Indonesia
NovelToon NovelToon

SANG NAGA PURBA

PREDATOR DI KEDALAMAN DAN NAMA YANG MATI

​KREK!

​Bunyi patahan tulang leher yang renyah menggema di dasar jurang tambang belerang yang gelap gulita.

​Seekor Beast bawah tanah seukuran serigala, yang kulitnya dipenuhi sisik batu beracun, kejang sesaat sebelum akhirnya mati. Mata merah binatang buas itu mendelik ngeri, menatap sosok manusia yang baru saja meremukkan lehernya hanya dengan satu tangan.

​Di dalam kegelapan pekat yang tidak berani dijamah oleh para pengawas kota, sosok pemuda bernama Tian Xue berdiri dengan napas teratur.

​Tangan kanannya yang menembus leher Beast tersebut tidak terlihat seperti tangan manusia.

​Kulit lengannya telah dilapisi oleh sisik-sisik hitam kusam. Ujung jemarinya mengeras menjadi cakar naga purba yang meneteskan darah panas sang monster.

​Tanpa rasa jijik sedikit pun, Tian Xue merobek dada Beast tersebut.

​Ia memusatkan insting purbanya, menyerap esensi darah murni dari jantung binatang buas itu. Darah segar itu langsung bereaksi, mendidih dan membakar sumsum tulangnya, memperkokoh kekuatan fisik Peringkat 3 yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

​‘Masih belum cukup... Darah Beast bermutasi kotor ini terlalu lemah untuk memicu evolusi Garis Darah Naga Purbaku ke tingkat selanjutnya,’ batin Tian Xue dingin.

​Dua belas tahun menjadi budak tambang kaum Low-Blood telah mengajarkan Tian Xue satu hal: Dunia ini adalah neraka, dan hanya iblis yang bisa selamat.

​Di Benua Canglan, kasta garis darah adalah hukum absolut.

​Klan Naga Murni berdiri pongah di puncak rantai makanan. Kaum Half-Dragon menjadi lintah darat berwujud pengawas kota. Sementara kaum Low-Blood dibiarkan membusuk di dasar tambang sebagai budak seumur hidup.

​Tujuh belas tahun lalu, altar suci Klan Chi menolak Tian Xue sewaktu bayi.

​Mereka membuangnya layaknya sampah, mengira darahnya mati. Mereka tidak pernah tahu bahwa altar rendahan buatan manusia pencuri darah itu mendadak membisu karena tidak sanggup menahan keagungan mutlak dari Garis Darah Naga Purba miliknya!

​Srrr...

​Dalam sekejap mata, cakar dan sisik naga di lengan Tian Xue menyusut kembali ke balik pori-pori kulitnya.

​Ia mengusap sisa darah di tangannya menggunakan debu belerang, menyembunyikan hawa membunuhnya, lalu merayap naik ke permukaan tambang.

​Di bawah terpaan cahaya bulan yang redup, Tian Xue kembali memasang topengnya.

​Ia berjalan menyusuri pemukiman kumuh Low-Blood dengan langkah gontai, bahu yang sedikit membungkuk, dan pakaian lusuh yang dipenuhi debu batu. Sama persis seperti ribuan kuli tambang tak berguna lainnya.

​Tidak ada satu pun pengawas yang menyadari bahwa pemuda gembel yang baru saja melewati pos penjagaan mereka adalah petarung mematikan setingkat Peringkat 3.

​Langkah kaki Tian Xue akhirnya berhenti di halaman belakang sebuah rumah panggung kayu yang reyot.

​"Tian'er..."

​Sebuah suara serak dan sarat kelelahan menyambutnya dari ambang pintu.

​Seorang wanita paruh baya bernama Sun'an melangkah pelan. Di pelipisnya terdapat sepasang tanduk kecil yang kusam, penanda bahwa ia adalah mantan Half-Dragon kasta pekerja yang telah kehilangan segalanya.

​Di tangannya, terpangku sebuah nampan kayu berisikan semangkuk sup hangat dan segelas teh herbal.

​"Ibu bawakan makanan kesukaanmu. Istirahatlah, Nak," ucap Sun'an seraya menyunggingkan senyum tulus yang memilukan.

​Tian Xue menatap wanita tua itu. Tatapan matanya yang tadi di dasar tambang sedingin pembunuh bayaran, seketika melunak dan memancarkan kehangatan.

​"Ya, Bu," jawab Tian Xue pelan.

​Meskipun tidak ada setetes pun darah yang sama mengalir di antara mereka, Sun'an adalah satu-satunya alasan mengapa Tian Xue belum meratakan kota pengawas ini dengan tanah.

​Sun'an meletakkan nampan di atas meja bambu. Namun, tangan kasarnya tampak gemetar. Raut wajahnya diliputi kecemasan yang teramat dalam.

​"Tian..." panggil Sun'an pelan. Ia menggigit bibir bawahnya. "Tiga bulan lagi... kompetisi generasi muda Benua Canglan akan diadakan di wilayah luar gunung."

​Sun'an tahu betul bahaya dari ajang akbar tersebut.

​Kompetisi itu adalah panggung unjuk gigi bagi para keturunan Klan Naga Murni. Tempat di mana ras Half-Dragon dan Low-Blood hanya dijadikan samsak hidup, bahan cemoohan, atau daging giling untuk memuaskan ego para tuan muda klan.

​Tian Xue melangkah mendekat. Ia meraih cangkir teh herbal, menyesapnya perlahan untuk membersihkan kerongkongannya dari debu belerang.

​"Apa Ibu khawatir mereka akan menghinaku lagi?" tanyanya lugas, suaranya teramat tenang.

​Sebelum Sun'an sempat menjawab, Tian Xue menurunkan cangkirnya, meraih jemari kasar wanita tersebut, dan menggenggamnya erat.

​"Jangan khawatirkan apa pun, Bu. Hinaan orang-orang itu tidak akan pernah bisa menembus kulitku. Aku sudah terbiasa dengan darah dan rasa sakit."

​Sun'an menatap sepasang mata anak angkatnya. Di sana tidak ada ketakutan, hanya ada sebuah telaga hitam yang tidak berujung.

​"Ibu tahu... Ibu selalu percaya padamu, Tian'er."

​Namun, Sun'an tidak akan pernah bisa membayangkan rencana gila apa yang sedang disusun oleh pemuda ini.

​Tian Xue tidak berniat pergi ke panggung kompetisi itu untuk memohon pengakuan. Ia tidak akan pernah sujud di depan Klan Chi agar diterima kembali.

​Tujuannya melangkah ke arena itu hanya satu:

​Menginjak-injak harga diri seluruh klan teratas, membongkar kebusukan mereka, dan membungkam setiap mulut yang pernah menertawakan penderitaan ibunya!

​Tian Xue menghela napas pelan. Ia melepaskan genggaman tangannya, menatap lurus menembus kegelapan malam, lalu kembali menatap Sun'an dengan binar mata yang amat serius.

​"Bu... mulai sekarang, jangan pernah lagi memanggilku Tian'er."

​Pemuda itu menghentikan kalimatnya sejenak.

​"Panggil aku Xue Tian."

​Jleb!

​Kata itu terucap dengan nada pelan, tetapi dampaknya bagaikan godam besi yang menghantam dada Sun'an!

​Wajah wanita tua itu seketika pucat pasi bagaikan mayat. Tubuhnya mematung kaku, napasnya tertahan erat, dan kakinya nyaris lemas.

​Marga Xue.

​Di seluruh penjuru Benua Canglan, di bawah kekuasaan absolut Empat Klan Naga Murni, marga itu adalah tabu terlarang paling berdarah!

​Sebuah rahasia kelam tentang Penguasa Purba masa lalu yang sejarahnya telah dihapus secara paksa, dan keturunannya diburu hingga musnah. Menyebut nama itu secara terbuka sama saja dengan mengundang pembantaian massal!

​"Tian'er!" bisik Sun'an dengan suara gemetar hebat. Matanya liar memindai sekeliling halaman belakang yang gelap. "Apa kau gila?! Apakah kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan?!"

​Xue Tian tidak sedikit pun panik melihat reaksi ketakutan ibunya.

​Pemuda itu justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis—senyuman iblis yang memancarkan tekad membaja dan kekejaman absolut.

​"Ya, Bu. Aku tahu betul," jawabnya sangat tenang. "Aku tahu bahwa Marga Xue adalah tabu dan ancaman terbesar bagi para penguasa benua ini."

​Xue Tian mendongak, menatap bulan sabit merah di atas langit Hutan Purba.

​"Di luar sana, di hadapan anjing-anjing pengawas kota, aku akan membalikkan namanya menjadi Tian Xue..."

​Tatapan mata pemuda itu mengeras, sedingin es abadi.

​"...Sampai tiba harinya di mana aku memiliki kekuatan untuk menyandangkan marga sejati itu di atas langit benua ini, dan membuat para klan murni itu berlutut di bawah kakiku."

​Xue Tian menatap lurus ke arah pintu panggung depan.

​"Karena bagi diriku... Marga Chi sudah lama mati."

******

​📌 Catatan Author:

​Halo semuanya! Terima kasih banyak sudah membaca sampai bab ini! 🐉✨

​Biar Author makin membara dan makin semangat gempur UPDATE 2 BAB PER HARI, jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMENTAR, dan masukkan novel ini ke RUMAH/RAK BUKU kalian ya!

​Satu Like dan Komentar dari kalian sangat berarti banget buat kelangsungan perjalanan Tian Xue dan Lu Shi! Menurut kalian gimana bab kali ini? Yuk, cerita di kolom komentar! 🚀🔥

BENTROKAN DENGAN TIGA PENGAWAS

Keheningan malam yang hangat di dapur rumah panggung itu mendadak hancur berkeping-keping.

​BAM! BAM! BAM!

​Daun pintu depan rumah panggung kayu itu digedor dengan sangat kasar hingga engsel tua dan pasaknya berderit nyaring.

​Debu-debu kayu beterbangan di udara, diiringi suara benturan keras yang tak sabar.

​"Keluar cepat! Buka pintunya, kuli busuk!" Sebuah suara berat, parau, dan syarat akan nada intimidasi menggema garang dari balik pintu.

​Sun'an terlonjak kaget. Wajahnya yang semula diliputi rasa haru seketika berubah pucat pasi.

​Tanpa membuang waktu, wanita tua itu berlari terburu-buru menuju pintu depan, mencoba meredakan situasi sebelum emosi tamu tak diundang itu meledak.

​Saat daun pintu ditarik terbuka, berdiri tiga sosok pria bertubuh kekar di atas ambang pintu.

​Mereka adalah bagian dari ras Half-Dragon—kaum kasta menengah yang mendominasi posisi pengawas tambang dan prajurit kota.

​Sebagai keturunan Half-Dragon, potensi garis darah mereka jauh melampaui budak Low-Blood, mampu mencapai Peringkat 2 hingga 6.

​Pria di posisi terdepan berada di Peringkat 2, sementara dua rekannya di belakang adalah veteran Peringkat 3.

​Mereka bertiga mengenakan zirah kulit bersisik kusam—seragam resmi pengawas yang bertugas menindas para pekerja tambang.

​"Maaf, Tuan-tuan Pengawas... Ada apa malam-malam begini?" tanya Sun'an dengan suara gemetar, berusaha sesopan mungkin.

​Namun, pengawas Half-Dragon di posisi terdepan bahkan tidak sudi memandang wajahnya.

​Tanpa mengindahkan kehati-hatian, tangan kasarnya yang berotot mengayun cepat, menghempaskan bahu Sun'an tanpa belas kasihan.

​BRUK!

​"Singkirkan badan kotormu, wanita tua!"

​Tubuh rentan Sun'an terlempar ke samping, menghantam lantai kayu keras hingga tersungkur.

​Tian Xue yang melangkah dari arah dapur seketika menangkap pemandangan tersebut.

​Dalam sekejap, darah di dalam nadinya mendidih bagaikan lahar membara!

​Ibunya tersungkur menahan sakit, sementara tiga pengawas Half-Dragon itu melangkah masuk dengan wajah angkuh.

​"Bajingan... Berani-beraninya kalian!"

​Wush!

​Tanpa aba-aba, Tian Xue melesat maju bagai kilat.

​Ia tidak membocorkan aura Naga Purba agar tidak mengundang kecurigaan. Ia murni mengerahkan kekuatan fisik Peringkat 3 yang telah disembunyikan di bawah kulitnya.

​Dalam hitungan mikrodetik, sisik tipis berwarna kusam menjalar cepat melapisi lengan kirinya, mengeras menjadi cakar pembantai.

​BOOM!

​Satu tinju mentah mendarat telak di dada pengawas Half-Dragon Peringkat 2!

​Udara di dalam ruangan terlontar keras. Pengawas itu bahkan tidak sempat menyadari apa yang terjadi ketika tubuh besarnya melayang menembus dinding kayu dan terlempar ke halaman luar.

​AAAKHHH!

​Dua pengawas Half-Dragon Peringkat 3 yang tersisa terbelalak syok.

​Sebagai praktisi Peringkat 3 dari ras Half-Dragon, refleks bertarung mereka terpicu secara otomatis. Zirah sisik tebal melingkupi tubuh mereka saat memasang kuda-kuda tempur.

​"Keparat Low-Blood! Beraninya kau!" teriak salah satu pengawas seraya menebaskan cakar berunsur angin ke arah leher Tian Xue.

​BOOM!

​Tinju berlapis kekuatan fisik brutal milik Tian Xue bertabrakan langsung dengan cakar pengawas Half-Dragon Peringkat 3.

​Gelombang tekanan udara mengempaskan meja dan kursi bambu hingga hancur berkeping-keping.

​Tian Xue hanya terdorong mundur satu langkah dengan tumpuan kaki yang sangat kokoh.

​Sementara sang pengawas Half-Dragon terlempar mundur lima langkah dengan lengan yang gemetar hebat.

​"Dia... Siapa sebenarnya budak ini?!" gumam pengawas Peringkat 2 yang tadi terlempar keluar, merangkak di halaman dengan darah segar menetes dari bibirnya.

​Namun, dua pengawas Peringkat 3 sisanya tidak berniat mundur. Mengandalkan keunggulan jumlah dan kebanggaan ras Half-Dragon, mereka menyerang dari dua sisi berbeda secara bersamaan!

​Pertarungan jarak dekat berlangsung sengit dan liar.

​Dua Half-Dragon Peringkat 3 saling melengkapi, melayangkan pukulan demi pukulan berlapis sisik tebal yang menggetarkan lantai rumah panggung.

​Tian Xue terdesak mundur hingga menyenggol pilar kayu.

​Melihat celah tersebut, kedua pengawas menyeringai kejam. Mereka mengerahkan seluruh sisa energi Peringkat 3 ke ujung cakar mereka, melayangkan dua pukulan fatal yang mengincar dada dan leher Tian Xue!

​Di mata orang biasa, posisi Tian Xue sudah terkunci mati.

​Namun di sudut bibir Tian Xue, senyuman dingin justru terukir samar.

​Tian Xue sengaja memiringkan tumpuan badannya, membiarkan dua pukulan berkecepatan tinggi itu mendarat telak di kedua bahunya!

​BRUK... BRUKK!

​Zirah sisik di bahu Tian Xue retak berantakan. Rasa sakit menusuk saat darah segar merembes membasahi pakaian kasarnya.

​"Haha! Mati kau, Bocah!" seru kedua pengawas merasa serangannya menembus pertahanan lawan.

​Namun, rasa puas itu menguap dalam sekejap.

Tian xue sengaja memanpaat kan tubuh nua sendiri untuk mencari celah, ini lah gaya bertarung dia.

​Kedua pengawas membeku saat menyadari tubuh Tian Xue sama sekali tidak bergeser satu inci pun!

​Dengan membiarkan dua pukulan menancap di bahunya, Tian Xue berhasil memotong seluruh ruang gerak kedua pengawas Half-Dragon tersebut.

​"Saatnya kalian membayar," bisik Tian Xue dingin.

​Mengabaikan rasa sakit di bahu, Tian Xue mengerahkan seluruh daya dorong fisik Peringkat 3 ke kedua lengannya yang bebas. Cakar kusam di jemarinya mengeras secara ekstrem.

​Tebasan Cakar Naga!

​DUARR!

​Dua tebasan angin tajam menghantam dada kedua pengawas dari jarak dekat.

Aaakhh.!

Teriak kedua pengawas tingkat 3, meraka tidak menyadari, anak kaum low blod punya gaya bertarung yang brutal, mengorbankan bahu nya sendiri.

​Zirah sisik tebal mereka pecah berantakan, dan tubuh kedua Half-Dragon Peringkat 3 itu terlontar deras keluar pintu, menubruk rekan mereka di halaman.

"Aaaakkhh.!

tubuh mereka tumpang tindih di atas tanah.

​Sebelum mereka sempat menghisap napas lagi, bayangan hitam melompat tinggi melintasi ambang pintu.

​Tian Xue sudah berada tepat di atas mereka di bawah terpaan sinar bulan.

​Hantaman Gempa Naga!

​DUAAAAR!

​Bumi bergetar hebat. Hantaman ganda mendarat telak di dada mereka. Tanah amblas sedalam setengah meter, menimbulkan ledakan debu membubung tinggi.

​Ketika debu terangkat, tiga pengawas Half-Dragon itu terbaring kaku di dalam lubang—hancur dan tak lagi bernapas lagi.

​"Tian'er..."

​Suara gemetar Sun'an memecah keheningan yang mencekam.

​Dengan langkah terhuyung, Sun'an berlari keluar. Ia merangkul bahu Tian Xue yang ternoda darah dengan tangan gemetar.

​"Kau tidak apa-apa, Nak? Bahumu... darah ini..." tanya Sun'an terisak.

​"Aku tidak apa-apa, Bu," jawab Tian Xue pelan. "Ini hanya luka ringan."

​Ia meraih tangan Sun'an yang gemetar. Namun di dalam hatinya, Tian Xue tahu bahwa membunuh tiga pengawas Half-Dragon malam ini adalah genderang perang pertama.

​Kota pengawas tidak akan lagi aman bagi mereka.

ARAH BARU MENUJU GERBANG KOTA

​Keheningan yang amat mencekam kembali menguasai malam di pinggiran pemukiman Low-Blood.

​Angin berembus pelan, membawa aroma anyir darah segar yang kini bercampur pekat dengan bau belerang dari arah tambang.

​Tian Xue berdiri tanpa ekspresi. Tatapan matanya sedingin es abadi, menatap lurus ke arah tiga jasad pengawas Half-Dragon yang kini terbaring kaku di dalam lubang reruntuhan tanah akibat hantamannya.

​Tidak ada sedikit pun rasa penyesalan atau ketakutan di wajah pemuda berusia tujuh belas tahun itu.

​Bertahun-tahun hidup di dasar tambang neraka telah mengajarinya satu hukum mutlak di Benua Canglan: Yang lemah akan menjadi pijakan, dan yang kuat akan menjadi penentu takdir.

​Perlahan, Tian Xue melangkah turun mendekati ketiga mayat tersebut.

​Sebagai mantan kuli tambang, ia tahu betul bahwa para pengawas berdarah Half-Dragon ini selalu menimbun kekayaan. Entah itu dari hasil merampas jatah pekerja kelas bawah, atau menggelapkan setoran kristal naga dari klan utama.

​Ia sempat menoleh sejenak ke arah ibunya yang masih berdiri mematung di ambang pintu, sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jasad di bawah kakinya.

​Tanpa ragu apalagi rasa jijik, jemari Tian Xue yang masih menyisakan hawa pertarungan mulai menggeledah saku zirah kulit ketiga mayat itu satu per satu.

​Dari balik lipatan zirah mereka, ia berhasil menemukan tiga buah Kantong Semesta berukuran kecil yang terbuat dari kulit Beast tingkat rendah.

​Dengan memicu sedikit energi fisik Peringkat 3 miliknya, Tian Xue menembus segel spiritual rendahan pada ketiga kantong tersebut dan memindai isinya.

​Seringai tipis yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. Benar dugaannya, para bajingan ini sangat kaya untuk ukuran pengawas kota pinggiran.

​Tiga puluh lima kristal naga peringkat rendah, dua botol kecil berisi Pil Naga Penyembuh, dan satu keping Lencana Resmi Pengawas Kota yang terbuat dari besi hitam.

​Bagi seorang kuli Low-Blood, melihat satu buah kristal naga peringkat rendah saja adalah kemewahan yang langka.

​Pasalnya, seluruh hasil galian dari tambang maut maupun Gua Purba selalu disita dan dialirkan penuh untuk memanjakan para tuan muda di empat klan Naga Murni.

​"Cara tercepat untuk mendapatkan kekayaan dan sumber daya kultivasi di dunia ini memang dengan membunuh para lintah darat seperti mereka," gumam Tian Xue pelan.

​Namun, sebelum bergegas pergi, ia sadar harus segera memulihkan luka di bahunya. Ia tidak boleh membiarkan bau darah menempel di tubuhnya jika ingin melewati gerbang kota tanpa memicu kecurigaan.

​Tian Xue membuka salah satu botol kecil, mengeluarkan sebutir Pil Naga Penyembuh berwarna merah pekat, lalu melemparnya ke dalam mulut tanpa ragu.

​SLUUP!

​Pil spiritual itu seketika meleleh di pangkal tenggorokannya.

​Sebuah gelombang kehangatan mengalir deras, menyebar melalui pembuluh darah dan bermuara langsung di kedua bahunya yang sempat terkoyak oleh pukulan musuh.

​Sensasi hangat yang bercampur sedikit perih terasa menggelitik.

​Di bawah kulitnya, kekuatan regenerasi pil itu bereaksi dengan Garis Darah Naga Purba miliknya yang tersembunyi. Jaringan otot dan daging yang robek merapat kembali dengan kecepatan yang sangat tidak wajar.

​Hanya dalam tiga kali tarikan napas, rasa sakit yang merajam bahunya sirna sepenuhnya, menyisakan kulit yang kembali utuh seolah tak pernah tersentuh luka.

​Tian Xue memutar lencana besi hitam di jemarinya, lalu menoleh ke arah sang ibu yang masih syok.

​"Lencana kota ini akan sangat membantu kita untuk keluar dan masuk wilayah pengawasan tanpa dicurigai, Bu," ucap Tian Xue dengan nada tenang.

​Sun'an hanya terdiam kaku di tempatnya.

​Mata rentanya menatap sosok Tian Xue yang berdiri begitu tenang di tengah genangan darah dan mayat. Ada sebersit rasa asing yang sempat melintas di benak wanita paruh baya itu.

​Apakah ini benar-benar anak angkat yang selalu ia rawat dengan penuh kelembutan?

​"Tian'er... apa... apa ini benar-benar tidak apa-apa?" tanya Sun'an dengan suara bergetar pelan. Ketakutan akan pembalasan dendam dari otoritas kota mencekik lehernya.

​Tian Xue mengalihkan pandangannya. Binar matanya yang tadi tajam dan mematikan kini seketika melunak, kembali membawakan kehangatan yang tulus khusus untuk ibunya.

​Ia berjalan mendekat, menyentuh bahu Sun'an dengan lembut.

​"Jangan khawatir, Bu. Beginilah hukum di jalan bela diri. Jika kita tidak membunuh saat mereka menodongkan taringnya, maka merekalah yang akan membantai kita esok hari," jawab Tian Xue memberikan pengertian.

​Tanpa membuang waktu lebih lama, Tian Xue segera menyeret ketiga jasad berdarah itu menuju area semak belukar yang lebat di belakang rumah.

​Ia menggali tanah berbau belerang itu cukup dalam, melempar ketiga mayat pengawas Half-Dragon ke dalamnya, lalu meratakan kembali permukaan tanah dan menaburkan debu belerang untuk menyamarkan bau anyir darah serapi mungkin.

​Ia sama sekali tidak peduli pada risiko atau kemurkaan otoritas kota di masa depan.

​Bagi Tian Xue, keselamatan wanita tua yang sedang gemetar di dalam rumah itu adalah segalanya. Sun'an adalah satu-satunya keluarga sejati yang ia miliki di dunia ini.

​"Kemasi barang-barang kita, Bu. Kita harus pergi ke kota malam ini juga," ujar Tian Xue seraya membersihkan sisa tanah di tangannya saat kembali masuk ke dalam rumah.

​"Di sana tempatnya jauh lebih ramai. Jejak dan identitas kita tidak akan mudah tercium oleh para pengawas maupun anjing pelacak mereka."

​Sun'an mengangguk, memaksa dirinya untuk kembali tegar.

​Mereka berdua segera bergerak cepat mengemasi beberapa helai pakaian kusam dan barang-barang peninggalan paling berharga. Semua itu adalah saksi bisu dari hasil keringat dan darah Tian Xue saat bertahan hidup di area terdalam tambang kristal naga.

​Area terdalam tambang tersebut adalah manifestasi dari neraka dunia.

​Di sana, kegelapan abadi berpadu dengan gas beracun dan tekanan gravitasi bumi yang sanggup meremukkan tulang manusia biasa.

​Namun, justru di tempat paling mematikan dan terbuang itulah Tian Xue secara diam-diam menempa fisik dan memicu kebangkitan Garis Darah Naga Purba miliknya selama bertahun-tahun.

​Setelah memastikan tidak ada hal penting yang tertinggal, Tian Xue dan Sun'an melangkah keluar.

​Mereka berdua meninggalkan kediaman panggung reyot yang menyimpan ribuan kenangan pahit itu di belakang punggung, berjalan menyusuri jalan setapak yang ditelan kegelapan malam.

​Hembusan angin malam membelai wajah mereka. Sun'an berjalan berdampingan di sisi Tian Xue, namun garis-garis kecemasan di wajah wanita itu belum sepenuhnya sirna.

​"Tian'er... Ibu mau bertanya sesuatu," panggil Sun'an pelan, memecah keheningan di antara mereka.

​Tian Xue menoleh, memandang wajah ibunya yang dipenuhi keraguan. "Tanyakan saja, Bu."

​Jari-jemari Sun'an bertautan erat. Ia tampak sedikit ragu sebelum memaksakan kata-katanya keluar.

​"Apakah... apakah kau sudah sering membunuh orang sebelumnya? Hingga kau terlihat begitu tenang di hadapan kematian dan darah?"

​Mendengar kegugupan dalam nada suara ibunya, Tian Xue menghentikan langkahnya.

​Ia berbalik, lalu meraih lembut kedua lengan ibunya, menggenggamnya hangat di bawah terpaan sinar rembulan yang menyelinap dari balik awan mendung.

​"Ini pertama kalinya bagiku membunuh manusia, Bu," jawab Tian Xue jujur.

​Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata ibunya yang mulai berkaca-kaca.

​"Tapi inilah jalan yang sudah aku persiapkan sejak dulu. Aku sudah menguatkan mental dan tekadku setiap kali menghadapi kematian di dasar tambang kristal naga."

​Sebuah senyuman hangat, yang jauh dari kesan pembunuh berdarah dingin, mengembang di wajah pemuda itu.

​"Sebagai makhluk hidup, aku juga masih bisa merasakan rasa takut. Tapi ketakutan hanya akan membuat kita terlihat lemah dan diinjak-injak."

​Tian Xue mengusap punggung tangan ibunya dengan jempolnya. "Jadi, percayalah padaku. Aku masih Tian, anakmu. Masih orang yang sama."

​Mendengar ucapan yang begitu tulus dari bibir anak angkatnya, gejolak batin dan kengerian di dalam dada Sun'an perlahan mulai mereda.

​Bayangan ketakutan akan sosok "monster" pembunuh yang sempat membayangi pikirannya luluh seketika.

​‘Benar... Kenapa aku harus takut?’ batin Sun'an merenung.

​‘Sejam apa pun dunia di luar sana, Tian tetaplah Tian-ku. Anak yang selalu mempertaruhkan nyawa dan jatah makannya untuk melindungiku. Jika bukan aku yang mendukungnya di dunia yang kejam ini, lalu siapa lagi?’

​Rasa haru dan ketetapan hati memancar kuat dari sepasang mata wanita paruh baya itu. Sun'an mengangguk mantap, membalas genggaman jemari Tian Xue dengan erat.

​"Ya, Ibu percaya padamu, Tian'er. Ke mana pun kau melangkah, Ibu akan selalu ada di sisimu."

​Keduanya saling melempar senyum menguatkan, lalu kembali melanjutkan langkah menembus pekatnya malam.

​Namun, selang satu jam perjalanan, tepat ketika mereka mulai mendekati area depan gerbang luar menuju kota utama, langkah keduanya mendadak terhenti secara paksa di balik bayangan pepohonan besar.

​Di hadapan mereka, sekitar seratus meter jauhnya, antrean warga Half-Dragon dan Low-Blood tampak mengular panjang.

​Ada yang tidak beres malam ini.

​Penjagaan gerbang diperketat secara ekstrem, jauh melampaui kebiasaan harian. Puluhan prajurit berzirah sisik lengkap berdiri berbaris membentuk barikade, memeriksa setiap individu yang lewat dengan tatapan liar dan sangat teliti.

​Obor-obor besar menyala terang benderang di area gerbang, memantulkan pendar mematikan dari ujung tombak dan pedang para prajurit.

​Mata tajam Tian Xue seketika menyipit saat menangkap keberadaan sebuah pilar batu kristal berwarna biru yang memancarkan pendar sihir di tengah-tengah gerbang.

​Batu Pendeteksi Energi.

​Sepertinya, kabar tentang hilangnya tiga pengawas Half-Dragon, atau bau darah dari area pemukiman pinggiran, telah tercium lebih cepat oleh otoritas klan murni di pusat kota.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!