Aku kembali ke SD Negeri Wanasetra pada suatu pagi yang cerah, hampir dua puluh empat tahun setelah terakhir kali duduk sebagai murid di sana. Jalan menuju sekolah sudah berubah. Dulu, kami harus melewati tanah merah yang licin dan batu-batu tajam. Kini, mobil dapat berhenti tepat di depan gerbang. Ada pagar besi, taman kecil, dan papan nama baru yang hurufnya berkilau ketika terkena matahari.
Aku berdiri beberapa saat di depan gerbang. Anak-anak berlari melewatiku dengan sepatu bersih dan tas berwarna-warni. Beberapa diantar oleh orang tua menggunakan sepeda motor. Seorang anak mengeluh karena ujung sepatunya terkena debu. Ibunya segera mengusapnya dengan saputangan. Pemandangan kecil itu membuatku tersenyum, tetapi juga meninggalkan rasa berat yang sulit dijelaskan.
"Kak Langga!"
Suara Nira terdengar dari teras kelas. Ia melambaikan tangan sambil berjalan cepat ke arahku. Rambutnya kini dipotong sebahu. Kacamata tipis bertengger di hidungnya. Sulit bagiku menyatukan sosok guru yang berdiri di depan murid-murid itu dengan anak kecil yang dulu selalu berjalan dua langkah di belakangku.
"Kau terlambat," katanya.
"Jalannya terlalu bagus. Aku sampai tidak mengenalinya."
Nira tertawa kecil. "Dulu kita berdoa supaya jalan ini dibangun. Sekarang Kakak malah menyalahkannya."
Hari itu sekolah mengadakan pameran kecil tentang sejarah Dusun Wanasetra dan perjuangan anak-anak mendapatkan pendidikan. Nira, yang telah mengajar di sana selama enam tahun, memintaku datang sebagai salah satu narasumber. Aku sebenarnya tidak suka berdiri di depan banyak orang. Namun, ia mengatakan murid-murid perlu mendengar kisah lama langsung dari seseorang yang mengalaminya.
Sebelum acara dimulai, Nira mengajakku masuk ke ruang kelas lama kami. Dindingnya telah dicat warna krem. Jendelanya lebih lebar dan lantainya sudah memakai keramik. Hanya papan tulis kayu di sudut ruangan yang masih tampak sama. Pada permukaannya terdapat goresan kapur yang tidak pernah benar-benar hilang.
"Meja guru ini mau diganti," kata Nira. "Kemarin aku membantu Pak Wiraga memindahkan barang. Lalu kami menemukan sesuatu."
Ia berjongkok di samping meja guru yang tua. Dari bawahnya, Nira menarik sebuah kotak kardus. Warnanya telah berubah menjadi cokelat pucat. Beberapa bagian sudutnya dimakan lembap. Pada tutupnya masih terlihat tulisan yang dibuat dengan spidol hitam, meski sebagian huruf sudah luntur.
LANGGA DAN NIRA.
Aku tidak langsung menyentuhnya.
Tulisan itu membawa kembali suara yang lama tidak kudengar: bunyi hujan di atas atap seng, suara Ibu meniup lampu minyak, dan napas Nira ketika berusaha mengimbangi langkahku. Aku mengira semua benda dari masa itu sudah hilang. Rumah lama kami telah diperbaiki. Banyak pakaian dibuang. Buku-buku sekolah rusak dimakan rayap. Namun, kotak ini ternyata bertahan di bawah meja guru, seolah menunggu kami pulang.
"Buka," kata Nira pelan.
Aku duduk di kursi murid. Tanganku terasa kaku saat mengangkat tutup kardus. Bau kertas tua dan tanah kering keluar dari dalamnya. Di atas beberapa buku tulis yang menguning, terbaring sepasang sepatu kecil.
Sepatu itu tidak lagi memiliki warna yang jelas. Kulitnya mengelupas. Bagian depan penuh retakan. Telapaknya ditambal potongan ban hitam dan dijahit dengan benang kasar. Tali sepatu kanan berwarna putih kusam, sedangkan tali kiri berwarna merah pudar. Salah satu sisinya masih memiliki noda lumpur yang mengeras seperti batu tipis.
Aku mengenal setiap luka pada sepatu itu. Ingatanku bahkan masih menyimpan beratnya ketika basah dan bunyi aneh yang muncul setiap kali telapaknya mulai terlepas. Dahulu aku sering malu membawanya ke sekolah. Kini, di ruang kelas yang sepi itu, aku justru takut benda itu hancur sebelum sempat menceritakan apa pun.
Jahitan miring di dekat tumit adalah jahitanku yang pertama. Tambalan bundar di bagian telapak dibuat Ayah pada malam sebelum ujian. Tali merah berasal dari Mbah Wreda. Noda kecil berwarna kecokelatan di sisi dalam pernah kukira karat, sampai bertahun-tahun kemudian aku sadar itu adalah bekas darah dari kaki Nira.
"Masih kecil sekali," kataku.
"Kakak selalu bilang kakiku besar."
"Karena kau sering menginjak kakiku saat menyeberang sungai."
Nira tidak membalas. Dari aula terdengar beberapa murid memanggilnya Bu Nira. Ia menoleh sebentar, lalu tersenyum kepadaku. Dahulu ia paling takut berbicara dengan orang asing. Sekarang ia berdiri setiap hari di depan kelas, membimbing anak-anak membaca seperti Bu Satya pernah membimbingnya.
Ia duduk di kursi sebelahku dan menatap sepatu itu lama. Matanya tampak basah, tetapi ia tidak menangis. Kami berdua sudah terlalu sering menangisi masa lalu. Kini, kesedihan datang dengan cara lain: diam yang panjang, napas yang berat, atau tangan yang ragu menyentuh benda lama.
Aku mengangkat sepatu kiri. Kulitnya rapuh. Jika kutekan terlalu kuat, mungkin bagian depannya akan patah. Aneh sekali, pikirku. Benda sekecil ini pernah menanggung perjalanan ribuan kilometer. Ia melewati tujuh tikungan, tiga lereng, dua kebun, satu sungai, dan banyak hari ketika kami ingin menyerah.
Dari luar kelas terdengar suara bel. Murid-murid mulai berkumpul di aula. Mereka tertawa, saling memanggil, dan menyeret kursi tanpa rasa takut akan hujan atau sungai yang tiba-tiba naik. Aku menatap kaki mereka. Hampir semua memakai sepatu dengan ukuran yang tepat. Tidak ada yang mengganjal ujung sepatu dengan kain. Tidak ada yang mengikat telapak menggunakan kawat.
"Mereka tidak akan mengerti hanya dengan melihatnya," kataku.
"Itulah sebabnya Kakak harus bercerita."
Aku menggeleng. "Cerita kita terlalu panjang."
"Biarkan panjang. Mereka punya waktu."
Aku memandang jendela. Dari sana, jalan aspal tampak memanjang sampai ke arah Dusun Wanasetra. Jalan itu dulu hanya ada dalam ucapan Ayah. Ia selalu berkata suatu hari akan ada jalan yang bisa dilalui kendaraan. Kami mengangguk karena ingin mempercayainya, walau saat itu bahkan jembatan sederhana pun belum ada.
Nira mengambil sepatu kanan dan membersihkan debu di permukaannya dengan ujung lengan. Gerakannya hati-hati, seperti sedang menyentuh sesuatu yang hidup.
"Kak," katanya, "anak-anak sekarang sering mengira sekolah selalu sedekat ini. Mereka tidak tahu bahwa dulu ada anak yang harus bangun ketika langit masih gelap. Mereka juga tidak tahu ada orang-orang yang tidak sempat melihat jalan ini selesai."
Nama Ayah tidak disebut, tetapi aku mendengarnya di dalam kalimat itu.
Aku menutup mata sesaat. Bau tanah basah kembali memenuhi hidungku. Ruang kelas yang baru dicat menghilang. Aku melihat dinding bambu rumah kami, lampu minyak yang bergoyang, dan Nira kecil yang duduk sambil menguap. Aku melihat Ayah meletakkan dua pasang sepatu bekas di lantai. Aku mendengar Ibu berkata agar kami menjaga sepatu itu baik-baik karena tidak akan ada uang untuk membeli pengganti.
Ketika membuka mata, Nira masih menatapku.
Ia meletakkan sepatu lusuh itu di atas meja guru, lalu berbisik, "Kak, ceritakan kepada mereka bagaimana sepatu ini membawa kita sampai ke sini."
Dulu, namaku Elangga Ranuatmaja, tetapi orang-orang di dusun memanggilku Langga. Saat itu aku berusia sebelas tahun dan duduk di kelas lima SD. Adikku bernama Nirwasita Purnamasari. Kami memanggilnya Nira. Umurnya delapan tahun dan baru masuk kelas dua.
Pada masa itu, pagi di rumah kami selalu dimulai ketika langit masih gelap. Tidak ada jam dinding. Ibu mengetahui waktu dari suara jangkrik yang mulai pelan dan ayam tetangga yang belum sempat berkokok. Jika Ibu sudah meniup bara di tungku, berarti kami harus bangun.
"Langga, bangunkan adikmu," katanya dari dapur.
Aku membuka mata dengan susah payah. Udara dari sela-sela dinding bambu terasa dingin di kulit. Di sampingku, Nira masih menggulung tubuh di dalam selimut tipis. Hanya rambutnya yang terlihat.
"Nira," panggilku sambil menggoyang bahunya. "Bangun."
Ia mengerang dan menarik selimut sampai menutup kepala.
"Masih malam, Kak."
"Kalau menunggu terang, kita sampai sekolah saat anak-anak lain pulang."
Nira mengintip dari bawah selimut. Matanya masih setengah tertutup. "Mungkin sekolahnya bisa dipindah ke sini."
Aku tertawa pelan. "Coba bilang kepada kepala sekolah."
Rumah kami berdiri di ujung Dusun Wanasetra, di kaki Bukit Giriwungu. Ada enam belas rumah di dusun itu. Semuanya terbuat dari bambu atau papan. Ketika musim kemarau, tanah di depan rumah pecah-pecah. Ketika musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur yang bisa menelan sandal sampai mata kaki.
Tidak ada listrik. Lampu minyak adalah satu-satunya cahaya. Tidak ada kendaraan yang bisa masuk karena jalan terlalu sempit dan menurun tajam. Orang yang ingin pergi ke pasar harus berjalan sampai jalan kabupaten, lalu menunggu mobil bak terbuka yang lewat. Sekolah kami berada lebih jauh lagi, sekitar tujuh kilometer dari rumah.
Ibu menuangkan air hangat ke baskom kecil. Aku dan Nira mencuci muka bergantian. Air itu segera berubah keruh karena sisa tanah di tangan dan kaki kami. Nira menggigil saat membuka baju tidur.
"Pakai baju rangkap," kata Ibu. "Kabut turun tebal."
Seragam kami digantung dekat tungku sejak malam. Warnanya tidak lagi benar-benar putih. Ibu sering menggosoknya dengan abu dapur agar noda tanah berkurang. Kemejaku memiliki tambalan kecil di siku. Rok Nira adalah bekas milik sepupu kami dan masih terlalu panjang, sehingga Ibu melipat bagian pinggangnya dua kali.
Ayah duduk di dekat pintu sambil memandang langit melalui celah dinding. Namanya Waskita Ranuatmaja. Ia jarang bicara pada pagi hari. Wajahnya selalu tampak lelah karena bekerja di ladang orang sampai sore. Tangannya kasar dan penuh garis luka.
"Tidak hujan," katanya. "Tapi sungai mungkin naik karena hujan di bukit semalam."
Aku berhenti memasang kancing. "Kalau tinggi, kami lewat mana?"
"Lihat dulu. Jangan memaksa. Kalau air sampai menutup batu ketiga, pulang."
Aku mengangguk, meski dalam hati khawatir. Minggu sebelumnya aku sudah terlambat dua kali. Pak Sasmita, kepala sekolah, mengatakan satu keterlambatan lagi akan dicatat dalam buku kedisiplinan. Ia tidak pernah melihat sungai kami. Baginya, terlambat adalah terlambat.
Ibu membungkus nasi jagung dengan daun pisang. Di dalamnya hanya ada sedikit garam dan dua potong tempe tipis. Ia membagi bekal menjadi dua, lalu memasukkannya ke tas kain kami.
"Makan saat istirahat," pesannya. "Jangan di jalan."
Nira mengangguk terlalu cepat. Aku tahu ia sering lapar sebelum sampai sekolah. Kadang-kadang ia menggigit ujung daun pisang hanya untuk mencium bau nasi.
Setelah bersiap, kami duduk di lantai menunggu Ayah selesai memeriksa sesuatu di sudut rumah. Biasanya kami berangkat menggunakan sandal jepit. Di dekat sekolah, kami mencuci kaki lalu memakai sepatu yang disimpan dalam tas. Tetapi sandal kami sudah terlalu tipis. Sandal Nira putus dua hari sebelumnya dan diikat menggunakan tali rafia.
Ayah kembali membawa dua bungkusan koran.
"Apa itu?" tanya Nira.
Ayah meletakkannya di lantai. Ia tidak langsung menjawab. Wajahnya tampak berbeda, antara bangga dan cemas. Ibu berhenti mengikat bekal dan ikut memandang.
Ayah membuka bungkusan pertama. Di dalamnya ada sepasang sepatu hitam. Permukaannya kusam dan bagian depan penuh goresan. Setelah itu, ia membuka bungkusan kedua. Sepasang sepatu cokelat kecil muncul, meski ukurannya masih tampak terlalu besar untuk kaki Nira.
Mata adikku langsung terbuka lebar.
"Sepatu baru?"
Ayah tersenyum tipis. "Bukan baru. Tapi masih bisa dipakai."
Ia mendapatkannya dari pasar loak di kecamatan. Dua hari sebelumnya, Ayah membawa dua karung singkong untuk dijual. Uangnya seharusnya dipakai membeli minyak tanah dan beras. Namun, di pasar ia melihat tumpukan sepatu bekas milik anak sekolah. Ia menawar lama sampai pedagang bersedia melepas dua pasang dengan harga murah.
Ibu memegang sepatu hitam itu. "Minyak tanah tinggal sedikit."
"Aku bisa cari kayu lebih banyak," jawab Ayah.
"Beras juga tinggal dua kaleng."
Ayah menunduk. "Kalau mereka tidak punya sepatu, mereka disuruh berdiri di luar kelas lagi."
Aku tahu yang ia maksud. Pada upacara hari Senin, Pak Sasmita pernah memisahkan anak-anak yang tidak memakai sepatu. Aku berdiri bersama enam murid lain di dekat pagar. Nira menangis karena mengira aku dihukum. Sejak itu, Ayah selalu berkata akan mencarikan sepatu, walau aku tidak pernah benar-benar percaya.
Ibu menghela napas. Ia tidak marah. Ia hanya menghitung lagi sisa uang di dalam kaleng kecil. Lalu ia menyentuh bahu Ayah.
"Nanti aku buat keripik singkong lebih banyak," katanya.
Ayah mengangguk. Kami semua tahu singkong di kebun belum tentu cukup. Namun, pagi itu tidak ada yang ingin merusak kegembiraan Nira.
Adikku segera memasukkan kaki ke sepatu cokelat. Kakinya tenggelam di dalamnya. Ketika ia berdiri, tumitnya terangkat dan hampir terlepas.
"Besar sekali," kataku.
"Nanti kakiku tumbuh," jawabnya yakin.
Ayah mengambil potongan kain dari sebuah karung lama. Ia menggulungnya lalu memasukkannya ke ujung sepatu Nira. Setelah itu, ia mengikat talinya kuat-kuat. Nira mencoba berjalan mengelilingi ruangan. Langkahnya kaku, tetapi wajahnya cerah seolah seluruh rumah telah mendapat cahaya baru.
Aku belum mencoba sepatuku. Aku takut ukurannya terlalu kecil. Aku juga takut melihat pengorbanan Ayah menjadi sia-sia. Namun, ia mendorong pasangan hitam itu ke arahku.
"Pakai, Langga."
Aku memasukkan kaki kanan. Tumitku terjepit, tetapi masih bisa masuk. Kaki kiri lebih sulit. Aku harus menarik bagian belakang sepatu dengan kedua tangan. Ketika akhirnya terpasang, jari-jariku menekuk di dalam.
"Pas?" tanya Ayah.
Aku menatap tangannya yang penuh luka, lalu mengangguk. "Pas."
Ayah berjongkok dan memeriksa tali sepatu kami satu per satu. Wajahnya sangat dekat dengan lantai. Saat itu aku belum memahami mengapa ia memandang sepatu bekas itu seperti benda berharga. Bertahun-tahun kemudian, barulah aku mengerti: ia sedang melihat jalan yang mungkin membawa anak-anaknya keluar dari kesulitan yang sama.
Ia berdiri dan membuka pintu. Udara dingin masuk bersama kabut.
"Berangkatlah sebelum matahari muncul," katanya. "Dan jaga sepatu itu baik-baik. Kita harus membuatnya bertahan sampai tahun ajaran selesai."
Sepatu dari pasar loak itu menjadi benda paling mahal yang pernah kami miliki, meskipun kulitnya mengelupas dan baunya seperti gudang lembap. Nira tidak peduli. Ia duduk di lantai sambil mengangkat kedua kakinya, memandang sepatu cokelat kebesaran itu dari berbagai arah.
"Kak, lihat. Aku seperti anak kota," katanya.
Aku hampir tertawa, tetapi urung. Ia mengatakannya dengan sangat bangga. Di buku pelajaran, anak-anak kota selalu digambar memakai sepatu bersih, kaus kaki putih, dan tas punggung yang bagus. Bagi Nira, sepasang sepatu bekas sudah cukup untuk membuatnya merasa dekat dengan dunia itu.
Ayah kemudian bercerita bahwa ia menemukan sepatu itu di sudut paling belakang pasar, bercampur dengan sandal putus dan tas sobek. Pedagang meminta harga yang tidak sanggup dibayarnya. Ayah menawar sambil menunjukkan uang hasil penjualan singkong. Ia pulang tanpa membeli gula, dan berjalan membawa dua bungkusan koran di bawah ketiaknya. Saat itu aku belum tahu bagian cerita tersebut; aku baru mendengarnya dari Ibu bertahun-tahun kemudian.
Sepatuku sendiri berwarna hitam. Mungkin dahulu mengilap, tetapi bagian depannya telah berubah abu-abu. Ada lipatan dalam di dekat jari kaki dan goresan panjang di sisi kanan. Solnya tipis. Ketika kutekan menggunakan ibu jari, bagian tengahnya melengkung seperti daun kering.
"Jangan ditekan begitu," kata Ayah. "Nanti cepat rusak."
Aku segera melepaskan tangan.
Ibu membawa kain basah dan membersihkan kedua pasang sepatu. Debu hitam menempel pada kain. Setelah dibersihkan, warnanya tidak banyak berubah. Namun, Nira tetap tersenyum. Ia membantu Ibu menggosok bagian depan menggunakan sedikit minyak kelapa.
"Kalau diolesi, kelihatan baru," katanya.
"Jangan terlalu banyak," jawab Ibu. "Nanti debu menempel semua."
Pagi itu kami tidak langsung berangkat. Ayah meminta kami mencoba berjalan di halaman terlebih dahulu. Ia ingin memastikan sepatu tidak terlepas di jalan. Kabut masih menutup pohon-pohon di belakang rumah. Tanah dingin dan sedikit basah.
Nira melangkah lebih dahulu. Sepatunya mengeluarkan bunyi berdecit. Pada langkah ketiga, tumit kanannya terangkat. Ia hampir jatuh, tetapi cepat-cepat memegang dinding bambu.
"Aku bisa," katanya sebelum siapa pun menolong.
Ayah menambahkan gumpalan kain di ujung sepatu. Ibu mencari kaus kaki lama milikku dan melipatnya menjadi dua. Setelah itu, sepatu Nira terasa lebih padat. Ia berjalan lagi. Langkahnya masih seperti bebek, tetapi tidak mudah terlepas.
Kemudian giliranku. Sepatu hitam itu terlalu sempit. Setiap kali melangkah, jari kakiku menekan bagian depan. Tumitku seperti digigit. Aku mencoba tidak menunjukkan rasa sakit.
"Bagaimana?" tanya Ayah.
"Enak," jawabku.
Ibu menatapku. Ia selalu tahu ketika aku berbohong, tetapi kali ini ia tidak membantah. Ia hanya membuka tali sepatu, mengendurkannya sedikit, lalu menyelipkan potongan kain tipis di belakang tumit agar kulitku tidak langsung bergesekan.
"Kalau lecet, bilang," katanya.
Aku mengangguk.
Di luar rumah, anak-anak lain mulai lewat menuju kebun. Mereka tidak bersekolah pagi itu karena membantu orang tua memetik kopi. Salah seorang dari mereka, Ranu, berhenti dan melihat kaki kami.
"Wah, sepatu baru," katanya.
Nira segera berdiri lebih tegak. "Dari pasar kecamatan."
"Bekas, ya?"
Senyum Nira sedikit mengecil. Aku ingin menjawab, tetapi Ayah lebih dahulu berkata, "Bekas bukan berarti tidak berguna."
Ranu mengangkat bahu lalu pergi. Aku menatap Ayah. Ia tidak marah. Ia hanya kembali berjongkok dan memeriksa simpul tali sepatu Nira.
Sebelum kami berangkat, Ibu membungkus sepatu dengan daun pisang kering. Rencananya, kami akan memakai sandal di jalan setapak dan baru mengenakan sepatu di dekat sekolah. Namun, sandal Nira benar-benar tidak bisa dipakai lagi. Tali rafianya putus ketika ia baru melangkah keluar rumah.
"Pakai sepatunya dari sini saja," kata Ayah.
Ibu tampak ragu. "Jalannya basah."
"Kalau tidak dipakai, dia berjalan tanpa alas."
Aku menawarkan sandal milikku kepada Nira, tetapi ukurannya terlalu besar dan telapaknya pun hampir putus. Akhirnya kami mengenakan sepatu sejak dari rumah. Ayah mengingatkan kami agar tidak menginjak genangan, tidak menendang batu, dan mengangkat kaki tinggi-tinggi di lumpur.
"Kalau basah, jemur dekat tungku. Jangan terlalu dekat api," katanya.
"Kalau kotor?" tanya Nira.
"Bersihkan."
"Kalau talinya lepas?"
"Ikat lagi."
"Kalau rusak?"
Ayah terdiam sejenak. "Kita perbaiki."
Jawaban itu menjadi aturan di rumah kami selama bertahun-tahun. Jika sesuatu rusak, kami tidak langsung menggantinya. Kami menjahit, mengikat, menambal, atau menggunakannya dengan cara berbeda. Baju menjadi lap. Karung menjadi tas. Kaleng susu menjadi tempat menabung. Sepatu yang hampir mati dipaksa hidup kembali.
Kami mulai berjalan. Pada awalnya, aku senang mendengar bunyi sepatu menyentuh tanah. Bunyi itu berbeda dari sandal jepit. Lebih berat dan lebih teratur. Tok, tok, tok. Seolah setiap langkah mengatakan bahwa kami benar-benar anak sekolah.
Nira berjalan di belakangku sambil sesekali memandang kakinya sendiri. Ia hampir menabrak punggungku karena tidak melihat jalan.
"Lihat ke depan," kataku.
"Aku cuma memastikan sepatuku masih ada."
"Sepatu tidak akan lari."
"Bisa saja. Sepatu ini besar."
Kami tertawa. Nira lalu mencoba membuat sepatu itu berbunyi bersamaan dengan langkahku. Ia melangkah terlalu lebar, hampir jatuh, lalu tertawa lagi. Suara tawanya memantul di antara pohon kopi. Untuk beberapa saat, perjalanan terasa ringan. Bahkan udara dingin tidak terlalu mengganggu. Aku membayangkan tiba di sekolah dengan sepatu yang pantas. Tidak ada lagi perintah berdiri di luar barisan. Tidak ada lagi tatapan teman-teman pada kakiku.
Namun, setelah melewati kebun kopi pertama, rasa sakit di tumitku mulai terasa. Setiap langkah membuat kulit bergesekan. Aku memperlambat jalan, tetapi Nira segera menyadarinya.
"Kakak sakit?"
"Tidak."
"Jalannya jadi seperti Mbah Wreda."
Mbah Wreda berjalan pincang karena kaki kirinya pernah tertimpa kayu. Aku mencoba melangkah biasa lagi. Rasa perih semakin kuat, tetapi aku menahannya. Aku tidak ingin Ayah tahu sepatu yang dibelinya terlalu kecil. Aku takut ia akan merasa gagal.
Di tikungan pertama, tanah berubah lebih berbatu. Aku mengingat pesan Ayah dan mengangkat kaki tinggi-tinggi. Sebuah batu kecil masuk ke sela telapak. Aku menghentakkan kaki pelan untuk melepaskannya.
Saat itulah terdengar bunyi kecil dari bawah sepatu kiriku.
Krek.
Aku berhenti.
Nira menabrak punggungku. "Kenapa?"
Aku mengangkat kaki dan memeriksa telapak. Dari luar tidak terlihat apa-apa. Namun, ketika kutekuk sedikit, bagian depan sol membuka selebar kuku. Retakan itu kecil, hampir tidak berarti. Aku meyakinkan diri bahwa sepatu masih kuat.
"Tidak apa-apa," kataku.
"Aku dengar bunyi."
"Ranting."
Nira melihat tanah di sekitar kami. Tidak ada ranting. Hanya batu dan lumpur. Ia menatapku, tetapi tidak bertanya lagi.
Aku kembali berjalan. Bunyi langkah sepatu kiri berubah. Tok pada kaki kanan, lalu tek pada kaki kiri. Tok, tek, tok, tek. Setiap bunyi mengingatkanku pada retakan kecil yang mungkin akan membesar.
Di belakangku, Nira mulai menyanyikan lagu alfabet agar perjalanan tidak terasa panjang. Aku ikut menyebut huruf-hurufnya, meski pikiranku tertinggal pada suara krek tadi. Kami baru berjalan kurang dari satu kilometer. Tahun ajaran masih sangat panjang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!