Indonesia
NovelToon NovelToon

AKAD NIKAHKU BATAL KARENA TUNANGANKU MENGHAMILI WANITA LAIN

Bab 1

Jari-jemari Larasati gemetar menyentuh kain brokat halus pada gaun pengantin putih yang melekat di tubuhnya. Di depan cermin besar butik, ia menatap bayangannya sendiri. Gaun itu sangat indah, pas dengan lekuk tubuhnya, dan dirancang khusus untuk hari paling bahagia dalam hidupnya yang tinggal dua minggu lagi. Hari ini adalah jadwal fiting terakhir. Seharusnya, Arjuna ada di sini, berdiri di belakangnya, memeluk pinggangnya, dan berbisik betapa cantiknya calon istrinya. Namun, sudah dua jam Larasati menunggu, pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya.

Drrt... drrt...Larasati dengan cepat menyambar ponselnya di atas meja. Bukan telepon dari Arjuna, melainkan sebuah pesan teks dari nomor tidak dikenal. Jantung Larasati berdesir aneh saat membuka pesan yang berisi sebuah foto dan alamat. Di dalam foto itu, tampak punggung seorang pria yang sangat ia kenali. Setelan kemeja hitamnya persis seperti yang ia belikan minggu lalu. Pria itu sedang berjalan merangkul seorang wanita di sebuah koridor rumah sakit bersalin. Alamat yang dikirimkan adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak yang terletak hanya sepuluh menit dari butik ini.

“Datang dan lihatlah calon suamimu, Larasati. Sebelum kamu menyesal seumur hidup.” Napas Larasati tercekat. Pikiran rasionalnya menolak percaya, namun hatinya mendadak disergap rasa cemas yang luar biasa. Tanpa mengganti gaun pengantinnya, ia hanya menyambar blazer hitam panjang miliknya untuk menutupi bagian atas gaun, lalu bergegas pergi menggunakan taksi.

Sesampainya ditempat yang dituju,

Aroma khas rumah sakit langsung menyengat penciuman Larasati. Dengan langkah terburu-buru, ia langsung masuk ke dalamnya, menyusuri koridor lantai dua menuju poli kandungan, sesuai petunjuk si pengirim pesan tadi. Langkahnya mendadak berhenti. Dunianya seolah runtuh seketika.

Di ujung koridor, duduk seorang pria di kursi tunggu. Pria itu adalah Arjuna, tunangannya. Pria yang katanya berjanji akan mencintainya sehidup semati. Namun, Arjuna tidak sendiri. Di sampingnya duduk seorang wanita berambut panjang dengan gaun longgar. Tangan Arjuna dengan begitu lembut mengelus perut wanita itu yang tampak membuncit, tanda bahwa ada kehidupan di dalamnya.

Tatapan mata Arjuna begitu penuh kasih, tatapan yang sama yang ia berikan kepada Larasati. "Sabar ya, Selly. Setelah urusanku dengan Larasati selesai, aku akan bertanggung jawab penuh padamu dan anak kita," ucap Arjuna terdengar lirih, namun bagaikan petir di telinga Larasati.

Wanita bernama Selly itu menyandarkan kepalanya di bahu Arjuna. "Tapi pernikahanmu tinggal dua minggu lagi, Mas Jun. Aku takut kamu melupakan kami."

"Tidak akan. Anak di dalam kandunganmu itu darah dagingku. Aku tidak akan membiarkan anakku lahir tanpa seorang ayah," balas Arjuna mantap.

Larasati membeku di tempatnya berdiri. Blazer hitam yang ia kenakan sedikit terbuka, mengekspos bagian bawah gaun pengantin putih yang seharusnya menjadi simbol kesucian cinta mereka. Air mata Larasati luruh tanpa suara. Dua minggu lagi ia seharusnya menikah dengan Arjuna. Tapi hari ini, di tempat ini, ia justru melihat tunangannya sendiri sedang bersiap menjadi ayah dari anak wanita lain.

Rasa sakit yang teramat sangat, berubah menjadi gelombang amarah yang dingin. Larasati menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak akan menjerit hancur di sini. Ia adalah Larasati, wanita yang punya harga diri.

Dengan kepala tegak dan langkah yang bergaung tegas di koridor, Larasati berjalan mendekati pasangan yang sedang berpelukan itu.

"Rencana pertanggungjawaban yang sangat indah ya, Arjuna," suara Larasati menginterupsi, dingin dan menusuk.

Arjuna tersentak, wajahnya langsung pucat pasi saat mendongak dan mendapati Larasati berdiri di hadapannya dengan gaun pengantin yang tertutup blazer hitam.

Bab 2

Arjuna langsung berdiri dari kursinya. Wajah pria itu pucat, seperti kehilangan warna darahnya. Matanya bergerak panik, menatap bergantian antara wajah Larasati yang sedingin es dan gaun pengantin putih yang dia pakai menyembul dari balik blazer hitamnya.

"Laras... kamu... kenapa bisa ada di sini? Laras, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelaskan. Ini semua salah paham. Selly... dia hanya teman lama yang sedang butuh bantuan," kata Arjuna terbata-bata. Tangannya refleks menjauh dari perut Selly, seolah berusaha menyembunyikan bukti pengkhianatannya sambil melangkah maju untuk meraih tangan Larasati.

"Teman lama? Aku tidak tuli, Arjuna. Aku mendengar sendiri kamu menyebut bayi di dalam kandungannya sebagai darah dagingmu. Sejak kapan seorang teman menitipkan janin di rahim wanita lain Arjuna?" tanya Larasati sambil terkekeh sumbang. Air matanya sudah berhenti mengalir, digantikan oleh rasa muak yang teramat sangat.

Mendengar ucapan Larasati, Selly tiba-tiba berlutut di lantai koridor rumah sakit. Tangisnya pecah, memancing perhatian beberapa perawat dan pengunjung yang lewat.

"Mbak Laras, saya mohon maaf... Tolong jangan salahkan Mas Arjuna. Saya yang salah. Tapi anak ini tidak berdosa, Mbak. Dia butuh seorang ayah. Saya mohon, biarkan Mas Arjuna bertanggung jawab," ratap Selly sambil memegangi ujung blazer Larasati dengan tubuh bergetar.

Larasati menarik kakinya mundur agar tidak disentuh oleh Selly. Ia menatap wanita itu dengan pandangan datar sebelum kembali menyoroti pria di depannya.

"Laras, Pernikahan kita tinggal dua minggu lagi. Semua undangan sudah disebar, gedung sudah dibayar! Pikirkan nama baik keluarga kita, Ras!" teriak Arjuna panik, mencoba menahan lengan Larasati saat melihat sorot mata calon istrinya berubah total.

Larasati menatap lurus ke dalam manik mata Arjuna. Pria yang selama tiga tahun ini ia puja, kini terlihat begitu asing dan menjijikkan di matanya. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menarik cincin emas putih bermata berlian dari jari manisnya, lalu melemparkannya tepat ke dada Arjuna hingga berdenting jatuh ke lantai.

"Dua minggu lagi seharusnya aku melakukan akad nikah bersamamu. Tapi hari ini, aku membebaskanmu Arjuna! Dan untuk kamu, kamu sudah hamil anak dari pria ini. Jadi tidak perlu memohon hal yang memang sudah menjadi milikmu dan calon bayimu! Pernikahan kita batal, Arjuna! Pergilah dan jadilah ayah yang baik untuk anak itu. Yang menghancurkan nama baik keluarga adalah dirimu dan skandal ini! Jangan pernah temui aku lagi," ucap Larasati, setiap katanya ditegaskan dengan penuh penekanan.

Dengan langkah lebar dan kepala yang tetap tegak, Larasati berjalan meninggalkan koridor rumah sakit bersalin. Di belakangnya, Arjuna berteriak memanggil namanya, namun Larasati tidak akan pernah menoleh lagi. Langkahnya sudah bulat.

XXXXXXX

Larasati duduk diam di dalam taksi yang membawanya membelah kemacetan jalanan kota. Ia melepas blazer hitamnya dengan kasar, menatap nanar gaun pengantin putih yang kini terasa seperti kain kafan bagi impiannya. Di tengah rasa sesak yang menghimpit dada, ia segera merogoh ponsel, mencari kontak sang ibu, lalu menekan tombol panggil dengan jari yang bergetar.

"Ibu, Laras mau ke rumah Ibu sekarang. Tolong pastikan Ayah juga ada di rumah, ada hal sangat penting yang harus Laras bicarakan." ucap Larasati mencoba menahan getaran suaranya agar tetap terdengar tegar, lalu langsung mematikan sambungan telepon sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.

Sebenarnya, Larasati sudah tidak tinggal bersama orang tuanya lagi sejak beberapa tahun lalu. Sebagai seorang Creative Director sukses di sebuah agensi periklanan ternama di kawasan Selatan Jakarta, ia memiliki 1 unit apartemen di kawasan Pakubuwono yang dibelinya murni dari hasil keringat sendiri. Biasanya, Larasati juga mengendarai mobil SUV putihnya. Namun, siang tadi mobilnya terpaksa ia tinggal di area parkir butik pengantin.

Saat menerima pesan misterius tentang keberadaan Arjuna, genggaman tangannya begitu gemetar hingga ia tahu akan sangat berbahaya jika memaksakan diri menyetir sendiri. Itulah mengapa ia memilih menggunakan taksi untuk menerobos jalanan menuju rumah sakit bersalin, dan kini berlanjut menuju ke rumah orang tuanya.

Larasati sengaja tidak pulang ke apartemennya karena ia tahu, badai pembatalan pernikahan sebesar ini harus diselesaikan bersama orang tuanya terlebih dahulu.

Sambil memandangi pemandangan di luar jendela taksi, ingatan Larasati berputar pada bagaimana ia bisa terjebak dengan pria sejahat Arjuna. Mereka pertama kali berkenalan dalam sebuah proyek kerja sama antar perusahaan, di mana Arjuna bertindak sebagai Manajer Pemasaran di perusahaan yang menjadi rekanan tempat ia bekerja.

Ketekunan dan sikap Arjuna yang tampak dewasa saat itu berhasil meluluhkan hati Larasati, hingga akhirnya mereka sepakat untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Setelah dua tahun berpacaran, mereka melangsungkan pertunangan tepat satu tahun yang lalu. Larasati mengira Arjuna adalah pria matang yang mapan dan bertanggung jawab, namun semua anggapan itu runtuh hari ini di koridor rumah sakit bersalin.

Ponsel Larasati di atas pangkuannya terus bergetar tanpa henti, menampilkan nama Arjuna di layarnya. Larasati menolak panggilan itu dengan geseran jari yang tegas. Ia menolak membuang waktu untuk meratapi skandal perzinahan menjijikkan yang dilakukan tunangannya dengan Selly, perempuan yang ternyata merupakan mantan kekasih Arjuna semasa kuliah.

Dari desas-desus masa lalu, Selly adalah tipe perempuan manja yang selalu bergantung hidup pada orang lain, sangat kontras dengan Larasati yang selalu berdiri di atas kakinya sendiri. Nyatanya, Arjuna justru berselingkuh di belakangnya selama berbulan-bulan hingga membuat Selly mengandung bayi yang kini diperkirakan sudah mulaj memasuki usia lima bulan kehamilan.

Taksi akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah orang tua Larasati, di daerah Pondok Indah. Dengan langkah yang mantap dan dagu terangkat, ia turun dari mobil, siap menghadapi badai terbesar dalam hidupnya demi menyelamatkan harga dirinya.

"Ibu, Ayah, kumpulkan seluruh keluarga malam ini juga. Pernikahanku dengan Arjuna resmi batal karena bajingan itu sudah menghamili perempuan lain, dan aku tidak sudi membagi sisa hidupku dengan seorang pengkhianat!" ucap Larasati dengan suara lantang dan tegas begitu melangkah masuk ke ruang tamu, mengejutkan kedua orang tuanya yang sedang duduk bersantai.

Bab 3

Kedua orang tua Larasati seketika membeku di tempat duduk mereka. Cangkir teh yang dipegang sang ibu hampir saja terlepas, sementara ayahnya perlahan menurunkan koran di tangannya. Wajahnya berubah tegang, memandangi putri tunggal mereka yang berdiri mengenakan gaun pengantin tertutup blazer.

"Laras, jangan bercanda! Undangan sudah disebar, semua persiapan sudah selesai, kenapa kamu tiba-tiba bicara sekotor itu tentang calon suamimu?" tanya Baskoro, sang ayah, dengan nada suara yang bergetar menahan syok sekaligus amarah yang mendadak membubung.

"Laras tidak sedang bercanda, Ayah. Laras baru saja pulang dari Rumah Sakit Ibu dan Anak, Laras melihat dengan mata kepala Laras sendiri bagaimana Arjuna mengelus perut wanita lain yang sedang hamil dan berjanji akan bertanggung jawab setelah pernikahan kami dilaksanakan!" jawab Larasati dengan suara yang luar biasa tenang namun sedingin es, tanpa ada satu pun tetes air mata yang jatuh di pipinya.

Ratna, sang ibu, langsung bangkit berdiri dan memeluk putrinya sambil menangis histeris, sementara Baskoro mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena murka yang tak tertahankan.

Tepat saat suasana ruang tamu itu diselimuti ketegangan yang pekat, suara deru mobil yang berhenti mendadak di halaman depan terdengar, diikuti suara gedoran pintu yang brutal dan teriakan panik yang sangat mereka kenal.

"Laras! Laras, tolong keluar, Laras! Demi Tuhan, aku bisa jelaskan semuanya! Om, Tante, tolong biarkan aku bicara dengan Laras sebentar saja!" teriak Arjuna dari luar rumah. Dia terus-menerus menggedor pintu kayu jati tersebut tanpa memedulikan tatapan para tetangga.

Baskoro melangkah lebar membuka pintu dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun. Begitu pintu terbuka, Arjuna langsung menjatuhkan dirinya, berlutut di lantai teras dengan air mata yang bercucuran, mencoba meraih kaki calon mertuanya itu demi mengemis maaf.

"Om, saya khilaf, saya dijebak oleh Selly! Pernikahan ini harus tetap berjalan, Om, saya sangat mencintai Laras dan tidak mau kehilangan dia!" ratap Arjuna dengan suara serak, wajahnya tampak sangat berantakan dan dipenuhi keputusasaan.

Larasati melangkah maju, berdiri di belakang ayahnya, memandang rendah pria yang berlutut di bawah sana dengan tatapan muak yang mendalam.

"Simpan saja air mata palsumu untuk anak yang ada di dalam kandungan selingkuhanmu, Arjuna!

Ayah, tolong hubungi orang tua bajingan ini sekarang juga, suruh mereka datang ke sini untuk menjemput anak mereka yang tidak tahu diri, dan mari kita selesaikan pembatalan pernikahan ini secara resmi malam ini juga!" ucap Larasati, suaranya terdengar begitu lantang dan tegas, memutus seluruh harapan Arjuna yang seketika lemas di lantai teras.

Satu jam setelah ketegangan di teras rumah, ruang tamu keluarga Larasati kini berubah mencekam bak ruang sidang. Arjuna masih terduduk lemas di sudut ruangan dengan wajah sembap, sementara di sofa seberang, kedua orang tuanya duduk dengan kepala tertunduk dalam, menanggung rasa malu yang teramat sangat setelah Baskoro membeberkan semua bukti perselingkuhan anak laki-laki mereka.

"Baskoro, Ratna... kami benar-benar meminta maaf atas kekhilafan Arjuna. Namun, apakah tidak ada jalan keluar lain selain membatalkan pernikahan ini? Undangan dari pihak kami sudah tersebar ke relasi bisnis dan seluruh keluarga besar, bayangkan betapa besarnya aib yang harus kami tanggung jika pernikahan ini batal dua minggu sebelum hari-H." ucap Hendra, ayah Arjuna, dengan suara bergetar mencoba menawar keputusan mutlak yang sudah diambil keluarga Larasati.

"Aib? Kamu memikirkan aib keluargamu, Hendra? Lalu bagaimana dengan harga diri putri tunggal kami yang dikhianati secara keji oleh anakmu yang bejat ini? Anakmu menghamili wanita lain di belakang Larasati, dan kamu masih punya muka untuk meminta pernikahan ini tetap dilanjutkan?" sahut Baskoro dengan nada suara yang meninggi, membuat seisi ruangan langsung terdiam mencekam karena murka sang kepala keluarga yang tak lagi bisa dibendung.

Ibu Arjuna, yang sejak tadi hanya bisa menangis sesenggukan, tiba-tiba menghampiri Larasati, mencoba memegang kedua tangan calon menantunya itu dengan tatapan mengiba.

"Laras, Saya mohon pertimbangkan lagi, Nak. Arjuna sangat mencintaimu, dia hanya khilaf dan dijebak oleh perempuan masa lalunya itu. Saya janji, setelah kalian menikah, Saya sendiri yang akan mengurus perempuan itu agar tidak mengganggu rumah tangga kalian, yang penting pernikahan kalian tetap berjalan demi nama baik kita semua." ratap ibu Arjuna dengan suara serak, berharap kelembutan hati Larasati yang selama ini ia kenal bisa meluluhkan keputusan tersebut.

Larasati dengan perlahan namun tegas menarik tangannya dari genggaman wanita paruh baya itu, lalu berdiri dari duduknya untuk menatap seluruh anggota keluarga Arjuna dengan pandangan yang teramat dingin.

"Cukup, Tante. Jangan merendahkan harga diri Tante lebih jauh lagi hanya untuk membela anak laki-laki yang sama sekali tidak punya kehormatan ini. Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Malam ini juga, di hadapan kedua orang tua kita, pernikahan antara aku dan Arjuna resmi dibatalkan, dan besok pagi pengacara keluarga kami akan mengirimkan rincian ganti rugi materi atas seluruh biaya vendor yang sudah terlanjur dibayarkan agar diselesaikan oleh pihak kalian!" ucap Larasati, suaranya terdengar begitu lantang, berwibawa, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk negosiasi.

Arjuna yang mendengar itu langsung bersujud di dekat kaki Larasati, mencoba menggapai ujung gaun pengantin yang masih dikenakan wanita itu. Namun Larasati dengan cepat melangkah mundur, menolak disentuh oleh pria yang kini tampak begitu menjijikkan di matanya.

"Laras, aku mohon jangan lakukan ini! Aku tidak bisa hidup tanpamu, Laras! Aku berjanji akan menyuruh Selly menggugurkan kandungan itu jika itu yang kamu mau, yang penting kamu jangan tinggalkan aku!" teriak Arjuna histeris, menunjukkan kepanikan luar biasa hingga mengeluarkan kalimat yang membuat semua orang di ruangan itu terperangah muak.

"Kamu bahkan tega membuang darah dagingmu demi menyelamatkan dirimu sendiri, Arjuna. Kamu benar-benar pria paling menjijikkan yang pernah aku kenal. Dan aku bersyukur, Tuhan menyelamatkanku dari pernikahan busuk bersamamu sebelum semuanya terlambat". Laras sudah teramat muak.

"Silahkan bawa pulang anak kalian yang tidak tahu diri ini, sebelum saya memanggil keamanan untuk mengusir kalian secara paksa dari rumah ini!" pungkas Baskoro sambil menunjuk ke arah pintu keluar dengan tegas, mengakhiri pertemuan malam itu dengan menyisakan kehancuran bagi pihak keluarga Arjuna yang pulang membawa aib yang sangat besar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!