Jarum jam dinding di ruang administrasi lantai tiga sudah menunjuk ke angka sebelas malam. Suara detak jarumnya terdengar begitu nyaring, beradu dengan suara ketikan kibor yang ditekan dengan ritme cepat dan frustrasi.
Di sudut ruangan itu, Aluna masih terduduk lemas di depan layar monitor yang memancarkan cahaya redup. Matanya yang bulat kini tampak sayu, dikelilingi lingkaran hitam akibat kurang tidur yang teramat sangat.
"Kenapa harus hari ini, sih?" gumam Aluna lirih, sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa linu.
Di samping laptopnya, tumpukan map jepret berwarna biru dan merah berjejer bak benteng yang siap meruntuhkan sisa-sisa energinya. Sejak pagi tadi, kepala divisi administrasi tidak berhenti memberikan revisi.
Semua laporan keuangan bulanan dan berkas inventaris kantor yang sudah ia kerjakan seminggu penuh mendadak dinyatakan salah total. Alasannya hanya satu: perusahaan mereka baru saja diakuisisi oleh konglomerat raksasa, dan CEO baru yang akan memimpin kabarnya memiliki standar yang luar biasa tinggi dan kejam.
Rumor yang beredar di antara sesama staf administrasi rendahan mengatakan bahwa sang CEO baru tidak segan-segan memecat karyawan hanya karena salah meletakkan tanda koma pada laporan.
Aluna, yang posisinya berada di kasta paling bawah dalam hierarki kantor, tentu saja menjadi korban pertama yang harus memastikan semua berkas itu sempurna sebelum sang bos besar menginjakkan kaki di kantor ini besok pagi.
Aluna menghela napas panjang. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Layar benda digital itu masih gelap. Ia menyalakannya, berharap ada satu saja notifikasi yang masuk. Namun, hasilnya nihil. Aplikasi pesan singkatnya tetap sepi. Kolom obrolannya dengan kafka, kekasih yang sudah menemaninya selama dua tahun terakhir, masih menampilkan pesan terakhir yang ia kirimkan tadi pagi pukul delapan.
[“Kafka, kamu di mana? Kenapa teleponku tidak diangkat? Hari ini aku stres sekali di kantor.”]
Pesan itu hanya berstatus centang dua abu-abu. Belum dibaca. Jangankan membalas, nomor Kafka bahkan tidak aktif saat Aluna mencoba meneleponnya beberapa jam yang lalu. Perasaan tidak tenang mulai menyelimuti dadanya. Ini bukan pertama kalinya Kafka menghilang tanpa kabar, tetapi entah mengapa, malam ini firasat buruk itu terasa begitu pekat dan menyesakkan dada. Kafka yang biasanya selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah setelah seharian ditindas pekerjaan, kini seolah-olah lenyap ditelan bumi.
"Mungkin dia sedang sibuk dengan proyek barunya," bisik Aluna pada diri sendiri, mencoba mengusir prasangka buruk yang mulai meracuni pikirannya. Bagaimanapun, ia harus berpikiran positif. Hubungan mereka sudah berjalan cukup lama, dan Kafka adalah pria yang manis, walau akhir-akhir ini sikapnya terasa sedikit mendingan dan menjauh.
Aluna kembali memaksakan matanya menatap deretan angka di layar monitor. Jemarinya kembali menari di atas kibor, merevisi baris demi baris dokumen yang tampaknya tiada habisnya. Setiap ketukan kibor terasa seperti beban berat yang menghimpit pundaknya. Ia merasa nasibnya benar-benar sial hari ini. Di saat ia membutuhkan dukungan moral, dunia seolah sengaja memojokkannya dalam kesendirian di ruang kantor yang dingin dan sepi ini.
Waktu terus bergulir hingga akhirnya jam menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Dengan sisa tenaga yang ada, Aluna akhirnya berhasil menekan tombol "save" pada dokumen terakhir. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata sejenak merasakan kelelahan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
Setelah merapikan berkas-berkas ke dalam lemari arsip dan mematikan perangkat komputer, Aluna bergegas mengambil tas selempangnya.
Suasana koridor kantor sudah sangat sunyi ketika Aluna berjalan menuju lift. Langkah kakinya menggema di lorong yang lengang. Setibanya di lobi utama, ia langsung disambut oleh embusan angin malam yang menusuk tulang. Mengingat jam yang sudah terlalu larut, tidak ada lagi angkutan umum yang beroperasi. Terpaksa, Aluna merogoh koceknya yang kian menipis untuk memesan taksi daring.
Di dalam taksi, Aluna menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. Lampu-lampu jalanan ibu kota yang berkelebat di luar tampak buram di matanya. Pikirannya kembali melayang pada Kafka. Rasa lelah fisik akibat lembur semalaman bertumpuk menjadi satu dengan rasa rindu dan cemas yang tak berkesudahan.
"Pak, tolong ganti rute ya. Kita ke jalan Anggrek, ke arah perumahan kontrakan di sana," ujar Aluna tiba-tiba kepada sopir taksi.
Niat Aluna sudah bulat. Ia tidak akan pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Ia ingin menemui Kafka langsung di kontrakannya. Aluna ingin menuntut penjelasan mengapa pria itu menghilang seharian ini.
Lebih dari itu, di tengah malam yang melelahkan ini, Aluna hanya ingin memeluk kekasihnya, menangis di dadanya, dan mendengar kata-kata penenang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia butuh rumah untuk pulang, dan bagi Aluna selama dua tahun ini, rumah itu adalah Kafka.
Taksi terus melaju membelah keheningan malam menuju area kontrakan Kafka. Sepanjang perjalanan, tangan Aluna tidak berhenti meremas tali tasnya. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Ada suara kecil di dalam kepalanya yang terus membisikkan kata-kata peringatan, sebuah intuisi wanita yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang besar dan mengerikan yang sedang menantinya di ujung jalan sana. Namun, Aluna mencoba menepisnya kuat-kuat. Ia meyakinkan dirinya bahwa Kafka pasti sedang tertidur lelap karena kelelahan kerja, itulah mengapa ponselnya mati.
Sesampainya di depan gerbang kontrakan berpagar hitam tempat Kafka tinggal, Aluna membayar ongkos taksi dan turun dengan langkah yang sedikit gemetar. Lingkungan kontrakan itu sudah sangat sepi, sebagian besar lampu teras rumah kontrakan lain sudah dimatikan. Aluna berjalan perlahan menuju kamar nomor 12 yang berada di pojok koridor.
Saat berdiri di depan pintu kayu berwarna cokelat itu, Aluna mendapati sesuatu yang janggal. Lampu teras kontrakan Kafka masih menyala terang. Lebih mengejutkan lagi, pintu depan tidak tertutup rapat, melainkan sedikit renggang, menyisakan celah kecil yang mengeluarkan seberkas cahaya dari dalam ruangan.
Aluna mengernyitkan dahi. "Kafka belum tidur?" gumamnya lirih.
Ia berniat mengetuk pintu, tetapi tangannya tertahan di udara saat pendengarannya menangkap suara-suara aneh dari dalam kamar. Itu bukan suara televisi atau radio. Itu adalah suara bisikan-bisikan manja, diikuti oleh suara tawa kecil seorang wanita yang sangat asing di telinga Aluna.
Tubuh Aluna seketika menegang. Darahnya seolah berhenti mengalir dan seluruh sendinya mendadak kaku. Dengan jantung yang berpacu liar memukul rongga dadanya, Aluna memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke celah pintu yang terbuka. Ia mengintip ke dalam.
Di dalam ruang tamu kecil yang remang-remang itu, di atas sofa panjang tempat Aluna biasanya bersandar bersama Kafka, kini duduk dua orang yang sedang saling berpangkuan. Pria itu adalah Kafka, kekasihnya, pria yang beberapa jam lalu ia khawatirkan setengah mati. Kafka tampak sedang memeluk pinggang seorang wanita berbaju ketat dengan begitu mesra, sesekali mendaratkan ciuman di pipi wanita itu sambil membisikkan kata-kata cinta yang biasa ia ucapkan pada Aluna.
"Kamu kapan mau mutusin Aluna, Sayang? Aku bosan ya sembunyi-sembunyi begini terus," suara wanita itu terdengar merengek, manja dan menuntut.
Kafka terkekeh, tangannya mengusap rambut wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Sabar dong, Sayang. Kamu kan tahu sendiri Aluna itu polos dan gampang dimanfaatkan. Gajinya sebagai admin lumayan buat bantu-bantu bayar cicilan motorku bulan ini. Nanti kalau urusanku sudah selesai, pasti langsung aku putusin. Lagipula, mana mungkin aku milih staf rendahan kaya dia kalau ada kamu yang jauh lebih cantik."
Deg.
Dunia Aluna seakan runtuh berantakan saat itu juga. Kata-kata yang keluar dari mulut Kafka bagaikan belati berkarat yang dihunjamkan tepat ke lubang jantungnya, lalu diputar dengan kejam hingga hancur tak bersisa. Air mata yang sejak tadi ia tahan akibat tekanan pekerjaan, kini tumpah ruah tanpa bisa dicegah.
Rasa sakitnya begitu hebat hingga Aluna merasa dadanya sesak dan sulit untuk sekadar menghirup oksigen.
Pengkhianatan itu tersaji begitu nyata, begitu telanjang di depan matanya sendiri. Pria yang ia cintai dengan tulus, pria yang ia bela di depan mendiang ibunya dulu, ternyata hanyalah seorang bajingan yang memanfaatkannya demi uang dan kesenangan pribadi. Rasa lelah, rindu, dan cemas yang ia bawa dari kantor kini menguap, digantikan oleh rasa kehampaan yang luar biasa perih.
Aluna tidak memiliki kekuatan lagi bahkan hanya untuk sekadar mendobrak pintu dan memaki mereka. Tubuhnya terlalu lemas, hatinya terlalu hancur. Dengan sisa-siga harga diri yang tersisa, ia melangkah mundur perlahan agar langkah kakinya tidak terdengar.
Dengan jalan yang gontai, sempoyongan, dan pandangan yang kabur oleh air mata, Aluna berjalan meninggalkan pekarangan kontrakan kutukan itu.
Malam itu, di bawah langit malam yang pekat tanpa bintang, Aluna berjalan menyusuri trotoar jalanan sepi seperti raga tanpa jiwa.
Air matanya terus mengalir membasahi pipi, menghapus sisa-sisa riasan tipis wajahnya. Ia merasa menjadi wanita paling malang dan paling sial di seluruh dunia. Pekerjaan yang menindasnya, kekasih yang mengkhianatinya, semuanya terjadi dalam kurun waktu beberapa jam saja.
Namun, Aluna belum tahu bahwa badai sesungguhnya pada malam jahanam itu belum sepenuhnya berakhir. Ketika ia mengira hidupnya sudah mencapai titik terendah, takdir masih menyimpan satu tamparan yang jauh lebih keras dan mematikan, yang menunggunya di rumah tempat ia dibesarkan.
Langkah kaki Aluna terasa begitu berat, seolah-olah ada beban berton-ton yang mengikat kedua pergelangan kakinya. Trotoar jalanan malam yang sepi menjadi saksi bisu bagaimana air matanya mengalir tanpa henti, membasahi pipi hingga lehernya.
Angin malam yang berembus kencang berkali-kali menerpa wajahnya yang pucat, tetapi rasa dingin itu sama sekali tidak mampu menandingi rasa beku yang kini menjalar di dalam dadanya.
Di dalam tas selempangnya, jemari Aluna tanpa sadar meremas sebuah benda logam kecil. Sebuah kunci. Itu adalah kunci cadangan kontrakan Kafka yang selama ini ia simpan dengan penuh rasa bangga.
Dulu, ketika Kafka memberikan kunci itu kepadanya, Aluna merasa menjadi wanita paling bahagia. Ia mengira kunci itu adalah simbol kepercayaan, sebuah tanda bahwa ia adalah bagian dari masa depan pria itu. Namun nyata, malam ini kunci itu justru menjadi pembuka gerbang menuju neraka suaka yang menghancurkan seluruh sisa harga dirinya.
"Kenapa kamu tega, Kafka?" bisik Aluna dengan suara serak yang hampir habis. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh rasa perih yang teramat sangat.
Bayangan kejadian beberapa menit lalu di dalam kontrakan nomor 12 itu kembali berputar di benaknya seperti kaset rusak. Setiap tawa manja wanita asing itu dan setiap untai kalimat penyerahan yang diucapkan Kafka merobek-roobek hatinya hingga tak berwujud lagi.
Aluna mengingat bagaimana ia selalu menyisihkan sebagian kecil gajinya yang pas-pasan sebagai staf administrasi hanya untuk membantu Kafka membayar cicilan sepeda motornya.
Ia bahkan sering melewatkan makan siangnya demi memastikan Kafka bisa makan dengan layak saat pria itu mengaku proyeknya sedang macet. Semua pengorbanan itu, semua ketulusan itu, dibalas dengan kalimat hinaan bahwa dirinya hanyalah sebatas "staf rendahan yang mudah dimanfaatkan."
Aluna menghentikan langkahnya di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip redup. Ia meraba dadanya yang terasa luar biasa sesak. Napasnya memburu, memicu rasa pening yang hebat di kepalanya. Kelelahan fisik karena bekerja lembur dari pagi hingga tengah malam berakumulasi dengan guncangan batin yang hebat. Ia merasa seolah-olah dunia sedang berkonspirasi untuk menjatuhkannya ke titik paling rendah dalam hidupnya.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang mulai menipis, Aluna melihat ke sekeliling. Jalanan sudah sangat sepi. Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas di kawasan perumahan itu. Ponselnya yang sempat ia masukan ke dalam tas kini bergetar.
Harapan kecil sempat terbersit di hatinya, apakah Kafka menyadari kedatangannya dan mencoba menelepon? Namun, saat ia melihat layarnya, itu hanyalah sebuah pesan notifikasi sistem dari operator. Rasa kecewa kembali menghantamnya, membuat air matanya luruh lebih deras.
Aluna tahu ia tidak bisa terus berdiri di pinggir jalan seperti orang hilang. Ia harus pulang. Ia rindu rumah. Ia membutuhkan pelukan hangat dari ayahnya, satu-satunya orang di dunia ini yang selalu memandangnya dengan penuh kasih sayang, tanpa peduli bahwa ia hanyalah seorang staf administrasi biasa dengan gaji yang tidak seberapa. Ayahnya yang sudah tua dan sering sakit-sakitan adalah jangkar hidup Aluna. Hanya di dekat ayahnya, ia bisa melepaskan seluruh topeng ketegaran yang selama ini ia pakai di luar rumah.
Dengan jalan yang masih gontai dan sempoyongan, Aluna berjalan menuju jalan raya utama yang berjarak sekitar beberapa ratus meter dari kawasan kontrakan Kafka.
Beruntung, setelah menunggu hampir lima belas menit dalam kedinginan, sebuah taksi konvensional kosong melintas. Aluna segera melambaikan tangannya dengan lemah.
Taksi itu berhenti di depannya. Aluna membuka pintu belakang dan langsung menjatuhkan tubuhnya yang lemas ke atas kursi penumpang.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya sopir taksi paruh baya itu melalui spion tengah, menatap cemas ke arah Aluna yang wajahnya tampak sangat berantakan dan sembap.
Aluna menyebutkan alamat rumahnya dengan suara yang nyaris berbisik. Setelah sopir taksi mengangguk dan mulai menjalankan armadanya, Aluna kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia memejamkan mata, membiarkan dahinya bersandar pada kaca mobil yang dingin. Di dalam keheningan kabin taksi, dadanya kembali berguncang. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan agar tidak terdengar oleh sang sopir kini meledak dalam diam.
Bahunya naik turun menahan perih yang teramat sangat.
Kunci kontrakan di dalam genggamannya terasa semakin dingin. Aluna membukanya perlahan, lalu menatap benda logam tersebut dengan pandangan kosong. Kunci ini adalah bukti betapa bodoh dan butanya ia selama dua tahun ini karena cinta.
Dengan kemarahan yang tiba-tiba memuncak di tengah rasa sakitnya, Aluna membuka sedikit kaca jendela taksi dan melemparkan kunci itu keluar, membiarkannya terpelanting di atas aspal jalanan malam yang gelap. Benda itu telah kehilangan fungsinya, sama seperti hubungan mereka yang sudah mati kutu.
"Mulai besok, tidak ada lagi Kafka di hidupku," tekad Aluna dalam hati, mencoba membangun benteng pertahanan di atas puing-puing hatinya yang hancur. Ia berjanji pada diri sendiri untuk fokus bekerja, menabung demi pengobatan ayahnya, dan melupakan semua kepedihan ini. Ia akan membuktikan bahwa "staf rendahan" seperti dirinya juga bisa hidup mandiri tanpa harus bergantung pada pria bajingan.
Perjalanan malam itu terasa sangat panjang bagi Aluna. Setiap kilometer yang ditempuh taksi membawanya semakin jauh dari bayang-bayang pengkhianatan Kafka, namun di saat yang sama, kecemasan baru mulai merayap di benaknya. Mengapa perasaannya masih belum tenang? Firasat buruk yang ia rasakan sejak di kantor tadi seolah belum sepenuhnya pergi. Mengapa dadanya masih terus berdegup dengan kencang, memancarkan sinyal bahaya yang tidak ia ketahui ujungnya?
Aluna mencoba menepis pikiran-pikiran negatif itu. Ia meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah efek samping dari kelelahan fisik dan mental yang ia alami malam ini. "Sebentar lagi sampai rumah. Setelah bertemu Ayah, aku akan tidur dan semua mimpi buruk ini akan berakhir," gumamnya menenangkan diri sendiri.
Taksi terus melaju membelah malam, melewati jalan-jalan protokol yang mulai lengang hingga akhirnya berbelok masuk ke dalam gang sempit menuju kawasan pemukiman padat tempat rumah Aluna berada. Lingkungan sekitar rumahnya sudah tampak gelap gulita, sebagian besar tetangganya sudah tertidur lelap.
Namun, begitu taksi mendekati rumahnya, mata Aluna yang sayu tiba-tiba membelalak lebar. Lampu ruang tamu rumahnya yang biasanya dimatikan jika sudah lewat tengah malam, kini menyala terang benderang. Lebih dari itu, pintu depan rumahnya tampak terbuka lebar, menampakkan bayangan bayang-bayang hitam yang bergerak tidak beraturan dari dalam rumah.
Jantung Aluna seketika mencelos. Firasat buruk yang sejak tadi menghantuinya kini menjelma menjadi kenyataan yang mengerikan. Belum sempat taksi benar-benar berhenti di depan pagar, Aluna sudah merogoh uang dari tasnya, melemparnya begitu saja ke kursi depan tanpa menghitung kembalian, lalu membuka pintu mobil dan berlari kencang menuju rumahnya.
"Ayah!" teriak Aluna dengan suara yang dipenuhi rasa panik luar biasa.
Saat kakinya melangkah melewati ambang pintu, pemandangan di dalam ruang tamu langsung menghentikan detak jantungnya. Ruangan kecil itu sudah acak-acakan seperti kapal pecah; meja kayu terbalik, vas bunga pecah berkeping-keping di atas lantai, dan laci-laci lemari ditarik paksa hingga isinya berserakan. Namun, bukan kerusakan itu yang membuat Aluna menjerit histeris.
Di tengah ruangan, di atas lantai semen yang dingin, sesosok pria tua terbaring lunglai. Itu adalah ayahnya. Pria tua itu tampak sedang berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangan yang gemetar, sementara darah segar berwarna merah pekat terus mengalir dari pelipis dan hidungnya, menodai kaos putih lusuh yang dikenakannya.
Ayahnya sedang merintih kesakitan, napasnya tersengal-sengal di antara sisa kesadaran yang menipis.
Tepat di atas tubuh sang ayah, berdiri seorang pria berkaos hitam dengan wajah yang dipenuhi amarah dan napas yang memburu. Pria itu memegang sebuah vas bunga yang tersisa di tangannya, siap untuk dihantamkan kembali ke tubuh renta yang sudah tidak berdaya itu.
Pria itu adalah Doni, kakak tiri Aluna. Pria parasit yang selama ini menjadi benalu di dalam kehidupan mereka karena kecanduan judi yang sudah mendarah daging.
"Doni! Hentikan! Apa yang kamu lakukan pada Ayah?!" jerit Aluna dengan suara melengking penuh histeria. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Aluna berlari menerjang kakak tirinya, berusaha menarik lengan Doni agar menjauh dari tubuh ayahnya yang sudah berlumuran darah.
Jeritan Aluna memecah keheningan malam di dalam rumah kecil itu. Dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki, ia mencengkeram lengan Doni, menariknya sekuat tenaga agar menjauh dari tubuh ringkih sang ayah.
Kejutan dari terjangan Aluna membuat Doni terhuyung ke belakang. Vas bunga di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di atas lantai semen, menyebarkan pecahan keramik tajam ke segala arah.
"Aluna?!" Doni mendengus kasar, matanya yang merah dan berair karena pengaruh alkohol serta amarah menatap tajam ke arah adik tirinya. "Bagus kamu sudah pulang! Dasar anak tidak berguna, dari mana saja kamu jam segini?!"
Aluna tidak memedulikan bentakan kakak tirinya. Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai yang dingin, mengabaikan rasa sakit saat pecahan vas kecil menusuk kulitnya. Tangan Aluna gemetar hebat saat menyentuh bahu ayahnya yang terus merintih kesakitan dengan mata setengah terpejam.
"Ayah ... Ayah, ini Aluna. Ayah bisa dengar suara Aluna?" bisik Aluna dengan suara yang tercekik oleh tangis.
Darah segar masih terus merembes dari pelipis pria tua itu, membasahi sebagian wajahnya yang keriput dan pucat pasi.
Napas sang ayah terdengar pendek dan berat, seolah setiap tarikan napas adalah perjuangan yang luar biasa menyakitkan. Bibirnya yang pucat bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara, hanya rintihan lirih yang membuat hati Aluna kian tersayat.
"Doni! Kamu benar-benar binatang! Dia ini ayahmu! Bagaimana bisa kamu memukulinya sampai seperti ini?!" Aluna berbalik, menatap Doni dengan pandangan penuh kebencian dan air mata yang mengalir deras. Rasa takutnya hilang, tergantikan oleh kemarahan yang membakar dada.
Doni justru tertawa sinis, sebuah tawa hambar yang terdengar sangat mengerikan di tengah situasi mencekam ini. Ia menyeka keringat di dahinya dengan kasar.
"Ayahku? Dia bukan ayah kandungku, Aluna! Lagipula, orang tua bangka ini pantas mendapatkannya. Aku cuma minta sertifikat rumah ini untuk dipinjam sebentar, tapi dia malah menyembunyikannya dan menceramahiku! Dia yang memancing emosiku duluan!"
"Sertifikat rumah? Untuk apa lagi, Doni?! Untuk kamu pertaruhkan di meja judi?!" teriak Aluna dengan suara melengking. "Belum cukup kamu menghabiskan tabungan Ayah? Belum cukup kamu menjual motor satu-satunya yang kita punya? Rumah ini adalah satu-satunya tempat tinggal kita, Doni!"
"Halah, bacot!" Doni melangkah maju, menunjuk wajah Aluna dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Kamu tidak tahu apa-apa, Aluna! Aku sedang sial malam ini. Bandar judi di ujung jalan tidak mau tahu. Aku kalah besar, dan kalau aku tidak menyetor uang atau jaminan malam ini juga, mereka akan menghabisi nyawaku!"
Aluna menatap kakak tirinya dengan rasa jijik yang mendalam. Pria di hadapannya ini sudah sepenuhnya dikuasai oleh iblis perjudian. Tidak ada lagi rasa kemanusiaan, tidak ada lagi rasa hormat kepada orang tua. Yang ada hanya ketakutan egois akan keselamatan dirinya sendiri setelah melakukan kebodohan yang tiada ujung.
"Aku tidak peduli dengan urusan judimu, Doni! Keluar dari rumah ini sebelum aku berteriak meminta tolong pada tetangga dan memanggil polisi!" ancam Aluna sambil meraih ponselnya yang tergeletak di dekat tas, bersiap menekan nomor darurat.
Mendengar kata polisi, kilat ketakutan menyambar di mata Doni, namun dengan cepat berubah menjadi seringai kejam. Ia merebut ponsel Aluna dengan sekali sentakan kasar lalu melemparnya ke sudut ruangan hingga layarnya retak.
"Panggil polisi? Silakan saja kalau kamu mau melihat ayahmu mati lebih cepat!" ancam Doni dengan suara rendah yang penuh intimidasi. Ia melangkah mendekati pintu depan, bersiap untuk melarikan diri dari tempat kejadian perkara sebelum warga sekitar menyadari keributan di rumah mereka.
Namun, sebelum Doni benar-benar melangkah keluar dari ambang pintu, ia membalikkan badannya. Tatapannya menatap Aluna dari atas ke bawah dengan pandangan yang membuat bulu kuduk Aluna merinding. Ada secercah kelicikan yang teramat busuk memancar dari wajah kakak tirinya itu.
"Ingat ini baik-baik, Aluna," ujar Doni sambil menunjuk Aluna. "Utangku pada rentenir itu jumlahnya ratusan juta. Dan tebak apa yang kujadikan jaminan saat uangku habis tadi?" Doni terkekeh, sebuah suara yang terdengar seperti kutukan di telinga Aluna. "Aku sudah memberikan foto dan datamu kepada anak buah bos rentenir itu. Kalau dalam waktu tiga hari aku tidak bisa membayar utangku, atau kalau aku tertangkap ... mereka sendiri yang akan datang ke sini untuk mengambilmu. Kamu akan dijual untuk melunasi setiap sen utang judiku!"
"Apa?!" Aluna terkesiap, wajahnya seketika kehilangan seluruh warna kulitnya. Ia merasa seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam ruangan itu mendadak hilang.
"Selamat bersenang-senang dengan sisa waktumu, Adikku sayang," ucap Doni dengan nada mengejek. Tanpa menunggu jawaban lagi, pria bajingan itu berbalik dan berlari cepat menembus kegelapan gang, meninggalkan rumah yang telah ia hancurkan berantakan.
"Doni! Doni, kembali!" jerit Aluna, namun suaranya hanya bergema di dalam ruangan yang sunyi. Kakak tirinya telah hilang ditelan malam, menyisakan ancaman mengerikan yang kini menggantung di atas kepala Aluna seperti pedang algojo.
Tubuh Aluna gemetar hebat. Kenyataan pahit menghantamnya bertubi-tubi tanpa jeda sedikit pun. Baru saja hatinya dihancurkan berkeping-keping oleh pengkhianatan Kafka, kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya sekarat dan dirinya berada dalam bahaya besar akan dijual kepada rentenir kejam.
Rasa panik, takut, dan putus asa bercampur menjadi satu, membuat kepalanya terasa ingin pecah.
Rintihan lemah dari bawah kembali menarik kesadaran Aluna. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah sang ayah.
"Ayah ... bertahanlah, tolong bertahan. Aluna akan cari bantuan," tangis Aluna pecah saat ia meraba saku bajunya, beruntung ia masih memiliki sedikit uang tunai dan berniat berlari keluar untuk mencari telepon umum atau meminta bantuan tetangga terdekat karena ponselnya telah dihancurkan Doni.
Saat Aluna hendak berdiri, tangan kurus dan gemetar milik ayahnya tiba-tiba bergerak lemah, mencengkeram pergelangan tangan Aluna. Cengkeraman itu tidak kuat, namun penuh dengan keputusasaan yang teramat sangat. Aluna menahan napasnya, kembali berlutut di samping tubuh sang ayah.
"A ... Aluna..." bisik sang ayah dengan suara yang sangat parau, hampir tenggelam oleh suara napasnya yang tersengal-sengal.
"Iya, Ayah. Ini Aluna di sini. Ayah jangan banyak bicara dulu, ya. Aluna mau panggil ambulans," ucap Aluna sambil menyeka darah yang mulai mengering di pipi ayahnya dengan ujung lengan bajunya yang gemetar.
Sang ayah menggelengkan kepala perlahan, sebuah gerakan kecil yang tampak membutuhkan usaha luar biasa. Sepasang mata tua yang biasanya memancarkan ketenangan itu kini dipenuhi oleh ketakutan yang mendalam, bukan ketakutan akan kematian dirinya sendiri, melainkan ketakutan akan nasib anak perempuan satu-satunya yang sangat ia cintai.
"Jangan ... dengarkan Ayah, Nak ..." bisik pria tua itu, setetes air mata mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan darah yang menodai wajahnya. "Doni ... Doni tidak main-main. Rentenir itu ... mereka orang-orang kejam. Mereka akan menghancurkan hidupmu ..."
"Aluna tidak takut, Ayah. Yang penting sekarang Ayah harus dibawa ke rumah sakit," kata Aluna sesenggukan, hatinya hancur melihat penderitaan ayahnya.
"Tidak, Aluna ... dengarkan Ayah ..."
Cengkeraman tangan sang ayah pada pergelangan tangan Aluna sedikit mengencang, memaksa Aluna untuk mendengarkan dengan saksama. Sang ayah terbatuk kecil, mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, membuat Aluna semakin histeris.
"Menikahlah ... malam ini juga, Nak," bisik sang ayah dengan terbata-bata, setiap kata yang diucapkannya terasa seperti desakan terakhir dari jiwanya yang berada di ambang batas. "Menikahlah ... dengan seorang pria ... pria baik-baik yang bisa melindungimu. Jika kamu sudah menikah ... sudah punya suami sah ... rentenir itu tidak akan bisa menyentuhmu atau membawamu pergi secara hukum ... Kamu akan aman ..."
"Tapi, Ayah ... bagaimana mungkin Aluna menikah malam ini? Aluna tidak punya siapa-siapa ..." Aluna menggelengkan kepalanya dengan putus asa. Mengingat Kafka saat ini justru membuat dadanya semakin ngilu. Pria yang ia harapkan menjadi pelindung justru sedang tidur dengan wanita lain.
"Ayah mohon, Aluna ... ini permintaan terakhir Ayah ..." suara sang ayah semakin melemah, matanya mulai tampak sayu dan kehilangan fokus. "Menikahlah ... agar Ayah bisa pergi dengan tenang ... agar Ayah tahu ada yang menjagamu dari Doni dan orang-orang jahat itu ... Tolong, Nak ... carilah suami sekarang juga ..."
Melihat kondisi ayahnya yang semakin kritis dan mendengar permohonan yang begitu pilu, seluruh pertahanan mental Aluna runtuh sepenuhnya. Kepanikan yang teramat sangat menguasai logikanya. Ia tahu ia tidak punya banyak waktu. Nyawa ayahnya berada di ujung tanduk, dan keselamatan dirinya sendiri sedang dipertaruhkan.
Dengan air mata yang mengaburkan pandangan dan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang, Aluna melepaskan tangan ayahnya perlahan.
"Baik, Ayah ... Aluna akan cari jalan keluar. Ayah harus bertahan demi Aluna!"
Aluna berdiri dengan kaki yang gemetar, lalu berlari keluar menembus kegelapan malam, membiarkan pintu rumahnya terbuka. Ia berlari tanpa arah di dalam gang yang sepi, didorong oleh keputusasaan yang teramat sangat untuk menemukan siapa saja, seorang pria lajang, yang bisa ia tarik untuk menyelamatkan nyawa ayahnya dan masa depannya malam itu juga.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!