Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) menguasai ratusan sistem bintang yang tersebar di beberapa lengan Galaksi Bima Sakti. Jaringan gerbang antarbintang memungkinkan perjalanan yang dahulu memerlukan puluhan tahun kini dapat ditempuh dalam hitungan jam atau hari, tergantung jaraknya.
Ekspedisi ilmiah menjadi bagian penting dari perkembangan peradaban manusia. Setiap tahun puluhan armada diberangkatkan untuk memetakan wilayah baru, mencari sumber daya, dan meneliti planet yang berpotensi dihuni.
Tidak semua ekspedisi berhasil kembali.
ESS Horizon sedang berlabuh di Orbit Kallista, salah satu pangkalan luar angkasa terbesar milik PPM.
Kapal sepanjang hampir dua kilometer itu baru menyelesaikan misi survei selama delapan bulan di wilayah pinggiran galaksi. Lambungnya masih dipenuhi bekas debu antarbintang yang belum sempat dibersihkan.
Di dek komando, para teknisi sibuk mematikan sistem navigasi dan mengunduh data misi.
"Mesin warp dinonaktifkan."
"Reaktor memasuki mode siaga."
"Transfer data dimulai."
Suara laporan terdengar bergantian.
Kael berdiri di depan jendela utama sambil memperhatikan lalu lintas kapal di luar pangkalan.
"Kelihatannya kita akhirnya bisa libur," kata seorang perwira sambil melepas sarung tangannya.
Kael menoleh.
"Itu kalau markas tidak punya rencana lain."
Perwira itu tertawa.
"Kau selalu curiga."
"Bekerja di armada membuatku belajar satu hal."
"Apa?"
"Kalau semuanya terlihat tenang, biasanya pekerjaan baru sedang menunggu."
Belum sempat perwira itu menjawab, suara AURA memenuhi ruang komando.
"Wakil Kapten Kael, Anda dipanggil ke ruang komunikasi prioritas."
Kael menghela napas pendek.
"Nah, benar kan?"
Ruang komunikasi hanya diterangi cahaya dari layar holografik.
Beberapa detik kemudian, sosok seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun muncul.
Seragam hitam dengan lambang bintang emas di bahunya menunjukkan bahwa ia adalah anggota Dewan Armada.
"Laksamana Rowan."
Kael memberi hormat.
"Silakan duduk, Kael."
Nada bicara Rowan tenang, tetapi wajahnya terlihat serius.
"Bagaimana hasil misi terakhir?"
"Seluruh data survei sudah dikirim. Tidak ada kontak dengan peradaban asing maupun aktivitas yang mencurigakan."
"Bagus."
Laksamana tidak langsung melanjutkan pembicaraan. Ia membuka sebuah berkas di depannya.
"Liburmu dibatalkan."
Kael tersenyum kecil.
"Saya sudah menduganya."
"Kau tidak ingin tahu alasannya?"
"Tetap ingin."
"Kami akan membentuk ekspedisi baru."
"Ke mana?"
"Belum bisa saya jelaskan sekarang."
"Rahasia?"
"Prioritas tertinggi."
Kael mengangguk.
Kalau Dewan menggunakan istilah prioritas tertinggi, berarti informasi itu hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu.
"Berapa lama saya punya waktu untuk bersiap?"
"Dua hari."
"Hanya dua hari?"
"Ya."
"Itu berarti kapalnya sudah dipilih."
"Benar."
"ESS Horizon?"
Laksamana mengangguk pelan.
Satu jam kemudian Kael keluar dari ruang komunikasi.
Di koridor, Darius sedang menunggunya.
"Wajahmu tidak kelihatan seperti orang yang baru dapat cuti."
"Cuti dibatalkan."
"Aku tahu."
Kael berhenti berjalan.
"Kau tahu?"
"Tadi AURA mengirim pemberitahuan. Semua perwira diminta tetap berada di pangkalan."
"Ada misi baru."
"Sepertinya begitu."
Darius memasukkan kedua tangannya ke saku seragam.
"Semoga kali ini bukan survei asteroid lagi."
Kael tertawa pelan.
"Kalau sampai Dewan turun tangan langsung, rasanya bukan misi biasa."
Sementara itu, di Kompleks Riset Biologi PPM yang berada di sisi lain Orbit Kallista, seorang wanita sedang berdiri di depan meja laboratorium.
Puluhan layar transparan menampilkan hasil analisis mikroorganisme dari planet yang baru ditemukan beberapa minggu sebelumnya.
"Dokter Lyra."
Seorang asisten masuk tergesa-gesa.
"Ada panggilan dari Dewan."
Lyra mengangkat kepala.
"Dewan?"
"Ya."
"Asisten saya yang membuat janji?"
"Tidak."
"Kalau begitu pasti bukan soal penelitian."
Ia melepaskan sarung tangan laboratorium, lalu berjalan menuju ruang komunikasi.
Sesampainya di sana, layar holografik langsung menyala.
Laksamana Rowan muncul dengan ekspresi yang sama seperti ketika berbicara dengan Kael.
"Dokter Lyra."
"Laksamana."
"Kami membutuhkan keahlian Anda."
"Untuk penelitian apa?"
"Bukan penelitian."
"Lalu?"
"Ekspedisi."
Lyra terdiam beberapa detik.
"Saya bukan anggota armada."
"Itulah sebabnya kami menghubungi Anda."
"Apa yang akan diteliti?"
"Jawaban itu akan Anda terima setelah bergabung dengan tim."
Lyra tidak langsung menjawab.
Ia terbiasa menerima undangan penelitian, tetapi tidak pernah direkrut untuk sebuah ekspedisi militer.
"Laporan lengkap akan dikirim dalam satu jam."
"Berapa lama misi ini?"
"Kami belum tahu."
Malam itu, di pusat data PPM, sebuah berkas digital diberi status OMEGA.
Hanya dua belas nama yang tercantum sebagai penerima akses.
Nama pertama adalah Kapten Idris.
Nama kedua adalah Kael.
Nama ketiga adalah Lyra.
Sembilan nama lainnya masih dirahasiakan.
Di halaman terakhir berkas hanya ada satu kalimat.
Tujuan ekspedisi: Galaksi Asterion.
Di bawahnya terdapat catatan tambahan.
Alasan keberangkatan akan dijelaskan setelah seluruh anggota tim berkumpul.
Ruang rapat utama di Markas Armada PPM tidak pernah dibuka untuk umum.
Ruangan berbentuk lingkaran itu berada tiga tingkat di bawah pusat komando Orbit Kallista. Tidak ada jendela. Dindingnya dilapisi material anti-pemindaian, sementara setiap orang yang masuk harus melewati tiga lapis pemeriksaan identitas.
Kael tiba sepuluh menit lebih awal.
Seorang petugas keamanan memindai retina dan sidik telapak tangannya sebelum pintu terbuka.
"Silakan masuk, Wakil Kapten."
Di dalam ruangan sudah ada tiga orang.
Kapten Idris sedang membaca dokumen di tablet. Rambutnya mulai memutih, tetapi posturnya masih tegap seperti seorang prajurit aktif.
Darius duduk sambil menikmati secangkir kopi.
"Kael."
"Pagi."
Darius menunjuk kursi kosong.
"Duduk saja. Sepertinya kita masih harus menunggu."
Kael melihat jam di dinding.
"Tepat waktu?"
"Katanya begitu."
---
Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka.
Seorang wanita masuk sambil membawa tablet tipis berisi data penelitian.
Kael langsung mengenalinya dari berkas yang dikirim semalam.
**Dr. Lyra.**
Ia mengenakan pakaian sipil berwarna abu-abu, berbeda dengan para perwira yang memakai seragam.
"Silakan duduk, Dokter," kata Kapten Idris.
"Terima kasih."
Lyra memilih kursi yang berada di sisi berlawanan meja.
Tidak lama kemudian, delapan orang lainnya menyusul.
Seorang ahli navigasi.
Dokter kapal.
Insinyur reaktor.
Pakar komunikasi.
Ahli geologi planet.
Petugas keamanan.
Pilot cadangan.
Dan seorang analis data.
Jumlah mereka tepat dua belas orang.
Pintu ruangan menutup otomatis.
Lampu berubah redup.
AURA muncul sebagai hologram berwarna biru di tengah meja.
"Selamat pagi."
"Tingkat keamanan rapat ini adalah Omega."
"Seluruh percakapan akan dienkripsi dan tidak direkam di jaringan umum."
Kapten Idris menatap semua orang.
"Mulai sekarang, apa pun yang dibahas di ruangan ini tidak boleh keluar sebelum mendapat izin Dewan."
Tidak ada yang berbicara.
---
Laksamana Rowan muncul melalui proyeksi holografik.
"Terima kasih sudah datang."
Beliau mengusap layar di depannya.
Sebuah peta galaksi memenuhi ruangan.
"Tiga minggu lalu, salah satu stasiun observatorium kami menangkap sebuah sinyal."
Beberapa titik cahaya muncul di peta.
"Awalnya kami mengira itu gangguan alat."
"Lalu?"
tanya Darius.
"Kami memeriksa observatorium lain."
"Hasilnya sama."
Laksamana memperbesar peta.
Sumber sinyal berada jauh di luar jalur pelayaran rutin PPM.
"Lokasinya berada di Galaksi Asterion."
Lyra mengangkat tangan.
"Sejauh yang saya tahu, Asterion belum pernah dijelajahi."
"Benar."
"Lalu bagaimana kita bisa memastikan sumbernya dari sana?"
"Karena tiga observatorium berbeda melakukan triangulasi."
AURA menampilkan garis-garis yang saling berpotongan.
Titik perpotongannya hanya satu.
Galaksi Asterion.
---
Kael memperhatikan data yang terus berganti.
"Apakah sinyal itu masih diterima?"
"Masih."
"Isinya?"
"Itulah masalahnya."
Laksamana menggeleng pelan.
"Kami tidak bisa menerjemahkannya."
Pakar komunikasi membuka data di tabletnya.
"Apakah ini bahasa?"
"Tidak diketahui."
"Kode?"
"Tidak diketahui."
"Sistem koordinat?"
"Tidak diketahui."
Ruangan kembali sunyi.
---
Lyra memperbesar bentuk gelombang.
Ia mengamati beberapa saat sebelum berbicara.
"Pola ini bukan acak."
Semua menoleh kepadanya.
"Kenapa Anda yakin?"
tanya Kapten Idris.
"Karena ada pengulangan."
Ia menandai beberapa bagian.
"Kalau ini gangguan kosmik, bentuknya akan berubah-ubah."
"Sedangkan yang ini?"
"Urutannya tetap."
Darius ikut melihat layar.
"Artinya?"
Lyra menggeleng.
"Saya belum tahu."
"Tapi saya yakin ada sesuatu yang sengaja mempertahankan pola itu."
---
Laksamana Rowan kembali mengambil alih pembicaraan.
"Selama tiga minggu terakhir kami merahasiakan informasi ini."
"Kenapa?"
tanya Kael.
"Karena kami tidak ingin menimbulkan kepanikan."
"Apakah Dewan menganggap sinyal ini ancaman?"
"Tidak."
"Apakah dianggap peluang?"
"Itu juga belum tentu."
"Jadi alasan membentuk ekspedisi?"
Laksamana menjawab tanpa ragu.
"Kita membutuhkan jawaban sebelum membuat kesimpulan."
---
AURA menampilkan gambar ESS Horizon.
"Kapal ini dipilih karena memiliki jangkauan terjauh di armada eksplorasi."
Insinyur reaktor mengangkat tangan.
"Perjalanan ke Asterion membutuhkan beberapa gerbang antarbintang."
"Benar."
"Namun jaringan gerbang berhenti sebelum memasuki wilayah galaksi itu."
"Benar."
"Berarti sebagian perjalanan harus menggunakan mesin warp."
"Benar."
Ia mengangguk pelan.
"Itu akan menjadi perjalanan terjauh dalam sejarah PPM."
Tidak ada yang membantah.
---
Kapten Idris berdiri.
"Saya ingin menjelaskan tujuan misi dengan sederhana."
Beliau melihat satu per satu anggota tim.
"Kita tidak pergi untuk berperang."
"Kita juga tidak pergi untuk membangun koloni."
"Kita hanya memiliki tiga tugas."
Ia mengangkat satu jari.
"Menemukan sumber sinyal."
Jari kedua.
"Mengidentifikasi penyebabnya."
Jari ketiga.
"Kembali membawa laporan."
"Itu saja."
Kael tersenyum tipis.
"Kedengarannya sederhana."
Kapten Idris ikut tersenyum.
"Kalau Dewan sampai memilih dua belas orang secara langsung, biasanya tugas yang terdengar sederhana justru paling sulit."
Beberapa orang mengangguk setuju.
---
Saat rapat hampir selesai, seorang petugas masuk dengan tergesa-gesa.
"Laksamana."
"Ada apa?"
Petugas itu menyerahkan tablet.
Rowan membacanya beberapa detik.
Ekspresinya langsung berubah.
"AURA."
"Ya, Laksamana."
"Tampilkan pembacaan terbaru."
Gelombang sinyal muncul kembali.
Namun kali ini seluruh orang di ruangan langsung menyadari perbedaannya.
Puncak gelombang yang sebelumnya berulang dengan pola tetap kini berubah.
Lebih cepat.
Lebih rapat.
AURA menyelesaikan analisis dalam beberapa detik.
"Hasil terbaru."
"Sinyal mengalami perubahan pola pada pukul 09.42 waktu standar."
Kael mengerutkan dahi.
"Apa artinya?"
AURA menjawab,
"Belum dapat dipastikan."
"Namun kemungkinan bahwa perubahan ini terjadi secara alami turun dari 0,3 persen menjadi 0,00002 persen."
Ruangan kembali hening.
Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, tidak seorang pun menganggap misi ini sebagai ekspedisi ilmiah biasa.
Rapat berakhir hampir dua jam kemudian.
Sebelum meninggalkan ruangan, setiap anggota tim diminta menyerahkan seluruh perangkat komunikasi pribadi. Sebagai gantinya, mereka menerima sebuah gelang identitas berwarna hitam.
Petugas keamanan menjelaskan fungsinya.
"Gelang ini adalah identitas resmi kalian selama misi. Seluruh akses ke ESS Horizon menggunakan gelang ini, mulai dari membuka pintu hingga mengakses data. Jangan sampai hilang."
Darius memasang gelangnya sambil bergumam, "Kalau hilang?"
"Anda tidak akan bisa masuk ke kamar sendiri."
Beberapa orang tertawa kecil.
Suasana yang sejak tadi tegang mulai sedikit mencair.
---
Di koridor luar, Kael berjalan berdampingan dengan Kapten Idris.
"Kau kelihatan sedang berpikir."
Kael mengangguk.
"Ada yang mengganggu."
"Apa?"
"Kenapa hanya dua belas orang?"
Kapten Idris menatap ke depan.
"Menurutmu berapa kru ideal untuk ekspedisi seperti ini?"
"Lima puluh sampai seratus."
"Itu juga pendapatku."
"Lalu kenapa dua belas?"
Kapten Idris berhenti di depan lift.
"Itu pertanyaan yang sama dengan yang kutanyakan kepada Dewan."
"Jawaban mereka?"
"'Semakin sedikit orang yang tahu, semakin kecil risikonya.'"
"Risiko apa?"
Kapten Idris menggeleng.
"Mereka tidak menjelaskan."
Pintu lift terbuka.
Keduanya masuk tanpa melanjutkan pembicaraan.
---
Sementara itu, Lyra menuju laboratoriumnya untuk membereskan penelitian yang belum selesai.
Asistennya, Nia, sudah menunggu.
"Jadi benar?"
Lyra mengangguk.
"Aku berangkat lusa."
"Berapa lama?"
"Belum ada kepastian."
Nia menghela napas.
"Kalau begitu penelitian tanaman di Vega-12 bagaimana?"
"Kamu yang lanjutkan."
"Aku?"
"Kamu sudah ikut proyek ini selama tiga tahun."
"Tapi..."
"Nia."
Lyra menatap asistennya.
"Kalau aku tidak kembali, seluruh data penelitian menjadi tanggung jawabmu."
Nia terdiam.
Ia ingin membantah, tetapi tidak sanggup.
---
Di hanggar utama, ESS Horizon mulai dipersiapkan.
Puluhan kontainer logistik dimasukkan ke ruang kargo.
Robot pengangkat bekerja tanpa henti.
Insinyur reaktor memeriksa inti energi kapal untuk terakhir kalinya.
"Kondisi reaktor?"
"Stabil."
"Cadangan bahan bakar?"
"Cukup untuk empat tahun operasi."
Darius melihat daftar logistik.
"Kenapa persediaan makanan sebanyak ini?"
Petugas logistik menjawab,
"Perintah langsung dari Dewan."
"Padahal misi ini diperkirakan kurang dari satu tahun."
"Perintahnya tetap empat tahun."
Darius saling berpandangan dengan Kael.
Tidak ada yang mengomentari lagi.
---
Sore harinya seluruh anggota tim mendapat kesempatan memeriksa kapal.
Kapten Idris memimpin tur singkat.
"Ini dek komando."
"Di bawahnya ruang mesin."
"Dek tiga berisi laboratorium."
"Dek empat adalah ruang medis."
"Dek lima untuk tempat tinggal kru."
Ia berhenti di depan sebuah pintu besar.
"Ruangan ini hanya bisa diakses oleh saya, Kael, dan AURA."
Seorang analis data bertanya.
"Isinya apa?"
"Pusat data rahasia."
"Termasuk data sinyal?"
"Ya."
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
---
Ketika rombongan tiba di laboratorium biologi, Lyra mulai memeriksa fasilitas yang tersedia.
"Peralatannya baru semua."
Kepala teknisi mengangguk.
"Laboratorium ini dibangun sesuai daftar yang Anda kirim enam bulan lalu."
Lyra terlihat heran.
"Enam bulan?"
"Ya."
"Saya tidak pernah mengirim daftar."
Teknisi membuka tabletnya.
"Permintaan itu memakai identitas Anda."
Lyra mengambil tablet tersebut.
Di layar memang tercantum namanya.
Namun tanggal pengirimannya membuat dahinya berkerut.
Enam bulan yang lalu.
Saat itu ia sedang berada di planet Argen dan tidak memiliki akses ke jaringan pusat PPM.
"Ini aneh..."
"Ada masalah?"
Lyra mengembalikan tablet.
"Mungkin kesalahan administrasi."
Meski berkata demikian, ia sama sekali tidak yakin.
---
Malam menjelang.
Sebagian besar anggota tim sudah kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Kael memilih tetap berada di hanggar.
Ia memperhatikan ESS Horizon yang kini hampir selesai dipersiapkan.
"Aku tahu kau ada di sini."
Kael menoleh.
Darius datang membawa dua gelas kopi.
"Satu untukmu."
"Terima kasih."
Mereka berdiri menghadap kapal.
"Kau percaya sama sinyal itu?" tanya Darius.
"Percaya."
"Maksudku, kau percaya itu berasal dari makhluk lain?"
Kael meminum kopinya sebelum menjawab.
"Aku tidak tahu."
"Tapi kalau Dewan merahasiakannya selama tiga minggu, berarti mereka menemukan sesuatu yang tidak ada dalam laporan resmi."
Darius mengangguk pelan.
"Itu juga yang kupikirkan."
---
Di waktu yang hampir bersamaan...
Di sebuah ruangan yang jauh lebih dalam dari markas armada, hanya ada tiga orang.
Laksamana Rowan.
Ketua Dewan PPM.
Dan seorang wanita tua yang memimpin Divisi Intelijen.
Sebuah layar menampilkan data yang tidak pernah diperlihatkan kepada dua belas anggota ekspedisi.
Ketua Dewan memecah keheningan.
"Apakah mereka sudah diberi seluruh informasi?"
Wanita tua itu menjawab singkat.
"Belum."
"Bagian mana yang disembunyikan?"
Ia menyentuh layar.
Peta Galaksi Asterion muncul.
Kemudian muncul beberapa titik kecil berwarna biru.
Jumlahnya puluhan.
"Itu apa?" tanya Rowan.
"Ekspedisi."
"Maksud Anda..."
"Ya."
Wanita itu menarik napas pelan.
"Dalam seratus lima puluh tahun terakhir..."
"...PPM telah mengirim dua puluh tiga ekspedisi ke arah Galaksi Asterion."
Rowan langsung menatapnya.
"Dua puluh tiga?"
"Benar."
"Lalu kenapa arsip resmi hanya mencatat satu?"
"Karena dua puluh dua lainnya..."
Wanita itu menghentikan kalimatnya sejenak.
"...tidak pernah kembali."
Ruangan kembali sunyi.
Ketua Dewan mematikan layar.
"Kalau begitu, semoga ekspedisi kedua puluh empat membawa jawaban."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!