Suara indikator detak jantung berbunyi konstan dan monoton di dalam ruang perawatan VIP Rumah Sakit Medika Utama. Aroma antiseptik yang tajam menyeruak di udara, mempertegas suasana dingin dan mencekam yang menyelimuti ruangan tersebut. Di atas ranjang rumah sakit, Bu Salma ibu kandung Aura,terbaring lemah dengan wajah pucat pasi serta selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
Aura Zhafira duduk di samping ranjang, menggenggam erat jemari ibunya yang terasa begitu dingin. Tangannya yang lain meremas pinggiran rok panjangnya. Matanya sembap dan memerah, menahan rasa panas yang merambat di pelupuk mata tiap kali ia menatap dua lembar kertas di atas meja kecil di sebelahnya.
Lembar pertama adalah tagihan biaya perawatan rumah sakit dan operasi darurat ibunya yang terus membengkak. Lembar kedua, yang jauh lebih mengerikan, adalah surat peringatan penyitaan rumah dari pihak bank yang jatuh tempo tepat besok pagi.
Dua miliar rupiah.
Angka fantastis itu terus menari-nari di ingatan Aura, menjelma menjadi monster yang siap menelan kehidupannya bulat-bulat. Selama ini, publik mengenal Aura Zhafira sebagai pembawa berita utama di stasiun televisi swasta nasional,sosok wanita mandiri, cerdas, berhijab anggun, dan selalu tampak sempurna serta tenang di depan kamera *Prime Time*. Namun, di balik semua gemerlap layar kaca itu, Aura hanyalah seorang putri yang sedang terhimpit beban berat akibat utang piutang peninggalan almarhum ayahnya.
Hasil kerja kerasnya bertahun-tahun sebagai presenter berita telah habis dikuras untuk mencicil utang dan membayar pengobatan ibunya. Kini, ia sudah berada di titik nadir. Tidak ada lagi perhiasan yang bisa dijual, dan tidak ada lagi tabungan yang tersisa.
Brak!
Pintu kamar perawatan VIP itu tiba-tiba terdorong keras hingga menabrak dinding kayu di belakangnya. Suasana tenang di dalam kamar seketika hancur berkeping-keping.
Dua pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam dan wajah kasar melangkah masuk tanpa permisi. Tatapan mereka menyapu sekeliling ruangan sebelum akhirnya tertuju lurus pada Aura.
"Nona Aura Zhafira?" tanya salah satu pria yang memiliki tato kecil di lehernya dengan suara keras dan penuh intimidasi. "Kami utusan dari Pak Frans. Utang almarhum ayahmu sudah lewat tenggat waktu. Kalau tidak ada pembayaran tunai dua miliar malam ini juga, rumah di Jakarta Selatan resmi kami sita! Dan ingat, kami tidak segan membawa kasus ini ke media berita tempatmu bekerja!"
Aura berdikari dari kursinya. Tubuhnya gemetar hebat, namun ia berusaha berdiri membentengi ranjang ibunya yang terganggu oleh suara bising tersebut.
"Tolong pelankan suara kalian! Ibu saya sedang kritis di ruang perawatan!" bisik Aura panik campur marah, matanya berkaca-kaca. "Tolong beri saya waktu beberapa hari lagi... saya sedang mengusahakan dan mencari jalannya."
"Tidak ada waktu lagi, Nona! Kami sudah bosan mendengar alasanmu!" Pria bertato itu maju satu langkah secara agresif. Tangannya yang kasar melayang di udara, hendak mencengkeram lengan Aura secara paksa. "Jangan sok jual mahal hanya karena kamu artis berita TV!"
Aura memejamkan mata rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri dan bersiap menghadapi bentakan fisik yang akan menimpanya. Namun, detik-detik menegangkan itu mendadak terhenti. Sentuhan kasar yang ia bayangkan tidak pernah sampai.
"Lepaskan tanganmu sebelum saya buat jemarimu tidak bisa digerakkan lagi selamanya."
Sebuah suara berat, dingin, dan berwibawa memotong ketegangan udara di ruangan itu. Suara itu tidak diucapkan dengan nada berteriak, melainkan dengan ketenangan mematikan yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun merinding.
Di ambang pintu kamar, berdiri seorang pria jangkung dengan postur tubuh tegap. Ia mengenakan setelan jas hitam kustom tanpa cela yang membalut kemeja putihnya. Tatapan matanya yang tajam bak elang mengunci kedua penagih utang tersebut dengan penuh pendar ancaman.
Dua pengawal bertubuh tinggi besar yang berdiri di belakang pria itu dengan gerak cepat langsung maju. Tanpa kesulitan berarti, mereka memiting lengan kedua penagih utang, memutar tubuh mereka, dan mendorong mereka mundur hingga terhempas ke koridor luar kamar.
Napas Aura memburu. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari siapa sosok pria yang baru saja menyelamatkannya.
Reno Adhyastha.
Sang taipan muda berumur dua puluh sembilan tahun yang memimpin Adhyastha Corporation, sebuah konglomerasi raksasa di bidang properti, teknologi, sekaligus pemilik utama dari Rumah Sakit Medika Utama ini. Pria yang dikenal di dunia bisnis sebagai sosok yang dingin, berkuasa, penuh kalkulasi, dan sangat benci jika kehidupan pribadinya tersentuh oleh media.
Reno sama sekali tidak melirik ke arah dua penagih utang yang sedang diseret pergi oleh para pengawalnya di luar. Pandangan matanya yang kelam dan tak tersentuh emosi melangkah masuk, berhenti tepat tiga langkah di depan Aura.
"Ikut saya ke ruangan saya sekarang, Miss Zhafira. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan," ujar Reno datar. Suaranya tidak menerima penolakan. Pria itu langsung berbalik pergi tanpa menunggu persetujuan dari Aura.
Aura menatap punggung tegap itu dengan napas menahan sesak. Ia melirik ibunya yang masih tertidur lelap di bawah pengaruh obat, lalu menyapu air matanya cepat-cepat sebelum menyusul langkah Reno.
Beberapa menit kemudian, Aura sudah berdiri di dalam ruang kerja direksi yang sangat luas di lantai paling atas gedung rumah sakit. Ruangan itu didominasi interior marmer dan kaca tebal yang memperlihatkan pemandangan malam kota Jakarta dari ketinggian.
Reno berdiri membelakangi ruangan, menatap pijar lampu-lampu kota di luar jendela kaca besar. Tanpa menengok, ia mengibaskan tangannya pelan. Asisten pribadinya yang berdiri di sudut ruangan segera meletakkan sebuah map tebal berwarna hitam di atas meja kaca di depan Aura.
Aura melangkah mendekati meja, membuka map tersebut dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Matanya membelalak lebar saat membaca lembaran kertas di dalamnya.
"Apa maksudnya ini, Mr. Adhyastha?" suara Aura bergetar menahan gejolak di dadanya. "Mengapa Anda memiliki seluruh data utang piutang keluarga saya sampai sedetail ini? Bahkan laporan medis ibu saya..."
Reno memutar tubuhnya perlahan, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja. Tangannya bersedekap di dada, menatap Aura dengan pandangan yang sulit dibaca.
"Asisten saya bekerja dengan sangat cepat dan efisien," jawab Reno tanpa beban. "Saya tahu kamu membutuhkan uang tunai dua miliar rupiah malam ini juga untuk melunasi utang almarhum ayahmu dan membatalkan penyitaan rumah. Saya juga tahu kamu butuh jaminan penuh atas seluruh biaya rumah sakit ibumu sampai dia pulih total."
Aura mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh, meredam rasa tersinggung yang menyengat harga dirinya. "Dan apa hubungannya semua krisis keluarga saya dengan Anda? Anda mengintai saya?"
"Saya tidak punya waktu luang untuk mengintai orang," balas Reno dingin dan lugas. "Sederhana saja, Miss Zhafira. Kamu butuh uang dalam jumlah besar dengan cepat, dan saya butuh seorang istri."
Aura tersentak hebat, matanya membulat tak percaya. "Apa?"
"Saya dituntut oleh dewan komisaris dan Nenek saya untuk segera menikah sebelum akhir bulan ini jika ingin mengamankan posisi CEO utama dalam restrukturisasi perusahaan," terang Reno datar, seolah sedang mempresentasikan laporan keuangan tahunan. "Saya membutuhkan sosok wanita dengan image publik yang bersih, berpendidikan, tidak punya skandal, dan yang paling penting: tidak haus akan harta saya. Kamu memenuhi seluruh kriteria formal itu."
Reno melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Aura bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang maskulin dari tubuh pria itu.
"Saya tidak bermaksud melecehkanmu, Miss Zhafira. Ini murni kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan," lanjut Reno dengan tatapan mengintimidasi. "Saya akan melunasi seluruh utang dua miliar itu dan menanggung biaya rumah sakit ibumu detik ini juga. Sebagai imbalannya, kamu menjadi istri saya di atas kertas selama satu tahun. Tanpa hubungan suami-istri yang sesungguhnya, dan tanpa melibatkan perasaan."
Aura tertegun membisu. Kata-kata Reno bergema di dalam kepalanya. Rasa terkejut, marah, dan gengsinya bertarung hebat di dalam dada. Ia merasa seperti sebuah komoditas yang baru saja ditawar oleh pria kaya di hadapannya. Namun, ketika bayangan wajah ibunya yang pucat dan bentakan para penagih utang tadi kembali melintas, benteng pertahanannya runtuh.
Ia tidak punya pilihan lain.
"Kenapa harus saya?" tanya Aura dengan suara lirih yang tertahan di tenggorokan. "Banyak wanita sosialita dan model papan atas yang pasti bersedia antre untuk Anda."
"Karena kita sama-sama terdesak dan butuh solusi instan tanpa kerumitan," balas Reno cepat. "Lagipula, kamu bekerja di media berita. Kamu tahu betul konsekuensi hukum dan reputasi jika sampai membocorkan pernikahan rahasia ini ke publik. Kamu pilihan yang paling aman untuk saya."
Reno merapikan kancing jas hitamnya, memutus kontak mata mereka.
"Saya tidak meminta jawabanmu detik ini. Saya tunggu kamu di Restoran VIP Senopati pukul delapan malam ini untuk penandatanganan berkas resminya. Jika kamu datang, artinya kamu setuju dengan seluruh aturan main saya. Jika tidak, kamu bebas mencari jalan lain untuk menyelamatkan rumahmu besok pagi."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Aura untuk merespons, Reno melangkah melewatinya dan keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Aura yang berdiri terpaku di tengah ruangan yang sunyi, menatap map hitam di tangannya dengan sejuta keraguan yang bergulat di dalam dada.
Suara rintik hujan yang mulai menetes basah membasahi kaca jendela ruang perawatan VIP seolah memperjelas kesunyian di hati Aura Zhafira. Waktu di dinding terus bergulir tanpa ampun, mendekati pukul tujuh malam. Di atas meja kecil di samping ranjang, map hitam berisi salinan dokumen dari Reno Adhyastha seolah terus memanggil-manggil namanya, menuntut sebuah kepastian.
Aura menatap wajah ibunya yang tertidur lelap di bawah pengaruh obat penenang. Wajah tua yang kini dipenuhi kerutan itu tampak begitu rapuh. Ibu adalah satu-satunya alasan Aura bertahan dan bekerja keras hingga detik ini. Jika esok hari rumah peninggalan almarhum ayahnya benar-benar disita dan berita utang piutang tersebut mencuat ke media, bukan hanya reputasinya sebagai presenter berita yang akan hancur, tetapi kesehatan ibunya yang sudah sangat lemah juga tidak akan sanggup menanggung kejutan sesakit itu.
"Maafkan Aura, Bu..." bisik Aura sangat pelan. Ia membungkuk, mendaratkan kecupan hangat di kening ibunya yang dingin seraya menahan air mata yang mendesak di pelupuk mata. "Aura harus mengambil keputusan ini. Tolong doakan Aura..."
Aura menegakkan tubuhnya kembali. Ia menyapu sisa air mata di pipinya dengan ujung jari, merapikan hijab instan berwarna pink lembut yang membingkai wajah cantiknya, lalu melangkah keluar dari kamar rawat.
Di koridor rumah sakit yang lengang, Pak Aslan asisten pribadi bertubuh tegap kepercayaan Reno,ternyata masih setia menunggu. Begitu melihat Aura keluar, pria paruh baya bersetelan rapi itu membungkuk sopan.
"Bagaimana, Nona Zhafira? Apakah Anda sudah siap?" tanya Pak Aslan dengan nada suara yang sangat terjaga.
"Saya siap pergi ke lokasi, Pak," jawab Aura dengan suara mantap, walau dadanya bergemuruh hebat.
"Baik, Nona. Mobil Alphard Tuan Reno sudah bersiap di area basement," balas Pak Aslan seraya membukakan jalan dengan gestur yang sangat menghormati.
Tepat pukul 19.50 WIB, mobil mewah bernomor polisi B 1899 RNO itu perlahan berhenti di depan sebuah restoran privat bergaya modern-minimalis di kawasan elit Senopati. Tempat itu tampak sangat tertutup dari luar, dikelilingi pepohonan tinggi dan penerangan yang samar,tempat yang sempurna untuk transaksi rahasia kalangan kelas atas.
Pak Aslan membukakan pintu mobil dan memandu Aura melangkah menuju area VIP di lantai dua. Penerangan di dalam ruangan itu didominasi pendar warm white yang eksklusif dan elegan.
Di ujung meja panjang berbahan kayu mahoni, seorang pria sudah duduk tegap. Pria itu masih mengenakan setelan jas hitam kustom tanpa cela. Jemarinya yang panjang dan dihiasi jam tangan mewah berwarna gelap tampak sedang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan tempo teratur.
Reno Adhyastha.
Saat langkah kaki Aura mendekat, Reno mendongak. Pandangan matanya yang tajam, kelam, dan penuh kalkulasi langsung mengunci netra Aura. Wajahnya sangat tampan dengan garis rahang yang tegas, namun ekspresinya begitu datar dan kaku,seolah tak ada satu pun emosi manusiawi yang diizinkan keluar dari dalam dirinya.
"Duduk, Miss Zhafira," suara Reno terdengar berat, dalam, dan tanpa basa-basi.
Aura menarik kursi kayu di seberang Reno dan duduk dengan posisi tegap yang anggun. Di balik penampilannya yang tetap tenang bak pembawa berita profesional, Aura menyembunyikan kedua tangannya yang saling bertautan erat di bawah meja untuk menutupi rasa gemetar.
Reno melirik jam di pergelangan tangannya sekilas. "Tepat waktu. Saya suka orang yang menghargai waktu dan tidak berbelit-belit."
Pria itu memberi isyarat pelan pada Pak Aslan. Sang asisten segera melangkah maju dan meletakkan dua rangkap dokumen tebal berikatan pita merah tepat di depan Aura, lengkap dengan dua lembar materai dan sebuah pulpen berornamen emas.
"Di dalam dokumen itu terdapat tiga puluh pasal perjanjian pernikahan yang sudah disusun oleh tim hukum saya," buka Reno, pandangannya lurus menatap Aura tanpa berkedip. "Saya tidak suka membuang waktu, jadi saya akan memperjelas poin utamanya secara langsung."
Aura menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. "Saya mendengarkan, Mr. Adhyastha."
"Pertama, seluruh utang almarhum ayahmu sebesar dua miliar rupiah telah dilunasi oleh tim keuangan saya sepuluh menit yang lalu," ucap Reno datar, seolah membicarakan uang miliaran rupiah seperti membalikkan telapak tangan. "Begitu pula dengan deposit jaminan biaya rumah sakit dan perawatan medis ibumu untuk satu tahun ke depan."
Dada Aura berdesir hebat. Rasa lega luar biasa seketika membuncah di dalam dirinya rumah ibunya selamat, dan perawatan ibunya terjamin. Namun di saat yang sama, rasa takut mulai merayapi benaknya. Ia sadar betul konsekuensi besar yang harus ia serahkan sebagai gantinya.
"Dan imbalannya," lanjut Reno, bersandar pada kursi kayunya seraya melipat kedua tangan di dada, "kamu resmi menjadi istri saya di atas kertas selama tiga ratus enam puluh lima hari ke depan."
Reno menatap Aura dengan ketajaman yang begitu mengintimidasi sebelum membacakan poin-poin utama kesepakatan mereka.
"Aturan main kita sangat sederhana:"
"Satu, tidak ada hubungan suami-istri yang sesungguhnya di antara kita. Kita akan tinggal di bawah satu atap, tetapi berada di kamar yang terpisah dan menjaga privasi masing-masing."
"Dua, keberadaan pernikahan ini harus dirahasiakan dari publik dan rekan media berita tempatmu bekerja. Saya tidak ingin kehidupan pribadi saya disorot oleh kamera atau dijadikan bahan berita gosip."
"Dan yang ketiga..." Reno jeda sejenak, memberikan penekanan dingin pada setiap kata, "...jangan pernah melibatkan perasaan. Jangan jatuh cinta pada saya, dan jangan pernah berharap saya akan menganggapmu lebih dari sekadar mitra kontrak."
Ruangan VIP itu mendadak hening. Syarat-syarat itu diucapkan dengan begitu kaku, lugas, dan tanpa empati, seolah Aura hanyalah sebuah aset bisnis yang baru saja ia beli demi mengamankan posisi CEO di perusahaan.
Aura menatap dokumen tebal di depannya, lalu beralih menatap mata pria dingin di hadapannya. Ada rasa tersinggung yang menyengat harga dirinya sebagai seorang wanita. Namun, Aura dengan cepat menepis gejolak emosi itu. Ini bukan saatnya mengedepankan gengsi. Ini adalah transaksi bisnis yang adil.
"Bagaimana jika ada pihak media atau wartawan yang mencium pernikahan ini secara tidak sengaja?" tanya Aura menguji, mengingat profesinya sendiri adalah seorang jurnalis senior.
"Tim hukum dan keamanan saya cukup tangguh untuk memblokir berita tersebut sebelum sempat naik ke publik," balas Reno tegas dan percaya diri. "Tugasmu hanya satu: berakting sempurna sebagai istri yang anggun saat berada di depan Nenek saya dan dewan komisaris, lalu menjadi 'orang asing' saat kita hanya berdua."
Aura menghela napas panjang dan perlahan. Ia merengkuh pulpen emas di meja. Jemarinya memegang pena itu dengan erat, mengusir keraguan terakhir yang tersisa di sudut hatinya.
"Baik," ucap Aura mantap. "Saya terima semua kesepakatannya."
Aura membuka halaman terakhir dokumen tersebut, menempelkan materai pada kolom nama, dan membubuhkan tanda tangannya yang terukir rapi di atas garis nama *Aura Zhafira*.
Reno memperhatikan setiap pergerakan jemari Aura tanpa berkedip sedikit pun. Tidak ada senyuman atau riak kepuasan di wajah tampan pria itu ketika dokumen tersebut digeser kembali ke arahnya. Reno hanya mengambil pulpen miliknya sendiri, menyapukan tanda tangan yang tegas di sebelah tanda tangan Aura, lalu menutup dokumen itu dengan ketukan pelan.
Brak.
"Selamat datang di perjanjian kita, Miss Zhafira," kata Reno seraya berdiri dari kursinya, merapikan kancing jas hitamnya. "Mulai malam ini, barang-barang pribadi milikmu akan dipindahkan oleh tim saya ke penthouse saya di kawasan SCBD. Kamu akan langsung tinggal di sana bersama saya."
Aura mendongak terkejut. "Malam ini juga? Tapi ibu saya..."
"Ibumu ditangani oleh dokter-dokter terbaik di rumah sakit ini, dan Pak Aslan sudah menyiapkan penjaga khusus dua puluh empat jam di depan kamarnya," potong Reno dingin tanpa cela. "Pernikahan resmi kita secara tertulis akan diproses oleh negara besok pagi. Jadi tidak ada alasan untukmu menunda kepindahan. Jangan buat saya menunggu di mobil."
Tanpa menunggu tanggapan atau bantahan dari Aura, Reno berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan VIP tersebut dengan langkah tegap. Meninggalkan Aura yang terduduk sendirian dalam keheningan malam, menatap lembaran kertas yang baru saja mengubah seluruh takdir hidupnya.
Deru mesin mobil Alphard hitam itu perlahan meredup saat membelah kegelapan area basement eksklusif dari sebuah gedung pencakar langit di kawasan bisnis SCBD. Lampu-lampu sorot bernuansa modern menerangi deretan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di sana, menandakan kawasan ini hanya dihuni oleh orang-orang terpilih dari kalangan kelas atas.
Aura Zhafira menatap keluar jendela mobil yang gelap dengan perasaan campur aduk. Di pangkuannya, sebuah tas pribadi berukuran sedang berisi beberapa potong pakaian dan keperluan dasarnya terasa begitu berat seberat keputusan besar yang baru saja ia tanda tangani satu jam yang lalu di restoran.
Pak Aslan dengan cepat membukakan pintu mobil dari luar. "Silakan turun, Nona Zhafira. Tuan Reno sudah menunggu di depan lift pribadi."
Aura mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak Aslan."
Ia melangkah keluar dari mobil, mengusap bahunya yang terasa agak dingin seraya menyusul langkah Reno yang sudah berdiri di depan pintu lift beraksen emas. Pria itu berdiri begitu tegap, menempelkan kartu akses khusus dan melakukan pemindaian sidik jari sebelum pintu lift berdenting halus dan terbuka lebar.
Selama perjalanan naik menuju lantai paling atas penthouse, tidak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Keheningan yang mencengkeram di dalam lift kaca itu terasa begitu pekat. Reno berdiri tegap di sudut lift, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya sembari menatap angka lantai yang terus bertambah di layar digital dengan tatapan kosong. Aura sendiri memilih menunduk, meremas tali tasnya erat-erat demi meredam rasa canggung dan gugup yang membakar dadanya.
Denting!
Pintu lift terbuka pelan, langsung menyajikan pemandangan sebuah penthouse dua lantai yang sangat luas, megah, dan mewah. Dinding-dinding kaca setinggi lima meter menampilkan lanskap gemerlap sinar lampu metropolitan Jakarta di bawah naungan malam. Interior ruangan didominasi warna hitam, abu-abu marmer, dan aksen kayu gelap,desain minimalis yang terkesan sangat maskulin, dingin, namun memancarkan kekuasaan.
"Ini tempat tinggal saya," ujar Reno datar, melangkah masuk ke atas lantai marmer yang dingin dan mengkilap. "Dan mulai malam ini, ini juga tempat tinggalmu selama satu tahun ke depan."
Aura melangkah ragu-ragu mengikuti arah langkah Reno. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang terasa begitu hampa, sepi, dan asing. Tidak ada hiasan hangat atau foto keluarga; rumah ini benar-benar mencerminkan pemiliknya yang berhati es.
"Pekerja rumah tangga hanya datang dari pagi sampai sore untuk membersihkan ruangan dan menyiapkan makanan," terang Reno seraya melepas jas hitamnya dan menyampirkannya di lengan sofa kulit. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan santai. "Malam hari tidak akan ada orang lain di rumah ini selain kita berdua."
Aura menelan ludah yang terasa menyumbat di tenggorokan. "Baik, Mr. Adhyastha."
Reno memutar tubuhnya perlahan, menatap Aura dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai yang tajam. "Panggil saya Reno saat kita sedang berdua saja. Terlalu kaku jika kamu terus memanggil saya dengan sebutan formal seperti itu di dalam rumah."
Aura tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Reno." Nama itu terasa sangat aneh dan berat saat diucapkan oleh bibirnya.
Reno kemudian berbalik dan memandu Aura menyusuri koridor lantai atas. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berwarna cokelat terang, memutar gagang pintunya, dan menggeser pintu tersebut hingga terbuka lebar.
"Ini kamarmu," kata Reno singkat.
Aura melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dan seketika matanya membelalak kaget. Kamar tidur itu sangat luas, lengkap dengan kamar mandi dalam berkonsep spa dan area walk-in closet yang megah. Namun yang membuat Aura benar-benar terpaku adalah warna dekorasi ruangan tersebut. Berbeda total dengan bagian luar rumah yang serba gelap dan kaku, kamar ini didominasi warna dusty pink dan putih lembut yang hangat.
Di atas tempat tidur berukuran king size, terhampar sprei berbahan sutra berwarna pink pastel yang sangat elegan. Bahkan di atas meja rias, sudah tertata beberapa produk perawatan wanita dan aroma terapi beraroma mawar lembut yang menenangkan.
Aura menoleh pada Reno dengan dahi berkerut heran. "Ini... kenapa tema kamarnya berwarna pink?"
Reno berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar seolah enggan menatap langsung mata Aura. "Pak Aslan yang menyiapkan seluruh dekorasi dan belanjaan ini sore tadi. Dia yang mencari tahu warna favoritmu dari data pribadi yang dikumpulkan tim saya."
Dada Aura berdesir pelan. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyelinap di sudut hatinya. Meskipun pria di hadapannya selalu menegaskan bahwa semua ini dilakukan murni demi kepraktisan transaksi bisnis, kenyataan bahwa ruangan ini disiapkan secara khusus untuk kenyamanannya tetap membuat hati Aura tersentuh.
"Terima kasih... ini benar-benar terlalu bagus," ucap Aura tulus dengan senyuman tipis.
Reno hanya mengangguk singkat, dengan cepat kembali memasang raut wajah dinginnya yang tak tersentuh. "Kamar saya berada di ujung koridor, tepat di sebelah ruang kerja utama. Aturan di rumah ini jelas: jangan pernah masuk ke kamar pribadi atau ruang kerja saya tanpa izin."
"Saya mengerti," balas Aura patuh.
"Satu hal lagi," tambah Reno, memberikan penekanan tegas pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Besok pagi jam delapan tepat, tim dari dinas kependudukan dan petugas catat sipil akan datang ke penthouse ini secara tertutup untuk memproses pernikahan hukum kita. Setelah berkas selesai, jam sepuluh pagi kita harus berangkat ke kediaman Nenek saya di kawasan Menteng."
Napas Aura tertahan. "Nenekmu?"
"Ya. Nenek adalah orang paling krusial dalam rencana ini," jelas Reno dingin. "Beliau adalah pemegang saham terbesar Adhyastha Group dan orang yang paling gencar menuntut saya untuk segera berkeluarga. Kamu harus berakting sebagai calon istri yang sempurna di hadapannya. Jangan sampai ada sedikit pun celah atau kecanggungan yang membuat Nenek curiga bahwa kita menikah hanya karena sebuah kontrak."
Aura menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali seluruh rasa percaya dirinya. Ia adalah seorang presenter TV profesional yang terbiasa berhadapan dengan kamera siaran langsung dan tokoh-tokoh penting negara. Jika berakting adalah bagian dari kewajiban kontraknya, maka ia akan melakukannya dengan sempurna.
"Kamu tidak perlu khawatir. Berakting dan menjaga sikap profesional di depan publik adalah keahlian saya," ujar Aura tegas dengan tatapan mata yang tenang dan anggun.
Reno sempat tertegun sejenak, terpesona oleh pendar keberanian dan keteguhan di wajah cantik Aura yang terbingkai hijab pink-nya. Namun dengan cepat, CEO berhati es itu menguasai ekspresinya kembali.
"Bagus kalau begitu," kata Reno datar. "Istirahatlah. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang untuk kita berdua."
Reno berbalik dan menutup pintu kamar tersebut dari luar, meninggalkan suara klik halus yang mengunci ruangan itu.
Aura melangkah mendekati tempat tidur empuk berwarna pink pastel tersebut, lalu meluruhkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan sejuta gejolak rasa di dalam dada. Malam ini, di dalam penthouse mewah ini, kisah barunya sebagai istri rahasia sang CEO dingin resmi dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!