Indonesia
NovelToon NovelToon

Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Episode 1

Bab 1: Malam Pengkhianatan

Trek. Trek. Trek.

Suara hak tinggi Keira Hartono memecah lorong marmer Highland Resort yang terlalu sunyi untuk malam sebelum pernikahan.

Lampu koridor menyala kekuningan. Di luar jendela panjang, kabut Puncak turun pelan, menempel di kaca seperti napas dingin seseorang. Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 23.48 WIB. Besok siang, di halaman rumput resort ini, namanya seharusnya berdampingan dengan Brandon Liem di depan pendeta, keluarga, kamera, dan para tamu yang datang untuk melihat dua keluarga besar saling mengikat nama baik.

Namun malam ini, calon pengantin pria itu tidak berada di ruang rapat bersama vendor.

Ia berada di kamar nomor 1708.

Dua meter dari pintu, langkah Keira sempat melambat. Bukan karena takut. Bukan juga karena ragu. Ada sesuatu yang begitu akrab dalam dadanya, seperti luka lama yang tiba-tiba dibuka lagi oleh udara pegunungan yang dingin.

Di kehidupan yang dulu, ia juga pernah berdiri di depan pintu seperti ini. Bedanya, saat itu ia datang terlambat, terlalu percaya, terlalu bodoh. Ia menikah dengan pria yang salah, membiarkan perempuan yang salah memanggilnya Kakak, lalu membayar semua itu dengan harga yang bahkan tidak sempat ia teriakkan.

Kali ini tidak.

Keira menggenggam kartu akses yang ia dapat dari resepsionis dengan senyum tenang dan nama Hartono yang masih cukup berguna. Ujung jarinya tidak gemetar. Kukunya yang berwarna nude mengetuk kartu itu sekali ke sensor.

Bip.

Pintu terbuka.

Bau parfum laki-laki bercampur aroma wine langsung menyergap. Lampu kamar hanya menyala setengah, membuat bayangan di dinding tampak patah-patah. Lantai karpet berwarna krem berantakan. Kemeja putih Brandon tergeletak dekat sofa. Sepasang sepatu hak tinggi perak ada di bawah meja kecil. Di dekat kaki Keira, gaun malam putih Celine Hartono jatuh kusut seperti kain pel yang terlalu mahal.

Keira menunduk sebentar.

Gaun itu adalah gaun yang tadi sore dipakai Celine saat memeluknya di depan semua orang, tersenyum lembut dan berkata, "Kak, besok pasti jadi hari paling bahagia dalam hidup Kakak."

Manis sekali.

Keira melangkah masuk dan sengaja menginjak ujung gaun putih itu.

Dari arah ranjang, terdengar suara tertahan. Dua orang yang baru menyadari pintu terbuka bergerak panik. Selimut ditarik asal. Gelas wine di meja samping bergetar ketika Brandon menyenggolnya.

"Keira?" Suara Brandon pecah.

Ia tampak seperti seseorang yang baru sadar seluruh hidupnya bisa runtuh dalam satu malam. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan mata yang biasanya penuh percaya diri kini melebar seperti anak kecil yang tertangkap mencuri.

Di sampingnya, Celine menarik selimut sampai ke dada. Wajah cantiknya langsung basah oleh air mata yang terlalu cepat muncul. Ia selalu pandai dalam hal itu. Menangis sebelum dituduh. Terlihat hancur sebelum orang lain sempat menyebutnya salah.

"Kak..." Celine berbisik. "Kak, ini tidak seperti yang Kakak pikirkan."

Keira tertawa pelan.

Suara itu tidak keras, tetapi cukup membuat Brandon dan Celine membeku.

"Kalimat pertama kalian selalu mengecewakan," ucap Keira. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. "Aku bahkan belum bicara."

"Keira, dengarkan aku dulu." Brandon turun dari ranjang dengan gerakan kacau, lalu mengambil celana panjangnya dari kursi. "Ini cuma salah paham. Celine tadi pusing, aku antar dia ke kamar, lalu..."

Klik.

Lampu kilat kamera menyambar wajahnya.

Brandon berhenti.

Keira memiringkan ponsel, mengambil satu foto lagi. Kemeja di lantai. Sepatu Celine. Gelas wine. Selimut yang terlalu rapi ditarik menutupi dua orang yang mengaku hanya salah paham.

Klik.

"Keira!" Brandon mendesis. "Apa yang kamu lakukan?"

"Mengumpulkan kenangan," jawab Keira ringan. "Besok kan hari pernikahan kita. Sayang kalau tidak ada dokumentasi."

Wajah Brandon berubah merah. Ia melangkah maju, hendak merebut ponsel itu. Keira mundur setengah langkah, cukup untuk membuat tangannya kosong di udara.

"Jangan sentuh aku."

Tiga kata itu jatuh dingin.

Brandon berhenti. Mungkin karena nada Keira terlalu asing. Mungkin karena perempuan di depannya tidak menangis, tidak berteriak, tidak bertanya kenapa. Ia hanya berdiri di sana, rapi dengan dress hitam sederhana, rambut tersanggul rendah, dan mata yang tidak memberi ruang untuk belas kasihan.

"Kamu mau mempermalukan aku?" tanya Brandon. "Besok keluarga Liem dan Hartono akan berkumpul. Media juga datang. Kalau foto itu tersebar, bukan cuma aku yang hancur. Kamu juga."

"Akhirnya kamu bicara soal akibat." Keira menatapnya dari ujung rambut sampai kaki. "Sayang sekali, Brandon. Kamu baru ingat nama baik setelah melepasnya di lantai kamar hotel."

Celine menangis lebih keras. "Kak, aku salah. Aku benar-benar salah. Tapi aku mencintai Brandon. Kami tidak pernah berencana menyakiti Kakak."

Keira menoleh ke arahnya.

Ponsel di tangannya masih merekam.

Brandon menyadari itu lebih dulu. Matanya turun ke layar, lalu wajahnya berubah semakin pucat. "Matikan."

"Kenapa?" Keira bertanya tenang. "Tadi katanya cinta. Bukankah cinta harus berani disaksikan?"

"Keira, jangan memancing."

"Aku tidak memancing. Aku hanya memberi ruang untuk kalian jujur." Keira menggeser layar sedikit, memastikan video tetap berjalan. "Celine, jawab aku. Sejak kapan?"

Celine membeku. Air matanya menggantung di dagu, tetapi mulutnya tidak segera terbuka. Ia melirik Brandon, mencari pertolongan.

Keira tersenyum tipis. "Kalau perlu waktu mengarang, bilang saja. Aku bisa tunggu."

"Tiga bulan," bisik Celine akhirnya.

Brandon memejamkan mata.

Keira mengangguk, seolah baru saja mendengar laporan vendor yang terlambat mengirim bunga. "Tiga bulan sebelum pernikahanku, kamu sudah tidur dengan calon suamiku."

"Kak, jangan sebut seperti itu!" Celine terisak. "Aku tidak kuat melihat kalian akan menikah. Setiap kali Mama membicarakan seserahan, gaun pengantin, foto prewedding, aku merasa..."

"Merasa apa?"

"Merasa semua yang seharusnya jadi milikku diambil Kakak."

Kamar itu mendadak hening.

Kalimat Celine menggantung di antara bau wine, selimut kusut, dan gaun putih yang diinjak Keira. Untuk pertama kalinya malam itu, topeng adik manisnya retak bukan karena tangis, melainkan karena iri yang keluar terlalu jujur.

"Bagus," kata Keira pelan. "Akhirnya ada satu kalimat yang tidak palsu."

Selama beberapa detik, ia hanya menatap adik perempuannya itu. Celine Hartono, putri kesayangan Papa. Perempuan yang selalu mendapat pembelaan lebih dulu, kesempatan lebih banyak, dan pelukan lebih hangat di rumah Hartono. Di kehidupan lalu, air mata seperti itu pernah membuat semua orang memarahi Keira. Mereka berkata Celine masih muda. Celine tidak sengaja. Celine hanya terlalu mencintai.

Ternyata kata "cinta" bisa dipakai untuk membungkus pencurian.

"Kamu mencintai calon suami kakakmu sendiri," kata Keira. "Hebat. Romantis sekali kalau ditulis di caption Instagram."

Celine tersentak. "Kak..."

"Jangan panggil aku Kakak dengan mulut yang baru saja kamu pakai untuk berbohong."

Tangis Celine berhenti sejenak, seolah seseorang menamparnya tanpa menyentuh kulit.

Brandon maju lagi. Kali ini suaranya dibuat rendah, seakan masih punya hak menenangkan Keira. "Kita bisa bicara baik-baik. Aku mengaku salah. Tapi jangan bawa Papa dan Pak Hendrick ke masalah ini."

"Terlambat."

Keira mengangkat ponselnya. Di layar, percakapan WhatsApp terbuka. Ada dua nama yang baru saja menerima pesan darinya: Papa dan Pak Hendrick.

Brandon terpaku.

Celine menutup mulutnya.

"Aku sudah kirim foto dan video pendeknya," kata Keira. "Bukan ke grup keluarga, tenang saja. Aku masih punya sopan santun yang kalian buang entah di mana."

"Kamu gila?" Brandon meraih rambutnya sendiri. "Papa bisa membunuhku."

"Tidak sampai begitu. Keluarga Liem terlalu menyukai prosedur." Keira memasukkan ponsel kembali ke tas, lalu melangkah ke meja kecil. Ia mengambil undangan pernikahan yang entah kenapa ada di sana, masih terbungkus plastik, dengan namanya dan nama Brandon tercetak emas. "Mereka hanya akan menghitung kerugian."

Celine turun dari ranjang dengan selimut melilit tubuh. Kakinya hampir tersandung gaun putih yang masih berada di bawah sepatu Keira. "Kak, tolong. Jangan lakukan ini ke aku. Karierku baru mulai. Kalau Papa tahu, kalau media tahu..."

"Kamu memikirkan kariermu?" Keira menatapnya pelan. "Aku pikir kamu sedang memikirkan cinta."

Celine menggigit bibir. Air matanya jatuh lagi, kali ini lebih banyak, tetapi wajah Keira tidak berubah.

Di luar kamar, lift berdenting jauh di ujung lorong. Bunyi itu tipis, tetapi cukup membuat Brandon menoleh cepat. Ia seperti membayangkan Hendrick Liem muncul dengan wajah dingin, atau Gunawan Hartono datang membawa amarah yang lebih peduli pada saham daripada putrinya.

Keira juga mendengarnya. Sudut bibirnya naik sedikit.

Malam itu seharusnya menjadi malam terakhirnya sebagai perempuan yang mudah ditukar demi kepentingan keluarga. Mereka mengira ia akan menangis, memohon, atau setidaknya menutupi aib agar pernikahan tetap berjalan.

Mereka lupa, orang yang pernah mati karena terlalu percaya tidak akan kembali hanya untuk mengulang kebodohan yang sama.

"Keira," panggil Brandon, kali ini lebih pelan. "Aku masih bisa memperbaiki semuanya."

Keira menatap undangan di tangannya. Nama Brandon Liem tampak begitu rapi, begitu mahal, begitu palsu.

Ia merobek plastik pembungkusnya, lalu meletakkan undangan itu di atas meja, tepat di antara dua gelas wine.

"Tidak perlu," katanya. "Aku yang akan memperbaiki semuanya."

"Maksudmu apa?"

Keira tidak menjawab. Ia berjalan menuju pintu. Setiap langkahnya kembali terdengar jelas di lantai, melewati kemeja Brandon, melewati sepatu Celine, melewati gaun putih yang sudah kotor di bagian ujung karena diinjaknya.

Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.

Celine masih berdiri dengan wajah pucat. Brandon membeku di sisi ranjang, untuk pertama kalinya tidak punya kalimat yang cukup meyakinkan.

Keira tersenyum.

"Tunggu Papa dan Pak Hendrick sampai di sini," ucapnya lembut. "Kita bicara pelan-pelan."

Lalu ia keluar, meninggalkan pintu kamar terbuka, agar dingin dari lorong masuk dan menyentuh semua kebohongan yang tersisa di dalam.

Episode 2

Bab 2: Ganti Pengantin Pria

Lima belas menit setelah Keira meninggalkan kamar 1708, lorong Highland Resort tidak lagi sunyi.

Manajer resort berdiri kaku di dekat lift dengan wajah bingung, dua staf housekeeping menunduk dalam-dalam, sementara suara langkah beberapa orang dewasa terdengar berat dari ujung koridor. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan Keira terbuka akhirnya ditutup oleh Brandon sendiri, tetapi apa gunanya pintu jika foto dan video sudah lebih dulu sampai ke dua kepala keluarga?

Setengah jam kemudian, semua orang duduk di ruang tamu suite keluarga Hartono.

Gunawan Hartono duduk di sofa tengah dengan jas tidur yang dipakai asal di atas kemeja. Wajahnya tegang, bukan karena putri angkatnya dikhianati, melainkan karena besok siang ada ratusan tamu yang sudah menerima undangan. Di sebelahnya, Yuliana Wijaya-Hartono memegang tisu, menepuk-nepuk punggung Celine yang sejak tadi menangis pelan.

Di sisi lain ruangan, Hendrick Liem berdiri dekat jendela dengan satu tangan masuk ke saku celana. Christina Soenarjo-Liem duduk tegak, wajahnya dingin seperti porselen mahal yang nyaris retak. Brandon berdiri di belakang ibunya dengan rambut masih basah karena terburu-buru mandi, tetapi bau bersalah tidak bisa dibersihkan secepat itu.

Keira duduk sendirian di kursi tunggal.

Ia sudah mengganti sepatu hak tingginya dengan sandal hotel, tetapi posisinya tidak terlihat kalah sedikit pun. Ponselnya tergeletak di atas meja, layar menghadap ke bawah, seperti pisau yang sengaja diletakkan agar semua orang ingat ujungnya masih tajam.

"Keira," Gunawan akhirnya membuka suara. "Papa tahu kamu marah."

Keira menatapnya. "Papa tahu?"

Gunawan terdiam sepersekian detik.

"Maksud Papa, semua orang di sini mengerti situasinya rumit," lanjutnya, memilih kata dengan hati-hati. "Tapi besok bukan acara kecil. Hartono Group dan Liem Group sudah mengumumkan pernikahan ini. Vendor sudah dibayar. Media sudah diundang. Kalau tiba-tiba dibatalkan, efeknya ke perusahaan tidak sederhana."

Keira hampir tertawa.

Perusahaan.

Tentu saja kata itu yang pertama keluar. Bukan, "Kamu baik-baik saja?" Bukan, "Apa Brandon menyakitimu?" Bukan juga, "Papa akan melindungimu."

Di kehidupan yang dulu, kalimat seperti ini pernah membuatnya diam. Ia pernah mengira menjadi anak baik berarti menelan semua luka agar nama keluarga tetap utuh.

Sekarang, kata "keluarga" hanya terdengar seperti label di map kontrak.

Hendrick berbalik dari jendela. "Saya tidak akan membela Brandon."

Brandon menunduk.

"Apa yang dia lakukan memalukan," lanjut Hendrick. Suaranya rendah, tetapi menekan seluruh ruangan. "Namun Pak Gunawan benar. Pembatalan pernikahan sebesar ini akan mengguncang dua perusahaan. Saya bisa menambah kompensasi untuk Keira. Lima persen saham proyek joint venture yang sudah kita bicarakan, plus apartemen di Jakarta Selatan atas namanya."

Yuliana segera mengangkat wajah. Ada kilatan lega yang terlalu cepat di matanya.

"Keira," katanya lembut, seolah sedang membujuk anak kecil. "Om Hendrick sudah sangat berbesar hati. Brandon memang salah, Celine juga salah. Tapi semua orang bisa tersesat. Kamu dan Brandon sudah bersama lama. Jangan hancurkan masa depan kalian hanya karena satu malam."

Christina menatap Yuliana tajam. "Satu malam?"

Ruangan langsung membeku.

Yuliana menegang, baru sadar mulutnya terlalu cepat.

Christina berdiri. "Putri Anda tidur dengan putra saya tiga bulan sebelum pernikahan. Jangan mengecilkan aib ini seolah dia cuma tersandung di tangga."

Celine menangis lebih keras. "Tante Tina, aku benar-benar minta maaf..."

"Diam dulu, Celine." Suara Christina tidak tinggi, tetapi cukup membuat Celine menutup mulut. "Saya belum selesai."

Keira mengamati perempuan itu. Christina bukan membelanya. Keira tahu itu. Christina sedang membela nama Liem, membela posisi Brandon, membela wajahnya sendiri di depan lingkaran arisan dan para istri konglomerat. Namun untuk malam ini, arah amarah mereka kebetulan sama.

Gunawan mengusap dahinya. "Kita tidak perlu saling menyerang. Yang paling penting adalah bagaimana acara besok tetap berjalan."

"Dengan siapa?" Keira bertanya.

Semua mata berpaling kepadanya.

Gunawan mengerutkan kening. "Tentu dengan Brandon. Kita akan membuat Brandon meminta maaf secara pribadi. Setelah menikah, kalian bisa memperbaiki hubungan pelan-pelan."

"Tidak," kata Keira.

Satu kata itu membuat udara terasa lebih tipis.

Brandon mengangkat wajah. "Keira..."

"Aku tidak akan menikah denganmu."

Celine berhenti menangis, lalu cepat-cepat menunduk, tetapi Keira sempat menangkap harapan kecil di matanya. Harapan itu menjijikkan sekaligus lucu.

Yuliana juga menangkap arah yang sama. Ia menarik napas, lalu bicara dengan nada hati-hati. "Kalau Keira memang tidak sanggup, mungkin..."

"Tidak," potong Christina, kali ini lebih dingin. "Jangan pernah berpikir Celine bisa menggantikan posisi pengantin perempuan."

Wajah Celine memucat.

Yuliana tampak tersinggung. "Bu Christina, Celine juga putri keluarga Hartono."

"Tapi dia bukan perempuan yang kami umumkan kepada publik," balas Christina. "Dan setelah malam ini, saya tidak akan membiarkan anak saya menikahi perempuan yang masuk kamar calon kakaknya sebelum upacara pemberkatan."

Brandon menatap ibunya. "Mama..."

"Kamu juga diam." Christina bahkan tidak menoleh. "Kamu sudah cukup membuat Mama malu."

Keira melihat semua itu dengan tenang. Mereka bertengkar tentang nama baik, tentang siapa yang layak dipajang di depan tamu, tentang bagaimana menambal skandal sebelum bocor. Tidak ada yang benar-benar bertanya apa yang ia inginkan.

Bagus.

Lebih mudah bernegosiasi dengan orang yang hanya punya satu dewa bernama kepentingan.

"Kalau pernikahan besok harus tetap berjalan," ucap Keira pelan, "maka ganti pengantin prianya."

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Bahkan AC ruangan terdengar terlalu keras.

Gunawan menatapnya seperti baru mendengar bahasa asing. "Apa maksudmu?"

"Maksudku jelas." Keira merapikan ujung lengan bajunya. "Aku tetap menjadi pengantin perempuan. Tapi bukan Brandon yang berdiri di sisiku."

Brandon tertawa pendek, lebih mirip suara orang tercekik. "Kamu mau menikah dengan siapa? Jangan bilang kamu sudah menyiapkan pria lain untuk membalas dendam."

Keira menatapnya. "Kenapa? Kamu takut posisi pengkhianat direbut orang?"

Brandon tidak bisa menjawab.

Hendrick menyipitkan mata. Ia lebih cepat daripada yang lain memahami bahwa Keira tidak sedang bicara sembarangan. "Siapa?"

Keira mengangkat wajah, menatap langsung ke mata kepala keluarga Liem itu.

"Reynard Liem."

Nama itu jatuh di ruangan seperti gelas pecah.

Christina berdiri terlalu cepat hingga gelang di pergelangan tangannya berbunyi. "Tidak."

Brandon terpaku. "Koh Rey?"

Celine lupa menangis. Yuliana menutup mulutnya. Gunawan menatap Keira seolah putrinya tiba-tiba berubah menjadi orang asing.

Hendrick tidak langsung bicara. Matanya bergerak pelan, dari wajah Keira ke ponsel di atas meja, lalu kembali ke Keira. Ada sesuatu yang rumit lewat di sana. Hitungan, kecurigaan, dan mungkin sedikit rasa tidak nyaman.

"Kamu tahu kondisi Reynard?" tanyanya.

"Aku tahu dia putra sulung keluarga Liem," jawab Keira. "Aku juga tahu besok keluarga Liem butuh seorang pengantin pria."

Christina tertawa dingin. "Reynard tidak bisa berdiri di altar. Dia duduk di kursi roda dan pikirannya tidak seperti dulu."

"Pemberkatan tidak mensyaratkan pengantin pria harus berdiri," balas Keira. "Dan untuk pikiran, aku rasa malam ini kita sudah melihat orang yang tampak normal pun bisa mengambil keputusan paling bodoh."

Brandon seperti ditampar. "Keira, jangan bawa Koh Rey ke masalah kita."

"Masalah kita selesai saat aku membuka pintu kamar itu."

Gunawan memukul lengan sofa. "Keira, jangan bertindak impulsif! Reynard itu..."

"Apa, Papa?" Keira menoleh padanya. "Cacat? Bodoh? Memalukan untuk dikenalkan sebagai menantu?"

Gunawan tercekat.

Keira tersenyum tipis. "Aneh. Semalam Papa tidak malu punya calon menantu yang mengkhianati putrimu. Tapi Papa malu jika putrimu menikahi pria yang tidak pernah menyakitinya."

Yuliana segera berkata, "Keira, bukan begitu maksud Papa."

"Aku belum meminta pendapat Mama Yuli."

Wajah Yuliana menegang. Untuk pertama kalinya malam itu, ia kehabisan senyum lembutnya.

Keira kembali menatap Hendrick. Dari semua orang di ruangan itu, dialah yang memegang kunci. Bukan karena ia paling benar, melainkan karena ia paling takut kehilangan kendali.

"Pak Hendrick," ucap Keira. "Foto dan video itu belum keluar dari ponselku dan ponsel Papa. Besok media tetap bisa melihat pernikahan keluarga Hartono dan Liem. Nama Liem tetap tersambung dengan nama Hartono. Brandon bisa disebut sakit mendadak, atau apa pun cerita yang Anda sukai. Tapi kalau Anda memaksa aku menikah dengan Brandon, aku tidak menjamin file itu tetap diam."

Brandon memucat. "Kamu mengancam kami?"

"Aku memberi pilihan."

Hendrick berjalan mendekat ke meja. Sepatunya berhenti tepat di depan ponsel Keira. "Kenapa Reynard?"

Pertanyaan itu lebih pelan dari sebelumnya.

Di dada Keira, ada bayangan singkat yang melintas. Berita tiga tahun kemudian. Nama Reynard Liem yang mendadak kembali ke dunia bisnis. Harga saham yang bergerak hanya karena satu keputusan. Orang-orang yang dulu menyebutnya Si Bodoh Liem menunduk dan memanggilnya Direktur Liem.

Ia tidak menjelaskan semua itu.

"Karena Brandon sudah kotor," jawab Keira. "Dan Celine terlalu ingin menjadi pengantin."

Celine gemetar. "Kak..."

"Jadi pilihannya sederhana." Keira berdiri. Sandal hotelnya tidak setajam hak tinggi tadi, tetapi setiap orang tetap mengikuti geraknya. "Kalau keluarga Liem masih ingin pernikahan besok berjalan, pengantin prianya Reynard. Kalau tidak, batalkan acara dan biarkan semua orang bertanya kenapa."

Gunawan berdiri juga. "Keira!"

Keira menoleh padanya tanpa takut. "Entah ganti pengantin pria, atau ganti pengantin perempuan. Silakan pilih."

Kalimat itu membuat ruangan jatuh ke dalam diam yang panjang.

Brandon tampak ingin bicara, tetapi tidak ada kata yang keluar. Celine meremas tisu sampai hancur di telapak tangannya. Yuliana menatap Gunawan, berharap suaminya menghentikan Keira, tetapi Gunawan sendiri sedang menghitung kerugian dengan wajah pucat.

Christina menutup mata sebentar. Kebenciannya pada skandal bertarung dengan penolakannya pada nama Reynard.

Hendrick akhirnya mengambil ponsel dari sakunya. Ia tidak menekan nomor siapa pun. Hanya menggenggamnya kuat-kuat, seperti benda itu bisa memberinya jawaban.

"Reynard tidak mudah diatur," katanya.

Keira tersenyum, kali ini benar-benar dingin.

"Kalau begitu, besok akan jadi hari yang menarik."

Episode 3

Bab 3: Pemuda di Kursi Roda

"Kalau begitu, besok akan jadi hari yang menarik."

Kalimat Keira semalam masih tertinggal di kepala Hendrick sampai siang hari berikutnya.

Highland Resort berubah wajah dalam waktu kurang dari dua belas jam. Lorong yang tadi malam dingin dan penuh aib kini dipenuhi rangkaian bunga putih, staf wedding organizer yang berjalan cepat dengan headset, serta tamu keluarga yang mulai berdatangan sambil saling menahan rasa penasaran.

Di luar, halaman rumput sudah disiapkan untuk pemberkatan. Kursi-kursi berbalut kain putih menghadap panggung kecil. Nama Brandon Liem yang semalam masih tercetak di beberapa papan kecil telah diganti terburu-buru. Sebagian staf tidak tahu alasannya. Sebagian lagi tahu sedikit, lalu memilih pura-pura tidak tahu karena bekerja untuk keluarga konglomerat berarti mengerti kapan harus menutup mulut.

Di lantai dua, di ruang istirahat pengantin pria, Reynard Liem duduk di kursi roda dekat jendela.

Usianya belum terlihat seperti pria yang seharusnya membuat satu keluarga besar cemas. Wajahnya terlalu bersih, terlalu tenang, dengan garis rahang yang halus dan kulit pucat yang membuat sinar siang tampak lembut saat menyentuhnya. Di pangkuannya ada sebuah Rubik. Jari-jarinya bergerak pelan, memutar sisi merah, biru, kuning, lalu berhenti seolah ia lupa langkah berikutnya.

Siapa pun yang melihat dari pintu akan berpikir sama seperti semua orang selama tiga tahun terakhir.

Putra sulung Liem itu rusak setelah kecelakaan.

Kecelakaan yang merenggut nyawa Engkong Liem Boen Hwa, meninggalkan luka bakar di tubuh Reynard, dan membuat kedua kakinya seolah tidak lagi mau patuh. Sejak hari itu, keluarga Liem menyimpan Reynard di Pavilion seperti menyimpan lukisan mahal yang retak. Masih bernilai karena nama, tetapi tidak lagi pantas dipajang di ruang utama.

Reynard memutar Rubik sekali lagi.

Klik.

Semua warna tersusun sempurna.

Ponsel di meja kecil bergetar. Nama Evan Lim muncul di layar.

Reynard mengangkatnya tanpa menoleh dari Rubik. "Bicara."

Di seberang, Evan tertawa pendek. "Bro Rey, kau benar-benar akan menikah hari ini?"

"Menurutmu?"

"Menurutku dunia makin gila. Semalam Bran ketahuan, pagi ini kau naik jadi pengantin pria. Ini bukan keluarga konglomerat, ini sinetron prime time."

Reynard tidak tersenyum. "Jangan terlalu menikmati."

"Sulit, Bro. Tapi serius, kalau kau tidak mau, bikin kekacauan saja di altar. Lempar Rubik, teriak, bilang tidak mau. Semua orang sudah percaya kau tidak stabil."

Jari Reynard berhenti di sisi hijau Rubik. Matanya yang tadi tampak kosong berubah dingin, sangat berbeda dari wajah lembut yang dipantulkan kaca jendela.

"Aku tidak suka disuruh."

Evan menghela napas. "Aku tahu. Tapi menikah dengan Keira Hartono juga bukan rencana awalmu."

"Tidak ada yang bilang aku akan menikah."

"Hendrick sudah menyiapkan jas. Christina hampir membanting gelas karena marah. Bran terlihat seperti mayat hidup. Dan perempuan Hartono itu..." Evan berhenti sebentar. "Dia menarik. Dia memilihmu saat semua orang menganggapmu beban."

Reynard menatap Rubik yang sudah rapi. "Itu yang membuatnya berbahaya."

"Atau pintar."

"Pintar dan berbahaya sering tinggal di rumah yang sama."

Evan tertawa lagi, kali ini lebih pelan. "Jadi? Kau mau menolak?"

Sebelum Reynard menjawab, pintu diketuk dua kali.

Suara pelayan terdengar gugup dari luar. "Tuan Muda, Nona Naomi datang."

Reynard mengubah posisi Rubik. Dalam satu gerakan kecil, semua warna yang rapi kembali acak. Matanya melembut, bahunya turun, dan jari-jarinya bergerak lebih lambat.

"Nanti," katanya ke telepon.

"Bro Rey..."

Reynard memutus panggilan.

Pintu terbuka sedikit. Naomi Liem masuk dengan dress pastel dan wajah yang jelas tidak pandai menyembunyikan panik. Ia masih muda, terlalu jujur untuk keluarga seperti Liem, dan sejak kecil lebih sering menghindari konflik daripada menikmatinya.

"Koh Rey," panggilnya hati-hati.

Reynard tidak menjawab. Ia hanya memutar Rubik, sisi demi sisi, seolah benda itu lebih penting daripada apa pun.

Naomi mendekat, lalu berjongkok sedikit agar suaranya tidak terdengar keluar. "Mereka minta Koh Rey ganti baju. Wedding organizer sudah hampir menangis. Om Hendrick juga..."

Reynard menatap Rubik. "Tidak mau."

Naomi menekan bibir. "Aku tahu Koh Rey tidak suka dipaksa. Tapi Kak Keira sekarang sedang menuju ke sini."

Nama itu membuat jari Reynard berhenti sepersekian detik.

Naomi tidak menyadarinya. Ia melirik pintu, lalu berkata cepat, "Aku belum pernah bicara banyak dengan dia. Tapi semalam dia membuat semua orang diam. Bahkan Om Hendrick. Kalau dia datang dan Koh Rey tetap seperti ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi."

Reynard memiringkan kepala. Wajahnya polos. "Kak Keira?"

Naomi menghela napas lega karena setidaknya ia merespons. "Iya. Calon istri Koh Rey."

"Istri?"

Kata itu keluar pelan, hampir seperti anak kecil yang mencicipi permen baru.

Naomi tampak semakin canggung. "Kalau pemberkatannya jadi, iya."

Di luar ruangan, langkah seseorang berhenti. Tidak cepat, tidak ragu. Dua ketukan terdengar di pintu yang masih setengah terbuka.

Naomi menoleh.

Keira berdiri di ambang pintu.

Ia sudah memakai gaun pengantin. Bukan gaun yang terlalu besar dan berlebihan, melainkan gaun putih sederhana dengan potongan bersih yang membuat lehernya tampak jenjang dan wajahnya semakin tenang. Rambutnya disanggul rendah. Tidak ada air mata. Tidak ada wajah perempuan yang semalam baru saja kehilangan calon suami.

Ia terlihat seperti seseorang yang datang untuk mengambil keputusan, bukan meminta izin.

Naomi langsung berdiri. "Kak Keira..."

"Aku dengar pengantin prianya tidak mau ganti baju," kata Keira.

Naomi salah tingkah. "Koh Rey biasanya memang..."

"Tidak apa-apa." Keira melangkah masuk. Matanya tidak menilai kursi roda, tidak berhenti terlalu lama pada kaki Reynard, tidak pula menunjukkan rasa kasihan yang selama ini paling dibenci laki-laki itu. Ia hanya melihat wajahnya, lalu Rubik di pangkuannya. "Boleh aku bicara dengannya?"

Naomi ragu, tetapi akhirnya mengangguk. "Aku tunggu di luar."

Setelah Naomi keluar, ruangan menjadi tenang.

Keira berjalan mendekat. Dari jarak dekat, ia melihat bekas luka tipis di dekat pergelangan tangan Reynard, sebagian tertutup manset kemeja rumah sakit yang belum diganti. Ia juga melihat Rubik itu. Gerakannya lambat, tetapi posisi warnanya tidak asal. Beberapa sisi sudah hampir terbentuk.

Orang yang benar-benar linglung tidak bermain sehalus itu.

Keira menyimpan kesimpulan itu di dalam hati.

Reynard menunduk, seolah tidak sadar ia sedang diperhatikan. Rambut hitamnya jatuh sedikit menutupi dahi. Di bawah cahaya siang Puncak, wajahnya terlihat terlalu indah untuk disebut menyedihkan. Seperti boneka porselen yang sengaja diletakkan di kursi roda agar semua orang lupa di dalamnya mungkin ada pisau.

"Rey," panggil Keira pelan.

Jari Reynard berhenti.

Ia tidak langsung menjawab.

Keira tidak berdiri di atasnya. Ia menekuk lutut, lalu berjongkok di depan kursi roda itu hingga mata mereka berada pada tinggi yang sama.

Baru saat itu Reynard mengangkat kepala.

Tatapan mereka bertemu.

Mata laki-laki itu lebih jernih dari yang pernah Keira bayangkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!