Indonesia
NovelToon NovelToon

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Prolog & Bab 1

​Prolog: Bangkitnya Sang Hantu

……………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

​Panas.

​Itu adalah hal terakhir yang mendominasi ingatannya. Panas dari pertempuran yang menghancurkan bumi. Panas dari lahar dan api yang membakar medan perang. Panas dari kekuatan yang meluap di dalam nadinya.

​Dia adalah dewa. Dia telah mencapai puncaknya.

​Matahari telah digantikan oleh cahaya merah yang abadi. Cahaya dari Bulan Mata Merah yang agung. Pohon Suci telah mekar. Rencananya selama puluhan tahun akhirnya terwujud sempurna. Kedamaian yang dia janjikan kepada dunia telah tiba. Tidak ada lagi penderitaan. Tidak ada lagi perang. Semua orang tertidur dalam mimpi yang indah.

​Mugen Tsukuyomi telah aktif.

​Dia berdiri di udara. Angin malam yang membawa bau darah dan abu menyapu rambut putihnya. Dia menatap ke bawah. Dia melihat Hashirama yang terjebak. Dia melihat sisa-sisa perlawanan yang sia-sia. Dia merasakan kekuatan Ekor Sepuluh berdenyut selaras dengan detak jantungnya.

​Semuanya sudah berakhir. Dia telah menang. Dia adalah penyelamat dunia ini.

​Lalu datanglah rasa dingin itu.

​Rasa dingin yang tajam dan tidak masuk akal. Rasa dingin yang menembus dada kirinya. Menembus jantungnya. Menembus seluruh eksistensinya sebagai makhluk terkuat di dunia.

​Dia menunduk perlahan. Matanya yang memiliki kekuatan dewa melebar. Dia melihat sebuah tangan hitam legam menembus dadanya dari belakang. Tangan itu bukan milik musuhnya. Tangan itu milik bayangannya sendiri. Tangan milik tekadnya sendiri.

​Zetsu Hitam.

​“Kau bukanlah penyelamat dunia ini, Madara.”

​Suara itu terdengar di dekat telinganya. Suara yang serak, mengejek, dan dipenuhi oleh kemenangan kelam. Suara dari makhluk yang dia ciptakan. Atau setidaknya, makhluk yang dia pikir telah dia ciptakan.

​Madara mencoba bergerak. Dia mencoba menggunakan kekuatannya. Tetapi rasa dingin itu menyebar terlalu cepat. Kekuatan Ekor Sepuluh memberontak di dalam dirinya. Chakranya disedot keluar secara paksa. Tubuhnya terasa kaku. Matanya kehilangan fokus.

​“Mimpimu hanyalah ilusi. Kau hanyalah batu pijakan. Sebuah alat yang sangat berguna untuk membangkitkan ibuku.”

​Kata-kata itu menghancurkan segalanya. Menghancurkan keyakinannya. Menghancurkan harga dirinya. Menghancurkan setiap pengorbanan yang telah dia lakukan sejak dia masih kecil. Batu tulis Uchiha yang dia baca. Rencana panjang di dalam gua yang gelap. Pengorbanan Obito. Semuanya.

​Semuanya adalah kebohongan.

​Dia, Uchiha Madara, pria yang memanipulasi seluruh dunia, ternyata adalah orang yang paling lama dimanipulasi.

​Tubuhnya membengkak. Kesadarannya memudar. Rasa sakit fisik tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam jiwanya. Kemarahan meledak di dalam batinnya, tetapi dia tidak memiliki suara untuk berteriak. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

​Cahaya merah dari bulan memudar dari pandangannya. Berganti dengan kegelapan yang pekat. Kegelapan yang menelan segalanya.

​'Apakah ini akhirnya?'

​Pertanyaan itu mengapung di dalam benaknya yang mulai hancur.

​'Mati sebagai alat. Mati sebagai orang bodoh.'

​Kegelapan itu menyelimuti dirinya sepenuhnya. Tidak ada lagi suara. Tidak ada lagi cahaya. Tidak ada lagi rasa sakit. Hanya ada kehampaan. Kehampaan yang mutlak dan abadi. Dia membiarkan dirinya tenggelam. Menginginkan agar eksistensinya dihapus sama sekali dari sejarah.

​Dia tidak pantas mendapatkan kedamaian.

​Namun, kehampaan itu tidak berlangsung abadi.

​Sesuatu mulai menyentuh kulitnya. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang basah.

​Suara yang sangat asing mulai menembus telinganya. Suara gemuruh yang konstan dan berirama. Bukan suara ledakan. Bukan suara teriakan manusia. Bukan pula suara derak kayu dari jutsu Hashirama.

​Itu adalah suara air. Air yang bergerak.

​Sebuah aroma aneh memenuhi hidungnya. Bau garam. Bau rumput laut. Bau kehidupan liar.

​Ke mana perginya bau abu? Ke mana perginya bau darah?

​Kesadarannya ditarik kembali secara perlahan. Sangat lambat. Seperti ditarik dari dasar jurang yang dalam. Dia tidak ingin bangun. Dia ingin tetap berada di dalam kehampaan. Tetapi tubuhnya bereaksi di luar kendalinya.

​Dadanya bergerak. Udara segar masuk ke dalam paru-parunya dengan paksa. Dia terbatuk. Air asin keluar dari mulutnya. Tenggorokannya terasa perih.

​Rasa sakit itu nyata.

​Dia masih hidup.

………………………………………………………………

……………………………

​Bab 1: Dunia Tanpa Chakra, Puing-Puing Ilusi

​Sensasi dingin adalah hal pertama yang dia rasakan secara utuh.

​Air sedingin es menyapu sisi kiri wajahnya. Membasahi rambutnya. Menarik-narik pakaiannya. Butiran pasir yang kasar dan tajam menempel di pipinya. Menggores kulitnya dengan lembut setiap kali air bergerak mundur.

​Madara membiarkan matanya tertutup selama beberapa saat. Dia mencoba menganalisis situasi. Insting shinobi-nya bekerja secara otomatis.

​'Aku berbaring di tanah. Tidak, di pasir. Ada air yang bergerak secara berkala. Ombak.'

​Dia tidak berada di medan perang. Tidak ada hawa panas dari lahar. Tidak ada tekanan chakra yang mengerikan dari Aliansi Shinobi.

​Sunyi. Sangat sunyi. Hanya ada suara ombak dan pekikan burung di kejauhan.

​Jemarinya bergerak sedikit. Menyentuh pasir yang basah. Butiran pasir itu menyelinap di sela-sela jarinya. Terasa sangat nyata.

​'Ilusi?'

​Pikiran itu muncul begitu saja. Apakah Zetsu Hitam melemparnya ke dalam ilusi? Atau apakah ini bagian dari penyatuan dengan Kaguya?

​Dia harus memastikan.

​Madara menarik napas panjang. Dia mencoba mengalirkan chakra di dalam tubuhnya. Dia ingin mengaktifkan matanya. Dia ingin menghancurkan ilusi ini dengan kekuatan Rinnegan miliknya.

​Dia memusatkan pikirannya. Mencari lautan chakra yang selama ini menjadi sumber kekuatan dewanya. Mencari energi tanpa batas dari Ekor Sepuluh.

​Kosong.

​Napas Madara terhenti di tenggorokan. Matanya yang tertutup berkedut keras.

​Dia mencoba lagi. Lebih keras. Lebih dalam. Dia mencari ke setiap sudut jaringan chakranya. Ke setiap titik aliran di tubuhnya.

​Tidak ada Ekor Sepuluh. Tidak ada chakra Enam Jalur. Tidak ada chakra alam.

​Bahkan chakra murni miliknya sendiri pun terasa sangat salah.

​Lautan chakra yang selalu bergejolak di dalam dirinya kini hilang. Aliran sungai besar yang menjadi nyawanya telah mengering. Yang tersisa hanyalah aliran kecil. Sangat kecil dan lemah. Seperti parit kecil setelah hujan reda.

​'Apa yang terjadi?'

​Jantungnya berdetak lebih cepat. Ketenangan yang selalu dia jaga mulai goyah.

​Madara membuka matanya secara tiba-tiba.

​Cahaya terang menyilaukan pandangannya. Dia menyipitkan mata. Menyesuaikan diri dengan cahaya tersebut.

​Bukan langit malam yang merah. Bukan langit yang dipenuhi awan debu peperangan.

​Langit di atasnya berwarna biru cerah. Biru yang sangat jernih. Dihiasi oleh awan putih yang bergerak pelan. Burung-burung berbulu putih terbang berputar-putar di udara. Memekik dengan suara yang belum pernah dia dengar.

​Madara menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Mendorong dirinya untuk duduk.

​Tubuhnya terasa sangat berat. Pakaian yang dia kenakan basah kuyup. Dia menunduk. Matanya menangkap warna merah yang sangat dia kenal.

​Armor pelindung dada merah. Armor khas klan Uchiha yang selalu dia pakai. Armor itu utuh. Tidak ada lubang di dadanya. Tidak ada noda darah hitam.

​Tangan yang menopang tubuhnya di atas pasir terlihat berbeda. Madara mengangkat tangan kanannya. Memperhatikannya dengan saksama.

​Kulitnya pucat dan mulus. Tidak ada kerutan usia. Tidak ada retakan kertas seperti saat dia dibangkitkan dengan Edo Tensei. Tangan itu kecil. Tulangnya belum terbentuk sempurna seperti pria dewasa.

​Itu adalah tangan seorang remaja.

​Madara meraba wajahnya sendiri. Pipinya terasa lebih kencang. Garis rahangnya belum terlalu tajam. Rambutnya basah dan panjang, menempel di punggung dan pundaknya. Rambut hitam yang pekat. Bukan rambut putih keabu-abuan.

​Dia menggerakkan kakinya. Berdiri secara perlahan. Kakinya sedikit gemetar karena rasa dingin dan kelelahan yang aneh. Pasir basah menempel di celana hitamnya.

​Angin laut meniup wajahnya. Membawa bau garam yang sangat kuat.

​Dia menatap ke depan. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan air berwarna biru. Lautan lepas yang tidak memiliki ujung. Ombak bergulung pelan dan pecah di ujung kakinya.

​Dia berbalik. Di belakangnya hanya ada garis pantai yang panjang. Dibatasi oleh tebing batu yang tinggi dan hutan hijau yang lebat. Tidak ada desa. Tidak ada mayat. Tidak ada senjata yang tertancap di tanah.

​Tempat ini bersih. Tempat ini damai. Tempat ini sangat asing.

​Madara melangkah gontai meninggalkan garis ombak. Kakinya meninggalkan jejak di atas pasir yang basah. Dia berjalan menuju sekumpulan batu karang besar di dekat tebing.

​Di sela-sela batu karang itu, air laut terjebak dalam sebuah genangan yang tenang. Bening seperti cermin.

​Madara berhenti di tepi genangan itu. Menundukkan wajahnya.

​Permukaan air memantulkan bayangannya.

​Seorang pemuda balas menatapnya. Pemuda dengan rambut hitam panjang yang tajam di bagian ujung. Pemuda dengan mata hitam kelam yang dalam. Wajah yang sangat familier. Wajah yang selalu dia lihat di permukaan sungai Naka puluhan tahun yang lalu.

​Itu adalah wajahnya. Wajah Madara Uchiha saat dia berusia enam belas tahun.

​'Usia saat kematian Izuna semakin dekat,' batinnya.

​Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa sakit kecil itu menegaskan satu hal.

​Ini bukan ilusi. Ini adalah realitas.

​Dia menatap bayangan matanya. Dia mencoba mengalirkan sedikit chakra yang tersisa ke arah matanya.

​Iris hitamnya berubah menjadi merah darah. Tiga tanda koma hitam berputar pelan di sekitar pupilnya.

​Sharingan biasa. Tiga Tomoe.

​Bukan Mangekyou. Bukan Eternal Mangekyou. Bukan Rinnegan.

​Hanya mata terkutuk dasar dari klannya.

​Madara memejamkan matanya kembali. Menghentikan aliran chakra. Menghemat energi yang kini terasa sangat berharga. Mata merahnya kembali menjadi hitam.

​Dia berdiri tegak. Mengambil napas dalam-dalam. Menenangkan pikirannya yang bergejolak. Dia adalah Uchiha Madara. Kepanikan adalah emosi milik orang lemah.

​Jika tubuhnya kembali muda, jika kekuatannya hilang, maka dia hanya perlu mencari tahu di mana dia berada.

​Madara memusatkan pikirannya. Dia memperluas kesadarannya. Menggunakan sisa-sisa kemampuan sensoriknya untuk meraba dunia di sekitarnya.

​Dia mencari sesuatu yang familier. Sesuatu yang bisa menjadi patokan.

​'Di mana kau, Hashirama?'

​Tidak ada jawaban. Chakra kayu yang hangat dan menenangkan itu tidak ada.

​'Tobirama? Bocah Uzumaki itu? Uchiha terakhir yang sombong itu?'

​Tidak ada. Kosong.

​Bahkan chakra samar dari orang-orang biasa pun tidak dia temukan. Dunia ini terasa kosong dari chakra.

​Namun, bukan berarti dunia ini mati.

​Madara merasakan hal lain. Sesuatu yang berbeda. Udara di sekitarnya tidak mengandung energi alam, Senjutsu yang biasa dia serap. Udara ini murni. Bebas.

​Ada suatu jenis kekuatan yang mengalir di setiap makhluk hidup di sini, tetapi bentuknya sangat berbeda. Itu bukan penyatuan antara energi fisik dan spiritual seperti chakra. Itu terasa lebih liar. Lebih primal.

​Ada perasaan kebebasan mutlak yang berhembus bersama angin laut. Kebebasan yang aneh. Kebebasan yang membuat Madara merasa jijik karena dia tidak memahaminya.

​Dia membuka matanya. Menatap lautan luas di hadapannya.

​Dia sendirian. Terputus dari segala sesuatu yang dia kenal. Tidak ada perang. Tidak ada klan. Tidak ada Zetsu.

​Dan tidak ada impian.

​Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Uchiha Madara tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

​Dia telah menghabiskan seluruh hidupnya merencanakan masa depan. Menggerakkan bidak catur dalam bayang-bayang. Menyusun skenario demi skenario. Semuanya demi mencapai satu tujuan akhir yang ternyata adalah sebuah kebohongan besar.

​Sekarang, tujuan itu sudah tidak ada. Papan caturnya telah dihancurkan.

​Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin bergema di dalam kepalanya. Suara itu tidak memiliki intonasi. Sangat datar dan kuno.

​[Inisialisasi Sistem Legenda Uchiha. Tuan Rumah: Uchiha Madara. Status Fisik: Remaja (Terkunci). Kapasitas Chakra: Jonin Bawah (Terkunci). Misi Utama: Tidak ada. Hiduplah sesukamu.]

​Madara terdiam. Tubuhnya menegang sejenak. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, mencari sumber suara.

​Tidak ada siapa-siapa. Suara itu benar-benar berasal dari dalam kepalanya.

​Sebuah layar semi transparan berwarna biru redup melayang di udara, tepat di depan wajahnya. Teks berwarna putih tertulis di sana, persis dengan apa yang baru saja disuarakan di dalam kepalanya.

​Madara menatap tulisan itu dalam diam.

​Tuan Rumah. Status Terkunci. Misi Utama.

​Kata-kata yang sangat absurd. Kata-kata yang mencoba mendefinisikan dirinya. Mencoba memberinya label. Mencoba memberinya batasan.

​Kenangan tentang tangan hitam yang menembus dadanya kembali berkelebat. Kenangan tentang bagaimana dia dijadikan alat oleh tekad orang lain.

​Sudut bibir Madara perlahan terangkat. Membentuk sebuah senyuman. Bukan senyuman gembira. Bukan senyuman hangat.

​Itu adalah senyuman sinis. Senyuman yang dipenuhi oleh keangkuhan dan rasa muak yang luar biasa.

​Bahu Madara mulai berguncang pelan. Tawa pelan keluar dari bibirnya. Tawa itu semakin lama semakin keras. Memecah keheningan pantai yang damai. Suara tawanya bergema di dinding tebing. Membawa nuansa dingin dan menakutkan yang membuat burung-burung di sekitar sana beterbangan menjauh karena panik.

​Madara tertawa menatap layar biru di hadapannya.

​“Diatur oleh takdir palsu di duniaku,” suaranya serak namun penuh dengan ketajaman yang mematikan. “Dan kini sebuah benda tak kasatmata mencoba mengaturku di dunia baru?”

​Dia mengangkat tangan kanannya. Mengayunkannya dengan keras ke arah layar biru itu, seolah ingin membelahnya menjadi dua. Tangannya menembus proyeksi cahaya itu tanpa menyentuh apa pun. Layar itu hanya beriak sedikit sebelum kembali diam.

​“Jangan bercanda.”

​Madara menurunkan tangannya. Tawa itu berhenti sepenuhnya. Berganti dengan tatapan sedingin es. Mata hitamnya menatap layar itu dengan intensitas yang bisa membunuh pria lemah hanya dengan tatapan.

​“Aku tidak butuh misi. Aku tidak butuh arahan. Dan aku pasti tidak butuh izin dari benda aneh sepertimu untuk hidup sesukaku.”

​Layar biru itu tidak memberikan respons. Hanya melayang diam di udara.

​Madara membuang muka. Merasa muak melihat benda aneh itu. Dia berjalan menjauh dari genangan air. Berjalan kembali ke arah pantai yang terbuka.

​Dia tidak memedulikan layar biru yang akhirnya memudar dan menghilang dari pandangannya.

​Angin laut bertiup semakin kencang. Mengibarkan ujung rambut panjangnya. Armor merahnya terasa semakin berat karena air laut yang mulai mengering dan meninggalkan kerak garam.

​Madara menatap garis horizon di mana laut bertemu dengan langit.

​Dunia ini asing. Kekuatannya dirantai. Tubuhnya kembali muda.

​Tetapi dia tetaplah Uchiha Madara.

​Tidak ada dewa yang bisa mengaturnya. Tidak ada sistem yang bisa merantainya.

​Jika dunia ini memberinya kehidupan kedua tanpa tujuan, maka dia akan menciptakan tujuannya sendiri. Dia akan berjalan di dunia ini, melihat apa yang bisa dunia ini tawarkan.

​Dan jika dunia ini berani menghalangi jalannya, maka dia akan menghancurkannya. Sama seperti yang biasa dia lakukan.

​Langkah pertamanya di pasir dunia baru meninggalkan jejak yang dalam. Jejak dari seorang hantu yang bangkit dari kematian. Hantu yang tidak lagi mencari kedamaian ilusi, melainkan realitas yang bisa dia injak di bawah kakinya.

​Perjalanan Uchiha Madara, di dunia lautan yang tak berujung ini, baru saja dimulai.

Bab 2: Tarian Pertama yang Membosankan

​Angin laut bertiup perlahan, membawa buih air asin yang terhempas di batu karang hitam.

​Madara duduk melipat kaki di atas puncak karang tertinggi. Posisinya cukup tinggi untuk memandang seluruh garis pantai dan lautan luas yang membentang tanpa batas. Rambut hitam panjangnya berkibar mengikuti arah angin. Armor merah di dadanya telah mengering, meninggalkan garis-garis tipis bekas garam laut.

​Dia memejamkan mata. Fokusnya terpusat pada bagian dalam tubuhnya.

​Madara mencoba mengalirkan energi melalui jalur chakra di dalam tubuhnya. Dia menelusuri setiap titik tenketsu yang ada. Hasilnya tetap sama. Aliran energi itu terasa sangat sempit. Seperti sebuah sungai agung yang dipaksa mengalir melalui celah batu kecil.

​'Sangat memuaskan untuk mengetahui bahwa tubuh ini setidaknya masih bisa mengalirkan chakra,' batinnya.

​Namun, kapasitasnya sangat jauh dari kata ideal. Aliran ini hanya setingkat Jonin biasa. Tidak ada chakra Ekor Sepuluh. Tidak ada energi Enam Jalur. Bahkan untuk merapal satu jutsu skala besar saja, chakranya akan langsung habis.

​Madara membuka matanya. Iris hitamnya menatap lurus ke horizon.

​Dunia ini penuh dengan keanehan. Udara yang dia hirup terasa sangat berbeda. Tidak ada jejak chakra dari shinobi lain di sekitar tempat ini. Tidak ada aura hangat milik Hashirama. Tidak ada chakra petir milik Tobirama. Hanya ada kehampaan yang diisi oleh aroma air asin dan suara ombak.

​Namun, dia merasakan sesuatu yang lain. Ada energi asing yang terikat pada setiap benda hidup di tempat ini. Energi yang tidak menggunakan chakra sebagai perantara.

​'Apakah ini jenis kekuatan yang berbeda?' tanya Madara dalam hati.

​Pikirannya terputus ketika matanya menangkap sesuatu di kejauhan.

​Sebuah titik hitam muncul di garis pertemuan antara laut dan langit. Titik itu perlahan membesar seiring berjalannya waktu. Gelombang laut membawa objek itu semakin mendekat ke arah pantai tempat Madara berada.

​Itu adalah sebuah kapal layar.

​Kapal itu memiliki tiga tiang utama dengan layar kain yang terkoyak di beberapa bagian. Kayu pelapis dindingnya terlihat lapuk dan berwarna gelap. Di puncak tiang tertinggi, sebuah bendera hitam berkibar kasar. Gambar tengkorak manusia dengan dua tulang bersilang dan taring yang tergores kasar terlukis di atas kain bendera tersebut.

​Madara tidak mengalihkan pandangannya. Dia memperhatikan pergerakan kapal itu dengan tenang.

​Langkah kaki para awak kapal terdengar tidak beraturan dari jarak jauh. Suara teriakan kasar dan tawa yang sumbang mulai terdengar menembus deru ombak. Kapal itu menurunkan jangkar di perairan yang dangkal, beberapa puluh meter dari garis pantai.

​Sebuah perahu kayu kecil diturunkan ke air. Sekitar dua puluh orang melompat masuk ke dalam perahu tersebut, mendayung dengan tergesa-gesa menuju daratan.

​Madara tetap duduk di atas batu karang. Dia tidak bergerak sedikit pun. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

​Perahu kayu itu menabrak pasir pantai. Para penderetanya melompat keluar, membiarkan air laut basah menyiram sepatu boot mereka yang kotor. Mereka membawa berbagai jenis senjata di tangan mereka. Pedang besi dengan bilah melengkung, tombak berkarat, dan senjata api berlaras pendek yang terbuat dari kayu dan besi tebal.

​Seorang pria gemuk berjalan di depan rombongan tersebut. Pria itu mengenakan mantel berlapis bulu yang sudah kusam. Perutnya yang besar menyembul dari balik kemeja yang tidak dikancingkan. Saat dia menyeringai, beberapa gigi emas di dalam mulutnya memantulkan cahaya matahari.

​“Cari air bersih dan kayu kering!” teriak pria gemuk itu dengan suara serak. “Kita tidak punya banyak waktu sebelum kapal Angkatan Laut melihat keberadaan kita!”

​“Siap, Kapten!” sahut para anak buahnya serentak.

​Mereka mulai menyebar di sepanjang garis pantai. Namun, langkah salah satu dari mereka terhenti saat pandangannya tertuju ke arah puncak batu karang hitam.

​“Kapten! Lihat ke atas sana!” teriak pria kurus bermata satu sambil menunjuk ke arah Madara.

​Pria gemuk yang dipanggil Kapten itu menoleh. Seluruh rombongan bajak laut bertaring berkarat itu kini menghentikan aktivitas mereka. Dua puluh pasang mata mendongak, menatap pemuda yang duduk tenang di atas batu karang.

​Kapten bajak laut itu melangkah mendekat ke dasar batu karang. Dia memperhatikan penampilan Madara dari bawah ke atas. Pemuda berambut hitam panjang, mengenakan pelindung dada berwarna merah terang yang terlihat kokoh, dan celana hitam berkualitas tinggi.

​Seringai lebar kembali menghiasi wajah pria gemuk itu. Gigi emasnya terlihat makin jelas.

​“Oho? Apa yang kita miliki di sini?” Kapten itu tertawa terkekeh. “Seorang bocah bangsawan yang terdampar? Atau anak kaya yang melarikan diri dari rumahnya?”

​Para anak buahnya ikut tertawa. Suara tawa mereka terdengar bising di pantai yang tenang itu.

​“Lihat armor merah yang dipakainya, Kapten!” seru salah satu anak buahnya dengan wajah penuh keserakahan. “Bahan itu terlihat sangat mahal! Kita bisa menjualnya dengan harga tinggi di pasar gelap!”

​“Bajunya juga terlihat bagus! Serahkan pada kami, Kapten!”

​Kapten bajak laut itu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar anak buahnya diam. Dia melangkah makin dekat hingga berdiri di bawah batu karang Madara. Tangannya mengusap dagunya yang dipenuhi janggut kusam.

​“Hei, Bocah!” teriak sang Kapten. “Kau dengar itu? Jika kau tidak ingin dijadikan umpan hiu di laut ini, turunlah sekarang! Serahkan armor merahmu, pakaianmu, dan semua barang berharga yang kau miliki!”

​Madara masih tidak bergerak. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia menatap rombongan manusia di bawahnya dari ketinggian.

​Dia tidak menjawab. Dia bahkan tidak mengubah posisi duduknya.

​Kapten bajak laut itu menaikkan salah satu alisnya. Wajahnya berubah menjadi muram saat melihat respons dingin dari pemuda di atasnya. Rasa hormat dan ketakutan adalah hal yang biasa dia dapatkan dari orang biasa, tetapi pemuda ini menatapnya seolah-olah dia sedang melihat tumpukan batu di pinggir jalan.

​“Kau tuli, Bocah?” bisik Kapten itu kasar. “Atau kau terlalu takut hingga tidak bisa bicara?”

​Madara menghela napas pelan. Udara keluar dari hidungnya dengan sangat lambat.

​Dia mulai mengamati postur tubuh orang-orang di bawahnya. Otot-otot mereka tegang tanpa arah. Cara mereka memegang senjata sangat amatir. Pusat gravitasi tubuh mereka goyah saat berdiri di atas pasir yang tidak rata.

​'Langkah kaki mereka berat. Napas mereka tidak teratur. Tidak ada niat membunuh yang murni, hanya keserakahan kotor,' batin Madara.

​Tidak ada aura berbahaya dari mereka. Tidak ada konsentrasi energi yang mengindikasikan bahwa mereka adalah petarung sejati. Mereka hanyalah sekumpulan sampah yang berkumpul karena rasa lapar dan keserakahan.

​Madara menyandarkan dagunya pada telapak tangan kanannya. Siku tangannya bertumpu di atas lutut. Tatapannya menjadi makin dingin.

​Sikap acuh tak acuh itu membuat Kapten bajak laut hilang kesabaran. Wajahnya memerah karena marah. Dia menarik sebuah pistol flintlock dari balik sabuk kulitnya yang tebal. Laras besi pistol itu diarahkan tepat ke kepala Madara.

​“Aku tidak suka membuang waktu, Bocah!” bentak Kapten itu. “Turun dalam hitungan tiga, atau aku akan melubangi kepalamu!”

​“Satu!”

​Madara tidak bergeming.

​“Dua!”

​Anak buah bajak laut di sekitarnya mulai bersorak, menyemangati Kapten mereka untuk menarik pelatuk.

​“Tiga!”

​Ledakan kecil terdengar dari mekanisme pemantik pistol. Asap hitam menyembur dari laras besi bersamaan dengan percikan api. Sebuah peluru timah padat meluncur deras membelah udara, mengarah lurus ke titik di antara kedua mata Madara.

​Kecepatan peluru itu sangat lambat di mata Madara.

​Dia tidak perlu melompat. Dia tidak perlu menggunakan jutsu penjelajah ruang.

​Saat peluru timah itu berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, Madara hanya miringkan kepalanya sedikit ke arah kanan. Gerakannya sangat tipis. Sangat efisien.

​Peluru itu lewat begitu saja di samping telinganya. Angin tipis bekas lintasan peluru menyapu beberapa helai rambut hitamnya. Peluru timah itu menabrak permukaan batu karang di belakang Madara, meninggalkan bekas goresan kecil dan percikan batu sebelum jatuh ke pasir.

​Suara sorakan para bajak laut terhenti secara mendadak.

​Asap dari laras pistol perlahan memudar di udara. Kapten bajak laut itu tetap mempertahankan posisinya, menatap ke arah puncak batu karang dengan mata terbelalak. Dia melihat pemuda itu masih duduk di posisi yang sama. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Pemuda itu bahkan tidak berkedip.

​“M-Meleset?” gumam sang Kapten tidak percaya. Dia menatap laras pistolnya sendiri, lalu menatap kembali ke arah Madara. “Bagaimana bisa dari jarak sedekat ini?”

​Madara perlahan menurunkan tangannya dari dagu. Dia menunduk, menatap langsung ke arah mata sang Kapten.

​Iris mata hitam Madara mulai berubah.

​Warna hitam pekat di matanya luntur, berganti dengan warna merah darah yang menyala terang. Di sekitar pupil matanya, tiga tanda koma hitam muncul dan berputar secara perlahan sebelum berhenti di posisi simetris.

​Sharingan Tensei. Tiga Tomoe.

​Persepsi Madara terhadap dunia di sekitarnya berubah seketika. Setiap pergerakan angin, setiap butiran pasir yang terbang, dan setiap detak jantung dari dua puluh orang di bawahnya terekam secara sempurna di dalam matanya. Dia bisa melihat aliran darah yang terburu-buru di leher para bajak laut itu. Dia bisa memprediksi ke mana arah pergerakan otot mereka sebelum mereka sempat melangkah.

​Madara berdiri dari duduknya.

​Dalam hitungan milidetik, keberadaannya di atas puncak batu karang hitam itu menghilang.

​Dia tidak menggunakan Shunshin no Jutsu. Dia tidak menguras chakranya yang terbatas. Itu murni dorongan kekuatan fisik dari otot kakinya yang terlatih selama puluhan tahun di medan perang.

​Para bajak laut bahkan tidak sempat melihat Madara melompat.

​Suara dentuman keras terdengar di tengah-tengah rombongan mereka. Pasir pantai menyembur ke udara ketika tubuh Madara mendarat dengan mulus di tanah. Angin hempasan dari pendaratannya membuat mantel para bajak laut berkibar kasar.

​“Di-Di mana dia?!” teriak seorang bajak laut dengan panik.

​“Di tengah-tengah kita!”

​Sebelum bajak laut di sebelahnya sempat memutar tubuh, Madara sudah bergerak.

​Tarian Taijutsu khas Uchiha dimulai.

​Madara melangkah ke depan. Gerakannya meluncur seperti bayangan di atas pasir. Dia menyusup ke dalam jarak tembak seorang bajak laut yang memegang tombak. Tanpa membuang energi, tangan kanan Madara menyambar bagian tengah gagang tombak tersebut, memutarnya dengan cepat, dan mendorong ujung kayu yang tumpul tepat ke rahang pemiliknya.

​Suara retakan tulang terdengar nyaring. Bajak laut itu terangkat ke udara sebelum terhempas keras ke pasir, pingsan seketika dengan rahang yang bergeser.

​Tanpa menghentikan momentumnya, Madara memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Kaki kirinya melayang ke atas, melakukan tendangan tumit melingkar yang menghantam rusuk bajak laut kedua.

​Suara patahan tulang rusuk terdengar jelas. Pria itu memuntahkan udara dari paru-parunya dan roboh sambil memegangi dadanya yang retak.

​“Tembak dia! Bunuh bocah ini!” teriak seorang bajak laut bermata satu sambil mengarahkan senapan laras panjangnya.

​Tiga orang bajak laut menarik pelatuk senapan mereka secara bersamaan.

​Mata merah Sharingan Madara berputar pelan. Lintasan peluru terlihat sangat jelas di matanya. Madara memiringkan tubuhnya ke kiri, membiarkan dua peluru melewatinya begitu saja. Peluru ketiga dia tangkap menggunakan sela-sela jari tangan kirinya yang dilapisi sedikit chakra.

​Tanpa ragu, Madara melemparkan kembali peluru timah itu menggunakan jentikan jarinya.

​Peluru itu meluncur balik dengan kecepatan yang memecah udara, menghantam lutut bajak laut bermata satu. Pria itu menjerit histeris saat tempurung lututnya hancur, membuatnya langsung berlutut di atas pasir.

​“Sialan! Dia monster!”

​Dua orang bajak laut maju bersamaan, mengayunkan pedang melengkung mereka ke arah leher dan pinggang Madara dari dua sisi yang berbeda.

​Madara tidak menarik pedangnya sendiri. Menggunakan senjata buatan orang-orang ini adalah sebuah penghinaan bagi ilmu pedang klan Uchiha.

​Dia membiarkan kedua bilah pedang itu mendekat. Saat jaraknya tinggal beberapa sentimeter dari kulitnya, Madara menurunkan pusat gravitasinya. Dia menekuk lututnya, merendahkan tubuh hingga kedua bilah pedang besi itu hanya menebas udara kosong di atas kepalanya.

​Dari posisi rendah, Madara mendorong kedua telapak tangannya ke atas. Pukulan telapak tangan ganda menghantam dada kedua bajak laut tersebut dengan presisi yang mematikan.

​Tulang dada mereka retak seketika. Tekanan dari pukulan Madara menghentikan aliran udara di paru-paru mereka, melempar tubuh mereka sejauh beberapa meter ke belakang sebelum mendarat tidak berdaya di tepi air laut.

​Serangan demi serangan terjadi tanpa ada satu pun gerakan yang terbuang.

​Madara menari di antara sisa-sisa bajak laut yang mulai panik. Dia melangkah, memutar, dan mengeksekusi setiap gerakan Taijutsu dengan keanggunan yang mengerikan. Setiap pukulan, setiap tendangan, dan setiap tangkisan selalu diakhiri dengan suara tulang yang patah atau jeritan kesakitan.

​Dia tidak menggunakan Ninjutsu. Dia tidak membakar mereka dengan Katon. Chakranya terlalu berharga untuk dibuang pada makhluk-makhluk lemah ini.

​Madara juga tidak membunuh mereka. Bukan karena rasa iba atau belas kasih. Bagi Madara, mencabut nyawa orang-orang yang bahkan tidak bisa menyentuh ujung pakaiannya adalah sebuah pemborosan tenaga. Menghentikan kemampuan bertarung mereka dengan mematahkan persendian adalah cara paling efisien untuk mengakhiri gangguan ini.

​Seorang pria bertubuh tinggi mencoba menyerang Madara dari belakang dengan pisau belati.

​Madara bahkan tidak menoleh. Mata Sharingan di belakang kepalanya seolah-olah bisa melihat pergerakan tersebut. Saat pisau itu diayunkan turun, Madara menggeser kaki kanannya ke belakang, menangkap pergelangan tangan pria itu, dan memutarnya ke arah yang berlawanan dengan arah sendi.

​Suara retakan yang keras terdengar bersamaan dengan jeritan melengking pria itu. Madara mengakhiri gerakan itu dengan tendangan samping ke arah lutut musuhnya, mematahkan kaki pria itu sepenuhnya.

​Dalam waktu kurang dari dua menit, pantai yang tadinya bising oleh tawa para bajak laut kini dipenuhi oleh erangan kesakitan.

​Delapan belas orang terkapar di atas pasir. Ada yang memegangi tangannya yang bengkok ke arah yang salah, ada yang pingsan dengan rahang hancur, dan ada yang meringkuk memegangi lutut mereka yang pecah. Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu berdiri kembali.

​Darah membasahi pasir pantai di beberapa titik, tetapi tidak ada satu tetes pun darah yang menyentuh pakaian atau armor merah milik Madara.

​Madara berdiri di tengah-tengah kehancuran itu. Dia menarik napas pelan, merapikan posisi pelindung dadanya yang sedikit bergeser. Tiga Tomoe di matanya perlahan memudar, kembali menjadi iris mata hitam pekat.

​Dia menoleh ke arah satu-satunya orang yang masih berdiri.

​Kapten bajak laut gemuk itu gemetar hebat. Pistol di tangan kanannya sudah jatuh ke pasir sejak tadi. Kedua matanya terbelalak lebar, menatap anak buahnya yang dibantai dalam hitungan detik oleh seorang pemuda tunggal.

​Napas sang Kapten terdengar berat dan patah-patah. Keringat dingin mengalir deras dari dahinya, membasahi janggut kusam dan kemejanya. Gigi emas yang tadinya dipamerkan dengan bangga kini bergemelutuk keras karena rasa takut yang luar biasa.

​Dia melihat Madara melangkah mendekat.

​Setiap langkah kaki Madara di atas pasir terdengar seperti detak lonceng kematian di dalam kepala sang Kapten.

​“M-Monster...” bisik Kapten itu dengan suara yang nyaris tidak terdengar. “Kau... kau ini monster apa?!”

​Pria gemuk itu secara refleks menarik pedang besar dari pinggangnya dengan tangan yang gemetar. Dia mengayunkan pedang itu secara liar ke depan, mencoba menjaga jarak antara dirinya dan pemuda berambut hitam itu.

​“Jangan mendekat! Jangan mendekat, Bajingan!” teriaknya histeris.

​Madara terus melangkah maju. Dia tidak melambat. Dia tidak menghindar.

​Saat bilah pedang besar itu terayun ke arah lehernya, Madara hanya mengangkat tangan kanannya. Dua jarinya—jari telunjuk dan jari tengah—menjepit bilah pedang besi itu tepat di tengah-tengah ayunan.

​Gerakan pedang besar itu terhenti seketika. Seolah-olah menabrak dinding baja yang tak terlihat.

​Kapten bajak laut itu menahan napas. Dia mencoba menarik pedangnya kembali dengan kedua tangan, menggunakan seluruh berat tubuhnya. Pedang besi itu tidak bergerak semilimeter pun dari jepitan dua jari Madara.

​Madara memutar sedikit dua jarinya.

​Suara nyaring besi patah terdengar di udara. Bilah pedang besar itu terputus menjadi dua bagian. Potongan besi yang terputus jatuh dan tertancap di pasir.

​Sebelum Kapten itu sempat menyadari apa yang terjadi, Madara menggerakkan kaki kanannya. Sebuah tendangan lurus yang cepat menghantam bagian depan lutut pria gemuk itu.

​Tempurung lutut sang Kapten hancur seketika.

​Pria gemuk itu menjerit keras. Beban tubuhnya yang berat membuat kakinya yang patah tidak mampu menopang diri. Dia jatuh terjerembap ke depan, berlutut di atas pasir di depan Madara.

​Madara melangkah ke depan. Dia mengangkat kaki kanannya dan meletakkannya tepat di atas dada pria gemuk itu.

​Dia memberikan sedikit dorongan. Tubuh tambun Kapten itu terhempas telentang ke pasir. Madara tetap mempertahankan kaki kanannya di atas dada pria itu, menginjaknya dengan tekanan yang cukup kuat hingga membuat sang Kapten kesulitan untuk bernapas.

​Pasir basah menempel di muka dan pakaian mewah sang Kapten. Dia terengah-engah, matanya yang dipenuhi ketakutan menatap lurus ke arah wajah Madara yang berada di atasnya.

​Madara menunduk. Pandangan matanya sedingin es di puncak gunung. Tidak ada rasa marah di sana. Tidak ada kebencian. Yang ada hanyalah kebosanan yang mendalam.

​Angin laut kembali bertiup, mengibarkan rambut hitam panjang Madara dan ujung armor merahnya.

​Madara menekankan telapak sepatunya lebih dalam ke dada pria itu. Suara retakan kecil terdengar dari tulang rusuk sang Kapten, membuatnya merintih kesakitan.

​“Kau bahkan tidak layak melihat telapak sepatuku,” kata Madara. Suaranya tenang, datar, namun bergema dengan dominasi absolut yang membuat udara di sekitar mereka terasa makin berat.

​Kapten bajak laut itu tidak mampu menjawab. Dia hanya bisa menatap mata hitam pemuda itu sambil gemetar.

​Madara membuang mukanya, menatap ke arah kapal layar yang berlabuh tidak jauh dari pantai. Kapal kayu lapuk yang kini tidak memiliki awak yang berguna.

​Dia menghela napas pelan. Kebosanan di hatinya terasa makin menjadi-jadi. Dia telah mengharapkan sesuatu yang lebih dari pertarungan pertamanya di dunia ini. Dia membayangkan akan bertemu dengan petarung yang menggunakan kekuatan asing yang dia rasakan sebelumnya, atau setidaknya seseorang yang memiliki teknik bertarung yang layak untuk diamati.

​Namun, apa yang baru saja dia lalui bahkan tidak bisa disebut sebagai pemanasan.

​Madara kembali menatap pria di bawah kakinya.

​“Jika ini adalah standar petarung di dunia ini...” bisik Madara pelan, kalimatnya dipenuhi oleh kekecewaan yang mendalam. “... betapa membosankannya.”

​Dia menarik kakinya dari dada sang Kapten. Pria gemuk itu terbatuk-batuk keras, memegangi dadanya sambil menghirup udara dengan serakah.

​Madara berbalik, tidak lagi memedulikan manusia-manusia yang terkapar di sekitarnya. Langkah kakinya membawa dirinya berjalan menyusuri pantai, meninggalkan jejak-jejak ketakutan di atas pasir basah yang perlahan terhapus oleh sapuan ombak laut.

Bab 3: Hadiah dari Ketakutan yang Tak Beralasan

​Suara deburan ombak memecah kesunyian di pantai berpasir putih itu. Buih air laut menyapu butiran pasir, membawa serta jejak pertempuran singkat yang baru saja terjadi.

​Madara berdiri dengan tenang. Angin laut meniup ujung rambut hitam panjangnya. Pelindung dada merah yang dia kenakan tidak memiliki noda kotoran sama sekali.

​Di sekelilingnya, pemandangan berbanding terbalik dengan ketenangannya.

​Dua puluh orang pria dewasa terkapar tak berdaya. Erangan kesakitan keluar dari mulut mereka secara bersahutan. Ada yang memegangi lengan yang terkilir ke arah yang salah. Ada yang memeluk dada mereka yang sesak karena tulang rusuk retak. Ada pula yang hanya bisa meringkuk menahan rasa sakit di persendian kaki.

​Madara membuang pandangannya dari tumpukan manusia lemah itu. Rasa bosan kembali menyelimuti hatinya. Pertarungan tadi bahkan tidak cukup untuk memanaskan otot-otot tubuhnya yang masih kaku.

​Dia baru saja akan melangkah pergi menuju batu karang untuk kembali duduk, tetapi sebuah cahaya biru redup berkedip di sudut pandangannya.

​Langkah Madara terhenti.

​Cahaya biru itu melayang di udara, tepat beberapa jengkal di depan wajahnya. Sebuah layar semi transparan kembali muncul. Teks berwarna putih terang tercetak jelas di atas permukaan layar tersebut.

​[Menerima ketakutan absolut dari 20 individu. Poin Reputasi +50. Chakra maksimal meningkat tipis.]

​Mata hitam Madara menatap rentetan kalimat itu. Wajahnya tetap datar, tetapi pikirannya bekerja dengan sangat cepat.

​Tepat setelah dia selesai membaca kalimat terakhir, sebuah sensasi aneh menjalar di dalam perutnya. Sensasi itu sangat halus, tetapi bagi seseorang yang telah menguasai kendali energi hingga tingkat dewa, perubahan sekecil apa pun tidak akan luput dari pengawasannya.

​Madara memejamkan mata. Dia memusatkan pikirannya ke dalam jalur tenketsu di tubuhnya.

​Aliran chakra yang sebelumnya terasa sangat sempit kini sedikit melonggar. Ibarat sebuah parit kecil yang dinding tanahnya baru saja dikikis oleh aliran air. Kapasitas energi di dalam tubuhnya bertambah. Sangat tipis, namun nyata.

​Madara membuka matanya kembali. Dia menatap layar biru yang perlahan memudar di udara.

​'Begitu cara kerjanya,' batin Madara.

​Dia kini memahami mekanisme benda tak kasatmata yang menyebut dirinya Sistem ini. Benda ini tidak memaksanya melakukan misi konyol. Benda ini tidak mengendalikannya seperti pion di atas papan catur.

​Sistem ini bereaksi terhadap respons dunia terhadap keberadaannya.

​Dua puluh bajak laut di sekitarnya memancarkan ketakutan yang murni. Ketakutan itu diserap, diubah menjadi nilai tukar tak terlihat, dan digunakan untuk membuka belenggu yang menahan kekuatan aslinya.

​'Poin reputasi,' pikir Madara sambil melihat ke arah sekumpulan bajak laut yang masih mengerang. 'Kekuatan asliku dikunci, dan kunci untuk membukanya adalah dengan membuat dunia ini bereaksi padaku.'

​Sudut bibir Madara terangkat sedikit.

​Dia tidak perlu menjadi orang baik. Dia tidak perlu menjadi pahlawan. Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Jika ketakutan dari serangga-serangga ini bisa memberinya sedikit chakra, apa yang akan dia dapatkan jika dia menundukkan para penguasa di dunia ini?

​Pikiran itu memberikan sedikit hiburan di tengah kebosanannya.

​Suara gesekan pasir menarik perhatian Madara kembali ke dunia nyata.

​Dia menundukkan pandangannya. Kapten bajak laut bertubuh gemuk itu sedang menyeret tubuhnya sendiri menggunakan kedua siku tangannya. Tempurung lutut pria itu sudah hancur total akibat tendangan Madara sebelumnya.

​Pria gemuk itu merangkak dengan susah payah. Keringat dingin bercampur dengan pasir membasahi wajahnya. Mulutnya mengeluarkan darah segar akibat giginya yang rontok saat wajahnya membentur pasir tadi.

​Kapten itu berhenti tepat dua meter di depan ujung sepatu Madara.

​Madara menatap manusia di bawahnya dengan pandangan merendahkan. Dia menunggu pria itu memohon belas kasihan. Dia menunggu tangisan penyesalan yang biasa dia dengar dari musuh-musuh lemah di medan perang.

​Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat alis Madara berkerut pelan.

​Pria gemuk itu memaksakan dirinya untuk bangkit ke posisi bersujud. Dahinya ditempelkan kuat-kuat ke atas pasir basah. Kedua tangannya direntangkan ke depan dalam pose penyerahan diri yang paling mutlak.

​Bahu pria itu bergetar hebat. Suara isak tangis yang terdengar sangat emosional keluar dari mulutnya yang berdarah.

​Di dunia lautan yang kejam ini, hukum rimba adalah satu-satunya aturan yang berlaku. Kapten itu tahu betul bagaimana cara kerja bajak laut. Jika sebuah kru kalah dalam pertarungan, pihak yang menang akan mengambil semua harta benda, lalu menyembelih pihak yang kalah dan membuang mayat mereka ke laut sebagai makanan ikan. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada tawanan yang tidak berguna.

​Namun, pemuda berambut hitam di depannya ini melakukan hal yang sama sekali berbeda.

​Pemuda ini memiliki kekuatan monster. Dia bisa saja mencabut kepala mereka semua dalam hitungan detik. Dia bisa saja membakar tubuh mereka atau memotong leher mereka tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.

​Tetapi pemuda ini tidak melakukannya.

​Dia hanya mematahkan tulang mereka. Dia menghentikan kemampuan mereka untuk bertarung, namun dengan sengaja membiarkan mereka tetap bernapas.

​Bagi otak kapten bajak laut yang sudah terbiasa dengan kekejaman tanpa ampun, tindakan Madara ini diterjemahkan ke dalam satu makna yang sangat jauh menyimpang dari kenyataan.

​Pemuda ini adalah dewa penolong yang sedang menyamar.

​Kapten itu mengangkat kepalanya sedikit. Air mata bercampur darah mengalir deras di pipinya yang kotor. Dia menatap Madara dengan pandangan pemujaan yang sangat fanatik.

​“Tuan telah mengampuni nyawa kotor kami!” teriak kapten itu dengan suara parau dan pelat.

​Madara tidak menjawab. Dia hanya menatap pria itu dalam diam. Tatapannya masih sedingin balok es.

​Teriakan kapten itu menarik perhatian para anak buahnya yang terkapar di sekelilingnya. Para bajak laut yang masih memiliki kesadaran mulai menoleh. Mereka melihat kapten mereka bersujud menangis di depan sang monster.

​Mereka juga menyadari satu fakta penting. Mereka masih hidup. Rasa sakit di persendian mereka sangat luar biasa, tetapi dada mereka masih berdetak. Paru-paru mereka masih bisa menghirup udara.

​Pola pikir mereka segera menyamakan frekuensi dengan kapten mereka.

​Satu per satu, bajak laut yang tangannya masih bisa digerakkan mulai menyeret tubuh mereka mendekat. Mereka yang tidak bisa merangkak hanya memutar tubuh mereka, menempelkan dahi mereka ke pasir dari tempat mereka berbaring.

​Pantai itu kini dipenuhi oleh pemandangan dua puluh orang pria kasar yang menangis dan bersujud ke arah satu orang remaja.

​“Anda pasti melihat potensi kebaikan dalam diri kami!” teriak kapten itu lagi, suaranya makin melengking karena emosi. “Anda tidak mencabut nyawa kami karena Anda tahu kami masih bisa diperbaiki!”

​Madara mengerjap pelan. Wajahnya yang datar kini berkerut menunjukkan ekspresi jijik yang sangat jelas.

​'Apa yang orang bodoh ini bicarakan?' batin Madara dengan rasa muak.

​Dia melihat ke arah kedua tangannya yang bersih. Tidak ada noda darah. Tidak ada kotoran. Menggunakan tangan itu untuk memecahkan kepala manusia-manusia lemah ini hanya akan menodai kehormatan seni bela dirinya.

​Dia membiarkan mereka hidup bukan karena dia peduli. Dia membiarkan mereka hidup karena mereka sama tidak pentingnya dengan debu yang berterbangan di udara. Seseorang tidak akan repot-repot menggunakan tenaga untuk membunuh seekor lalat yang sudah patah sayapnya.

​Kapten gemuk itu meneteskan air mata lebih banyak. Dia memukulkan tinjunya ke pasir.

​“Kami bersumpah setia pada Tuan yang penuh belas kasih!” seru sang kapten dengan tekad yang bulat. “Mulai hari ini, nyawa kami adalah milik Anda! Perintahkan kami, dan kami akan melintasi lautan api untuk Anda!”

​Para anak buahnya ikut berteriak menyahut dari belakang.

​“Kami bersumpah setia pada Tuan!”

​“Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan!”

​Suara tangisan dan sumpah serapah penuh kesetiaan itu menggema di udara. Membuat suasana pantai yang indah itu menjadi terasa sangat absurd dan konyol.

​Madara memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menarik napas panjang melalui hidung, mencoba menekan keinginan untuk benar-benar membakar mereka semua menggunakan Katon saat itu juga. Chakra yang dia miliki terlalu berharga untuk dibuang hanya karena rasa kesal.

​Dia membuka matanya. Pandangannya menajam, memancarkan aura Haki Penakluk tingkat rendah yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.

​Suara tangisan para bajak laut itu berhenti seketika. Mereka menahan napas, merasa seolah-olah ada batu besar yang tiba-tiba menekan punggung mereka.

​“Hn. Jangan salah paham, serangga,” suara Madara keluar dengan nada yang sangat rendah, dingin, dan menusuk langsung ke tulang.

​Semua mata menatapnya dengan ketakutan dan rasa hormat yang tercampur aduk.

​Madara menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia menatap kapten gemuk itu tepat di matanya.

​“Kalian hanya terlalu lemah,” lanjut Madara tanpa menyembunyikan nada merendahkan di suaranya. “Bahkan kematian di tanganku adalah sebuah kemewahan yang tidak pantas kalian dapatkan.”

​Kata-kata itu diucapkan dengan sangat jelas. Madara bermaksud untuk menghancurkan ilusi konyol di kepala mereka. Dia ingin mereka tahu bahwa mereka hanyalah sampah yang bahkan tidak layak untuk dibunuh.

​Namun, otak para bajak laut ini tampaknya terbuat dari bahan yang berbeda.

​Kapten gemuk itu menelan ludah. Mata kecilnya melebar. Dia merenungkan kata-kata tajam yang baru saja diucapkan oleh pemuda di depannya.

​'Kematian di tanganku adalah kemewahan yang tidak pantas kalian dapatkan.'

​Dalam pikiran sang kapten, kalimat itu bergema berulang-ulang. Dia menerjemahkannya menggunakan logika jalanan bajak laut yang sudah terdistorsi oleh rasa syukur karena tidak dibunuh.

​Sang kapten terkesiap. Sebuah pencerahan palsu menghantam otaknya.

​Dia menoleh ke arah anak buahnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi orang yang baru saja menemukan pencerahan suci.

​“Apakah kalian dengar itu, Saudara-saudara?!” bisik kapten itu dengan suara bergetar.

​Anak buahnya memandangnya dengan bingung, menunggu penjelasan lebih lanjut.

​“Tuan ini berkata bahwa kita belum pantas mati di tangannya!” lanjut sang kapten dengan penuh semangat. “Itu artinya... Tuan ini ingin kita menjadi lebih kuat! Dia memberi kita waktu untuk membuktikan nilai kita! Ini adalah ujian mental dari seorang pemimpin sejati!”

​Beberapa anak buahnya terbelalak. Otak mereka yang sederhana menyerap penjelasan konyol itu dengan sangat mudah.

​“Benar juga!” seru pria bermata satu yang kakinya patah. “Jika Tuan ini hanya ingin membunuh kita, kita sudah menjadi mayat sejak tadi! Dia sedang menguji tekad kita!”

​“Kebijaksanaan yang sangat luar biasa!” tangis pria lain yang memegangi rusuknya. “Tuan tidak ingin kita mati sebagai pecundang! Tuan ingin kita hidup sebagai orang yang berguna!”

​Madara berdiri di tempatnya dengan alis yang semakin berkerut. Dia menatap sekumpulan manusia di depannya dengan tatapan tidak percaya.

​'Apakah racun laut telah merusak otak mereka?' batin Madara.

​Dia sudah mengatakan dengan sangat jelas bahwa mereka adalah sampah. Bagaimana bisa mereka mengubah hinaan mutlak itu menjadi sebuah pujian dan ujian motivasi?

​Dunia ini mulai terasa sangat melelahkan bagi Madara.

​Kapten gemuk itu kembali menempelkan dahinya ke pasir. Kali ini dengan tenaga yang lebih keras.

​“Kami mengerti, Tuan Agung!” teriak kapten itu. “Kami akan membuktikan bahwa kami layak menerima kemewahan dari Anda! Kami akan berlatih! Kami akan menjadi berguna!”

​Para bajak laut lain ikut menundukkan kepala mereka berulang-ulang seperti sekelompok burung pelatuk yang sedang mematuk kayu.

​Madara menghela napas panjang. Mengurusi kebodohan manusia bukanlah keahliannya. Di dunia asalnya, dia hanya perlu memberikan perintah mutlak atau menghancurkan siapa pun yang banyak bicara.

​Dia melepaskan lipatan tangannya. Matanya melirik melewati kumpulan manusia bodoh itu, tertuju pada kapal layar kayu yang membuang sauh di perairan dangkal.

​Kapal itu terlihat lapuk dan kotor. Layarnya berlubang di sana-sini. Namun, itu adalah satu-satunya alat transportasi yang ada di pulau terpencil ini.

​Madara sangat membenci air dalam jumlah besar. Berenang melintasi lautan luas bukanlah sebuah pilihan. Dia tidak memiliki cukup chakra untuk berjalan di atas air selama berhari-hari. Dia juga tidak tahu arah mana yang harus dituju.

​Dia membutuhkan kapal itu. Dan yang lebih penting, dia membutuhkan orang yang bisa menggerakkan kapal itu tanpa dia harus mengotori tangannya sendiri dengan pekerjaan kasar.

​Madara menatap kembali ke arah kapten gemuk yang masih bersujud.

​Sebuah ide praktis muncul di kepalanya. Jika serangga-serangga ini bersikeras untuk menjadi budak yang setia karena kesalahpahaman mereka sendiri, maka dia akan memanfaatkannya.

​“Berhenti menangis seperti bayi,” perintah Madara dengan nada tajam.

​Suara tangisan itu berhenti seketika. Kapten gemuk itu mengangkat wajahnya, menatap Madara dengan penuh harap.

​Madara mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah kapal layar berlambang tengkorak di kejauhan.

​“Kapal itu. Apakah itu milik kalian?” tanya Madara singkat.

​Kapten itu mengangguk dengan cepat. Giginya yang tersisa bergemeretak.

​“Benar, Tuan! Itu adalah kapal kami! Bajak Laut Taring Berkarat!” jawabnya dengan bangga, meski tubuhnya penuh luka.

​“Kalian bajak laut,” ucap Madara pelan. “Itu artinya kalian tahu cara membaca arah angin dan lautan di dunia ini.”

​“Tentu saja, Tuan! Kami telah berlayar di West Blue selama lima tahun! Kami tahu setiap rute pulau dan jalur angin di sekitar perairan ini!”

​Madara tidak menunjukkan reaksi apa pun. Fakta bahwa mereka menyebut diri mereka pelaut berpengalaman meskipun gaya bertarung mereka sangat memalukan adalah sebuah ironi tersendiri. Namun, Madara tidak peduli. Selama mereka bisa mengemudikan kapal, itu sudah cukup.

​“Bagus,” kata Madara.

​Dia melangkah maju, berjalan melewati tubuh kapten gemuk itu tanpa melirik sedikit pun. Madara terus berjalan menuju arah perahu kayu kecil yang terdampar di pinggir pantai.

​“Kapal itu sekarang milikku,” suara Madara terdengar tegas tanpa memberikan ruang untuk penolakan. “Bersihkan geladaknya. Hilangkan bendera konyol itu. Aku tidak suka menumpang di tempat yang kotor.”

​Para bajak laut itu terdiam. Mereka saling berpandangan.

​Meminta seorang kapten bajak laut untuk menurunkan bendera Jolly Roger miliknya adalah sebuah penghinaan terbesar. Itu sama saja dengan membunuh harga diri kru tersebut secara permanen.

​Namun, kapten gemuk itu tidak merasa terhina. Wajahnya justru berbinar terang.

​Pemuda monster ini tidak membunuh mereka. Pemuda ini justru mengambil kapal mereka dan secara tidak langsung menjadikan mereka sebagai krunya. Ini adalah pengakuan tertinggi.

​“Kalian dengar apa yang dikatakan Tuan Agung?!” teriak kapten itu kepada anak buahnya.

​Dia melupakan rasa sakit di lututnya yang hancur. Menggunakan kekuatan lengannya, kapten itu memaksa dirinya untuk berdiri dengan satu kaki, bersandar pada pedang patah yang dia tancapkan di pasir.

​“Bersihkan kapal! Buang bendera lama kita! Mulai hari ini, kita melayani penguasa baru!”

​Semangat yang tidak wajar tiba-tiba merasuki para bajak laut yang terluka itu.

​Mereka yang lengannya terkilir memaksakan diri untuk menarik sendi mereka kembali ke tempat semula sambil meringis kesakitan. Mereka yang rusuknya retak mengikat dada mereka dengan sobekan kain kemeja agar bisa bernapas lebih baik.

​Mereka tertatih-tatih, merangkak, dan saling memapah satu sama lain untuk berdiri.

​Madara berdiri di dekat perahu kayu kecil, menatap proses itu dengan wajah tanpa ekspresi.

​Ini adalah pemandangan yang menggelikan. Sekelompok pria dewasa yang babak belur memaksakan diri untuk bekerja hanya karena kata-kata dingin yang disalahartikan.

​'Manusia yang dikendalikan oleh rasa takut dan harapan palsu akan selalu bergerak melampaui batas fisik mereka,' batin Madara.

​Ini adalah prinsip dasar manipulasi yang sering dia gunakan di masa lalu. Hanya saja kali ini, dia bahkan tidak perlu berbohong. Dunia ini sendiri yang memanipulasi kenyataan untuknya.

​Salah seorang bajak laut berlari tertatih-tatih menghampiri Madara. Dia menunduk hormat, tidak berani menatap langsung ke mata pemuda itu.

​“Tuan, kami akan segera menyiapkan perahu ini untuk membawa Anda ke kapal utama,” kata pria itu dengan suara gemetar.

​Madara tidak menjawab. Dia melangkah naik ke atas perahu kayu itu, duduk di kursi bagian belakang dengan tenang. Dia kembali menyilangkan tangannya di dada.

​Beberapa bajak laut dengan cepat mendorong perahu itu ke perairan yang lebih dalam, lalu melompat naik. Mereka mengambil dayung kayu dan mulai mendayung sekuat tenaga, mengabaikan rasa sakit di otot dan tulang mereka.

​Air laut memercik di sisi perahu. Jarak antara pantai dan kapal utama semakin dekat.

​Madara memejamkan matanya, merasakan angin laut yang berhembus.

​Matahari mulai bergerak turun di ufuk barat, memberikan warna jingga keemasan pada permukaan laut. Cahaya sore itu menyinari wajah Madara yang damai namun memancarkan aura dominasi mutlak.

​Dia telah mendapatkan transportasi. Dia telah mendapatkan pion-pion yang bisa mengerjakan tugas kasar.

​Langkah selanjutnya adalah mencari informasi. Dia harus tahu aturan main di dunia ini. Dia harus tahu seberapa luas lautan ini. Dia harus mencari tempat di mana para penguasa sejati berkumpul.

​Dunia bajak laut yang kejam ini telah menyambutnya dengan tarian yang membosankan dan kepatuhan yang konyol. Namun Madara tahu, di balik lautan yang tenang ini, pasti ada monster-monster lain yang menunggu untuk diuji kekuatannya.

​'West Blue, Grand Line, Buah Iblis...'

​Kata-kata yang dia curi dengar dari teriakan kapten bajak laut tadi mengambang di pikirannya.

​Madara membuka sebelah matanya, menatap lautan luas di hadapannya.

​“Mari kita lihat, seberapa banyak dunia ini bisa menghiburku,” gumamnya pelan.

​Perahu kayu itu akhirnya menabrak sisi lambung kapal utama. Suara benturan kayu terdengar pelan. Para bajak laut segera melemparkan tali dan tangga kayu ke bawah.

​Madara berdiri. Dia tidak menunggu tangga kayu itu diturunkan sepenuhnya.

​Hanya dengan satu tolakan ringan dari kakinya, tubuhnya melesat ke atas, melompati pagar pembatas kapal setinggi beberapa meter, dan mendarat dengan suara tapak kaki yang sangat pelan di atas geladak kayu kapal Bajak Laut Taring Berkarat.

​Tarian pertama telah usai. Sang Hantu Uchiha kini secara resmi menginjakkan kakinya di arena permainan dunia One Piece.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!