejeknya tampak tidak percaya.
Keira belum sempat merasa lega ketika suara Ethan memotong udara.
"Tiga hari masa percobaan."
Ia menatap Keira, datar.
"Satu kesalahan, kau pergi sendiri ke Bi Sari untuk mengambil uang pesangon. Aku tidak mengulang kesempatan kedua."
Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada tanda diterima.
Nada suaranya seperti sedang mengumumkan sebuah eksperimen yang sejak awal ia yakini akan gagal.
Bab 3: Nyonya Besar
Tiga hari masa percobaan.
Kalimat itu terus menempel di kepala Keira bahkan setelah aula mulai kosong. Pelamar yang gagal berjalan keluar dengan wajah kusut. Beberapa masih menoleh ke arahnya, membawa tatapan tidak rela, seolah keberhasilan Keira adalah kesalahan sistem yang belum sempat diperbaiki.
Keira tidak punya tenaga untuk peduli.
Ia hanya menatap map di tangannya, lalu mengingat wajah Kiara di layar ponsel. Tiga hari berarti tiga malam. Tiga malam berarti ia harus cukup kuat untuk tidak membuat satu pun kesalahan.
"Suster Keira."
Keira mengangkat wajah.
Bi Sari berdiri di sampingnya. Sikapnya tetap rapi seperti tadi, tetapi nada suaranya tidak setajam saat seleksi. "Ikut saya. Nyonya Besar ingin bertemu."
Nama itu membuat beberapa pelamar yang tersisa langsung berhenti berbisik.
Nyonya Besar.
Di rumah sebesar Kediaman Ciu, gelar itu tidak terdengar seperti panggilan istri. Lebih seperti kunci yang menentukan pintu mana boleh dibuka dan pintu mana bisa menelan orang hidup-hidup.
Keira menggenggam kopernya. "Baik, Bi."
Mereka meninggalkan aula utama. Langkah Bi Sari cepat, tetapi tidak terburu-buru. Keira mengikutinya melewati koridor panjang dengan lantai marmer yang lebih dingin dari aula. Di dinding, lukisan keluarga tergantung dalam bingkai emas, namun tidak ada satu pun foto yang terlihat hangat. Semua wajah tertata, semua senyum seperti sudah dilatih.
Koper Keira kembali berbunyi pelan.
Di tempat seperti ini, bahkan suara roda koper tua bisa terasa kurang ajar.
Bi Sari membawanya ke sebuah ruang duduk di sisi timur. Tirai tinggi setengah terbuka, membiarkan cahaya siang jatuh di atas meja kayu gelap. Aroma teh melati dan parfum mahal bercampur tipis di udara.
Seorang perempuan duduk di sofa.
Usianya mungkin mendekati lima puluh, tetapi tubuhnya tegak dan wajahnya terawat seperti tidak pernah disentuh tergesa-gesa. Ia memakai blouse sutra warna gading, kalung mutiara kecil, dan senyum yang cukup lembut untuk menenangkan orang yang tidak paham bahaya.
Bi Sari menunduk. "Nyonya Besar, ini Keira Lo."
Perempuan itu mengangkat mata. "Keira."
"Nyonya Besar," sapa Keira.
"Duduk."
Keira duduk di tepi kursi. Ia meletakkan map di pangkuan, tidak bersandar, tidak juga terlalu kaku. Di hadapan orang seperti Vivienne Sim, salah sedikit bisa dibaca sebagai kurang ajar atau terlalu takut.
Vivienne tidak langsung bertanya. Ia menatap Keira dari wajah, bahu, tangan, lalu berhenti pada bekas luka di punggung tangan kanannya.
"Tanganmu sering bekerja," ucapnya.
"Iya, Nyonya Besar."
"Bukan hanya dari pelatihan."
Keira tidak menjawab terlalu cepat. "Sejak kecil saya terbiasa mengurus banyak hal sendiri."
Vivienne mengulurkan tangan. "Boleh?"
Keira ragu setengah detik, lalu meletakkan tangan kanannya di atas telapak Vivienne.
Jari perempuan itu dingin. Sentuhannya ringan, tetapi Keira merasa seperti sedang diperiksa lebih dalam dari sekadar kulit. Vivienne melihat bekas luka bakar, kapalan kecil di pangkal jari, dan garis tipis yang muncul dari pekerjaan berulang.
"Kau pernah merawat keluarga sendiri?"
Pertanyaan itu lembut.
Justru karena lembut, Keira hampir lengah.
Ia menarik tangannya pelan. "Pernah, Nyonya."
"Siapa?"
"Orang yang perlu saya rawat."
Senyum Vivienne tidak berubah, tetapi matanya bergerak sedikit. "Kau pandai menyimpan batas."
"Saya hanya tidak ingin membawa urusan rumah ke pekerjaan."
"Ko Ethan tidak suka orang menyembunyikan sesuatu."
"Kalau itu memengaruhi pekerjaan, saya akan lapor. Kalau tidak, saya akan bekerja sebaik mungkin."
Ruang duduk menjadi hening.
Bi Sari berdiri di dekat pintu, wajahnya tetap datar, tetapi matanya sempat turun ke map di tangan Keira.
Vivienne akhirnya menarik napas pelan. "Gaji lima puluh juta rupiah per bulan. Selama masa percobaan, kau tinggal di paviliun belakang. Setelah tiga hari, kalau tidak ada masalah, kontrak resmi akan disiapkan."
Keira mendengar angka itu dengan jelas.
Tetap saja, dadanya bergetar.
Lima puluh juta bukan lagi tulisan di pesan yayasan. Bukan janji yang bisa hilang begitu saja. Angka itu baru saja keluar dari mulut Nyonya Besar Keluarga Ciu.
Ia menunduk sedikit agar wajahnya tidak terlalu banyak bicara. "Terima kasih, Nyonya Besar."
"Jangan berterima kasih terlalu cepat." Vivienne mengambil cangkir teh. "Rumah ini membayar mahal karena pekerjaan di sini juga mahal risikonya."
"Saya mengerti."
"Belum," jawab Vivienne tenang. "Tapi kau akan segera mengerti."
Setelah itu, Bi Sari membawa Keira keluar.
Kali ini mereka melewati bagian belakang rumah utama. Karpet tebal berganti lantai keramik bersih. Aroma parfum mahal memudar, digantikan bau sabun lantai dan masakan dari dapur besar. Suara langkah staf lebih cepat di area ini. Orang-orang tidak berjalan, mereka bergerak seperti jarum jam.
"Ini jalur staf," kata Bi Sari. "Jangan sembarang lewat koridor depan kecuali dipanggil."
"Baik, Bi."
"Kamar pengasuh ada di paviliun belakang. Kecil, tapi bersih. Kau makan di ruang makan staf. Jadwalmu akan berubah sesuai kebutuhan bayi dan Nyonya Stephanie."
Nama baru itu membuat Keira menoleh. "Nyonya Stephanie?"
Bi Sari hanya berkata, "Kau akan tahu."
Kamar pengasuh berada di bangunan belakang yang lebih sederhana. Ada ranjang sempit, lemari satu pintu, meja kecil, dan jendela menghadap taman samping. Tidak mewah. Tapi kering, bersih, dan tidak berbau lembap.
Keira menyentuh ujung kasur.
Di Sriwedari, ranjangnya dan Kiara bahkan harus diberi papan tambahan agar tidak melengkung. Di sini, kamar seorang pengasuh saja punya seprai putih dan lampu baca kecil.
"Taruh barangmu. Setelah makan siang, ikut saya lagi," kata Bi Sari.
Makan siang staf disajikan di ruangan panjang dekat dapur. Keira mengambil nasi, sayur bening, ayam kecap, tumis buncis, dan semangkuk sup kecil. Porsinya sederhana untuk Kediaman Ciu, tetapi bagi Keira, itu seperti makanan hari raya.
Ia menyuap pelan.
Rasa hangat sup turun ke perutnya, dan matanya tiba-tiba perih.
Ia teringat Kiara yang sering menyisihkan lauk terbaik untuknya, padahal lauk itu hanya sepotong tempe goreng. Kakaknya akan berkata, "Kei kerja pakai otak, makan yang banyak."
Keira menelan cepat sebelum air matanya jatuh.
Bi Sari pura-pura tidak melihat. "Di rumah ini ada aturan yang tidak tertulis di kontrak."
Keira meletakkan sendok. "Saya dengarkan, Bi."
"Lantai tiga adalah wilayah Ko Ethan. Kau tidak naik kecuali dipanggil."
"Baik."
"Lantai empat lebih terlarang lagi. Itu wilayah Ko Reynard. Bahkan staf lama tidak naik tanpa izin langsung."
Ko Reynard.
Nama itu diucapkan Bi Sari lebih pelan daripada nama Ethan, seolah lantai empat punya udara sendiri.
"Kalau ada yang menyuruhmu mengambil sesuatu ke sana?"
"Saya konfirmasi dulu ke Bi Sari."
"Pintar."
Untuk pertama kalinya, Bi Sari memberi sesuatu yang hampir mirip persetujuan.
Sore mulai turun ketika mereka kembali ke bagian utama rumah. Kali ini Bi Sari membawa Keira ke koridor yang lebih sepi. Karpetnya tebal, pintu-pintunya tinggi, dan di ujung lorong ada dua staf berdiri dengan wajah tegang.
Dari balik salah satu pintu, terdengar suara benda pecah.
Keira berhenti.
Jeritan perempuan menyusul, parau dan penuh amarah.
"Keluar! Aku bilang keluar!"
Tangis bayi terdengar setelahnya, kecil, tersendat, lalu semakin keras.
Bi Sari menatap Keira. "Itu Nyonya Stephanie. Sembilan pengasuh sebelum kau tidak bertahan."
Keira memandang pintu itu.
Tangannya masih lelah dari membawa koper. Perutnya masih hangat oleh sup. Tetapi suara bayi di balik pintu membuat seluruh tubuhnya langsung siaga.
"Tugas pertamamu," kata Bi Sari, "buat dia mengizinkanmu masuk."
Di dalam, sesuatu kembali terbanting.
Keira menarik napas dalam, mengangkat tangan, lalu mendorong pintu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!