Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Hujan yang Menukar Nasib

Bab 1

Suara ketikan keyboard masih terdengar beradu satu-satunya di ruangan kantor yang makin lama makin sunyi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit malam. Lampu-lampu di bagian lain ruangan sudah dipadamkan, menyisakan hanya penerangan di mejanya yang masih menyala terang. Sisa kantin sudah tutup, petugas kebersihan pun sudah pulang, tinggal ia sendirian duduk di kursi kerja, membetulkan angka-angka yang belum pas di laporan bulanan divisi pemasaran.

"Kirana, kamu belum pulang juga?"

Seorang pria berkacamata berjalan mendekat sambil menyampirkan tas kerja di bahu. Itu Pak Budi, rekan kerjanya yang paling sering menasihatinya agar tidak terlalu memaksakan diri.

Kirana mengangkat kepala sebentar, mengusap pelipis yang terasa sedikit kaku, lalu tersenyum tipis. "Sebentar lagi selesai, Pak. Kalau tidak sekarang, besok pagi pasti terburu-buru."

"Kamu ini memang begitu. Rajin sekali sampai lupa waktu," ujarnya sambil menggeleng pelan. "Gajimu sebenarnya sudah cukup layak kok. Tidak perlu lembur tiap hari begini."

Kirana kembali menatap layar komputernya, jari-jarinya kembali menari di atas papan ketik. "Cukup untuk sekarang saja, Pak. Aku masih butuh lebih banyak untuk masa depan. Aku ingin bisa hidup lebih tenang suatu hari nanti, tidak perlu selalu khawatir kalau ada kebutuhan mendadak."

"Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Hujannya makin deras itu," pamitnya sebelum berjalan menjauh menuju pintu keluar.

"Iya, terima kasih Pak," jawab Kirana pelan.

Tak lama kemudian, seluruh ruangan benar-benar kosong. Kirana merapikan berkas-berkasnya, mematikan komputer, lalu menyampirkan tas kerjanya. Saat ia melangkah keluar gedung, angin dingin yang basah langsung menerpa wajahnya. Hujan turun begitu lebat sampai pandangan agak kabur. Ia mencoba memesan taksi lewat ponsel, tapi berkali-kali tidak ada yang menerima pesanan karena jam sudah terlalu larut dan jalanan mulai sepi.

Akhirnya ia memutuskan berjalan kaki sedikit menuju persimpangan jalan yang biasanya lebih sering dilewati kendaraan. Air hujan membasahi bahu dan ujung roknya, membuat kakinya terasa dingin. Namun baru beberapa langkah berjalan, matanya menangkap sesuatu yang bergerak kecil di tengah aspal basah yang memantulkan cahaya lampu jalan.

Sesuatu yang mengeong pelan, gemetar kedinginan di bawah guyuran air.

Seekor anak kucing berwarna abu-abu, masih sangat kecil, terjebak di tengah jalan yang sepi tapi licin. Kirana tidak berpikir dua kali. Tanpa mempedulikan hujan yang makin deras, ia berlari mendekat, merentangkan tubuhnya sedikit untuk melindungi si kecil dari percikan air dan angin.

"Jangan takut... sini..." bisiknya lembut sambil menundukkan badan perlahan.

Tapi tiba-tiba terdengar suara deru mesin yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Lampu besar menyilaukan matanya dari arah belakang. Sebelum ia sempat berbalik atau menjauh, benturan keras menghantam tubuhnya. Tubuhnya terlempar melayang sebelum jatuh kembali ke aspal dengan suara yang terasa menyakitkan sekali.

Sakit... rasanya seperti setiap tulang di badannya pecah seketika. Namun di tengah rasa perih yang luar biasa itu, ia mendengar suara mengeong pelan dari dekat kakinya. Si kucing selamat. Tapi bagaimana dengan dirinya?

Pandangannya mulai kabur, warna merah dari darah yang mengalir perlahan bercampur dengan air hujan. Napasnya makin berat, seolah ada beban berat yang menekan dadanya.

"Aku... belum mau mati..." isaknya lemah, air mata bercampur air hujan mengalir di pipi. "Aku belum sempat menikmati hasil kerjaku... belum sempat hidup layak... Tuhan... tolong... beri aku kesempatan sekali lagi... aku janji akan berbuat lebih baik..."

Kalimat itu terucap begitu tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebelum akhirnya kegelapan pekat menyelimuti seluruh kesadarannya.

 

Saat ia kembali merasa ada kesadaran, yang pertama ia rasakan adalah hal yang sangat kontras. Bukan dinginnya aspal jalanan, bukan juga kasarnya selimut tipis di apartemen kecilnya. Seprai yang menyelimuti tubuhnya terasa begitu halus, lembut, dan hangat, seolah memeluknya dengan penuh kenyamanan. Udara di ruangan itu pun harum, wangi bunga mawar dan vanila yang lembut—bau yang pasti harganya sangat mahal, yang tak pernah ia sangka bisa dekat dengannya.

Kelopak matanya terasa berat sekali, seolah ada beban tak kasat mata yang menahannya tetap terpejam lama. Namun perlahan ia memaksanya terbuka. Cahaya lembut menyentuh penglihatannya, membuatnya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya ia bisa melihat sekelilingnya dengan jelas.

Ia tertegun.

Kamar ini luasnya bahkan melebihi gabungan seluruh ruangan di apartemen tempat ia tinggal dulu. Dindingnya dicat warna krem lembut dengan ukiran halus berwarna emas di pinggirannya, dihiasi lukisan pemandangan yang dibingkai emas tebal. Di tengah langit-langit yang tinggi tergantung lampu kristal besar yang berkilau cantik, memancarkan cahaya keemasan yang lembut namun mewah. Perabotan yang ada di sekelilingnya terlihat kokoh dan sangat mahal, terbuat dari kayu gelap yang permukaannya mengkilap sempurna sampai bisa memantulkan bayangan samar. Di lantai terhampar karpet tebal berbulu halus yang pasti harganya setara gajinya bekerja berbulan-bulan tanpa henti.

"Apa... di mana ini?" suaranya keluar pelan, tapi langsung membuatnya terkejut sendiri.

Suara itu bukan suaranya. Lebih lembut, lebih halus, nada bicaranya pun terdengar berbeda—sama sekali bukan suara Kirana yang biasa berbicara lantang dan tegas sehari-hari.

Dengan tangan yang masih gemetar karena kaget, ia mencoba menurunkan kakinya ke tepi tempat tidur. Saat ia melihat tangannya yang terulur ke depan, napasnya tercekat.

Ini bukan tangannya.

Kulitnya jauh lebih putih, halus, bersih tanpa ada bekas luka kecil akibat terpeleset di tangga kantor, tanpa kapalan di ujung jari karena mengetik terus-menerus, tanpa noda tinta sisa mencatat laporan seperti yang biasa ia miliki selama bertahun-tahun bekerja. Ia memandangi lengannya, bahunya yang lebih ramping, lalu perlahan menyentuh wajahnya sendiri, meraba rambutnya yang terasa panjang, lebat, dan berkilau indah. Semuanya terasa asing, tapi sekaligus terasa seperti miliknya sendiri.

"Apakah aku diculik? Atau... apakah ini surga?" gumamnya bingung, matanya menyapu sekeliling ruangan yang mewah itu dengan perasaan cemas yang tak bisa dijelaskan. "Tapi kalau surga, kenapa rasanya masih ada sisa rasa sakit berdenyut pelan di belakang kepala? Dan kenapa jantungku masih berdegup kencang karena takut?"

Belum sempat pikirannya tenang, rasa nyeri yang tajam tiba-tiba menyambar kepalanya seketika. Ia memegangi pelipisnya erat-erat, meringis menahan sakit seolah ada ribuan jarum kecil yang menusuk dari dalam tengkoraknya. Berbagai bayangan, suara, dan perasaan asing melesak masuk ke dalam benaknya dengan begitu kencang, memaksa menyatu perlahan dengan ingatannya sendiri.

Ia melihat sosok wanita cantik dengan rambut cokelat keemasan yang terurai indah, tatapannya tajam dan dingin, penuh kekecewaan serta kebencian pada orang di sekelilingnya. Namanya Elena.

Ia melihat Elena mendorong seorang anak laki-laki kecil ke sudut ruangan sambil berteriak kasar, memarahi anak itu hanya karena tidak segera menuruti perintahnya saat sedang demam tinggi. Ia melihat Elena mengunci anak itu di gudang gelap berjam-jam tanpa makanan dan air, membiarkannya kedinginan di lantai beton yang keras. Ia juga melihat Elena diam-diam bertemu dengan pria lain, berbisik manis dan merencanakan sesuatu untuk melarikan diri membawa harta suaminya di belakang punggung orang yang paling berkuasa melindunginya.

Dan yang paling menyakitkan, paling mengerikan—bayangan detik-detik terakhir hidup Elena di ruangan yang sama persis dengan tempatnya berada sekarang.

Di hadapannya berdiri dua orang. Seorang pria bertubuh tegap dengan wajah dingin seolah tak punya hati, tatapannya tajam seperti mata pisau yang siap mengiris leher siapa saja yang berani melawannya. Itu Leonid Dragunov, suami Elena, pemimpin kelompok yang ditakuti seluruh kota. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki kecil berusia empat tahun, wajahnya masih polos namun matanya penuh luka mendalam, kecewa, dan rasa sakit yang sudah lama ia simpan sendirian. Itu Alvaro, anak kandung Elena sendiri.

"Leonid... tolong aku, dengar penjelasanku dulu! Aku tidak bermaksud begitu!" suara Elena terdengar gemetar ketakutan di ingatan itu.

Leonid tertawa sinis, tanpa sedikit pun rasa iba. "Dengar kebohongan apa lagi? Bukankah sudah kubilang sejak awal, aku benci pengkhianat? Aku sudah berikanmu segalanya—nama, kekuasaan, harta sebanyak apa pun yang kau minta. Tapi kau malah berani bermain di belakangku."

Elena jatuh berlutut di lantai dingin, air matanya jatuh deras saat menoleh ke arah anaknya. "Alvaro... anakku sayang, maafkan Mama! Mama janji tidak akan menyakitimu lagi, beri Mama satu kesempatan terakhir!"

Alvaro hanya diam menatapnya, tak ada lagi sebutir kasih sayang di matanya. "Sudah terlambat, Mama."

Lalu Leonid melangkah maju perlahan, dan semuanya menjadi gelap.

Kirana terjatuh kembali ke tepi tempat tidur, napasnya terengah-engah kencang, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia baru sadar sepenuhnya. Ia tidak mati saat ditabrak truk tadi malam. Ia hidup kembali, tapi di dalam tubuh wanita bernama Elena—istri pengkhianat yang baru saja dibunuh oleh suami dan anak kandungnya sendiri.

"Ya Tuhan... kenapa harus aku?" bisiknya lemah dengan suara bergetar. "Aku cuma ingin menolong seekor kucing kecil... kenapa harus aku yang mengambil alih semua kesalahan mengerikan ini?"

Ia berjalan perlahan menuju cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Saat melihat pantulan di sana, Kirana tertegun. Wajah itu bukan wajahnya, tapi wajah Elena. Orang-orang di sini akan memanggil nama itu setiap hari, dan perlahan ia sadar sepenuhnya: mulai hari ini, aku bukan lagi Kirana. Aku harus hidup sebagai Elena. Ia menarik napas panjang, mencoba membiasakan diri menyebut nama itu dalam hati, sebelum akhirnya berani mengucapkannya sendiri.

"Aku janji..." bisiknya pelan pada pantulan dirinya sendiri. "Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan menyayangi Alvaro dengan tulus. Aku tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan kejam yang pernah kau lakukan."

Belum sempat ia menenangkan diri dan menyusun pikiran yang masih kacau, terdengar ketukan pelan tapi tegas di pintu kamar yang besar itu.

"Nyonya? Apakah Nyonya sudah bangun?" suara pelayan terdengar lembut namun berhati-hati dari balik pintu.

Jantungnya seakan mau copot. Ia menelan ludah susah payah, berusaha mengatur napasnya supaya tidak terdengar panik.

"I... iya, masuklah," jawabnya, suaranya masih sedikit gemetar namun berusaha terdengar tenang.

Pintu terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya berpakaian rapi masuk membawa nampan berisi air minum dan obat. Wajahnya terlihat kaget sekilas melihat ekspresi yang berbeda dari biasanya—tak ada lagi tatapan sombong atau dingin—tapi ia segera menunduk hormat.

"Nyonya, Tuan Leonid berpesan agar Nyonya segera minum obat ini dulu untuk meredakan pusing. Beliau juga berpesan... beliau akan segera datang menemui Nyonya sebentar lagi setelah selesai urusan penting."

Tangan Kirana gemetar hebat saat menerima gelas itu. Leonid. Pria yang baru saja menghukum mati pemilik tubuh ini. Dan sekarang ia harus menghadapinya, berpura-pura menjadi wanita yang paling ia benci di dunia ini.

Ia menatap pintu yang perlahan tertutup kembali, tahu betul bahwa hidup barunya yang penuh bahaya dan ketakutan baru saja dimulai.

Bersambung...

Tatapan Dingin yang Berubah

Bab 2

Suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar pintu. Setiap langkahnya berat, teratur, seolah setiap hentakan membuat lantai kamar ikut bergetar pelan. Jantung Elena berdegup kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari dada. Ia menelan ludah susah payah, tangan yang memegang gelas air masih gemetar pelan.

"Nyonya, Tuan sudah datang," suara pelayan terdengar berhati-hati dari balik pintu.

"I... iya, suruh masuk," jawab Elena, berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar tenang, tidak bergetar, tidak terdengar takut seperti perasaannya sekarang.

Pintu terbuka perlahan.

Seorang pria bertubuh tinggi besar melangkah masuk. Setelan jas hitam yang ia kenakan rapi sekali, tidak ada satu pun lipatan yang berantakan. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis wajah yang tegas, rahang yang tajam, dan sepasang mata yang... dingin. Sangat dingin. Seolah tidak ada sedikit pun perasaan yang tersisa di sana. Itu Leonid. Pria yang di ingatan masa lalu, baru saja hampir menghukum mati istrinya sendiri.

Ia berhenti tidak jauh dari tepi tempat tidur, menatap lurus ke arah Elena. Tatapan itu tajam, seolah bisa menembus apa saja yang ada di pikiran orang yang ia lihat. Elena tidak berani membalas tatapan itu terlalu lama, ia hanya menunduk pelan, meremas ujung seprai dengan tangan yang tersembunyi di balik selimut.

"Kau sudah bangun," suaranya berat, rendah, tidak ada nada lembut sedikit pun.

"Iya..." jawab Elena pelan.

Leonid melangkah maju satu langkah lagi. Matanya menyapu wajah Elena lekat-lekat, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang. "Kau terlihat berbeda."

Darah seolah berhenti mengalir sejenak di tubuh Elena. Ia mengangkat wajah perlahan, mencoba tersenyum tipis yang sama sekali tidak terasa tulus. "Maksudnya bagaimana? Aku... aku hanya merasa sedikit pusing saja tadi."

Leonid diam saja sebentar, lalu tangannya terulur. Elena menahan napas, siap-siap kalau saja tangan itu akan mencengkeram lehernya seperti yang ada di bayangan masa lalu. Tapi tangan itu hanya mendarat pelan di atas keningnya. Telapak tangannya besar, hangat, tapi sentuhannya sama sekali tidak lembut.

"Tidak demam," ucapnya pelan, lalu menarik tangannya kembali. "Jangan ulangi lagi perbuatan bodohmu itu. Aku tidak akan memaafkanmu untuk kedua kalinya."

Kalimat itu terucap begitu tenang, tapi ancamannya terasa begitu nyata menusuk ke tulang. Elena mengangguk pelan, air mata hampir saja menetes tanpa sadar. "Aku janji... aku tidak akan melakukannya lagi."

Leonid menatapnya lagi lama sekali, seolah tidak percaya dengan ucapan yang begitu lembut keluar dari mulutnya. Selama ini wanita itu selalu menjawab dengan nada tinggi, membantah, atau diam saja dengan tatapan sinis. Tapi sekarang? Ia melihat ketakutan yang tulus di mata istrinya, bukan rasa takut karena ketahuan berbuat salah, melainkan rasa takut kehilangan sesuatu yang berharga.

"Minum obatnya," ucapnya singkat, lalu berbalik sedikit ke arah pelayan yang masih menunduk diam di sudut ruangan. "Siapkan makanan ringan. Dan panggil dokter sebentar untuk memeriksanya."

"Baik, Tuan." Pelayan itu segera mundur keluar ruangan.

Saat hanya tinggal mereka berdua, suasana kembali hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar. Leonid duduk di kursi sofa yang ada di samping tempat tidur, tidak terlalu dekat, tapi tidak terlalu jauh. Ia menatap ke arah jendela yang tertutup tirai tebal, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Elena memberanikan diri menatapnya diam-diam. Di balik wajah yang terlihat bengis dan tidak peduli itu, ada kesepian yang dalam. Ia ingat bayangan di kepalanya—bagaimana Leonid dulu mencintai Elena dengan tulus, memberikan segalanya, tapi balasannya hanyalah pengkhianatan dan kekejaman pada anaknya sendiri. Hati pria ini pasti sudah hancur berkeping-keping, tapi ia menutupinya dengan sikap yang lebih dingin dan keras.

"Kenapa kau menatapku?" tanya Leonid tiba-tiba tanpa menoleh.

Elena tersentak kaget, segera memalingkan wajah. "Maaf... aku hanya... aku hanya merasa bersalah."

Leonid berbalik menatapnya kembali. "Bersalah? Kau tidak pernah merasa bersalah pada siapa pun. Termasuk pada anakmu sendiri."

Kalimat itu terasa seperti tamparan keras. Elena merasakan perih yang tajam di dada, bukan karena takut, tapi karena kasihan pada anak kecil yang tidak berdosa itu. Ia mengangkat wajah, menatap lurus ke mata Leonid dengan air mata yang akhirnya menetes jatuh.

"Aku tahu aku salah... aku tahu aku sudah jahat sekali pada Alvaro. Tapi mulai sekarang... aku janji tidak akan menyakitinya lagi. Aku akan merawatnya, aku akan menjadi ibu yang baik untuknya."

Leonid terdiam. Matanya melebar sedikit, terkejut mendengar janji yang tidak pernah keluar dari mulut Elena sebelumnya. Selama ini Elena selalu menganggap anak itu sebagai beban, atau alat untuk mendapatkan perhatian darinya. Tapi ucapan ini... terasa begitu tulus. Seolah ada orang lain yang berbicara di dalam tubuh istrinya.

"Kau berjanji?" tanyanya pelan, suaranya sedikit bergetar, seolah takut berharap pada sesuatu yang mungkin sia-sia.

"Aku berjanji," jawab Elena tegas, menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Demi apa pun, aku tidak akan menyakiti anak itu lagi."

Belum sempat Leonid menjawab, pintu kamar terbuka kembali. Seorang pelayan masuk membawa nampan berisi susu hangat dan roti, diikuti oleh sosok kecil yang berjalan pelan di belakangnya.

Alvaro.

Anak itu berjalan dengan langkah yang ragu-ragu, kepalanya menunduk dalam, kedua tangan kecilnya meremas ujung baju tidurnya yang agak lusuh. Wajahnya pucat, matanya sembab seolah baru saja menangis lama. Saat ia melangkah masuk, matanya melirik sekilas ke arah tempat tidur, lalu segera menunduk lebih dalam saat melihat sosok ibunya yang menatapnya.

Elena merasakan hatinya teriris sakit melihat anak itu. Di usia empat tahun, seharusnya ia bermain, tertawa, merasakan kasih sayang. Tapi yang ia dapatkan hanyalah ketakutan dan kesepian.

"Alvaro..." panggil Elena pelan.

Anak itu tersentak kaget, tubuhnya gemetar pelan. Ia mundur selangkah, siap untuk lari atau menerima bentakan seperti biasa.

Jantung Elena rasanya hancur melihat itu. Ia turun dari tempat tidur, berlutut perlahan di lantai agar tingginya setara dengan anak itu. Ia tidak berani bergerak cepat, takut membuat Alvaro makin takut.

"Maafkan Mama..." ucapnya dengan suara yang lembut dan penuh penyesalan. "Mama tidak akan marah lagi... bolehkah Mama melihatmu sebentar?"

Alvaro mendongak perlahan, matanya yang besar menatap ragu ke arah ibunya. Ia melihat sesuatu yang berbeda di sana—bukan kemarahan, bukan kebencian, melainkan air mata dan pandangan yang penuh kasih sayang. Ia melirik ke arah ayahnya, Leonid yang masih diam terpaku melihat kejadian itu.

Perlahan, dengan langkah yang masih gemetar, Alvaro melangkah satu langkah ke depan.

"Mama... tidak marah?" suaranya kecil sekali, hampir tak terdengar.

"Tidak, sayang... Mama tidak akan marah lagi," Elena mengulurkan tangannya perlahan. "Sini... mendekatlah pada Mama."

Ragu-ragu, tangan kecil itu menyentuh jari-jari Elena. Saat merasakan sentuhan hangat yang tidak menyakiti, Alvaro akhirnya berani melangkah mendekat. Elena langsung merangkul tubuh kecil itu pelan, memeluknya erat seolah takut anak itu akan hilang. Alvaro kaget sejenak, lalu perlahan ia membalas pelukan itu dengan pelukan yang malu-malu, menempelkan wajahnya ke dada ibunya dan menangis pelan.

Leonid berdiri diam di tempat yang sama. Matanya terasa panas, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia melihat dua orang yang paling ia sayangi di dunia ini berpelukan. Melihat perubahan yang begitu drastis pada istrinya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ada harapan kecil yang tumbuh di hatinya yang beku.

Mungkin... mungkin masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Bersambung...

Tatapan yang Mulai Luruh

Bab 3

Pelan tapi pasti, pelukan itu terasa begitu hangat. Elena membiarkan Alvaro menangis sepuasnya di pelukannya, mengusap punggung kecil anak itu lembut berulang kali, berbisik pelan bahwa semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang. Di sudut ruangan, Leonid masih berdiri diam, matanya tak lepas dari mereka berdua. Hatinya yang selama ini tertutup rapat oleh dinding es yang tebal, perlahan merasakan sesuatu yang asing namun menenangkan—sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia rasakan di rumah ini.

Setelah beberapa saat, tangis Alvaro perlahan mereda. Ia menyandarkan kepalanya yang berat di bahu Elena, napasnya masih tersengal pelan, tubuh kecilnya masih sesekali bergetar sisa tangis. Elena mengangkat wajah anak itu perlahan, mengusap sisa air mata dan kotoran yang menempel di pipinya dengan ibu jari yang bergetar namun lembut.

"Kamu lapar?" tanyanya pelan, suaranya sengaja dikecilkan agar tidak mengejutkan anak itu.

Alvaro mengangguk sangat pelan, lalu segera menunduk dalam seolah baru ingat kalau ia tidak boleh mengeluh atau meminta sesuatu. "Tidak... tidak apa-apa, Mama. Nanti saja..."

Hati Elena terasa seperti diremas sakit mendengar jawaban itu. Anak seusia empat tahun seharusnya berani menangis kalau lapar, berani merengek kalau ingin sesuatu. Tapi Alvaro sudah diajari rasa takut sedemikian rupa sampai ia berani menahan rasa laparnya sendiri.

Elena menatap Leonid yang kini mulai melangkah mendekat perlahan. "Dia belum makan kan? Sejak kemarin sore?"

Leonid mengangguk pelan, rahangnya mengeras kuat menahan amarah yang kembali muncul. "Aku tahu dia dikurung di gudang. Aku tahu kau sering marah padanya. Tapi aku tidak pernah menyangka... aku tidak tahu kau tega membiarkannya kelaparan begitu." Suaranya tercekat, penuh rasa bersalah karena selama ini ia tidak pernah benar-benar mengecek keadaan anaknya sendiri.

"Sekarang tolong ambilkan makanan," ucap Elena tegas namun tidak membentak. "Makanan yang lunak, bubur ayam sedikit saja, dan susu hangat. Jangan banyak dulu, takut perutnya kaget."

Pelayan yang menunggu di luar segera bergegas pergi setelah mengangguk hormat. Leonid kemudian duduk di tepi tempat tidur, tidak terlalu dekat tapi juga tidak menjauh. Matanya menatap wajah Elena lekat-lekat, seolah sedang mencoba menghafal setiap garis wajah yang kini terasa begitu berbeda, begitu lembut dibandingkan Elena yang ia kenal selama ini.

"Kau benar-benar berubah," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan yang hanya terdengar untuk dirinya sendiri.

Elena mengusap rambut Alvaro yang berantakan pelan. "Aku sadar betapa salahnya aku, Leonid. Aku tidak tahu kenapa dulu aku bisa begitu jahat pada darah dagingku sendiri. Seolah ada yang menutup mataku dari kebaikan. Tapi sekarang... semuanya akan berbeda. Aku janji demi nyawaku sendiri."

Leonid terdiam lama sekali. Ribuan pertanyaan berdesakan di kepalanya—apa yang membuatnya berubah? Kenapa tiba-tiba seolah menjadi orang lain? Tapi melihat Alvaro yang kini mulai berani menyandarkan kepala di lengan Elena, ia memilih menahan semua pertanyaan itu. Untuk hari ini, melihat mereka berdua bisa duduk berdampingan tanpa rasa takut sudah cukup baginya.

Tak lama kemudian pelayan kembali membawa nampan berisi mangkuk bubur yang masih mengepul hangat dan segelas susu. Elena mengambil mangkuk itu perlahan, meniupnya sebentar sebelum menyuapkan sesendok kecil ke mulut Alvaro. Anak itu menatapnya ragu sejenak, lalu membuka mulutnya pelan. Saat rasa hangat itu masuk ke perutnya, matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini ia tidak menangis.

Pelan demi pelan Elena menyuapinya, sesekali berbicara hal-hal sederhana yang tidak pernah ia ucapkan dulu. Tentang bunga, tentang burung, tentang mainan yang mungkin disukai Alvaro. Alvaro hanya diam mendengarkan, tapi perlahan tangannya yang kecil mulai berani memegang ujung lengan baju Elena setiap kali ibunya hendak mengambil sendok lagi.

Leonid hanya memperhatikan dari samping, diam tanpa kata. Sesekali ia mengambil alih memegang gelas susu saat tangan Elena terasa sedikit gemetar, atau mengelap mulut Alvaro dengan tisu. Tidak ada bentakan, tidak ada tatapan sinis, untuk pertama kalinya di rumah besar yang dingin itu, suasana terasa hangat, terasa seperti keluarga yang sebenarnya.

Setelah Alvaro kenyang, Elena mengajaknya berbaring sebentar di sampingnya. Anak itu tampak sangat kelelahan, matanya berat sekali, namun tangannya masih erat mencengkeram baju Elena seolah takut ibunya akan hilang begitu ia terpejam.

"Tidur yang nyenyak ya sayang. Mama ada di sini. Mama tidak akan pergi ke mana-mana," bisik Elena sambil terus mengelus kepala anak itu dengan lembut.

Perlahan napas Alvaro menjadi teratur dan tenang. Elena menarik tangannya perlahan agar tidak membangunkan anak itu, lalu berbalik dan mendapati Leonid masih duduk di tempat yang sama. Tatapan pria itu kini tidak lagi sedingin es seperti saat pertama kali masuk tadi. Ada rasa lelah yang mendalam, kecewa yang belum hilang, namun ada secercah harapan yang mulai tumbuh perlahan.

"Kau benar-benar ingat semua perbuatanmu dulu?" tanya Leonid tiba-tiba, suaranya berat dan serak.

Elena menelan ludah susah payah. Ia mengangguk pelan. "Aku ingat semuanya. Setiap tetes air matanya, setiap ketakutannya... aku ingat semuanya. Dan aku malu sekali pada diriku sendiri."

Leonid berdiri perlahan, melangkah mendekat hingga jarak mereka tinggal sejengkal. Ia tidak menyentuhnya, hanya menatap dalam ke dalam mata Elena seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di balik sana.

"Aku pernah mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini," ucapnya perlahan, setiap kata terasa berat saat diucapkan. "Aku memberimu nama, kedudukan, harta sebanyak apa pun yang kau minta. Aku berikan seluruh duniaku di kakimu. Tapi kau menghancurkan semuanya. Kau menghancurkan hatiku, dan yang paling menyakitkan... kau menghancurkan masa kecil anak kita sendiri."

Air mata kembali menetes deras di pipi Elena. "Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Aku tahu aku sudah terlalu jauh melangkah. Tapi aku mohon... beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Demi Alvaro. Jangan biarkan dia merasakan kesepian yang sama seperti dulu lagi."

Leonid terdiam. Tangan besarnya yang kasar perlahan terulur, namun bukannya mencengkeram leher atau mendorongnya, ujung jarinya justru menyeka air mata yang jatuh di pipi Elena dengan sangat hati-hati, seolah takut istrinya akan hancur seketika. Sentuhan itu hangat, namun penuh keraguan yang mendalam.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu," ucapnya dengan suara bergetar pelan. "Entah kau sadar dari kebodohanmu, atau ada hal lain yang tak kumengerti... tapi ingat satu hal. Jika kau berani menyakiti anakku walau sedikit saja lagi... aku tidak akan segan-segan menghabisimu sendiri, tak peduli apa pun alasannya."

Ancaman itu terdengar nyata dan tegas, namun di balik kata-kata itu terselip rasa takut kehilangan yang begitu besar. Elena mengerti itu. Ia mengangguk mantap sambil menatap lurus ke manik mata Leonid.

"Aku rela mati di tanganmu sendiri kalau sampai aku menyakitinya lagi."

Leonid menarik tangannya perlahan, berbalik menatap jendela yang masih tertutup tirai tebal. "Istirahatlah. Dokter akan datang sebentar lagi memeriksa kondisimu. Aku harus pergi sebentar mengurus urusan yang tertunda. Tapi aku akan kembali. Dan aku akan memantau setiap gerak-gerikmu."

Sebelum melangkah menuju pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Terima kasih... untuk tadi. Terima kasih sudah mau menjadi ibunya sebentar saja."

Pintu pun tertutup perlahan, menyisakan bunyi klik pelan saat terkunci dari luar. Kini tinggal Elena sendirian di kamar yang luas itu. Ia menjatuhkan diri duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah tenang Alvaro yang sedang tidur pulas. Hatinya masih berdeup kencang sekali, campuran antara rasa lega karena berhasil melewati percakapan itu, rasa takut akan bahaya yang mengintai, dan beban tanggung jawab yang kini dipikulnya sendirian.

Ia tahu jalan di depan tidak akan mulus. Leonid mungkin mulai melunak sedikit, tapi ia belum sepenuhnya percaya. Orang-orang di rumah ini pasti masih mencurigai perubahannya. Belum lagi kekasih gelap Elena asli yang pasti akan datang menagih janji dan rencana yang belum selesai. Dan yang paling berat, ia harus terus berpura-pura menjadi Elena di hadapan semua orang, menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya.

Namun saat melihat senyum kecil yang terukir di bibir Alvaro saat tidur, Elena menguatkan hatinya. Apapun yang akan terjadi nanti, bahaya sebesar apa pun yang datang, ia tidak akan mundur. Ia akan berjuang melindungi anak kecil ini, memperbaiki semua kesalahan masa lalu, dan mencoba meyakinkan Leonid bahwa ada hal yang berharga yang masih bisa diselamatkan dari reruntuhan rumah tangga mereka yang hancur.

Elena menarik selimut lebih tinggi menutupi tubuh Alvaro, lalu duduk diam di tepi tempat tidur menjaganya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun lagi menyakiti anak ini. Dan ia tidak akan membiarkan nasibnya yang baru ini berakhir dengan cara yang sama seperti saat ia masih menjadi Kirana dulu. Kali ini ia akan bertahan, sekuat tenaganya.

 

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!