Indonesia
NovelToon NovelToon

Wanita Yang Kubuat Cacat

BAB 1

Resepsi outdoor yang digelar di salah satu privat beach di Bali itu berjalan dengan lancar dan sederhana. Hanya ada 70 kursi, karena mengusung tema intimate wedding. Kenan, pengantin pria yang merupakan seorang pengusaha muda, menikah dengan pujaan hatinya, Eliana, wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter gigi.

Acara digelar sore hari, saat matahari menguning dan memantul indah di permukaan laut. Tak ada pelaminan mewah, hanya anyaman bambu yang dihiasi kain satin dan bunga. Suara gitar akustik, dan tawa para sahabat, menjadi iringan yang membuat acara itu lebih berkesan.

Selain kedua mempelai, tak kalah berbahagia para sahabat yang menjadi bridesmaid dan groomsmen, mereka mengenakan gaun dan setelah jas warna pink. Warna yang awalnya sempat memicu perdebatan, karena beberapa groomsmen merasa kurang macho dengan warna tersebut. Tapi mereka bisa apa, pengantin yang menentukan dan menyediakan pakaian.

"Tiga, dua, sa.... tu."

Teriak sepasang pengantin dan beberapa undangan saat prosesi pelemparan buket bunga yang selalu menjadi momen favorit para single.

Namun setelah beberapa kali hitungan, bunga tersebut tak kunjung dilempar, membuat para single berdecak kecewa.

Kenan dan Eliana kembali membalikkan badan ke arah undangan. Keduanya kemudian berjalan ke arah sebuah meja. Semua mata, seketika tertuju pada keduanya.

Dengan mata berkaca-kaca, Eliana membungkuk memeluk kakak perempuannya yang duduk di sebuah kursi yang ada di barisan meja paling depan.

"Kenapa menangis, ini hari bahagia kamu?" Ilona sebagai kakak, ikut menitikkan air mata. Tangannya mengusap lembut punggung sang adik tercinta.

"Maafin aku ya, Kak." Eliana semakin sesenggukan, tak peduli make up nya bisa rusak karena itu.

Ia merasa bersalah telah menikah lebih dulu dari kakak perempuannya. Ia sudah berkali-kali menolak ajakan menikah Kenan, sampai akhirnya ia sudah tidak sanggup lagi untuk melakukannya. Saat ini, usia ia dan Kenan sama, yakni 27 tahun, usia dimana sudah dianggap matang untuk menikah. Sementara Kakaknya, Ilona, satu tahun di atas Eliana.

"Gak ada yang perlu dimaafkan. Kamu gak melakukan salah apa-apa." Ilona sama sekali tidak marah pada adiknya. Ia pernah sekali gagal menikah, dan sejak saat itu, tidak pernah melarang jika Eliana akan menikah lebih dulu darinya. Menurutnya, jodoh sudah di atur yang Di Atas, dan kapan datangnya, hanya yang Di Atas juga yang tahu.

"Semoga Kakak dan Arya segera menyusul aku dan Kenan." Eliana menoleh pada laki-laki yang ada di samping Kakaknya. Meraih sebelah tangan Ilona juga sebelah tangan Arya, lalu menyatukannya.

Ilona menunduk, tak kuasa menahan air mata.

Eliana mengambil buket di tangan Kenan, lalu memberikan pada Ilona.

Beberapa orang disana ikutan baper, bahkan ada yang sampai menitikkan air mata juga.

Eliana dan Kenan kembali ke pelaminan, melanjutkan acara yang sudah disusun sebelum hari hampir gelap.

"Ups, sorry." Elang panik saat tak sengaja menyenggol bahu seorang wanita yang duduk di meja paling depan, yakni Ilona.

Minumannya yang berwarna merah, tumpah mengenai gaun bagian dada wanita tersebut. Hal itu gara-gara sambil jalan, ia dan Ilham terus saja bercanda, saling senggol dan dorong.

Ilona yang kaget, reflek mengelap gaunnya dengan telapak tangan, yang justru menyebabkan noda merahnya makin menyebar.

"Bro, hati-hati dong!" Ujar Arya, menatap Elang kesal.

"Sekali lagi saya minta maaf. Sebentar saya ambilkan tisu." Elang berlari menuju meja prasmanan, mengambil beberapa helai tisu, lalu kembali. Ia menyodorkan tisu tersebut pada Ilona, dan beberapa lagi, ia letakkan ke atas meja. Sengaja mengambil banyak, biar tidak kurang.

Ilona tampak sibuk membersihkan cairan merah di gaunnya yang meninggalkan noda.

"Lo sih!" Elang melotot pada Ilham. Kalau bukan gara-gara Ilham yang sengaja menyenggol kencang minumannya gak mungkin sampai tumpah.

"Sorry." Ilham menatap Elang, mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada. Ekspresi wajahnya menjelaskan seberapa menyesalnya dia. "Sorry ya, temen gue gak sengaja." Beralih menatap Ilona.

"Kok gue, elo yang salah." Elang mendelik kesal.

"Gak papa kok." Meski sedih gaunnya kotor, Ilona tetap berusaha untuk tersenyum.

Elang garuk-garuk kepala, tersenyum canggung, merasa bersalah sekali.

"Guys, kumpul yuk! Kita buat video tok tok." Menggunakan mikrofon, Kenan memanggil para bridesmaid dan groomsmen.

Tanpa diminta dua kali, para bridesmaid dan groomsmen segera berkumpul di dekat pelaminan. Serangkaian acara resepsi hari ini sudah selesai, jadi mereka tinggal seru-seruan sambil menikmati makanan dan keindahan pantai.

Syakila, cewek paling centil sekaligus ratu tok tok itu, berdiri di depan, memberi intruksi dan mengajari gerakan pada yang lainnya. Sebelum take video, mereka mencoba beberapa kali dulu.

Elang, cowok itu salfok dengan Ilona, gadis itu juga memakai pakaian yang sama dengan bridesmaid, juga merupakan kakak kandung pengantin perempuan, tapi kenapa tak ikut gabung? Mungkinkah malu karena bajunya kotor? Iya, pasti gara-gara itu. Ia mendadak kesal pada cowok yang ada di samping Ilona, kenapa gak gentle banget dengan memberikan jasnya. Padahal mereka sepasang kekasih.

"Bentar ya." Elang meninggalkan barisan.

"Eh Lang, udah mau take nih. Kemana lo, kebelet? Tahan dulu!" Teriak Kenan.

"Bentar doang!" Teriak Elang tanpa menoleh. Ia menghampiri Ilona di tempat duduknya sambil melepas jas.

Ilona, gadis itu terkejut saat tiba-tiba mendapatkan uluran jas.

"Pakai ini, biar baju kamu yang kotor tidak kelihatan."

"Tidak perlu. Gak papa kok," tolak Ilona sopan sambil menggeleng.

"Ini salah satu bentuk pertanggung jawabanku setelah bikin gaun kamu kotor. Jadi, tolong diterima."

Ilona menoleh ke samping, menatap kekasihnya, Arya yang sedang sibuk dengan ponsel. Ia sedikit kecewa dengan sikap Arya yang hanya diam melihat laki-laki lain menawarkan jas untuknya. Ia tidak mengenal Elang sebelumnya, karena laki-laki itu merupakan teman dari pengantin laki-laki.

"Tolong diterima, setidaknya biar aku tidak terlalu merasa bersalah."

"Baiklah." Tak mau membuat Elang kecewa, Ilona menerima uluran jas warna pink tersebut, lalu memakainya. Untung nodanya agak kepinggir, tidak tepat di tengah dada, jadi dengan mengenakan jas tersebut, pakaiannya yang kotor tersamarkan.

Sambil tersenyum, jari jempol Elang menunjuk ke belakang, ke arah para bridesmaid dan groomsmen. "Gabung ke sana yuk!"

Mendengar itu, Arya seketika menatap Elang, bola mata di balik kaca mata itu menyipit.

"Tidak, terimakasih." Tolak Ilona.

"Udah gak kelihatan kok nodanya. Ayo!" Elang masih memaksa.

Ilona menggeleng sambil tersenyum.

"Ayolah. Jangan membuat aku semakin merasa bersalah karena membuatmu tidak bisa ikut seru-seruan di momen spesial adik kamu." Tadi ia sempat bertanya pada Shakila siapa wanita yang diberi buket tersebut, dan dari gadis itu, ia tahu jika Ilona adalah kakak dari Eliana.

"Apa maksud kamu memaksa dia seperti ini?" tanya Arya ketus.

"Aku hanya ingin dia ikut menikmati acara ini. Dia juga salah satu bridesmaid."

"Lang, buruan!" Teriak Shakila yang kesal menunggu Elang.

"Pergilah, kamu sudah dipanggil," ujar Ilona. "Mereka menunggumu."

Elang berdecak kesal. Ia merasa bersalah karena membuat Ilona tidak bisa ikutan seru-seruan. "Aku akan kesana, tapi tidak sendirian, melainkan denganmu." Ia mengulurkan tangan ke arah Ilona.

"Astaga! Apa maksud kamu ngomong kayak gitu?" Arya langsung berdiri, menatap Elang tajam. "Apa kamu tidak tahu, kalau Ilona_"

"Aku hanya punya satu kaki," potong Ilona cepat, tersenyum getir. Ia bicara seperti itu karena rasanya lebih sakit saat orang lain yang mengatakan itu, meski adalah fakta. Ia menarik ke atas sedikit gaunnya.

Elang terperangah saat yang terlihat olehnya hanya satu kaki, mengenakan flatshoes cantik warna pink. Ia termangu beberapa saat, hingga lengannya ditarik seseorang dari belakang.

"Lo ngapain sih, kita semua nungguin!" bentak Ilham. Ia menarik lengan Elang kembali ke barisan bridesmaid dan groomsmen.

BAB 2

Elang disini, bukan anaknya Ojan dan Nisa ya.

Serangkaian acara resepsi telah selesai, namun bukan berarti, semuanya sudah bubar. Deburan ombak yang terasa lebih tenang daripada siang, dan tiupan angin yang lebih dingin, membuat beberapa orang justru masih betah disana. Belum lagi dengan langit bertabur bintang, juga cahaya bulan yang memantul indah di air laut. Begitu syahdu, begitu menenangkan, terkhusus untuk para penghuni ibu kota yang terbiasa dengan kebisingan, kemacetan, dan polusi udara.

Dari kejauhan, Elang menatap Ilona yang berada di bibir pantai bersama Arya. Gadis disabilitas itu duduk di kursi roda, didorong pelan oleh sang kekasih. Entah kenapa, setelah kejadian minuman tumpah tadi, Ilona mendadak menjelma menjadi magnet yang menarik perhatiannya. Bukan cinta, tapi entahlah, seperti ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuat ia sedih saat menatapnya. Ia menoleh saat seseorang menepuk bajunya.

"Anak-anak bakar daging, gak pengen lo?" Kenan menghampirinya, di tangannya ada segelas minuman.

Kenan dan Elang berteman sejak keduanya sama-sama menempuh pendidikan S1 di Jerman. Kenan sudah kembali ke tanah Air 4 tahun yang lalu, memulai usaha cafe sekaligus menjadi konten kreator. Sementara Elang, ia baru kembali 2 tahun lalu, selain karena suatu alasan, juga karena ia masih betah di Jerman untuk lanjut program S2. Dan sekarang begitu kembali ke tanah air, bekerja di perusahaan keluarga.

"Eh, lo tadi ngapain nyamperin Kak Ilona?" tanya Kenan. "Pakai ngasih jas segala."

Elang menunduk, menatap pakaiannya. Pantas saja dinginnya angin laut seperti menembus tulang. Ternyata ia hanya mengenakan kemeja lengan panjang yang tipis.

"Bajunya ketumpahan minuman gue. Gara-gara si Ilham." Menoleh ke arah Ilham yang asyik BBQ dengan yang lainnya. "Eh, siapa tadi namanya?"

"Ilona. Dia kakak kandung Eliana, yang maknanya, sekarang dia kakak ipar gue."

"Oh... pantesan kayak ada mirip-mirip dikit sama bini lo."

"Sama-sama cantik, iya gak?" Kenan menyenggol bahu Elang. "Tapi sayang, Ilona tak seberuntung Eliana. Kasihan dia." Menatap nanar ke arah Ilona, sembari menyesap minumannya.

"Apa dia disabilitas sejak kecil? Sejak lahir maksud gue?"

Kenan menggeleng. "Kakinya diamputasi setelah mengalami kecelakaan 8 tahun silam."

"Kecelakaan?" Kening Elang mengernyit.

"Iya. Tabrak lari."

Deg

Elang seketika terperangah, jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat. Ia seperti mengalami serangan kecemasan saat mendengar kata tabrak lari.

"Hari itu, menjadi hari terburuk di sepanjang sejarah kehidupan Ilona. Dini hari, saat hendak mengantarkan ponsel ibunya yang ketinggalan di rumah, ia ditabrak sebuah mobil. Salah satu kakinya remuk, dan terpaksa harus diamputasi sebatas lutut."

Elang mengusap keningnya yang tiba-tiba berkeringat dingin. Kejadiannya sama dengannya, 8 tahun silam, tapi tidak mungkin itu Ilona. Tidak! "A, apa dia tahu siapa yang menabraknya?" nafasnya mulai tercekat.

Kenan terkekeh mendengar pertanyaan konyol Elang. "Gue bilang tadi apa, tabrak lari. Artinya penabrak itu pergi begitu saja, tidak bertanggung jawab."

"A, apa tidak lapor polisi?"

"Polisi?" Kenan tersenyum getir. "Eliana bilang sudah lapor, tapi lo tahu sendirikan, gak semua hal bisa teratasi dengan cara lapor polisi. Kejadiannya dini hari."

Tubuh Elang mengalami tremor mendengar kata dini hari. Wajahnya memucat. Sekilas bayangan masa lalu berputar di otaknya.

"Enggak, bukan gue." Ia berusaha untuk meyakinkan diri sendiri.

"CCTV di lokasi kejadian rusak. Bisa gitu ya, tiba-tiba rusak." Kenan tersenyum simpul. "Kayak yang...ah sudahlah. Awalnya ada saksi yang bilang jika penabraknya sebuah mobil sport warna merah, tapi beberapa hari kemudian, tiba-tiba keterangannya berubah, dia bilang warnanya tidak jelas, gelap. Kasus itu menguap begitu saja, tanpa ada tersangka yang ditangkap." Ia terkekeh geli. "Kalau memang benar penabraknya menggunakan mobil sport merah, sudah bisa dipastikan pelakunya orang kaya. Dan lo tahu sendirikan, apa yang tidak bisa dilakukan dengan uang. Membeli hukum? Jelas sangat bisa. Lokasinya di Jl. Ampera, dekat pasar lama yang sudah direlokasi. Disana memang gelap sih, penerangannya kurang."

Elang terus mengusap keringat dingin yang sekarang memenuhi sekujur tubuhnya. Nafasnya sesak, tenggorokannya tercekat. Jantungnya berdetak sangat cepat seperti dini hari itu. Semuanya sama, mulai dari lokasi, waktu kejadian, dan mobil yang menabrak Ilona.

Delapan tahun ia lari, mencoba mengubur dalam-dalam peristiwa mencekam dini hari itu. Berusaha meyakinkan diri, mungkin orang yang ia tabrak hari itu baik-baik saja. Mungkin korbannya tidak terluka parah, hanya lecet-lecet.

Namun ternyata tidak seperti itu. Korban itu sekarang punya nama, dia Ilona. Tidak baik-baik saja, salah satu kakinya diamputasi. Bukan hanya soal kaki, tapi masa depan, serta kebahagiaan gadis itu terenggut karena satu detik kelalaiannya.

Tubuhnya Elang membeku, matanya sayu menatap Ilona dikejauhan. Setelah 8 tahun, semesta mempertemukannya dengan korban yang ia tabrak dan tinggalkan begitu saja. Korban yang ternyata tidak baik-baik saja.

"Lo kenapa?" Saat menoleh, Kenan heran dengan wajah Elang yang tiba-tiba pucat pasi. "Sakit lo?"

Elang mengangkat tangan saat Kenan hendak menyentuh bahunya.

"Lang, lo kenapa?" Kenan panik.

"Gak, gua gak papa. Gue, gue sepertinya harus kembali ke hotel," ujar Elang dengan suara tercekat.

BAB 3

Jam dua lewat tujuh belas, Elang terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi kening, leher dan punggungnya. Jantungnya berpacu seperti malam itu juga.

Lagi. Mimpi itu datang lagi. Entah keberapa kalinya dalam 8 tahun ini.

Di mimpi, langit masih hitam. Jalanan kosong. Hanya lampu mobilnya yang membelah gelap.

Musik dari pesta kelulusan SMA dan tawa teman-teman, masih berdengung di kepalanya.

Ia mabuk. Bukan mabuk sampai tidak sadar. Mabuk cukup untuk merasa dirinya masih bisa menyetir.

Jalanan di dekat pasar lama memang sepi, karena pasar tersebut terbengkalai, para pedangangnya telah direlokasi. Kakinya menginjak pedal gas cukup dalam, mobil melaju kencang bak di sirkuit balap.

Tiba-tiba ia melihat sebuah siluet. Matanya menyipit, mencoba fokus. Seseorang berkendara di depannya dengan kecepatan sedang. Ia menginjak rem, namun terlambat.

_Brak._

Suara itu. Suara yang delapan tahun tidak pernah pergi dari telinganya. Beberapa bagian motor terpental ke udara, nyata di depan matanya.

Ia berhenti tiga detik. Tangannya gemetar di setir. Menarik gagang pintu, ia harus melihat kondisi orang yang ia tabrak. Pintu baru terbuka sedikit... lalu ia menutupnya lagi. Ia berubah fikiran.

Panik. Takut. Bayangan jeruji besi memenuhi kepala. Minggu depan ia terbang ke Jerman, sudah diterima di salah satu kampus ternama disana. Kasus ini bisa membuat dirinya dicekal untuk ke luar negeri. Tidak, masa depannya tidak boleh dipertaruhkan.

Elang menginjak pedal gas. Mobil sport merah itu melesat pergi, meninggalkan tubuh yang tergeletak di aspal dalam kegelapan dan berlumur darah.

Mimpinya selalu berhenti di detik ketika ia memilih kabur. Memilih menjadi pecundang demi masa depannya.

Elang duduk di tepi ranjang sambil mengatur nafas. Delapan tahun ia berusaha mengubur memori itu. Tapi ia seperti terus dikejar rasa bersalah, mimpi itu datang berkali-kali. Dan malam ini, wajah Ilona seketika muncul di kepalanya. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menangis, teringat saat Ilona menaikkan gaunnya sedikit ke atas, menunjukkan kakinya yang sekarang hanya tinggal sebelah. Entah bagaimana Ilona menjalani hari-harinya selama 8 tahun ini.

Kasus kecelakaan itu bisa tertutup karena bantuan orang tuanya yang kaya raya dan punya banyak koneksi orang di kepolisian. Benar kata Kenan, apa yang tidak bisa dibeli oleh orang kaya. Mungkin, hanya hati nurani yang tidak akan terbeli.

...----------------...

Pesawat menuju Jakarta berangkat pukul 09.00 WITA. Elang duduk di dekat jendela, tapi matanya tidak menikmati pemandangan di luar, ia sibuk memutar kembali setiap apa yang ia lihat kemarin, khususnya Ilona.

Ia sudah kembali ke Jakarta, kembali dengan rutinitas seperti biasa, tapi harinya berantakan. Email salah kirim. Rapat ia diam saja. Kopi ketumpahan ke dokumen, dan lain-lain.

Ia terus dihantui rasa bersalah. Bayangan Ilona terus berputar di kepalanya.

"Gimana, bagus gak?" Alisya yang mendatangi Elang di kantor, menunjukkan foto dirinya saat fitting kebaya kemarin.

Seminggu lagi Elang bertunangan dengan Alisya, kekasihnya sejak masih di Jerman. Undangan sudah dicetak. Cincin sudah jadi karena pesan bulan lalu. Pakaian, gedung, dan catering juga sudah DP. Semua sudah siap.

"Bagus." Elang memperhatikan foto Alisya dengan kebaya maroonnya.

"Menurut kamu kebanyakan aksesoris gak sih, apa selendang bentuk pita di bagian belakang mending gak usah dipakai?" Alisya bertanya dengan antusias, namun sang kekasih malah bengong, pandangannya kosong, melamun. "Yank" Ia menepuk bahu Elang yang duduk di kursi kerjanya.

"Hah, iya," Elang terperangah.

"Aku nanya kamu."

"Iya, apa?" Elang gelagapan.

Alisya mendengus kesal, namun tetap mengulang pertanyaannya.

"Seperti ini bagus kok," respon Elang.

Selain menunjukkan foto, Alisya juga membawa map berisi rundown acara dan daftar tamu. Ia yang berdiri di samping Elang, mengajak kekasihnya itu untuk diskusi membahas detail acara yang hanya tinggal beberapa hari lagi.

"Vendor dekor tanya warna bunga. Mau tetap putih-gold aja, atau mau ditambah dusty pink atau warna lain lagi?"

"Terserah kamu aja."

"Terus rundown acara, kayak gini menurut kamu pas atau mau ada yang diganti, nambah acara, atau gimana?"

"Udah."

"Ini untuk daftar undangan, sudah benar atau ada yang mau diganti. Besok mau disebar soalnya."

"Hem," Elang mengangguk.

"Terus untuk. .." Alisya tiba-tiba berhenti. Ia menatap Elang lama, kekasihnya itu seperti tidak bersemangat sama sekali. Selain tak menatap kertas-kertas yang ia tunjukkan, tak sekalipun juga memberi masukan, hanya menjawab sekedarnya, seolah acara minggu depan itu tidak terlalu penting. "Sayang. Kamu dengerin aku nggak sih?"

Elang tersentak saat bahunya ditepuk Alisya. "Denger. Maaf. Lagi banyak kerjaan." Ia pura-pura sibuk dengan laptop. "Aku masih banyak kerjaan, nanti malam saja kita bahas lagi." Ia sadar, jika pembahasan ini berlanjut, yang ada ia dan Alisya akan bertengkar.

Sebenarnya bukan pekerjaan yang memenuhi isi kepalanya, tapi Ilona. Ada Ilona di sana. Ilona dengan satu kakinya, yang di dorong di kursi roda malam itu.

Alisya mengangguk, meski menyimpan sedikit rasa kesal, tapi ia tak mau terlalu menunjukan itu. Ia merapikan mapnya, mengecup pipi Elang lalu pamit. "Oke. Nanti malam kita lanjut sambil VC ya. Jangan lupa makan."

Elang mengangguk sambil tersenyum. Kekasihnya itu, tak ada yang berubah, sejak 3 tahun yang lalu, perhatiannya masih sama. Pintu kembali tertutup, Alisya hilang dari pandangannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!