Indonesia
NovelToon NovelToon

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Surat Wasiat

Siang itu, suasana lantai teratas gedung Atmajaya Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Sejumlah jajaran direksi dan manajer divisi tengah menghadiri rapat mingguan yang dipimpin langsung oleh Dirga Atmajaya diruang rapat utama perusahaan.

Pria itu duduk di kursi paling ujung meja rapat dengan ekspresi datar, sesekali membolak-balik beberapa dokumen yang berada di hadapannya. Kehadirannya selalu berhasil membuat suasana ruangan menjadi lebih serius. Tidak ada yang berani menganggap remeh sebuah rapat jika Dirga yang memimpinnya secara langsung.

"Pak Dirga, laporan kerja sama dengan perusahaan Jepang sudah kami revisi."

Seorang manajer divisi menyerahkan berkas yang baru saja selesai diperbaiki. Dirga menerimanya dengan wajah datar sebelum membuka beberapa halaman di dalamnya.

Ruang rapat yang semula dipenuhi suara presentasi mendadak menjadi sunyi. Semua orang di sana mengetahui satu hal...Dirga bukanlah atasan yang mudah di puaskan.

"Siapa yang menyetujui draft ini?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari berkas ditangannya.

"Saya, Pak."

"Kalau begitu, mulai sekarang biasakan membaca laporan yang Anda setujui sebelum di berikan kepada saya."

Pria itu menelan ludahnya sendiri. "Apakah ada yang salah, Pak?"

"Halaman ketiga dan keempat memiliki data yang berbeda. Nilai investasi yang di cantumkan tidak sama. Saya tidak perlu menjelaskan kepada Anda seberapa fatal kesalahan seperti ini, bukan?"

"Saya minta maaf, Pak."

Dirga meletakkan berkas tersebut di atas meja rapat.

"Perbaiki sekarang juga."

"Baik, Pak."

Tak ada yang berani membantah. Dirga memang di kenal sebagai sosok yang dingin, tegas, dan perfeksionis. Baginya, kesalahan sekecil apa pun tidak boleh terjadi, terlebih jika menyangkut perusahaan yang telah ia kelola selama bertahun-tahun.

Beberapa menit setelah rapat selesai, Robi asistennya menghampiri Dirga yang sedang membereskan laptopnya.

"Pak, makan malam dengan Nona Viona pukul tujuh malam. Mobil juga sudah di siapkan," ujarnya.

Dirga melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ada jadwal lain setelah ini?"

"Sudah saya kosongkan seperti permintaan Bapak."

Dirga mengangguk pelan. Jarang sekali ia meminta jadwalnya di kosongkan untuk urusan pribadi. Bahkan Robi tau betul bahwa satu-satunya orang yang mampu membuat Dirga pulang tepat waktu hanyalah Viona.

"Kalau begitu, saya pulang sekarang."

Robi mengangguk hormat sebelum mengantar atasannya keluar dari ruang kerja.

Dirga Atmajaya dikenal sebagai sosok yang dingin dan perfeksionis. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, ia telah berhasil membawa perusahaan keluarganya menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Bagi Dirga, pekerjaan adalah prioritas, sedangkan kehidupan pribadinya hanya memiliki satu pengecualian....Viona.

Sudah hampir lima tahun mereka menjalin hubungan. Viona adalah satu-satunya perempuan yang berhasil membuat Dirga meluangkan waktunya di tengah jadwal yang padat.

Hubungan yang dijalaninya bersama Viona bukan lagi sekadar hubungan asmara. Di usianya kini, ia sudah memikirkan masa depan yang lebih serius bersama perempuan itu.

Beberapa minggu lalu, ia bahkan telah membeli sebuah cincin yang hingga kini masih tersimpan rapi di dalam brankas pribadinya. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam dirinya untuk membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

Jika ada satu perempuan yang ingin ia jadikan istri, maka perempuan itu adalah Viona.

...****************...

Malam itu, Dirga mengajak Viona makan malam di sebuah restoran mewah yang berada di pusat kota. Di hadapan mereka tersaji berbagai hidangan favorit Viona yang sengaja di pesan oleh Dirga sebelum perempuan itu datang.

"Aku pikir kamu akan membatalkan makan malam ini karena pekerjaan," ujar Viona sambil tersenyum.

"Aku tidak pernah membatalkan janji yang sudah aku buat."

Viona terkekeh pelan. Sikap dingin Dirga memang tidak pernah berubah sejak awal mereka berpacaran. Namun, justru itulah yang membuatnya merasa istimewa. Sebab, di balik sikap dinginnya, Dirga selalu mengingat hal-hal kecil yang ia sukai.

"Jadi, kapan aku akan mendapatkan cincin itu?" g0danya.

Dirga mengangkat sebelah alisnya. "Cincin?"

"Jangan berpura-pura tidak mengerti, Dirga. Kita sudah hampir lima tahun bersama."

Dirga tersenyum tipis sebelum menjawab, "Sebentar lagi."

Jawaban singkat itu berhasil membuat Viona membelalakkan mata. Ia tahu Dirga bukan tipe pria yang suka mengumbar janji. Jika pria itu mengatakan 'sebentar lagi', maka kemungkinan besar semuanya memang sudah dipersiapkan.

Di dalam saku jasnya, Dirga memang telah menyimpan sebuah kotak kecil berisi cincin yang sengaja belum di berikannya malam ini. Ia sudah memiliki rencana untuk melamar Viona dalam waktu dekat.

Namun, sebelum obrolan mereka berlanjut, ponsel Dirga yang tergeletak di atas meja kembali bergetar. Nama sang ibu muncul untuk ketiga kalinya malam itu.

Dirga mengernyitkan dahinya.

"Ibumu lagi?" tanya Viona.

Dirga mengangguk singkat lalu menekan tombol silent tanpa mengangkat panggilan tersebut.

"Sepertinya penting."

"Aku akan menghubunginya nanti."

...****************...

Makan malam mereka pun berakhir seperti biasa.

Dirga tidak langsung menjalankan mobilnya setelah Viona turun. Pandangannya masih tertuju pada pintu rumah sang kekasih yang perlahan tertutup.

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan. Meski tidak pernah menjadi pria yang romantis, Dirga selalu memiliki caranya sendiri dalam menunjukkan keseriusannya.

a tidak pandai mengucapkan kata-kata manis atau memberikan kejutan yang berlebihan, tetapi setiap keputusan besar dalam hidupnya selalu dipikirkannya dengan matang.

Termasuk mengenai pernikahan.

Dirga merasa sudah waktunya untuk membangun keluarga kecil bersama perempuan yang di cintainya. Bahkan dalam beberapa minggu ke depan, ia telah berencana menemui kedua orang tuanya untuk membicarakan hubungan mereka secara resmi.

Dirga menghela napas pelan sebelum menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudi. Jika semuanya berjalan sesuai rencananya, bukan tidak mungkin tahun ini menjadi awal dari kehidupan barunya bersama Viona.

Setelah mengantar Viona pulang, Dirga akhirnya memutuskan untuk menghubungi ibunya di dalam mobil.

"Iya, Bu."

"Kamu di mana sekarang?" tanya Laras dari seberang sana.

"Baru saja mengantar Viona pulang."

"Pulang ke rumah sekarang juga. Ada hal penting yang harus dibicarakan."

Nada bicara ibunya terdengar serius.

"Ada apa?"

"Pengacara keluarga sudah menunggu dari tadi. Kamu harus datang malam ini."

Dirga terdiam beberapa saat. Ia jarang melihat ibunya berbicara seserius itu.

"Baik. Aku akan segera pulang."

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil hitam miliknya memasuki halaman rumah utama keluarga Atmajaya.

Begitu masuk kedalam rumah.l, Dirga sedikit terkejut ketika mendapati kedua orang tuanya sudah menunggu di ruang keluarga bersama seorang pria paruh baya yang di kenalnya sebagai pengacara keluarga mereka.

"Ada apa sampai malam-malam begini?" tanyanya sambil duduk di sofa.

Pengacara itu membuka sebuah map cokelat yang terlihat cukup tebal sebelum menatap Dirga.

"Tuan Dirga Atmajaya, malam ini saya akan membacakan surat wasiat terakhir dari mendiang kakek Anda."

Kening Dirga langsung berkerut.

"Surat wasiat? Bukankah sudah di bacakan setelah kakek meninggal waktu itu?"

"Benar. Tapi sesuai amanat beliau, surat wasiat yang terakhir ini baru boleh di bacakan setelah Anda genap berusia tiga puluh tahun."

Dirga menatap map berwarna cokelat yang berada di atas meja dengan kening berkerut. Selama tiga puluh tahun hidupnya, sang kakek tidak pernah sekalipun menyinggung soal surat wasiat tedakhir kepadanya.

Ia sempat berpikir bahwa surat itu hanya berisi pembagian aset atau saham perusahaan yang selama ini memang berada dibawah pengelolaannya.

"Tuan Dirga Atmajaya, apakah Anda siap untuk mendengarkan isi surat wasiat dari mendiang kakek Anda?" tanya sang pengacara.

Dirga menyandarkan tubuhnya pada sofa sambil menghela napas pelan.

"Silahkan," jawabnya singkat.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa satu kata sederhana yang baru saja diucapkannya akan menjadi awal dari masalah terbesar dalam hidupnya.

Keputusanku Tetap Sama

...****************...

Suasana ruang keluarga keluarga Atmajaya terasa begitu hening. Dirga duduk dengan kedua tangan yang bertaut di atas pangkuannya, sementara pengacara keluarga mulai membuka surat wasiat yang telah di simpan selama bertahun-tahun.

"Dengan ini saya akan membacakan surat wasiat terakhir dari mendiang Tuan Atmajaya."

Dirga sempat mengira surat wasiat yang di maksud hanya berkaitan dengan perusahaan atau aset keluarga yang selama ini berada di bawah pengelolaannya.

Meskipun sang kakek telah lama meninggal dunia, beliau memang dikenal sebagai sosok yang selalu memiliki rencana jauh ke depan.

Namun, yang membuatnya heran justru ekspresi kedua orang tuanya malam itu. Laras dan Lukman terlihat jauh lebih serius dari biasanya, seolah mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya.

"Kenapa Ibu dan Ayah terlihat seperti sedang menghadiri sidang?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Hal itu justru membuat rasa penasarannya semakin besar.

Pengacara itu berdeham pelan sebelum mulai membacakan isi surat tersebut.

"Kepada cucuku, Dirga Atmajaya. Jika surat ini sampai ditanganmu, itu berarti usiamu telah genap tiga puluh tahun."

Dirga mengernyitkan dahinya. Cara sang kakek menulis surat itu membuatnya seolah sedang berbicara langsung dengannya.

"Pertama-tama, Kakek ingin mengucapkan selamat atas pencapaianmu. Kakek yakin saat ini kau telah menjadi pria ynag hebat dan mampu memimpin perusahaan keluarga dengan baik."

"Kakek mengenalmu lebih baik daripada siapa pun, Dirga. Sejak kecil, kau selalu menjadi anak yang keras kepala. Jika kau sudah memutuskan sesuatu, tidak ada seorang pun yang mampu mengubah pendirianmu."

"Kau tumbuh menjadi pria yang hebat dan bertanggung jawab. Kakek bangga pasti kau mampu membawa perusahaan keluarga menjadi sebesar impian kakek dulu."

"Namun, ada satu hal yang selalu menjadi kekhawatiran Kakek. Kau terlalu sibuk mengejar kesempurnaan dalam hidupmu hingga lupa bahwa hidup bukan hanya tentang pekerjaan dan pencapaian."

"Kau terlalu sulit membuka pintu untuk orang lain. Terlalu berhati-hati dalam mempercayai seseorang. Dan terlalu keras pada dirimu sendiri."

"Karena itulah, Kakek berharap di usia tiga puluh tahun ini, kau telah memahami bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat dihitung dengan angka ataupun dibeli dengan kekayaan."

Untuk sesaat, sudut bibir Dirga terangkat tipis. Hubungannya dengan sang kakek memang sangat dekat semasa hidup beliau.

"Karena itu, Kakek memiliki satu permintaan terakhir yang harus kau penuhi apabila ingin menerima seluruh warisan yang telah Kakek tinggalkan."

Ruangan kembali dipenuhi keheningan.

"Kau harus menikahi cucu dari sahabat terbaik Kakek."

Untuk beberapa detik, Dirga hanya terdiam. Ia bahkan sempat berpikir bahwa dirinya salah mendengar isi surat wasiat tersebut.

Pernikahan?

Ia menatap sang pengacara dengan kening berkerut sebelum tertawa tipis karena tidak percaya.

"Saya harap ini bukan lelucon yang sengaja di buat-buat."

Sayangnya, tidak ada satu pun orang diruangan itu yang tertawa.

Tatapan Dirga kemudian beralih kepada kedua orang tuanya yang sedari tadi memilih diam. Ekspresi serius yang terpancar dari wajah mereka membuatnya sadar bahwa semua yang baru saja di dengarnya adalah kenyataan.

"Pernikahan di jadikan syarat warisan?" tanyanya dengan nada dingin.

Seumur hidupnya, Dirga tidak pernah membayangkan bahwa sang kakek akan menentukan pasangan hidupnya melalui sebuah surat wasiat.

Pengacara itu mengangguk pelan sebelum kembali melanjutkan isi surat wasiat.

"Pernikahan tersebut bukanlah sebuah pilihan yang baru Kakek putuskan. Wasiat ini telah dibuat sejak bertahun-tahun lalu atas kesepakatan antara Kakek dan sahabat Kakek."

Wajah Dirga mulai mengeras.

"Ini tidak masuk akal," ujarnya dingin.

Laras dan Lukman yang sedari tadi memilih diam hanya saling bertukar pandang.

"Dirga, kakekmu tidak mungkin membuat keputusan ini tanpa alasan," ujar Lukman akhirnya.

"Aku tidak peduli alasannya apa, Yah. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa di jadikan syarat sebuah warisan."

"Bagaimana jika perempuan itu adalah orang yang baik?" tanya Laras dengan hati-hati.

"Itu bukan poinnya, Bu."

Dirga mengembuskan napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku sudah memiliki perempuan yang ingin kunikahi."

Kedua orang tuanya tampak sedikit terkejut mendengar pengakuan tersebut.

"Aku sudah serius dengan Viona. Jadi tidak ada satu pun surat wasiat yang dapat mengubah keputusanku."

Mereka sendiri telah mengetahui isi surat wasiat tersebut sejak beberapa tahun lalu, tetapi tidak diperbolehkan memberitahukannya kepada Dirga.

"Tuan Dirga, saya belum selesai membacakan isi surat wasiat ini," ujar sang pengacara dengan sopan.

Dirga pun kembali bersandar pada sofa dengan wajah tak terbaca.

"Apabila cucuku Dirga Atmajaya menolak pernikahan tersebut... maka seluruh aset, saham perusahaan, properti, dan harta peninggalan yang menjadi haknya tidak akan diwariskan kepada siapa pun dari keluarga Atmajaya."

Tatapan Dirga berubah tajam.

"Seluruh aset tersebut akan di uangkan dan di salurkan kepada berbagai yayasan sosial yang telah saya tunjuk serta pihak-pihak yang membutuhkan sesuai dengan amanat yang sudah saya tuliskan."

"Tidak hanya perusahaan, Tuan Dirga," ujar sang pengacara. "Seluruh saham yang menjadi hak Anda, hotel, resort, properti investasi, hingga berbagai aset peninggalan mendiang Tuan Atmajaya yang selama ini berada di bawah pengelolaan keluarga juga akan diuangkan."

Dirga terdiam mendengarnya.

Bukan karena ia takut kehilangan warisan tersebut, melainkan karena ia mengetahui dengan jelas betapa besar usaha sang kakek dalam membangun semuanya selama puluhan tahun.

Beliau lebih memilih menyerahkan seluruh hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan daripada memaksakan warisannya jatuh ke tangan cucunya yang menolak amanat terakhirnya.

Dirga tertawa pelan karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Jadi Kakek sedang mengancamku untuk menikahi perempuan yang bahkan tidak aku kenal?" tanyanya dengan nada dingin.

"Beliau juga menuliskan satu hal lagi, Tuan."

Pengacara itu membuka lembar berikutnya.

"Jika kau memilih untuk tidak menikahinya, Kakek tidak akan marah. Kakek hanya berharap kau dapat menerima konsekuensi dari pilihanmu."

Dirga mengepalkan tangannya.

"Aku tidak membutuhkan warisan itu."

"Dirga!" tegur Laras.

"Aku serius, Bu. Aku tidak akan menikahi seseorang hanya demi harta."

"Masalahnya bukan tentang hartanya," sahut Lukman untuk pertama kalinya malam itu. "Ini adalah amanat terakhir dari kakekmu."

Dirga menggeleng pelan. Baginya, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan syarat sebuah warisan.

Ia telah memiliki perempuan yang ingin dinikahinya. Bahkan cincin lamaran untuk Viona telah dipersiapkannya sejak beberapa minggu lalu.

Tidak mungkin dirinya menghancurkan hubungan yang telah dibangunnya selama lima tahun hanya karena sebuah surat wasiat.

"Lalu siapa perempuan itu?" tanya Dirga.

"Maaf, Tuan. Identitas calon mempelai baru boleh diberitahukan setelah pihak keluarga yang bersangkutan juga menerima perjodohan ini."

Dirga menghela napas kasar.

"Kalau begitu jawabanku tetap sama."

"Apa keputusanmu, Dirga?" tanya Laras pelan.

"Aku menolak."

Dirga bangkit dari duduknya dan merapikan jas yang dikenakannya. "Aku menghormati kakek, tetapi kali ini aku memilih menentukan pasangan hidupku sendiri."

Tanpa menunggu tanggapan dari siapa pun, Dirga melangkahkan kaki meninggalkan ruang keluarga.

Baginya, tidak ada satu pun alasan yang cukup kuat untuk membuatnya menikahi perempuan asing yang tidak pernah di pilihnya sendiri.

Namun, yang tidak diketahui Dirga adalah, perempuan yang baru saja ditolaknya itu pun sedang menerima surat wasiat yang sama ditempat yang berbeda.

Surat Wasiat 2

...****************...

Sementara dikediaman keluarga Pradipta, seseorang tengah tersenyum kecil sambil memandangi sebuah map berwarna putih yang berada di tangannya.

Sudah lama sekali ia memimpikan hari ini. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Kanaya adalah sosok yang sangat ambisius dalam hal pendidikan. Selama masa kuliahnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar di banding mengikuti berbagai kegiatan yang tidak terlalu penting baginya.

Ia selalu percaya bahwa setiap orang memiliki impiannya masing-masing. Jika sebagian orang memimpikan pernikahan di usia muda, maka Kanaya memiliki impian yang telah di pupuknya sejak lama.

Ada banyak hal yang ingin dilakukannya sebelum memutuskan untuk membangun rumah tangga. Namun, impian itu hanya disimpannya sendiri. Bahkan kedua orang tuanya pun belum mengetahui secara pasti apa yang sedang di persiapkannya selama beberapa tahun terakhir.

Malam ini, ia akhirnya merasa telah siap untuk membagikan kabar tersebut kepada kedua orang tuanya.

Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu kemudian melangkah menuruni anak tangga dari lantai dua rumahnya. Senyum tipis yang sedari tadi menghiasi wajahnya bahkan belum juga menghilang.

"Naya?" panggil sang ibu dari arah ruang makan.

"Iya, Bu."

"Kamu dari tadi Ibu liat senyum-senyum terus. Ada kabar baik?"

Kanaya hanya tertawa pelan seraya memeluk map putih tersebut di dadanya. "Ada, Bu. Tapi Naya maunya cerita sekalian sama Ayah."

Wina yang melihat putrinya tampak begitu bahagia pun ikut tersenyum. Sejak kecil, Kanaya memang bukan tipe anak yang banyak bicara. Ia lebih sering menyimpan segala sesuatu sendiri hingga benar-benar yakin ingin membagikannya kepada orang lain.

Tak lama kemudian, suara mobil yang memasuki halaman rumah terdengar dari luar. Tama baru saja pulang dari kantornya.

Kanaya yang sedang membantu sang ibu menata meja makan pun segera menghampiri sang ayah.

"Ayah."

"Wah, putri Ayah ini kelihatannya lagi senang sekali," ujar Tama sembari tersenyum. "Ada apa?"

"Nanti saja, Yah. Pokoknya kabar baik."

Tama tertawa kecil mendengar jawaban putrinya. "Baiklah. Kalau begitu, Ayah akan menebaknya setelah makan malam."

...****************...

Suasana hangat keluarga Pradipta malam itu terasa seperti biasanya. Obrolan ringan di meja makan sesekali di iringi dengan candaan kecil dari kedua orang tuanya.

"Naya sekarang sudah dua puluh lima tahun, ya," ujar Wina di tengah makan malam mereka.

"Iya, Bu."

"Kalau dipikir-pikir, anak Ibu sudah cukup umur untuk menikah."

Kanaya hanya tersenyum kecil mendengar ucapan sang ibu. Topik tersebut sebenarnya bukan hal baru di rumah mereka. Namun, kedua orang tuanya tidak pernah sekalipun memaksanya untuk segera menikah.

"Kalau memang sudah menemukan orang yang tepat, Ayah dan Ibu pasti akan mendukung," ujar Tama.

"Untuk sekarang, Naya masih punya banyak hal yang ingin dilakukan," jawabnya lembut.

Tama tersenyum kecil mendengar jawaban putrinya. Sejak kecil, Kanaya memang selalu memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Ia bukan tipe anak yang mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya.

"Memangnya masih banyak yang ingin kamu capai?" tanyanya.

Kanaya mengangguk pelan. "Masih banyak, Yah."

"Sampai kapan?" g0da Wina sambil tertawa kecil.

Perempuan itu terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab dengan senyum tipis di wajahnya.

"Selama Naya masih di beri kesempatan untuk meraihnya."

Ucapan sederhana itu membuat kedua orang tuanya tersenyum bangga. Mereka tidak pernah sekalipun membatasi impian putri semata wayang mereka. Bagi Tama dan Wina, kebahagiaan Kanaya selalu menjadi prioritas utama.

...****************...

Setelah makan malam selesai, ketiganya berpindah ke ruang keluarga. Kanaya yang sejak tadi membawa map putih tersebut akhirnya merasa inilah waktu yang tepat untuk membuka pembicaraan.

"Yah, Bu, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Naya sampaikan."

Kedua orang tuanya pun menatapnya dengan penuh perhatian.

"Naya-..."

TING TONG!

Ucapan Kanaya terpotong oleh suara bel rumah yang tiba-tiba berbunyi.

Tama mengernyitkan dahinya. Jarum jam telah menunjukkan pukul delapan malam. Rasanya cukup jarang ada tamu yang datang di jam seperti itu tanpa memberi kabar terlebih dahulu.

"Ayah lihat dulu, ya."

Beberapa saat kemudian, Tama kembali ke ruang keluarga bersama seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam rapi.

"Selamat malam. Maaf mengganggu waktu bersama keluarga Anda , Pak Tama."

"Tidak apa-apa, Pak. Silakan duduk."

Pria tersebut kemudian meletakkan sebuah map berwarna cokelat di atas meja ruang keluarga sebelum menghela napas pelan.

Pria paruh baya itu menatap Kanaya selama beberapa saat sebelum tersenyum hangat.

"Tidak terasa ternyata Nona Kanaya sudah sebesar ini," ujarnya.

Kanaya hanya membalasnya dengan senyum sopan. Ia memang pernah beberapa kali bertemu dengan pria tersebut ketika masih kecil, meskipun tidak terlalu mengingatnya.

"Terakhir kali saya melihat Anda, sepertinya Anda masih duduk di bangku SMA ya?"

"Benar, Pak," jawab Kanaya singkat.

Ucapan tersebut membuat kedua orang tuanya kembali tersenyum. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa hari ini juga menjadi hari di bacakannya surat wasiat yang telah disimpan selama bertahun-tahun.

Pria tersebut kemudian meletakkan sebuah map berwarna cokelat di atas meja ruang keluarga sebelum menghela napas pelan.

"Saya datang malam ini untuk menyampaikan amanat terakhir dari mendiang Ayahanda anda, Pak Tama."

Suasana yang semula hangat mendadak berubah hening.

"Amanat?" tanya Tama heran.

Pria itu menganggukkan kepalanya pelan lalu mengalihkan pandangannya kepada Kanaya.

"Sesuai surat wasiat yang telah dititipkan kepada saya sejak beberapa tahun lalu, surat ini baru boleh dibacakan ketika Nona Kanaya Pradipta genap berusia dua puluh lima tahun."

Kanaya sedikit mengernyitkan dahinya. Seingatnya, sang kakek tidak pernah sekalipun menyinggung mengenai surat wasiat yang berkaitan dengan dirinya.

Yang ia ketahui, sang kakek hanyalah seseorang yang sangat menyayanginya semasa hidup. Bahkan, beliau selalu mendukung apapun keputusan yang di ambilnya selama itu merupakan hal yang baik.

Karena itulah, ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sang kakek ternyata telah meninggalkan sebuah amanat yang baru boleh di ketahuinya setelah genap berusia dua puluh lima tahun.

Dan untuk pertama kalinya, kabar yang begitu ingin ia sampaikan harus tertunda karena sebuah surat wasiat yang bahkan tidak pernah diketahuinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!