Indonesia
NovelToon NovelToon

Salah Goda, Sang Iblis Jatuh Cinta

Episode 1

Bab 1: Malam Pertama di Singapura

Cahaya chandelier jatuh seperti hujan emas di atas lantai marmer, bercampur denting gelas kristal, aroma wine mahal, dan wangi parfum tamu-tamu kaya yang terlalu percaya diri.

Lim Keira berdiri di ambang ballroom klub privat itu dengan satu tangan menggenggam clutch kecil berwarna perak.

Gaun ungunya menyapu mata kaki. Bahunya terbuka, punggungnya tegak, senyumnya rapi. Dari luar, ia terlihat seperti nona muda keluarga konglomerat yang terbiasa masuk ke ruangan semahal ini.

Padahal telapak tangannya dingin.

Gila. Dari semua tempat yang bisa ia datangi di Singapura, kenapa kakinya justru berhenti di acara seperti ini?

Di panggung depan, seorang pembawa acara berjas putih sedang menjelaskan aturan malam itu dengan suara manis. Gentleman Auction. Sebuah acara amal eksklusif, katanya. Para tamu bisa menawar kesempatan makan malam, berdansa, atau ditemani seorang gentleman pilihan klub selama satu hari.

Kalimatnya dibuat sopan. Lampunya dibuat hangat. Musik jazz dibuat lembut.

Namun Keira tetap bisa membaca suasananya. Ini bukan sekadar acara amal. Ini permainan orang kaya yang bosan, dibungkus dengan senyum dan sampanye.

Ia seharusnya pergi.

Ponsel di dalam clutch-nya bergetar sekali, lalu berhenti. Keira tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa yang mungkin menelepon. Bu Yuliana, atau orang suruhan rumah Lim, atau seseorang yang dikirim untuk mengingatkannya bahwa ia belum boleh hilang terlalu lama.

Malam ini ia datang ke Singapura untuk bernapas. Hanya sebentar. Sebelum pulang ke Jakarta dan menghadapi rencana keluarga yang makin lama makin terasa seperti jerat.

Keira menarik napas pelan.

"Nona, Anda sendirian?"

Seorang staf perempuan mendekat dengan senyum profesional. Matanya sempat turun ke undangan kecil di tangan Keira, lalu kembali ke wajahnya.

"Ya," jawab Keira. "Saya tamu."

"Tentu. Silakan. Meja Anda di sisi kiri, dekat panggung."

Keira mengangguk dan melangkah masuk.

Sepuluh pasang mata langsung menoleh. Bukan karena ia berisik. Justru karena ia datang sendirian, memakai gaun ungu yang terlalu tenang untuk perempuan seusianya, dan membawa aura seseorang yang ingin terlihat tidak butuh siapa pun.

Keira pura-pura tidak melihat.

Ia duduk di meja kecil yang sudah diberi nomor. Di atas meja ada paddle hitam dengan angka emas, satu gelas air mineral, dan katalog tipis berisi daftar peserta gentleman auction.

Keira membuka katalog itu tanpa minat.

Nama-nama yang tercetak di dalamnya terdengar rapi. Ada pengusaha muda, mantan atlet, model, pianis. Semua difoto dengan pencahayaan sempurna, senyum sempurna, jas sempurna.

Tidak ada yang membuatnya tertarik.

Sampai suasana ballroom mendadak berubah.

Musik jazz masih mengalun, tetapi percakapan di beberapa meja berhenti begitu saja. Seolah ada seseorang menarik udara keluar dari ruangan.

Keira mengangkat wajah.

Di sisi kanan panggung, pintu hitam menuju area belakang terbuka.

Seorang pria keluar dari sana.

Bukan keluar sebagai peserta acara. Bukan pula berjalan seperti staf. Ia berjalan seolah seluruh gedung ini memang miliknya, dan semua orang di dalamnya hanya sedang meminjam izin untuk bernapas.

Tinggi. Sangat tinggi.

Kemeja hitamnya melekat rapi di tubuh tegap. Lengan panjangnya digulung sampai bawah siku, memperlihatkan pergelangan tangan kuat tanpa aksesori berlebihan. Rambutnya gelap, tertata tanpa usaha, wajahnya dingin dengan garis rahang tegas.

Yang paling membuat Keira lupa berkedip adalah matanya.

Mata itu tidak mencari pujian. Tidak merayu. Tidak berusaha terlihat menarik.

Justru karena itulah, semua perhatian jatuh kepadanya.

Aroma kayu cendana yang bersih dan dingin samar-samar terbawa saat ia melewati sisi meja Keira. Bukan aroma parfum manis seperti kebanyakan pria di ruangan ini. Lebih seperti kayu kering setelah hujan, tenang, mahal, dan berbahaya.

Jantung Keira tersentak.

Astaga.

Kalau klub ini memang melelang pria seperti itu, bisnis mereka terlalu niat.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari panggung. Dua pria berpakaian hitam langsung menunduk. Salah satunya, pria berwajah keras dengan earphone kecil di telinga, mendekat cepat.

"Bos," katanya rendah.

Keira tidak mendengar jelas lanjutannya. Musik dan tepuk tangan penonton menutup sebagian suara.

Namun ia melihat pria tinggi itu menoleh sedikit. Hanya sedikit, tetapi pria yang memanggilnya Bos langsung menegang.

Di belakang panggung, suasana tidak semanis ballroom.

Tan Rayhan menatap pria berlutut di lantai dengan mata sedingin kaca.

Pria itu berkeringat. Kedua tangannya diikat. Di meja besi di sampingnya ada sebuah koper hitam yang belum dibuka.

"Dia mengaku hanya kurir," lapor Devin. Suaranya datar, tetapi rahangnya kaku. "Barangnya belum sempat pindah tangan. Pembelinya masih di area klub."

Rayhan tidak langsung menjawab.

Ia mengambil sarung tangan hitam dari seorang bawahan, memakainya perlahan, lalu bertanya, "Siapa yang memberi izin transaksi di tempat saya?"

Tidak ada yang berani menjawab.

Pria yang berlutut itu gemetar. "Saya tidak tahu, Tuan. Saya cuma disuruh."

Rayhan menunduk. Tatapannya turun seperti pisau.

"Nama."

"Saya benar-benar tidak tahu."

Rayhan tersenyum tipis. Tidak hangat. Tidak ramah.

Devin sudah mengangkat tangan, memberi isyarat pada dua bawahan untuk menyeret pria itu ke ruangan sebelah, ketika seorang staf klub berlari masuk dengan wajah pucat.

"Ko Devin."

Devin menoleh tajam. "Apa?"

Staf itu menelan ludah. "Ada tamu yang meminta konfirmasi. Katanya salah satu gentleman belum masuk daftar, tapi dia ingin menawar."

Devin mengernyit. "Siapa?"

Staf itu melirik Rayhan dengan takut. "Yang dimaksud tamu itu... Bos Rayhan."

Ruangan belakang mendadak hening.

Bahkan pria yang tadi gemetar di lantai pun lupa merintih.

Devin menatap staf itu seperti baru mendengar kabar paling tidak masuk akal sepanjang hidupnya. "Ulangi."

"Ada Nona di ballroom. Dia pikir Bos Rayhan peserta auction."

Satu detik.

Dua detik.

Lalu seseorang di sudut ruangan menahan napas terlalu keras.

Devin memejamkan mata sebentar. Seandainya malam ini tidak sedang kacau, ia mungkin akan tertawa. Tapi masalahnya, tidak ada orang normal yang berani menawar Tan Rayhan. Tidak di Singapura. Tidak di wilayah yang bahkan polisi tertentu pun memilih mengetuk sebelum masuk.

"Bos," Devin berkata hati-hati, "saya akan urus. Staf bisa jelaskan bahwa terjadi salah paham."

Rayhan melepas pandangan dari kurir yang berlutut. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang bukan amarah bergerak di matanya.

"Nona itu siapa?"

"Belum dicek."

"Cek."

Devin langsung memberi isyarat. Seorang bawahan membuka tablet, memeriksa daftar tamu. Tidak lama kemudian, ia berkata, "Lim Keira. Dari Jakarta. Masuk dengan undangan tamu bisnis. Tidak ada pengawal yang tercatat."

Rayhan mengulang pelan, "Lim Keira."

Nama itu terasa asing, tetapi tidak mengganggu di lidahnya.

Dari celah tirai hitam yang membatasi backstage dan ballroom, Rayhan melihat perempuan itu.

Gaun ungu. Rambut hitam jatuh lembut di bahu. Wajahnya tenang, tetapi jari-jarinya menggenggam paddle terlalu erat. Ia sedang berusaha tampak seperti seseorang yang tahu persis apa yang dilakukan.

Padahal jelas tidak.

Sudut bibir Rayhan bergerak sedikit.

Devin melihat perubahan itu dan langsung merasa malamnya akan menjadi lebih panjang.

"Bos?"

"Transaksi ditahan dulu," kata Rayhan.

Devin hampir tersedak. "Bos mau ke mana?"

Rayhan melepas sarung tangan hitamnya satu per satu. "Ke panggung."

"Bos, orang itu belum bicara. Pembelinya masih di dalam gedung."

"Kau urus."

"Tapi..."

Rayhan menatapnya.

Devin langsung menunduk. "Siap, Bos."

Di ballroom, pembawa acara tampak kebingungan sesaat ketika menerima instruksi dari earphone-nya. Senyum profesionalnya retak, lalu dipasang lagi dengan susah payah.

"Tuan dan Nyonya sekalian," katanya, suara sedikit bergetar, "malam ini tampaknya ada kejutan tambahan."

Bisik-bisik menyebar cepat.

Keira menegakkan punggung. Ia menatap katalog di tangannya, lalu panggung, lalu pintu hitam tempat pria tadi menghilang. Perutnya terasa lucu, seperti baru menelan gelembung sampanye.

Jangan bilang dia benar-benar peserta.

Kok bisa sih?

Pembawa acara melanjutkan, "Seorang gentleman khusus akan hadir malam ini. Penawaran pribadi untuk satu hari penuh akan dibuka dari..."

Ia berhenti terlalu lama.

Keira melihat kertas kecil di tangan pembawa acara gemetar.

"Tiga puluh ribu dolar Amerika."

Ruangan meledak dalam bisik-bisik tertahan.

Tiga puluh ribu USD untuk satu hari. Bahkan untuk orang kaya di ruangan ini, angka itu cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh.

Keira seharusnya diam.

Ia baru saja berpikir begitu saat pintu hitam terbuka lagi.

Pria itu muncul.

Kali ini, lampu panggung jatuh tepat ke wajahnya.

Semua desas-desus berhenti.

Keira tidak tahu apakah ia bergerak karena mabuk suasana, kesal pada panggilan-panggilan dari Jakarta, atau karena pria itu menatapnya langsung dari seberang ruangan.

Yang jelas, tangannya sudah mengangkat paddle.

"Tiga puluh ribu," ucapnya.

Suaranya tidak keras, tetapi cukup jernih untuk membelah ballroom.

Pembawa acara membeku.

Seorang pria tua di meja depan batuk kecil. Wanita berkalung berlian di sebelahnya menutup mulut. Beberapa tamu menoleh ke arah Keira dengan mata membesar, seolah ia baru saja menampar seseorang di depan umum.

Keira baru sadar semua orang memandangnya.

Panas naik ke pipinya.

Baik. Sudah terlanjur.

Ia menurunkan paddle dengan gaya setenang mungkin, lalu menatap pembawa acara. "Bukankah penawarannya dibuka?"

Pembawa acara menatap ke arah backstage, seperti meminta pertolongan pada Tuhan dan manajemen klub sekaligus.

Di sisi panggung, Devin berdiri kaku.

Salah satu bawahan berbisik, "Ko Devin, apa perlu kita hentikan?"

Devin menatap Rayhan yang masih berdiri di bawah lampu. Wajah bosnya tenang. Terlalu tenang.

"Tidak," jawab Devin pelan. "Kalau Bos tidak memberi perintah, tidak ada yang bergerak."

"Tapi Nona itu..."

"Baru saja membeli Bos kita," potong Devin, suaranya kering. "Saya punya mata."

Pembawa acara akhirnya mengangkat mikrofon lagi. "Tiga puluh ribu USD dari Nona di meja tujuh. Ada penawaran lain?"

Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.

Keira menunggu. Satu detik. Dua detik. Tidak ada paddle lain terangkat.

Aneh.

Pria setampan itu, tidak ada yang menawar?

Apakah ia terlalu mahal? Atau ada aturan tersembunyi yang tidak ia pahami?

Pembawa acara menelan ludah. "Tiga puluh ribu satu kali."

Keira menggenggam clutch di pangkuannya. Ponselnya kembali bergetar. Ia mengabaikannya.

"Tiga puluh ribu dua kali."

Pria di panggung itu masih menatapnya.

Tidak marah.

Tidak malu.

Justru seolah ia sedang menikmati sesuatu yang hanya ia sendiri pahami.

"Terjual," suara pembawa acara pecah sedikit, "kepada Nona Lim Keira."

Tepuk tangan terdengar ragu-ragu, lalu berhenti sendiri karena tidak ada yang tahu apakah mereka sedang merayakan sesuatu atau menyaksikan bencana.

Keira berdiri karena refleks.

Ia merasa perlu terlihat yakin. Kalau ia duduk terlalu lama, semua orang akan melihat lututnya yang hampir lemas.

Pria itu turun dari panggung.

Tidak, bukan turun.

Ia berjalan ke arahnya seperti malam ini memang sudah sejak awal berakhir di meja Keira.

Setiap langkahnya membuat orang-orang di jalur itu otomatis menyingkir. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang menyentuh. Mereka hanya tahu harus memberi ruang.

Aroma kayu cendana itu makin dekat.

Keira menahan napas.

Tinggi pria itu benar-benar tidak masuk akal saat berdiri di hadapannya. Keira harus sedikit mengangkat wajah untuk menatap matanya. Dari dekat, garis wajahnya lebih tajam, bibirnya tenang, dan sorot matanya membuat semua kalimat latihan di kepala Keira hilang begitu saja.

Namun ia sudah membayar tiga puluh ribu dolar.

Ia tidak boleh terlihat takut.

"Halo," kata Keira, lalu langsung ingin menggigit lidah sendiri.

Halo?

Serius?

Pria itu menunduk sedikit. Bayangannya jatuh di atas gaun ungu Keira. Di belakangnya, seluruh ballroom diam seperti menunggu vonis.

Rayhan memandang perempuan yang baru saja mengangkat paddle untuk dirinya.

Ada warna gugup di pipinya. Ada keberanian nekat di dagunya. Ada kesepian yang disembunyikan terlalu rapi di matanya.

Untuk alasan yang bahkan belum ia pahami, amarahnya pada pengkhianat di backstage terasa menjauh.

Ia mendekat setengah langkah.

Keira mencium aroma kayu cendana itu lagi, lebih jelas, lebih dingin, seperti rahasia yang menempel di kulit pria ini.

Rayhan menatap langsung ke matanya.

Lalu dengan suara rendah yang hanya cukup didengar Keira dan membuat napasnya berhenti, ia berkata, "Kamu yakin mau membeli saya, Nona?"

Episode 2

Bab 2: Tiga Puluh Ribu Dolar

"Kamu yakin mau membeli saya, Nona?"

Pertanyaan itu rendah, tenang, dan entah kenapa membuat Keira merasa seolah seluruh ballroom ikut menunggu jawabannya.

Ia mengangkat dagu sedikit.

"Saya sudah menawar," jawabnya, berusaha terdengar biasa saja. "Dan sepertinya tidak ada yang berani menawar lebih tinggi."

Di belakang Rayhan, beberapa tamu tampak menahan napas.

Berani?

Mereka lebih tepatnya masih ingin hidup.

Rayhan menatap perempuan di depannya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi ujung jarinya yang memegang clutch memutih. Ia takut, namun tidak mundur. Bagi Rayhan, itu jauh lebih menarik daripada semua perempuan yang biasanya hanya berani menatapnya dari jauh.

"Tiga puluh ribu dolar untuk satu hari," katanya.

"Kalau kurang, saya bisa tambah."

Keira langsung menyesal begitu kalimat itu keluar.

Duh. Kenapa mulutnya selalu bergerak lebih cepat daripada otaknya?

Sudut bibir Rayhan terangkat tipis. "Kau biasa membeli pria?"

Wajah Keira memanas. "Tidak."

"Jadi saya yang pertama?"

Ada beberapa batuk tertahan dari meja sekitar.

Keira menatapnya tajam. "Itu terdengar aneh kalau Anda mengatakannya seperti itu."

"Tapi benar?"

Ia terdiam setengah detik, lalu menjawab, "Benar."

Rayhan tidak tertawa. Justru karena itu, Keira makin gugup. Pria ini punya cara membuat diam terasa lebih berbahaya daripada kata-kata.

Pembawa acara mendekat dengan langkah ragu. "Nona Lim, pihak klub akan mengurus administrasi di ruang privat. Tuan..."

Kalimatnya berhenti ketika matanya bertemu Rayhan.

Rayhan hanya meliriknya.

"Siapkan ruangan," kata Rayhan.

"Baik, Tuan."

Keira menangkap satu hal. Semua staf terlalu takut padanya.

Mungkin dia bukan sekadar peserta biasa. Mungkin dia gentleman favorit klub. Mungkin kontraknya sangat mahal. Mungkin orang seperti dia memang diperlakukan berbeda.

Ya. Itu masuk akal.

Setidaknya lebih masuk akal daripada kemungkinan bahwa ia baru saja membeli seseorang yang tidak boleh dibeli.

Rayhan berjalan lebih dulu. Keira mengikuti dengan langkah yang tampak stabil, meski lututnya terasa tidak sepenuhnya miliknya. Saat melewati beberapa meja, bisik-bisik menempel di punggungnya.

"Siapa dia?"

"Dari Jakarta?"

"Apa dia tahu siapa pria itu?"

Keira pura-pura tuli.

Di lorong menuju lantai dua, cahaya ballroom berubah menjadi temaram. Karpet tebal meredam langkah. Di dinding tergantung lukisan abstrak dengan harga yang mungkin bisa membeli satu apartemen kecil.

Rayhan berhenti di depan pintu kayu gelap. Ia membukanya sendiri.

"Masuk."

Keira masuk.

Ruang privat itu luas, menghadap sebagian kota Singapura yang menyala di balik kaca tinggi. Sofa kulit gelap, meja rendah, rak wine, dan satu piano hitam di sudut ruangan. Terlalu mahal. Terlalu sunyi.

Begitu pintu tertutup, keberanian Keira yang tadi dipinjam dari lampu ballroom langsung menipis.

Rayhan berdiri di dekat pintu, tidak mendekat. "Lim Keira."

Keira menoleh. "Anda sudah tahu nama saya."

"Daftar tamu."

"Lalu nama Anda?"

"Tan Rayhan."

"Oh."

"Dari Jakarta?"

"Iya."

"Datang sendirian?"

Keira hampir menjawab tidak ada urusannya, tetapi ingat bahwa secara teknis ia baru saja membayar waktu pria ini. Jadi ia berkata, "Iya."

Tatapan Rayhan turun sebentar ke clutch di tangannya. "Tidak ada pengawal?"

"Saya bukan anak kecil."

"Tidak semua bahaya memilih anak kecil."

Kalimat itu membuat Keira terdiam.

Nada pria ini tidak terdengar seperti rayuan. Lebih seperti fakta. Keira tiba-tiba teringat cara orang-orang menyingkir saat ia berjalan tadi. Cara staf menunduk. Cara pembawa acara hampir lupa bernapas.

"Anda bekerja di klub ini?" tanya Keira.

Rayhan menatapnya.

Pertanyaan itu sepertinya membuat udara berubah.

Keira buru-buru menambahkan, "Maksud saya, sebagai gentleman tetap? Atau tamu khusus? Saya tidak terlalu paham sistem acara seperti ini."

Di luar pintu, langkah cepat terdengar mendekat.

Rayhan tidak menjawab. Ia hanya bertanya balik, "Menurutmu?"

Keira memandang kemeja hitamnya, jam tangan tanpa logo mencolok, cara ia berdiri, dan wajah yang terlalu dingin untuk orang yang hidup dari menyenangkan tamu.

"Anda kelihatan seperti seseorang yang tidak suka disuruh," katanya jujur.

Rayhan mendekat satu langkah. "Tapi kau baru saja membeli saya."

Keira menggigit bagian dalam bibir. "Itu karena Anda berada di panggung."

"Saya belum berada di panggung saat kau memutuskan."

Benar juga.

Keira memalingkan wajah ke jendela. "Baik. Saya impulsif. Puas?"

"Belum."

"Apa lagi?"

"Kenapa?"

Pertanyaan itu sederhana, tetapi Keira tahu ia tidak sedang bertanya tentang uang.

Ia bisa saja berbohong. Mengatakan bosan. Mengatakan ingin hiburan. Mengatakan ia datang untuk bersenang-senang seperti tamu lain.

Namun di depan mata Rayhan, kebohongan terasa terlalu tipis.

"Saya tidak ingin pulang terlalu cepat," jawabnya pelan.

Rayhan tidak bertanya pulang ke mana. Tapi tatapannya menajam, seolah ia sudah menyimpan potongan jawaban itu di tempat khusus.

Pintu diketuk.

Devin masuk setelah Rayhan memberi izin. Ia membawa tablet, wajahnya tetap keras, tetapi matanya sempat melirik Keira dengan rasa ingin tahu yang tidak bisa disembunyikan.

"Bos."

Keira mendengar jelas kali ini.

Bos.

Ia menoleh ke Rayhan. "Mereka memanggil Anda Bos?"

Devin langsung kaku.

Rayhan menjawab santai, "Kebiasaan."

"Kebiasaan orang klub?"

"Kebiasaan orang saya."

Keira memproses kalimat itu. Orang saya. Bukan rekan kerja. Bukan teman.

Sebelum ia sempat bertanya, Devin menyerahkan tablet kepada Rayhan. Suaranya turun, tetapi Keira masih menangkap beberapa kata.

"Pembeli sudah diamankan. Kurir masih tutup mulut. Koper belum dibuka. Satu orang kabur lewat pintu servis, tapi anak-anak sedang mengejar."

Keira membeku.

Kurir? Koper? Kabur?

Rayhan melihat layar tablet. Wajahnya tidak berubah, tetapi suhu ruangan terasa turun.

"Tutup semua akses bawah tanah," katanya. "Jangan biarkan ada yang keluar tanpa diperiksa."

"Siap, Bos."

"Dan jangan berisik."

Devin melirik Keira sekilas.

Rayhan menambahkan, "Nona Keira tidak perlu mendengar hal yang merusak malamnya."

Jantung Keira berdetak aneh.

Nona Keira.

Di mulut pria itu, sebutan sederhana itu terdengar seperti sesuatu yang dijaga.

Devin menunduk. "Saya mengerti."

Setelah Devin keluar, Keira langsung bertanya, "Ada masalah?"

"Tidak untukmu."

"Tadi terdengar seperti masalah besar."

"Kau membayar saya satu hari, bukan membeli masalah saya."

"Tapi kalau masalah Anda membuat saya mati di klub ini?"

Untuk pertama kalinya, Rayhan tertawa pelan. Hampir tidak terdengar, tetapi cukup membuat Keira lupa pada kegugupannya sesaat.

"Kau tidak akan mati di tempat saya."

Tempat saya.

Keira menangkap kata itu, tetapi Rayhan sudah berjalan ke meja wine. Ia mengambil dua gelas, lalu menoleh padanya.

"Minum?"

"Saya tidak kuat minum banyak."

"Saya tidak tanya banyak."

Keira duduk di sofa, menjaga jarak. "Anda selalu bicara seperti itu?"

"Seperti apa?"

"Seperti memberi perintah bahkan saat bertanya."

Rayhan menuang wine ke satu gelas saja, lalu menyerahkannya kepada Keira. "Kau selalu menawar pria asing saat gugup?"

Keira menerima gelas itu dengan wajah panas. "Anda tidak akan membiarkan saya melupakan itu, ya?"

"Tidak malam ini."

Ponsel Rayhan bergetar.

Ia melihat layar. Seketika, kelembutan tipis di wajahnya hilang. Matanya berubah dingin, seperti lampu yang tiba-tiba padam.

Keira melihat perubahan itu dan tubuhnya ikut menegang.

Rayhan mengangkat panggilan. "Bicara."

Suara di seberang tidak terdengar jelas. Namun Keira melihat tangan Rayhan di sisi tubuhnya mengepal pelan.

"Lima menit," katanya. "Kalau dia masih diam, pindahkan ke ruangan bawah."

Keira menelan ludah.

Rayhan menutup telepon.

Saat ia berbalik, wajahnya sudah kembali tenang. Lebih tepatnya, ia sengaja membuatnya tenang.

"Maaf," katanya.

Keira berkedip. Ia tidak menyangka akan mendengar kata itu.

"Untuk apa?"

"Membawa urusan lain ke waktu yang sudah kau bayar."

Kalimat itu terdengar serius sekali sampai Keira hampir tersenyum. "Saya belum tahu harus memakai waktu Anda untuk apa."

Rayhan berjalan mendekat. Ia berhenti di depan sofa, cukup dekat sampai aroma kayu cendana kembali mengepungnya.

"Satu hari penuh, Keira," katanya pelan. "Kau benar-benar yakin?"

Episode 3

Bab 3: Wine Toast

Keira memegang gelas wine itu seperti memegang bukti kejahatannya sendiri.

Satu hari penuh.

Kalimat Rayhan menggantung di antara mereka, hangat oleh aroma wine, dingin oleh tatapan pria itu.

"Saya sudah bayar," jawab Keira akhirnya.

"Itu bukan jawaban."

"Kalau begitu, iya. Saya yakin."

Rayhan duduk di sofa tunggal di seberangnya. Lututnya terbuka santai, punggungnya bersandar, tetapi matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Keira.

Keira merasa seperti sedang menghadapi ujian yang soalnya berubah setiap kali ia berkedip.

"Apa yang biasanya dilakukan orang setelah membeli gentleman?" tanyanya, berusaha terdengar ringan.

"Kau yang membeli. Kau yang tentukan."

"Saya baru pertama kali."

"Saya juga."

Keira hampir tersedak wine yang belum ia minum. "Anda juga?"

"Dibeli perempuan asing? Iya."

Wajahnya terlalu serius untuk kalimat seperti itu.

Keira menatapnya dua detik, lalu tawa kecil lolos dari bibirnya. Gugup, pendek, tetapi cukup untuk membuat bahunya sedikit turun.

Rayhan memperhatikan perubahan itu.

Ia lebih suka suara tawa perempuan ini daripada suara jerit pria pengkhianat di ruangan bawah.

"Kalau begitu," Keira mengangkat gelasnya, "kita mulai dengan bersulang."

Rayhan menatap posisi tangannya. "Bukan begitu."

"Apa salahnya?"

"Kalau mau membuatnya seperti janji, caranya beda."

Keira belum sempat bertanya ketika Rayhan berdiri, mengambil gelas kedua, lalu duduk di sampingnya. Bukan terlalu dekat, tetapi cukup dekat untuk membuat sisi tubuh Keira sadar penuh pada keberadaannya.

Ia menyerahkan gelas lain, lalu mengulurkan tangan.

"Lenganmu."

Keira menatap lengannya sendiri. "Kenapa?"

"Bersulang."

"Bukannya tinggal denting gelas?"

"Itu untuk tamu biasa."

Keira ingin mengatakan bahwa ia memang tamu biasa. Namun Rayhan sudah menyilangkan lengannya dengan lengan Keira. Gerakannya tenang, tidak kasar. Kulit pergelangan tangannya hangat menyentuh bagian dalam siku Keira.

Napas Keira tertahan.

Jarak mereka mendadak terasa tidak sopan.

"Minum," kata Rayhan.

Keira menunduk ke gelas. "Ini seperti..."

"Seperti?"

"Seperti upacara menikah di film-film."

Rayhan menatapnya. "Kau takut?"

"Tidak."

"Tanganmu dingin."

Keira menegakkan kepala. "Ruangan ini dingin."

"Tentu."

Nada datarnya membuat Keira merasa sedang ditertawakan tanpa suara.

Ia menempelkan bibir ke pinggir gelas dan meneguk wine. Pada saat yang sama, Rayhan juga minum. Lengan mereka masih saling terkait. Dari dekat, aroma kayu cendana bercampur wine merah, membuat kepala Keira sedikit ringan.

Denting kecil terdengar ketika gelas mereka turun ke meja.

Dari balik dinding, tiba-tiba terdengar bunyi benda jatuh. Disusul suara teredam seperti seseorang menahan rintihan.

Keira menoleh cepat.

Rayhan tidak.

Ponselnya bergetar. Ia mengangkat dengan ekspresi malas, seolah terganggu bukan oleh kekerasan, melainkan oleh waktu yang dicuri.

"Devin."

Suara di seberang bicara cepat.

Rayhan menatap gelas wine di meja. "Kau tahu sedang mengganggu apa?"

Keira meliriknya.

"Saya sedang minum wine toast," lanjut Rayhan dingin. "Selesaikan tanpa membuat suara."

Telepon ditutup.

Keira membeku. "Wine toast?"

"Kau yang bilang seperti upacara."

"Saya tidak bilang begitu."

"Hampir."

Keira menutup wajahnya dengan satu tangan. "Astaga, saya benar-benar harus berhenti minum."

"Baru seteguk."

"Seteguk yang berbahaya."

Rayhan mendekat sedikit. "Berbahaya untuk siapa?"

Keira menurunkan tangan. Tatapannya bertemu tatapan Rayhan. Di luar jendela, Singapura menyala seperti ribuan rahasia kecil. Di dalam ruangan, suara musik dari ballroom sudah terdengar jauh.

Keira tahu ia harus berhenti.

Ia harus bertanya siapa pria ini sebenarnya. Ia harus pulang. Ia harus mengangkat telepon dari Jakarta. Ia harus mengingat bahwa besok atau lusa, keluarganya mungkin sudah menyiapkan perjodohan yang tidak ia inginkan.

Namun malam ini, untuk beberapa jam saja, ada pria asing yang menatapnya seolah dunia di luar ruangan ini bisa disuruh menunggu.

"Rayhan," ucapnya pelan.

Ada jeda tipis setelah ia menyebut nama itu.

"Hm."

"Kalau saya meminta Anda menemani saya sampai pagi, itu masuk dalam harga tiga puluh ribu?"

Mata Rayhan menggelap.

Keira baru sadar kalimatnya terdengar lebih berani daripada niatnya. "Maksud saya, ngobrol. Atau minum. Atau..."

"Atau?"

"Lupakan."

Rayhan mencondongkan tubuh. "Kau mudah kabur setelah bicara."

"Saya hanya sadar diri."

"Sayang sekali."

"Kenapa?"

"Saya ingin mendengar lanjutannya."

Panas naik ke wajah Keira. Ia berdiri mendadak. "Saya perlu udara."

Rayhan ikut berdiri.

"Duduk," kata Keira cepat. "Saya tidak kabur."

"Kau baru saja terlihat seperti orang yang akan kabur."

Keira mengambil napas. Wine membuatnya lebih berani, atau lebih bodoh. Mungkin keduanya.

Ia mengambil pulpen kecil dari clutch, menarik kartu nama kosong dari meja, lalu menulis alamat hotel dengan tangan sedikit gemetar.

Hotel kamar 606.

Ia menyelipkan kartu itu di celah pintu ketika membukanya.

Rayhan memperhatikan dari belakang. "Apa itu?"

Keira menoleh dengan senyum yang terlalu manis untuk orang setegang dirinya. "Kalau Anda memang sudah saya beli, cari saya nanti."

Lalu ia benar-benar kabur.

Rayhan berdiri diam selama tiga detik.

Kemudian ia tertawa pelan.

Di lorong, Devin yang baru datang hampir menabrak Keira. Perempuan itu lewat cepat dengan wajah merah, meninggalkan aroma wine dan bunga lembut.

Devin menatap punggungnya, lalu menatap Rayhan di dalam ruangan.

"Bos?"

Rayhan mengambil kartu dari celah pintu. "Selesaikan urusan bawah tanah."

"Sudah hampir selesai."

"Bagus."

"Lalu Bos?"

Rayhan membaca alamat di kartu itu.

"Saya menagih pembelian."

Satu jam kemudian, Bentley hitam berhenti di depan hotel tempat Keira menginap.

Keira membuka pintu kamar 606 setelah ketukan kedua. Rambutnya sudah dilepas. Gaun ungunya masih melekat di tubuh, tetapi ekspresi beraninya sudah banyak hilang.

"Saya pikir Anda tidak akan datang."

Rayhan masuk tanpa terburu-buru. Aroma kayu cendana mengisi ruangan kecil itu, membuat hotel yang tadinya asing terasa tiba-tiba terlalu intim.

"Kau meninggalkan alamat."

"Itu tidak berarti Anda harus datang."

"Kau membayar saya."

Keira kehabisan bantahan.

Di meja kecil dekat jendela, ada sebotol wine hotel yang sudah dibuka. Jelas bukan pilihan terbaik, tetapi cukup untuk membuat pipi Keira kembali hangat.

"Kau minum lagi?" tanya Rayhan.

"Sedikit."

"Berapa sedikit?"

Keira mengangkat dua jari, lalu ragu. "Mungkin tiga."

Rayhan mengambil botol itu dan menjauhkannya. "Cukup."

"Hei, saya yang membayar."

"Dan saya yang masih waras."

Keira ingin marah, tetapi kalimat itu entah kenapa membuatnya tertawa. Ia melangkah mendekat, terlalu dekat untuk orang yang tadi kabur.

"Ray."

Rayhan diam.

Nama pendek itu jatuh begitu saja dari bibirnya. Seolah ia sudah lama punya hak untuk memanggilnya begitu.

"Boleh saya panggil begitu?"

"Hanya kau."

Jawaban itu terlalu cepat.

Keira menatapnya. Di bawah lampu kamar hotel yang lembut, wajah Rayhan tidak lagi setajam di ballroom. Tetap dingin, tetap sulit ditebak, tetapi ada sesuatu yang melunak setiap kali ia memandang Keira.

Keira mengangkat tangan, menyentuh sisi wajahnya dengan ujung jari.

"Kamu benar-benar nyata?"

"Menurutmu?"

"Terlalu mahal untuk nyata."

"Kau membayar murah."

Keira tertawa lagi. Lalu, tanpa memberi dirinya waktu untuk takut, ia berjinjit dan mencium Rayhan.

Ciuman itu tidak rapi. Terlalu cepat, terlalu berani, terlalu penuh wine. Bibir Keira menyentuh bibirnya, lalu hampir mundur karena terkejut pada keberaniannya sendiri.

Namun Rayhan menahan pinggangnya.

Tidak keras. Cukup untuk membuatnya tetap di sana.

Keira merasakan napasnya pecah.

Rayhan membalas ciuman itu perlahan, seolah sedang mengajari tubuhnya bahwa rasa tergesa hanya akan membuatnya kalah. Tangannya tetap di pinggang Keira, tidak bergerak sembarangan, tetapi setiap sentuhan terasa seperti janji yang menunggu izin.

Ketika akhirnya ia melepaskan ciuman itu, Keira hampir lupa cara berdiri.

Rayhan menunduk, dahinya hampir menyentuh dahi Keira.

"Taklukkan saya," katanya rendah, "nyawa saya pun untukmu."

Keira menatapnya dengan mata berkabut. "Kalau begitu menikah saja."

Rayhan terdiam.

Keira memeluk pinggangnya, wajahnya menempel di dada Rayhan. "Jangan pulang. Saya sudah beli satu hari. Mulai sekarang kamu milik saya."

Kalimat itu kekanak-kanakan, mabuk, dan tidak masuk akal.

Namun Rayhan meletakkan tangannya di punggung Keira dengan hati-hati.

"Baik, Kei."

Keira samar-samar tersenyum saat mendengar nama itu. "Kei?"

"Hanya saya."

"Curang."

"Kau mulai dulu."

Tidak lama kemudian, tubuh Keira mulai lemas. Wine, lelah, dan adrenalin malam itu akhirnya menagih bayaran. Rayhan membaringkannya di tempat tidur, membuka heels dari kakinya, lalu berdiri lama di sisi ranjang.

Gaun ungu itu tidak nyaman untuk tidur.

Rayhan menutup mata sebentar, seolah sedang menimbang batas yang belum pernah ia lewati.

Ia memanggil layanan hotel, meminta pakaian tidur baru yang masih tersegel, lalu menunggu di luar kamar mandi sampai staf meninggalkan paket di depan pintu.

Ketika mengganti pakaian Keira, gerakannya kaku tetapi hati-hati. Ia tidak melihat lebih dari yang perlu. Ia menarik selimut sampai bahu Keira, menyelipkan rambut yang menempel di pipinya, lalu duduk di tepi ranjang.

Keira yang setengah tidur meraba udara. "Ray..."

"Saya di sini."

"Jangan hilang."

"Tidak."

Keira menarik lengan bajunya. Rayhan akhirnya berbaring di sampingnya, tetap di atas selimut, tetapi Keira bergerak mendekat seperti menemukan sumber hangat.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun hidupnya, Tan Rayhan tidur dengan seorang perempuan dalam pelukannya.

Dan anehnya, ia merasa pulang.

Menjelang subuh, matanya terbuka.

Keira masih tidur. Di sudut kamar, koper kecilnya sedikit terbuka. Dari sela pakaian, terlihat ujung sebuah amplop tebal berwarna krem dengan lambang keluarga Tan.

Rayhan menatapnya sebentar.

Ia tidak membukanya.

Di meja samping ranjang, layar ponsel Keira menyala lagi.

Mama Yuli.

Satu panggilan tak terjawab.

Lalu panggilan kedua.

Lalu ketiga.

Sampai angka kecil di layar berubah menjadi dua belas.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!