Indonesia
NovelToon NovelToon

Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Ayahku bernama Ages Sabiru

Langit Jakarta masih berwarna jingga ketika sebuah pazero hitam berhenti di depan gerbang SMP Bintang Nusantara.Seorang pria tinggi dengan kemeja putih yang lengannya digulung turun dari kursi kemudi. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, dan sorot matanya teduh. Siapa pun yang melihatnya pasti mengira ia adalah kakak dari siswa yang akan dijemputnya.

Padahal, pria itu adalah seorang ayah.

"Pap!"

Seorang remaja laki-laki berlari kecil sambil mengangkat tas ranselnya.Senyumnya lebar ketika menghampiri pria itu.

"Kok jemput sendiri? Bukannya papa ada meeting?" tanyanya.

Ages Sabiru tersenyum tipis, lalu mengacak rambut putranya.

"Gampang lah,Meeting bisa diatur. Tapi jemput anak papa lebih penting."

Kalandra Sabiru terkekeh. "Kalau teman-teman denger, nanti mereka bilang aku anak manja.Apalagi kalau si Jevan tau beuh..ketawanya pasti bakal paling keras."

"Biarin. Selama papa masih sehat, papa bakal jemput kamu."

Ucapan sederhana itu selalu membuat hati Kalandra menghangat.

"Lagian Abang kamu Sean juga sama di jemput sama Om mu waktu SMP gini."

"Iya,tapi kan sekarang Bang Sean udah bawa motor sendiri." Jawab Kala "Terus aku kapan boleh bawa motor sendiri Pap?"

"Nanti kalau sudah besar kaya Sean." Jawabnya singkat.

Kala hanya mengdengus kesal,jawaban yang sejak dulu tak pernah berubah. Ia kemudian membuka pintu mobil, lalu duduk di samping ayahnya.

"Gimana,capek gak di sekolah?"

"Capek dikit."

"Laper?"

Kala memegang perutnya. "Banget."

Ages langsung menyalakan mesin. "Bakso?"

Kala langsung berseru. "Mau!"

"Dua mangkuk?" Tanya Ages menoleh sebentar.

"Kalau Papa yang bayarin, lima juga sanggup."

"Itu jatuhnya maruk,dek."

Mereka tertawa bersamaan.

Sepuluh menit kemudia,mobil Ages tiba di tempat tujuan.Warung bakso langganan mereka tidak pernah berubah sejak Kalandra masih SD.Pemilik warung bahkan hafal pesanan keduanya.

"Seperti biasa ya, Pak Ages? Bakso urat satu, bakso komplit satu."

"Iya, Bu."

Sambil menunggu pesanan datang, Ages memperhatikan wajah putranya. "PR banyak dek?"

"Ada beberapa,but so far so good."

"Gimana nilai matematika?"

"Alhamdulillah adek dapat sembilan puluh."

Ages mengangguk bangga. "Hadiahnya apa?"

Sejak kecil,Ages selalu menyiapkan reward kecil untuk sang anak setiap Kala mendapat nilai bagus.Bukannya lebay,namun Ages hanya ingin mengapresiasi usaha sang anak sekecil apapun.

Kalandra menyeringai. "Motor."

Ages tertawa pelan. "Nilai sembilan puluh minta motor?"

"Ya kali aja Papa luluh."

"Belum."

Kala hanya menghembuskan nafas kasar.

"Naikin dulu jadi sembilan puluh lima."

"Berat pap,itu sembilan puluh juga aku harus berjuang sampai berdarah-darah."

Ages berdecih kecil melihat sang anak yang terlihat lebay. "Motor juga berat."

Kalandra hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kala udah kelas 3 SMP loh pap,yang lain udah bawa motor sendiri ke sekolah."

"Itu yang lain,bukan kamu."

Kala berdecak kesal mendengarnya.

"Masuk SMAN Taruna,otw beli motor."

Kala berbinar mendengarnya. "Serius Pap? Gak prank kan ?"

Ages geleng kepala dibuatnya."Kapan papa pernah prank kamu?"

Kala tersenyum lebar,ucapan sang ayah memanglah tak pernah bohong.Jika sudah berjanji pasti akan di tepatinya.Tapi senyumnya tak lama pudar.

"Tapi masuk sekolah itu susah Pap."

"Abang kamu saja bisa masuk,masa kamu gak bisa." Jawab Ages enteng. "Persiapkan dari sekarang,papa yakin...abang kamu bisa masuk,kamu juga pasti bisa masuk."

Kala hanya diam,ia bingung namun ia sudan bertekad untuk sekolah di tempat yang sama dengan Abangnya menimba ilmu.

Begitu dua mangkok baso datang,keduanya langsung larut dalam suasana ramai namun terasa hangat.

Tidak banyak yang tahu bahwa tawa mereka hari ini lahir dari perjalanan yang panjang.

Enam belas tahun lalu, Ages pernah menjadi laki-laki yang nyaris kehilangan semangat hidup.Istrinya memilih pergi bersama pria lain, meninggalkan seorang bayi yang bahkan belum genap berusia satu tahun.

Hari itu, Ages tidak menangis karena ditinggalkan.Ia menangis karena melihat Kalandra kecil terus mencari ibunya.

Sejak saat itu, Ages berjanji pada dirinya

sendiri.Jika Kalandra kehilangan kasih sayang seorang ibu...maka ia akan berusaha menjadi ayah terbaik yang pernah ada.

Pagi bekerja,malam menemani belajar.Saat Kala sakit Ages selalu bergadang di samping ranjang.

Saat ulang tahun, ia menghias rumahnya sendiri di bantu sang kaka dan istrinya.

Saat Hari Ayah di sekolah, ia datang dengan senyum paling lebar meski baru pulang dari perjalanan dinas.Ia tidak pernah ingin putranya merasa berbeda dari anak-anak lain.Apalagi merasakan kurangnya kasih sayang dan perhatian.

Dan hari demi hari, Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sopan, dan sangat menyayangi ayahnya.

Malam mulai turun ketika mereka tiba di rumah.Rumah dua lantai yang hangat itu memang terasa sepi karena hanya dihuni dua orang.

Namun, setiap sudutnya dipenuhi foto-foto Kalandra sejak bayi.Foto pertama masuk TK,SD dan SMP.

"Pap..."

"Iya?"

"Makasih ya."

Ages menoleh.

"Buat apa?"

"Udah jadi the best father for me."

Untuk beberapa detik, Ages terdiam.

Ia tersenyum kecil, lalu menepuk bahu putranya. "Terima kasih juga... karena sudah memilih tetap menjadi anak Papa."

Kalandra terkekeh. "Emangnya aku punya pilihan?"

"Enggak."

"Ya kali aja ada pilihan lain."

"Memang mau milih siapa?" Tanya Ages dengan kening berkerut.

"Yoo Yeon-Seok."

Ages memicinkan matanya. "Aktor Korea yang di drama dokter itu? Yang kemarin kamu dan tante mu tonton?"

Kala tersenyum besar "Iya.Idola nya tante mami,yang kata tante mami gantengnya gak ada obat."

Mata Ages seketika melotot mendengarnya.

"Mimpi!"

Setelah itu mereka kembali tertawa membuat suasana rumah terasa hangat.

Tidak ada yang menyangka, di balik tawa sederhana itu, masa lalu yang pernah mereka kubur perlahan akan kembali hadir.

Dan ketika hari itu tiba, hubungan ayah dan anak ini akan diuji dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

"Dek,"

Kala menoleh."Iya,pap."

"Besok pulang sekolah di jemput Mang Soleh ya,papa harus menengok karyawan papa yang kemarin terjadi kecelakaan kerja."

"Kecelakaan kerja...kok bisa?"

"Kemarin waktu ada pengecekan mesin,ada miskom sama dua orang karyawan papa itu yang bikin mesin korslet dan bikin salah satu karyawan itu kesetrum"

"Ya ampun,kok.ngeri gitu ya dengarnya."

"Ya itulah yang namanya kurang fokus dan teliti."

"Terus yang kesetrum itu gimana keadaannya?"

"Papa belum tau pasti gimana kondisinya sekarang,tapi baru dapat laporan katanya bagian tangannya melepuh."

"Astaghfirullah,kasih banget sih.Ya udah mending papa cepat-cepat tengok orang itu terus minta perawatan yang terbaik buat dia biar bisa sembuh lagi.Terus keluarganya gimana pap? Papa harus kasih biaya juga,kan pasti ada istri dan anaknya yang harus ia tanggung."

Ages mengangguk,bibirnya tersenyum melihat sifat Kalandra yang selalu peduli dengan orang lain.

"Iya,tidak usah khawatir.Ini masuk kedalam kecelakaan kerja,dari perusahaan bertanggung jawab penuh sama korban dan keluarganya."

Kalandra tersenyum lebar,ia percaya jika sang ayah pasti tidak akan membiarkan orang lain menderita apalagi dia salah satu karyawan perusahaannya juga.

.......

.......

.......

...♡ Sabiru ♡...

Pagi hangat di rumah Sabiru

"Dek..." Panggil nya setelah mengetuk pintu kamar sang anak.

"Kala!" Panggilnya lagi

"Kala! Bangun!"

Suara Ages terdengar sedikit keras dari balik pintu kamar.

"Hm... lima menit lagi, pap..."

"Lima menitmu itu tiga puluh menit,dek."

Tidak ada jawaban sedikitpun dari sang penghuni kamar.

Ages menggeleng pelan. Ia membuka pintu kamar yang memang tidak pernah dikunci oleh Kalandra.Remaja itu masih meringkuk di balik selimut.

Ages menghampiri ranjang, lalu menarik sedikit selimut putranya.

"Kalau telat, jangan salahin papa."

"Masih ngantuk,pap..."

"Semalam main game?"

"Bukan.Aku abis Nugas."

Ages mengangkat sebelah alis. "Jujur."

"...Nugas dulu, habis itu game."

"Nah, itu baru jujur."

Kalandra terkekeh sambil mengusap wajahnya. "Bapak Ages tau aja."

"Yaudah, bangun."

"Siap, Bos"

"Bos?"

"Iya.Bos yang tugasnya selalu membuat M-Banking Kala bunyi"

Ages tertawa kecil.

"Kalau gitu Bos ini minta anak buahnya mandi sekarang."

"Siap laksanakan." jawab Kala sambil bersikap hormat.

Ages hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan anak nya yang kadang membuatnya heran dan bingung.

Sikap dan sifat Kalandra sungguh membuat dunia Ages jungkir balik,kadang manja,kadang mandiri,kadang cengeng...dan pastinya kadang tengil juga.

Namun di balik itu semua,Ages begitu menyayangi anaknya.Anak yang menjadi saksi bisu tentang bagaimana dunia menghukumnya.Memberikannya luka sekaligus bahagia.

Di dapur,aroma nasi goreng memenuhi ruang makan.Di meja sudah tersedia telur mata sapi, irisan mentimun, dan segelas susu.

Kalandra yang baru selesai mandi langsung duduk.

"Harum banget,pap." Ucapnya sambil ingin mengambil sepotong mentimun namun Ages terlebih dahulu menepuk

tangannya.

"Cuci tangan dulu,dek."

"Iya,Galak banget sih Bos Ages ini.."

Tak lama Kala kembali duduk di meja makan.Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, kedua matanya langsung berbinar.

"Enak banget Pap."

"Lebih enak dari kantin?"

"Jauh banget."

"Lebih enak dari restoran?"

"Jelas lah..."

Ages tersenyum puas. "Dipuji terus nanti Papa bisa-bisa buka rumah makan."

Kala nampak seperti berpikir."Boleh juga,namanya?"

"Kantin Pak Ages."

"Kurang keren pap."

"Kamu aja yang kasih nama."

Kalandra berpikir sejenak. "Masakan Seorang Ayah."

Ages tertawa. "Itu malah kayak buku resep."

Ages kemudian mengambil piring miliknya."Udah,makan cepat.Gak jadi buka kantinnya."

"Loh,kenapa pap?"

"Duit papa udah banyak."

Kala melongo mendengarnya."Sulit di percaya! Sombongnya Bapak Ages!"

"Bukan sombong,Punya!"

Tawa keduanya langsung memenuhi ruangan yang hanya ada mereka berdua.

Suasana pagi di rumah mereka selalu sederhana, tetapi penuh tawa.Tak lama kemudian, suara mobil terdengar di halaman.

"Om papi datang!"

Kalandra berlari kecil menuju pintu.

Pria yang baru datang itu adalah kakak kandung Ages. Sejak Kalandra kecil,Arsen dan istrinya sudah menganggap Kalandra seperti anak sendiri.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Arsen langsung memeluk keponakannya.

"Gimana sekolahnya dek?"

"Aman, Om papi."

"Perasaan kamu tambah tinggi dek,Bentar lagi kaya nya bakal lebih tinggi dari papamu."

Ages yang baru keluar membawa dua cangkir kopi langsung menimpali.

"Belum tentu."

"Pasti lah. Gue aja sekarang kalah tinggi sama anak gue."

"Lah emang itu mah lo nya aja yang pendek." Ledek Ages.

Mereka bertiga tertawa.

"Pap, Om papi... kapan kita liburan lagi?" tanya Kalandra.

Arsen melirik Ages.

"Gimana? Lo sibuk terus, ya?"

Ages menghela napas. "Beberapa proyek memang lagi padat."

"Wah... berarti batal lagi dong pap."

Melihat wajah putranya sedikit murung,

Ages langsung menyela.

"Minggu depan papa kosong dua hari."

Kalandra langsung menoleh.

"Serius?"

"Iya."

"Kita camping?"

"Boleh."

"Mancing juga?"

"Boleh."

"Naik jeep?"

Ages tertawa.

"Permintaan kamu mulai banyak,dek."

"Kan mumpung papa libur.Kapan lagi coba papa libur panjang."

"Ok lah,sesuai list kamu."

"Yes!" Sorak Kalandra membuat Arsen tersenyum.

"Dari dulu, kalau soal Kala, lo memang nggak pernah bisa nolak."

Ages menatap putranya yang sedang tersenyum lebar. "Dia cuma minta waktu gue..bukan minta yang aneh-aneh dan gue  masih sanggup ngasih itu."

Kalandra yang mendengar ucapan tersebut hanya diam ia tahu Ayahnya selalu bekerja keras demi dirinya dan Kala berjanji suatu hari nanti, ia akan menjadi kebanggaan terbesar bagi laki-laki yang telah mengorbankan segalanya itu.

"Ngapain lo pagi-pagi ke rumah gue?"

"Emangnya ada larangan gue datang pagi-pagi kesini?"

"Bukan gitu," Ages menyeruput kopinya yang masih terlihat mengepul. "Apakah senganggur itu sampai seorang Arsen datang pagi-pagi ke rumah orang tanpa tujuan."

Arsen berdecak sebal,memang benar apa yang di katakan Ages.Ia tidak senganggur itu untuk pergi ke rumah orang,apalagi pagi buta seperti sekarang.

Jika bukan karena sang istri,mungkin ia tidak akan ada di sini sekarang.Apalagi pagi ini ia harus mengecek kantor cabang milik dirinya.

"Mami nya si Kala nyuruh gue anterin ini buat anak bontonya." Ucap Arsen sambil mengangkat sebuah paper bag berisi kotak makan.

"Wah..apa itu Om papi."

"Mami kamu bilang,hari ini adek ada tes renang.Makanya mami kamu bikinin bekal buat kamu."

Wajah Kala seketika berbinar,memang benar hari ini ia ada tes berenang.Kemarin malam tantenya itu menanyakan tentang sekolahnya.

Tamara,istri Arsen selalu setiap malam tentang keadaan sekolah Kala membuat Kala merasa bahagia.Walaupun ia tidak mempunyai seorang ibu,namun ia tak pernah kurang kasih sayang.

Ada Tamara yang menjadi sosok ibu bagi nya,perhatian dan kasih sayang Tamara selalu hadir sejak ia kecil.

"Kok adek gak bilang sami papa?"

Kala tersenyum sambil menggaruk kepalanya."Lupa pap,aku juga gak akan ingat kalau Tante mami gak tanya,untung tante mami semalam tanya tugas apa yang harus di siapkan dan adek ingat hari ini adek ada tes renang."

Ages hanya bisa geleng kepala,ia tidak marah atau kecewa.Justru ia sangan bersyukur karena ada sang kaka ipar yang begitu perhatian pada anaknya.

"Kenapa gak di anter Sean aja sih bang?"

"Sean ada piket,jadi harus pergi pagi-pagi banget."

Kala dan Ages mengangguk mengerti.

"Om papi,bilang sama tante mami makasih belalnya pasti nanti adek abisin."

Arsen mengacak kasar rambut sang keponakan yang sudah ia anggak anak sendiri itu."Nanti Om papi bilang."

"Kamu punya hp dek,tinggal pencet kontak tante mu terus bilang makasih.Repot banget pake titip pesan segala."

Kala menatap kesal ayahnya,"Pap ini gak paham basa basi banget sih."

"Dasar duda kolot."

Ages melotot mendengarnya,sedangkan Arsen ikut menertawakan adiknya itu.Begitulah Ketiganya jika sedang bersama,selalu ada perdebatan kecil yang membuat suasana semakin hangat.

Tanpa mereka sadari, di luar pagar rumah,sebuah mobil berhenti beberapa saat.

Seseorang memperhatikan rumah keluarga Sabiru dari balik kaca mobil,sebelum akhirnya kembali melaju pergi.

Belum ada yang tahu siapa orang itu.Namun, kehadirannya akan menjadi awal dari masa lalu yang perlahan kembali mengetuk pintu kehidupan Ages dan Kalandra.

.......

.......

.......

...♡ Sabiru ♡...

Si Tampan yang tengil

Pagi hari suasana SMP Bintang Nusantara sudah ramai sejak bel pertama belum berbunyi.

Para siswa berjalan menuju kelas masing-masing. Sebagian sibuk mengobrol, sebagian lainnya berlari karena takut terlambat.

Namun, di antara keramaian itu, ada satu sosok yang selalu berhasil menarik perhatian.

Kalandra Sabiru.

Dengan seragam yang sedikit berantakan,rambut yang tidak terlalu rapi, dan tas yang hanya disampirkan di satu bahu, Kalandra berjalan santai menuju kelasnya.

"Kala!"

Teriakan seorang siswi membuat Kalandra berhenti.

Ia menoleh.

Seorang gadis menghampirinya dengan membawa sebuah kotak kecil.

"Ini buat kamu."

Kalandra menatap kotak itu. "Isinya paan?"

"Cokelat."

"Kenapa?" tanya nya singkat.

Gadis itu langsung tersipu,pipinya berubah merona. "Ya... nggak kenapa-kenapa."

Kalandra menerima cokelat itu dengan senyum lebar. "Thanks."

Gadis itu tersenyum malu, lalu segera pergi.

Baru beberapa langkah, Kalandra membuka kotak tersebut.Satu cokelat langsung masuk ke mulutnya. "Enak."

"KALANDRA!"

Teriakan keras dari belakang membuat Kalandra menoleh.Raka, sahabatnya sejak kecil berjalan menghampirinya dengan wajah kesal.

"Apaan?"

Raka melihat kotak yang di pegang Kala, "Itu cokelat dari siapa?"

"Biasalah dari penggemar."

"Penggemar apaan?"

"Penggemar Kalandra Sabiru." Jawabnya jumawa.

Raka memutar bola matanya. "Percaya diri banget Lo."

"Fakta."

Namun Raka tak bisa menampik jika ucapan Kala benar adanya,hampir seluruh siswi di sekolannya merupakan para penggemar Kala.

"Lo tuh kalau nggak tampan, udah pasti banyak yang mukul."

Kalandra mengangguk santai. "Untung gue tampan."

Raka hanya bisa menghela napas. "Serah Lo deh,anaknya Pak Ages emang tingkat kepedeannya melebihi hartanya."

"Oh jelas! Kalandra Sabiru the world wide handsome."

Raka menoyor kepala Kala gemas."Stres..."

Keduanya kemudian berjalan bersamaan menuju kelasnya.Di dalam kelas, Kalandra duduk di bangku paling belakang bersama Raka.

Bukan karena ia tidak mampu duduk di depan.Justru sebaliknya,Kalandra merupakan salah satu siswa dengan nilai terbaik di angkatannya.Hanya saja, ia merasa duduk di belakang jauh lebih nyaman.

"Kal, tugas fisika udah?" tanya Raka.

"Udah."

"Pinjam."

"Bayar."

Raka menatapnya tidak percaya.

"Bayar apa?"

"Traktir bakso."

"Dasar pemeras."

"Namanya juga bisnis."

"Kek orang miskin aja lo minta traktir."

"Serah lo,pokoknya simbiosis mutualisme...lo butuh catatan gue,gue butuh bakso.Impas kan?"

Raka menghela napas panjang. "Yaudah, nanti gue traktir."

Kalandra langsung menyerahkan bukunya. "Nih." Kemudian menjabat tangan Raka ."Sedang bekerja sama dengan anda Tuan Raka."

Raka hanya mendengus kasar.Raka membuka buku tersebut dan langsung terdiam.

"Ini apaan?"

"Jawaban."

"Ini tulisan lo?"

"Iya."

"Kenapa kayak cacing kesetrum?"

Kalandra langsung merebut bukunya. "Jangan menghina karya seni."

"Karya seni apaan? Ini tulisan atau sandi rahasia?"

Kalandra baru hendak membalas ketika guru fisika masuk.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Pak."

Suasana kelas langsung berubah tenang.Pelajaran dimulai,tak ada lagi Kala yang tengil dan manja yang ada hanyalah seorang Kalandra Sabiru yang begitu serius.

Satu jam kemudian, guru fisika membagikan hasil ulangan.

"Nilai tertinggi kali ini diraih oleh..."

Semua siswa mulai menebak-nebak.

"Kalandra Sabiru."

Beberapa teman langsung bertepuk tangan.Kalandra hanya mengangkat tangan sambil tersenyum puas. "Terima kasih. Terima kasih...saya tau saya memang se Ok itu." Ucapnya narsis membuat semua temannya tertawa.

"Belum juga jadi juara satu nasional!" seru Raka.

Kalandra menoleh. "Iri bilang bos!."

"Nilai kita cuma beda satu."

"Tapi tetap di bawah gue Tuan Raka Atmadja."

Raka hendak melempar penghapus, tetapi Kalandra segera menghindar.Tawa memenuhi kelas.Kalandra memang seperti itu.Tengil, menyebalkan, tetapi sulit untuk dibenci.

Jam istirahat datang, Kalandra dan Raka berjalan menuju kantin.Beberapa siswi yang berpapasan langsung tersenyum kepadanya.

Kalandra membalas senyum mereka.Raka menyikut lengannya.

"Lu sadar nggak sih, hampir semua cewek di sekolah ini kenal sama lu?"

"Alhamdulillah."

"Bukan itu maksud gue."

"Lah terus?"

"Lu nggak ada yang disukai?"

Kalandra berhenti berjalan.Ia berpikir sejenak.

"Ada."

Raka langsung terkejut. "Whoaa,siapa?"

Kalandra tersenyum. "Bokap gue."

Raka melotot mendengarnya. "Bangke!"

Kalandra kemudian berjalan kembali. "Kalau cewek mah nanti aja."

Raka mengejar langkahnya. "Jadi lu nggak mau pacaran?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Ribet."

"Ribet apanya?"

"Harus laporan terus."

Raka mengangguk-angguk. "Padahal kalau punya pacar, mungkin ada yang ingetin makan."

Kalandra mengangkat bahu. "Di rumah ada papa."

"Kalau ada yang marah-marah?"

"Di rumah juga ada papa."

Raka menatapnya dengan wajah heran. "Kayaknya hidup lu terlalu bergantung banget sama bokap lu."

Kalandra tersenyum kecil. "Bukan bergantung."

Ia berhenti sejenak. "Tapi kenyamanan hidup gue ada di Pak.Ages Sabiru dan duit nya."

Jawaban itu membuat Raka tertawa. "Dasar PEA!"

Kalandra ikut tertawa,memang benar baginya Ages Sabiru adalah hidupnya.Baginya sang papa adalah dunianya.

Bagi Kalandra, rumah bukan sekadar tempat untuk tidur.

Rumah adalah tempat di mana ada seseorang yang selalu menunggunya.

Seseorang yang akan bertanya apakah ia sudah makan.

Seseorang yang akan mengomel ketika ia tidur terlalu malam.

Dan seseorang yang selalu membuat Kalandra merasa bahwa dunia tidak pernah benar-benar sendirian adalah..

Ages Sabiru.

..

Sore menjelang, Kalandra baru saja keluar dari gerbang sekolah ketika sebuah mobil hitam berhenti di depannya.Kaca mobil turun,Ages menatap putranya dari balik kemudi.

"Naik dek."

Kalandra langsung tersenyum. "Jemput saya Tuan?"

Ages berdecak, "Kalau bukan jemput kamu, memangnya papa mau jemput siapa?"

Kalandra masuk ke dalam mobil. "Pap.."

"Hm."

"Teman-teman aku banyak yang suka sama aku."

Ages meliriknya."Bagus dong." bibirnya tersenyum kecil.

"Terus?"

"Terus apa?" Tanya Ages bingung

"Biasanya papa nanya siapa."

Ages kembali fokus pada jalan. "Papa tidak tertarik."

Kalandra mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena mereka bukan anak papa."

Kalandra tertawa. "Berarti papa cuma tertarik sama aku?"

"Betul."

"Berarti aku anak kesayangan?"

Ages tersenyum tipis. "Adek anak satu-satunya buat papa."

Kalandra langsung terdiam.

"Pap..."

"Hm?"

"Kalau nanti aku punya pacar, papa bakal marah?"

Ages menoleh sebentar. "Tergantung."

Kala mengerutkan keningnya. "Tergantung apa?"

"Kalau dia bisa mengalahkan Papa dalam merebut perhatianmu."

Kalandra langsung tertawa. "Kasihan banget pacar adek nanti."

Ages hanya tersenyum. "Makanya adek jangan dulu mikirin pacaran,kamu masih kecil...fokus sekolah dulu."

"Iya lah, adek juga belum kepikiran sama hal yang kaya gitu."

"Tapi kata Sean,kamu suka di kasih makanan sama teman-teman kamu yang cewe."

Kala tertawa. "Sayang aja pap kalau gak di terima,kan jatuhnya jadi menolak rezeki."

Ages geleng kepala mendengarnya,"Kamu tuh ya..."

Kala hanya tersenyum saja.

Tanpa mereka sadari, percakapan sederhana itu kelak akan menjadi sesuatu yang sangat mereka ingat.Karena suatu hari nanti akan ada seseorang yang benar-benar datang ke dalam kehidupan Kalandra.

Seseorang yang perlahan akan membuat perhatian Kalandra terbagi.

Dan Ages Sabiru akan menyadari bahwa putranya yang selama ini selalu berada di sisinya perlahan mulai tumbuh dewasa.

...^^^.^^^...

.......

.......

...♡ Sabiru ♡...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!