Indonesia
NovelToon NovelToon

Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Hidup ku

Pov: jennie carter

POV: Jennie Carter

Aku duduk di kamar kecilku di atas sofa tua yang berderit, mengenakan kaus usang yang sudah dibeli kapan serta celana yang bolong, sambil menonton serial The Vampire Diaries di ponsel lamaku.

Aku menangis pada bagian saat Klaus mengucapkan selamat tinggal kepada Caroline.

“Dia cinta pertamamu, dan aku berharap bisa menjadi cinta terakhirmu. Aku siap menunggu.”

Aku duduk sambil terisak. Bagaimana mungkin seseorang tidak memilih Klaus, malah memilih Tyler yang kerjanya hanya menyalahkan dan tidak menghargainya?

Ibuku sama naifnya. Ia percaya dan mencintai ayahku, meskipun pria itu bajingan dan manipulator sejati, dan sudah seperti itu selama yang kuingat.

Dylan Carter memang selalu seperti itu. Ia berselingkuh dari ibuku selama yang kuingat. Ketika orang-orang di sekitarnya mengatakan bahwa ia seorang pengkhianat, ia justru berkata kepada ibu bahwa mereka semua idiot, bahwa ia mencintainya, dan bahwa tidak akan ada seorang pun yang menginginkannya di usia empat puluh tahun—padahal usianya baru tiga puluh sembilan, tetapi itu tidak penting. Bahkan ketika aku mengatakan hal yang sama, ibu tidak pernah mendengarkanku. Ia selalu berkata bahwa ayah mencintai kami, hanya saja karakternya rumit.

Sebenarnya, ibu tidak benar-benar mempercayainya, tetapi tetap mendengarkannya karena tidak ingin menyakitinya.

Aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak kecil bahwa aku tidak akan pernah menjadi seperti ibu. Aku tidak akan membiarkan diriku direndahkan, dicaci, dan diberi tahu bahwa selain dirinya, aku tidak berguna bagi siapa pun.

Aku tidak pernah melihat ibu tertawa atau tersenyum di samping ayah. Ia selalu terlihat sedih dan penurut. Ia tidak pernah membantah ayah. Ayahlah yang selalu memarahinya, sementara ibu hanya diam dan berkata bahwa hal itu tidak akan terulang lagi.

Namun, akhir-akhir ini ada sesuatu yang berubah. Mereka jadi lebih sering bertengkar. Bukan sekadar lebih sering… ibu mulai melawan, dan ayah tidak menyukainya karena ia sudah terbiasa melihat ibu yang penurut.

Sekarang aku mendengar pintu depan tertutup dengan keras, disusul teriakan dari lantai bawah.

“Dia menelanjangimu dengan matanya, dan kau berkedip kepadanya!” teriak suara ayah. “Kau menganggapku bodoh?”

Ibu membalas dengan teriakan, tetapi aku tidak mendengar apa yang dikatakannya.

Di keluarga kami, hal seperti ini sudah biasa. Ayah terus-menerus mencemburui ibu, padahal itu bisa dimaklumi. Ibu memang wanita yang cantik. Laura Carter memiliki tubuh yang indah dan ramping, rambut cokelat sebahu, serta mata cokelat yang sama indahnya, hanya saja warnanya sangat terang.

Aku pernah membaca di suatu tempat bahwa pada wanita yang sering menangis, warna matanya bisa berubah karena memudar dan menjadi buram. Aku tidak tahu seberapa benar hal itu.

Aku bahkan sudah tidak memedulikan mereka lagi karena telah terbiasa selama tujuh belas tahun hidupku.

Aku memutuskan memakai earphone kabel lamaku agar tidak mendengarkan mereka. Namun, tepat saat hendak memasangnya, aku mendengar suara ibu.

“Kamu benar-benar membuatku muak! Aku tidak pernah berselingkuh seumur hidupku karena, tidak seperti orang lain, aku sudah cukup puas dengan dirimu seorang!”

Ya, ampun… aku juga terkejut.

Dulu ibu pasti hanya akan diam dan meminta maaf. Namun, sekarang ia mulai berubah. Ia tidak senaif dan sepenurut dulu. Aku justru senang melihatnya. Kalau aku berada di posisinya, aku pasti sudah membunuh suami seperti itu atau pergi sejak lama.

Namun, ada sesuatu yang selalu menahan ibu. Ia selalu berkata bahwa aku harus tumbuh dengan seorang ayah dalam keluarga yang utuh.

Padahal aku tidak butuh itu.

Aku hanya ingin ibuku bahagia dan aku bisa menjalani hidup dengan tenang tanpa teriakan setiap hari.

“Apa maksud ucapanmu itu? Kau tahu sendiri aku tidak pernah selingkuh darimu! Ini semua ulah teman-teman perempuanmu yang bodoh! Kau membuatku muak dengan kecemburuanmu yang tidak berdasar!” teriak ayah.

Aku malah tertawa.

Iya, tentu saja tidak berdasar.

Semua orang di lingkungan kami sudah tahu dengan siapa, di mana, dan kapan ia berselingkuh dari ibu.

“Tentu saja tidak berdasar! Kau menganggapku bodoh karena berpikir aku masih akan percaya omong kosong itu!” balas ibu. Dari suaranya, aku tahu ia benar-benar marah.

“Kau benar-benar sudah gila?! Kau ini pelacur yang tidak berguna bagi siapa pun! Kau tidak pernah menghargaiku! Sekarang aku akan mengajarimu cara menjadi penurut seperti dulu! Aku tidak ingin melakukan ini, tapi kau yang memaksa!”

Dan saat itulah aku mendengar suara benturan yang keras.

Aku langsung ketakutan.

Ayah memang sering berteriak pada ibu, tetapi memukulnya… tidak pernah.

Aku segera melompat dari sofa, membanting pintu hingga terbuka, lalu berlari sambil berdoa agar suara itu hanya berasal dari barang yang terjatuh.

Kalau tidak…

Kalau ia benar-benar menyentuh ibuku, aku akan membunuhnya tanpa berpikir panjang.

Aku menuruni tangga dari lantai dua yang sudah hampir hancur. Wallpaper di dinding mengelupas, dapur kami sudah tua, begitu pula sofa yang ada di ruang tengah.

Ini bahkan bukan rumah kami sendiri, melainkan rumah petak yang dihuni beberapa keluarga.

Kami tinggal di lantai dua, hanya menempati dua kamar kecil. Sementara di lantai bawah tinggal Nenek Maria yang sudah hampir sekarat bersama cucunya, Tomas, yang hampir setiap hari mabuk dan memukuli neneknya.

Kami hidup jauh dari kata layak.

Bahkan bisa dibilang sangat miskin.

Hanya ibu yang bekerja, sedangkan ayah sama sekali tidak. Bukan hanya tidak bekerja, ia juga mengambil uang hasil kerja ibu dan menghabiskannya entah ke mana. Katanya untuk kebutuhan rumah atau membeli peralatan tertentu.

Namun, aku seratus persen yakin uang itu dihabiskannya untuk para pelacurnya.

Aku sampai di bawah dan langsung terpaku.

Aku sudah menyiapkan diri untuk melihat apa pun, tetapi pemandangan di hadapanku benar-benar di luar dugaan.

Pintu depan yang sudah tua itu telah dijebol hingga udara hangat dari luar masuk ke dalam rumah. Sekarang memang musim gugur, tetapi kami tinggal di Florida, dan di sini hampir selalu terasa panas.

Di dekat pintu, tepat di samping ibuku yang ketakutan, berdiri seorang pria mengenakan jas klasik berwarna biru tua. Rambutnya pirang kecokelatan, dipotong pendek, dengan mata hijau tua.

Pria itu sedang memeluk ibu sambil mengelus rambutnya.

Sementara itu, ayah terbaring di lantai. Di atasnya berdiri dua pria berpakaian serba hitam. Sepertinya mereka adalah pengawal pria yang kini berdiri di samping ibu.

Salah satu dari mereka menendang perut ayah, sedangkan yang lain menghantam wajahnya dengan kepalan tangan hingga darah mengalir membentuk genangan.

Ayah merintih dan berteriak kesakitan.

“Jennie, sayang, kemarilah,” panggil ibu.

Air mata mengalir di wajahnya. Pria yang memeluknya menyadari keberadaanku, lalu menoleh dan tersenyum.

“Mama, apa yang terjadi?” tanyaku dengan suara penuh ketakutan.

Ibu menatapku. Tatapannya masih dipenuhi rasa takut, tetapi di balik itu juga tersimpan kelegaan.

“Semuanya baik-baik saja, Sayang. Sekarang semuanya akan baik-baik saja,” ucap ibu sambil mengelus rambutku dan tersenyum.

Kemudian ia menoleh kepada pria yang namanya bahkan belum kukenal.

“Kenalkan, ini Ethan, calon…”

“Calon suami, dan aku akan berusaha menjadi ayahmu,” sambung Ethan sambil tersenyum kepadaku.

Aku hanya bisa berdiri terpaku dalam keadaan syok.

Aku bahkan tidak mampu mencerna apa yang baru saja ia katakan.

“Aku sangat senang akhirnya bisa berkenalan denganmu, Jennie. Kamu sangat mirip dengan ibumu. Namun, bagaimanapun juga, aku tidak ingin merusak perkenalan kita kali ini. Kamu dan ibumu harus segera mengemas semua barang kalian dan pergi bersamaku.”

Ia kembali tersenyum.

Sementara aku benar-benar dibuat tercengang.

“Tapi… apa? Bagaimana? Untuk apa? Aku tidak mengerti…” tanyaku sambil menatap bergantian ke arah ibu dan Ethan dengan kebingungan.

“Aku dan ibumu saling mencintai dan ingin hidup bersama. Namun, ibumu tidak ingin kamu kehilangan ayahmu, harus pindah ke kota lain, dan kehilangan teman-temanmu. Lagi pula, dia masih merasa kasihan pada bajingan menyedihkan itu.”

Ethan melirik ke belakangku, ke arah anak buahnya yang kini sudah berhenti memukuli ayah.

Ayah terbaring tak sadarkan diri di tengah genangan darah, tetapi dadanya masih naik turun.

Syukurlah.

Sebesar apa pun kebencianku kepadanya, ia tetap ayahku.

Aku tidak ingin sesuatu yang buruk benar-benar terjadi padanya.

“Nak, pergilah kemasi barang-barangmu. Nanti semuanya akan kujelaskan,” ujar ibu sambil tersenyum dan mengangguk ke arah tangga tua.

“Pergilah, Jennie.”

...----------------...

Halo guys bantu suport yahh,jangan lupa like dan komen jika kalian suka buku ini dan biar aku semangat juga nulis nya😊🙏🏻

Kehidupan baru

Aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya mengangguk. Aku berbalik, lalu berjalan menuju kamarku, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam hidupku. Namun, aku yakin hidupku akan berubah sangat drastis.

Keningku menempel pada kaca jendela yang dingin, memperhatikan jalan-jalan yang sudah sangat familier perlahan tertinggal di belakang.

Itu sekolah tempatku belajar dulu, dan sedikit lebih jauh ada toko mainan yang semasa kecil tidak pernah bisa kulewati begitu saja.

Lalu ada taman, tempat aku sering berjalan-jalan ketika ingin kabur sejenak dari rumah selama beberapa jam.

Semua yang ada di sini begitu akrab hingga terasa menyakitkan. Aku mencoba mengingat setiap tikungan, setiap rumah, seolah-olah ingin menyimpan semuanya di dalam hati.

Baru kemarin tempat ini adalah rumahku.

Namun, entah kenapa, kali ini aku tidak merasakan kesedihan yang terlalu mendalam.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Ibu dengan suara pelan, membuyarkan lamunanku.

Aku perlahan menoleh ke arahnya dan membalas tatapan cemas di matanya.

“Ya… aku baik-baik saja. Cuma masih sedikit kaget. Semuanya terjadi terlalu cepat.”

Ibu menghela napas pelan dan menunduk sejenak, seolah sedang mengumpulkan pikirannya.

“Ibu sendiri tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini… Ibu dan Ethan baru berkenalan dua bulan yang lalu di kafe tempat Ibu bekerja.”

Ia terdiam sejenak sambil meremas jemarinya, lalu melanjutkan,

“Dia datang ke Florida untuk urusan bisnis. Hari itu, di kafe, ada seorang pelanggan yang mulai bersikap kasar dan menghinaku…”

Ibu memejamkan mata sejenak, seolah kembali merasakan momen itu.

“Dan Ethan langsung membela Ibu.”

Ia menghela napas pelan.

“Ibu… merasa tersanjung. Sungguh. Ibu bahkan sempat bingung. Ibu berterima kasih padanya, lalu membuatkan kopi yang dia pesan. Setelah dia pergi, Ibu pikir dia cuma pelanggan biasa yang kebetulan berbaik hati membela Ibu, dan kami tidak akan pernah bertemu lagi.”

Ibu menatapku sejenak, lalu kembali memalingkan pandangannya.

“Tapi saat Ibu keluar dari kafe setelah selesai shift, dia sudah berdiri di luar sambil bersandar di mobilnya. Dia menghampiri Ibu, mengajak berkenalan, lalu mengundang Ibu makan malam di restoran. Tentu saja Ibu tidak menyangka hal itu… dan Ibu langsung menegaskan kalau Ibu sudah menikah.”

Ia menggelengkan kepala pelan, seakan mengenang dirinya saat itu.

“Dia tidak menyerah. Dia datang ke kafe setiap hari selama sebulan penuh. Kami mengobrol… dan perlahan Ibu mulai mempercayainya. Dia bercerita tentang dirinya, tentang bagaimana dia sudah bercerai dari istrinya, dan bahwa dia memiliki seorang anak laki-laki yang usianya sedikit lebih tua darimu.”

Ibu terdiam sesaat, lalu suaranya berubah lirih.

“Ibu tahu ini salah… tapi berada di dekatnya membuat Ibu merasa tenang. Bahkan terlalu tenang. Ibu merasa… hidup kembali.”

Ia mengalihkan pandangannya ke samping, seolah berat mengucapkan kalimat berikutnya.

“Dan pada suatu titik, Ibu benar-benar tidak bisa menghentikannya. Dia terus meminta agar Ibu menceraikan ayahmu… agar kami bisa pergi bersama. Tapi Ibu terus memikirkanmu. Memikirkan bagaimana kamu akan tertinggal tanpa rumah, tanpa kehidupan yang selama ini kamu jalani…”

Suaranya bergetar, lalu ia kembali terdiam sejenak.

“Dan hari ini… saat Ibu dan ayahmu pulang dari pesta ulang tahun temannya… dia kembali mulai menuduh Ibu atas hal-hal yang tidak pernah Ibu lakukan. Seperti biasanya. Dan di situlah Ibu sadar kalau Ibu sudah tidak sanggup lagi.”

Ibu mengembuskan napas panjang, seolah melepaskan seluruh beban yang selama ini menyesakkan dadanya.

“Ibu tidak ingin semuanya berakhir seperti ini… sampai harus berteriak-teriak. Sampai kamu harus melihat semua itu.”

Ia menatapku, dan genangan air mata tampak memenuhi kedua matanya.

“Aku memang berselingkuh… ya. Tapi dia juga bukan orang suci. Dia menghancurkanku selama bertahun-tahun.”

Ibu mengusap rambutku dengan lembut, seolah menyiratkan penyesalan dan rasa bersalah dalam setiap gerakan tangannya.

“Ibu cuma… lelah.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan suara pelan, nyaris berbisik,

“Maafkan Ibu, Jennie… maafkan Ibu untuk semuanya. Ibu tidak ingin kamu harus melewati semua ini.”

Aku menatap ibu, lalu menggeleng pelan.

“Ibu, apa sih… Ibu tidak salah apa-apa. Ibu cuma ingin akhirnya bisa bahagia. Dan aku ikut senang.”

Aku tersenyum lembut kepadanya, lalu memeluknya.

Baru saat itulah aku menyadari bahwa Ethan diam-diam memperhatikan kami melalui kaca spion tengah. Ia sedang mengemudikan Cadillac Escalade IQL berwarna hitam, sebuah SUV besar dengan bodi mulus, lampu depan yang tajam, serta roda-roda besar. Mobil itu tampak mahal, berkelas, dan begitu mendominasi jalanan.

“Jennie…” Suaranya terdengar lebih pelan. “Ibumu sudah menjadi segalanya bagiku. Aku sangat mencintainya.”

Ia meremas setir sesaat tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Kamu adalah putrinya… artinya, bagian dari dirinya. Berarti, bagian dariku juga. Aku tidak bisa menggantikan ayahmu… tapi aku berharap bisa menjadi seseorang yang penting bagimu.”

Aku terdiam sesaat, tidak tahu harus menjawab apa.

Entah kenapa, kata-kata Ethan terasa begitu menyentuh, jauh lebih dalam daripada yang kuperkirakan. Dadaku terasa hangat, sekaligus mendadak berat, seolah ada sesuatu yang bergeser di dalam sana.

Aku memalingkan wajah ke arah jendela agar ia tidak melihat wajahku yang mulai bergetar.

“Aku…”

Helaan napas kecil terlepas dari bibirku, tetapi suaraku bergetar, hampir patah.

Aku menelan ludah, lalu kembali menatap ke depan.

“Terima kasih.”

Aku mendengar helaan napas pelannya, dan sesaat kemudian melihat senyum tipisnya di kaca spion tengah.

Senyuman yang nyaris tak terlihat, tenang, tetapi terasa hangat. Entah kenapa, senyuman itu membuat beban di dadaku sedikit mereda.

Ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya terus menyetir seolah momen singkat itu sudah lebih dari cukup.

“Jadi… kita mau ke mana? Mungkin sekarang bisa dijelaskan?” tanyaku, memindahkan tatapan dari ibu kepada Ethan.

“Oh, tentu saja. Tentu,” jawabnya tenang. “Kita akan pergi ke Texas. Aku tinggal di sana bersama anakku, di Austin.”

“Aku belum pernah ke sana, tapi aku dengar tempatnya sangat indah,” kataku sambil berpikir sejenak.

“Ya, kurasa kamu akan menyukainya,” balas Ethan sambil tersenyum.

Aku terdiam sesaat, lalu memutuskan untuk bertanya karena penasaran sekaligus sekadar basa-basi.

“Anda punya anak laki-laki?”

“Namanya Kai,” jawab Ethan sambil terus menatap jalan. “Umurnya dua puluh tahun. Dia kuliah di Cedar Vale College. Dia anak yang baik, hanya saja agak rumit… butuh pendekatan khusus. Tapi aku yakin kalian berdua akan cepat akrab.”

Ia tersenyum sambil sekilas melirik ke kaca spion tengah.

Aku terdiam sesaat, mencerna informasi yang baru saja kudengar.

Hebat sekali…

Sekarang aku akan punya kakak tiri laki-laki.

Aku menggigit bibir tipis.

Semoga saja dia orang yang normal… dan bukan berandal yang menyebalkan.

“Ngomong-ngomong, kamu akan bersekolah di Ridgeview Night School yang bergengsi. Sekolah itu sangat bagus. Semoga kamu betah di sana dan bisa mendapatkan banyak teman,” tambahnya.

“Ya, Nak. Ibu yakin kamu akan suka tinggal di sana,” kata ibu dengan lembut.

Aku tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.

Perbincangan perlahan mereda, dan mobil mulai melambat saat mendekati area bandara. Di luar jendela, gedung terminal dan kerumunan orang yang membawa koper sudah mulai terlihat berlalu-lalang.

Ethan membelokkan mobil dengan mulus ke area penurunan penumpang (drop-off), lalu menghentikannya.

“Kita sudah sampai,” ucapnya singkat.

Kami keluar dari mobil. Pintu tertutup dengan bunyi debuman pelan, dan suasana di sekitar mendadak dipenuhi kebisingan—suara orang-orang berbicara, pengumuman bandara, serta deru pesawat di langit.

Aku terdiam sejenak, memandangi bangunan bandara yang besar itu sambil mempererat genggamanku pada tali tas, menyadari bahwa kini sudah tidak ada jalan untuk kembali.

Kami masuk ke dalam gedung bandara dan langsung disambut hiruk-pikuk kesibukan. Orang-orang berlalu-lalang dengan terburu-buru, koper-koper berderit di atas lantai, sementara pengumuman penerbangan terus berkumandang dari pengeras suara.

Aku berjalan di samping ibu, sesekali menoleh ke sekitar, mencoba membiasakan diri dengan keramaian itu. Ethan berjalan di depan dengan penuh percaya diri, seolah tahu persis setiap langkah yang harus diambil.

“Lewat sini,” ujarnya sambil memimpin kami menuju konter check-in.

Kami mendekat, dan aku terpaku sesaat, mengamati betapa cepatnya segala sesuatu terjadi di sekeliling kami—mulai dari pemeriksaan dokumen, penimbangan bagasi, hingga antrean panjang yang terus bergerak.

Proses boarding berjalan dengan cepat.

Beberapa menit kemudian, kami sudah berjalan menyusuri lorong kabin pesawat yang sempit, dan aku merasakan debaran di dalam dadaku.

Seluruh tubuhku seolah bergeming pelan. Bukan karena takut, melainkan karena debaran aneh yang menggelitik.

Kami menemukan tempat duduk masing-masing.

Aku duduk di dekat jendela dan hampir seketika menyandarkan bahuku ke kaca, mengamati bagaimana suasana di luar terus bergerak. Orang-orang merapikan barang bawaan mereka, pramugari memeriksa kabin, dan beberapa penumpang sudah memasang sabuk pengaman.

Ethan duduk di sebelahku, sementara ibu duduk agak lebih jauh.

Aku memasang sabuk pengamanku dalam diam, lalu menghela napas dan kembali mengalihkan pandangan ke arah jendela.

“Jadi… kehidupan baru, ya?” gumamku pada diri sendiri, hampir berbisik.

Pesawat bergetar pelan, bersiap untuk lepas landas.

Aku pun memejamkan mata sejenak, membiarkan diriku menerima kenyataan bahwa semua ini benar-benar telah dimulai.

...----------------...

Halo guys bantu suport yahh,jangan lupa like dan komen jika kalian suka buku ini dan biar aku semangat juga nulis nya😊🙏🏻

...----------------...

Bertemu dengannya

Aku terbangun karena seseorang menyentuh bahuku nyaris tanpa terasa sambil memanggil namaku dengan lembut.

“Jennie, bangunlah. Sebentar lagi kita akan mendarat. Kamu harus memasang sabuk pengaman.”

Saat membuka mata, aku melihat Ethan berdiri di hadapanku, seperti biasa dengan senyum tipis yang tenang.

Aku benar-benar terbangun dan menegakkan tubuh di kursi. Leherku terasa agak kaku dan sedikit kesemutan, meskipun kami terbang di kelas bisnis.

Kursi di sini lebar dan empuk, dengan fitur yang bisa direbahkan hampir sepenuhnya. Di antara setiap kursi terdapat sekat pembatas yang rapi, memberikan sedikit kesan ruang pribadi. Lampu hangat yang temaram, dengung mesin yang tenang, dan sedikitnya orang di sekitar membuat suasana terasa damai, bahkan nyaman.

Namun, rupanya aku tetap saja berhasil tertidur dalam posisi yang canggung.

Aku meregangkan tubuh dan meringis kecil sambil perlahan memijat leherku.

“Berapa lama aku tidur?” tanyaku dengan suara serak sambil menyapukan tangan ke rambutku.

Ethan melirik jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu memasukkan satu tangan ke saku celana panjang klasiknya sebelum kembali menatapku.

Rambutnya tetap tertata rapi—sangat berbeda dengan rambutku yang pasti sudah seperti diterjang badai.

“Sekitar tiga jam. Aku akan membangunkan ibumu, dan kamu pasanglah sabuk pengamanmu,” katanya, lalu pergi dengan langkah tenang dan penuh percaya diri.

Aku menguap, merapikan posisi duduk, lalu memasang sabuk pengaman. Setelah menyapukan tangan ke rambutku yang berantakan, aku memutuskan untuk sedikit merapikan diri. Kalau tidak, orang-orang mungkin akan ketakutan melihat penampilanku.

Beberapa menit kemudian, rambut cokelat susu sepanjang pinggangku sudah terkuncir tinggi dan jatuh rapi di punggung. Ethan kembali, lalu ikut memasang sabuk pengamannya.

Pilot mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat, dan sekitar dua puluh menit kemudian pesawat menyentuh landasan pacu dengan mulus.

Orang-orang mulai bangkit dari tempat duduk mereka dan mengambil barang-barang dari rak atas. Kami pun mengikuti arus penumpang keluar.

Begitu menginjakkan kaki di daratan, udara sejuk langsung menerpa wajahku. Setelah berjam-jam berada di dalam kabin pesawat yang tertutup, udara itu terasa begitu segar dan hidup.

Kami mengikuti arus penumpang memasuki gedung bandara. Di dalam terdengar hiruk-pikuk percakapan, pengumuman penerbangan, dan suara koper yang berderit di atas lantai.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, kami selesai melewati pemeriksaan paspor dan menuju area pengambilan bagasi. Setelah mengambil koper, kami pun keluar dari gedung bandara.

Di dekat pintu keluar, sebuah mobil sudah menunggu kami.

Mobil mewah berwarna hitam itu terparkir tidak jauh dari sana, tetap mencuri perhatian meski berada di antara deretan mobil lainnya.

Ethan berjalan lebih dulu dan membukakan pintu.

Ibu masuk lebih dahulu, disusul olehku yang kemudian duduk di kursi belakang. Setelah itu Ethan masuk ke kursi pengemudi.

Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil langsung menjadi hening. Mobil pun melaju mulus meninggalkan area bandara.

“Laura, Sayang, kamu bisa tidur sebentar. Kita masih harus berkendara sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit lagi ke luar kota,” ujar Ethan sambil menatap ibu dengan senyum hangat.

Ia menggenggam tangan ibu, menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari ibu, lalu mengecup lembut punggung tangannya. Ibu membalas senyumannya dan mengecup pipinya sekilas.

“Ya, kurasa kamu benar. Aku memang tidak terlalu tidur nyenyak di pesawat. Jennie, kalau kamu juga lelah, kamu bisa tidur,” kata ibu.

“Tidak apa-apa, Ma. Aku hampir tidur sepanjang penerbangan tadi.”

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dalam keheningan.

Di luar jendela, lampu-lampu jalan berkelebat, sementara pemandangan perkotaan perlahan berganti menjadi lanskap malam yang jauh lebih tenang.

Beberapa saat kemudian, mobil mulai melambat.

“Kita sudah sampai,” ucap Ethan tenang.

Ia turun lebih dulu, mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk ibu sambil mengulurkan tangannya.

Aku menyusul turun.

Dan pada saat itulah, ketika aku mendongak, napasku seketika tertahan.

Di hadapanku berdiri sebuah rumah.

Bukan sekadar rumah, melainkan sebuah hunian modern berukuran besar yang bermandikan cahaya lembut dari lampu-lampu taman.

Fasadnya yang tinggi, memadukan kaca dan batu, memantulkan langit malam bagaikan cermin. Jendela-jendela panorama berukuran besar memperlihatkan cahaya hangat dari dalam ruangan, menciptakan kesan yang mewah sekaligus nyaman.

Area di sekitarnya tertata dengan sangat rapi. Hamparan rumput dipangkas begitu presisi hingga seolah diukur dengan milimeter. Jalan setapak tersusun rapi, sementara lampu-lampu taman bergaya minimalis memancarkan cahaya lembut yang menerangi seluruh kawasan.

Semuanya tampak mahal, tenang, dan begitu berkelas.

Di sekeliling rumah itu hanya ada keheningan dan alam.

Rumah tersebut berdiri agak terpisah dari bangunan lain, seolah sengaja diasingkan dari dunia luar. Di balik batas propertinya terbentang hutan lebat. Pohon-pohon tinggi berwarna gelap berdiri rapat membentuk dinding alami yang menghadirkan suasana sunyi dan sangat privat.

Hampir tidak ada rumah lain di sekitarnya. Hanya tampak beberapa kerlap-kerlip lampu dari kejauhan, begitu jauh hingga terasa seolah seluruh hamparan tanah ini hanyalah milik satu orang.

Dan karena itu, rumah tersebut tampak semakin besar, semakin megah… sekaligus sedikit menakutkan dalam kesunyiannya.

Aku mengalihkan pandangan kepada ibu dan Ethan. Ia sudah mengeluarkan bagasi kami dari mobil, menguncinya dengan remote, lalu berjalan menuju rumah.

“Mari masuk,” kata Ethan.

Kami pun masuk bersama-sama.

Dan ternyata, bagian dalam rumah itu jauh lebih indah daripada tampilan luarnya.

Aula masuk yang luas menyambut kami dengan langit-langit tinggi serta cahaya hangat yang lembut dari lampu gantung kaca berukuran besar. Lantainya terbuat dari marmer terang yang begitu halus hingga menyerupai cermin, memantulkan setiap langkah kaki kami.

Di sebelah kiri terdapat tangga lebar menuju lantai dua dengan pegangan hitam ramping beraksen kaca, sementara di sebelah kanan terbentang jalan menuju ruang tamu.

Ruang tamu itu tampak seperti keluar dari majalah. Jendela panorama besar membentang dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan pemandangan hutan di luar. Sofa berwarna gelap, meja makan panjang, perapian yang rapi, serta perabotan minimalis bernuansa abu-abu kecokelatan membuat ruangan itu terlihat modern, mahal, sekaligus sangat nyaman.

Agak lebih jauh, aku melihat dapur terbuka dengan pulau dapur panjang berbahan batu serta deretan kursi bar. Di atasnya menggantung lampu-lampu dengan cahaya hangat yang lembut, menciptakan suasana yang tenang.

“Nah, ayo ke kamarmu. Letaknya di ujung yang berlawanan dari kamar kami, jadi privasimu tetap aman,” ucap Ethan sambil tersenyum, mencoba berkelakar.

Aku membalas dengan senyum tipis sekadar demi sopan santun. Sebenarnya, saat itu aku hanya menginginkan satu hal—membongkar barang-barangku dan segera merebahkan diri di tempat tidur yang empuk.

Kami menaiki tangga menuju lantai atas.

Di sana, kami disambut sebuah koridor yang panjang.

Suasananya terasa jauh lebih tenang dan privat.

Koridor yang luas itu membentang sepanjang lantai, tenggelam dalam pencahayaan hangat yang lembut. Cahaya berasal dari lampu-lampu tersembunyi di langit-langit serta pendar tipis di sepanjang dinding, membuat semuanya tampak modern sekaligus nyaman.

Lantainya terbuat dari kayu berwarna gelap yang sangat halus. Langkah kaki di atasnya terdengar teredam, nyaris tanpa suara.

Di satu sisi berjajar pintu-pintu kamar yang rapi dan minimalis, tanpa detail berlebihan, dengan gagang hitam yang elegan. Di sisi sebaliknya terdapat jendela-jendela tinggi selebar dinding yang menyuguhkan pemandangan hutan dari ketinggian.

Dari sini, hutan itu tampak semakin lebat dan gelap, seolah rumah ini benar-benar tersembunyi di antara pepohonan dan terisolasi dari dunia luar.

Di beberapa titik, koridor itu dipercantik dengan berbagai detail: meja konsol sempit dengan vas bunga, lukisan abstrak dalam bingkai gelap, permadani lembut, serta sudut kecil berisi sofa dan kursi berlengan, seolah sengaja diciptakan untuk menikmati keheningan.

Ethan berhenti di depan salah satu pintu, lalu berbalik menghadapku.

“Ini kamarmu.”

Kami berhenti tepat di depan pintu itu.

Ethan membukanya.

Aku melangkah masuk lebih dulu, lalu langsung berhenti di ambang pintu.

Kamar itu tampak seperti diambil langsung dari Pinterest, tetapi tetap memiliki karakternya sendiri.

Terang, luas, namun tidak terasa dingin. Kenyamanan langsung terpancar dari setiap sudutnya. Nuansa putih dan krem berpadu lembut dengan aksen gelap berupa detail logam hitam, kayu berwarna gelap, serta elemen grafit pada perabotan yang memberikan kedalaman sekaligus karakter pada ruangan.

Jendela panorama besar menutupi hampir seluruh bagian dinding. Di baliknya terbentang hutan yang gelap dan tenang, bagaikan dunia yang terpisah. Di sekeliling kaca, lampu hias berupa untaian cahaya tipis berkelap-kelip lembut dengan warna kuning hangat, menciptakan nuansa senja bahkan di tengah hari.

Tempat tidur berada tepat di tengah ruangan—lebar, dengan sandaran kepala yang tinggi dan empuk. Seprai putih berpadu kontras dengan selimut abu-abu gelap yang tersampir santai di atasnya. Di kedua sisinya terdapat nakas minimalis dengan lampu-lampu hangat yang membuat kamar itu terasa semakin nyaman.

Di dekat dinding berdiri sebuah meja tulis dari kayu terang dengan detail hitam. Di atasnya terdapat rak-rak yang tersusun rapi, dipenuhi buku-buku dan beberapa hiasan kecil. Di sampingnya ada kursi empuk berwarna gelap dan sebuah permadani berbulu yang membuat kaki seolah ingin tenggelam di dalamnya.

Dan di sudut ruangan… aku melihat sebuah meja rias.

Kecil dan rapi, dengan cermin bundar serta pencahayaan lembut di sekelilingnya. Di dekatnya terdapat sebuah pouf yang nyaman dan beberapa laci kecil untuk menyimpan kosmetik. Semuanya tampak seolah benar-benar dipikirkan hingga ke detail terkecil.

Di beberapa bagian dinding tergantung untaian lampu hias, serta beberapa poster kecil bergaya minimalis yang menghidupkan ruangan tanpa membuatnya terasa penuh.

Aku mengembuskan napas perlahan, masih berdiri di ambang pintu.

“Terima kasih… kamar ini sempurna. Aku sangat menyukainya,” ucapku pelan sambil mengalihkan pandangan kepada Ethan yang berdiri di belakang ibu sambil merangkul pinggangnya.

Ia tersenyum. Senyumnya tenang, tetapi menyimpan kehangatan yang nyaris tak terlihat.

“Aku senang kamu menyukainya. Tapi kalau nanti kamu mendengar musik keras, jangan kaget. Itu Kai. Dia tinggal di kamar sebelah.”

“Akan kuingat,” jawabku sambil tersenyum tipis, membayangkan seperti apa tetangga baruku itu.

“Nah, bagaimana? Ayo, akan kutunjukkan ruangan lainnya.”

Aku terdiam sesaat, mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang entah kenapa sudah terasa sedikit… milikku.

“Kalau tidak keberatan, aku ingin membongkar barang-barangku dulu dan beristirahat sebentar,” ucapku sambil tersenyum, berusaha agar tidak terdengar canggung.

“Tentu, tidak masalah,” jawab Ethan lembut. “Beristirahatlah. Sementara itu kami akan pergi. Aku akan menunjukkan kamar utama kita kepada Laura.”

Ia sudah melangkah menuju pintu keluar, tetapi kemudian berhenti, berbalik, lalu menambahkan,

“Makan malam jam sembilan. Aku akan memperkenalkanmu dengan Kai. Entah kenapa aku merasa perkenalanmu dengan kakak tirimu itu akan menjadi momen yang sangat… menarik.”

Ketika pintu tertutup di belakang mereka, akhirnya aku benar-benar sendirian.

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, lalu melihat satu pintu lagi. Tanpa berpikir panjang, aku langsung melangkah ke arahnya.

Begitu membukanya, aku terpaku.

Itu adalah sebuah ruang pakaian, atau walk-in closet.

Milikku.

Milikku sendiri.

Dan ukurannya… bahkan lebih besar daripada kamarku di Florida.

Mungkin hampir dua kali lipatnya.

Aku perlahan melangkah masuk, menyusurkan jemariku di antara pakaian-pakaian yang tertata rapi.

Label harga.

Di mana-mana terdapat label harga.

Barang-barang baru.

Barang-barang mahal.

Aku berhenti di depan sebuah gaun hitam.

Gaun itu panjangnya hingga di bawah lutut, memeluk tubuh dengan sempurna, menonjolkan setiap lekuk tubuh. Bukan jenis gaun yang vulgar—tidak. Justru elegan, anggun… nyaris terlalu indah hingga terasa berbahaya.

Aku membalikkan label harganya dan langsung tertegun.

Dua puluh ribu dolar.

“Apa kalian serius…?” bisikku pelan, tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Aku benar-benar tidak mengerti orang-orang kaya. Gaun seperti itu bisa dibeli di toko biasa… ya, meskipun mungkin tidak persis sama.

Saat memandang ke sekeliling, aku baru menyadari semuanya.

Celana jeans, sweater, rok, atasan, piyama, kaus… bahkan alas kaki.

Lebih aneh lagi, semuanya berukuran sama.

Ukuranku.

Tiga puluh delapan.

Aku mengerutkan kening.

Bagaimana Ethan bisa mengetahuinya? Dan bagaimana mungkin ia sempat membeli semua ini jika ibu bilang semuanya terjadi secara spontan?

Meskipun…

Bukan urusanku.

Aku mengembuskan napas pelan.

Rasanya aneh.

Di satu sisi, aku merasa senang.

Di sisi lain, aku merasa canggung.

Seseorang telah menghabiskan begitu banyak uang untukku…

Namun, jauh di lubuk hati, ada diriku yang masih kecil merasa begitu bahagia.

Anak kecil yang dulu selalu bermimpi memiliki pakaian-pakaian indah.

Agar, seperti anak-anak perempuan lain di sekolah, aku bisa mengenakan pakaian yang berbeda setiap hari.

Agar aku bisa merasa cantik.

Aku sering diejek karena pakaian yang kupakai.

Aku biasa pulang ke rumah sambil menangis.

Namun kemudian…

Aku berhenti menangis.

Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, aku menyadari bahwa air mataku tidak akan mengubah apa pun.

Keadaan keluargaku tidak akan membaik.

Ejekan mereka juga tidak akan berhenti.

Dan sejak saat itulah aku mulai membela diriku sendiri.

Aku bahkan pernah berkelahi dengan salah satu gadis itu.

Gadis yang paling menyebalkan di kelasku.

Aku pulang ke rumah dengan tubuh penuh lebam dan mata sembap karena menangis…

Namun, entah kenapa, aku merasa bahagia.

Ibu sangat ketakutan saat itu.

Namun setelah kejadian itu, mereka mulai jarang menggangguku.

Lama-kelamaan, mereka benar-benar berhenti.

Mereka hanya mengabaikanku.

Dan sejujurnya…

Itu jauh lebih mudah.

Aku memang tidak pernah memiliki teman.

Namun hidup sendirian terasa jauh lebih tenang.

Aku meninggalkan tasku di ruang pakaian, lalu mulai menata barang-barangku ke rak-rak.

Jumlahnya tidak banyak.

Dan semuanya bukan barang baru.

Namun, itulah hidupku.

Aku tidak berniat meninggalkannya.

Terlebih lagi… aku tetap tidak bisa tidur mengenakan apa pun selain kaus panjangku yang sudah melar.

Dan tentu saja bersama boneka beruangku.

Ibu memberikannya saat ulang tahunku yang kesepuluh.

Beruang itu memang sudah tua…

Tetapi itu milikku.

Aku mandi, mengenakan piyama bersih yang kutemukan di ruang pakaian, mengikat rambutku menjadi ekor kuda longgar, lalu turun ke bawah untuk makan malam.

Saat memasuki ruang makan, sebuah meja panjang yang tertata indah sudah menunggu di sana.

Di ujung meja duduk Ethan yang sedang berbicara melalui telepon dengan raut wajah serius.

Sementara itu, ibu sedang membantu seorang wanita menyiapkan meja.

“Bu, ada yang bisa kubantu?”

“Tidak, tidak perlu. Margaret dan Ibu sudah menyiapkan semuanya. Tinggal menata gelas-gelasnya saja, jadi duduklah.”

Aku mengangguk lalu duduk di meja.

Sesaat kemudian, ibu ikut duduk di hadapanku, tepat di sebelah Ethan.

Ethan baru saja mengakhiri panggilan teleponnya dan mengembuskan napas berat.

“Ada apa? Kamu kecewa?” tanya ibu sambil menatapnya dengan cemas.

“Tidak apa-apa. Hanya saja Kai bilang dia akan terlambat untuk makan malam. Entah… mungkin dia sedang bersama teman-temannya lagi…” jawab Ethan sambil mengerutkan kening.

“Yah, dia masih muda. Itu wajar. Bukan masalah besar. Sebentar lagi kita juga akan menjadi keluarga. Masih banyak waktu untuk saling mengenal,” ujar ibu sambil mengusap tangannya dengan lembut dan tersenyum hangat.

Ethan membalas senyumnya, lalu mengecup pipinya dengan lembut.

“Kamu benar, Laura. Hanya saja… menurutku ini bentuk ketidakhormatan kepadamu sebagai calon istriku.”

Ibu meremas tangannya pelan, seolah ingin menenangkannya.

Setelah itu kami mulai makan malam.

Percakapan perlahan menjadi lebih santai, dan aku mengetahui bahwa Ethan berkecimpung di bidang bisnis konstruksi.

“Jennie, setelah lulus sekolah nanti, apa yang ingin kamu geluti?” tanya Ethan sambil menatapku penuh minat.

Aku terdiam sesaat, lalu menundukkan pandangan ke arah piring.

“Aku belum tahu… aku belum menentukan pilihan. Tapi aku menyukai psikologi.”

Ethan mengangguk pelan, dan sekilas terlihat sorot persetujuan di matanya.

“Itu profesi yang bagus. Aku yakin kamu akan menjadi seorang psikolog yang hebat.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Sementara si bodoh kecilku justru sedang kuliah mengambil jurusan ekonomi.”

“Itu juga profesi yang bagus.”

Ethan tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.

“Ya, memang bagus… kalau benar-benar belajar. Bukan seperti kata anak-anak muda sekarang, menghabiskan waktu di pesta bersama teman-teman.”

Saat itulah terdengar suara pintu depan dibanting dengan keras.

Disusul langkah kaki berat yang bergema memenuhi rumah.

Beberapa detik kemudian, seseorang masuk.

Seorang pemuda bertubuh tinggi, mungkin sekitar seratus sembilan puluh satu sentimeter.

Rambutnya cokelat tua, sedikit berantakan, seolah selalu diacak dengan sembarangan. Namun, justru itulah yang membuatnya terlihat tampan dan alami.

Matanya cokelat tua dengan bintik-bintik hijau, tampak sedikit sayu.

Ia mengenakan celana jeans hitam berpotongan longgar, dipadukan dengan sweater hitam di bahunya yang bidang. Dari balik sweater itu tampak kaus putih yang dikenakannya. Di kakinya terpasang sepasang sepatu kets.

Di tangannya, ia membawa setangkai buket mawar kuning…

...----------------...

Halo guys bantu suport yahh,jangan lupa like dan komen jika kalian suka buku ini dan biar aku semangat juga nulis nya😊🙏🏻

...----------------...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!