Bab 1: Tubuh yang Asing
Perut Ning hilang.
Itu hal pertama yang disadarinya sebelum bau obat, sebelum cahaya putih lampu rumah sakit menusuk kelopak matanya, sebelum rasa nyeri di seluruh tubuhnya membuat napasnya tersendat.
Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia meraba perut sendiri, sekali, dua kali, lalu menekannya dengan gemetar.
Datar.
Tidak ada lengkung besar yang selama sembilan bulan terakhir membuatnya susah tidur. Tidak ada tendangan kecil yang biasanya muncul saat ia menahan lapar terlalu lama. Tidak ada kehidupan yang bergerak di bawah telapak tangannya.
"Bayi saya..."
Suara yang keluar dari tenggorokannya serak. Asing. Terlalu tipis untuk menjadi suaranya sendiri.
Ning mencoba bangun, tetapi dunia langsung berputar. Langit-langit putih rumah sakit melengkung di matanya. Ada tirai hijau pudar di samping ranjang. Ada infus yang sudah dilepas dari punggung tangannya. Ada bau antiseptik yang tajam, bercampur keringat, obat murah, dan udara lembap pendingin ruangan tua.
"Bayi saya di mana?"
Kali ini suaranya lebih keras.
Seorang perawat yang sedang menulis di meja kecil dekat pintu menoleh cepat. Perempuan itu berusia sekitar tiga puluhan, memakai masker, matanya tampak lelah seperti orang yang sudah terlalu sering mendengar pasien panik.
"Mbak, jangan bangun dulu." Perawat itu menghampiri ranjang. "Pelan-pelan. Kamu baru sadar."
Ning mencengkeram selimut rumah sakit yang tipis. "Anak saya. Saya hamil. Saya tadi..."
Kata-katanya berhenti.
Tadi?
Tadi ia berada di mobil.
Hujan turun sangat deras. Wiper bergerak cepat di kaca depan. Perutnya sakit karena kontraksi yang datang terlalu awal. Di sampingnya, suara Kevin terdengar tegang, menyuruh sopir mempercepat mobil. Lalu lampu truk menyambar dari arah berlawanan. Suara benturan. Logam hancur. Darah. Kevin berteriak memanggil namanya.
Setelah itu, tidak ada apa-apa.
Perawat menatapnya bingung. "Mbak tidak hamil."
Ning membeku.
"Tidak mungkin," bisiknya.
"Waktu dibawa ke sini, kondisi Mbak lemah karena kelelahan dan kurang darah. Tidak ada tanda kehamilan." Perawat itu memeriksa tekanan darahnya dengan gerakan terlatih. "Mbak pingsan di tempat kerja. Teman Mbak yang antar ke IGD, tapi dia sudah pulang karena katanya harus masuk shift."
Pingsan di tempat kerja?
Ning menatap perawat itu seperti sedang mendengar bahasa yang tidak ia mengerti. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi rasa sakit tiba-tiba menusuk kepalanya.
Potongan ingatan masuk tanpa permisi.
Gang sempit di Tangerang. Kamar kontrakan kecil dengan kipas angin yang bunyinya berdecit sepanjang malam. Tumpukan kain pesanan. Tubuh yang dipaksa bekerja sampai lewat tengah malam. Telepon dari seorang pria mabuk yang menuntut uang. Perut kosong. Kepala pusing. Lalu lantai toko yang terasa dingin saat tubuh itu jatuh.
Nama gadis itu juga Ning.
Ning Tju.
Usianya dua puluh lima tahun.
Tidak ada suami. Tidak ada anak. Tidak ada keluarga yang bisa disebut rumah.
Ning menutup mulut dengan tangan. Napasnya keluar patah-patah.
Ini bukan tubuhnya.
"Mbak?" Perawat menyentuh bahunya. "Kalau pusing, rebahan lagi."
Ning menepis selimut dan memaksa turun. Kedua kakinya menyentuh lantai. Dingin langsung menjalar dari telapak kaki sampai lutut. Tubuh ini terlalu ringan. Terlalu lemah. Seolah tulangnya kosong dan hanya dibungkus kulit.
"Toilet di mana?" tanyanya.
Perawat ragu. "Saya antar."
"Tidak perlu. Saya bisa."
Ia tidak bisa.
Baru dua langkah, lututnya hampir tertekuk. Perawat menahannya tepat sebelum ia jatuh. Ning menggigit bibir sampai terasa asin.
"Saya antar," kata perawat itu, kali ini tidak memberi ruang untuk menolak.
Ning berjalan dengan satu tangan berpegangan pada lengan perawat. Koridor rumah sakit tampak kusam. Cat dindingnya mengelupas di beberapa bagian. Di ujung lorong, seorang anak menangis di pangkuan ibunya. Dari ruang sebelah terdengar suara keluarga pasien berdebat soal biaya obat.
Semua terlalu nyata.
Di toilet sempit itu, Ning berdiri di depan cermin buram.
Wajah yang menatap balik bukan wajahnya.
Pipi itu tirus, hampir cekung. Bibirnya pucat pecah-pecah. Rambut hitam panjangnya diikat asal, beberapa helai menempel di kening karena keringat. Di bawah mata ada bayangan gelap yang membuatnya terlihat lebih tua dari dua puluh lima.
Ning mengangkat tangan perlahan.
Di pergelangan kirinya, ada bekas luka.
Bukan satu.
Beberapa garis tipis, sudah mengering, sebagian memudar, sebagian masih meninggalkan warna merah muda yang menyakitkan untuk dilihat.
Jari Ning berhenti di atas luka itu tanpa menyentuh.
Tubuh ini pernah meminta tolong.
Tidak ada yang mendengar.
Dada Ning tiba-tiba sesak. Ia tidak mengenal gadis pemilik tubuh ini, tetapi kesedihannya menempel di kulit seperti bau obat rumah sakit yang tidak bisa hilang. Ingatan-ingatan kecil kembali muncul. Hartono yang pulang mabuk. Mei yang diam di sudut dapur. Yuan yang meminta uang pulsa sambil mengumpat. Bos kecil yang menyuruh lembur tanpa tambahan bayaran.
Lalu kamar kontrakan itu. Gelap. Panas. Sepi.
Ning menunduk, kedua telapak tangannya menempel di wastafel.
"Kalau ini tubuhmu," bisiknya pelan pada bayangan di cermin, "aku akan menjaganya."
Tapi setelah kalimat itu selesai, tangannya kembali turun ke perut.
Kosong.
Anaknya.
Kian.
Nama itu muncul dari tempat paling dalam di hatinya. Nama yang ia dan Kevin pilih sambil tertawa kecil suatu malam, saat hujan turun di luar jendela kamar mereka. Kevin bilang nama itu terdengar kuat. Ning bilang nama itu terdengar lembut. Mereka bertengkar manja selama sepuluh menit, lalu Kevin menyerah seperti biasa.
Air mata Ning jatuh begitu saja.
"Kamu di mana?" bisiknya.
Ketukan pelan terdengar dari luar. "Mbak Ning? Masih aman?"
Ning cepat menghapus air mata. "Iya."
Ia keluar dengan wajah yang sudah ia paksa tenang. Perawat itu mengantarnya kembali ke ranjang, lalu mengambil kantong plastik bening dari laci kecil.
"Ini barang Mbak waktu masuk. KTP, ponsel, dompet. Uangnya sedikit, jadi tadi biaya awal ditanggung dulu dari deposit teman Mbak. Sisanya bisa dibicarakan di administrasi."
Ning mengambil KTP itu dengan jari gemetar.
Foto di kartu itu adalah wajah yang baru saja ia lihat di cermin.
Nama: Ning Tju.
Tempat tanggal lahir: Bandung, 14 Mei 1997.
Agama: Kristen.
Alamat: Tangerang.
Di sudut kartu, tahun berlaku dan data elektronik kecil tampak biasa saja. Tapi angka di ponsel membuat darah Ning terasa berhenti.
11 September 2022.
2022.
Tangannya kehilangan tenaga. KTP itu hampir jatuh ke lantai.
"Mbak?" Perawat cepat menangkap kartu itu.
Ning menatap layar ponsel tua di tangannya. Layarnya retak di pojok. Baterainya tinggal delapan persen. Angka tahun itu tetap di sana, dingin dan tidak peduli.
Enam belas tahun.
Ia mati enam belas tahun lalu.
Kalau bayinya selamat, anak itu sekarang bukan bayi lagi. Ia sudah bisa berjalan, bicara, berlari, marah, tertawa. Ia mungkin sudah duduk di bangku SMA. Ia mungkin sudah lebih tinggi dari Ning.
Atau mungkin...
Ning tidak sanggup menyelesaikan pikiran itu.
"Saya mau pulang," ucapnya tiba-tiba.
Perawat mengerjap. "Mbak, dokter menyarankan observasi dulu. Hb Mbak rendah. Tubuh Mbak sangat lemah. Kalau pulang sekarang, risiko pingsan lagi besar."
"Saya tidak punya uang untuk rawat inap."
Kalimat itu keluar begitu saja. Terlalu jujur. Terlalu memalukan. Tapi Ning sudah melihat isi dompet tadi. Hanya ada dua lembar lima puluh ribuan, satu lembar dua puluh ribu, beberapa koin, dan struk minimarket.
Perawat terdiam sesaat. Tatapannya melunak.
"Bisa pakai BPJS kalau datanya aktif."
Ning membuka ingatan tubuh ini. BPJS menunggak. Nomor tunggakan muncul samar di kepala, bersama rasa takut setiap kali menerima pesan tagihan.
"Tidak aktif," jawabnya.
Perawat menarik napas pelan. "Kalau begitu tanda tangan penolakan rawat inap. Tapi tolong makan, minum obat, jangan kerja berat dulu."
Ning hampir tertawa.
Jangan kerja berat.
Tubuh ini hidup dari kerja berat.
Di meja administrasi, seorang petugas berkacamata mendorong beberapa lembar formulir ke arahnya.
"Ini total sementara. Karena hanya IGD dan obat, masih bisa ditekan. Tapi tetap ada biaya yang harus dibayar."
Ning melihat angka di kertas. Bukan jumlah yang besar untuk dirinya dulu. Dulu, satu kali makan malam dengan Kevin bisa menghabiskan lebih dari itu tanpa membuat siapa pun berkedip.
Sekarang angka itu membuat telapak tangannya dingin.
"Bisa saya bayar sebagian dulu?" tanyanya.
Petugas itu menatapnya dari balik kacamata. Mungkin sudah biasa melihat wajah seperti ini. Wajah orang yang sakit tapi lebih takut pada tagihan daripada rasa sakit.
"Bisa. Sisanya dicicil. Tanda tangan di sini."
Ning menandatangani dengan nama yang sama, tetapi tangan yang berbeda.
Ning Tju.
Huruf-huruf itu miring, tidak seindah tulisan tangannya dulu. Namun saat pulpen selesai bergerak, ada sesuatu yang seperti terkunci.
Mulai hari ini, ia hidup sebagai Ning Tju yang ini.
Ia menerima kantong obat murah, KTP, dan ponsel retak. Tidak ada koper. Tidak ada kartu bank. Tidak ada cincin nikah di jari. Pergelangan kirinya hanya punya bekas luka, bukan gelang berlian yang pernah Kevin pasangkan sambil pura-pura tidak gugup.
Kevin.
Nama itu membuat dadanya sakit dengan cara lain.
Bagaimana kabarnya?
Apakah ia hidup?
Apakah ia membenci Ning karena pergi begitu saja?
Apakah ia menyelamatkan anak mereka?
Ning berjalan keluar dari ruang administrasi dengan langkah lambat. Sore sudah turun di luar jendela koridor. Cahaya matahari Jakarta masuk miring, kuning kotor, memantul di lantai rumah sakit yang terlalu sering dipel.
Di depan pintu keluar, ada papan pengumuman tua penuh kertas. Jadwal donor darah. Nomor antrean poli. Pengumuman vaksin. Foto direktur rumah sakit yang mulai pudar. Beberapa potongan berita lama ditempel di sisi kanan, mungkin untuk menunjukkan kerja sama rumah sakit dengan berbagai perusahaan.
Ning melewatinya.
Lalu berhenti.
Matanya menangkap dua kata yang membuat seluruh tubuhnya menegang.
Semesta Group.
Ia menoleh pelan.
Potongan berita itu sudah menguning di tepi. Foto di dalamnya buram, tetapi masih cukup jelas memperlihatkan seorang pria berjas hitam berdiri di depan mikrofon. Judulnya membahas bantuan alat kesehatan dari Semesta Group untuk rumah sakit umum di Jakarta.
Ning mendekat.
Jantungnya mulai memukul rusuk.
Di bawah foto itu ada nama CEO yang memberikan sambutan.
Nama itu menghantam matanya seperti cahaya putih dari ruang operasi: Kevin Nie.
Bab 2: Dia Punya Seorang Anak
Kevin Nie.
Nama itu menempel di mata Ning begitu lama sampai huruf-huruf di potongan berita lama itu mulai kabur.
Enam belas tahun sudah lewat, tetapi nama itu masih sanggup membuat dadanya sakit seperti luka baru. Dulu, Kevin masih seorang pria muda yang tidak pandai bicara. Ia jarang tersenyum, lebih sering menatapnya diam-diam, lalu melakukan semua hal yang ia butuhkan sebelum ia sempat meminta.
Sekarang pria itu menjadi CEO Semesta Group.
Foto di berita itu buram. Wajahnya tidak terlalu jelas, hanya garis rahang dan postur tegak yang membuat Ning yakin. Itu Kevin. Lebih matang, lebih jauh, seperti seseorang yang sudah berjalan sendirian melewati tahun-tahun yang tidak pernah Ning lihat.
"Mbak, mau keluar?" suara satpam rumah sakit membuatnya tersadar.
Ning menoleh. Pria berseragam itu berdiri beberapa langkah darinya, tampak heran melihat seorang pasien pucat berdiri lama di depan papan pengumuman.
"Iya," jawab Ning pelan.
Ia memaksa kakinya bergerak.
Di luar rumah sakit, panas Jakarta menyambut seperti dinding. Sore hampir turun, tetapi udara masih lembap. Klakson angkot, suara motor, dan teriakan pedagang di pinggir jalan bercampur menjadi satu. Ning berdiri di trotoar dengan kantong obat di tangan, KTP di saku, dan ponsel retak yang baterainya hampir mati.
Dunia ini bergerak terlalu cepat.
Mobil-mobil melintas. Orang-orang menunduk pada ponsel masing-masing. Tidak ada yang tahu bahwa seorang perempuan yang seharusnya mati enam belas tahun lalu sedang berdiri di antara mereka, mencari sisa hidupnya di kota yang sama sekali asing.
Ning membuka aplikasi peta dengan susah payah. Ingatan tubuh ini memberinya satu alamat kontrakan di Tangerang. Jauh. Ongkos ojol akan membuat sisa uangnya menipis, tetapi ia tidak sanggup naik angkutan umum dengan tubuh selemah ini.
Ia memesan ojol termurah.
Selama perjalanan, Ning memeluk kantong obat di pangkuan. Jaket pengemudi berbau matahari dan asap jalan. Angin sore menampar wajahnya setiap kali motor menyelip di antara mobil. Ia melewati halte, flyover, deretan ruko, lalu jalan-jalan yang semakin sempit menuju Tangerang.
Kontrakan itu lebih buruk daripada potongan ingatan yang muncul di kepalanya.
Bangunannya menempel satu sama lain di dalam gang sempit yang hanya cukup dilewati satu motor. Kabel listrik bergelantungan seperti akar hitam. Air bekas cucian mengalir di selokan kecil. Dari salah satu pintu terbuka, terdengar suara televisi terlalu keras. Bau minyak goreng bekas dan sabun murah memenuhi udara.
Kamar Ning ada di lantai dua.
Tangga semennya curam. Setiap anak tangga membuat pandangannya berkunang-kunang. Ketika akhirnya ia sampai di depan pintu tripleks bercat biru kusam, tangannya gemetar saat mencari kunci.
Di dalam, kipas angin tua berputar pelan dengan bunyi berdecit. Ruangan itu mungkin hanya enam meter persegi. Kasur lipat menempel ke dinding. Di sudut ada ember, gantungan baju, dan satu meja plastik kecil yang penuh gulungan benang, gunting kain, serta nota pekerjaan.
Tidak ada foto keluarga.
Tidak ada benda yang menunjukkan seseorang pernah pulang dengan bahagia ke tempat ini.
Ning duduk di tepi kasur. Tubuhnya seperti habis diperas. Ia ingin menangis lagi, tetapi air matanya sudah terasa kering.
Ponsel di tangannya menyala sebentar. Baterai lima persen.
Ia cepat memasang charger yang kabelnya sudah terkelupas di beberapa bagian. Layar ponsel berkedip, lalu hidup. Begitu sinyal muncul, deretan pesan masuk memenuhi layar.
Hartono: Kirim uang sekarang.
Hartono: Jangan pura-pura mati.
Yuan: Kak, pulsa gue habis. Transfer.
Ning menatap pesan-pesan itu tanpa ekspresi. Dadanya tidak lagi hanya sakit karena Kevin dan anaknya. Ada kemarahan asing yang tumbuh dari ingatan tubuh ini, pelan tapi panas.
Gadis ini bahkan tidak diberi ruang untuk sakit.
Sebelum ia sempat membuka mesin pencari, ponselnya bergetar.
Nama kontak di layar: Mbak Rina Les Privat.
Ning menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat.
"Halo?"
"Ning, ya ampun, kamu dari mana saja? Tadi aku telepon berkali-kali." Suara perempuan di seberang terdengar cepat dan sibuk. "Kamu masih cari kerja tambahan, kan?"
Ning menegakkan punggung. "Iya, Mbak."
"Ada kesempatan bagus banget. Ini bukan murid biasa. Keluarga elite, rumahnya di Menteng Enclave. Butuh tutor privat yang bisa sabar sama anak SMA."
Menteng.
Jantung Ning bergerak lebih cepat.
"Pelajarannya apa?" tanyanya, berusaha menjaga suara tetap tenang.
"Campuran. Bahasa, seni, sedikit bantu tugas sekolah. Anak ini pintar, tapi katanya susah diatur. Yang penting kamu tahan mental." Mbak Rina tertawa kecil. "Bayarannya besar. Untuk sekali datang saja bisa lebih dari gaji mingguan kamu."
Ning menelan ludah. "Nama keluarganya?"
"Nie. Kamu tahu Semesta Group, kan? Papanya Kevin Nie."
Kamar sempit itu mendadak seperti kehilangan udara.
Ning menggenggam ponsel lebih erat. "Anaknya... umur berapa?"
"Enam belas. Namanya Kian Nie. Kamu bisa datang malam ini untuk perkenalan? Mereka butuh cepat. Tutor sebelumnya kabur karena anaknya galak banget."
Ning tidak langsung menjawab.
Enam belas.
Darahnya berdesir sampai ujung jari.
Kalau anaknya selamat hari itu, usianya memang enam belas.
Nama itu.
Kian.
Ning menutup mata. Tangannya menekan perut yang kosong. Tidak ada tendangan kecil di sana, tetapi seluruh tubuhnya seperti masih mengingat berat bayi yang pernah ia bawa.
"Ning? Kamu dengar?"
"Dengar, Mbak." Suaranya hampir pecah. "Saya bisa datang."
"Serius? Jangan mundur, ya. Ini kesempatan besar. Aku kirim alamat dan nomor kontak rumahnya lewat WhatsApp. Pakai baju rapi. Jangan telat. Orang kaya paling tidak suka menunggu."
"Iya."
"Dan satu lagi, jangan terlalu banyak tanya soal keluarga mereka. Kamu tahu sendiri keluarga konglomerat sensitif."
Ning memejamkan mata. "Saya mengerti."
Telepon terputus.
Beberapa detik kemudian, pesan WhatsApp masuk. Alamat lengkap Menteng Enclave. Nomor rumah. Nama murid: Kian Nie.
Ning menatap layar itu seperti menatap pintu yang tiba-tiba terbuka di tengah kegelapan.
Tapi ia belum berani percaya.
Ia membuka browser. Jarinya gemetar saat mengetik kata kunci: Kevin Nie istri meninggal bayi selamat.
Jaringan lambat. Layar memuat satu per satu. Artikel lama muncul, beberapa dari media bisnis, beberapa dari portal berita nasional.
Kecelakaan tragis keluarga Tju, istri Kevin Nie meninggal dunia.
Bayi laki-laki diselamatkan melalui operasi darurat.
Semesta Group menolak memberi komentar.
Ning membaca baris itu berulang kali.
Bayi laki-laki diselamatkan.
Diselamatkan.
Suara yang keluar dari mulutnya bukan tangis, bukan tawa. Lebih seperti napas yang tersangkut terlalu lama akhirnya pecah.
Anaknya hidup.
Kian hidup.
Ia menutup ponsel ke dada, tubuhnya membungkuk di atas kasur kecil. Bahunya bergetar. Untuk pertama kalinya sejak bangun di rumah sakit, rasa sakit di dadanya tidak hanya berisi kehilangan. Ada cahaya kecil yang menyakitkan karena terlalu terang.
"Terima kasih," bisiknya, tidak tahu bicara kepada siapa. "Terima kasih..."
Namun kegembiraan itu segera berubah menjadi desakan yang tidak bisa ditahan.
Ia harus melihatnya.
Malam ini.
Sekarang.
Ning membuka lemari plastik. Di dalam hanya ada beberapa baju murah, sebagian kusut, sebagian berbau lembap. Ia memilih kemeja putih paling bersih dan celana bahan hitam yang sudah agak pudar. Ia menyisir rambut dengan jari, mencuci wajah, lalu menutup bekas pucat di bibir dengan lip tint sisa yang hampir habis.
Di cermin kecil yang retak, wajah asing itu masih menatapnya.
Tapi kali ini, mata itu hidup.
"Kian," ucapnya pelan, mencoba membiasakan lidahnya dengan nama yang selama ini hanya ia panggil dalam mimpi-mimpi pendek sebelum kematian. "Mama datang."
Begitu kata Mama keluar, ia langsung menutup mulut.
Tidak.
Untuk dunia ini, ia bukan Mama.
Ia hanya tutor privat baru.
Seorang perempuan asing bernama Ning Tju.
Ning memasukkan KTP, ponsel, dan sisa uang ke tas selempang murah. Ia mengunci pintu, turun dari tangga sempit, lalu memesan ojol lagi meski aplikasi memperlihatkan biaya yang membuatnya hampir ragu.
Tujuan: Menteng Enclave.
Motor bergerak meninggalkan gang.
Tangerang perlahan tertinggal di belakang. Gang sempit, warung kecil, jemuran yang melintang di atas kepala, anak-anak bermain bola plastik di jalan berlubang. Semuanya berganti menjadi jalan besar, lampu gedung, mall, mobil mengilap, lalu pohon-pohon tinggi yang berjajar rapi di kawasan Menteng.
Ning duduk diam di belakang pengemudi. Tangannya tidak berhenti menggenggam ujung tas.
Setiap kilometer terasa terlalu lambat.
Setiap lampu merah terasa seperti hukuman.
Ketika motor akhirnya berhenti di depan gerbang Menteng Enclave, malam sudah turun sepenuhnya. Pos keamanan berdiri terang dengan kaca bersih. Di balik pagar, jalanan komplek tampak lebar, tenang, dan wangi tanaman basah. Rumah-rumah besar berdiri jauh dari jalan, seolah punya udara sendiri.
Petugas keamanan menatap Ning dari atas sampai bawah. Kemeja putih murahnya, tas selempang lusuhnya, wajah pucatnya.
"Mau ke mana, Mbak?"
Ning turun dari motor. Kakinya masih lemas, tetapi kali ini ia tidak mundur.
Ia menunjukkan alamat di ponsel.
"Saya tutor privat baru untuk rumah nomor satu."
Petugas itu memeriksa daftar tamu, lalu menghubungi seseorang lewat handy talkie. Beberapa detik terasa panjang. Ning bisa mendengar jantungnya sendiri.
Akhirnya palang dibuka.
"Lurus, lalu belok kanan. Rumah pertama."
Ning mengangguk. "Terima kasih."
Motor ojol pergi setelah ia membayar. Ning berdiri sendirian di depan gerbang yang terbuka. Di ujung jalan, rumah nomor satu tampak menyala hangat, besar, dan nyaris tidak nyata.
Di dalam sana ada anaknya.
Ning menarik napas dalam, lalu melangkah menuju pintu besar Menteng Enclave nomor satu.
Bab 3: Nama yang Terlarang
Pintu besar itu terasa terlalu tinggi untuk diketuk.
Ning berdiri di depannya, menatap panel kayu gelap yang dipoles sampai memantulkan bayangan samar wajahnya. Di belakangnya, jalan Menteng Enclave sunyi. Tidak ada suara tetangga bertengkar, tidak ada motor lewat terlalu dekat, tidak ada bau selokan seperti di gang kontrakannya. Hanya aroma rumput basah, bunga putih di taman, dan udara dingin dari rumah besar yang bahkan belum ia masuki.
Di dalam sana ada Kian.
Anaknya.
Ning mengangkat tangan, tetapi jarinya berhenti di udara.
Bagaimana kalau ia tidak mirip bayi yang dulu ia bayangkan? Bagaimana kalau ia sakit? Bagaimana kalau ia bahagia tanpa dirinya? Bagaimana kalau ia membencinya karena meninggal terlalu cepat?
Belum sempat ia menemukan keberanian, pintu itu terbuka dari dalam.
Seorang remaja laki-laki muncul dengan hoodie abu-abu dan rambut hitam acak-acakan. Wajahnya cerah, matanya hidup, dan mulutnya sudah terbuka sebelum Ning sempat bicara.
"Oh! Tutor baru?" katanya cepat. "Akhirnya datang juga. Aku kira kabur duluan setelah baca alamat rumah ini. Masuk, Ci, masuk. Jangan berdiri di luar, nanti security mikir aku nyulik orang."
Ning terdiam setengah detik.
Ini bukan Kian.
Kekecewaan kecil menusuknya, lalu langsung ia tekan. Anak ini terlalu ekspresif, terlalu hangat, terlalu berbeda dari garis wajah Kevin yang ia cari mati-matian sejak turun dari ojol.
"Saya Ning," ucapnya pelan. "Tutor yang dihubungi Mbak Rina."
"Felix." Remaja itu menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari. "Teman korban utama malam ini."
"Korban?"
"Kian." Felix menoleh ke dalam rumah sambil menaikkan suara. "Bro! Tutornya datang! Jangan pura-pura mati di kamar!"
Nama itu membuat darah Ning mengalir lebih cepat.
Ia melangkah masuk.
Ruang depan rumah itu luas dan dingin. Lantai marmernya begitu bersih sampai suara sepatu murah Ning terdengar terlalu jelas. Di sisi kiri ada ruang tamu dengan sofa besar warna abu-abu, di sisi kanan tangga melengkung menuju lantai dua. Lampu gantung memantulkan cahaya ke dinding putih, terlalu indah, terlalu mahal, terlalu jauh dari kamar kontrakan enam meter persegi yang baru ia tinggalkan.
Felix berjalan di depannya tanpa beban. "Santai aja, Ci. Kian memang mukanya galak, tapi biasanya dia cuma galak lima menit pertama. Setelah itu tetap galak sih, cuma kita sudah kebal."
Ning hampir tidak mendengar.
Matanya terpaku pada tangga.
Ada langkah kaki dari atas.
Satu per satu.
Lambat.
Kemudian seorang remaja laki-laki muncul di puncak tangga.
Dunia Ning berhenti.
Rambutnya perak pucat, jatuh berantakan di atas dahi. Tubuhnya tinggi, jauh lebih tinggi dari yang bisa Ning bayangkan untuk seorang bayi yang pernah ia lindungi dalam rahim. Bahunya sudah lebar. Wajahnya tajam, garis rahang, batang hidung, cara ia menatap turun dari tangga, semuanya seperti Kevin.
Tapi matanya...
Ning mencengkeram tali tas selempangnya.
Di sudut mata itu ada dirinya.
Ada bayangan kecil Ning yang dulu, sebelum kecelakaan, sebelum darah dan lampu operasi, sebelum enam belas tahun mencuri seluruh masa kecil anaknya.
Kian menuruni tangga tanpa tergesa. Ia memakai kaus hitam dan celana jogger, satu tangan masuk ke saku. Tatapannya menyapu Ning dari kepala sampai kaki. Dingin. Tidak tertarik. Sedikit terganggu.
"Ini?" tanyanya pada Felix.
"Iya. Tutor baru. Katanya bisa bantu tugas bahasa sama seni. Siapa tahu aura intelektualnya bisa menyelamatkan nilai lo yang bentuknya sudah kayak crypto jatuh."
"Berisik."
"Aku jujur, bro."
Kian berhenti beberapa langkah di depan Ning. Jarak mereka hanya dua meter, tetapi bagi Ning rasanya seperti dipisahkan enam belas tahun yang tidak bisa ia lewati.
Ia ingin menyentuh wajah itu.
Ingin memeluknya.
Ingin berkata, Mama pulang.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya napas yang terlalu pelan.
Felix menyikut udara di sampingnya. "Ci, silakan perkenalan. Kalau dia diam saja, anggap itu bentuk keramahan versi Kian."
Ning memaksa dirinya tersenyum.
"Halo." Suaranya bergetar sedikit. Ia cepat menahannya. "Saya Ning. Ning Tju. Mulai malam ini saya akan menjadi tutor privat kamu."
Perubahan itu terjadi begitu cepat.
Wajah Kian yang tadi hanya dingin mendadak membeku. Matanya naik, menatap Ning tepat di wajah. Seluruh udara di ruang depan seperti ikut berhenti.
Felix yang tadinya hendak bercanda ikut diam.
"Nama kamu apa?" tanya Kian.
Ning merasakan sesuatu yang buruk mendekat. "Ning."
"Nama lengkap."
"Ning Tju."
Kian tertawa pendek.
Tidak ada humor di dalamnya.
"Lucu."
Ning menelan ludah. "Apa ada masalah?"
Kian melangkah turun satu anak tangga terakhir. Tubuhnya yang tinggi membuat Ning harus sedikit mendongak. Di wajahnya, kemarahan bergerak pelan, seperti api yang baru menemukan udara.
"Siapa yang suruh kamu pakai nama itu?"
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada bentakan.
Ning menatapnya. "Itu nama saya."
"Jangan bohong."
"Saya tidak bohong."
"Semua orang bisa bikin cerita." Suara Kian turun rendah. "Tutor sebelumnya datang bawa sertifikat palsu. Yang sebelum itu sok paham hidup gue. Sekarang ada orang datang pakai nama orang mati?"
Jantung Ning seperti diremas.
Orang mati.
Ia tahu Kian membicarakan dirinya. Dirinya yang dulu. Ibu yang tidak pernah sempat menggendongnya. Ibu yang hanya hidup dalam foto, cerita orang lain, dan mungkin luka yang tidak pernah sembuh.
"Kian," Felix berkata hati-hati. "Bro, mungkin cuma kebetulan."
"Diam, Felix."
Felix langsung menutup mulut, tetapi wajahnya tidak nyaman.
Ning menarik napas pelan. "Saya mengerti kalau nama ini membuat kamu tidak nyaman. Tapi saya benar-benar dikirim oleh Mbak Rina. Kalau malam ini kamu belum siap belajar, saya bisa datang lagi besok."
"Tidak perlu."
Kian menatapnya tanpa berkedip.
"Keluar."
Satu kata.
Namun kata itu membuat lutut Ning hampir kehilangan tenaga.
Felix mengusap tengkuk. "Kian, gila, dia baru datang. Minimal kasih minum dulu kek."
"Aku bilang keluar."
"Bro..."
"Felix."
Nada Kian membuat Felix berhenti. Untuk pertama kalinya sejak membuka pintu, remaja itu tampak benar-benar bingung harus berpihak ke mana.
Ning berdiri diam. Di depan matanya, anaknya sudah setinggi itu. Sudah bisa marah dengan suara yang mirip Kevin. Sudah punya luka yang bahkan Ning tidak tahu cara menyentuhnya.
"Boleh saya tahu kenapa?" tanya Ning pelan.
Kian menegang. "Tidak."
"Kalau saya melakukan kesalahan..."
"Kesalahan kamu datang ke sini."
Ning menggigit bibir.
Ia seharusnya pergi. Ia hanya tutor asing. Ia tidak punya hak memaksa. Ia tidak punya bukti yang bisa dibuka malam ini tanpa menghancurkan akal sehat siapa pun.
Tapi kakinya tidak mau bergerak.
Kian mengalihkan wajah, seolah melihatnya lebih lama akan membuatnya semakin marah. "Felix, urus."
"Hah? Aku?"
"Bayar dia. Suruh pulang."
Felix membuka mulut, menutupnya lagi, lalu mengeluarkan ponsel. Ia menatap Ning dengan wajah serba salah.
"Ci Ning, maaf banget ya. Kian kalau lagi mode begini memang susah. Bukan personal. Maksudku, mungkin personal juga, tapi bukan salah Ci."
Ning tidak tahu harus tersenyum atau menangis.
"Tidak apa-apa."
"Boleh nomor rekening? Atau e-wallet? Aku transfer uang datangnya."
"Tidak perlu."
"Perlu." Kian bicara dari samping, suaranya dingin. "Aku tidak mau punya utang."
Ning menoleh padanya. "Saya datang bukan untuk uang."
Kian balas menatapnya. Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang pecah di balik matanya. Bukan hanya marah. Ada takut. Ada sakit. Ada anak kecil yang tiba-tiba kehilangan pegangan karena sebuah nama.
Lalu semua itu tertutup lagi.
"Semua orang bilang begitu sebelum menyebut harga."
Felix menghela napas. "Ci, kasih aja. Kalau enggak, drama season dua mulai."
Dengan tangan gemetar, Ning menyebut nomor rekening yang muncul dari ingatan tubuh ini. Felix mengetik cepat. Tidak sampai sepuluh detik, ponsel Ning bergetar.
Transfer masuk: Rp 7.500.000.
Jumlah itu membuat Ning mematung.
Di kontrakan, uang sebanyak itu bisa membayar sewa beberapa bulan, makan, obat, dan cicilan kecil yang menjerat tubuh ini. Di rumah ini, angka itu dipakai untuk mengusir seorang tutor sebelum sempat duduk.
Kian melihat notifikasi itu sekilas. "Sudah. Keluar."
Ning menatapnya.
Ia ingin berkata banyak.
Kamu dulu menendang perut Mama setiap malam.
Kamu selamat.
Mama mencarimu begitu membuka mata.
Tapi yang ia lakukan hanya menunduk sedikit.
"Baik," ucapnya.
Felix mengantar Ning sampai pintu dengan langkah tidak tenang.
"Ci Ning, maaf. Serius. Dia..." Felix menoleh ke belakang, memastikan Kian tidak mendengar, lalu mengecilkan suara. "Nama itu sensitif banget. Mamanya Kian namanya Ning. Beliau meninggal waktu melahirkan Kian. Jadi kalau dia kasar, bukan karena Ci jelek atau gimana. Dia cuma..."
Felix berhenti, tampak menyesal sudah bicara terlalu banyak.
Ning merasakan pandangannya buram.
"Dia cuma merindukan ibunya," lanjut Felix akhirnya, lebih pelan.
Kalimat itu hampir membuat Ning roboh.
Ia menggenggam bingkai pintu.
"Terima kasih sudah memberitahu saya."
Felix mengangguk canggung. "Aku doain bisa ketemu lagi di kondisi yang lebih normal. Walau jujur, normal dan Kian agak jarang satu paket."
Ning memaksakan senyum kecil. "Jaga dia baik-baik, ya."
Felix berkedip, mungkin heran pada kalimat itu.
Pintu tertutup.
Ning berdiri di teras beberapa detik, lalu turun ke taman kecil di samping rumah. Udara malam dingin menempel di kulitnya. Dari balik jendela kaca besar, ia bisa melihat ruang depan yang terang.
Kian masih berdiri di sana.
Felix bicara sesuatu, tangannya bergerak cepat, mungkin mencoba bercanda. Kian tidak menanggapi. Ia hanya membalikkan badan, menjauh dari pintu, lalu berhenti di dekat tangga.
Bahu anak itu bergetar sangat pelan.
Ning menutup mulut dengan tangan.
Anaknya menangis tanpa suara.
Selama enam belas tahun, siapa yang memeluknya saat ia seperti ini? Siapa yang menghapus air matanya saat ia pura-pura tidak butuh siapa pun? Siapa yang memberitahunya bahwa ia tidak lahir dengan membawa kematian ibunya sebagai dosa?
Ning tidak bisa masuk kembali.
Ia tidak punya hak.
Belum.
Ia mencari sesuatu di tasnya. Hanya ada struk rumah sakit, tisu, dan pulpen murah dari meja administrasi. Ia merobek bagian belakang struk yang masih kosong, lalu menulis nomor ponselnya dengan tangan bergetar.
Di bawah nomor itu, ia menulis satu kalimat pendek.
Kalau suatu hari kamu butuh seseorang untuk mendengar, saya akan datang.
Ning menatap tulisan itu lama. Lalu ia melipat kertas kecil itu, kembali ke pintu, dan menyelipkannya ke celah bawah pintu dengan hati-hati.
"Mama tidak akan memaksa," bisiknya sangat pelan. "Tapi Mama tidak akan pergi lagi."
Ia berbalik sebelum air matanya jatuh lebih banyak.
Jalan keluar Menteng Enclave terasa lebih panjang daripada saat ia masuk. Uang tujuh juta lima ratus ribu rupiah ada di rekeningnya, tetapi ia merasa lebih miskin daripada sebelumnya. Karena malam ini ia akhirnya melihat anaknya, menyentuh jarak dua meter darinya, lalu diusir oleh luka yang ia tinggalkan tanpa sengaja.
Di dekat gerbang, Ning menghapus pipinya dengan punggung tangan.
Sebuah mobil hitam melambat dari arah luar.
Alphard.
Lampu depannya menyapu jalan basah. Kaca jendela belakang turun setengah, mungkin karena pengemudi sedang bicara dengan petugas keamanan. Dari celah itu, Ning melihat sisi wajah seorang pria.
Rahang tegas.
Hidung tinggi.
Mata dingin yang pernah melembut setiap kali menatapnya.
Ning berhenti bernapas.
Mobil itu bergerak pelan melewatinya menuju rumah nomor satu.
Sebelum kaca kembali naik, cahaya lampu jalan jatuh tepat di wajah pria itu.
Kevin.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!