Indonesia
NovelToon NovelToon

Rahasia Rumah Warisan Kakek

bab 1.Warisan rumah di ujung hutan.

Debu halus beterbangan mengikuti putaran roda bus tua yang melaju pelan membelah jalan tanah beralaskan kerikil. Dari balik kaca jendela yang sedikit bergetar, pemandangan kota yang padat, penuh gedung tinggi dan suara bising kendaraan perlahan berganti menjadi hamparan sawah yang menghijau, dikelilingi bukit-bukit yang diselimuti pepohonan rimbun. Udara yang tadinya terasa panas dan berbau asap kendaraan kini berubah sejuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang segar menyapa setiap kali jendela terbuka sedikit. Bus itu terus melaju menjauh dari keramaian, menembus jalan yang semakin sempit dan berkelok, hingga akhirnya sebuah papan kayu bertuliskan DESA SUKA MAKMUR mulai terlihat samar di kejauhan, tertanam di pinggir jalan besar yang kini berubah menjadi jalan setapak yang lebih tenang.

Suara pengumuman sopir terdengar memecah keheningan kabin yang mulai sepi, “Tujuan akhir, Desa Suka Makmur! Penumpang yang hendak turun harap bersiap.”

Gadis yang duduk di bangku paling belakang perlahan mengangkat kepalanya. Ia adalah Raisa. Wajahnya yang cantik tampak sedikit lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari kota tempat ia tinggal selama ini. Kulitnya putih bersih, kontras dengan pakaian sederhana yang ia kenakan, rambut hitam panjangnya terurai rapi sebatas bahu, namun ada sorot mata yang memancarkan keteguhan di balik kelelahan itu. Dengan perlahan ia merapikan tas kanvas besar yang kini tergantung kokoh di pundaknya—satu-satunya barang berharga yang tersisa bersamanya, berisi pakaian dan beberapa dokumen penting. Ia berdiri tegak, menyeimbangkan langkahnya saat bus itu akhirnya berhenti sepenuhnya, mengeluarkan suara desis halus dari rem yang menahan beban berat kendaraan itu.

Begitu pintu terbuka, Raisa melangkah turun menyentuh tanah desa untuk pertama kalinya. Angin sepoi-sepoi langsung menyambutnya, mengibaskan sedikit ujung rambutnya. Ia menatap sekeliling seperti jalanan desa yang tenang, rumah-rumah penduduk yang berdiri berjarak satu sama lain dengan halaman yang dipenuhi tanaman bunga dan pohon buah, serta suara kicauan burung yang saling bersahutan dari kejauhan. Tempat ini terasa begitu damai, jauh berbeda dari hiruk-pikuk kota yang selama ini menjadi tempatnya bernapas, namun di tempat itulah ia selalu merasa seperti orang asing—bahkan sering disebut sebagai “monster” oleh orang-orang di sekitarnya, karena luka yang ia alami entah bagaimana selalu sembuh dengan sangat cepat, seolah tak pernah ada rasa sakit yang bisa menembus kulitnya, dan seolah kematian pun enggan menyentuhnya. Hal itu membuatnya dikucilkan, membuatnya tak memiliki tempat yang benar-benar bisa ia sebut sebagai rumah.

Raisa menghela napas panjang, lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilipat rapi. Kertas itu berisi alamat yang ditulis tangan dengan tinta hitam yang masih terlihat jelas—alamat rumah warisan dari kakeknya, Raden Margono, yang baru saja diketahui keberadaannya beberapa hari lalu melalui surat dari pengacara yang ditunjuk almarhum kakeknya. Sebelumnya, Raisa sama sekali tak tahu bahwa ayahnya masih memiliki orang tua yang tinggal jauh di desa ini karena selama ini orang tuanya tak pernah banyak bercerita tentang masa lalu mereka, hingga saat mereka pergi meninggalkannya secara tiba-tiba beberapa tahun silam, jejak keluarga lain pun seolah ikut hilang tertelan waktu.

“Rumah Keluarga Raden Margono...” gumamnya pelan, menatap tulisan itu sambil memastikan kembali arah yang harus ditempuh. Ia melangkah perlahan menyusuri jalan utama desa, sepatunya menapak lembut di atas tanah yang padat. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari siapa saja yang mungkin bisa ia tanyakan arah, namun warga desa tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa ibu sedang mengangkat jemuran di halaman rumahnya, anak-anak berlari riang mengejar satu sama lain di pinggir jalan, sementara para pria tampak bersiap berangkat menuju sawah dengan membawa alat pertanian di pundak mereka.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjalan mendekat dari arah seberang, cangkul kayu yang gagahnya terlihat sudah lama digunakan tersampir kokoh di bahu kanannya, topi caping lebar menaungi sebagian wajahnya yang tampak penuh keramahan namun juga menyimpan kebijaksanaan. Raisa segera berjalan mendekat, menundukkan kepalanya sedikit dengan sopan.

“Permisi, Pak,” sapa Raisa lembut, suaranya terdengar halus namun jelas terdengar di telinga pria itu. “Maaf mengganggu waktunya. Saya ingin bertanya arah... apakah Bapak tahu di mana letak rumah Keluarga Raden Margono?”

Pria itu menghentikan langkahnya seketika, menatap Raisa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa heran, takjub, dan sesuatu yang lain yang tak bisa ditangkap Raisa dengan mudah. Matanya sedikit membelalak, lalu ia mengangguk pelan seolah menyadari sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu.

“Jadi... kamu adalah cucu Raden Margono?” tanyanya pelan, suaranya terdengar berat namun penuh rasa hormat.

Raisa mengangguk mantap meski sedikit ragu. “Benar, Pak. Nama saya Raisa. Kakek saya Raden Margono, dan saya sedang mencari rumah nya.”

Pria itu tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah jalan yang makin menjauh dari pusat desa, menuju ke arah pinggiran yang berhadapan langsung dengan deretan hutan lebat yang tampak hijau pekat. “Ikuti jalan ini terus ke depan, Nak. Lurus saja tak perlu berbelok ke mana pun. Semakin jauh kamu berjalan, semakin dekat kamu dengan batas hutan. Rumah kakekmu berdiri kokoh di sana, sendirian di tengah halaman yang sangat luas, tak jauh dari garis pohon-pohon besar itu. Kamu tak akan sulit menemukannya, karena tak ada bangunan lain yang berdiri di sekitar sana.”

“Terima kasih banyak, Pak,” ucap Raisa tulus, lalu kembali melangkah menuju arah yang ditunjukkan.

Belum sampai jarak sepuluh langkah kakinya menjauh, samar-samar suara bisikan mulai terdengar dari belakangnya, tepat saat pria itu hendak melanjutkan perjalanannya menuju sawah. Raisa memperlambat langkahnya, menyadari bahwa suara itu ditujukan untuknya.

“Lihatlah... benar-benar dia. Gadis itu pasti pengganti Tuan Raden Margono,” bisik suara pria itu kepada warga lain yang baru saja lewat di dekatnya.

“Mungkin saja,” sahut suara orang lain yang terdengar samar. “Sudah genap setahun sejak Tuan Raden pergi meninggalkan dunia ini. Sejak saat itu, suasana di sana makin mencekam dan menyeramkan dari sebelumnya. Warga desa pun enggan mendekat, takut mengganggu ketenangan yang ada di dalamnya.”

“Namun sungguh beruntunglah gadis ini akhirnya datang,” ucap yang pertama lagi, nadanya seolah lega. “Aku yakin Tuan Arya pasti akan merasa tenang dan tidak menganggu kita lagi.”

“Tapi... apakah gadis ini mampu melakukannya seperti kakeknya dulu?” tanya suara lain dengan nada penuh keraguan. “Tugas itu tak mudah, penuh hal yang tak bisa dipahami akal manusia biasa. Bagaimana jika dia justru tak kuat bertahan?”

Bisikan itu perlahan menghilang seiring langkah mereka yang menjauh, namun kata-kata itu masih bergema jelas di telinga Raisa. Langkahnya sempat terhenti sejenak, keraguan mulai merayap masuk ke dalam hatinya. Apa maksud dari semua perkataan itu? Siapakah Tuan Arya yang mereka sebut-sebut? Dan mengapa rumah itu dianggap begitu menyeramkan, seolah ada sesuatu yang tak kasat mata yang menjaganya?

Namun bayangan kehidupan di kota kembali melintas di benaknya. Betapa beratnya ia bertahan hidup di sana, bagaimana tatapan sinis dan perkataan menyakitkan terus menghujani hari-harinya, bagaimana ia sering dikucilkan hanya karena tubuhnya yang tak biasa—yang tak bisa terluka parah dan seolah tak mengenal kematian. Tak ada lagi tempat yang bisa ia tuju, tak ada kerabat lain yang bersedia menampungnya. Jika ia kembali, ia hanya akan menjadi tunawisma yang mengembara tanpa tujuan. Rumah itu, sekalipun dikatakan angker atau menyeramkan, adalah satu-satunya tempat yang tersisa baginya untuk mendarat, satu-satunya jejak keluarga yang masih ia miliki di dunia ini.

“Apapun yang terjadi, aku tak punya pilihan lain selain melangkah maju,” gumamnya dalam hati, meneguhkan tekad yang sempat goyah. Ia meremas erat kertas alamat di tangannya, lalu kembali melangkah dengan langkah yang lebih mantap.

Perjalanan itu ternyata jauh lebih panjang dari yang ia kira. Matahari yang tadinya masih tinggi di langit perlahan mulai merunduk ke arah barat, menyisakan semburat jingga keemasan yang melukis langit dengan begitu indah, namun juga membawa hawa dingin yang mulai menyusup ke balik pakaiannya. Jalan setapak yang ia lalui perlahan tak lagi dilewati orang, rumput liar mulai tumbuh menyelimuti sebagian permukaan tanah, pepohonan di sisi jalan semakin rapat dan rimbun, menutupi sebagian cahaya matahari yang hendak turun. Suara burung yang tadi terdengar riang kini berkurang, digantikan oleh suara gesekan daun yang bergesekan ditiup angin, serta suara samar aliran air sungai yang entah mengalir di mana.

Raisa tak berhenti sedikitpun, meski kakinya mulai terasa lelah menahan beban tas yang cukup berat. Ia terus berjalan, membiarkan pikirannya mengembara memikirkan hal-hal yang mungkin ia temui nanti, namun berusaha menyingkirkan rasa takut yang mulai muncul. Ia mengeluarkan sebilah kunci unik dari saku jaketnya—kunci yang permukaannya diukir dengan motif tanaman dan pola misterius yang tak pernah ia lihat sebelumnya, diberikan pengacara kakeknya bersama surat penyerahan warisan. “Kunci ini sudah menjadi milikmu sekarang,” begitu pesan pengacara itu saat menyerahkannya. “Gunakanlah dengan hati-hati, dan hiduplah di sana dengan tenang.”

Hingga akhirnya, di ujung jalan yang hampir menyatu dengan batas hutan, Raisa melihatnya. Sebuah pagar besi tinggi menjulang, terbuat dari besi tempa yang kokoh namun sudah mulai berkarat dimakan waktu, menutupi pandangan ke dalam halaman yang sangat luas. Di balik pagar itu, halaman yang luas tampak hampir tak terurus—rumput liar tumbuh tinggi, pepohonan besar yang rindang namun sebagian dahannya kering dan gundul berdiri menyebar di berbagai sudut, menciptakan bayangan panjang yang terlihat mencekam di bawah cahaya matahari sore yang makin redup. Dan tepat di tengah-tengah halaman itu, berdiri sebuah bangunan rumah dua lantai yang tampak sangat megah dan mewah, dibangun dengan gaya arsitektur zaman dulu yang anggun namun kini tampak sunyi sepi, seolah tak ada kehidupan yang menghuninya selama bertahun-tahun. Dindingnya berwarna putih gading yang mulai memudar, jendela-jendelanya berukuran besar dengan bingkai kayu yang kokoh, dan atapnya yang menjulang tinggi tampak gagah meski dimakan usia.

Raisa mendekat perlahan, jantungnya berdegup kencang tak menentu. Udara di sekitar sini terasa berbeda—lebih dingin, lebih hening, dan ada getaran halus yang tak bisa dijelaskan kata-kata, seolah ada ribuan mata yang sedang mengawasi setiap gerak-geriknya dari balik pepohonan atau dari balik jendela-jendela rumah itu. Ia berdiri tepat di hadapan pintu pagar yang besar itu, lalu menatapnya lekat-lekat. Tangannya gemetar sedikit saat ia menyisipkan kunci unik yang ia pegang ke dalam lubang kunci yang tersembunyi di balik ukiran pagar.

Terdengar suara klik halus, lalu pintu pagar yang berat itu perlahan terbuka sendiri seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata, menampakkan jalan masuk menuju halaman rumah itu lebih jelas lagi. Angin berhembus kencang sesaat, mengibaskan dedaunan kering yang berserakan di tanah, menciptakan suara berderit yang panjang. Raisa melangkah masuk perlahan, setiap langkahnya meninggalkan jejak di atas tanah yang tertutup dedaunan kering. Ia menatap bangunan megah itu yang kini berdiri tepat di hadapannya, menatapnya seolah menantang apakah ia cukup berani untuk melangkah lebih jauh lagi.

“Apakah benar ini rumah yang dimaksud?” tanyanya pelan, suaranya bergetar tak sadar, seolah berbicara kepada udara kosong di hadapannya. Wajahnya yang tadi masih tampak tenang kini berubah pucat pasi, darahnya seolah membeku sejenak saat merasakan suasana yang begitu asing dan mencekam menyelimuti dirinya seketika. Namun di balik rasa takut itu, ada juga rasa penasaran yang menggelegak—siapakah sebenarnya Arya yang dibicarakan warga desa? Dan rahasia apa yang tersimpan di dalam rumah mewah ini, yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya?​

bab 2.Kilas balik.

Angin sore yang makin dingin seakan menembus hingga ke tulang Raisa, namun ia tetap terpaku di tempatnya, menatap bangunan megah yang berdiri sunyi di hadapannya. Pertanyaan yang baru saja meluncur dari bibirnya masih menggantung di udara, tak ada jawaban yang datang selain suara gesekan daun kering yang ditiup angin kencang. Wajahnya yang pucat pasi kini teringat kembali pada segala hal yang baru saja ia tinggalkan di kota—segala kesulitan, kesepian, dan kepahitan yang membawanya hingga berdiri di sini. Pandangannya perlahan mengabur, seolah tirai waktu tersibak mundur, membawanya kembali ke pagi yang menentukan seluruh arah hidupnya beberapa hari yang lalu.

Kilas balik membawa Raisa menembus hari-hari yang masih terasa begitu nyata dan menyakitkan. Di sana, ia berdiri di dapur kecil yang lantainya terbuat dari papan kayu yang sudah mulai lapuk dan berderit setiap kali diinjak. Rumah itu begitu kecil, dindingnya terbuat dari papan kayu yang sebagian sudah mulai berlubang dimakan rayap, atap sengnya berkarat dan sering kali meneteskan air saat hujan turun deras. Namun bagi Raisa, rumah kecil itulah satu-satunya tempat yang paling berharga di dunia ini—tempat ia tumbuh besar, tempat ia mendengar tawa ayah dan ibunya, tempat di mana setiap sudutnya masih menyimpan jejak kehangatan yang perlahan mulai memudar seiring berjalannya waktu. Sejak kedua orang tuanya tiada, rumah inilah yang menjadi benteng pertahanan satu-satunya baginya, tempat di mana ia bisa bersembunyi dari tatapan sinis dan perkataan tajam orang-orang di luar sana.

Hidupnya selama ini hanya mengandalkan uang pensiun yang diterimanya setiap bulan—sisa hak yang didapatkan ayahnya yang dulu bekerja sebagai pegawai negeri sipil, sementara ibunya pernah mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan di puskesmas terdekat. Uang itu memang tak banyak, namun jika ia berhemat dengan sangat ketat, ia masih bisa menutupi kebutuhan makan sehari-hari serta membayar tagihan listrik dan air yang tak seberapa. Raisa tak pernah meminta lebih, ia hanya ingin bisa tetap tinggal di rumah itu, menjaga kenangan orang tuanya tetap hidup di sana, meskipun ia harus menelan kesepian sendirian setiap hari.

Pagi itu, udara pagi masih terasa sejuk dan lembap, kabut tipis masih menyelimuti halaman rumah yang sempit. Cahaya matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah-celah jendela yang tertutup tirai kain tipis, menciptakan garis-garis cahaya yang berdebu di udara. Raisa berdiri di depan kompor tua yang sudah berkarat, tangannya bergerak perlahan menyiapkan sarapan sederhana—hanya sepiring nasi hangat dengan telur rebus dan secangkir teh manis yang tak terlalu pekat. Ia merencanakan hari itu dengan tenang, seperti hari-hari biasanya seperti merapikan rumah, menyiram tanaman di halaman, lalu duduk membaca buku sambil menatap foto keluarga yang terbingkai rapi di atas meja ruang tamu.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba terdengar suara samar sesuatu yang jatuh di balik pintu utama, disusul suara langkah kaki yang bergegas menjauh dengan cepat. Raisa seketika menegang, tangannya yang sedang memegang sendok berhenti bergerak. Hatinya berdegup kencang karena selama ini jarang ada orang yang datang berkunjung ke rumahnya—bahkan tetangga pun jarang menyapanya, apalagi mendatangi pintu rumahnya. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari menuju pintu, membukanya dengan cepat, namun tak ada siapa-siapa di sana. Jalanan depan rumah yang sempit itu tampak sepi, hanya ada selembar amplop berwarna cokelat tebal yang tergeletak rapi di ambang pintu.

Raisa membungkuk mengambilnya, jari-jarinya yang dingin meraba permukaan amplop yang terasa resmi dan berat. Saat ia membalikkan amplop itu, lambang instansi pemerintah tercetak jelas di sudutnya, membuat rasa cemas mulai merayap di dadanya. Ia kembali masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat, lalu duduk di kursi kayu yang goyah di meja makan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merobek segel amplop itu dan mengeluarkan selembar surat resmi yang tertulis dengan tinta hitam tegas.

Baru saja membaca baris pertama, seluruh tubuh Raisa seakan kehilangan tenaga. Darah terasa mengalir deras ke kepalanya, lalu seketika membeku saat ia mencerna isi surat itu sepenuhnya. Itu adalah pengumuman resmi dari pemerintah daerah yang menyatakan bahwa lingkungan tempat tinggalnya akan segera digusur untuk pembangunan proyek baru, dan seluruh penghuni harus mengosongkan rumah masing-masing paling lambat tujuh hari sejak tanggal surat itu diterima.

“Seminggu...” gumamnya lirih, suaranya pecah di tengah keheningan rumah yang kecil itu. “Hanya seminggu... kemana aku harus pindah?”

Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalanya, seakan menamparnya berulang kali. Ia menatap surat itu berkali-kali, berharap apa yang dibacanya hanyalah salah paham atau mimpi buruk yang akan segera berakhir jika ia menutup dan membuka matanya kembali. Namun tulisan itu tetap sama, tanggalnya jelas, stempel resminya sah dan tak bisa dibantah. Perlahan ia meletakkan surat itu di samping piring sarapannya yang belum tersentuh sama sekali, lalu menatap lekat-lekat bingkai foto keluarga yang berdiri tegak di sudut meja. Di sana terlihat wajah ayah yang tersenyum hangat, ibunya yang menatap penuh kasih sayang, dan dirinya yang masih kecil berdiri di tengah-tengah mereka dengan wajah polos dan ceria.

“Ayah... Ibu...” bisiknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menahan agar air mata tak menetes membasahi pipinya. “Raisa harus pindah ke mana? Rumah ini satu-satunya yang Raisa punya. Kalian pergi meninggalkanku sendirian, dan sekarang tempat kita bersama pun akan dirampas juga...”

Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya menetes, jatuh membasahi pipinya yang pucat. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan rasa takut dan putus asa merayap memenuhi seluruh hatinya. Ia tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini selain kenangan yang tersimpan di rumah kecil itu. Jika rumah ini hilang, maka ia benar-benar akan menjadi orang yang tak berakar, tak memiliki tempat untuk kembali, tak memiliki tempat untuk menaruh kepala saat lelah.

Saat sedang tenggelam dalam kepedihan itu, pandangannya jatuh pada sebuah buku telepon tua yang tersimpan di laci meja ayahnya. Sebuah harapan kecil tiba-tiba muncul di benaknya. Mungkin saja di dalam buku itu masih tersimpan alamat atau nomor telepon kerabat dari pihak ayah maupun ibunya yang belum pernah ia ketahui selama ini. Mungkin saja ada seseorang yang masih bersedia menolongnya, yang bersedia memberikan tempat berteduh meski hanya untuk sementara waktu.

Tanpa membuang waktu lagi, Raisa segera bangkit dan mengambil buku telepon itu dari laci. Sampulnya sudah menguning dimakan usia, kertas-kertasnya terasa tipis dan rapuh, namun tulisan tangan ayahnya masih bisa dibaca dengan jelas. Ia mulai menelepon satu per satu nomor yang tertera di sana—mulai dari kerabat jauh, teman lama ayah dan ibunya, hingga tetangga lama yang dulu pernah akrab dengan keluarganya. Ia menghabiskan sepanjang hari itu di samping telepon tua itu, berharap ada jawaban yang bisa meringankan beban di dadanya. Namun hasilnya sungguh jauh dari harapan.

Sebagian besar nomor tak lagi tersambung, ada yang menjawab bahwa mereka sudah lama pindah dan tak bisa membantu, ada yang dengan alasan halus menolak menampungnya dengan berbagai alasan—mulai dari ukuran rumah yang terlalu sempit, hingga kesibukan yang tak memungkinkan. Yang lebih menyakitkan lagi, ada yang langsung bertanya berapa besar uang kompensasi yang akan didapatkan Raisa akibat penggusuran itu, dan hanya sedikit yang menanyakan keadaannya namun tetap tak bisa memberikan bantuan tempat tinggal. Semua orang seolah hanya memikirkan keuntungan materi yang mungkin bisa didapatkan, tak ada satu pun yang benar-benar peduli pada nasib gadis muda yang akan kehilangan tempat berteduhnya.

Raisa perlahan meletakkan gagang telepon terakhir kali, menghela napas panjang yang terasa berat dan menyakitkan di dadanya. Kakinya terasa lemas, ia merosot duduk di kursi, menatap kosong ke arah dinding yang retak. “Kemana kerabat yang bisa aku minta tolong?” gumamnya cemas, air mata kembali menggenang di matanya. “Apakah tak ada satu pun orang yang mengingat kebaikan Ayah dan Ibu dulu? Mengapa semua orang hanya memikirkan kepentingan sendiri?”

Kesepian yang selama ini ia rasakan tiba-tiba terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan. Raisa teringat kembali mengapa ia sejak dulu jarang berteman dan lebih memilih mengurung diri di rumah. Semuanya bermula saat ia menginjak usia tujuh belas tahun. Pada masa itulah ia mulai menyadari bahwa tubuhnya berbeda dari manusia pada umumnya. Saat terluka, lukanya akan menutup dengan sangat cepat tanpa meninggalkan bekas, dan ia hampir tak pernah merasakan sakit yang luar biasa meski mengalami luka yang seharusnya parah. Hal itu perlahan diketahui oleh teman-teman sekolahnya, dan tak butuh waktu lama hingga ia mulai dipandang aneh, dijauhi, bahkan diejek sebagai “monster” yang tak wajar.

Puncaknya terjadi saat bus yang mengantar dirinya dan seluruh teman sekelas serta guru-guru pergi berwisata mengalami kecelakaan maut yang mengerikan. Bus itu menabrak pembatas jalan dan jatuh ke jurang yang dalam. Semua orang yang ada di dalamnya—teman-teman yang dulu pernah bersamanya, guru-guru yang mengajarinya, hingga supir bus—semuanya meninggal di tempat dengan kondisi tubuh yang hancur. Namun entah bagaimana, Raisa ditemukan masih hidup di antara tumpukan besi yang remuk, hanya dengan luka ringan yang bahkan sembuh dalam waktu singkat. Ia keluar dari kecelakaan itu dengan kondisi yang masih utuh dan baik-baik saja.

Sejak hari itu, tatapan orang-orang di sekitarnya benar-benar berubah total. Tidak ada lagi yang berani mendekat, tidak ada yang berani menyapanya. Ia bukan hanya dipandang aneh, melainkan dikucilkan sepenuhnya. Orang-orang mulai berbisik bahwa ia pembawa sial, bahwa ia bukan manusia biasa, dan keberadaannya hanya akan mendatangkan musibah bagi siapa pun yang berada di dekatnya. Raisa akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah, mengurung diri di dalam rumah, dan jarang sekali keluar kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak.

Belum lama setelah kejadian itu, musibah kembali menimpanya. Ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas saat sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Raisa yang masih sangat muda harus mengurus segalanya sendirian—mengurus jenazah ayahnya, mengurus surat-surat pemakaman, hingga mendampingi pemakaman ayahnya di tanah pemakaman. Tak ada satu pun kerabat yang datang membantu, tak ada satu pun teman yang hadir untuk memberikan penghiburan. Ia berdiri sendirian di pinggir liang lahat di tengah guyuran hujan rintik-rintik, merasakan betapa dinginnya dunia ini baginya. Bahkan mata para tetangga yang hadir pun seakan menuduhnya bahwa dialah penyebab kematian ayahnya, bahwa sial yang dibawanya telah merenggut nyawa orang tuanya satu per satu.

Sejak saat itu, Raisa semakin menutup diri dari dunia luar. Ia hidup dalam kesendirian yang panjang, menjaga rumah kecil itu sekuat tenaga sebagai satu-satunya peninggalan berharga yang ia miliki. Namun kini, bahkan tempat itu pun akan dirampas darinya. Semua jalan tampak tertutup rapat baginya, tak ada satu pun harapan yang tersisa. Pikiran untuk menjadi tunawisma, mengembara tanpa arah dan tujuan, mulai menghantui pikirannya. Ia tak tahu harus berbuat apa, tak tahu siapa lagi yang bisa ia harapkan pertolongannya.

Di tengah keputusasaan yang mendalam itulah, tak lama kemudian sebuah surat lagi datang ke rumahnya—kali ini dari pengacara bernama Tuan Munir, yang memberitahukan tentang warisan sebuah rumah yang ditinggalkan oleh kakeknya dari pihak ayah, Raden Margono, yang selama ini tak pernah diketahui keberadaannya. Sebuah harapan kecil kembali muncul di hatinya, meskipun ia tahu betapa besarnya misteri yang menyelimuti rumah itu dan betapa asingnya sosok kakeknya baginya. Namun bagi Raisa, tak ada pilihan lain selain menerima tawaran itu dan berangkat menuju tempat yang tak ia ketahui itu.

Kilas balik perlahan memudar, membawa Raisa kembali ke hadapan pagar besar yang terbuka itu. Udara dingin masih menyelimuti tubuhnya, namun rasa takut akan masa depan yang tak pasti perlahan tergantikan oleh keteguhan hati. Apapun yang menantinya di dalam rumah itu, apapun rahasia yang tersimpan di sana, ia harus menghadapinya. Karena baginya, tempat ini adalah satu-satunya jalan keluar dari kepahitan hidup yang selama ini ia jalani. Dengan napas panjang yang ia hembuskan perlahan, Raisa melangkah mantap menuju pintu utama rumah yang megah itu, siap membuka lembaran baru yang penuh misteri.

Baru dua langkah dia maju,tiba-tiba saja pagar besar itu tertutup sendiri dengan keras.

Krek...brak..

Raisa yang terkejut menoleh langsung kearah pagar besar itu, tidak ada angin besar yang bisa membuatnya tertutup sendiri.

"Siapa yang...menutup pagar besar itu?." Ucap Raisa gemetar ketakutan.

Pandangannya mengamati sekitar depan gerbang rumah kakeknya,tapi tidak ada bayangan orang ada disana.

Itu hantu atau orang, batin Raisa.

Rasa ragu kembali menghantui dirinya, pandangannya tertuju kearah rumah besar itu.

bab 3.Melangkah masuk kedalam.

Raisa terpaku di tempatnya, jantungnya berdegup kencang seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Suara benturan keras saat pagar besi itu menutup rapat masih bergema di telinganya, menciptakan gaung panjang yang perlahan menghilang tertelan keheningan yang mencekam. Ia menatap pintu pagar yang kini terkunci rapat tanpa ada tangan manusia yang menyentuhnya, lalu menoleh ke sekeliling dengan mata yang masih membelalak penuh kecemasan. Tak ada siapa pun di sana—tak ada sosok manusia, tak ada jejak kaki yang baru saja dibuat, bahkan angin yang berhembus pun tak cukup kuat untuk menutup pintu besi seberat itu secepat kilat.

“Siapa yang... menutup pagar besar itu?” tanyanya lagi, suaranya bergetar hebat seolah tersangkut di kerongkongan. Tubuhnya meremang, bulu kuduknya berdiri tegak merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti dirinya lebih pekat dari sebelumnya. “Apakah ada orang di sini? Jika ada, tolong tunjukkan dirimu!”

Hening. Tak ada jawaban yang datang, hanya suara gesekan daun kering yang sesekali terdengar di kejauhan. Rasa takut perlahan merayap masuk ke dalam setiap urat nadinya, membuat kakinya terasa lemas seakan tak bertulang. Sebuah pertarungan batin mulai terjadi di dalam dirinya haruskah ia berbalik arah, berlari sekuat tenaga kembali ke desa, lalu mencari jalan pulang ke kota meskipun harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ia tak memiliki tempat tinggal lagi? Atau haruskah ia tetap melangkah maju, menghadapi segala misteri yang tersembunyi di dalam rumah besar ini, satu-satunya tempat yang kini menjadi miliknya?

Raisa menunduk, menatap tanah yang tertutup dedaunan kering. Jika ia kembali ke kota, kemana ia akan pergi? Tak ada lagi rumah kecil tempat ia memeluk kenangan orang tuanya, tak ada kerabat yang bersedia menampungnya, dan dunia luar selalu memandangnya sebagai monster pembawa sial. Namun jika ia tetap tinggal di sini, ia harus berbagi atap dengan sesuatu yang tak kasat mata—sesuatu yang baru saja menutup pagar dengan sendirinya, sesuatu yang mungkin mengawasinya sejak ia melangkah masuk ke halaman ini.

Pandangannya perlahan terangkat kembali menatap bangunan megah di hadapannya, lalu beralih menatap jendela di lantai paling atas. Sebuah kamar yang tirai jendelanya terbuka lebar, bergoyang pelan ditiup angin sore yang mulai meredup. Sesuatu dalam tatapan itu membuatnya merasa bukan sendirian di sana—seolah ada sepasang mata yang sedang menatapnya lekat-lekat dari balik tirai itu, mengamati setiap gerak-geriknya dengan seksama.

“Bukankah ini rumah yang diwariskan kakekku untukku?” batin Raisa, kebingungan mulai bercampur dengan rasa penasaran yang menggelegak. “Lalu mengapa ada orang yang tinggal disana? Mengapa ada yang mengawasi? Dan siapa sebenarnya yang bersembunyi di balik tirai itu?”

Ia terus menatap jendela itu tanpa berkedip, seolah menantang sosok yang mungkin ada di dalamnya untuk menampakkan diri. Tirai kain itu terus bergoyang pelan, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang bergerak di dinding kamar di baliknya. Semakin lama ia menatap, semakin kuat perasaan bahwa ia bukanlah pemilik tunggal rumah ini—bahwa ada penghuni lain yang sudah lama mendiami tempat ini, menjaganya dengan segenap jiwa dan raga, dan kini menunggu dengan sabar kedatangannya.

Belum sempat Raisa memutuskan arah langkahnya selanjutnya, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berat dan hangat menepuk pelan pundaknya dari arah belakang. Sentuhan itu begitu nyata, begitu jelas, seolah telapak tangan yang besar dan kuat sedang menyentuhnya dengan sengaja. Raisa tersentak sekuat tenaga, seluruh tubuhnya menegang kaku seketika, dan dengan cepat ia memutar tubuhnya ke belakang.

“Siapa?!” serunya kaget, napasnya tercekat.

Namun di belakangnya tak ada siapa pun. Hanya halaman luas yang sepi, pepohonan yang berdiri diam, dan bayangan panjang yang mulai memanjang seiring matahari yang makin condong ke bawah. Tak ada sosok manusia, tak ada makhluk apa pun yang terlihat berdiri di sana.

Rasa takut yang sempat melumpuhkannya tiba-tiba berubah menjadi keberanian yang meledak-ledak. Ia menarik napas panjang, lalu mengeratkan giginya, menatap ke arah ruang kosong di belakangnya seolah sosok itu masih berdiri di sana.

“Aku tidak peduli kamu hantu, makhluk halus, atau apa pun!” teriaknya sekuat tenaga, suaranya memecah keheningan sore itu dengan jelas dan tegas. “Sekarang aku juga berhak tinggal di sini! Rumah ini adalah warisan kakekku untukku, jadi sebaiknya kita tidak saling mengganggu satu sama lain! Aku hanya butuh tempat berteduh, bukan mencari masalah!”

Ia berdiri tegak, dada membusung berusaha menutupi rasa takut yang masih tersisa di dalam hatinya. “Kamu pikir aku mudah ditakuti begitu saja? Aku sudah terbiasa hidup sendirian dan menghadapi hal-hal yang tak biasa seumur hidupku!” gumamnya lirih namun penuh ketegasan, seolah meyakinkan dirinya sendiri maupun penghuni tak kasat mata itu.

Tanpa menunggu jawaban—yang entah apakah akan datang atau tidak—Raisa pun membalikkan tubuhnya kembali menghadap pintu utama rumah yang megah itu. Ia melangkah mantap mendekatinya, sepatunya menapak di atas jalan setapak yang terbuat dari batu alam yang halus dan bersih. Ia mengeluarkan kembali kunci unik yang masih ia genggam erat di tangannya, lalu menyisipkannya perlahan ke dalam lubang kunci pintu utama yang besar dan berukir indah.

Terdengar suara mekanisme halus yang berputar di dalam, lalu kunci itu terkunci sekaligus terbuka dengan sendirinya saat ia menariknya kembali. Begitu pintu kayu besar itu didorong perlahan, seketika itu juga lampu-lampu kristal yang tergantung di langit-langit ruangan yang tinggi menyala secara otomatis, menerangi seisi ruangan dengan cahaya keemasan yang lembut namun terang benderang.

Raisa menganga tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Berbeda sama sekali dengan bayangannya yang membayangkan rumah ini penuh debu, sarang laba-laba, dan berantakan layaknya rumah kosong yang tak terurus selama bertahun-tahun. Sebaliknya, ruangan itu tampak begitu bersih, mengkilap, dan tertata rapi seolah baru saja dibersihkan oleh orang-orang yang sangat teliti. Tak ada setitik debu pun yang terlihat di permukaan lantai, meja, maupun sudut-sudut ruangan.

“Rumah ini... sungguh bersih sekali,” gumam Raisa pelan, matanya tak berhenti menatap sekelilingnya dengan kagum. “Dari luar terlihat sepi dan angker, tapi di dalamnya terawat begitu sempurna.”

Ia melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya namun tak menguncinya rapat. Suaranya bergema lembut saat ia mengucapkan salam sekeras-kerasnya, berulang kali memanggil, “Permisi! Apakah ada orang di sini? Raisa datang, cucu dari Raden Margono. Maaf jika mengganggu!”

Namun tak ada jawaban yang datang, hanya gema suaranya sendiri yang memantul dari dinding-dinding yang megah. Ruangan itu memadukan gaya arsitektur nusantara yang kental dengan ukiran kayu jati yang rumit dan indah, serta sentuhan gaya Eropa yang elegan melalui pilar-pilar yang kokoh dan langit-langit yang menjulang tinggi. Raisa terus berjalan memandangi segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, rasa takut yang sempat mendominasi hatinya perlahan memudar, digantikan oleh rasa kagum yang mendalam.

Kursi-kursi besar yang berjajar rapi dilapisi bahan yang halus dan berkilau dengan bingkai berlapis emas, pot-pot bunga yang menghiasi sudut ruangan juga memiliki lapisan emas yang mengkilap, anak tangga yang melengkung indah menuju lantai atas memiliki pegangan yang juga dilapisi emas murni. Karpet-karpet tebal berwarna-warni yang bermotif klasik menghampari seluruh lantai, menciptakan kesan mewah namun tetap hangat. Pajangan klasik, lukisan-lukisan tua yang dibingkai emas, serta guci-guci keramik berharga yang tersusun rapi di atas rak-rak kayu semakin menambah kemegahan ruangan itu.

“Kakekku ternyata orang yang sangat kaya...” gumam Raisa dalam hati, matanya berkaca-kaca memikirkan hal itu. “Tapi mengapa beliau tidak pernah menemui kami? Mengapa tak pernah ada kabar tentang keluarga ini selama Ayah dan Ibu masih hidup? Mengapa semua ini baru sampai ke tanganku setelah beliau tiada?”

Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding utama ruang tamu. Di sana tergambar sosok pria tua yang berwibawa, mengenakan pakaian adat yang anggun dengan senyum yang teduh namun menyimpan ketegasan. Di bawah lukisan itu tertulis nama yang jelas: Raden Margono. Raisa tahu, itulah sosok kakeknya yang selama ini tak pernah ia ketahui keberadaannya. Di sebelah lukisan itu, tergambar pula sosok pria lain yang bertubuh tinggi besar, dengan sorot mata yang tajam namun menawan, memancarkan aura kekuatan yang luar biasa. Raisa menatapnya lama, berpikir dalam hati bahwa mungkin inilah sosok yang selama ini dikabarkan menjaga rumah ini—sosok yang mungkin tinggal di lantai atas yang tadi ia lihat.

Tanpa berniat naik ke lantai atas untuk saat ini, Raisa memilih berjalan menyusuri lorong di lantai dasar, mencari kamar yang akan ia tempati. Ia berjalan perlahan menyusuri pintu-pintu kamar yang tertutup rapat, hingga ia tiba di sebuah pintu di ujung lorong yang tampak sedikit terbuka sendiri, seolah sedang mengundangnya untuk masuk. Tanpa ragu, Raisa mendorong pintu itu perlahan, dan matanya seketika membelalak lebar tak percaya.

Setelah lampu dinyalakan oleh Raisa, dia terkejut tak percaya apa yang dilihatnya.

Itu adalah kamar tidur yang begitu indah, didesain khusus layaknya kamar seorang putri bangsawan. Perabotan di dalamnya terbuat dari kayu pilihan yang halus, tempat tidurnya besar dengan kelambu kain yang berwarna krem lembut dan seprai yang terlihat sangat nyaman. Lemari pakaian yang besar, meja rias yang indah, hingga jendela besar yang menghadap ke arah hutan—semuanya tampak begitu pas dan siap digunakan, seolah-olah sudah lama disiapkan khusus untuknya.

“Terima kasih...” ucap Raisa lantang, suaranya penuh rasa syukur yang tulus, entah kepada siapa ia mengucapkannya—apakah kepada almarhum kakeknya, atau kepada penghuni tak kasat mata yang telah menjaga tempat ini.

Ia segera meletakkan tas besarnya di atas kursi yang tersedia, lalu berjalan mendekati tempat tidur yang empuk itu. Dengan perlahan ia merebahkan tubuhnya yang lelah setelah menempuh perjalanan panjang dan menghadapi berbagai ketakutan yang sempat melanda. Kasur itu begitu empuk dan nyaman, membuat seluruh rasa lelah dan pegal di tubuhnya perlahan menghilang seketika. Raisa menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran halus, lalu tersenyum tipis meski masih ada sedikit rasa cemas yang tersisa.

“Walaupun aku harus tinggal bersama hantu atau makhluk halus di rumah besar ini, aku rela,” ucapnya pelan sambil memejamkan mata sejenak, menikmati kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Asalkan aku bisa menikmati ketenangan dan kemewahan yang tak pernah kurasakan seumur hidupku, aku akan bertahan di sini, apa pun yang terjadi.”​

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!